Author: Naya Jo

Pertengahan Desember. Salju mulai turun sesekali, sedikit demi sedikit setiap harinya, seperti es serut yang bergumpal kecil-kecil. Hermione duduk di kamarnya, menghadap ke jendela yang memberitahunya bahwa salju telah melapisi hampir seluruh bada jalan dan taman. Merasa terlalu malas untuk sekedar keluar dari ruangan hangat itu, apalagi untuk berada di luar sana. Bersyukur ia bisa mendapat cuti baik dari Kementrian sihir maupun pekerjaannya sebagai pengacara untuk sementara waktu, mengingat seminggu lagi ia akan menikah dan ia harus mempersiapkan segala sesuatunya.

Ia duduk di sana, memakai sweternya yang paling hangat, dan ditemani segelas susu cokelat yang masih panas di atas meja di sampingnya. Dipangkuannya sendiri, ada bergulung-gulung benang wol dan sepotong kain setengah jadi yang sepertinya ... hanya sepertinya akan menjadi pakaian. Yah benar, pakaian. Baju hangat. Molly —ibunya Ron— terbiasa membuat untuknya, Harry dan anak-anaknya sendiri baju hangat rajutan sendiri yang bagus-bagus setiap natal. Entah bagaimana ia bisa membuat sebanyak itu dengan cepat dan rapi. Pasti sihir. Hermione sempat tergoda untuk menggunakan sihir juga. Namun lagi-lagi ia menggeleng keras-keras. Ia sedang tidak berselera untuk itu. Dan ia ingin... ini semua benar-benar berasal dari tangannya. Meskipun akibatnya, rajutan itu nyaris lebih mirip kain pel daripada pakaian. Ia hampir lupa caranya merajut.

Hermione menatap rajutan berwarna hijau itu. Menatap bagian dadanya. Seharusnya ada label R di situ, untuk Ron. Dan bukannya M, seperti sekarang. Tanpa bisa ditahan-tahan, matanya terasa panas kembali, lalu bulir-bulir air asin mengalir lancar dari sana. Ia tidak membendungnya. Hermione hanya kembali menenggelamkan kembali wajahnya dan rambutnya yang —sudah lama sekali tidak seperti ini— berantakan ke kain rajutan itu dan sesenggukan di sana.

"Selamat Natal, Draco. Semoga kau baik-baik saja." Suaranya tenggelam oleh gumpalan kain wol.

Draco memang tidak pernah menemuinya lagi. Sejak hari itu, hari dimana Draco menatapnya begitu dingin, saat kaki panjang itu melangkah menjauh memunggunginya setelah mengucapkan selamat tinggal. Rasanya seperti pria itu tidak akan pernah kembali dan itu menyesakkan. Kenyataannya, pria itu benar-benar tidak pmencoba untuk kembali. Tidak menghubunginya sama sekali. Tidak. Hanya pernah sekali, sekretaris di kantor Malfoy itu yang menelponnya untuk mengkonfirmasi bahwa semua rancangan pernikahan sudah beres.

Dan entah bagaimana, Hermione merasa ingin melihat pria itu, ingin mendengarnya, ingin merasakan napasnya. Ia menyentuh bibirnya yang kering dan menyadari bahwa itu pernah terakhir kali begitu basah dan bengkak saat pria itu menciumnya. Yah, pria berambut pirang platina dan berwajah runcing itu dengan bolamatanya yang biru keabu-abuan. Dan itu sekitar dua minggu yang lalu. Yang artinya ia beberapa kali menolak ciuman dari Ron selama kurun waktu itu.

Perasaan itu menyiksa. Pertama karna alasan tidak logis kenapa pria itu menjadi seperti kebutuhan oksigen baginya. Dan yang kedua, perasaan bersalah yang seperti akan membunuhnya setiap ia melihat Ron dan mendapat perhatian dari pria berambut merah itu.

Tiga hari sebelum pernikahan resmi di gereja Muggle, dan empat hari sebelum pesta perayaan untuk kalangan penyihir, The Burrow sudah begitu sibuk. Dengan keadaannya yang tampak jauh lebih baik berkat tenda-tenda yang sudah berpasang di luar rumah dan hiasan-hiasan di sekeliling rumah. Sekilas tampak seolah pestanya berlangsung sudah sejak kemarin. Pesta pernikahan kali ini jauh lebih mewah dari pesta yang teraakhir diadakan untuk pernikahan Bill dan Fleur mengingat saat itu keadaan sangat tidak jelas, semua orang bisa mati esok, namun hari ini, semua orang bisa lebih bergembira dan bernapas lega karena Kau-Tahu-Siapa tidak akan kembali lagi. Jelas, kemeriahan membuat hidung Ron kembang kempis seminggu penuh saking senangnya. Kerabat Fleur datang pagi tadi dalam rombongan besar dan langsung membantu membuat dekorasi yang luar biasa. Menyulap The Burrow yang semula lebih mirip kandang kambing menjadi seperti mansion mungil.

Ron dan Harry sedang main catur sihir di kebun belakang saat seorang wanita pendek gemuk berwajah ramah yang sudah terlihat tua namun masih begitu bersemangat menyambangi mereka, ia memeluk sekuali penuh kentang yang sedang mengupas diri mereka sendiri.

"Ron, bantu ayahmu membersihkan kandang, cepat!"

Ron memutar bolamatanya seraya berdiri, membuat kursi kayu yang ia duduki tersentak dan jatuh ke belakang.

"Mum! Apakah kau lupa siapa calon pengantin di sini?"

Mrs. Weasley melotot lebih galak pada Ron yang seketika membuat pria itu agak menciut.

"Mau bertingkah seperti raja, huh?! Kau pikir siapa wanita yang telah melahirkanmu! Membantah saja! Oh, Ayahmu harus tahu ini!"

"Mum! Oke, oke! Aku bukan raja, tentu saja! Aku hanya peri rumah! Oke, aku akan pergi membersihkan semua kotoran itu sebelum bersalaman dengan pastur dan menikah!"

"Kau tidak akan bersalaman dengan pastur sebelum menikah! Dan kau tidak akan membersihkannya sampai hari pernikahanmu kalau kau mau bangkit dari kursi malasmu dan mengerjakannya sekarang!" geram Mrs. Weasley. Harry sampai diam-diam merapal mantra nonverbal untuk memundurkan kursinya tanpa disadari siapapun.

"Oke! Oke! Aku ke sana!" Ron membuat gerakan membuka kedua tangannya di atas udara sesaat sebelum ia berputar pada tumitnya dan pergi ke arah Mr. Weasley bersama kandang ayam-ayam mereka berada sambil menyumpah-nyumpah.

"Tidak ada calon pengantin yang diperbudak sebelum pernikahan mereka!"

MRs. Weasley mengabaikannya.

"Dan, oh, Harry."

Sekarang wanita itu menatap Harry dengan pandangan seperti biasa, penuh kasih sayang.

"Aku tidak tahu apakah kau bisa... membantu. Kulihat Hermione agak kesulitan dengan pohon-pohon hiasnya." Ia mengerling ke arah Hermione yang berdiri di dekat tangga pintu dapur, mengacungkan tongkatnya ke arah sebuah pohon kecil yang seharusnya sekarang sudah menjadi lebih rapi dan penuh hiasan. Tapi anehnya, tidak terjadi apapun.

"Tentu saja."

Harry bergegas bangkit setelah membetulkan letak kacamatanya sebentar, menghampiri Hermione. Jika ia tidak salah memperhatikan —dan berkali-kali diamati pun ia merasa keadaannya memang kelihatan begitu— Hermione tampak tidak begitu sehat. Kulitnya pucat dan ada kantung hitam di sekitar matanya. Dan gadis itu bukannya memantrai pohonnya yang mana merupakan pekerjaan mudah bagi Hermione, ia justru melamun. Hal yang tidak begitu biasa bagi Harry mendapati sahabatnya yang seperti itu.

"Hermione," sapanya sambil agak berdeham.

Gadis itu segera menyadari kehadiran Harry. Ia menoleh nyaris terlalu banyak sampai lehernya bisa patah. Lalu tersenyum salah tingkah.

"Hai, Harry! Aku tidak melihatmu. Apa yang kau lakukan di sini?"

"Itu yang ingin kutanyakan. Apa yang sedang kau lakukan, Hermione?"

Untuk beberapa saat tak ada tanggapan. Hanya mata cokelat madu milik gadis itu yang sedikit melebar, ada ekspresi kekagetan di wajahnya. Sekali ia membuka mulut seolah akan bicara, namun menutupnya kembali. Tampak bingung.

"Kau bisa menceritakannya padaku, Hermione," kata Harry berusaha memahami. Otaknya berputar, dan ia hampir sampai pada satu kesimpulan yang rasanya paling tidak masuk akal.

"A-apa? Apa yang harus kuceritakan? Tidak ada apa-apa."

Terasa oleh Harry Hermione menghindari kontak mata dengannya, justru pura-pura menyihir pohon di depannya agar ditumbuhi banyak bunga kecil berwarna merah jambu yang berkerlap-kerlip.

"Kau pikir sudah berapa lama aku menjadi temanmu?" tanya Harry tak sabar. "Lebih dari separuh hidupku! Kau tidak bisa membohongiku begitu mudah. Aku tahu ada yang kau sembunyikan."

Namun Hermione hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ekspresinya seperti akan menangis.

"Kau tidak akan mengerti, Harry." Suaranya bergetar. Ia masih menatap akar pohon yang bermunculan melilit potnya.

"Menurutmu berapa banyak aku tahu?" Harry sekarang menundukkan kepalanya sedikit agar bibirnya lebih dekat ke telinga Hermione, dan merendahkan suaranya. Ia memutuskan untuk mengeluarkan saja kesimpulan aneh yang mengganggu pikirannya.

"Apa ini karena Draco Malfoy?"

Cepat sekali Hermione menoleh ke arahnya, tatapannya tidak percaya yang kemudian segera berganti menjadi bimbang dan takut.

"Tidak apa, Hermione. Kau bisa mempercayaiku."

"Bagaimana kau—"

"Neville. Waktu itu sebenarnya Neville dan aku yang sedang pergi ke dunia Muggle untuk urusanku berkaitan dengan tugas Auror. Malam itu, Neville melihat Draco Malfoy, dan aku melihatnya juga. Tapi aku tidak hanya melihatnya. Aku juga melihatmu," tuturnya semakin berbisik, padahal sebenarnya tidak begitu perlu karena setiap orang tampak sibuk dan tertawa terlalu keras.

"Hermione, aku melihatmu bersamanya. Kau bersama Draco Malfoy. Dan kalian... aku melihat dia menggenggam tanganmu."

"Harry, aku… aku tidak mengerti apa yang sedang kulakukan," kata Hermione cepat, dan tercekat.

Ia terdengar nyaris seperti terisak beberapa saat sebelum akhirnya Harry memeluknya.

"Tidak apa, Hermione. Kau bisa memilih untuk melupakannya, dan melanjutkan pernikahanmu dengan Ron."

D-2 before the wedding.

Hermione tidak menyadari ketika ia memakaikan bedak asal-asalan di pipinya yang merona dan membubuhkan eyeshadow yg berbeda di matanya. Kekacauan itu semakin menjadi ketika ada bunyi "pop" keras tepat di belakangnya yang menyebabkan matanya hampir saja tersodok. Ron, yang barusaja ber-apparate masuk ke kamar gadis itu menduga Hermione akan menoleh cepat dan langsung memasang tatap memperingatkan. Ia nyengir dan mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk, termasuk kutukan conjunctiva sekalipun. Namun itu tidak terjadi. Hermione memang menoleh kepada Ron, namun dengan seolah energi terakhir yang ia miliki. Dengan mata cokelat madunya yang bukannya menatap horor, hanya memandangi Ron dengan sorot lelah yang tidak khas Hermione sama sekali.

"Ron, kau mengangetkanku," gumamnya, lebih mirip Luna ketika bicara, seperti sedang melamun. Ini sebuah kejutan besar bagi Ron bahwa Hermione tidak meneriakinya karena ber-apparate sembarangan ke kamar seorang gadis. Dan jika ada jenis kejutan mengerikan, inilah salah satunya.

Mata pria itu membulat tidak percaya sementara Hermione hanya terdengar menghela napas berat sambil melayangkan wajahnya kembali ke cermin. Ia menghapus make-up di bagian matanya kembali, menyadari ada kantung hitam di sekeliling matanya. Ia tidak bisa tidur, lagi. Ia takut, sebenarnya. Karena beberapa hari ini, setiap ia tidur, mimpi itu mengganggunya. Dalam mimpi itu, dalam gereja yang temaram yang anehnya lebih mirip Hog's Head daripada gereja Muggle di London, ia bergandengan tangan dengan Ron, menuju pendeta bertudung yang mengingatkannya pada para penyihir aneh di Knocturn Alley. Ketika jarak mereka hanya hitungan senti, pendeta itu membuka tudungnya, dan wajah yang ada di sana adalah Draco Malfoy. Di lain malam, ia memimpikan berjalan menuju altar sendirian, dan ketika ia menoleh ke belakang, tidak ada siapapun selain Draco Malfoy yang menatapnya bengis dan melambaikan selamat tinggal. Ketika ia bangun hari itu, matanya basah. Selalu seperti itu. Nyaris setiap ia bangun di pagi hari. Ia merasa begitu sakit cukup dengan mimpi bahwa Draco akan meninggalkannya.

Jadi dua hari belakangan ia mencoba tidak tidur. Lebih sial lagi, ia terpaksa menghabiskan sisa dua malamnya itu dengan menangis karena ketidaktahuannya. Ia tidak mengerti sama sekali. Ia hanya ingin... pria itulah, Draco Malfoy-lah yang menggenggam tangannya di atas altar, mengucap janji bersamanya, dan yang menciumnya di hadapan semua orang.

"Kau benar-benar tidak tampak sehat, Hermione," bisik Ron khawatir. Ia sudah beberapa kali terus mendesak Hermione yang tidak menunjukkan tanda-tanda sehat.

"St. Mungo seharusnya menyediakan pengobatan untuk sindrome pra-nikah," ujarnya muram. "Kudengar Muggle begitu."

Ia menatap lantai sedetik sebelum lampu di dalam otaknya menyala lagi.

"Ngomong-ngomong kau 'kan sudah menyewa... apa itu? Perencana Pernikahan? Dia seharusnya juga membantu mengurusi kliennya!"

"Apa? A-tidak, Ron. Di sini tidak seperti itu," Hermione terbata.

"Tidak?! Lalu apa kerja mereka?!" Ron marah, rambut merahnya nyaris saja berdiri.

"Well, membantuku agar pernikahannya berjalan—"

"Nah! Dengan tidak memperhatikan kesehatanmu, artinya mereka tidak becus!"

Dan sebelum Hermione sempat menyela lagi, pria jangkung itu telah menyeret tangannya untuk bangkit.

"Aku penasaran orang tua macam apa yang kau sewa itu! Dia itu penipu atau bagaimana? Dan asal kau tahu saja, Mione. Bahkan aku tidak keberatan meninju hidungnya berapapun usianya. Nah, dimana kantor Muggle kurang ajar itu?"

"Birmingham blok F nomor lima belas," Hermione mendadak menyadari ucapan bodohnya. Matanya melotot pada Ron. "Kau tidak akan—"

Saat itu tangannya sudah digenggam erat Ron. Terdengar bunyi letusan keras di telinganya sendiri dan tubuhnya seperti ditarik dan dijejalkan ke dalam tempat yang keterlaluan sempit. Ia merasa begitu mual selama sepersekian detik waktu Ron membawanya ber-Apparate tanpa aba-aba sama sekali.

Dan kenyataan bahwa detik berikutnya mereka telah berdiri di pelataran gedung yang benar, gedung Malfoy, membuat mual itu bertambah menjadi beratus kali lipat. Hatinya mencelos.

Sarah Smith, resepsionis berambut pirang di Agen Konsultasi Pernikahan sebuah gedung berlambang M besar itu sedang mengernyit antara heran dan takut memperhatikan penampilan Ron. Wajar saja, saat ini Ron memakai pakaian Muggle lusuh dengan kombinasi yang aneh. Ia memakai jaket mantel tebal dan celana olahraga sebagai bawahannya, dengan sepatu pantofel yang kusam. Rambutnya yang merah tampak semakin tidak terurus setelah ber-Apparate tadi. Ia menilai Ron hati-hati selama dua menit sebelum akhirnya —masih dengan ragu-ragu— membawa ia dan Hermione menuju kantor atasannya, siapa lagi kalau bukan Malfoy.

"Aku penasaran orang tua pemalas macam apa Wedding Plannermu itu!" gerutu Ron tanpa bersusah payah merendahkan suaranya. "Aku bahkan tidak perlu tongkat dan hanya tinggal menonjok kepala botaknya!"

"Ron!" Hermione mendesis di belakangnya sambil memegangi lengan Ron, tampak ia berusaha keras untuk menahan Ron dengan segala cara. Segala cara kecuali mencabut tongkatnya di tengah lautan Muggle yang tengah mencuri tatap ke mereka dengan penuh minat. Hermione mendelik ke beberapa dari mereka. Ia selalu membenci perilaku buruk Muggle yang satu itu: suka ikut campur. Tanpa menyadari ia juga keturunan Muggle dan kadang-kadang ia juga suka ikut campur.

"Ron! Aku bersumpah bahwa kau sudah kebanyakan minum mead! Kita harus pulang sekarang! Tidak ada gunanya kita di sini—"

Keberapa puluh kalinya ia masih mencoba membujuk Ron, namun kerongkongannya seperti tersedak batu ketika tiba-tiba saja mereka berhenti di ujung ruangan. Di depan sebuah pintu cokelat polos yang ia kenali, ia pernah ke sini setidaknya sekali.

"Apakah dia ada di dalam?" tanya Ron tidak berusaha sopan.

Sang resepsionis hanya menatap jengkel sebelum mengangguk dan cepat-cepat meninggalkan mereka. Hermione bisa mendengar gadis itu mengumpat setelah satu setengah meter berada lebih jauh dari ia dan Ron.

"Bagus!" kata Ron sennag, sepertinya tidak mendengarnya, atau tidak peduli.

Sejenak Hermione merasa otaknya macet. Ia tidak bisa berpikir apapun bahkan untuk menyadari bahwa ia, dan calon suaminya, sedang berdiri dekat sekali dengan Draco Malfoy, pria yang meminjam tiga puluh hari sebelum pernikahannya untuk menjadi kekasihnya. Dekat sekali, hanya terpisah sebuah pintu. Bahkan Hermione mendadak merasa bisa membaui aroma parfum Malfoy. Yah, aroma itu dikenalnya, wangi musk yang segar. Berikutnya, ketika kesadarannya membaik sedikit, jantungnya berontak keterlaluan, sampai seolah alat itu sedang berdetak di tenggorokan Hermione. Jika Draco benar berada di belakang pintu itu... jika Draco membukanya... apa yang akan ia lakukan berikutnya?

Kakinya mulai gemetar dan ia hanya merasakan desakan yang kuat untuk menangis dan ber-disapparate.

Ron mengetuk pintu itu tidak sabar. Dan segera setelahnya ada langkah-langkah terburu mendekati mereka.

Merlin! Bisakah nyawanya dicabut sekarang saja? Bisakah ia masih menyimpan pembalik waktu dan menggunakannya sekarang? Bolehkah ia menghilang sekarang?

Tapi semua doa yang bisa ia panjatkan tidak terkabul. Tidak ketika pintu menjeblak terbuka dan muncullah di ambang pintu sosok tinggi kurus dan pucat. Rambut pirangnya berantakan dan raut wajahnya jelas kesal. Setidaknya, seperti itulah kelihatannya sedetik sebelum matanya yang abu-abu kebiruan mengenali sosok Ron serta Hermione dan ekspresinya berubah menjadi terkejut. Yang lalu berganti lagi sedetik kemudian menjadi datar tak terbaca.

"Apa kabar, Weasley?" ujarnya. Tatapannya lalu berpindah kepada Hermione yang mematung dan pucat, masih sama dinginnya. "Dan Granger?"

Seperti orang asing. Seperti mereka tidak pernah bertemu sama sekali.

Membutuhkan waktu yang lebih lama dari Draco bagi Ron untuk berhenti menatap bego dengan matanya nyaris meloncat keluar dari tempatnya,.

"Malfoy?" katanya, masih tidak percaya, seakan ia sedang melihat hantu Merlin berdiri di hadapannya.

"Sedang apa kau di sini?!" tambahnya, nadanya lebih keras dari yang dibutuhkan.

Kukira Granger-mu ini yang mengajakmu kemari. Memamerkan bahwa dua hari lagi kalian akan menikah.

"Apa maksudmu?!"

"Dia tidak cerita, ya?"

Ron berpaling kepada Hermione. Gadis itu tidak tampak seperti Hermione. Ia tidak tampak kuat, tegas dan gadis terpintar seHogwarts di masanya. Ia tampak tidak tertolong. Tampak begitu rapuh. Dan Draco hanya bisa menatapnya dengan sudut mata, tidak peduli seberapa besarpun keinginannya untuk memeluk dan menenangkan gadis itu. Ada perasaan tercabik di ulu hatinya hanya dengan melihat Granger-nya, Granger yang ia miliki selama tiga puluh hari, tidak berdaya seperti itu. Diam-diam ia mengutuk Ron yang begitu bodoh untuk tidak memeluk gadis itu, di sisi lain ia bersyukur Ron tidak melakukannya. Karena jika ia melihat dengan mata kepalanya sendiri si idiot Weasley Raja Kami ini menyentuh sesenti saja Granger-nya, ia bersumpah sulit untuk tidak melayangkan pukulan tangan ke wajah bodoh itu.

Ia memang marah pada Hermione. Marah karena gadis itu mempermainkannya. Yang sebenarnya marah kepada dirinya sendiri. Marah karena seberapa tidak-termaafkan pun kesalahan Granger, seberapa sering pun ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Granger itu lebih brengsek dari Bellatrix Lestrange atau gadis manapun yang ia kenal, ia tidak bisa benar-benar membencinya. Tidak bisa. Pada akhirnya, ia akan disadarkan oleh rasa nyeri di dadanya, bahwa ia... merindukan gadis itu. Semakin hari, rasa rindunya semakin parah dan menyiksa. Ia hampir bisa menjamin ia akan mati dua hari lagi. Tepat di hari pernikahan Hermione. Tepat saat gadis itu resmi menjadi milik orang lain, bukan lagi pura-pura menjadi milikny—

Tunggu! Ini belum tiga puluh hari, kan? Pikirnya. Hermione masih miliknya sampai hari ini.

"Kalian ingin bertemu Wedding Planner itu, kan? Aku asistennya. Dan jika perempuan sok cantik di belakang meja di lobi itu sudah memberitahumu bos kami tidak akan datang dalam waktu singkat, sebaiknya kau gunakan otakmu dengan baik. Hermione Granger seharusnya mengajarimu soal itu."

"Huh?!" kata Ron tolol.

"Tinggal di kandang babi membuatmu tuli, ya? Dia tidak akan datang. Sebaiknya kalian pulang saja!"

Ron mendelik marah namun memutuskan untuk tetap mempertimbangkan usulan Malfoy. Ia seorang Auror, bagaimanapun juga. Ia orang penting dan sibuk, tidak mungkin menunggu di sini berjam-jam seperti Muggle gelandangan. Gerutuannya tentang Muggle botak pemalas mulai lagi, sekarang bertambah menjadi tukang bolos, sampah, Mungdungus versi Muggle, dan lain sebagainya. Dan Draco mengguankan kesempatan saat Ron lengah itu untuk mengerling Hermione yang mulai dapat mengatur nafasnya. Ia tersenyum singkat.

Dan sepertinya, senyum itu adalah faktor terbesar kenapa Hermione bisa berhenti dari kebekuannya.

"Ngomong-ngomong kenapa kau bisa ada di sini?! Di dunia Muggle. Dan bekerja sebagai— sebagai Muggle?!" tanya Ron, tidak lagi bisa menahan itu lebih lama lagi. Ia sudah mulai mempertanyakannya bahkan semenjak melihat rambut pirang nyaris putih yang tipis menyembul dari pintu dan menyadari bahwa itu milik musuh abadinya waktu di sekolah.

"Urus urusanmu sendiri, Weasel," balas Draco pedas.

Ia cepat-cepat berjalan mendului Ron sebelum akhirnya memutar tumitnya kembali. Matanya persis terpaku ke arah Hermione.

"Kau tidak pernah menceritakan padaku bahwa kau sudah bertemu si pirang itu sebelum ini?" tanya Ron.

Namun telinga Hermione sudah lumpuh untuk bisa mendengarnya. Tatapannya terkunci pada iris abu-abu Malfoy yang memerangkap. Yang sekarang bibirnya tertarik ke atas, tapi anehnya, tatapannya berbeda. Benar-benar dingin.

"Selamat untuk pernikahanmu, Weasley, Granger."

Bagi Hermione, ada sakit yang aneh di dadanya ketika melihat Draco mengucapkan itu sambil tersenyum.

Aneh. Yah. Ia masih mengingat-ingat kata-kata dan senyuman pria itu sebelum mereka berpisah tadi. Ia mengingatnya dengan begitu jelas meski sebenarnya ia tidak menginginkannya. Ada perasaan yang sulit ia tafsirkan, jauh lebih sulit daripada pelajaran terbang atau membuat patronus. Mungkin semacam... tidak rela. Ia merasa aneh dan tidak rela melihat Malfoy tersenyum, mendengar Malfoy mengucapkan selamat untuk pernikahannya. Ia lebih senang jika saja pria itu mengamuk atau bagaimana. Apa saja yang mengesankan bahwa ia tidak rela pernikahan itu terjadi. Tapi Malfoy tidak melakukannya. Dan Hermione merasa... ditinggalkan.

Ia merindukan pria itu. Lagi. Dalam kapasitas yang lebih parah.

Ini gila! Pada pagi hari setelah hari ini berlalu, ia sudah akan menikah dan menjadi milik Ron. Tidak seharusnya ia memikirkan pria lain.

Maka Hermione menarik napas dalam-dalam. Ia menolak menginap di The Burrow lagi malam tadi. Tapi semua itu bisa jadi ditawar karena ia mengajak keluarga Weasley menginap di rumahnya bersama orangtuanya. Mr. Weasley yang tidak pernah berkurang kegilaannya pada Muggle, menyambut begitu antusias ajakan ini. Dan seingat Hermione tadi, ia terus berceloteh gembira ketika diajak ayah Hermione berkeliling kompleks dan ke super market. Di dapur masih terdengar suara berisik. Pasalnya, Ibu Hermione yang masih tidak terbiasa pada sihir memekik terus-terusan dengan kuali Mrs. Weasley yang berisi tauge-tauge yang mengupas sendiri, atau George dan Ginny yang iseng-iseng memindahkan setiap piring makanan dengan sihir. Dan Ron, pagi-pagi sekali ia harus menjalankan tugas sebagai Auror, menangani pemberontakan manusia serigala di daerah Wales. Ia mengumpat sehingga membangunkan semua orang bahwa ia akan menikah besok dan tidak seharusnya Kepala Auror brengsek itu menugasinya seperti itu.

Malas sekali menggerakkan tubuh untuk bangun, Hermione hanya berguling kembali dan mencoba membenamkan wajahnya di bantal. Semalaman tadi tidurnya tidak bisa dikatakan nyenyak. Ia bermimpi buruk yang tidak jelas, namun menyebabkan rasa nyeri di ulu hatinya ketika membuka mata di pagi hari. Kepalanya pusing. Dan ia membenamkan wajah semakin dalam ketika samar-samar mendengar pintu kamarnya di ketuk.

Ia mencoba pura-pura tidur. Tapi tidak bisa, ketukan itu terus mengganggu. Dengan enggan ia terpaksa memutuskan bangun, bukannya menggumamkan mantra penghancur pada pintu. Mungkin memantrai orang di belakang pintu itu dengan bombarda kedengaran bagus. Kecuali jika itu orang tuanya, Mr dan Mrs. Weasley atau Ginny. Ia akan senang sekali jika itu Ron yang kembali karena ketinggalan sesuatu. Kutukan kepak keleawar sepertinya tidak begitu berlebihan.

Hermione mengucek matanya dengan buku jari ketika matanya harus terbelalak sendiri dengan begitu segar tanpa perlu dikucek lebih banyak. Manik cokelat madu itu membulat seperti kelereng.

"Selamat pagi, Granger!"

Ia pasti bermimpi! Hermione berpikir begitu. Tidak mungkin. Draco Malfoy berada di rumahnya, berdiri di depan pintu kamarnya pagi-pagi sekali, adalah sama tidak mungkinnya dengan Merlin ternyata merupakan penggemar berat boyband Muggle bernama Super Junior. Tapi menurutmu, siapa lagi penyihir berambut pirang keperakan yang sangat tipis dan wajah runcing menyebalkan namun tampan dan tinggi keren ini? Owh, ralat saja bagian tampan dan tinggi keren itu. Tapi seingatnya, dari semua ciri-ciri fisik yang melekat pada pria di depannya ini, tidak mungkin ia salah lihat. Ini Draco Malfoy yang berdiri di depannya.

"Kau tampak...," Draco menunduk, mata abu-abunya menjelajah setiap senti Hermione dengan alis terangkat satu, "errr... berantakan."

Bahkan ketika bangun tidur, aliran darahnya masih bekerja dengan sangat bagus. Semuanya terpompa ke wajah hingga pipi Hermione merah padam. Ia mendadak memandangi penampilannya sendiri dengan berusaha agar tidak kelihatan panik, meski kenyataannya ia merasa ingin sekali membenamkan diri di bathtube dan tidak pernah keluar lagi. Ia memakai baju tidur yang longgar di badan, dan tiba-tiba merasa itu agak terlalu terbuka, tatapan Malfoy yang terkunci di sana sama sekali tidak membuatnya nyaman. Dan rambutnya! Astaga! Jika di tahun-tahun pertamanya menginjakkan kaki di Hogwarts ia dijuluki semak berjalan, maka sekarang ia nyaris seperti hutan berjalan.

"Kau baik-baik saja, Granger? Kusarankan kau mandi secepatny—"

"Apa yang kau lakukan di sini?!" Hermione menyela ocehan Draco. "Apa yang kau lakukan di rumahku?!" ulangnya dengan penekanan penuh pada kata rumah.

"Well, itulah yang tadi mau kukatakan. Cepatlah mandi, Granger! Kau berbau sampah dan kita tidak punya lebih banyak waktu!"

Draco berlagak melihat arlojinya. Penuh dramatisir tentu, seolah-olah kegiatan Perdana Mentri Inggris Raya maupun Perdana Mentri sihir kalah penting dari apa yang akan ia lakukan. Ia juga mendorong-dorong pundak Hermione agar cepat ke kamar mandi seolah bau Hermione telah meracuni pasokan oksigen yang ia hirup. Hermione mendengus, tapi menolak untuk beranjak. Tangannya bersidekap serius dengan tampang galak, ekspresi yang membuatnya dijuluki Nona-Tahu-Segala.

"Sebelum kau memeritah-memerintahku, bisakah kau jelaskan padaku tujuan keberadaanmu di sini, Malfoy?"

"Oh yeah. Kukira kau cukup pintar dan tahu semuanya. Yah, tapi aku maklum, di buku Sejarah Sihir bahkan di buku Penyihir-Penyihir Pria Tertampan Sepanjang Sejarah tentu tidak ada yang menjelaskan kenapa aku di sini. Tapi jika memorimu masih cukup sehat, Granger, kau bisa menggunakannya untuk mengingat bahwa kita masih terikat kontrak."

"Huh? K-kontrak apa?"

"Ada dua. Pertama, bahwa aku Wedding Plannermu, dan aku minta maaf karena terlambat satu hari untuk menunjukkan semua kesiapan padamu. Asistenku sedang dalam perjalanan membawakan gaun pengantinmu. Penata riasnya akan datang besok, pagi-pagi sekali. Undanganmu sudah disebarkan sesuai daftarmu. Katering oke. Jadi sekarang tinggal mengecek gereja dan gedung pernikahan. Sayang sekali calon suamimu terlalu sibuk untuk ikut." Ia mengedarkan pandangan sebentar pada keadaan kamar Hermione sebelum berdeham melanjutkan.

"Dan yang kedua, semoga kau ingat," Malfoy mendekat pada Hermione dan merendahkan suaranya. "Ini adalah hari ke-tiga puluh dan hari ini belum berakhir. Artinya, kau masih calon pengantinku, bukan Ron."

Sesaat berikutnya, sebelum Hermione berhasil mengendalikan detak jantungnya, Draco telah berdiri dengan benar dan melompat lebih jauh darinya. Mrs. Weasley sedang melintas tak jauh dari mereka.

"Bagaimana—" Hermione ingin menyuarakan pertanyaan barunya. Bagaimana ia bisa masuk? Bagaimana ia bisa selamat sampai ke sini dengan kenyataan adanya keluarga Weasley yang mengenal baik Draco Malfoy?

"Oh, itu?" Draco mengerti. "Aku sudah menjelaskannya. Bahwa aku sekarang tinggal dan bekerja bersama Muggle. Dan yeah, kita kebetulan bertemu dengan kau sebagai klienku," ia menunjukkan kartu nama bertinta emasnya yang menjelaskan pekerjaannya.

"Jadi cepatlah, Hermione sayang, aku tidak akan mau berkencan dengan tiruan babi atau singa berkaki dua."

Hermione menyesal meninggalkan tongkat sihirnya jauh dari jangkauan. Sehingga ia hanya mengumpat saat berjalan cepat menuju kamar mandi dan membanting pintunya sekeras mungkin. Dan apa yang Draco bilang tadi? Ia baru menyadarinya. Hermione sayang?

Seharusnya tidak seorang pun bisa menampik apa yang disampaikan Madam Nicole tentang gaun kesayangannya yang sedang dipas oleh Hermione di ruang ganti. Tidak seorang pun bisa mengingkari betapa tepat pujian yang disampaikan wanita gemuk itu ketika Hermione keluar dengan gaun yang melekat pas di badannya. Sebuah gaun pengantin berwarna merah jambu yang cantik di bagian atas yang lalu dihias manik-manik dan sulaman putih serta renda-renda putih yang menyambung dari bagian pinggan hingga menjuntai panjang di belakang kaki gadis itu, dengan sesekali manik pink sebagai aksennya.

Gaun itu seperti diciptakan memang untuknya. Dan munafik saja jika ada yang mengatakan ia tidak cantik. Dan mungkin orang itu adalah Dracco Malfoy yang sibuk membuat dirinya seolah memasang ekspresi bosan, seolah menemani Hermione lebih membuang waktu dari menemani Prof. Slughorn berceloteh tentang anak muridnya di kementrian. Tapi tetap saja matanya tidak begitu pandai berdusta. Ia terus mencuri tatap pada Hermione selagi gadis itu sibuk berbincang dengan Madam Nicole.

Ia mirip seperti Hermione di tahun keempat di Hogwarts seperti yang bisa diingat Draco. Bedanya, Hermione Granger yang ini lebih cantik, lebih dewasa, lebih anggun, gaunnya ratusan kali lebih cantik. Dan yang paling penting dari semuanya, Hermione Granger yang ini akan otomatis menoleh jika ia panggil, akan tersenyum padanya, dan akan ia gandeng tangannya ketika melewati pintu kaca butik ini. Perbedaan yang sangat besar yang membuat Draco bersyukur setengah mati.

"Granger?"

Benar, kan? Gadis itu menoleh, lalu tanpa berpikir tersenyum pada Draco dan terburu berjalan ke arahnya, sambil mengangkat ujung gaunnya yang berlebihan dan tampak berat.

"Bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil berputar, bermaksud memperlihatkan bagaimana indahnya gaun itu. Namun ia kurang perhitungan, sehingga yang Draco perhatikan ketika ia membelakangi pria itu adalah punggungnya, dan lehernya. Gaun itu mengekspose punggungnya yang mulus tanpa cela. Dan tatanan rambutnya yang digelung ke atas semakin memperburuk keadaan, memperlihatkan dengan sangat jelas betapa jenjang dan memikatnya leher gadis itu. Tempat yang begitu mengundang untuk Draco bernapas di sana.

"Wah. Kau menggodaku, Granger?" katanya dengan suara serak aneh, ia benar-benar berusaha mengendalikan diri.

Ketika wajah Hermione kembali ke hadapannya, Draco menemukannya berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam.

"Maksudku... bagus, kan? Terimakasih untuk gaunnya. Kau orang pertama yang melihatnya, kau tahu?"

"Benarkah? Kukira tidak begitu. Madam Nicole yang pertama melihatnya," balas Draco sambil melirik tidak senang pada Madam Nicole yang sibuk pada baju-baju miliknya yang lain.

"Kau bisa memodifikasi ingatannya jika benar-benar menginginkan aku menjadi yang pertama, Granger."

Draco menyeringai, dan Hermione mendengus sambil menggelengkan kepala sedikit, berusaha menahan tawa. Rambutnya yang bebas dari gelungan bergoyang sedikit. Dan ini adalah rahasia, tapi Draco sangat menyukai rambutnya itu.

"Itu berlebihan sekali. Lagipula apa pentingnya kau!"

Walaupun begitu Draco tahu tidak ada yang bisa mengentikan kesenangannya saat ini, termasuk kenyataan Madam Nicole tadi. Itu tidak masuk hitungan. Atau setidaknya, ia menjadi pria pertama yang melihat Hermione Granger yang paling cantik. Bukannya Ron Weasley atau siapapun. Cukup kenyataan itu, membuatnya merasa tidak mampu untuk tidak merasa gila.

"30 hari itu milikku. Kau tidak bisa mengingkarinya begitu saja. Ah, kenapa aku baru kepikiran tadi malam? Ini kebodohanku yang langka sekali terjadi," gumam Draco sok ketika Hermione masih bertanya-tanya dengan ekspresi kebingungan soal keberadaan Draco di rumahnya, padahal saat itu mereka telah jauh sekali meninggalkan rumah.

Mereka sedang berjalan-jalan di taman depan gereja, memutuskan menuju sebuah pohon maple besar yang meranggas hingga nyaris seperti pohon mati untuk duduk di sebuah bangku kayu di bawahnya. Mereka berjalan begitu pelan, seolah tak ingin jalan yang menghubungkan pintu gereja ke bangku itu habis dengan cepat. Jika ditebak, mungkin karena jemari keduanya yang sedang bertautan erat, atau karena pipi kedua manusia itu merah jambu dari tadi yang tidak ada kaitannya dengan udara dingin.

"Jadi itu alasannya kau menyeretku ke sini?" Hermione bertanya bodoh. Oh, ayolah. Wajar memang jika gadis lain yang mengucapkannya. Tapi ini Hermione Granger yang lulus di semua ujian OWL dan NEWT dalam kisaran Outstanding dan paling tidak Exceed Expectation. Dia bisa menyimpulkan esai tentang ramuan Felix Felicis jauh lebih baik daripada ini.

"Tidak, bukan itu," jawab Draco, menimbang-nimbang.

Hermione mengangkat alis dan menatap Draco. "Lalu?"

"Dendamu."

"Apa?!" Ada yang salah dengan pendengaranku, pikir Hermione.

"Denda."

Ternyata tidak. Yang salah bukan telinga Hermione, tapi otak Draco.

"Apa maksudmu?"

"Sudah berapa hari kau tidak menemuiku? Kita harus membuat pembayaran atas ini, Granger."

"Aku tidak mengerti, Malfoy!" potong Hermione cepat. Wajahnya semakin merah padam tanpa bisa dicegah.

Draco menghentikan langkahnya, memaksa Hermione untuk berhenti juga, dan menatap gadis itu lebih dalam dari tatapan bertanya Hermione padanya. Lebih daripada itu.

"Kau harus membayarnya, Granger. Aku merindukanmu, lebih banyak dari yang kau kira."

Mereka menghabiskan hari itu lebih lama daripada yang dibutuhkan. Yah, hanya melihat-lihat dan memeriksa gedung pernikahan dan gereja yang terletak tidak bergitu berjauhan tentunya tidak akan menghabiskan waktu seharian hingga malam. Namun kenyataannya, mereka melakukannya. Orangtua Hermione dan orangtua Ron, bahkan Ron sendiri pasti sudah bertanya-tanya kenapa Hermione belum pulang juga sekarang, pada jam setengah sepuluh malam.

Mereka belum pulang, dan tidak memberitahu apa-apa ke rumah. Bahwa saat ini ia sedang bersama Draco, sedang bersama ibu Draco juga, Narcissa.

Dengan teliti dan kesabaran ekstra, ia menyuapi Narcissa makan, yang berkali-kali sebelumnya menolak disuapi apapun oleh Hermione, namun sekarang sudah agak luluh. Narcissa yang dulu, tidak akan mungkin bersedia berada di dekat seorang 'Darah-Lumpur' lebih dari dua menit, tapi sekarang ia bahkan membuka mulutnya bersemangat untuk menerima suapan Hermione.

Draco duduk di sisi gadis itu. Diam-diam menatapnya tanpa berniat beralih, berusaha tidak banyak berkedip. Karena menatapnya seperti keajaiban, keajaiban yang tidak berumur panjang. Semua ini akan berakhir, sebentar lagi. Esok dipastikan ia tidak akan bisa melakukan ini lagi, yah.

"Apa yang kau lakukan, Draco?"

Ketika Draco tersadar dari —entah apakah itu lamunan—nya, Hermione sedang menatapnya dengan alis berkerut.

"Tidak tidak apa-apa," jawabnya buru-buru berdiri dan berdeham keras-keras.

"Granger. Ini sudah larut malam. Bisakah... kau pulang sendiri?"

"Apa?!"

"Pulanglah sendiri," ulang Draco lebih jelas tanpa melihat Hermione, melainkan mulai mengambil alih menyuapi ibunya.

Ayah Hermione pernah mengatakan pria yang membiarkan seorang gadis pulang sendirian malam-malam adalah pria brengsek, dan Hermione hanya tidak menyangka bahwa Draco adalah pria brengsek itu. Meskipun ia tahu dengan pasti Draco yang ini pernah menangis karena masuk hutan terlarang, menangis berlebihan waktu diserang Hippogriff, dan lebih sering lagi menangis di kamar mandi di tahun ke-enam karena tidak sanggup melaksanakan tugas dari Voldemort. Ia tahu dengan pasti betapa pengecutnya Draco Malfoy waktu itu. Jadi seharusnya, ia tidak punya alasan apapun untuk merasa tidak percaya, bahwa Draco mengusirnya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada yang bisa keluar. Tidak bisa menanyakan apapun, atau bahkan sekedar mengatakan selamat tinggal. Ia mundur selangkah dan secepatnya berjalan ke arah pintu tanpa pernah berpikir untuk menoleh lagi.

Begitu saja, tanpa ucapan perpisahan. Tanpa ucapan manis apapun. Sudah berakhir sangat cepat.

Rasanya hampir tidak bisa dipercaya. Secepat inikah?

Tahu-tahu Hermione sudah menemukan dirinya berdiri di depan panti itu dan menunggu taksinya yang lewat ketika ia menyadari tasnya tertinggal. Ia berpikir keras sebelum mengambil keputusan sulit. Yah, kalau saja di dalamnya tidak ada dompet dan ponsel dan tongkat sihirnya, ia tidak akan mau repot-repot menemui Draco Malfoy ke ruangan itu lagi.

Ia mengintip sedikit. Draco Malfoy sedang menyuapi ibunya, Narcissa, dan mengajaknya bicara. Dan jantung Hermione terasa mencelos ketika namanya disebut. Ditambah dengan kenyataan bahwa Draco tidak sedang bicara seolah mereka sedang membahas Quiddich di suatu acara minum teh. Tidak. Ini seperti Draco yang menerima tugas yang tidak bisa ia lakukan dan ia akan mati jika tidak berhasil. Ini Draco yang penuh keputus-asaan. Draco yang menangis di depan ibunya.

"Mum lihat Hermione Granger yang itu? Betapa bodohnya aku, Mum. Aku.. aku mencintainya... dari dulu, bahkan tanpa siapun menyadari, aku sudah mencintainya..." kemudian ia berhenti, seperti ada sesuatu yang menyumbat kerongkongannya.

"Aku menghabiskan waktuku melakukan berbagai cara yang kupikir bisa menarik perhatiannya, bisa agar aku terlihat keren di matanya. Tapi aku memang bodoh Mum, tidak seperti dia yang pintar. Ia malah membenciku," Draco tersenyum sedih.

"Lalu semua masalah ini ditimpakan ke keluarga kita. Dad... Dad harus menginap lebih lama di Azkaban. Dan kau... di sini. Kenapa ini semua terjadi pada kita, Mum? Aku masih membutuhkanmu dan Dad! Kau tahu aku anak manja yang tidak berguna. Aku tidak bisa... menanggung semua ini sendiri. Aku sudah melupakan gadis itu, Mum. Selama ini aku berusaha begitu. Berusaha melupakannya... demi kau. Tapi Merlin sepertinya membenciku. Dia mempertemukan kami lagi. Dalam keadaan... dalam keadaan gadis itu yang sudah akan menikah. Bukankah ini sangat tidak adil, Mum?!"

Kaki Hermione terasa dingin. Ia tidak ingin mendengar ini. Ia seharusnya tidak mendengarnya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuat kakinya bergerak, bahkan untuk membuat ia tetap bernapas saja adalah hal yang mendadak sulit sekali.

Sementara Draco terlihat menyapu airmatanya dengan ujung lengan bajunya. Dan Hermione sama sekali tidak merasa bisa menyalahkan keberanian pria itu bercerita pada ibunya.

"Besok dia akan menikah, Mum. Apa yang harus kulakukan? Besok dia akan menjadi milik orang lain. Bagaimana... bagaimana denganku? Bagaimana dengan masa depanku? Aku tidak pernah menyukai gadis lain setelah gadis itu, Mum. Aku bodoh sekali..."

Suaranya semakin tidak jelas dan ia terbenam sendiri dalam tangisnya di pangkuan Narcissa. Hermione, dengan semua sisa kekuatan yang dipaksakannya, menutup pintu pelan-pelan dan membalikkan tubuhnya pergi diam-diam.

TBC

Well, karena aku merasa 8rb words agak kepanjangan utk sebuah FF di FFN, aku mutusin untuk membaginya menjadi dua, yang sialnya, aku gak bias bagi sehingga banyakan di chap ini dan gak terlalu banyak lagi yang tersisa *sigh*

Chap berikutnya akan publish dalam waktu dekat, mungkin dua atau tiga hari lagi dan saat itu FF ini akan tamat, horeeeee *tebar kebang api filibuster*

Nah, karena itu aku minta reviewnya, ya. Makin banyak review, amkin cepat aku publish lanjutannya :D

Oh ya, terimakasih utk yg udah review chap2 sebelumnya: kecup basah untuk ryana, Ms. Loony Lovegood, Tsurugi De Lelouch, Ahn Dini FreezenBlack, Hirano Lawliet, Milleniacha, Esposa Malfoy, putims, JeaniMint, penelopi, Shyzyldrew *buset, namanya udah panjang2, susah2*, jheincyeon, Markoding Tumpahae yng ngasih review lebih cepet dr Snitch *PLAK*, neisya malfoy, Hallowrose, renatta, adelia malfoy, dey28, zea mays, ice cream soop, kyoko raa, bluediamond13, maulidahnh2, lilids lilac, nanachan, pielia dramione, titah, feltson, Aurelia stuff, X-mionez, Hermione Malfoy19, dan maaf kalo ada yg ga kesebut *elap keringat*

Sampai jumpa di final chap ^^