Sebelumnya ...

Saat pulang sekolah.

"Huhhh!" Sasuke manrik nafas panjang. "Hay, Saku – bagaimana rencana kita ke Kiri?" Tanya Sasuke.

"Ano – itu ya? Semakin cepat semakin baik. Bagaimana kalau besok?" Ucap Sakura.

"Besok? OK. Siapa takut – graveyard! Kami datang!" Teriak Sasuke yang diikuti tawa Sakura yang membludak.

Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika mendapati Pein yang tengah berdiri tegap di hadapan mereka berdua dengan tatapan super duper menyeramkan.

"Sakura!" Teriak Pein.

'PLAAKKK!' Telak Pein menampar Sakura.

"Pein-nii?" Sakura terkejut atas perilaku yang didapatnya dari anikinya itu.

Autor : Momomiya Hoshino Utai

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : OOC, Romance, dsb.

Pairing : Bla~bla~bla~bla ...

A/N : Saya senang sekali dapat kesan positif dari para readers – terima kasih banyak *Membungkukkan badan dalem2 ampe encok*. Sepertinya saya harus lebih semangat menggarap fict ini ... ^_^

"Bodoh! Kenapa kau buang obatmu! Apa yang kau pikirkan Sakura!" Teriak Pein pada Sakura.

Sakura hanya tersenyum meringis sambil memegang pipinya yang kini merah. "Pein-nii bicara apa? obat apa? aku kan tidak sakit apa-apa, kenapa aku harus minum obat?" Ucap Sakura disertai jatuhnya bulir-bulir bening dari ujung-ujung matanya.

"Bodoh! Kau mau berbohong Sakura!" Umpat Pein.

"Pein-nii hentikan!" Teriak Sakura, kini nada suaranya jauh lebih tinggi. "Sasuke, aku pulang duluan. Sampai bertemu besok – aku harap." Ucap Sakura dan berjalan menarik tangan Pein menjauhi Sasuke.

Apa yang terjadi? 'aku harap'? apa maksudnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Obat? Apakah Sakura sakit? Pikir Sasuke kini kacau akibat kejadian tadi.

#Selamanya Bersama, Right?#

"Pein-nii, aku mohon – jangan bicarakan tentang hal 'itu' di depan Sasuke." Ucap Sakura menunduk dan agak terisak.

"Kenapa? Kau mencintainya?" Ucap Pein dengan nada sarkastik.

"Entahlah – tapi ia berbeda." Ucap Sakura.

"Kau dulu juga mengatakan hal yang sama tentang Gaara! Tapi buktinya? Semua laki-laki itu sama saja Sakura!" Bentak Pein.

"Aku tak perduli!" Teriak Sakura tak kalah nyaring.

"Kenapa kau tidak meminum obatmu? Kenapa!" Tanya Pein dengan kasar.

"Percumah! Obat itu hanya bisa menghambat penyebaran penyakit ini – bukan menyembuhkanku." Jelas Sakura. "Toh – aku akan mati juga." Lanjutnya lagi berusaha tersenyum. Pein langsung memeluk otootonya yang paling bontot itu.

"Berjanjilah padaku, jangan lupa minum obatmu. Harus diminum, jangan dibuang lagi." Ucap Pein lirih.

"Aku –"

"Berjanjilah Sakura." Tegasnya dan semakin erat memeluk Sakura.

"Hn. Aku – aku berjanji. Maaf." Ucap Sakura membenamkan wajahnya di dada bidang anikinya tercinta.

#Selamanya Bersama, Right?#

Malam hari di kediaman Haruno.

"Sakura! Liburan musim panas ini kau harus ke tempat Tsunade-baachan. Kau harus kemo, OK?" Ucap Sasori sambil tersenyum.

"Tapi – aku harus ke makam kaasan dan toosan besok." Ucap Sakura.

"Urungkan niatmu!" Bentak Pein.

Sakura hanya diam. "Sakura, hidupmu jauh lebih penting." Ucap Sasori lembut. Diantara Sasori dan Pein, memang Sasori lah yang paling bisa mengontrol emosi, beda jauh dengan Pein yang kelewat galak. Sasori jauh lebih tenang dan ramah, lebih bisa memfokuskan masalah – beda dengan Pein yang gegabah.

"Aku takut – kalau musim panas tahun ini adalah musim panas terakhirku. Musim panas selama ini aku selalu ke makam kaasan dan toosan." Ucap Sakura lirih.

"Kalau begitu, aku ikut." Ucap Sasori sambil memeluk Sakura.

"Aku akan pergi dengan Sasuke." Sahut Sakura.

"Apa! Dengan bocah culun itu? Bagaimana bisa dia menjagamu?" Tanya Pein mulai esmosi (dibaca:emosi).

Sakura berjalan pergi menuju kamarnya tanpa memperdulikan kedua anikinya.

"Sasori, hubungi si culun itu. Suruh dia jauhi Sakura." Ucap Pein.

Sasori hanya mengangguk.

*Mode SMS: ON*

From : Sakura

To : Sasuke

"Sasuke, besok harus jadi ya? Aku mohon."

From : Sasuke

To : Sakura

"Beres! Kau siap-siap saja."

From : Sakura

To : Sasuke

"Besok pagi-pagi aku jemput."

From : Sasuke

To : Sakura

"Kenapa harus pagi-pagi?"

From : Sakura

To : Sasuke

"Aku sudah tidak sabar ke makam kaasan dan toosan."

From : Sasuke

To : Sakura

"Baiklah. Sampai bertemu besok. Selamat malam."

From : Sakura

To : Sasuke

" ^_^ "

From : Sasori

To : Sasuke

"Jika Sakura memintamu menemaninya ke Kiri. Aku mohon tolak. Keadaan sedang tidak baik sekarang."

From : Sasuke

To : Sasori

"Tapi aku sudah berjanji akan menemaninya."

From : Sasori

To : Sasuke

"Aku mohon."

From : Sasuke

To : Sasori

"Maaf. Tapi akan aku usahakan."

From : Sasuke

To : Sakura

"Sakura, kalau besok aku tidak bisa menemanimu bagaimana?"

From : Sakura

To : Sasuke

"Aku akan pergi sendiri."

From : Sasuke

To : Sasori

"Aku tidak bisa menolaknya. Kalau aku menolaknya, ia akan pergi ke Kiri sendiri. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

From : Sasori

To : Sasuke

"Kenapa kau begitu khawatir dengan Sakura?"

"... ... ... ... ... ... ... ... ..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"... ... ... ... ... ... ... ... ..."

From : Sasuke

To : Sasori

"Karena ... aku mencintainya."

*Mode SMS: OFF*

"Apa!" Teriak Sasori memcah pemikiran Pein.

"Ada apa?" Tanya Pein bingung.

"Ano – itu – Sasuke tadi mengirimku pesan ini." Ucap Sasori agak bisik-bisik agar Sakura tidak mendengar – lalu ia menyerahkan HPnya pada Pein agar Pein membaca pesan Sasuke.

"Apa! Dasar! Kurang ajar!" Ucap Pein.

'Drrrttt! Drrrttt!' HP Sasori bergetar untuk yang kesekian kalinya.

"Ada pesan! Dari Sasuke." Ucap Sasori.

"Apa katanya?" Tanya Pein penasaran.

From : Sasuke

To : Sasori

"Aku serius dengan Sakura. Aku mohon restui kami. Aku akan menjaga Sakura. Kami akan baik-baik saja besok."

"Bocah itu maunya apa?" Ucap Pein naik darah.

"Entahlah, tapi dari setiap tatapan Sasuke, sepertinya ia benar-benar serius dengan Sakura – kau percaya padaku? Bukankah tebakanku selalu benar? Un?" Ucap Sasori kini yang mengikuti gaya Deidara itu *Ditabok sepatu both sama Sasori*.

"..." Pein diam sejenak, ia tengah berpikir (Jangan ke tengah-tengah! Entar ditabrak truck loh! Ayo! Ke pinggir!).

Sasori benar, kemarin saat Sakura dengan Gaara Sasori sudah memperingatkan, tapi aku tidak percaya – dan akhirnya malah begini. Pikir Pein.

"Baiklah. Serahkan Sakura padanya. Tapi ingatkan, sampai Sakura kenapa-kenapa – dia akan berurusan dengan singa yang kehilangan mangsa." Tukas Pein dan pergi menuju kamarnya.

"Baiklah –" Sahut Sasori bergembiraria. Dia memang sangat setuju kalau Sakura pacaran dengan Sasuke. Karena menurutnya Sasuke anak baik-baik dan dari keluarga Uchiha yang terpandang – dia pasti akan menjaga Sakura sepenuh hatinya.

From : Sasori

To : Sasuke

"Baiklah. Tolong jaga dia ya? Kami merestuimu."

"Hahhh~ Ini sudah malam, aku tidur saja lah." Ucap Sasori dan berjalan gelayutan ke kamarnya.

#Selamanya Bersama, Right?#

Di kediaman Uchiha.

"Sasuke? Kau mau kemana?" Tanya Madara – ojisan Sasuke.

"Itu – ano – aku dan temanku akan ke Ki – Kiri." Jelas Sasuke.

"Apa?" Tiba-tiba suara laki-laki muncul dari balik pintu kamar Sasuke.

"Itachi-nii." Ucap Sasuke agak menunduk.

"Bodooh! Buat apa ke tempat itu lagi? Kau mau cari mati?" Tegas Itachi.

"Sasu-chan –" Panggil Madara.

"Berhenti memanggilku 'Sasu-chan' Madara-jisan." Sela Sasuke.

Madara terkekeh, "Bukankah tempat itu memiliki kenangan tersendiri untukmu? Apa kau yakin kau akan baik-baik saja?" Tanyanya.

"Aku ke sana hanya ingin berkunjung ke makam –" Ucap Sasuke namun terpotong karena Itachi udah keburu nyerobot.

"Kalau kau akan pergi ke Kiri, aku ikut!"

"Itachi-nii! Aku pergi dengan Sakura! Dan aku akan BAIK-BAIK SAJA!" Teriak Sasuke.

"Kau yakin?" Tanya Madara – disahut dengan anggukan pasti oleh Sasuke.

"Kalau begitu tinggalkan nomor telephon yang bisa aku hubungi." Ucap Madara dan pergi meninggalkan kedua bersaudara ini/itu up to you.

"Madara-jisan! Tapi Sasuke –" Ucap Itachi, namun tergantung kata-katanya karena Madara sepertinya tak mau mendengar celotehan Itachi. "Sasuke ... Kau yakin?" Tanya Itachi, kali ini nada bicaranya agak lembut.

"Ya." Sahut Sasuke sambil terus memeriksa barang bawaannya. "Sudahlah Itachi-nii, aku mau istirahat. Kau keluar saja sana." Ucap Sasuke. Itachi hanya mendengus dan akhirnya keluar juga dari kamar Sasuke.

Sasuke merebahkan tubuhnya di tempat tidur king sizenya. Berusaha memejamkan mata – namun sebuah kenangan buruk semasa kecilnya berkeliaran di otaknya.

"Arrrggghhh! Kenapa aku harus mengingat hal itu! Lupakan Sasuke!" Teriaknya sendiri.

#Selamanya Bersama, Right?#

Keesokan harinya ditengah kabut pagi buta, sebuah mobil Jaguar melaju dengan cepat.

Mobil itu berhenti di sebuah kediaman elit, di gerbang rumah itu terlihat sebuah lambang klan yang menempati rumah elit itu – UCHIHA.

Sasuke keluar rumah diiringi Itachi. Madara tidak ada karena masih terlelap.

"Hati-hati ya?" Ucap Itachi. "Aku titip Sasuke." Lanjutnya. Sakura hanya tersenyum.

Seharusnya AKU yang dijaga Sasuke, bukan AKU yang menjaga Sasuke. Pikir Sakura.

#Selamanya Bersama, Right?#

Kurang lebih 7 jam lebih mereka di pesawat menuju ke Kiri. Dan sampailah mereka di pusat kota Kiri.

Aku berharap, makam kaasan dan toosan Sakura tidak jauh. Pikir Sasuke.

"Ano – Sasuke, makam kaasan dan toosan sebenarnya ada di pulau kecil di seberang pantai Kiri." Jelas Sakura.

Sasuke yang mendengar kata 'pantai Kiri' langsung mematung dan terdiam berjuta bahasa. Pan – tai Ki – ri. Ucap Sasuke dalam hati.

Sakura nyengir, "Jadi perjalanan kita masih jauh Sasuke." Ucap Sakura tanpa dosa.

Sasuke menatap Sakura datar. Sakura menyadari tatapan Sasuke.

"Sasuke? Kau tidak apa? kalau kau sudah lelah, kau menginap saja di hotel sekitar sini, biar aku pergi sendiri." Ucap Sakura.

Pergi sendiri? 'Baiklah. Tolong jaga dia ya? Kami merestuimu'. Tiba-tiba SMS Sasori meracuni otaknya. Sasori-senpai sudah menitipkan Sakura padaku, dia sudah mempercayaiku sepenuhnya – masak aku harus menyerah hanya karena masa lalu yang – arrrggghhh! Aku harus terus bersama Sakura. Pikir Sasuke.

#Selamanya Bersama, Right?#

Akhirnya mereka melanjutkan perjalan. Setelah kurang lebih 1 jam 30 menit mereka naik kereta menuju pantai Kiri. Sampailah mereka di sana.

"Sasuke, bagaimana kalau kita beristirahat dulu di villa milik Pein-nii yang tak jauh dari sini?" Ajak Sakura.

"Terserah kau saja." Ucap Sasuke berusaha tersenyum.

Sasuke pikir villa itu ada di sekitar stasiun yang agak jauh dari pantai – tapi Sasuke berpikir lagi – 'villa'? pasti dekat dengan pantai, mana ada orang yang mau membuang uangnya untuk membuat villa di samping stasiun kereta. Itu pasti hal gila.

#Selamanya Bersama, Right?#

Ternyata apa yang dipikirkan Sasuke benar. Kini ia tengah menginjak pasir putih yang lembut dan hangat.

"Pantai Kiri." Ucap Sasuke pelan sambil menerawang ke arah pantai.

"Sasuke! Ayo!" Teriak Sakura yang memanggil Sasuke dan melambai-lambaikan tangan pada Sasuke yang masih termangu menatap pantai. Sakura pun berlari kecil menghampiri Sasuke. "Hay, monyet duit gope', kau baru pertama kali ke pantai ya?" Tanya Sakura dengan nada agak mengejek.

"..." Sasuke diam. Pandangannya kosong.

Sakura agak bingung mengartikan tatapan Sasuke.

"Sasuke?" Panggil Sakura. Sakura langsung menempelkan punggung tangannya pada dahi Sasuke. Sasuke langsung sadar dari lamunannya.

"A – ada apa Sakura?" Tanyanya.

"Hn? Ada apa? seharusnya aku yang bertanya begitu baka." Ucap Sakura. "Sudahlah, ayo kita ke villa." Ajak Sakura – kali ini Sasuke ada di belakang Sakura.

#Selamanya Bersama, Right?#

Jam 08:00 p.m.

"Sasuke?" Panggil Sakura saat di depan pintu kamar Sasuke – dan setelah membukanya tanpa permisi. "Hn?" Sakura heran karena tak didapatinya sosok monyet duit gope' itu.

Sakura pun berinisiatif ke tepi pantai mencari Sasuke, ternyata benar – Sasuke di sana. Tunggu, apa yang sedang dilakukan Sasuke.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju pantai – tatapannya kosong ke arah laut – ia berjalan menuju tengah laut.

Dia bisa mati! Pikir Sakura dan berlari mengejar Sasuke, sayangnya kakinya terpeleset saat menuruni karang.

BYURRRR!

"Kyyyaaa!" Sakura berteriak. Sasuke yang mendengar teriakan Sakura langsung menghampirinya dan memeluk Sakura.

BRUSSSHHHH!

Mereka muncul ke permukaan.

"Bodoh! Apa yang kau lakukan?" Tanya Sasuke khawatir dengan keadaan Sakura.

"Kau yang baka! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau ke tengah laut? Huh?" Tanya Sakura balik.

"Kalau kau mati tenggelam bagaimana?" Tanya Sasuke lagi.

"Kalau kau mati tenggelam bagaimana?" Tanya Sakura memutarbalikkan facta.

"Arrrggghhh! Sudahlah! Kita kembali ke villa." Ucap Sasuke, ia menggendong Sakura a la bridal style.

#Selamanya Bersama, Right?#

Di villa.

"Sasuke..." Panggil Sakura yang kini sudah berdiri tegap di depan pintu kamarnya. Ia baru sadar, betapa gagahnya Sasuke dengan kaos oblong dan jeans pendek – apalagi saat ini kaos oblong itu basah dan memperlihatkan kotak-kotak di bagian perut dan dada Sasuke.

"Hn." Sahut Sasuke yang sudah akan beranjak menuju kamarnya.

"Kau bagus begitu –" Ucap Sakura tanpa sadar. Ia terlalu terpesona dengan obsidian sang Uchiha.

Sasuke membalikkan badannya, memperlihatkan kembali lekuk-lekuk tubuh yang super gagah itu. "Apa maksudmu?" Tanyanya.

"Tanpa kacamata dan pakaian yang super culun itu – kau terlihat gagah." Ucap Sakura menatap Sasuke dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Sasuke hanya menyeringai dan berlalu.

"Sasuke..." Panggil Sakura lagi.

"Kalau kau hanya ingin membicarakan tubuhku – itu tak penting." Sahut Sasuke.

Sakura agak kesal dengan ucapan dingin Sasuke – Dia pikir dia siapa? Huh?

"Ano – itu – kenapa kau jadi ke tengah laut Sasuke? Kau tidak bermaksud ingin bunuh diri kan?" Tanya Sakura.

"Gantilah pakaianmu yang basah – kau akan masuk angin jika tidak menggantinya." Ucap Sasuke dan melanjutkan perjalanannya ke kamarnya.

Sasuke baka! Apa yang dia pikirkan!

#Selamanya Bersama, Right?#

Di dalam kamar Sakura.

BRUKK!

Sakura merebahkan dirinya di atas tempat tidur – ia baru saja mandi dan mengganti pakaiannya.

"Sasuke ... Sasuke ... Sasuke ... Arrggg! Kenapa hanya ada Sasuke dalam pikiranku!" Teriak Sakura sambil mengacak-ngacak rambutnya. Lalu ia terdiam – ditatapnya langit malam dari jendela kamarnya itu. "Sebenarnya ada apa dengan Sasuke? Sejak awal dia ku beri tahu akan ke pantai Kiri, reaksinya sudah berubah. Apalagi saat kami menginjakkan kaki di sini. Perilakunya jadi berubah drastic. Apa yang terjadi sebenarnya?" Sakura berpikir keras – hingga akhirnya ia tertidur.

#Selamanya Bersama, Right?#

Di dalam kamar Sasuke.

Sasuke duduk di ujung tempat tidurnya.

Bodoh! Gara-gara masa lalu itu, aku jadi melibatkan Sakura ke dalam bahaya. Apa yang aku pikirkan? Tidak sepantasnya Sakura ikut dalam tingkah bahayaku ini – mungkin aku memang harus menjauhi Sakura... menjauhi Sakura... Apa bisa? Pikir Sasuke.

Perlahan ia merebahkan dirinya di tempat tidur. Tanpa sengaja ia menoleh ke luar jendela. Dilihatnya bintang dan bulan yang sedang berdampingan. Mata Sasuke membulat – semua masa lalunya terputar ulang di pikirannya bagai déjà vu.

"Arrrggghhh!" Sasuke meringis kesakitan sambil mencengkram erat kepalanya yang terasa sangat sakit. "Tidak! Bukan aku!" Teriak Sasuke. "Ibu! Di dalam sana – tersenyum." Ucapnya terisak – ia memejamkan matanya menahan sebuah derita seumur hidup yang beberapa tahun lau sempat hilang, namun kini kembali lagi menghantuinya.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

A/N : Terima kasih buat yang sudah review di chap sebelumnya.

Pink Uchiha : Ya, terima kasih banyak atas koreksinya. ^_^

Heehee ... Ya, alurnya kecepetan ya? Aku juga berpikir begitu *Plak!*. Mungkin di chapter ini dan selanjutnya akan saya perbaiki ... keep read, yea? (Sok inggris ya? ^_^).

QRen : Siappp bos! ^_^

Hayayay! Apa yang sebenarnya terjadi pada Sasuke? Ayo! Tunggu chap selanjutnya ya?

Selanjutnya ...

"Ibu! Lihat! Bintangnya banyak sekali."

Tidak! Ibu! – ibu mengejarku ke dalam laut menyelamatkan ku. Aku ingat saat itu – ibu mendekapku dan tersenyum hangat, senyum terakhir yang aku lihat.

"Selamat pagi tuan." Sapa orang yang ada di ruang makan itu aka pelayan.

"Eh? Pagi. Kau siapa?" Tanya Sasuke.

"Saya Sai, pelayan keluarga Haruno."

"Aku akan menceritakan semuanya setelah kita pulang dari jiarah."

Akhir Kata ...

REVIEW

.

P

.

L

.

E

.

A

.

S

.

E

.

.

.