Mahou no yoru fushigina © Utsukushi Hana-chan

Disclaimer © Masashi Kishimoto

Rate © T

Genre © Romance, Fantasy

Pair © NaruHina

Warning © Typo, Au, OOC, No EYD, alur kecepetan dan lain-lain.

DLDR OKE (•͡.̮ •͡ )

.

.

.

.

.

Tangan lentik putih bersih tersebut dengan cekatan menuangkan jus jeruk ke ke-tiga gelas kosong tersebut. Sedikit senyum saat melihat anaknya makan dengan lahapnya.

"Bagaimana hari keduamu di sekolah barumu, nak?" Tanya wanita paruh baya tersebut pada anak semata wayangnya.

"Menyenangkan Kaa-san." Ucapnya sambil memberikan senyum lima jarinya.

"Terus apa kau sudah punya pacar. Eh?" Tanya Kushina dengan senyum jahilnya membuat Naruto yang meminum minumannya tampak tersedak.

"Bagaimana ya Kaa-san." Naruto tampak menggaruk-garukan kepalanya. Sedangkan Minato yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Sudahlah Kushina, kau seperti tidak pernah muda saja." Kekeh Minato pelan membuat Kushina memberi tatapan menusuk ke Minato.

"Memangnya tidak boleh tau apa, ya sudah kalau begitu cepat kalian habiskan makanannya." Ucap Kushina dengan nada sebal.

Setelah mengabiskan makan malamnya Naruto beranjak dari duduknya dan segera pergi ke dalam kamarnya.

"Ah huft." Naruto merebahkan tubuhnya di atas kasur king sizenya. Mata sapphirenya menatap langit-langit kamarnya. Senyum rubahnya terlihat sangat menawan.

"Sudah ku putuskan, aku tidak ingin ini menjadi lebih rumit lagi, aku ingin bersama denganmu lagi Tsuma." Kekeh pelan Naruto sambil menutup wajahnya dengan bantal.

.

.

[...]

.

.

Hinata merebahkan tubuhnya yang berbalut baju tidur di tempat tidurnya.

"Hah ternyata bukan Naruto-kun yang ku kenal."

Karena bosan Hinata kemudian merubah posisinya yang tadinya terlentang menjadi duduk.

"Ah aku ingat," ucap Hinata tiba-tiba sambil beranjak dari duduknya.

Ia segera mengambil tasnya yang terletak di samping meja belajarnya,

Hinata dengan cepat mengobrak-abrik isi tasnya untuk mencari kotak persegi yang di berikan Naruto. Dan setelah mengeluarkan isi semua tasnya Hinata akhirnya menemukan kotak yang di carinya.

"Kira-kira isinya apa ya?" Jemari lentiknya dengan pelan membuka kotak tersebut. Saat ia membuka kotak tersebut terlihat sebuah kertas yang di lipat-lipat.

"Eh sebuah surat."

'Kalau kau ingin tahu hal yang mengganjal di pikiranmu segera tamui aku besok di atap sekolah.

Naruto Namikaze'

"Eh apa yang di maksud Naruto-san." Hinata mendelikan bahunya perlahan kemudian melipat surat itu tersebut dan memasukannya kembali ke dalam kotak dan menaruhnya di meja belajarnya.

Saat maniknya tak sengaja melihat benda persegi panjang dengan ukiran NH dengan cepat tangannya lentiknya meraihnya dan membawanya menuju tempat tidurnya.

"Mungkin mendengar music box bisa membuat ku lebih rilex."

Nada-nada piano yang di mainkan oleh musik box tersebut terdengar sangat indah di pendengarannya, ia mulai terbuai dan semakin lama matanya semakin berat.

Dan akhirnya ia tertidur lelap.

.

.

.

Pagi mulai menjelang Hinata masih saja terdiam di depan rumahnya.

Tangan lentiknya dengan cepat menekan tombol-tombol ponselnya, matanya terlihat melihat ke sekeliling untuk mencari mahluk pink yang sedari tadi di tunggunya.

"Moshi-moshi Sakura-chan. Kau sekarang ada di mana?" Tanyanya to the point.

"Gomen ne Hinata-chan. Aku rasa aku tidak bisa berangkat denganmu."

Hinata menghela nafas berat kemudian tersenyum, yah walau senyumnya tak akan di lihat oleh Sakura.

"Oh ya sudah, jaa."

Hinata mematikan ponselnya kemudian memasuki ke dalam tasnya.

Perjalanan menuju sekolah saat ini terasa sangat lambat bagi Hinata karena biasanya ia selalu berangkat sekolah bersama Sakura.

TINN...!

Suara kelakson motor mengagetkan Hinata. Dengan cepat Hinata menoleh ke samping. Hinata tak tau siapa lelaki tersebut, tapi saat lelaki tersebut membuka suaranya Hinata menyadarinya bahwa lelaki tersebut adalah Naruto.

"Naiklah, kalau kau tidak ingin terlambat."

Hinata yang awalnya akan menolak akhirnya menyetujui ucapan Naruto karena ia tidak ingin terlambat sekolah.

Saat Hinata sudah berada di atas motor sport Naruto. Naruto malah menyuruhnya untuk berpegangan pada pinggangnya.

Karena tidak ingin berdebat akhirnya Hinata menuruti perkataan Naruto. Ia dengan perlahan melingkarkan tangannya pada pinggang Naruto sedangkan Naruto yang melihatnya tersenyu di balik helmnya.

Ah rasanya ia ingin pingsan saat ini, apa lagi dengan debaran jantungnya yang sedari tadi bercapu dengan cepat, ia merasa seperti berada di dekat pangerannya... Naruto~

Saat beberapa menit mereka lalui dengan ke adaan sepi dan ke adaan canggung. Akhirnya motor sport Naruto memasuki perkarangan KHS, Hinata dapat bernapas lega sesaat karena akan terbebas dari Naruto namun sayang semua mata memandang ke arahnya dan Naruto.

"Hey-hey bukankah itu si Hinata? Dia bersama siapa ya?" Terdengar bisik-bisikan membuat Hinata menyembunyikan wajahnya di punggu lebar Naruto.

Saat Naruto memarkirkan sepeda motornya Hinata dengan cepat turun.

"A...arigatou Naruto-san." Hinata membungkukkan badanya sembilan puluh derajat kemudian pada saat ia akan berlari kabur dari samping Naruto sebelah tangannya dengan cepat di tahan Naruto.

"Tunggu, kita masuk sama-sama." Ucap Naruto, Hinata yang mendengarnya tampak merona merah.

Pada saat Naruto membuka helmnya siswi-siswi yang sedari tadi melihat ke arah Hinata tampak tercengang.

"Eh apa aku tak salah lihat, itu Hinata dan Naruto!"

"Kau tak salah lihat Tayuya." Ucap gadis dengan rambut merah menyala.

"Ck Hinata selalu saja mendapatkan apa yang di inginkannya." Tayuya tampak menatap tajam ke arah Hinata.

"Lebih kita masuk ke kelas saja Tayuya." Gadis rambut merah tersebut dengan cepat menyeret Tayuya.

"Ayo." Naruto merangkul Hinata dengan mesra membuat Hinata merona merah.

"Go...gomen Naruto-san." Hinata tampak mejauhkan lengan Naruto dari bahunya.

"Hn."

Mereka berjalan dalam diam menuju kelas mereka yang berada di lantai dua. Di setiap lorong menuju kelas Hinata selalu saja menunduk malu karena sedari tadi semua siswi melihat ke arahnya.

"Naruto-kun!" Bahu Hinata di senggol dengan kerasnya membuat Hinata hampir terjatuh.

Gadis dengan rambut pirang pucat tampak bergelanyut manja di lengan Naruto.

"Lepas Shion." Naruto melepaskan tangan Shion dari lengannya membuat Shion cemberut. Saat ia menyadari ke beradaan Hinata sudah tak ada lagi Naruto mendecih sebal.

"Naruto-kun kenapa kau bersama gadis Hyuuga itu." Ucap Shion dengan nada sebalnya yang di buat terdengar imut.

"Dia pacarku salah aku dekat-dekat dengannya?" Shion membelakan matanya.

"Pacar?"

Naruto tak memperdulikan Shion dengan cepat ia memasuki kelasnya. Karena sedari tadi berjalan tak terasa ia sudah sampai di depan kelasnya.

.

.

.

"Hah." Hinata mendesah pelan kemudian duduk di bangkunya.

"Hinata-chan ohayou." Sapa Sakura yang sudah berada di kelas sedari tadi.

"Ohayou moo Sakura-chan." Hinata menatap Sakura yang terlihat berbeda hari ini. Bibir Sakura tampak mengetup keras matanya menyipit, gelagat Sakura seperti orang yang sedang menahan tawa membuat Hinata memandang Sakura curiga.

"Kau tidak berbisa berbohong padaku Sakura-chan." Hinata menatap Sakura dengan pandangan tak suka.

"Tidak aku hanya iri dengan kau, Naruto-san terlihat sangat mencintaimu." Bohong Sakura dan akhirnya tertawa membuat Hinata jengkel.

Padahal yang sebenarnya yang di inginkan di katakan Sakura adalah ia di suruh oleh Naruto untuk tidak berangkat bersamanya agar Naruto bisa berangkat bersamamu.

"Dia sudah memiliki Shion-san." Ucap Hinata pelan, entah kenapa saat ia melihat Shion bergelayut manja di lengan Naruto membuatnya sakit hati.

"Benarkah? Bukannya Naruto itu kekasihmu Hinata-chan?" Sakura menaikan sebelah alisnya. Hinata tampak mengibas-ngibaskan tangannya.

"Tidaklah Sakura-chan." Saat Hinata mengucapkan kata itu pintu kelas bergeser dan tampaklah seorang guru dengan rambut hitam panjang yang selalu membawa ular ke dalam kelas.

"Ohayou minna, cepat buka halaman 154."

.

.

.

.

"Hinata-chan tidak ke kantin?" Tanya Sakura.

"Gomen aku ada urusan sebentar Sakura-chan. Aku duluan ya." Hinata melambaikan tangannya kemudian berlari dengan cepat ke atas atap sekolah.

Saat ia menaiki tangga menuju atap sekolah, perasaan takut mulai menghampirinya hingga pintu coklat terlihat dengan jelas di depan sana.

Hinata memegang kenop pintu dengan gemetaran tapi dengan cepat ia menggeser pintu coklat tersebut hingga tampak atap sekolah yang terlihat luas dan bersih.

"Eh? Di mana Naruto-san?" Hinata memandang ke seluruh penjuru atap sekolah namun hasilnya nihil. Saat pendengarannya mendengar suara gesekan pintu ia dengan cepat berbalik.

"Maaf membuatmu menunggu lama Hinata-chan."

Naruto berjalan pelan ke arah Hinata.

"Kau ingin tahun tentang kalung yang kau pakaikan?" Hinata mengangguk pelan, ya walau awalnya ia bingung namun ia hanya mengangguk.

Saat Naruto menjentikan jarinya, sekarang ia bersama Naruto di bawah pohon sakura yang besar.

"Sebenarnya aku tidak ingin memberitahu ini semua, namun karena kecerobohanku waktu itu tidak mengambil kalung di lehermu pasti waktu itu kau akan mengira yang kau alami hanyalah sebuah mimpi."

"Be-benarkah itu kau Naruto-kun?" Naruto mengangguk membuat Hinata langsung memeluknya erat.

"Bodoh, aku kira malam itu hayalah mimpi. Dan aku menganggap diriku sendiri sudah gila." Hinata mulai meracau sambil memukul dada bidang Naruto.

"Gomennasai." Naruto mendakap Hinata dengan sayangnya dan mengelus pelan surai indigo Hinata.

"Sekarang kau tidak boleh berhubungan dengan lelaki menapun selain aku, Naruto Namikaze."

Hinata mengangguk pelan mengiyakan ucapan Naruto.

"Terus kenapa waktu itu kau memanggilku istriku?"

Naruto tercekat kemudian tertawa polos sambil menggaruk-garuk kepalanya.

"Kau akan tau sebentar lagi Istriku, tapi bukan sekarang."

Blush

Naruto memanggilnya lagi dengan sebutan itu.

"Aku ingin kembali, Sakura-chan sudah menungguku."

"Baiklah Istriku." Naruto kembali menjentikan jarinya dan sekarang mereka sudah berada di atap sekolah lagi.

Hinata memandang Naruto sebentar kemudian dengan gerak cepat berlari untuk pergi dari atap sekolah.

"Baiklah, kita akan bertemu lagi Istriku." Naruto terkekeh pelan melihat Hinata yang sudah hilang dari pandangannya.

Hinata terus berlari sampai ia berada di kantin. Di sana Sakura tampak sedang bercengkarama dengan seorang gadis dengan rambut pirang.

"Ah Sakura-chan, maaf membuatmu menunggu lama."

Hinata segera duduk di samping Sakura. Ino nama gadis yang duduk di sebelah Sakura tampak tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa, eh ayo makan aku sudah memesankan mu makanan."

Mereka bertiga mulai makan, bercanda dan tertawa bersama sampai bel masuk berbunyi.

"Aku duluan ya Sakura-chan, Hinata-chan." Ino kemudian pergi meninggalkan Sakura dan Hinata.

"Kau kenal Ino-chan kapan Sakura-chan?" Tanya Hinata.

"Baru saja."

"Dia orangnya cantik dan modis ya." Sakura mengangguk mengiyakan ucapan Hinata karena Ino merupakan salah satu gadis yang memiliki fans.

.

.

Bel pulang sekolah berbunyi dengan nyaringnya membuat semua yang berada di kelas bersorak.

"Bagaimana kalau sekarang kita pergi berbelanja Hinata-chan?"

Hinata yang membereskan barang-barangnya tampak berhenti sejenak.

"Boleh juga."

Namun kebahagiaan mereka yang akan berbelanja bersama sirna karena kelas mereka yang sudah lumayan sepi di datangi oleh sosok lelaki blonde.

"Kyaa itu Naru-kun." Teriak salah satu gadis dengan rona merah di pipinya.

"Eh?" Hinata mengalihkan pandangannya ke depan namun seketika ia terlonjak kaget karena tiba-tiba Naruto sudah berada di depannya.

"Cepat bersekan barang-barangmu. Kita pulang bersama."

"Go...gomen Naruto-kun aku ada janji dengan Sakura-chan." Sesal Hinata sambil memainkan kedua jarinya.

"Sakura-san aku bawa Hinata sekarang tidak apa-apa kan?" Sakura dengan cepat mengangguk.

"Arigatou." Naruto segera menggengam tangan Hinata dan menyeretnya keluar dari kelas.

Gadis yang tadi memekik saat melihat Naruto datang segera menghampiri Sakura.

"Apa Hinata dan Naruto pacaran SAKURA-Chan?" Tanya gadis tersebut dengan ketus.

"Kalau iya kenapa Hi-mi-ko-san." Jawab Sakura tak kala ketusnya membuat gadis tersebut menghentakan kedua kakinya kerana kesal.

.

.

"Kita akan kemana Naruto-kun ini bukan seperti jalan pulang ke rumah."

"Memang bukan," Jawab Naruto santai.

"Sudah diam saja, ku yakin pasti akan menyukainya Istriku." Lanjut Naruto sambil terus memacu motor sport dengan cepat.

Hinata menghirup dalam-dalam aroma yang sempat di rindunya kemudian menyembunyikan lagi wajahnya pada punggung tegap Naruto.

"kita sudah sampai, istriku." Naruto menyadarkan Hinata membuat Hinata melepaskan pelukannya pada Naruto.

"Na...Naruto-kun jangan memanggilku dengan sebutan istriku lagi." Hinata mengembungkan pipinya membuat Naruto refleks mencubitnya.

"Au... Naruto-kun." Pekik Hinata membuat Naruto tertawa.

"Un tidak, aku akan tetap memanggilmu istriku. Anggap saja panggilan sayangku padamu." Hinata hanya bisa pasrah dan hanya mengangguk pelan.

Naruto menggandeng tangan tangan Hinata kemudian berjalan beriringan. Di depan sana laut membentang dengan warna birunya. Dengan langit yang sudah mulai senja.

Mereka berdua duduk beralasan pasir pantai yang putih. Tidak memperdulikan akan celana dan rok sekolah yang mereka pakai kotor.

"Ano... Naruto-kun mengajak ku ke sini untuk apa?" Tanya Hinata.

"Aku sudah lama tidak pergi ke pantai."

Naruto menatatp intes Hinata. Pandangan mereka bertemu kemudian Naruto semakin mendekatkan wajahnya.

Hinata diam kemudian memejamkan matanya. Naruto semakin mendekat dan akhirnya bibir mereka bertemu~

Hanya sebentar karena Naruto dengan cepat mengakhiri ciuman mereka.

"Ayo pulang, aku takut di marahi oleh ayahmu." Hinata mengangguk mengiyakan ucapan Naruto dengan wajah yang memanas. Kemudian mereka berjalan menuju motor yang terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk.

Sore mulai berganti dengan malam dan akhirnya mereka sampai di depan kediaman Hyuuga.

"Na...Naruto-kun arigatou untuk hari ini." Hinata membungkukkan badannya kemudian pamit masuk ke dalam rumah.

Saat Hinata baru saja masuk ke dalam rumah Hiashi terlihat duduk di ruang tamu membuat Hinata menegukan ludahnya.

"Tandaima!" Ucap Hinata nyaring membuat Hiashi menoleh.

"Okaeri, habis dari mana saja kau?"

"Ano... Tadi aku baru saja selesai belajar kelompok Tou-san." Bohong Hinata.

"Ya sudah, cepat masuk kamar." ucap Hiashi membuat Hinata bisa bernapas lega, ya walau ia membohongi Tou-sannya.

.

.

.

TBC

.

A/N : akhirnya jadi juga,, nie fic udah melenceng dari ide aku tapi gpp, dan gomen klw alur ceritax makin cepet dAn gajebo.

- shinobi hunter 003 : aduh aku lupa, nie sapa ya :v

- Gray Areader : ya lihat aja ntar apa btul" tu Sakura yang ngasih Hinata music box tersebut apa gk.

- JihanFitrina-chan : Naruto itu pacar saya xD

- Mushi kara-chan : wah arigatou mushi-nee. Yah walau ide ceritax udah melenceng dari chap awal yang cmn oneshot xD

- hqhqhq : ya :D

- Hiruka : iya, kata trakhir ya di chap awal Naruto lupa ngambil brangx dari Hinata. *kalung*

Arigatou untuk yang sudah review akhir kata berkenankan kalian meReview lagi...lagi dan lagi ?

^.^

Utsukushi jaa~