Chapter 2
Main Cast : Cho Kyuhyun (16 th)
Lee Junghee (44)
Kim Kibum (16 th)
and others.
Genre: Frienship, Brothership, Family, Hurt.
Rating: T (?)
Disclamer: all casts belong to God, and themselves.
Warning:typo(s), dont copy without full credits and permission.
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
Kyuhyun masih berkutat dengan urusan yang sama. Urusan di pagi harinya dengan kegiatan rutin yang sangat menyebalkan untuknya . Hal sederhana yang selalu ia lakukan sebenarnya! Namun, jika namja jangkung ini yang melakukan urusannya sendiri, sepertinya akan membuang banyak waktu. Bukan hal yang sulit memang, hanya memakai sepatu bertali di pagi hari. Tapi sayangnya, sejak di taman kanak-kanak kegiatan ini selalu menjadi urusan ayahnya. Tuan Cho akan melakukannya ketika kyuhyun makan atau membaca buku di pagi hari. Ia tak meminta, tapi tuan Cho selalu melakukan dengan keinginannya sendiri. Ini adalah hadiah untuk putra kesayangannya sebelum berangkat sekolah katanya. Dan ia sangat senang melakukannya. Bahkan tak pernah membiarkan Kyuhyun melakukan kegiatan mudah ini sendiri.
"bagian ini selalu menjadi yang tersulit" kerutan kecil di dahinya semakin bertambah saat jari-jari kurusnya mencoba mengaitkan dua helai tali yang tidak terlalu panjang itu untuk membuat sebuah simpul yang sederhana. Simpul yang ia buat tak pernah sekuat yang ayahnya buat. Ia akan terjatuh karena menginjak tali sepatunya sendiri dan berakhir dengan membiarkan memar biru membekas di lututnya.
Kyuhyun menyesal sekarang. Seharusnya ia belajar dari ayahnya tentang cara mengikat tali sepatu sekuat yang biasa ayahnya lakukan untuknya. Jika ia memperhatikan ayahnya dengan baik, pasti ia takkan menggerutu seperti sekarang.
"ibu rasa ini akan selalu menjadi yang tersulit untukmu" Kyuhyun tersipu, kepalanya menunduk dan tersenyum malu. Pandangannya terarah pada jari- jari ibunya yang telah mengambil alih urusan awalnya yang menyebalkan – mengikat tali sepatu. Ia tersenyum melihat ibunya melakukan hal itu dengan tulus.
"kau harus memperhatikan tangan ibu ketika ibu melakukannya Cho Kyuhyun! Bukan malah melihat ibu seperti itu" dan lagi-lagi Kyuhyun hanya terkekeh mendengar teguran ibunya, membuat wanita paruh baya itu berdecak kesal meski tak mengubah mimik sayang di wajah tuanya yang masih terlihat anggun.
"aku tak mau bu.. aku mau ibu melakukannya setiap hari untukku" Junghee terkekeh, ia tak marah dengan penuturan putranya. Kepalanya mengangguk samar, tapi tangan kanannya mengayun pelan di atas permukaan kepala putranya. Menimbulkan bunyi tuk yang pelan karena jitakkan yang ia layangkan. Lagi-lagi hanya untuk teguran semata. Mata tuanya menyipit dan meninggalkan gurat senyum di bibir tipisnya ketika melihat putranya yang mengaduh dan kembali berdecak sebal.
"ambil tas dan jaketmu segera Kyu, kau bisa terlambat sekolah jika tidak segera berangkat" nyonya Cho mengingatkan
"Kau juga nyonya, hati-hati dijalan dan rapatkan jaketmu, udara di luar semakin dingin, aku tidak mau ibuku yang cantik ini sampai sakit" Junghee tersenyum. Tangannya memukul pelan punggung kokoh putranya.
"jangan hanya pintar menasihati ibu.. kau juga harus melakukan hal yang sama!.. arraseo?"ucap Nyonya junghee dengan sedikit berteriak mengingat putra sematawayangnya telah beranjak pergi.
"nde,.. arra.."
"ibu menyayangimu..."
"aku tau bu" teriaknya sambil berlalu.
.
.
.
Remaja dengan onyx sewarna malam itu bergerak gelisah. Kakinya tak bisa menapak tenang, tangannya memegang beberapa lembar kertas yang hampir lusuh. Ia sudah membacanya berkali-kali, bahkan mengafal setiap kata yang tertulis didalamnya. Dan onyx kelamnya, menatap gusar entah pada siapa.
Sejak 4 hari lalu, tepat dihari perjanjiannya. Perjanjian bodohnya dengan seseorang yang telah membuatnya mengambil banyak keputusan spontan yang ternyata ia sesali, bahkan sebelum 24 jam perjanjian yang mereka sepakati.
'aku melakukan hal bodoh dan melupakan logika untuk hal ini. Aku harap usaha bodohku ini juga tidak sia-sia'
.
.
.
'jadi.. sebenarnya tim kami terdaftar dalam turnamen itu?' pria ber jas itu hanya mengangguk. Perangainya yang terlampau tegas dan sedikit angkuh terlihat begitu mengintimidasi.
'aku merasa tim kami tengah dipermainkan'
'memang kalian tengah dipermainkan...' lelaki paruh baya itu masih dengan senyum kakunya. Matanya menelisik onyx kelam dihadapannya. Ia mampu melihat kekecewaan yang begitu besar disana. Tatapannya menajam seiring bola mata karamelnya yang tertuju pda sosok lain di sudut yang berlawanan dengannya.
'kalian tengah dipermainkan oleh pelatih kalian sendiri.. itu bukan salahku! Aku hanya menuruti penawarannya.. ini bukan hal yang buruk untukku.. juga untukmu, tidak ada yang dirugikan disini. Hanya sudut pandang yang akan menyangka dan menerka, bahkan mengatakan bahwa aku kejam karena penawaran ini'
Yang termuda menatap terluka pada lelaki yang lebih muda dari sajangnim di depannya. Lelaki di sebelahnya, ia mengenalnya sebagai seseorang yang begitu ia percaya. Sosok yang begitu dekat dengannya.
'mianhae... aku hanya mengambil langkah terbaik untukmu'.
Kyuhyun tersenyum, ingatannya terus berputar pada kejadian beberapa hari lalu. Ia hanya berpikir, semua masalah rumit yang baru terjadi pada dirinya semata- mata bukan terjadi hanya karena kehendak Tuhan yang begitu menyayangi umatnya hingga menitipkan masalah serumit ini padanya. Tapi karena seseorang yang begitu tega mempermainkan hidupnya.
"Kyuhyun.. kau melamun?" tepukan di bahu menyadarkannya dari lamunan. Kyuhyun tersenyum mendapati sosok yang tengah tersenyum hangat padanya.
"ah.. kau hyung! Kupikir kau masih di Daegu mengurus pekerjaanmu yang lain"
"hanya satu hari kyu. Kebetulan kami menyelesaikan urusan lebih cepat. Jadi.. kenapa kau melamun huh?" yang ditanya hanya menggeleng, dan detik berikutnya memamerkan deretan gigi rapinya pada pemuda lain di hadapannya- Kim Heechul.
Namja Kim itu menatap lembut bocah di depannya sebelum kembali melanjutkan ucapannya. "saat kau meminta untuk izin bekerja karena sakit, aku sadah benar-benar khawatir bodoh! Apa disana terasa sakit lagi heum?" ucapnya sembari menunjuk bagian tubuh Kyuhyun yang terlihat kurang jelas arahnya karena ia menunjuknya dengan cepat. Meskipun begitu, Kyuhyun tau betul bagian mana yang Heechul tanyakan padanya.
Heechul bukan pria bodoh yang akan mendiamkan kondisi seperti ini terus berlangsung. Jika bocah didepannya tak mau menjawab, ia bisa bertanya pada Bibi Junghee bukan? Heechul sudah menganggap wanita itu seperti ibunya sendiri.
"ah.. baiklah bocah, apa kau sudah makan malam?"
"belum hyung.. pelangganmu masih terlalu banyak yang harus aku layani"
"aish.. lagi-lagi kau menunda jam makanmu eoh?" Heechul mendesis, sedikit marah sebenarnya. Tapi memarahi bocah batu seperti Kyuhyun sepertinya percuma.
"asal kau mau menggantikanku, aku akan pergi makan" Heechun mendelik. Apa telinganya tidak salah? Apa yang baru bocah kurang ajar itu katakan padanya? Tak sadarkah bocah nakal itu bahwa ia tengah berbicara pada bosnya.
"Yak...! bocah setan!"
.
.
.
FLASHBACK
'ah, jadi kau perwakilan dari Seoul High School? Bukankah pendaftarannya telah ditutup? Dan sekolahmu tak terdaftar di jadwal pertandingan yang akan di publish minggu ini'
'bukankah hanya daftarnya yang baru tersebar sajangnim? Masih ada waktu minggu ini untuk menerima tim kami'
'apa keunggulan timmu yang bisa membuatku untuk menerimanya?'
'sajangnim tau sekolahku selalu masuk dalam babak final 10 tahun terakhir'
'dan tahun lalu kalah di tangan Donghae... kau masih bangga dengan timmu?'
'itu tahun lalu sajangnim, jika kau izinkan tim kami masuk, kami akan buktikan seberapa kuat tim kami'
'hahaha... aku suka dengan bocah keras kepala sepertimu Kyuhyun-sii. Datanglah ke kantor dan buat perjanjian denganku, maka aku akan mengizinkan tim mu bermain di turnamen. Aku akan mengtur semuanya dengan baik'
Kyuhyun sempat menghentikan langkahnya, mengingat percakapannya dengan Sooman Sajangnim beberapa jam yang lalu benar-benar membuatnya gugup sekaligus takut. Percakapan yang membuatnya harus datang ke gedung ini.
Ia kembali melangkahkan kakinya dan bersiap memasuki area dalam gedung saat dirasa tiba-tiba kakinya melemas dan limbung, bahkan tubuhnya hampir terjatuh membentur lantai kalau saja seseorang tak menahannya.
'Gwaenchana Kyuhyun-sii?' untuk sesaat kyuhyun terdiam sebelum akhirnya mendongakkan kepalanya. Melihat sosok yang barusaja menolongnya, sosok dengan suara familiar yang benar-benar ia kenal.
'Jung Seonsaengnim' sedikit ragu dengan penglihatannya, tapi Kyuhyun yakin. Pria muda yang berbeda 10 tahun dengannya adalah Jung Jaehwa- guru olahraga sekaligus pelatih club sepakbolanya.
'Gwaenchana?' Pria 26 tahun itu terlihat khawatir dengan anak asukhnya yang sesekali terlihat merintih dengan lengan kanannya yang juga sesekali memijat lututnya.
'kakimu sakit?'
'hanya sedikit lemas saem' ucapnya sembari mencoba berdiri. Namun usahanya dicegah Jaehwan karena sedetik kemudian Jaehwan justru membantunya berdiri dan memapahnya menuju salahsatu sofa terdekat dengan lobi. Jari-jari kuatnya ia gunakan untuk memijit lutut kyuhyun yang terlihat bergetar meski terbalut celana panjang. Jaehwan meringis saat beberapa kali terdengar rintihan kecil dari bibir siswa kesayangannya.
'ini bukan pertamakalinya saem melihatmu seperti ini! Apa kau sering terjatuh tanpa sebab? Atau lututmu sering melemas tiba-tiba?' meski hanya mengangguk samar sebagai jawaban, Jaehwa mampu melihatnya dengan jelas.
Pria 26 tahun itu masih dengan posisinya yang setengah duduk di lantai dan memijat lutut kyuhyun, meski bocah keras kelapa itu menolaknya dengan keras berkali-kali. Ia pikir pasti ini merepotkan untuk Jaehwan. Tapi pria yang 10 tahun lebih tua itu justru sama sekali tak merasa direpotkan.
'kenapa saem datang kemari?'
'Jaehwan-sii?!... ah.. kau juga sudah datang Kyuhyun-sii?'
Kedua pemuda beda usia mengalihkan atensinya pada suara yang barusaja mengintrupsi. Wajah namja 16 tahun itu hanya terlihat sedikit mengeras. Berbeda dengan Jaehwan yang justru terlihat gelisah.
Jaehwan tersenyum masam. Pasalnya, maksud kedatangannya kemari memang untuk menemui dirinya –Kyuhyun, dan Sooman Sajangnim.
FLASHBACK END
Jam menunjukkan pukul 19.25 KST saat latihan rutin selesai dan Jaehwan memintanya untuk bertemu di atap sekolah. Itu berarti tepat 25 menit yang lalu, saat keduanya kembali bertemu di atap gedung utama sekolahnya. Keduanya duduk pada pembatas gedung dengan angin musim gugur yang menerpa. Dengan bahasan yang sama seperti pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. Dengan pria yang lebih dewasa yang masih membujuknya dengan niat awalnya. Dan pria muda yang masih terus bertanya, kenapa harus dia yang Jaehwan pilih? Kenapa bukan Lee Donghae si mantan kapten yang hebat menangkap umpan dan melakukan eksekusi di gawang lawan, atau Choi siwon yang terlihat begiru sempurna ketita di lapangan? Atau Kim Kibum? Sahabatnya itu juga memiliki bakat yang luarbiasa bukan?.
Bukankah memilihnya seperti ini justru akan membuatnya semakin rumit. Terutama tentang urusannya dengan Kim Kibum yang bahkan sudah diketahui oleh Jaehwan sendiri sejak awal.
"seribu kalipun saem meminta, aku akan tetap berada di tim"
Jaehwan terkekeh. Bocah disebelahnya ini memang benar-benar keras kepala. Pria lajang itu tersenyum, tangannya terangkat untuk mengacak rambut hitam Kyuhyun.
"sepertinya kau lupa dengan perjanjian yang sajangnim berikan" Kyuhyun mengeryitkan dahinya, tanda ia benar-benar lupa atau bahkan tak mendengarkan perjanjian itu dengan baik.
"sajangnim memintamu untuk bergabung dengan tim seoul untuk pertandingan yang lebih besar. Pertandingan 6 bulan yang akan datang. Beliau memilihmu bukan tanpa alasan kyu, tolong dipertimbangkan lagi. Saem melakukan ini juga karena saem yang paling mengerti potensimu di tim"
Jaehwan tersenyum lembut. Pandangannya beralih menatap langit malam yang sama sekali tak menarik. "berikan posisimu pada Kibum seperti keinginannya" bocah 16 tahun itu sekilas menatap Jaehwan dengan tatapan yang sulit diartikan. Tapi tak sedikitpun Jaehwan memiliki niat untuk mempedulikan tatapan bocah disampingnya. Ia hanya ingin emastikan Kyuhyun mempercayainya dan sajangnim.
"kibum punya potensi yang sama denganmu"
"kenapa tidak kibum saja yang saem sarankan untuk sajangnim"
Jaehwan terkekeh dan menggelengkan kepalanya samar, "aku tak mungkin menyarankan pemain dengan kemampuan yang baik tapi emosi yang sulit dikontrol seperti kibum. Sebelum menyarankan pemain pada Sajangnim, tentu banyak pertimbangan untuk dilakukan Kyu! Dari sekian nama yang memiliki potensi besar, saem hanya melihatmu dengan potensi tanpa celah"
"Kenapa tidak Donghae hyung saja?"
"Donghae pernah gagal membawa tim merebut juara tahun lalu, ia hampir setipe dengan kibum. Dan asal kau tahu Kyu. Sebenarnya sebelum saem menyerahkan namamu pada sajangnin, ia terlebih dahulu menulis namamu pada list pemain yang memang akan ia pilih untuk memperkuat tim seoul. Sajangnim telah memilihmu sajak awal"
Kyuhyun menggelengkan kepalanya, menurutnya ini sama sekali tak masuk akal. Lee Sooman bukan Menteri Olahraga Korea Selatan. Beliau memang pemegang saham terbesar dan pemenang tender tahun lalu untuk pengelolaan Gedung Olahraga di Seoul. Meskipun Lee Sooman merupakan Menteri olahraga terdahulu. Bukankah haknya sudah habis untuk mengurus semua kegiatan yang berkaitan dengan olahraga. Apalagi seharusnya hal semacam ini benar-benar dipegang oleh pemerintahan. Atau mungkin aturan sudah tak berlaku sesuai hukum? Atau memang pemerintah yang memang memiliki ikatan dengan personal untuk masalah tertentu. Seperti kasusnya yang sekarang. Lee Sooman, mantan menteri olahraga dan pemegang saham tertinggi masih berhak mengatur dan memegang kekuasaan tertinggi.
"bergabunglah dengan tim mu yang lebih besar. Serahkan semuanya pada Kibum... dan kau akan mendapatkan Kibum kembali sebagai sahabatmu" mata sayu itu terlihat meredup tanpa cahaya mengingat persahabatannya dengan kibum. Kibumnya yang membawanya pada tim, kibumnya yang membawanya menemukan mimpi baru. Dan pada akhirnya justru membuat Kyuhyun merasa telah menjadi perebut untuk mimpi Kibum Sendiri. Meskipun ia sendiri tahu, semua yang telah terjadi bukan keinginannya.
"Mimpimu dan kibum akan terwujud dengan jalan yang berbeda Kyu.. dan besok datanglah untuk pertama kalinya. Saem akan menemanimu disana... Dan jangan khawatirkan apapun! Nama Tim sekolah kita akan muncul besok, bersama dengan pengumuman resmi yang diturunkan" Jaehwan beranjak dan mulai melangkah, membelakangin kyuhyun sebelum benar-benar menjauh.
"saem percaya dengan pilihanmu Cho Kyuhyun..."
.
.
.
Suasana lapangan sepak bola outdoor di Seoul High School mulai ramai, jam pulang sekolah sudah berlalu sekitar 45 menit yang lalu. Teriakkan demi teriakan dari siswi-siswi mulai terdengar dari berbagai sudut tribun. Memang tidak penuh dengan penonton, tetapi mereka menonton latihan dengan menyebar di derbagai titik tribun. Mereka-siswi dan siswa Seoul High School memang sering menonton latihan club Sepak Bola sekolah mereka. Dibanding dengan club olah raga lain. Sepak bola memang menjadi andalan untuk sekolah. Disusul basket dan tekwondo.
Para anggota club sedang memulai pemanasan dibarengi dengan candaan.
"pengumuman resmi sudah keluar.. aku senang dengan hasilnya" Donghae mengangguk, benar apa yang dikatakan Hyungjae. Pengumuman resmi ini benar-benar melegakan. Ia yakin timnya mampu memasuki babak final kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. Tetapi tahun ini dengan tekad dan semangat yang berbeda, ia yakin tim sepak bola sekolahnya mampu merebut kembali kemenangan yang sempat tercuri.
"Kyuhyun melakukannya dengan baik.. dia pasti berusaha dengan keras"
"atau mungkin tidak Siwon-ah... dia bahkan tidak datang lagi untuk latihan" Yunho mengangguk meng-iyakan perkataan Donghae.
" mungkin ini juga bukan usahanya.. mungkin Jaehwan seonsaengnim yang mengusahakan tim kita untuk masuk.. ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri" beberapa pemain terlihat mengangguk samar, sisanya terlihat tak terlalu setuju dengan anggapan Kibum termasuk menatap tak suka pada Kibum. Setau Siwon, Kibum adalah orang yang paling dekat dengan kyuhyun. Sampai persiapan pendaftaran tim untuk turnamen sepak bola satu bulan yang lalu. Keduanya masih terlihat begitu dekat.
"hey.. sudahlah.. aku yakin bocah itu sudah berusaha, mungkin dia sedang bekerja paruh waktu. Aku pernah melihatnya menjaga kasir di minimarket dekat halte sekolah" siwon tersenyum puas mendengar Junsu yang menjadi pihak penengah, meskipun sebagian temannya memilih tak merespon.
"hey.. kalian sudah melakukan pemanasan?"
"a..ah Saem akhirnya kau datang"
Jaehwan tersenyum sekilas, melihat ekspresi anak asuhannya sore ini membuat Jaehwan merasa lega. Bocah keras kepala itu sudah menentukan pilihannya.
"ah... saem merasa lega melihat kalian bisa bersemangat lagi seperti ini"
"tertu saja saem.. kali ini kita akan membalas kekalahan tahun lalu" Jaehwan kembali tersenyum menjawabi celotehan beberapa anak asuhnya.
"tentu saja.. dan kalian harus berjuang dengan keras untuk itu. Jangan kecewakan siapapun untuk turnamen kali ini.. kalian mau berjanji?"
"Ye Seonsaengnim.. kami berjanji" jawaban serentak yang penuh dengan keyakin itu juga membuat jaehwan kembali mengukir senyumnya diwajahnya rupawannya.
"dan kau Kim Kibum...Tanggung jawab tim saem serahkan padamu, pegang tanggung jawabmu danberlatihlah dengan keras. Saem percaya kau bisa melakukan yang terbaik untuk tim" Jaehwan menyerahkan handband kapten kepada kibum, membuat seluruh anak asuhnya menatapnya dengan penuh tanya. 'dimana Cho Kyuhyun?'
"ingat kibum.. saem memilihmu karena saem percaya padamu.. dan untuk yang lain.. berlatihlah dengan sungguh-sungguh. Hari ini kalian boleh melakukan pertandingan kecil atau apapun. Saem harus pergi menemui seseorang"
"ah... saem, Cho Kyuhyun?"
Jaehwan tersenyum mendengar pertanyaan Siwon yang terdengar begitu peduli dengan Kyuhyun.
"Gwaenchana.. Kyuhyun sudah memilih... ini adalah pilihannya yang paling tepat.. jangan khawatirkan apapun, arra?" Siwon tersenyum pahit, mana mungkin ia tak memikirkan adik kelasnya yang begitu hebat. Baginya, Kyuhyun adalah pemain yang hebat dalam melakukan apapun di Tim. Kyuhyun adalah ketua tim sekaligus ketua Club yang bisa diandalkan. Dan sekarang, yang ia takutkan adalah bocah itu, apakah ia memilih berhenti dari club? Hey! Yang benar saja. Semua pertanyaan muncul begitu saja. Bukan hanya Siwon, tapi semua pemain termasuk Kibum.
"Saem tunggu" bocah yang sekarang menyandang gelar menjadi kapten tim itu terlihat berlari mengejar Jaehwan yang telah menghilang dari area lapangan. Tangannya menggenggam erat handband seolah seperti meremasnya dengan rau yang sulit diartikan. Bagi kibum ini bukan sebuah prestasi. Kyuhyun mendapatkannya setelah mereka bertandi untuk merebutkan handband yang sekarang berada ditangannya. Dan apa ini? Sekarang bahkan ia mendapatkannya dengan Cuma-cuma. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh gurunya, hanya itu yang kibum pikirkan. Dan ia harus mendapatkan jawabannya langsung, ntah dari Jaehwan seonsaengnim atau dari Kyuhyun.
.
.
.
Di waktu yang sama dengan tempat yang berbeda. Lapangan sepak bola ini terlihat lebih ramai dari lapangan manapun. Lapangan kebanggaan para atlet korea remaja dengan seragam sepakbolanya tengah melakukan beberapa pemanasan. Hari ini akan ada permainan kecil untuk menguji calon pemain baru yang langsung dipilih oleh sooman sajangnim. Pertandingan yang akan menjawab pertanyaan dari puluhan pemain lain yang penasaran dengan bakat bocah itu.
Biasanya untuk pemain profesional yang akan ditandingkan atau di latid di club besar, apalagi membawan nama kota besar atau bahkan negara, calon pemain yang diambil adalah mereka yang pernah dilatih oleh sekolah profesional khusus untuk mereka yang menekuni sepak bola. Tapi kali ini, pemain di ambil dari sekolah non keolahragaan. Seoul High School memang sekolah terpandang dari berbagai jenis bidang. Tapi untuk masuk club profesional? Apa sajangnim tak salah memilih orang?.
"Semuanya cepat berkumpul ke tengah! Kita akan melakukan pertandingan" teriak Taejun, pelatih mereka dengan lantang. Diikuti derap langkah lebar seluruh anak asuhnya menuju ketengah lapangan.
"Kyuhyun-sii.. "
"yak.. Kyuhyun-si... larimu cepat sekali" Kyuhyun menoleh kearah samping, melihat namja berbadan tinggi disebelahnya. Tak jauh berbeda dengan tinggi badannya memang, tetapi bocah tinggi itu terlihat begitu menonjol dikerumunan.
"wae?... bukankah kakimu lebih panjang?" sementara Shim Changmin. Bocah kelewat tinggi itu menggerutu kesal. Selalu seperti ini. Kakinya memang panjang, tapi bukan berarti ia harus pandai berlari kan?.
"cha.. kau hanya perlu mengayuh kakimu lebih cepat.. seperti ini tiang" seru kyuhyun sembari berlari dengan cepat menuju ke tengah lapangan, meninggalkan Changmin yang terlihat sedikit menganga
"tadi dia memanggilku apa? Ya Tuhan..."
.
.
.
PRIIIIIIT
Pluit panjang penanda pertandingan dimulai telah ditiup oleh Song Taejun. 22 pemain sepak bola dilapangan. Taejun sudah membagi 2 tim sesuai kemapuan, termasuk bocah baru yang paling ia tunggu penampilannya. Ia hanya berharap bocah itu tidak mengecewakan dan sesuai dengan penilaian sajangnim, meski sebenarnya ia tak pernah meragukan pilihan petinggi itu.
Sementara diujung tribun. Pria paruhbanya itu tersenyum. Pilihan yang tepat, tak mengecewakan itu menguasai pertandingan dengan begitu baik, dan yang terpenting, bocah itu terlihat begitu cepat membaur dengan bocah lain.
Dreeeeeet
Getaran disaku celananya membuat pria paruhbaya itu tersenyum, tangannya beralih mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan dari orang yang begitu ia kenal.
'ah... Jinwoo-ya!'
'...'
pria paruhbaya itu tersenyum hangat mendengar jawaban seseorang diseberang. Namun binaran hangat itu berubah menjadi sendu sebelum ia menjawab pertanyaan pria dsri seberang sana.
'jangan khawatir, putramu bermain dengan begitu baik! Dia sangat berbakat seperti kakeknya, percayalah padaku"
'...'
'ye... temui ia secepatnya dan katakan yang sejujurnya ia secara langsung Jinwoo-ya. Putramu sudah tumbuh menjadi bocah cerdas yang keras kepala, persis sepertimu'
'...'
'ye... annyeong'
.
.
.
Junghee melangkahkan kakinya memasuki kedai ayam didepannya. Akhir-akhir ini ia memang harus pulang larut karena pekerjaannya yang cukup banyak di sekolah. Menjadi guru di sekolah luar biasa memerlukan tenga yang ekstra menurutnya. Tapi semua itu tak masalah untuknya. Siswa-siswanya adalah penyemangatnya ketika ia bekerja. Dan lagi, putra sematawayangnya adalah alasannya untuk tetap bertahan disituasi apapun.
"bibi.. aku pesan dua porsi ayam dan 2 gingseng panas, semuanya dibungkus"
"tentu saja Junghee-ya, duduklah dulu, aku akan membuatkannya sendiri untukmu"
"ah ye... terimakasih bi" Junghee mendudukan tubuhnya pada meja paling dekat dengan kasir untuk memudahkan mengambil pesanannya.
"Junghee-ya..."
"oh... Marin-ah..." wanita paruhbaya itu tersenyum mendapati tetangganya berada tak jauh dari tempat duduknya.
"kau pulang malam lagi?"
"ini karena pekerjaan yang terlalu menumpuk"
"akhir-akhir ini sepertinya kau sering pulang malam? Ah... putramupun sama.. Kyuhyun juga sudah mulai meniru ibunya rupanya"
Junghee menatap wanita paruhbaya didepannya, tatapannya terluka. Terlebih saat Marin menyebut putranya dengan perasangka yang begitu buruk menurutnya.
"katakan apapun semaumu. Kau bahkan tak sedikitpun merasakan kehidupan yang kujalani! Jangan pernah menambah beban lagi untukku"
"cih... wanita jalang sepertimu masih bisa berkata seperti itu huh?" kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Bahkan Jung Marin telah berdiri dan menunjuk pada Junghee dengan tidak sopannya. Keadaan kedai memang sudah sepi. Hanya ada mereka dan dua pegawai serta bibi pemilik kedai.
Sementara Junghee hanya diam. Bukan berarti ia takut, ia hanya enggan menanggapi Marin hanya menyulut emosinya saja. Belum lagi tetangganya itu memang senang sekali menggangu kehidupannya beserta anak tunggalnya.
"berpikirla sedikit rasional bibi... kau juga orangtua tunggal untuk putramu, sama seperti ibuku. Seandainya bibi tau apa yang ibuku lakukan untukku, mungkin bibi tak akan menganggapnya wanita yang rendah dimata bibi"
"Kyuhyun..." Junghee menggumam melihat putranya memasuki kedai yang memang biasa ia kunjungi bersama kyuhyun ketika ia pulang mengajar dan kyuhyun pulang dari sekolah.
"kau hanya bocah yang belum tau apapun... kau akan malu juka tau pekerjaan ibumu yang sesungguhnya"
"aku harus malu dengan pekerjaan ibu yang seperti apa? Ibuku tak pernah melakukan apapun yang membuatku malu"
"karena kau sama memalukannya seperti ibumu"
"yak! Marin-sii" Junghee terperanjat mendengar putranya menghardik Marin dengan keras. Bahkan bocah 16 tahun itu melupakan sapaan hormat untuk Marin yang usianya sama dengan Ibunya sendiri.
"Kyuhyun-ah..."
"Yak! Lihatlah Junghee... putramu benar-benar kurang ajar.. persis sepertimu.. dasar jalang" teriak marin sembari beranjak dan mulai berjalan meninggalkan kedai.
"Jaga mulutmu Marin-sii. Ibuku adalah wanita hebat! Bukan wanita yang hanya bisa berkata bodoh sepertimu" teriak Kyuhyun meski Marin telah meninggalkan kedai. Tapi ia yakin, bibi bodoh itu masih mendengar ucapannya.
PLAKKKK
"Bu..." pipi bocah 16 tahun itu memerah akibat tampatan ibunya yang terlalu keras.
"Jaga ucapanmu karena ibu tak pernah mengajarimu menjadi kurang ajar seperti itu Cho Kyuhyun"
"Bu..."
"ibu tak pernah mengajarimu berbuat kasar Kyuhyun"
"tapi bibi Marin menghinamu bu"
"berhenti membela diri Cho Kyuhyun" Kyuhyun menunduk. Ibunya benar-benar marah sekarang. Sesekali ia hanya melihat ibunya yang tengah membayar pesaannya dan beranjak pergi dari kedai. Dan ia harus mengikuti ibunya. Ia harus meyakinkan ibunya bahwa apa yang ia lakukan adalah yang paling benar.
Bocah keras kepala itu masih mengikuti Junghee yang menurutnya berjalan begitu cepat. Ayolah? hari ini benar-benar melelahkan untuknya. Sebenarnya yang ingin ia lakukan secepatnya adalah membaringkan tubuhnya yang begitu lelah. Belum lagi kedua kakinya yanng muali berontak ingin diistirahatkan.
"bu.. jangan pernah hanya diam jika bibi Marin kembali berkata kasar pada ibu" Junghee menghentikan langkahnya mendengan penuturan putranya. Ia sudah lelah dan Kyuhyun masih membahas hal itu.
"dan kau Kyu.. berhentilah mencampuri urusan ibu dan orang lain. Kau hanya bocah yang belum mengetahui banyak tentang kehidupan"
"apa yang tidak aku tau bu? Aku hidup denganmu dan menemaniu disemua situasi? Apa yang tidak aku tau bu?" suara bocah itu bergerat membuat airmata Junghee yang memang sudah mengalir menjadi semakin deras.
Wanita paruhbaya itu membalikkan badannya. Mengambil posisi untuk memunggungi sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. Kali ini Ia benar-benar rapuh melihat Kyuhyun yang mencoba menjadi kuat diusianya yang masih begitu muda.
"jangan pernah menyimpulkan apapun sendiri bu, aku terluka jika ibu seperti ini" Junghee ,erasa hangat saat kedua lengan kyuhyun melingkat diantara leher ibunya. Memeluk wanita paruhbaya itu dari belakang.
Bocah nakal itu menyembulkan kepalanya disalah satu bahu ibunya. Bersandar disana dengan dengan Junghee yang hanya terdiam ketika putranya memeluknya. Membawa kedua telapaktanyanya pada genggaman putranya. Membuatkan posisi itu untuk sementara waktu. Toh ini bukan jalanan umum yang besar. Ini hanya gang kecil dekat dengan rumah mereka. Keduanya masih dengan perasaan masing masing hingga sesuati menarik perhatian Junghee- ibunya.
Tes...
Titik titik merah kehitaman jatuh tepat di punggung tangannya yang masih digenggam putranya, 'darah'.
"Kyuhyun-ah, gwaencaha?"
Junghee sungguh terkejut lagi-lagi mendapati putranya mimisan. Memang bukan hal yang bari bagi junghee mendapati putranya dalam keadaan seperti ini. Tapi kali ini yang ia rasakan adalah khawatir. Terlebih karena genggama tangan putranya pada lengannya yang terasa semakin kencang, diiringi rintihan kecil dari bibir putranya.
"sakit bu..."
.
.
.
TBC
Akhirnya bisa Publish juga setelah sekian lama...
Maaf untuk keterlambatan yang benar-benar lambat. Terimakasih untuk Review Chapt 1.
Terimakasih juga untuk Doanya. Unnya lancar dan sekarang udah buakan anak SMP lagi.. hehe
Tapi karena SMA Diya yang memang menerapkan sistem boarding school.. jadi ngga bisa yang rutin harus ngetik ff dan publish secepatnya. Ini juga nyolong- nyolong... hehe
Terimakasih untuk semua reviewnya..
Maaf untuk penulisan dan gaya bahasa yang amburadul...
Dan untuk panggilan kyuhyun ke ibunya yang semula di CH 1 itu emma... di sini dan di Ch Ch berikutnya diya ganti menjadi ibu... atau mungkin ada yang lebih suka dengan eomma?
Dan no edit untuk ch 2 karena buru buru...
Gomawo semuanya 3...
Thanks To:
Atik1125, Atikahsparkyu,Captain Potato,citra546,Desviana407,FlowerKyuu,Heang653,Kliieff19,Kuroi Iina,Rina271, Shin Ririn1013,Tiktiktik,diahretno,hulanchan,Kyuniya,ladyelf11,meimeimayra,nurulhiqmah1,okaocha,readlight,siskasparkyu0,tirah25,uixalmt,Cuttiekyu94,Nikmah444,auliaMRQ,dhiiniequeen, princess435,rahma94, hwang635, park Rinhyun-uchiha. Dll
Maaf tidak disebutkan semuanya
Balasan Review Chapt 1:
Ladyelf11: haha... kyu kenapa ya? Jawabannya ada di chap" selanjutnya... terimakasih sudah berkunjung
Ezza: makasih Za... chapt 2 nya udah up juga.. semoga suka
Ekha sparkyu: yg kemarin ch 1.. ini ch 2 nya... hehe... kyukyu sakit? Mungkin.. sakit apa ya? Daya ingat? untuk masalh parah apa ngganya bisa diikuti di ch ch berikutnya.. gomawo..
Dewi leitte: menurut dewi gimana? Sulit ngga?.. gomawo untuk reviewnya..
Shin Ririn1013: tinggal perjuangannya kedepan.. hehehe.. kyu kenapa ya?
Readlight: makasih... maaf kelamaan... chapt selanjutnya mudah"an bisa kurang dr 1 bulan...
Yolyol: haha... kalau suka kyu disiksa berarti harus baca ch ch berikutnya _maksa.. hehe
Erka: hehe.. mian ngga bisa cepet updatenya... lain kali diusahakan.. gomawo
Iffahnur: yeey... udah lanjut ch 2nya.. fighting
Diahretno: gomawo... untuk berapa ch nya diya belum bisa pastikan... jadi tunggu ch ch berikutnya ya... gomawo
Cuttiekyu94: udah ada alasannya.. hehe... gomawo untuk reviewnya...
Uixalmt:hahaha... sebenernya judul awalnya itu for life... kebawa sama lagunya exo gara gara yaka-adeku yang sering dengarin lagu itu. Dan lagu Stars appear ngingetin sama perjuangan ahjussi" gagal tua...
Angel sparkyu: okay.. gomawo ... kyu sakit.. tapi nda tau sakit apa.. ahaha
Atik1125: alasan" lain ditunggu di ch ch berikutnya.. gomawo... fighting
Aerw: ch 2 siap baca..
Dhiiniqueen: hua.. jangan lupa please.. dan ini lbh lama dr ch 1 nya... mianhae
auliaMRQ: hahaha... sedih nulisnya.. gomawo
Park RinHyun-Uchiha: Banyak yang bakal kyu korbankan..hehe tunggu ch berikutnya
Sparkyubum: susah tidak ya.. ahahaha... jawabannya di ch berikutnya
Princess435:chap 2 say... ini udh siap
Elsch: gomawo eon... makasih doa, semangat, dan reviewnya... hehe... maaf ch 2 jaraknya lama.. semoga tidak kecewa... mianhae...
Rheina: udah say... gomawo.. tunggu ch berikutnya ya
Qsa: kayanya lbh dr 5 ch... sukses kan Unnya? Hehehe... gomawo
Arietha13: haha... kyukyu kenapa ya... maaf ch 2nya ngaret... gomawo eon
Nizaa13:ch 2 siap... gomawo...
Yuyu: hehe.. gomawo, silahkan membaca ch 2nya
Kiyuh: haha.. mudah-mudahan .. Aamiin... maaf kalau mengecewakan
Meihwa: nde saeng... gomawo...
Michhazz: kenapa kyuyu ... kenapa bumbum? Tunggu terus ch berikutnya. Gomawo sarannya... nda cerewet ko... maaf ch2 bnr" terlambar... gomawo
Mmzzaa: gomawo... ch 2 siap dibaca... tunggu terus ch ch berikutnya...
Kuroi Ilna: semoga... sangat sulit mkn.. gomawo.. tunggu ch ch berikutnya
Hyunhua: persahabatan yg pelik... kyu saki.. sakit apa ya?
Guest:tebak kyu sakit apa? Penyakit menurun kah?.. dan ini udah siap ch 2 nya.. selamat membaca
SparKyuNee13: buat tidak ya.. ahahaha... gomawo... jangan lupa tunggu ch ch berikutnya.. fighting!
Chiffa Kyukazza: nde...konflik muncul sesuai mood diya.. ahahaha.. soalnya dia publisnya pake ngetik cerita dulu.. jadi ceritanya dadakan.. hehe
Guest: gomawo... tunggu ch ch berikutnya ya..
Nope: salam kenal... selamat membaca ch 2...
Selamat membaca...
Maaf untuk keterlambatannya
#BOW
Udiyamma C.M
21/09/17
23:43
