~For Tomorrow~
Disclaimer : Naruto dan character lain milik om Masashi Kishimoto, saya Cuma nyumbang cerita yang original karya saya
Warning : BL/Shounen Ai, OOC, typo(s), gaje, agak lebay, tidak tanggung jawab pada segala jenis reaksi yang akan readers alami setelah membacanya, DON'T LIKE DON'T READ, tidak menerima FLAME
Starring : SasuNaru –Forever-
~"~"~"~
Hujan disertai petir sedang bergejolak malam itu membuat suara ribut yang mengusik hati Naruto. Pemuda blonde itu kini menutup telinganya di bawah selimut berharap sahutan petir di luar sana cepat berhenti. Sedangkan Sasuke sudah terlelap sejak tadi tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana. Naruto menggigil ketakutan di dalam selimutnya, geretakan giginya cukup ribut namun tertutupi oleh suara hujan yang jauh lebih ribut. Naruto memeluk lututnya semakin erat mencoba meredam ketakutannya.
Sasuke terbangun entah karena apa, dia hanya merasa gelisah. Diliriknya ranjang Naruto dan mendapati seorang pemuda tengah duduk di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.
Apa-apaan anak ini?, batin Sasuke heran melihat tingkah Naruto yang tidak biasa.
"Dobe!", panggil Sasuke, namun tidak ada tanggapan dari Naruto yang masih terus saja menggigil di bawah selimutnya.
"Dobe!", panggil Sasuke lagi, kali ini dia sedikit meninggikan suaranya karena berpikir kalau Naruto tidak bisa mendengar suaranya karena tersamarkan oleh suara hujan yang terus menerus mengetuk jendela kamar mereka. Masih tidak ada jawaban dari Naruto. Sasuke mengernyitkan dahinya tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Naruto di bawah selimutnya. Sasuke bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Naruto, dengan cepat disingkapnya selimut yang menutupi Naruto dan didapatinya pemuda yang tengah menggigil. Entah angin apa yang berhembus saat itu, tanpa babibubebo Sasuke langsung menangkap tubuh Naruto dan memeluknya erat. Sasuke pun kaget akan reaksinya yang bisa dibilang tidak wajar itu.
Naruto yang masih ketakutan langsung membenamkan tubuhnya dalam pelukan Sasuke, dia merasa lebih tenang dibanding saat berada di bawah selimut. Sentuhan Sasuke membuatnya bisa bernafas lebih lega, rasanya begitu hangat dan menenangkan. Naruto semakin membenamkan kepalanya ke dalam dada Sasuke mencari ketenangan yang lebih agar tubuhnya berhenti menggigil. Naruto merasa terlindungi dari perasaan takutnya sendiri.
5 menit kemudian, Naruto sudah tidak menggigil lagi. Sasuke masih setia menyediakan tubuhnya untuk Naruto, sampai Naruto benar-benar tenang.
"Sasuke", panggil Naruto pelan.
"Hn?".
"Bisa pinjam tubuhmu untuk malam ini saja?", tanya Naruto takut-takut.
Sasuke sukses blushing mendengar pertanyaan Naruto. Jantungnya mulai berdetak diluar kendalinya lagi, pelukannya semakin erat menandakan tubuhnya bersedia memenuhi keinginan Naruto. Namun akal sehatnya berkata TIDAK!
"Hanya malam ini saja", jawab Sasuke pelan sambil menidurkan dirinya di atas ranjang Naruto bersama Naruto dalam pelukannya.
Apa yang kau lakukan Sasuke?, tanya Sasuke pada dirinya sendiri. Ini benar-benar di luar kendalinya. Logikanya telah dikalahkan oleh keinginan hatinya yang ingin terus ada di samping Naruto. Logika seorang Uchiha Sasuke benar-benar telah K.O.
Malam itu mereka lewati di atas ranjang Naruto dengan Sasuke yang memeluk erat Naruto dan sesekali menciumi rambut blonde Naruto yang memang menyentuh wajahnya. Sasuke merasakan perasaan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, perasaan tidak wajar terhadap Naruto. Untuk malam itu, Sasuke benar-benar sudah melupakan logikanya karena perasaan bahagia yang tidak bisa dijelaskan bahkan oleh Sasuke sendiri. Naruto akhirnya bisa tidur dengan tenang, sudah tidak merasa terganggu lagi dengan suara ribut yang ditimbulkan oleh sahutan petir dan ketukan hujan di jendela kamarnya.
.
.
.
Pagi yang cerah menyambut kedua pemuda yang masih terlelap. Tidak terlihat tanda kalau semalam ada hujan disertai petir yang cukup besar melanda kota itu. Pagi itu terlalu cerah, terlalu tenang.
Naruto membuka matanya, dirasakannya hangat tubuh seseorang mendekapnya erat. Wangi tubuh yang bercampur dengan bau rumah sakit tercium jelas dari pemuda yang memeluknya itu. Naruto belum sepenuhnya sadar, tubuhnya merasa nyaman dalam dekapan hangat itu hingga dia tak sadar, mungkin tak mau sadar siapa yang memeluknya. Diangkatnya kepalanya untuk melihat siapa gerangan pemuda yang menemaninya semalam. Yah, entah kenapa Naruto sama sekali tidak ingat kejadian semalam.
Wajah Naruto bersemu merah saat dia sadar jika yang memeluknya adalah Sasuke Uchiha. Seorang pemuda dingin berkulit porselen dan berambut pantat ayam memeluknya dengan erat, dan hangat.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tanya Naruto dalam hati, dia mengutuki dirinya yang tidak ingat sedikit pun hal yang terjadi semalam. Wajahnya makin bersemu merah saat dipandanginya wajah Sasuke dari dekat.
Wajahnya dekat sekali. Batin Naruto. dia benar-benar terkesiap dengan wajah Sasuke. Baru kali ini dia memandangai wajah porselen Sasuke dari jarak sedekat itu.
Sasuke membuka matanya tiba-tiba. Mata Sasuke dan Naruto saling bertemu untuk waktu sepersekian detik. Naruto menarik tubuhnya segera dari dekapan Sasuke, reflex. Naruto tidak mau Sasuke melihat wajahnya bersemu merah seperti wanita. Pasti akan sangat memalukan.
Sasuke langsung menarik diri ke ranjangnya sendiri dengan posisi tertidur memunggungi Naruto. sedangkan Naruto langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
-Naruto POV-
"Sepertinya aku membanting pintu tadi".
"Ah masa bodoh. Sekarag itu tidak penting".
Kupandang cermin di atas wastafel dengan pandangan penuh selidik ke dalam diriku sendiri. " Ada banyak hal yang harus kutanyakan padamu Uzumaki Naruto", kataku pada diriku yang ada di depan cermin.
"Apa yang terjadi semalam? Kenapa Sasuke bisa tidur di ranjangku? Bahkan memelukku?", rasanya ingin kuteriakkan semua pertanyaan itu seandainya aku tak tahu jika Sasuke ada di tempat tidurnya dan bisa saja mendengarkan teriakan bodohku yang menyebut-nyebut namanya.
Kujambak rambutku sebagai wujud rasa kesal terhadap otakku yang mulai kumat pikunnya. Aku benar-benar tidak ingat!
"Tunggu! Seingatku kemarin malam itu seperti ada badai kan? Lalu aku terus ada di bawah selimut. Lalu? Pasti kejadiannya setelah itu", simpulku.
"Tapi apa itu? Apa yang terjadi padaku? Apa aku meminta Sasuke tidur denganku?", pikirku mulai tidak normal. "Tapi Sasuke mana mungkin mau", pikirku lagi.
"Tapi buktinya dia memelukku", benar-benar gejolak batin. Aku tidak bisa memastikan apapun dengan pemikiran-pemikiranku yang mulai absurd. Aku harus meminta Sasuke menjelaskan padaku apa yang terjadi semalam.
Oke. Sudah diputuskan.
-Naruto POV End-
Pemuda blonde keluar dari kamar mandi dengan tampang yang lebih buruk dari sebelum dia masuk. Sasuke yang sudah duduk di pinggiran tempat tidurnya hanya menoleh melihat makhluk berambut kuning yang tampak awut-awutan.
Naruto berjalan cepat ke arah Sasuke. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui fakta sebenarnya dari kejadian semalam.
"Sasuke!", panggil Naruto.
Sasuke yang sejak tadi memang melihat Naruto tidak mengeluarkan suara untuk menjawab panggilan yang ditujukan padanya. Hanya matanya yang terus mengikuti kemana Naruto pergi.
Naruto berdiri tepat di hadapannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi semalam?", tanya Naruto tanpa basa basi.
Sasuke memandang Naruto dengan pandangan aneh, tidak mengerti.
"Kenapa kau bia tidur di ranjangku? Dan kenapa posisimu seperti itu?",
Sasuke tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab.
"Jelaskan padaku!", perintah Naruto.
"Kenapa?", Sasuke balik bertanya. Ekspresi stoicnya tidak berubah.
Naruto mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan pertanyaan 'kenapa' Sasuke.
"Kenapa aku harus menjelaskannya?", tanya Sasuke sukses membaca ekspresi bingung Naruto.
"Karena aku tidak ingat apapun", jawab Naruto setengah berteriak.
"Ck memang Dobe", umpat Sasuke agak besar hingga Naruto bisa mendengarnya. Yah Sasuke memang sengaja.
"Memangnya kenapa Teme? Cepat jelaskan padaku!", kali ini Naruto benar-benar berteriak hingga membuat gendang telinga Sasuke hampir pecah.
"Kau yang memintaku untuk meminjamkan tubuhku untukmu. Hanya untuk malam itu", jelas Sasuke.
Naruto agak sulit mencernanya. "Kau meminjamkan tubuhmu?", tanya Naruto.
Sasuke tidak menjawab. Diambilnya tubuh bebas Naruto dan didekapnya dengan erat.
"Kau meminjam tubuhku seperti ini, Baka Dobe", bisik Sasuke di telinga Naruto membuat sang Empunya telinga menjadi geli. Naruto refleks menarik tubuhnya menjauh dari Sasuke. Ekspresianya seakan tidak percaya atas fakta yang baru saja diproses di kepalanya.
"Apa itu mungkin? Jangan memfitnahku ya, Teme", protes Naruto. dia benar-benar tidak bisa terima apa yang baru saja didengarnya.
"Terserah kau, Dobe", kata Sasuke datar. "Lain kali jangan menggigil sendirian di bawah selimut".
Deg. Naruto tersadar, dia ingat semuanya. Tubuhnya mundur teratur ke arah ranjangnya. Dijatuhkan dirinya dan mencoba membenamkan diri, tepatnya menenggelamkan diri dalam kasur agar dirinya tidak muncul lagi di hadapan Sasuke.
Aaaaarrrrggggghhhhhhhhhhhhhhh! Ingin sekali rasanya Naruto berteriak saat itu juga. Hal itu begitu memalukan untuknya.
Sasuke yang masih terduduk di pinggir ranjang tertegun atas reaksi Naruto yang menurutnya agak berlebihan. Yah apa salahnya membagi ketakutan kita dengan orang lain. Bukankah itu wajar?
Eh? Apa yang barusan kupikirkan? Hal wajar? Kenapa bisa aku berpikir seperti itu? Batin Sasuke. Dia merasa agak berubah. Pemikirannya, logikanya seperti sudah agak melenceng dari prinsip yang terus tertanam dalam dirinya selama 10 tahun terakhir. Dimana pun dan kapan pun, manusia adalah makhluk individu.
Sasuke masih bergelut dalam lingkaran prinsipnya saat tubuhnya terasa seperti bergerak sendiri untuk menyentuh Naruto yang berusaha membenamkan dirinya hingga sulit bernafas.
"Dobe!", panggil Sasuke sambil mengguncang kecil pundak Naruto.
"Dobe!", panggilnya lagi. Kali ini guncangan yang diberikannya pada pundak Naruto sedikit lebih besar.
Naruto mengelak dari pegangan Sasuke, tubuhnya bergetar. Naruto menangis.
Sasuke membalik tubuh Naruto dengan kasar dan mendapati air mata jatuh memenuhi pipi tan Naruto.
"Kenapa kau Dobe?", tanya Sasuke.
"Tidak apa-apa, tinggalkan aku", jawabnya.
"Kau menangis, dan kau masih berani bilang tidak apa-apa", bentak Sasuke.
"Aku malu bodoh! Aku ingat setiap detik waktu yang berlalu semalam. Aku ingat setiap inci kedekatan kita. Itu membuatku malu, Teme".
"Apa itu hal yang salah sehingga membuatmu malu?".
"Entahlah. Aku tidak tahu".
"Kalau begitu berhentilah menangis".
Sasuke memeluk erat tubuh Naruto sekali lagi. Kali ini pun tanpa logikanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau berhenti menangis dan tidak merasa malu lagi", kata Sasuke.
Naruto terus menangis, Sasuke makin menguatkan dekapannya. Logikanya benar-benar sudah tidak bisa digunakan, sama seperti malam itu. Ini benar-benar membuatnya gila. Tak dapat lagi tubuhnya berkompromi dengan logikanya. It's too late, Sasuke! Your heart becomes pounding.
.
.
.
Hari itu berlangsung cepat sekali bagi Sasuke, dia terus menenangkan Naruto dan berada di sisinya. Untung saja hari itu tidak ada pemeriksaan rutin. Sasuke menemani Naruto seharian dan menyediakan bahunya untuk tempat Naruto terisak.
"Sudah cukup?", tanya Sasuke pada Naruto yang mengangkat kepalanya dari bahu Sasuke.
Naruto menganggukkan kepalanya, mengusap wajah dan matanya yang sudah bengkak. Entah kenapa dia ingin terus menangis di bahu Sasuke. Dia pun tidak yakin alasan sebenarnya dia menangis seharian itu. Apakah benar hanya karena malu dengan peristiwa semalam atau ada hal lain yang tidak bisa dijelaskannya, bahkan pada dirinya sendiri. Naruto benar-benar tidak mengerti akan dirinya saat dia bersama Sasuke, lemah, rapuh, tak berdaya.
"Kau perlu makan", kata Sasuke, "akan kuambilkan makanan, kau tunggulah".
Naruto tidak menjawab, dia hanya menuruti perintah Sasuke. Sasuke menemui perawat yang berjaga di dekat kamarnya untuk meminta makanan.
"Kau tak makan?", tanya Naruto saat makanannya tiba. 1 nampan berisi nasi putih, salad, daging rebus dan air minum terhidang di hadapan Naruto.
"Aku tidak lapar, kau saja", kata Sasuke lalu beranjak ke kamar mandi. Dia ingin mandi sebentar karena gerah, hari ini dia belum masuk kamar mandi seinci pun.
Selesai mandi seadanya, Sasuke keluar dan mendapati Naruto hanya menatap kosong pada nampan berisi makanan yang tidak terjamah sedikit pun.
"Kenapa tidak makan Dobe?", tanya Sasuke mengalihkan Naruto dari 'aktifitas'nya.
"Aku ingin makan bersamamu. Jika kau tidak mau, aku juga tidak makan", kata Naruto.
"Ck, jangan seperti anak kecil. Makanlah", perintah baritone itu tegas.
"Kalau begitu kau juga. Seenaknya menyuruhku makan sedangkan dirimu tidak. Memangnya makanan di rumah sakit ini begitu mahal sampai kau tak sanggup membayarnya?", Naruto sewot.
Sasuke memutar bola matanya, Naruto sulit dikalahka jika sudah seperti ini. Rasanya baru kemarin makhluk kuning ini masuk ke kamarnya, tapi mereka seperti sudah saling mengenal bertahun-tahun. Sasuke akhirnya mengalah dan keluar untuk memesan makanan hingga membuat lengkungan lebar pada bibir makhluk kuning yang tengah duduk manis di atas ranjangnya.
"Itadakimasu!", sahut Naruto dengan lantang saat Sasuke masuk dengan nampan berisi makan. Dengan lahap Naruto menghabisi satu persatu makanan yang tersedia.
"Itadakimasu", kata Sasuke tidak semangat, dia benar-benar tidak lapar. Dengan malas diambilnya sedikit nasi dan mulai makan dengan lamban. Naruto selesai menghabiskan 'semua' dalam waktu 4 menit 23 detik. Sedangkan Sasuke butuh waktu 20 menit untuk menyantap setidaknya setengah dari apa yang ada di atas nampan.
Naruto mengambil nampan Sasuke dan menghabiskan yang tersisa. "Kau tidak boleh membuang makanan, Teme", kata Naruto kembali sewot. Dia memang tipe orang yang tidak suka menyia-nyiakan makanan. Mubazir katanya.
"Hn", balas Sasuke sekenanya.
Selesai makan Sasuke duduk berhadapan dengan Naruto di tepi ranjang masing-masing.
"Kenapa kau takut gelap, Dobe?", tanya Sasuke membuka malam itu.
Air muka Naruto berubah menjadi tidak senang. "Aku bukannya takut, hanya merasa perlu melindungi diri saja. Apa itu salah?".
"Itu namanya takut. Dasar Dobe".
"Teme! Aku tidak takut sama sekali!".
"Jangan bersembunyi dan menggigil kalau begitu".
"Me.. me.. memangnya itu dilarang?".
"Itu berarti kau takut".
Naruto membanting dirinya ke ranjang dan menarik selimut. "Oyasumi", katanya cepat, tidak ingin malamnya terganggu dengan perdebatan bodoh antara dirinya dan Sasuke. Akan sangat memalukan jika semua yang dikatakan Sasuke memang benar.
Naruto adalah putra bungsu keluarga Namikaze. Ayahnya adalah seorang petinggi di perusahaan multinasional yang berpusat di Kirigakure. Sedangkan ibunya hanya sorang ibu rumah tangga biasa. Namun karena sangat merindukan suaminya akhirnya dia menyusul suaminya ke Kirigakure meninggalkan kedua putranya, Deidara dan Naruto karena menganggap mereka sudah dewasa. Yah, Naruto sudah berumur 16 tahun saat itu, dan Deidara berumur 22 tahun. Jadi menurut Kushina, kedua putranya sudah cukup dewasa untuk mengurusi dirinya sendiri.
Naruto tumbuh tanpa sosok seorang ayah, hanya Deidara yang menjadi sosok pria di mata Naruto. sosok Deidara yang lembut namun tegas membuat Naruto sangat menyayangi kakaknya itu. Dia banyak mengalah pada kakaknya karena ingin terus melihat senyum di wajah Deidara. Semua masalah yang dihadapi Naruto pasti diceritakannya pada Deidara, mereka sangat dekat. Naruto juga dekat dengan ibunya, Naruto anak yang berbakti, sangat berbakti malah. Dia selalu menuruti kata ibunya mulai dari urusan A sampai Z. ini membuat Naruto menjadi anak yang sangat disayangi Kushina. Namun, Naruto merasa ia butuh sosok lelaki lain selain Deidara. Rasa rindunya kian bertumpuk dan bertumpuk hingga dia tak bisa menahan rasa itu. Rasa rindu berubah menjadi rasa cinta pada seseorang, seseorang yang diharapkan Naruto dapat mengisi kekosongan di hatinya, seseorang yang sampai sekarang masih dicari Naruto.
Saat Naruto kecil, dia lebih senang menyendiri. Tidak ingin terlalu dekat dengan teman lelaki manapun, dia berusaha menahan hasrat rindunya hingga dia benar-benar menemukan seseorang yang dicarinya. Hanya Deidara yang menjadi satu-satunya teman lelaki sekaligus kakaknya. Sampai hari itu dia bertemu Sasuke, dan keadaan mulai berubah. Naruto menjadi Naruto yang berbeda, dia menyapa dan 'mengobrol' dengan Sasuke seperti kenalan sudah lama tak bertemu. Naruto merasa relung hatinya terisi sesuatu, sesuatu yang tidak bisa dikatakannya. Mungkin sesuatu yang lama dirindukannya. Entahlah, Naruto sendiri tidak berani mengharapkannya.
Harapan menjadi momok
Saat itu terasa hampa
Tapi tetap ingin berharap
Seberapa pun hampanya
Cahaya harapan itu berpendar samar dalam jurang
Harus melompat dan jatuh untuk mendapatkannya
.
.
.
TBC
Hahaha ditutup dengan poem ya
Mohon saran dan keripiknya di kotak review di bawah ini
