Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Minggu, 6 November 2016
.
.
.
DISTANCE
By Hikasya
.
.
.
Chapter 3. Ingin berteman
.
.
.
"A-Aduduh... Perutku...," dia mendelik ke arah Koneko."HEI, APA YANG KAU LAKUKAN!? KENAPA KAU MENINJU PERUTKU SIH!?"
Koneko bertampang garang.
"Itu karena kamu sudah memegang lenganku, tahu!"
"Ah?"
Naruto sadar dan secara refleks mundur sedikit dari Koneko. Dia berwajah sangat syok.
'Benar juga yang dikatakan Issei. Kalau Koneko itu tipe tsundere. Dia akan menghajar laki-laki yang menyentuhnya sedikitpun. Itu... Sudah terbukti sekarang...'
Setelah itu, Koneko berbalik dan mengangkat motornya yang terjatuh tadi. Dia menyeret motornya lagi dan berjalan dengan cepat. Meninggalkan Naruto yang terbengong-bengong melihatnya.
"HEI, TOUJOU-SAN! TUNGGU!"
"JANGAN IKUTI AKU!"
Koneko membentaknya dengan suara yang amat keras. Naruto pun terpaku menyaksikan kepergiannya.
"Dia memang gadis yang tsundere...," Naruto menghelakan napasnya."Ya, sudahlah, sebaiknya aku pulang saja."
Dengan hati yang sedikit kecewa bercampur kesal karena orang yang mau ditolong, malah berbuat kasar padanya. Padahal dia berniat baik dan ingin mencoba berteman dengan Koneko. Tapi, akhirnya mendapatkan rasa sakit yang nyeri di perutnya.
Sambil memakai helm di kepalanya, Naruto naik ke atas motornya. Dihidupkannya motornya hingga menghasilkan bunyi menderu yang sangat keras.
BRUUUM!
Motor yang dibawa oleh Naruto, melaju kencang meninggalkan Koneko. Koneko yang masih berjalan, menyempatkan dirinya untuk menyaksikan kepergian Naruto.
"..."
Dia hanya terdiam dan berhenti berjalan sebentar. Lalu menghelakan napasnya sembari melanjutkan perjalanannya lagi.
.
.
.
Sesampainya di rumah orang tuanya, Naruto membawakan banyak barang belanjaan pesanan sang ibu. Ibunya yang bernama Uzumaki Kushina, seorang wanita berambut merah panjang dan bermata biru, menyambutnya dengan senang saat dia masuk ke dalam ruang tamu.
"Aku datang..."
"Selamat datang, Naruto..."
Kushina menyambar cepat barang-barang belanjaan yang dipegang oleh Naruto. Naruto pun kaget dibuatnya.
"Terima kasih karena kamu sudah menuruti perintah Kaasan."
"Ya... Tapi, itu banyak sekali. Sangat merepotkan saat membawanya pakai motor."
"Kenapa tidak memakai mobil sih?"
"Itu lebih merepotkan, Kaasan. Akukan tinggal di apartemen sendirian."
"Siapa suruh kamu tinggal sendirian di apartemen? Lebih baik kamu tinggal di sini. Bisa bantu Kaasan dan Tousan."
"Eh? Aku harus bekerja juga. Aku ini detektif polisi. Lebih enak tinggal sendirian daripada di sini."
"Oh ya? Biar kamu tidak bantu Kaasan dan Tousan membuat mie ramen, begitu?"
"Bu-Bukan begitu... Maksudku... Aku cuma ingin hidup mandiri saja..."
Ibu dan anak berceloteh panjang antara satu sama lainnya. Sang ayah, Uzumaki Minato, seorang pria berambut pirang dan bermata biru, hanya tersenyum kikuk sambil membaca sebuah koran.
"Sudah... Sudah... Jangan berdebat lagi. Kushina, biarkan Naruto beristirahat. Sepertinya Naruto capek..."
Naruto melirik ke arah ayahnya yang duduk di atas sofa panjang. Dia mengangguk dengan wajah yang kelihatan lelah.
"Benar. Aku juga lapar dan haus sekarang, Tousan..."
"Kalau begitu, Kushina buatkan mie ramen dan teh buat Naruto."
"Aku sibuk. Buat sendiri saja ya..."
Kushina menyelonong pergi sambil membawa semua barang belanjaan di kedua tangannya, menuju arah dapur. Ayah dan anak bengong di tempat.
Minato menghelakan napasnya. Naruto menggaruk-garukkan kepalanya sambil berujar.
"Ah, biar aku saja yang buat, Tousan."
"Baiklah...," Minato mengangguk dengan senyuman kecut."Ibumu memang sangat aneh..."
"Hehehe... Kaasan memang begitu sifatnya. Tidak usah dipermasalahkan."
"Iya sih."
"Kalau begitu, aku ke dapur dulu."
Naruto buru-buru berjalan ke arah dapur. Minato memperhatikannya sebentar. Tersenyum lalu kembali membaca koran tentang berita kriminal.
.
.
.
Sekitar jam 10 malam, Naruto pulang kembali ke apartemennya setelah makan malam bersama orang tuanya. Dia memilih tidak menginap, padahal orang tuanya menyuruhnya untuk menginap. Dia beralasan karena ada tugas penting yang diberikan oleh atasannya untuk mengejar pelaku pembunuhan. Orang tuanya memakluminya dan mengizinkannya untuk pulang ke apartemen pribadinya.
Saat ini, dia melintasi jalanan kota yang cukup sepi dan hening. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat di sana. Ditemani sorot cahaya yang didapatkan dari lampu-lampu jalanan, yang tersebar di dua sisi jalanan. Memberikan penglihatan yang jelas bagi mata Naruto untuk fokus melihat ke arah depannya.
Akhir-akhir ini, dia juga mendapatkan kabar tentang perampokan bank yang dilakukan oleh seseorang yang juga berpakaian serba hitam. Seperti penampilan The Black Girl itu. Tapi, pelaku perampokan bank itu beroperasi dengan membawa tas besar di punggungnya. Tasnya juga berwarna hitam. Dia bergerak pada malam hari. Memiliki kemampuan melompat dan berlari dengan cepat. Tidak mudah ditangkap dengan mudah.
Dia juga memakai topeng dan rambutnya tidak kelihatan karena disembunyikan di balik tudung mantel berbulu hitamnya. Memakai sarung tangan yang bisa mengeluarkan cakar-cakar. Cakar-cakar itu bisa dilepaskan dan dilemparkan seperti jarum untuk menusuk lawannya.
Pelaku perampokan bank itu dijuluki sebagai "Dark Phantom."
Entah siapa "Dark Phantom" itu. Entah dia termasuk salah satu dari rekan The Black Girl. Entah mungkin tidak. Namun, yang pasti, pihak kepolisian tengah menyelidiki siapa dia. Dia dijadikan buruan utama yang paling penting di kota Konoha ini. Tentunya ditangani oleh pihak kepolisian bagian unit 2.
Naruto mengetahui kabar perampokan bank terjadi lagi, semalam itu, saat membaca koran yang terbit hari ini di rumah orang tuanya. Sosok "Dark Phantom" tidak dapat tertangkap oleh kamera. Gerakannya sangat gesit seperti kilat. Mampu melarikan diri dalam situasi apapun dan menghilang bagaikan hantu.
Tapi, Naruto tidak menangani kasus perampokan bank tersebut. Dia sedang menangani kasus pembunuhan dan harus mengungkapkan identitas asli The Black Girl itu. Mungkin proses investigasi ini memakan waktu yang cukup lama, pikir Naruto.
Tiba-tiba...
DOOOR! DOOOR! DOOOR!
Terdengarlah bunyi letusan pistol yang sangat nyaring. Berkali-kali. Asalnya cukup dekat dengan jarak perjalanan Naruto.
Naruto menajamkan telinganya dan sekali lagi mendengarkan suara tembakan yang bertubi-tubi.
DOOOR! DOOOR! DOOOR! DOOOR! DOOOR! DOOOR!
Naluri Naruto tertuju pada asal suara tembakan yang semakin mendekat. Persisnya berada di gedung di sebelah kanannya.
Gedung itu bernama "Bank Konoha". Telah terjadi perampokan lagi di sana.
Dari lantai dua gedung Bank Konoha, sosok hitam melompat dari kaca jendela yang sudah pecah berkeping-keping saat sebuah peluru dari pihak keamanan meleset dan menghancurkan kaca jendela tersebut. Menghasilkan bunyi kaca pecah, bersamaan sosok hitam berhasil keluar dari kaca jendela yang sudah pecah.
PRAAAAANG!
Pihak keamanan yang menembaki sosok hitam itu, mengejarnya sampai ke jendela yang pecah. Mereka melihat sosok hitam itu meluncur ke bawah dengan gerakan yang cepat.
"Sial, dia kabur!"
"CEPAT KEJAR DIA!"
"BAIK!"
"ROGER! POLISI PATROLI, KAMI MELAPORKAN DARK PHANTOM BEROPERASI LAGI MALAM INI! DIA SEKARANG BERADA DI DEKAT DAERAH KOTA KONOHA BLOK F. KAMI AKAN SEGERA MENGEJARNYA!"
Salah satu petugas keamanan melaporkan perampokan ini pada pihak kepolisian yang sedang berpatroli melalui talky walky. Dia dan kelompoknya segera menuju keluar gedung untuk mengejar sosok hitam yang terjun itu.
HUP!
Sosok yang berpakaian mantel hitam dan menggendong tas besar di punggungnya, berhasil mendarat mulus di depan Bank Konoha. Dia segera berlari kencang untuk bermaksud menyeberangi jalanan.
Dalam waktu yang sama, Naruto lewat dan sengaja menabrak sosok hitam itu.
DUAAAAK!
Sosok hitam itu sukses dihantam oleh bagian depan motor Naruto. Dia pun terpelanting dan terseret beberapa meter di jalan aspal.
SRAK! SRAK! SRAK!
Naruto menghentikan motornya dengan cepat.
Sosok hitam itu terbaring dalam keadaan miring ke kanan. Dia merasa kesakitan dan bertolak dari jalan aspal dengan cepat. Menyadari Naruto yang turun dari motor dan segera berjalan untuk menghampirinya.
"Ukh..."
Menahan rasa sakit yang ngilu di punggung, tangan dan pinggangnya. Sosok hitam berdiri lemas dan segera melakukan sesuatu.
BETS!
Berbalik, melemparkan sesuatu yang tajam pada Naruto. Sesuatu itu berbentuk meruncing seperti cakar. Jumlahnya ada lima buah.
WHUUUUSH! WHUUUSH! WHUUUSH!
Naruto menyadari lima cakar itu diluncurkan ke arahnya. Dia pun segera menghindar dengan cara melompat ke arah kanannya.
Setelah memanfaatkan kesempatan penyerangan pengalihan perhatian sementara, sosok hitam itu segera berlari cepat menuju ke seberangnya. Masuk ke salah satu gang di antara dua gedung tinggi.
"HEI!"
Naruto segera mengejarnya dan mengeluarkan pistol yang tersembunyi di kantong bagian dalam jaketnya yang dibiarkan terbuka.
Dia berlari dengan kecepatan yang memecahkan rekor, tangan kanannya yang memegang pistol teracungkan ke depan - tepat ke arah sosok hitam yang berlari di gang sempit.
DOOOOR!
Bunyi letusan pistol menggema nyaring di gang sempit itu. Menuju ke arah sosok hitam.
Sosok hitam menengok ke belakang. Dia sangat kaget jika Naruto malah mengejarnya.
DESIIING!
Tembakan Naruto tidak mengenai sasaran. Malah mengenai tiang listrik. Sasaran mampu menghindari tembakannya dengan gerakan cepat bagaikan kilat.
Sekali lagi, Naruto menembaknya.
DOOOOR!
Timah panas diluncurkan dan berharap tembakannya akan mengenai targetnya.
Dengan dua kakinya yang terbalut boots hitam, sosok hitam itu menempel di dinding. Dia pun berlari di dinding bangunan dengan mulus.
Tembakan Naruto meleset lagi dan menghilang entah kemana. Naruto kaget jika sosok hitam itu bisa berlari di dinding bangunan. Entah apa yang terjadi.
"Di-Dia bisa berlari di dinding!? Bagaimana bisa itu terjadi?"
Kedua matanya membulat disertai wajah yang sangat syok. Pandangannya terus diarahkan pada sosok hitam yang terus berjalan ke dinding bangunan paling puncak. Setibanya di sana, sosok hitam itu menghilang dalam sekejap mata.
"...!?"
Benar-benar tidak terduga. Naruto membeku di tempat.
Sosok hitam itu memang pantas dijuluki "Dark Phantom" karena bisa menghilang seperti hantu.
Fenomena apa ini? Apakah ini berhubungan dengan trik sulap atau sihir? Atau ada hubungannya dengan teknologi canggih? Entahlah, tidak ada yang tahu bagaimana mengungkapkan fenomena seseorang yang melakukan hal-hal aneh. Seperti berlari di dinding, tidak ada seseorang pun yang bisa melakukannya. Benar-benar tidak masuk akal.
Tapi, ini kenyataan. Ini fakta. Naruto telah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
Sungguh membingungkan.
Berusaha keluar dari kekagetannya, Naruto menghelakan napas ketegangannya seraya memasukkan pistolnya ke kantong dalam jaketnya. Urusan Dark Phantom bukan di bidang tugasnya, hanya polisi unit 2 yang bisa menangkapnya.
"Haaaah... Benar-benar perampok yang sangat meresahkan warga kota. Belum The Black Girl tertangkap, malah datang penjahat baru, Dark Phantom. Dari ciri-cirinya, hampir menyerupai sosok The Black Girl itu. Apa mungkin dia salah satu rekan dari The Black Girl ya?"
Sang detektif polisi berpikir sejenak sambil berdiri di tengah gang sempit itu. Di antara cahaya yang remang-remang, sesuatu yang bersinar putih menarik perhatian Naruto.
"Hmmm... Apa itu?"
Sesuatu itu tergeletak di dekat dinding bangunan, Naruto mengambilnya.
SET!
Di tangan kanan Naruto, tergenggamlah sebuah kalung liontin berbandul merah. Entah punya siapa. Tapi, jika diperhatikan dengan seksama, ada huruf putih yang samar-samar di tengah bandul merah, huruf yang bertuliskan "GR".
"GR? Singkatan apa itu?"
Naruto terus memperhatikannya dengan seksama. Sampai dia tidak mampu menebaknya secara pasti, dan memutuskan untuk menyimpan kalung itu di kantong jaketnya.
"Nanti sajalah. Lebih baik aku pulang sekarang..."
Langkah yang santai, terayunkan untuk meninggalkan tempat itu. Kesunyian dan keheningan yang menghampiri suasana di gang sempit itu.
.
.
.
Di ruang kelas yang masih sepi, Naruto duduk seorang diri. Padahal hari masih menunjukkan pukul 7 pagi, kuliah akan dimulai sekitar jam 8 pagi, tapi dia sengaja datang ke kampus lebih cepat agar mendapatkan sebuah petunjuk tentang siapa The Black Girl itu.
Dia tidak termenung. Namun, asyik mengirim sms pada rekan setimnya di kepolisian pusat. Nama rekannya adalah Haruno Sakura, yang menanyakan kabarnya yang sedang menyamar menjadi mahasiswa. Dia membalasnya dengan cepat disertai senyuman senang di wajahnya.
Di luar sana, langit sedang mendung. Tampak awan-awan cullo nimbus sudah berkelompok untuk menyelimuti langit biru. Angin mulai bertiup kencang. Sepertinya hujan akan tiba.
GRATAK!
Pintu kelas terbuka dari samping, bunyi pintunya menarik perhatian Naruto untuk melihatnya.
SET!
Muncul seorang gadis berambut putih yang masuk ke dalam kelas. Tubuhnya dibalut dengan baju kaos biru berlengan panjang dan dilapisi dengan rompi hitam. Bawahannya sebuah celana pendek setengah betis yang berwarna senada dengan baju kaosnya. Kedua kakinya dibungkus dengan sepatu boots berwarna hitam. Tas berwarna putih digendong di punggungnya.
Dia menyadari tatapan Naruto yang tertuju padanya. Lantas dia berhenti berjalan di depan kelas karena Naruto duduk persis di depan.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Tanyanya dengan nada yang curiga. Naruto hanya tersenyum.
"Ya, aku kaget saja jika kamu datang lebih cepat dariku, Toujou-san. Oh iya, selamat pagi!"
Koneko memperhatikan Naruto dengan datar. Penampilan Naruto tetap seperti itu. Memakai jaket jingga yang dibiarkan terbuka hingga tampak baju kaos putih di dalamnya. Bawahannya adalah celana jeans hitam. Dilengkapi dengan sepatu sporty hitam dan tas berwarna jingga.
Setelah itu, Koneko memalingkan mukanya dan tidak menjawab ucapan 'selamat pagi' dari Naruto. Lalu memilih duduk agak jauh dari Naruto. Berjarak dua bangku dari Naruto.
Kepala Naruto dihinggapi sweatdrop. Dia bengong sambil membatin.
'Dasar, dia benar-benar gadis yang dingin.'
Tapi, mata Naruto tetap tertuju pada Koneko. Memperhatikan Koneko yang meletakkan tas ke atas meja.
Suara Naruto keluar dan menggema di ruang kelas itu.
"Hei, apa aku boleh berteman denganmu, Toujou-san?"
JIIITS!
Mata Koneko menajam ke arah Naruto. Dia pun menjawab.
"Tidak boleh!"
"Kenapa?"
"Aku tidak suka berteman."
"..."
Naruto terdiam sebentar. Dia memasukkan ponsel yang dipegangnya tadi, ke dalam kantong jaketnya. Kemudian tersenyum.
"Kamu benar-benar gadis yang aneh ya?"
"Aneh? Maksudmu?"
Tatapan Koneko semakin menajam saja. Bahkan berkilat bagaikan petir.
"Ya... Kamu itu orang terunik yang aku temui. Rasanya pasti menyenangkan jika berteman denganmu...," Naruto berkata dengan nada yang sangat lembut."Aku benar-benar ingin menjadi temanmu dan aku tidak berniat jahat padamu. Kamu tidak perlu mencurigaiku ataupun menatapku tajam seperti itu. Aku ini orang baik. Kita pasti akan menjadi teman yang akrab nantinya."
Mendengar perkataan Naruto itu, Koneko terpaku. Dia pun memalingkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang sebenarnya.
"Tidak. Aku tidak mau berteman denganmu. Kamu cari orang lain saja yang bisa berteman denganmu. Jadi, jangan paksa aku dan jangan ganggu aku..."
"Eh? Aku tidak akan memaksamu kok."
"Karena itu, jangan pernah dekat denganku, mengerti?"
"Eh?"
Semakin bingung saja, Naruto mengangkat salah satu alisnya. Bersamaan...
CTAAAAAR!
Terdengarlah bunyi petir yang menyambar keras. Mengagetkan Koneko sehingga Koneko berteriak keras karena ketakutan.
"KYAAAAAA!"
Bertolak dari atas bangkunya, Koneko berdiri. Ia menutup kedua matanya serapat mungkin. Juga menutup dua telinganya dengan dua tangannya. Tubuhnya gemetaran hebat.
Tanpa diduga, dia merasa tangannya ditarik oleh sesuatu.
GREP!
Tubuhnya yang kecil dibelit oleh kedua tangan yang hangat. Dia mendekap pada tubuh seseorang. Merasakan kehangatan yang membuatnya merasa tenang.
"...?"
Koneko terkejut sekali ketika menyadari dirinya berada di pelukan seseorang. Dibukanya matanya dengan cepat dan mendongak untuk menatap wajah yang berada di depan matanya.
"...!" Koneko membulatkan kedua matanya."U-Uzumaki-san...?!"
"Kamu takut petir ya?"
"Ah..."
"Aku akan memelukmu supaya kamu tidak takut lagi dengan petir. Jadi, jangan marah apalagi memukulku. Aku tulus ingin berteman denganmu."
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Sekian dan terima kasih.
Selasa, 8 November 2016
