Cast :
- Lee Jihoon
- Lee Chan
- Jeon Wonwoo
- Kwon Soonyoung
Genre : Romance,friendship
Yaoi! Soonhoon couple!. BxB
Setelah beberapa hari Soonyoung bisa kembali lagi ke sekolah dan Chan sudah pergi ke Busan. Seperti biasa Soonyoung dan Jihoon pergi ke sekolah bersama.
"Soonyoung, apa kau tidak pernah merasa kesepian saat kau berada di rumahmu?"tanya Jihoon saat menaiki bus bersama Soonyoung.
"Sebelum aku kenal kau, aku terkadang merasa kesepian. Tapi setelah aku mengenalmu aku tidak lagi kesepian."ujar Soonyoung dengan tersenyum hingga matanya membentuk eye smile.
"Soonyoung terlihat tampan jika ia sedang tersenyum' uh, apa yang kau pikirkan Lee Jihoon" gumam Jihoon dalam hati sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Jihoon, kau kenapa? Apa kau sakit?"tanya Soonyoung cemas dengan mendekatkan wajahnya ke Jihoon.
"Ti-tidak a-aku tidak apa apa"jawab Jihoon dengan gugup karena wajahnya terlalu dekat dengan wajah Soonyoung.
"Aku kira kau kenapa napa"ujar Soonyoung dengan menjauhkan wajahnya dan tersenyum.
Bus yang mereka tumpangi telah sampai di sekolah.
"Dah Soonyoung sampai bertemu nanti"ucap Jihoon dan melambaikan tangannya. Seseorang dari belakang tiba tiba menepuk pundaknya.
"Jihoon"
"Yak! Kau ini wonwoo mengagetkanku saja"
"Hehe... mian mian"
"Ada apa?"
"Kalian sudah berpacaran?"
"Ti-tidak kami tidak berpacaran hanya sekedar teman saja."
"Oh ku kira, tapi kalau kalian berpacaran kalian sangat cocok"ujar Wonwoo yang membuat pipi Jihoon jadi merah karena malu.
Baru 2 menit bel istirahat berlalu, namun Soonyoung sudah berada di kelas Jihoon. Memang kelas mereka hanya terpisah satu kelas dan mereka seangkatan, kelas akhir.
Kini di kelas hanya ada Jihoon dan Soonyoung saja. Lalu Wonwoo? Sekarang ia berada di kantin bersama kekasihnya-Mingyu. Dan murid yang lainnya juga berada di kantin.
"Soonyoung, aku membuatkanmu sushi. Apa kau mau?"
"Kau yang membuatnya? Atau adikmu?"tanya Soonyoung tersenyum jahil dan memakan satu sushi milik Jihoon.
"Yak! Tentu saja aku yang membuatnya"ujar Jihoon merengut dengan mengerucutkan bibirnya. Soonyoung yang melihatnya gemas lalu mencubit pipi Jihoon.
"Iya iya Nyonya Kwon, Ini enak sekali"ujar Soonyolung dengan tersenyum yang membuat matanya menjadi eye smile. Soonyoung tidak melihat bahwa Jihoon mukanya menjadi merah karena malu.
"Sudah sana kembali ke kelasmu"usir Jihoon.
"Baiklah, sampai nanti Nyonya Kwon"
"Aishh... dia itu"gumam Jihoon.
.
.
.
Setelah pulang sekolah Jihoon meminta Soonyoung untuk mengantarkannya ke suatu tempat.
"Soonyoungie, apa kau bisa mengantarkanku ke tempat buku?"pinta Jihoon.
"Tentu, apapun untuk kau"
"Aishh... gombal,Kajja!"ujar Jihoon dengan memukul bahu Soonyoung, lalu menarik tangannya. Soonyoung hanya tersenyum bahagia ketika Jihoon menggenggan tangannya.
.
.
.
Setelah selesai mereka pun keluar dari toko buku
"Soonyoungie, ada penjual ice cream apa kau mau?"
"Tidak "
"Oh ayolah Soonyoung untukku"pinta Jihoon sambil mengeluarkan aegyonya.
'Ya ampun manis sekali jadi ingin menciumnya Eh!'gumam Soonyoung dalam hati.
"Oke baiklah tapi hanya satu"
"Yeay! Gomawo Soonyoungie"
Setelah membeli ice cream, mereka duduk di bangku taman.
"Soonyoungie, apa kau mau?"tanya Jihoon dengan menyodorkan ice creamnya ke Soonyoung.
"Tidak, aku tidak mau kau saja yang makan"
"Yakin kau tidak mau?"
"Iyaa Lee Jihoon"
"Ya sudah"ujar Jihoon dan melanjutkan makannya.
'Uh dia itu seperti anak kecil sekali makan saja belepotan' gumam Soonyoung dalam hati.
"Jihoon?"
"Ya?"jawab Jihoon dengan menolehkan kepalanya.
Kemudian jempol Soonyoung meraih pinggir bibir Jihoon dan mengusapnya.
"Ini enak"ujar Soonyoung setelah mengusap bibir Jihoon dan mengisap jempolnya. Jihoon yang mendengarnya mukanya berubah menjadi merah seperti tomat.
.
.
.
"Soonyoungie, aku lelah. Gendong?"
"Kau ini, baiklah naik ke punggungku"
Jihoon terkikik geli dan naik ke punggung Soonyoung.
"Jihoon, kau berat sekali"
"Yak! Aku tidak gendut tau!"ujar Jihoon cemberut.
"Jihoon, kau sepertinya terlalu banyak makan"
"Yak! Soonyoung!"
"Jihoon, kita sudah sampai"
"Cepat sekali, apa kau tadi berlari saat menggendongku?"tanya Jihoon heran.
Soonyoung terkekeh "Yang benar saja, saat kau memintaku untuk menggendongmu sebenarnya kita sudah dekat. Apa kau tidak tau kita lewat jalan pintas?"
"Tidak, aku tidak tau jalan ini. Aku kira masih jauh jadi aku minta gendong."
"Kau harus membayar semua tadi yang aku lakukan padamu"tuntut Soonyoung.
"Iya iya aku akan memasakkan yang enak untukmu"
"Jangan sampai gosong oke?"
"Yak! Yang benar saja aku tidak-"
Kalimat Jihoon terputus ketika bibir Soonyoung menempel pada pipinya. Membuat Jihoon terbeku sesaat kemudian Soonyoung melepaskannya.
"Baiklah, aku masuk dulu" Soonyoung tersenyum kemudian masuk.
"Apa yang ia lakukan tadi?" Jihoon tersadar dan memegang pipinya.
"Yak! Soonyoung! Kau akan mendapatkan akibatnya!"
Soonyoung yang mendengarnya di dalam kamar hanya terkekeh geli.
.
.
.
Saat ini Jihoon sedang memasak makanan yang telah ia janjikan tadi pada Soonyoung.
"Kau masih marah, eoh?"
Jihoon memilih diam fokus pada masakannya. Diam diam Soonyoung dari belakang memeluk Jihoon.
"Yak! Kau ini! Kita ini tidak ada hubungan apa apa jadi jangan memelukku sembarangan!"ujar Jihoon sambil berusaha melepaskan pelukannya. Namun, sia sia saja karena jelas Soonyoung lebih kuat darinya. Kini kepala Soonyoung berada di bahu Jihoon.
"Jadi, apa kau ingin aku menjadikan kau pacarku?"tanya Soonyoung dengan tersenyum smirk. Jihoon yang mendengarnya menunduk malu.
"Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang"ujar Soonyoung yang membuat Jihoon mengernyitkan dahinya.
"Jihoon, apa kau masih lama memasaknya?"
"Aku tidak akan lama jika kau tidak memelukku seperti ini"jawab Jihoon ketus.
"Baiklah"ujar Soonyoung dengan mengusak kepala Jihoon.
Kemudian Soonyoung duduk di meja makan sambil memerhatikan Jihoon yang masih sibuk dengan masakannya.
Beberapa menit kemudian makanan pun telah matang dan mereka sudah berada di meja makan Jihoon duduk berseberangan dengan Soonyoung.
"Wah, Jihoon kau memang jago memasak!"ujar Soonyoung dengan mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
"Gomawo atas pujiannya. Kalau begitu habiskan makananmu lalu kita pergi tidur."
"Ne"
.
.
.
.
"Jihoonie, ireonaa..."
"Eung..."erang Jihoon kemudian ia berbalik dan tidur kembali.
"Jihoonie, ireona..."ujar Soonyoung dengan menggoyang goyangkan badan Jihoon.
"Aish... anak ini susah sekali di bangunkan, Aha! Aku ada ide"
Kemudian Soonyoung pergi keluar kamar dan kembali lagi dengan membawa gelas berisi air. Lalu, ia menyiramkan air tersebut ke muka Jihoon dengan perlahan agar kasurnya tidak terlalu basah.
"Wuahh... Soonyoung kau tega sekali!"ujar Jihoon ketika matanya terbuka melihat Soonyoung yang tertawa.
"Habis kau susah sekali dibangunkan jadi aku siram. Setelah ini kau mandi dan segera makan" perintah Soonyoung.
Kemudian Jihoon pun menurutinya dan pergi berangkat sekolah.
'Dia meninggalkanku?'gumam Jihoon. Kemudian ia membuka pintu depan rumahnya.
"Kau lama sekali Jihoonie. Apa kau habis luluran? Lama sekali"ujar Soonyoung.
"Yak! Kau kira aku ini perempuan?!"
"Lagian kenapa lama sekali, Yak! Kenapa meninggalkanku?"
"Kau kebanyakan ngomong lebih baik aku jalan duluan"
Soonyoung hanya menggelengkan kepalanya kemudian menyusul Jihoon yang sudah ada di depannya.
.
.
.
.
.
"Soonyoungie, besok adikku akan pulang"
"Lalu?"
"Yaa aku tidak menginap lagi di rumahmu"
"Kenapa?"
"Karena ada adikku di rumah, Bodoh!"
Soonyoung terkikik geli karena Jihoon kesal atas pertanyaan pertanyaannya.
"Baiklah"
Kemudian Soonyoung pergi meninggalkan Jihoon yang sedang menonton tv. Tiba tiba lampu mati. Dep!
"Soonyoung! Jangan mengerjaiku!"
Tidak ada jawaban.
"Soonyoung! Nyalakan kembali lampunya!"
Kembali tidak ada jawaban dari Soonyoung.
"Soonyoung?"
"Kau dimana?"
"Whaaa...!"
"Yak kau ini membuatku kaget saja. Kau hiks... kau membuatku takut hiks... hiks..."
"Uljima Jihoonie, mian membuatmu takut aku hanya bercanda"ujar Soonyoung dengan perasaan bersalah. Ia lalu menyalakan lampunya kembali dan memeluk Jihoon.
"Uljima Jihoonie, maafkan aku"
Jihoon menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Baiklah kita tidur sekarang"
"Tapi kau jangan tinggalkan aku"
"Tidak akan Jihoonie"
Mereka berdua pun tidur dengan keadaan berpelukan. Kemudian Soonyoung mengecup puncak kepala Jihoon.
"Selamat malam Lee Jihoon"
Dan Soonyoung akhirnya menyusul Jihoon ke alam mimpi..
.
.
.
.
.
"Soonyoungie, ireonaa..."
"Jihoonie, ini masih pagi. Lagipula ini kan libur dan tidak biasanya kau bangun sepagi ini."
"Aishh.. dia itu. Ya, ini memang libur. Tapi aku ingin pergi jogging apa kau mau ikut?"tawar Jihoon.
"Aku ikut, 15 menit lagi. Kau ke depan saja dulu" Soonyoung langsung terbangun. Jihoon yang melihatnya hanya terkekeh.
"Baiklah"
Jihoon masih menunggu Soonyoung yang tidak keluar keluar sedari tadi.
"Dia lama sekali, padahal ini sudah lebih dari 15 menit"
"Apa sebaiknya aku tinggal saja?"tanya Jihoon dalam hati.
"Sudah ah aku duluan saja"
Kemudian Jihoon pergi sendiri. Tapi ia melambatkan larinya supaya Soonyoung dapat menyusulnya.
"Jihoonie!"
Jihoon tidak menjawabnya tapi ia malah mempercepat langkahnya. Soonyoung mengeluarkan smirknya. Kemudian lari secepat mungkin menyusul Jihoon.
"Kena kau!"
"Yak! Soonyoung hentikan ini di tempat umum"
Soonyoung terkikik geli saat melihat wajah Jihoon memerah seperti tomat karena malu.
"Lagipula siapa yang menyuruhmu meninggalkan aku?"
"Itu karena kau lama. Jadi aku pergi duluan"
"Lalu, kita akan ke mana?"
"Ke taman. Siapa yang sampai di sana lebih dulu dia yang akan menang dan yang kalah akan menuruti 1 permintaan dari yang menang, bagaimana?"
"Kenapa hanya 1? Bagaimana kalau 3 saja?"
"Tidak ada penolakan"ujar Jihoon tegas.
"Baiklah, kita mulai dari sekarang 1 2 3!"
Mereka berlari secepat mungkin saling membalap satu sama lain. Dan yang terakhir sampai di taman adalah...
Soonyoung.
"Kau curang!"tuduh Jihoon.
"Aku tidak curang"
"Kau tadi menginjak tali sepatuku sehingga aku terjatuh"
"Aku tidak sengaja"
"Kau bohong"
"Tidak aku tidak bohong"
"Bohong!"
"Tidak"
"Bohong!"
Dan terjadilah debat antara Jihoon dan Soonyoung hingga akhirnya Jihoon mengalah. Capek juga debat dengan Soonyoung.
"Sudahlah, lalu apa permintaanmu?"
"Hmmm... apa ya?"Lama Soonyoung berpikir apa yang akan ia minta dari Jihoon.
"Yak! Cepatlah"
"Ah, aku minta kau menuruti semua permintaan dalam satu minggu. Bagaimana?"
"Licik"
"Mau atau tidak, ya sudah kalau begitu waktunya aku tambah menjadi satu bu-"
"Baiklah baiklah aku terima"
Soonyoung tersenyum menunjukkan smirknya.
"Yak! Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
Soonyoung hanya menggelengkan kepalanya.
.
.
TBC
Hai, aku kembali lagi dengan chapter baru. Mian kalo romancenya belum kena mungkin chapter depan bisa dan mungkin ada typo yang bertebaran.
Bye bye sampai ketemu di chapter selanjutnya...
