BAB 3

"Kau tak mendengarku, Hermione."

Gadis itu memutar bola matanya. "Tak ada yang perlu kudengar darimu, Ron. Aku tahu apa yang akan kau katakan, jadi menyianyiakan napasmu." Ia memotong sepotong kalkun di atas piringnya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.

Ron mencibir sembari mengambil paha ayam besar untuk dirinya lalu digigitnya penuh emosi. "Yea- 'tuk apa dyahidupdi duniyani…"

"Jangan buka mulutmu jika sedang mengunyah," tukas Hermione galak.

"Kacrewet kali hriini."

"Ron!" Hermione melempar sebutir anggur padanya.

Tiada yang ingin mendengarkan gerutuan mengenai Draco Malfoy dalam waktu istirahat seperti ini. Saat di mana tiada orang yang menyebut namanya, atau tidak dihadiri olehnya, atau tidak melihat wajahnya, merupakan saat-saat terindah di dunia. Maka lebih baik keindahan itu tidak dibarengi dengan gerutuan mengenainya selama 24/7.

Saat ini Malfoy sedang berada di aula besar dan menjadi pusat perhatian teman-temannya seperti biasa. Malfoy memang mencintai perhatian. Apa-apa yang dikatakannya mampu membuat teman-temannya terbahak-bahak dan pandangan satu aula menuju ke arahnya. Saat itulah sangat sulit untuk tidak menghiraukannya. Nah, siapa yang bisa tidak menghiraukannya jika mereka berisik setiap saat?

Ron mendengus, "Dasar banyak tingkah."

Hermione menghela napas dan melemparkan pandangan galak.

"Keparat itu—"

"Hei."

"—kenapa selalu saja—"

"Ron!"

Hermione berganti menatap Harry di sebelahnya. Pemuda itu sedang tekun mengorek-korek daging kepiting dari cangkangnya dengan garpu.

"Harry, lakukan sesuatu terhadap temanmu ini," tukas Hermione.

"Diam, Hermione. Aku sedang butuh protein."

Gadis itu menggeram.

"Tapi Ron benar," sahut Harry kemudian, "siapa yang tidak ingin melihatnya pergi," sembari menyuap potongan kecil kepiting ke dalam mulutnya. Lalu memandang Ron di hadapannya, "Apabila kau berencana menguliti Malfoy hidup-hidup, memenggal kepala besarnya—"

"Aku ingin mencincang tubuhnya."

"—apapun segala bentuk tindakan pembebasan-dunia-dari-segala-kejahatan-yang-merajalela, aku pasti mendukungmu," kata Harry seraya mengangguk seakan serius dengan segala perkataannya. "Kau tahu di mana menghubungiku jika suatu saat memerlukan bantuan."

Mereka high-five.

"Tampaknya hanya Harry yang mengetahui prioritas hidup."

"Oh, tutup mulut kalian berdua." Hermione memutar bola matanya. "Kasihan para manusia di bumi menggantungkan hidupnya pada dua idiot ini." Lalu menyeruput minuman dari pialanya.

"Tuhan bekerja dengan cara yang misterius."

"Amin," timpal Ron.

Hermione menyerah. Yang bisa dilakukannya kini hanya menghela napas panjang. "Aku sangat berharap bisa stupefy kalian berdua agar dapat makan siang dengan tenang."

Gadis itu mengambil memotong daging kalkun lagi, lalu meneruskannya ke dalam mulut. Ada banyak yang harus dilakukannya setelah ini dibanding meneruskan adu mulut ini sampai kiamat menjelang. Ada kelas sejarah sihir, lalu meneruskan pekerjaan rumah dari Profesor Flitwick: "Jelaskan penyebab pemberontakan penyihir Persia. Uraikan sepanjang tiga perkamen." Ia sudah menyelesaikan empat perkamen—karena tiga saja tentu tidak cukup. Ada beberapa sisi yang tidak bisa dijelaskan dalam satu halaman saja. Pemberontakan penyihir Persia tidak terjadi hanya dalam waktu semalam, bukan?

"Lagipula aku berhak marah," tukas Ron.

Menghela napas. Gadis itu menyerah.

"Dia mengubahku! Apa-apaan?" Ron nyaris berseru.

Weasley muda itu sedang membicarakan kejadian di kelas transfigurasi tadi saat Profesor Mcgonagal menyuruh mereka menransfigurasi suatu benda. Profesor menyuruh mereka mengubah meja menjadi keledai, lalu mengubahnya menjadi meja lagi. Masalahnya mereka harus sekelas dengan Slytherin. Seperti biasa kalau itu terjadi… maka tak ada yang bisa berjalan normal.

"Sayang sekali mantra itu tak menyebabkan kerusakan sel pada otakmu juga," gerutu Hermione.

"Kenapa? Kulitmu masih abu-abu?" tanya Harry menahan tawa.

Ron tidak merespon mereka selain menggeram gusar. "Kenapa orang seperti itu dijejeriti perempuan? Astaga, mereka buta?"

"Sirik tanda tak mampu," sahut Hermione.

"Sirik? Oh, seriously," dengus Ron menaikkan sebelah alisnya. "Hermione, jangan katakan kau salah satu yang menjeriti dirinya."

Gadis itu nyaris menyemburkan jus labu yang baru diminumnya. "Maaf?"

"Kau membelanya."

"Menyampaikan fakta kau iri dirinya dijeriti cewek-cewek tidak membuatku membelanya."

"Oh, please," tukasnya, "bagian mananya aku terdengar iri?"

"Maka diamlah. Kau mengatakannya seakan aku membelanya."

"Ya kan barangkali."

"Well, 'barangkali' yang bodoh sekali. Kau pikir aku sebodoh itu?"

"Hei, aku tidak mengatakan—"

"Ya, Ron. Nada suaramu mengatakannya."

"Aku tidak—"

"Ya."

"Tidak."

"Ya,"—oke, hentikan," sahutnya. "Ini tidak akan mengarah ke mana-mana."

"Jadi kalian sudah selesai bertengkarnya?" tanya Harry memandang mereka berdua.

Hermione dan Ron memandang sahabatnya galak.

"Oke… kuanggap itu sebagai ya."

Hermione mengelap bibirnya dengan serbet lalu mengambil buku dari dalam tasnya dengan kesal. Mungkin gadis itu satu-satunya makhluk di Hogwarts yang mengalihkan pikirannya dengan belajar. Serius, 'belajar'. Karena jika ia tidak dipusingkan dengan mata pelajaran, yang dipikirkannya sejak kemarin pasti hanya satu hal: menyusun upaya percobaan pembunuhan terhadap Draco Malfoy secara bersih dan efektif.

Ia tidak akan memungkiri bahwa dirinya juga ingin sekali menonjok Draco Malfoy untuk kedua kali—sama seperti yang diinginkan Ron dan Harry sepenuh hati. Tapi ia tahu harus ada seseorang di antara mereka bertiga yang masih berpikir dengan waras. Jika ada, orang itu ialah Hermione. Ia selalu bangga bisa menjadi penjaga perdamaian di antara mereka bertiga. Hermione sama sekali tidak ingin mengubah itu semua.

Kini makan siang menjadi lebih kondusif. Hermione mengulang apa yang diajarkan Profresor Binns dalam kelas yang lalu, Ron masih makan—menjadi bukti penting bahwa kejengkelan sampai ke ubun-ubun bisa menaikkan nafsu makan—sementara Harry membaca Daily Prophet. Koran itu secara konstan selalu mengabar kesuraman semenjak tahun ajaran ini dimulai. Penyerangan Pelahap Maut… inferi… Penyerangan Pelahap Maut… inferi… Pelahap Maut… inferi…

"Oke, ada penyerangan lagi di London," Harry menginformasikan tulisan dari koran.

"Lagi?" tanya Ron.

"Yeah, di Knightbridge," jawabnya.

"Tak heran semakin banyak murid yang mengundurkan diri," Hermione menghela napas. "Dua berkas lagi masuk pagi ini di meja Dumbledore."

"Serius?"

"Yeah," sahut Hermione, "aku benar-benar tidak mengerti. Kenapa mereka pergi? Di sini ada Dumbledore. Bahkan Voldemort takut dengan Dumbledore."

"Justru masuk akal, Mione," ujar Harry datar. "Penyerangan-penyerangan pertama terjadi di sini. Kau lupa tentang Quirell di tahun pertama? Ular keparat itu di tahun kedua? 'Buronan' Azkaban di tahun setelahnya? Kematian Cedric dan lain-lainnya? Jika ada kontes hidup-dari-nyaris-mati, aku pasti sudah pemegang rekornya," ujarnya miris. "Kau tahu beberapa orangtua menyeret anak-anak mereka menjauhiku ketika di Diagon Alley kemarin?"

"Menjauhimu?"

"Mereka berpikir aku pembawa sial."

Ron tertawa. "Kenapa? Hanya karena semua itu dimulai semenjak kau bersekolah di sini?"

"Kau bukan pembawa sial, Harry," tukas Hermione.

Harry mendengus. "Mari konferensi pers biar mereka tahu."

Tapi Hermione menyadari Harry benar. Semuanya terjadi di Hogwarts. Ia beruntung memiliki orangtua yang tidak begitu mengenal dunia sihir, sehingga mereka tidak terlalu khawatir seperti orangtua lainnya.

Orangtua Patil bersaudara bahkan mengirim berbagai benda aneh setiap minggu sebagai 'perlindungan'. Itu bukannya menenangkan karena benda-benda itu malah menjengkelkan rekan-rekan sekamar lainnya. Kadang ia harus terbangun pada tengah malam karena alarm pencegah bencana milik Parvati meraung keras ketika burung hantu milik mereka mengetuk-ketuk jendela. Akhirnya baru kemarin mereka berhasil tidur dengan tenang setelah mengancam untuk melaporkannya ke Profesor McGonagall.

Itulah yang sering terjadi sejak pesta awal tahun ajaran. Gambaran langit sihir di langit-langit Aula Besar kini hampir selalu suram. Kini pun hari tampak berawan. Para murid berangsur-angsur meninggalkan bangku setelah menyelesaikan makan siang. Setelah ini Hermione masih ada kelas, namun kedua sahabatnya memiliki jadwalnya sendiri.

"Kau tidak latihan, Harry?" ujar Hermione sambil memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas.

"Sudah jam satu?"

"Sepertinya sudah karena penggemar-penggemarmu sudah jalan duluan," sahut Hermione seraya menghentakkan dagu ke beberapa anak perempuan yang meninggalkan aula besar sambil mengerling ke Harry dengan cekikikan.

Harry menghela napas pasrah. "Yang aku inginkan hanyalah latihan tenang tanpa paranoid bahwa salah satu dari mereka mata-mata Slytherin," ujarnya. Ia bangkit dari bangkunya, meminum habis jus di pialanya, lalu mengambil sebuah apel dari keranjang buah. "Sampai jumpa pada makan malam." Melambai singkat sebelum berbalik ke arah pintu keluar.

Hermione mengerling sekilas ke Ron yang menghela napas sambil mengorek-korek makanan di atas piringnya dengan garpu. Ada pembicaraan yang ingin dikatakan Hermione perihal Quidditch dengan Ron, tapi ia tidak tahu apakah ini saat yang tepat. Tapi, ia memutuskan untuk mencobanya.

"Hei, turut sedih kau tidak masuk tim tahun ini."

"Apa itu ejekan?"

Hermione mengernyitkan dahi sedikit tersinggung. "Bagian mananya yang terdengar seperti ejekan?"

"Sori," geramnya kemudian. "Sedang banyak yang mengejekku mengenai itu beberapa terakhir ini."

Ia tahu Malfoy salah satu di antaranya. Tapi, Hermione tidak ingin menyiram bensin di saat-saat seperti ini karena ia tahu kobaran apinya akan sangat lama sekali padam. Maka yang ingin dilakukannya sekarang hanyalah sebagai penjaga perdamaian.

"Keberuntungan hanya sedang tidak berada di pihakmu, Ron. Jangan terlalu diambil hati."

"Anak itu memang hebat," akunya kemudian.

"Hanya faktor keberuntungan," sahut Hermione lagi.

Ron menghela napas dan membiarkan jeda beberapa saat. Akhirnya ia berkata lagi, "Uhm- mokehogsmetdenganku, Mione?"

Kata-kata—kalimat itu mengalir sangat cepat. Hermione berkedip satu kali, berusaha mencernanya. Ia berkedip kedua kali, berharap menangkap inti sari kalimatnya.

"Apa?"

Pemuda itu berdeham, "Ke… Hogsmeade," mengusap bagian belakang kepalanya canggung.

Dia mengajakku ke Hogsmade, pikir Hermione.

Gesturnya mengatakan ini bukan acara ke Hogsmeade biasa dan itu membuat gadis itu merasa was-was. Sejak mereka berada di tingkat empat, Hermione memang mulai berpikir mungkin ada sesuatu di antara mereka—tapi itu dulu. Ia sudah menyingkirkan pikiran itu jauh-jauh, sehingga gestur apapun yang mengarah ke sana selalu membuatnya canggung. Yang diinginkannnya saat ini hanyalah pikiran naïf bahwa mereka hanya teman baik karena ia tak ingin segalanya berubah jika mereka membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya terjadi.

Hermione memang kadang membiarkan sesuatu-yang-tak-seperti-biasanya itu terjadi. Mereka kadang sering pergi minum ke Hogsmade jika Harry sedang latihan Quidditch. Tapi, gadis itu selalu menunjukkan batasnya. Ron adalah sahabatnya, begitu juga Harry.

"Hermione?"

"Ya," sahutnya. Lalu segera mengoreksi, "Er—maksudku tidak," sambil berdeham. Benaknya berpikir keras bagaimana keluar dari situasi ini dengan alasan yang tepat. "Aku tidak bisa membiarkan para tukang gosip ngomong yang tidak-tidak. Terakhir kita pergi mereka bilang kita berciuman di Three broomstick. Dasar orang kurang kerjaan." Memasang wajah gusar sambil memandang buku pelajarannya.

"Well, aku tidak terlalu peduli—"

"Kita prefek, Ron. Kita harus jaga wibawa."

Ron terdiam sejenak memandang piala berisi jus labunya. "Kau mencari-cari alasan ya?" sahutnya.

Hermione pura-pura terlalu berkonsentrasi pada buku pelajarannya. "Yeah—Ron?" tanyanya seolah baru sadar bahwa pemuda itu masih bicara padanya.

"Uhm— tidak ada apa-apa."


Lima puluh dua. Lima puluh tiga. Lima puluh empat…

Sebutir keringat mulai menetes dari dagunya pada hitungan push-up kelima puluh lima dalam salah satu ruang berdebu di Shrieking Shack. Pemuda itu tidak menghiraukan keluhan otot tangan yang kini memohon belas kasihan. Ia tak ingin berhenti—tidak bisa berhenti—walaupun seluruh tubuhnya telah tegang dan memprotes meminta istirahat.

Berbagai ingatan yang pernah teralihkan sebelumnya merasuki benaknya lagi. Perlahan-lahan melayang lagi, berhembus ke dalam memori seperti angin yang menyelinap melalui jendela pecah Shrieking Shack pada siang hari itu. Dingin. Memilukan.

Ia tahu bekas lebam keunguan telah memudar di sudut bibirnya karena Ibu telah menyembuhkan secara lihai dengan tanaman gaib yang dikenalnya. Tapi rasa lelah dan amarah tidak bisa instan dihilangkan dan itu yang membuatnya marah pada diri sendiri. Brengsek—ia tahu ia berada di pihak yang tepat. Pangeran Kegelapan telah memberikan kepercayaan untuk melakukan segala persiapannya lebih awal kepadanya dan kepada kroni-kroni setianya yang lain. Latihan, latihan, latihan. Sedikit memar, rasa sakit dan banyak keringat seharusnya bukanlah apa-apa untuknya. Ini sebuah kehormatan.

Ketika ulang tahun ketiga belasnya datang, semua perencanaan itu mulai dilakukan. Ia salah satu dari mereka yang dipercayai untuk menjadi tangan kananNya yang terlatih. Mereka harus memperlajari Kutukan Tak Termaafkan yang dilatih oleh Lucius Malfoy dan teman-temannya. (Ya, karena sampai kiamat pun Hogwarts takkan pernah mengajarkannya.) Memar-luka menjadi santapan, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa. Lihat betapa muak terdengarnya; Draco—anak tunggal klan Malfoy yang diajarkan untuk membalas batu dengan batu, membalas tangan dengan tangan—dipaksa tidak balas melawan dan melukai lawan latihnya.

Marah. Tak berdaya. Harga dirinya terinjak.

Seharusnya ia tidak boleh merasakan marah. Mengapa kau sulit melihatnya, Draco. Yang Mulia dan mereka hanyalah orang-orang yang tercabut haknya dari dunia ini. Mereka berusaha dengan darah dan keringatnya untuk mendirikan lagi apa yang menjadi sepatutnya. Mengambil apa yang menjadi seharusnya. Mengklaim hak absolut mereka di dunia sihir. Ya, untuk para penyihir yang sebenarnya. Untuk mereka yang memiliki darah murni dalam setiap pembuluhnya.

Untuk mereka.

Tapi tidak pernah sedetik pun ia melupakan kebanggaan menjadi salah satunya seperti Malfoy-Malfoy lainnya. Apalagi Draco menjadi putera tunggal Malfoy, menjadi satu-satunya pewaris, menjadi bagian dari kebesaran deretan bangsawan di masa lalu. Salah satu klan tinggi dari pengikut Voldemort yang agung. Tiada yang lebih membanggakan lagi dari itu. Tapi latihan-latihan di kediamannya selalu meninggalkan tekanan dan luka secara mental. Dan inilah yang menjadi penyakit dalam hatinya.

Kadang ia memiliki cara sendiri untuk mengatasinya. Yeah, mencari seorang anak, mencari-cari kesalahan, lalu memberinya alasan untuk melayangkan bogem mentah kepadanya. Amarah tersalurkan. Namun jika ke kastil tampak begitu membosankan—yang sering kali membawa amarah baru—hutan ini selalu menjadi pelariannya yang menenangkan. Ketenangannya. Kenyamanannya. Hutannya. Dunianya.

Ia tahu ia tidak memiliki pilihan lain karena ia tahu ini yang terbaik. Apa yang dilakukan ayahnya dan rekan-rekannya benar. Semua itu demi masa depan para penyihir seperti mereka. Penyihir yang berdarah murni. Jadi…

Lakukan. Hancurkan. Menang.

Ayahnya benar. Lakukan. Hancurkan. Menang. Ya, Ayah. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukan, hancurkan, dan menang. Lakukanhancurkanmenang. Lakukanhancurkanmenang―

Seperti doa.

Tujuh puluh enam. Tujuh puluh tujuh…

Jangan ragukan, acuhkan moral, layani diri-Nya. Lord Voldemort akan membawa menuju kejayaan. Yeah, keagungan para darah murni. Jangan ragukan, acuhkan moral, layani diri-Nya. Terus bergema. Tak ada cinta.

Jangan rasakan cinta.

Tsk, cinta. Hanya sesuatu yang abstrak dan tak pernah jelas. Cinta hanyalah bumbu dalam romansa picisan untuk menaikkan jumlah penjualan. Tak ada yang perlu dipercayai darinya. Perasaan itu tidak pernah ada.

Cinta yang diketahuinya hanyalah pengantar manis sebelum menggiring gadis ke atas ranjang. Mungkin konteks yang sama seperti ketika Lucius menaruh perempuan lain di dalam kamarnya. Yeah, perempuan lain—bukan istrinya. Apakah affair itu kejutan bagi putranya? Mungkin jawabannya 'ya' saat Draco baru pertama mengetahuinya. Tapi kini ia sudah kebal dengan berbagai macam hubungan yang berembel-embel cinta. Tsk, cinta. Persetan— layani diri-Nya, hanya cintai Dia.

Ya, Ayah. Ya.

Delapan puluh dua. Delapan puluh tiga. Delapan puluh empat…

Ia harus berkeringat untuk mengalihkan perhatian dari amarahnya. Namun saat ini tidak ada latihan Quidditch, sehingga ia memutuskan untuk melakukan latihannya sendiri. Ia perlu mengosongkan pikiran. Ia perlu otaknya dipenuhi rasa lelah, sehingga ia dapat melupakan semua yang berkecamuk dalam benaknya saat ini. Mungkin sedikit dosis rasa sakit di ototnya yang lelah akan membantunya secara efektif. Maka di sinilah dirinya—di atas lantai berdebu dalam Shrieking Shack.

Ruangan itu cukup besar untuk sebuah ruang tengah. Banyak sudut berdebu yang tak terjamah manusia selama belasan atau bahkan puluhan tahun. Sinar masuk dari jendela membawa cahaya hangat ke dalamnya. Hanya angin yang membuatnya dingin di sana.

Segalanya berjalan lancar sampai ia mendengar sebuah suara samar dari luar jendela. Terdengar suara gonggongan anjingnya di kejauhan. Awalnya ia tidak ingin menghiraukannya dan melanjutkan hitungan push-upnya. Tapi, ruangan itu sangat sunyi sehingga membuat gonggongan anjing itu seakan semakin membesar. Hitungannya pun kacau.

"Brengsek," umpatnya pelan.

Dengan kesal ia bangkit dari lantai. Disambarnya kemeja lalu mengenakannya secara asal sembari berjalan menyusuri koridor rumah. Saat itu suara Kofu terdengar lagi. Ia melihat ke arah luar jendela. Masih terang, pepohonan masih terselimuti oleh cahaya kekuningan. Itu berarti push-upnya belum terlalu lama.

Lantai kayu berderit ketika ia menapak di atasnya. Dibukanya pintu depan yang sudah bobrok dan hampir lepas dari engselnya. Ia mengutuk pelan ketika pintu itu terjatuh setelah beberapa langkah ia melewatinya. Ia menuruni tiga undakan di teras lalu berjalan memasuki hutan.

Udara di luar sama dinginnya dengan di dalam, namun dengan sedikit aroma dedaunan lapuk musim gugur. Draco melewati pepohonan dengan dedaunan yang telah menguning. Semakin berjalan memasukinya, semakin terdengar sumber suara yang dikenalnya. Kofu belum berhenti menggonggong, ia begitu keras kepala. Tak lama kemudian pemuda itu bisa melihatapa yang sedang digonggonginya. Ia pun segera mengutuk dunia karenanya.

Matanya menemukan dia lagi.

"Lagi-lagi apa yang sedang kau lakukan di sini?" kata pemuda Slytherin itu murka.

Kofu langsung terdiam mendengar suara tuannya. Hermione Granger pun langsung memandangnya ketika mendengar suara Slytherin itu. Wajahnya merah padam. Semua bisa lihat tampak tidak ada yang terlihat senang dengan pertemuan mereka lagi di tempat itu.

"Bukan urusanmu," tukas gadis itu sembari berjongkok gugup menarik-narik rok agar tetap menutupi kakinya.

Ada hal yang paling menggelikan dari kejadian ini. Ini seperti déjà vu, namun faktanya saat ini ia benar-benar mengalaminya lagi. Granger berada dalam posisi yang sama. Di pohon yang sama. Tongkat sihir yang jatuh di tempat yang sama. Demi Salazar, bagaimana—

Bagaimana bisa?

Draco mengaitkan jemari kedua tangannya di atas kepala seraya memandang gadis itu tak percaya.

"Astaga…," ujar pemuda itu.

Wajah Granger semakin memerah tanpa melontarkan apapun dari mulutnya. Bagus, karena apapun yang akan dilontarkannya, Draco bisa menjadikannya bumerang dengan mudah. Pemuda Slytherin itu menatapnya tak percaya dari bawah dengan tawa miris.

"Nangkring di sana menjadi hobimu yang baru, Granger?" tukas pemuda Slytherin. "Atau kau memang sebego itu?"

"Enyahlah."

"Sangat original," sembari mendecak. "Aku berharap kau bisa sedikit lebih kreatif dari ini."

"Aku tak ingin bertengkar, Malfoy."

"Lalu kenapa kau datang lagi ke mari?" tukas Draco. "Kau membuat dirimu dalam kesulitan sendiri. Tolol sekali."

"Tempat ini bukan punya ayahmu," hardik Granger.

"Ini juga bukan punya ayahmu."

Gryffindor itu menatapnya jengkel. Ia yang menginginkan semua situasi dan Draco memberikannya. Nah, jadi lihat siapa yang paling bertahan sampai akhir.

"Aku pergi ke manapun yang aku inginkan."

"Coba memohon padaku, Darling. Siapa tahu aku bisa mempertimbangkan."

Gadis itu mendengus. "Memohon lalu kau akan tetap bajingan seperti sediakala."

"Kau benar," katanya kemudian. "Memohon dan aku tetap melihatmu sebagai darah lumpur seperti biasa."

Efek kedua kata itu pun selalu instan, gadis itu menjengit mendengarnya. Ada sakit hati yang tak mampu disembunyikannya. Mata kecoklatan itu pun segera menatapnya sedingin Danau Hitam musim salju. Namun tiada maaf dari Slytherin itu. Tentu saja, seolah karena inilah tujuan keberadaan dirinya di dunia. Dan ia harus menikmati setiap detiknya.

"Sulitkah agar tidak menggunakan kata-kata itu?"

"Oh, kau tak tahu betapa sulitnya… darah lumpur."

"Hentikan."

"Biasakanlah," sahutnya dengan senyum di sudut bibirnya, "karena aku akan mengatakannya lebih sering lagi."

Mata kelabu itu bertemu dengan kecoklatan miliknya dengan tegas. Murka, Draco bisa melihatnya. Namun tiada kata-kata balasan dari bibir gadis itu dan itu tidak mengejutkan.

Griffindor itu memang nyaris tidak pernah mencari gara-gara. Terkadang Draco bisa merasakannya, Granger selalu menjadi penjaga gencatan senjata di antara konfrontasi Gryffindor dan Slytherin. Ia tak ingin Gryffindor tercebur lebih dalam lagi dalam hujan potong poin yang mungkin akan terjadi apabila Potter atau Weasley kehilangan kendali. Yeah, karena ia selalu berusaha menjadi murid teladan kesayangan Dumbledore tua.

"Enyahlah, Malfoy."

"Dengar, biar kuberikan saran," ujar Draco kemudian, memasukkan kedua tangan ke dalam sakunya. "Kau tahu ini tidak akan berjalan lancar apabila kau tidak bekerjasama. Aku akan membiarkanmu turun, namun demi kebaikan kita semua, jangan datang lagi."

Gadis itu memandangnya tanpa berkedip. Ia sedang memikirkan sesuatu—entahlah. Semoga yang dipikirkannya benar kali ini. Darah lumpur, bego.

"Baiklah," sahutnya. "Tapi ada anjingmu."

"Turun saja, bodoh. Dia tidak akan menggigit."

Itu pun jika kau berani.

Tatapan itu belum lepas darinya. Napasnya berat dan waspada. Ia tahu gadis itu sedang menimbang apakah Slytherin itu bisa dipercaya—karena sejarah yang mereka tahu mengatakan Slytherin penuh tipu muslihat.

Namun ketika Draco mengira gadis itu akan berada di sana selamanya, ternyata kemudian ia tampak bersiap turun. Matanya mencari cara. Ia berusaha menjaga keseimbangan di atas sana. Tangannya berusaha menjaga roknya agar tidak tersingkap. Namun, di saat yang sama tangan itu harus bertarung mencari pegangan.

"Berbaliklah," katanya.

Hah?

"Apa? Kau takut aku memandang kakimu?" dengusnya tak percaya. "Buat apa aku memandang kakimu ketika aku bisa meminta gadis manapun bugil setiap saat. Kau tidak semenarik itu."

Gryffindor itu menatapnya tak sabar, "Berbalik saja, oke?"

Pemuda itu mendengus lagi. Namun perlahan membalikkan tubuhnya.

Apa yang sedang dilakukannya di sini? Ini Hutan Terlarang. Orang takut ke dalam sini. Apa ia mencari tempat untuk belajar? Alasan itu segera dibuangnya karena Granger takkan mungkin datang lagi ke sini hanya untuk belajar. Belajar apa? Belajar bahwa ada binatang liar yang siap mengoyak isi perutnya setiap saat? Atau apa ia sedang mencari tempat tersembunyi untuk menjalin affair dengan seorang pemuda Hogwart? Granger? Yang benar saja. Ia pasti akan perawan sampai tua.

Ia tahu pasti motivasinya lebih dari itu. Granger pernah digonggongi Kofu dan bertemu Draco sekali. Oleh karenanya ia pasti akan berpikir dua kali untuk datang lagi. Tapi, ia benar-benar kembali lagi ke sini. Ia bahkan menyuruh Draco untuk pergi dan menyuruhnya berbalik memunggungi.

Menyuruhnya berbalik memunggungi?

Sialan, kenapa aku harus berbalik? Sejak kapan darah lumpur bisa memerintahnya?

Pemuda itu membalikkan tubuhnya untuk menghadapi Gryffindor itu, namun Granger tidak sedang menatapnya. Gadis itu sedang mencoba turun dan terlihat sekali ia bukan pemanjat yang handal. Jika Draco melihatnya dalam situasi lain, mungkin ia akan tertawa mencemoohnya. Namun matanya terpaku pada sesuatu yang lain.

Kini ia mengerti kenapa Granger meminta pemuda itu berbalik memunggunginya. Gadis itu mencoba turun dengan kaki lebih dulu. Ia mencoba mencengkeram batang pohon dengan tangannya yang ramping. Kakinya mencoba mencari pijakan, tapi ia tidak menemukan apapun selain kulit kayu yang kasar. Rok pendeknya menggesek batang pohon, sehingga kain itu tertahan—yang benar saja—di sekitar panggul dan memperlihatkan seluruh kakinya.

Jadi… itukah yang dimaksudkan Blaise dan pemuda-pemuda Howarts lainnya?

Tiba-tiba Kofu menggonggong singkat. Suara itu membuat Gryffindor itu tersentak kaget, juga membuat Draco mengalihkan pandangannya. Gadis itu kehilangan pegangan lalu serta-merta terjatuh ke atas rerumputan dengan cukup keras. Terdengar rintihan di sana.

Draco menenangkan Kofu. Anjing itu menurut lalu mengibaskan ekornya.

"Pendaratan hebat lagi, Granger," tawa Slytherin muda itu.

Gadis itu langsung berusaha berdiri lagi, lalu menyingkirkan ikal yang menutupi wajahnya. Ditepiskan rerumputan yang menempel pada baju dan roknya. Semu merah dan marah terlihat di pipinya.

"Aku benar-benar tak ingin bertengkar, Malfoy. Please, pergi dan tinggalkan aku."

Draco menaikkan alisnya tidak percaya. "Bukan itu kesepakatan kita tadi."

"Apa yang kau inginkan untuk membuatmu pergi?"

"Yeah."

"Kau tahu ping-pong kata ini sampai kapanpun tidak akan pernah berakhir."

"Kau benar," sahut Draco. "Lalu kenapa tidak kau saja yang mengakhirinya? Pergilah dengan tenang."

"Tidak," sahutnya keras kepala.

Tidak ada yang bisa membuatnya mengalah dalam perang dingin itu. Tentu saja karena dalam sejarahnya memang tidak pernah ada yang mengalah dalam konfrontasi mereka. Jika di dunia ini semua orang mudah mengalah dalam perang, tidak perlu ada Auror di dunia ini.

"Gigit dia, Kofu."

Anjing itu langsung menggonggong nyaring, walaupun ia tidak bergerak dari tempatnya. Yang ada dalam benaknya hanya bersenang-senang. Namun, siapapun yang melihatnya pasti akan terintimidasi dengan gonggongan dan moncongnya. Dan Draco bisa melihat perasaan takut itu dari wajah Granger saat ini.

Gadis itu tersentak kaget. Serta-merta disambarnya tongkat sihir yang terjatuh tak jauh darinya. Tangannya mencengkram tongkat sihir itu dan mengacungkannya bergantian ke arah Kofu-Draco. Air muka anjing itu mendadak waspada, ia bisa merasakan ancaman di depannya.

Draco mengusap lehernya yang dipenuhi bulu keabuan, namun anjing itu tidak mau tenang. Rahangnya mengatup rapat. Ia memperlihatkan gigi dan memperdengarkan geraman.

"Turunkan tongkatmu, jalang!"

"Singkirkan hewan sialan itu lalu pergi dari sini!"

"Turunkan tongkatmu!" serunya lagi.

Granger tidak menggubrisnya.

"Menyerahlah," tukasnya murka, "karena apapun yang kau sedang lakukan di sini, aku bersumpah akan terus menggagalkannya."

Air muka Granger tampak keras dan waspada. Berkali-kali ia menatap Draco dan Kofu bergantian, lalu mundur selangkah. Lalu mengambil selangkah lagi.

Nah, berpikirlah cerdas, Granger.

Draco hampir mengira Gryffindor itu akan meninggalkan tempat itu secara damai. Namun ternyata ia memutuskan untuk melontarkan pernyataan yang mereka tahu akan mengobarkan perang yang menjanjikan lebih besar lagi.

"Coba saja," desisnya kemudian, "karena berarti kau akan melihatku lebih sering lagi."

Sebelum pemuda itu sempat membalas perkataannya, tiba-tiba Gryffindor itu berbalik, berlari dan menghilang di balik semak-semak.

"Brengsek—"

Draco tidak dapat menahan kemurkaannya lagi. Maka ia berteriak dengan sekuat tenaga dan berharap darah lumpur itu mendengarnya. Dan demi Salazar, ia pasti masih bisa mendengarnya.

"Dan kau pasti akan berada di neraka lebih lama lagi!"