Akhirnya fic ini jadi. Gomenasai, Minna-san! Dua hari ini sibuk banget! Saia kemarin buat sampai jam 12 malam*ngga nanya*. Saia sempat berkunjung ke berberapa fic multichapter, ternyata fic saia ini banyak kekurangannya ya. Semoga di chapter kali ini kekurangannya sedikit.

Sekarang biarkan saya membalas review anda readers! Yang punya akun sudah saia kirim lewat PM. Yang tidak login atau tidak punya akun dibalas disini.

Micon

Makasih RnRnya! Pendek? Padahal sudah 6 halaman Komputer lho! Maaf tidak bisa update kilat. Sudah Update!

Akuma No Kitsune

Arigatou RnRnya! Beneran nih mau aktif review? Awas kalo ga! (Kitsu : Yuki ngancam. Ga usah baca lagi. Jaa!) *pundung di selokan* di chapter ini siswi sudah bertindak. Sayangnya sekarang sudah tidak K+ lagi. Sudah Update!

Ax

Alurnya kecepetan? Saya memang tidak pintar masalah alur dan deskripsi. Tolong dimaklumi. Terima kasih RnRnya! Ceritanya bagus? Sudah saya duga! Ha ha ha #boom. Sudah Update!

Reviewer

Makasih RnRnya. Gomen lama update! Sekarang sudah update!

Echa Bochi

Makasih RnRnya! Sudah Update!

Ochi

Arigatou RnRnya! Panggil saja NaruSasu! Sudah Update!

Chibi-Rhoyukina

Arigatou RnRnya! Masih lanjut sekarang sudah update!

Han Hye Bum

Romantis? Masa? Makasih RnRnya! Chapter-3 datang!

TRUST ME

3. Trust Me!

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Trust Me © Yuka Momoyuki

~Ichi no 'UchiZuNa'

Pairing : NaruSasu

Rated : T

Genre : Romance, Friendship

Summary :

Naruto menyatakan perasaannya pada Sasuke. Apa Sasuke akan menerima perasaan itu? Tanpa memikirkan resiko yang akan dirasa Naruto nantinya. Resiko kelam yang selalu ia rasa.

Warning :

OOC, typo (s), Yaoi, Boys love, multichapter yang lama berlanjut

Hope you like it!

~~ Chapter 2 - My True Love

"Sasuke, aku tak bisa menjadi Sahabatmu. Karna…. Karna aku mencintaimu sebagai seseorang yang berarti di hidupku. Aku ingin menjadi lebih dari sekedar Sahabat. Aku tak sanggup melihatmu sebagai teman. Aku ingin memilikimu! 'Suke, Aishiteru!"

~Chapter 3~

^Trust Me!^

Sasuke terdiam. Ia tak mengindahkan pernyataan sekaligus pertanyaan Naruto. Dirinya tak percaya dengan apa yang sudah diucapkan teman baiknya itu. Ruang kesehatan menjadi saksi terjadinya pertemanan antara ia dan Naruto, dulu dan kini ruangan itu kembali menjadi saksi hubungan mereka yang semakin terkikis, ulah salah satu pelaku yang menyimpan rasa yang istimewa. Rasa istimewa yang mampu menghancurkan pertemanan yang sangat diidamkan oleh seorang Sasuke. Naruto tetap mendekap Sasuke erat. Pria berambut matahari itu tak memperdulikan Sasuke yang masih terdiam tak bergerak ataupun berbicara. Dengan sekuat tenaga Sasuke mendorong Naruto menjauh. Entah mengapa hatinya bergemuruh. Dan ini pertama kalinya seorang Sasuke Uchiha merasakan dadanya sesak. Lebih baik ia tak memiliki teman daripada ia harus merasakan perasaan yang mampu membuat hatinya teriris. Cinta memang rumit. Apa? Cinta? Apa yang di pikirkannya sekarang? Kenapa ia memikirkan masalah cinta? Apa sekarang seorang Sasuke menjadi pecinta sesama jenis? Ia tahu. Hatinya tak mampu menerima orang lain selain Naruto. Tapi, apa itu pantas? Jika ia memilih menjadi yang spesial untuk Naruto. Ia mengerti resiko apa yang harus ia tanggung. Hubungannya dengan Naruto seketika akan kandas saat ia harus menghadapi resiko itu. Untuk saat ini orang repenting dalam hidupnya adalah Naruto. Ia takkan membuat persahabatannya dengan Naruto putus begitu saja. Memang lebih baik ia melupakan perasaan ini. Perasaan yang mampu menyesakkan dadanya. Karena ia juga mencintai Naruto.

"Gomenne, aku tak bisa Naruto. Aku tak mau persahabatan kita putus karna perasaan itu dan aku tidak bisa mencintai orang yang ber-gender sama sepertiku," Sasuke menunduk. Ia tak bisa menatap mata biru yang selalu menenangkan hatinya. Mata biru yang membawanya terbang ke dunia yang selalu mententramkan jiwanya. Ia ingin menangis. Hatinya tersayat pisau tajam saat kata-kata menyakitkan itu mengalir lembut dari bibirnya. Kenapa ia menolak Naruto, sedangkan hatinya selalu menjerit nama Naruto? Ia rindu senyum Naruto, ia suka kebodohan Naruto, ia cinta iris biru muda Naruto dan ia selalu ingin didekap Naruto. Merasakan kehangatan Naruto yang ditujukan hanya untuknya. Naruto tak bergeming kembali. Hatinya tak mampu menerima perkataan Sasuke. Ia tahu Sasuke juga mencintainya. Dari tatapan Sasuke padanyalah ia mengerti rasa haus seorang Uchiha akan cinta. Sasuke tak bisa hidup tanpa Naruto begitu juga Naruto. Naruto ingin memiliki Sasuke seutuhnya dan ia akan melakukan apapun untuk itu. Walau ia harus dibenci.

"Jadi, begitu. Apa kau tak mencintaiku, Sasuke? Jangan membohongi dirimu sendiri. Aku tahu, dadamu sesak kan? Kau tak bisa menolakku disaat kamu mencintaiku. Aku mohon kau jujur, Sasuke!" Naruto mendongakkan kepala Sasuke agar bertemu Matanya. Sasuke dengan cepat berpaling. Ia takut jika mata hitamnya bersatu dengan langit itu, hatinya pasti terjerat tali cinta Naruto. Mata hitamnya kini menatap jendela. Dari jendela itu ia melihat seorang pria berambut hitam sedang menumpukan lututnya di atas tanah dan seorang gadis pirang berdiri di hadapannya. Pria berambut hitam itu sdang menyatakan perasaannya. Gadis yang berdiri di hadaapannya membantu pria itu berdiri dan memeluknya. Terlihat gadis itu bahagia. Sasuke bisa melihat gadis itu mengucapkan, "Arigatou". Bukankah semua yang terlihat oleh matanya harusnya terjadi di kehidupannya. Ia mencintai Naruto begitu juga Naruto yang mencintainya dengan tulus. Sekarang ia benar-benar dilanda dilema. Hati dan pikirannya berseteru. Hatinya meminta Naruto dan pikirannya meminta resiko. Titik air bening kini kembali membasahi pipi Naruto. Ia tak mampu menolak Sasuke. lebih baik ia menangis karna matanya terpejam, tak mampu menatap mata Naruto. Naruto terhenyak. Sasuke kembali menangis. Ingin rasanya ia mendekap Sasuke tapi itu akan membuat Sasuke semakin rapuh. Ia ingin teman baiknya tenang. Naruto berjalan menuju pintu ruang kesehatan. Lebih baik ia pergi dari sisi Sasuke daripada harus menyakiti pria yang dicintainya. Ketika kenop pintu tersentuh oleh tangannya, ia merasakan kehangatan menjalar pinggang rampingnya. Tangan putih susu melingkar di badannya. Punggungnya basah akibat tangis pria yang mendekapnya. Sasuke Uchiha kini memeluk Naruto Uzumaki dari belakang. Ia tak ingin pria yang dicintainya pergi begitu saja.

"Naruto, jangan pergi! Aku jujur. Aku memang mencintaimu. Jadi, jangan pergi. Aku tak bisa hidup tanpamu. Aku…aku tak ingin kau meninggalkanku karena rasa ini. Aku…" dekapan Sasuke terlepas saat Naruto membalikkan badannya. Tangan berlapis kulit coklat Naruto, menyeka air mata yang mengalir di pipi putih bersih Sasuke.

"Aku tak akan meninggalkanmu karna perasaan ini. Aku akan selalu menjagamu. Hatiku milikmu bagitu juga sebaliknya. Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Sasuke. aku berjanji," Naruto mengulurkan jari terkecil yang ia miliki di tangannya. Sasuke mengulum senyum kecil. Jari kelingkinganya bergerak untuk ditautkan dengan jari Naruto. Mengikat janji antara mereka.

"Janji," mereka tertawa kecil. Kebahagiaan kembali menyelimuti mereka. Naruto mengelus rambut hitam Sasuke. Tangannya berjalan menyusuri wajah tampan tanpa cacat milik Sasuke. Pergerakannya berhenti di belahan bibir Sasuke. Entah mengapa Naruto ingin menyentuh bibir merah muda itu dengan bibirnya. Sasuke menjauhkan jemari Naruto dari bibirnya. Bukan karna ia menolak jari Naruto berada di bibirnya. Bahkan jari Naruto mampu mendesirkan kulit bibirnya. Tapi karna berikutnya bibirnya dan Naruto saling bersentuhan. Hangat. Itu perasaan yang mampu digambarkannya sekarang. Lengan Sang Raven kini bertautan dengan pemilik hatinya. Kehangatan yang tercipta antara mereka membuat benak mereka melayang dalam dunia fana. Naruto tak membiarkan celah menghalangi kehangatan yang ia berikan untuk Sasuke. Setelah sekian lama benak mereka terbuai oleh kenikmatan antara dua insan yang saling mencintai, kini hanya mata yang berbicara. Naruto menatapnya dengan tulus. Tangannya menyentuh helaian rambut yang terjatuh menutupi tepi mata kekasihnya. Tanpa melepas dekapannya, Naruto bebisik di dekat telinga transparan Sasuke.

"Bolehkah aku menjagamu? Aku akan menerima semua resikonya." kali ini Naruto benar-benar serius akan perasaannya. Selama ini ia tak pernah mencintai seseorang yang bahkan baru sekejap ditemuinya. Bahkan ia rela mengorbankan apapun demi pria yang kini terperangkap di dalam mata birunya. Tuhanlah yang membuatnya merasakan perasaan ini. Dan ia berjanji akan selalu menjaganya.

Sasuke terperangah mendengar pernyataan Naruto. Bibirnya serasa lumpuh tak mampu menarik hipotesis yang telah dibuat oleh pria yang memeluknya itu. Bukan hanya pernyataan cinta tapi lebih seperti sebuah ajakan. Ajakan untuk menjalin hubungan yang serius dan takkan pernah kandas. Sasuke ingin merasakan itu semua tapi ia tak ingin Naruto dibenci hanya karna bersama manusia sepertinya. Naruto yang tak kunjung mendapat jawaban kini kembali mengulang perkataannya.

"Sudah kubilang. Aku akan menerima semua resikonya. Kamu percaya padaku kan? Can you trust me?" tanya Naruto meyakinkan Sasuke akan pilihannya yang siap menerima segala resiko yang pastinya akan ia tanggung. Sasuke masih dalam ambang keraguan namun di dalam hatinya ia membutuhkan sosok Naruto yang selalu setia menemaninya. Sasuke memeluk tubuh Naruto yang cukup terbentuk oleh otot itu.

"Naruto, kau terlalu melebihkan. Tentu kau boleh dan jangan pernah bilang aku tidak mempercayaimu. I'll always trust you." Sasuke memukul perut Naruto pelan. Mencoba mencari sesuatu yang bisa membuatnya lepas dari keseriusan ini. Naruto menyentuh perutnya dan berpura-pura kesakitan. Lengan sebelah kanannya ia lingkarkan di bahu Sasuke. Dikecupnya puncak kepala Sasuke yang ditutupi helaian rambut berwarna hitam pekat.

"Arigatou," ujar Naruto. Sasuke sedikit mendongak untuk menatap Naruto.

"Aku yang seharusnya mengatakan itu. Arigatou!" digenggamnya tangan itu bagaikan permata. Permata yang sangat berharga bahkan lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

"Ya, iya… Ayo kembali ke kelas?" Naruto menarik pergelangan tangan Sasuke mengajaknya keluar dari tempat beraroma obat itu.

"Hn," Sasuke kembali memasang wajah stoicnya. Mereka melangkah menuju kelas 10 yang terletak di lantai 2 salah satu gedung Konoha Gakuen. Konoha Gakuen yang memiliki tiga gedung utama dikelilingi halaman yang cukup luas. Di tengah-tengah gedung terdapat beberapa lapangan olahraga. Konoha Gakuen termasuk salah satu sekolah elit di kawasan Negara Hi. Bukan hanya sekolah elit dan mewah, sekolah ini juga termasuk sekolah berprestasi tinggi. Banyak olimpiade mampu diraih oleh sekolah ini. Karena itu banyak siswa berprestasi yang dapat bersekolah di sekolah ini melalui beasiswa. Seperti halnya Naruto. Naruto dan Sasuke berjalan dengan santai menuju kelas mereka tanpa mereka sadari tempat yang mereka tuju adalah tempat terbahaya untuk mereka saat ini.

=3=3=3=3=3=

"Tenten, Bagaimana? Mereka sudah dekat?" tanya seorang gadis berambut pirang panjang diikat tinggi iris mata abu-abunya menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya. Sepertinya mereka sedang mengawasi sesuatu.

"Hm, sudah." gadis yang bernama Tenten itu berbalik menghadap gadis berambut pirang. Gadis yang bernama Ino yang sedang ditatapnya menyeringai licik.

"Sai-kun, sebenarnya apa rencanamu?" tanya Ino pada seorang pria berparas seperti Sasuke. Bermata dan berambut hitam. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Senyumannya. Seringaian yang selalu tersembunyi di balik senyum palsunya. Sai, pria yang telah membuat Uchiha bungsu terluka.

"Huh, tentu saja memberi pelajaran pada Uchiha sombong itu. Beraninya dia menyakiti Sakura-ku dan juga dia sudah berteman dengan Naruto. Kita tidak boleh membiarkan Naruto menjadi teman Sasuke. Biar tahu rasa dia!" Seringaian Ino muncul mendengar perkataan Sai.

"Aku juga harus memberi pelajaran padanya. Seenaknya saja ia menolakku." Ujar Ino angkuh dengan tangan dilipat di depan dada. Seorang gadis berambut indogo dan bermata lavender mendekatinya.

"Ino-san, se..se..sebaikknya ja..jangan melakukan ini. Ka..kasihan Naru…Naruto-kun." Gadis itu berbicara dengan gugup. Mata lavendernya menatap lantai keramik, dua jari kanan dan kirinya didekatkan untuk mengusir kegugupannya.

"Hinata-chan, Naruto sudah membela yang jahat jadi kita juga harus memberi pelajaran padanya. Kami hanya memperingatinya saja. Jadi, kamu tak usah takut. Tak akan terjadi apa-apa pada Naruto," Hinata tetap cemas akan perkataan Ino. Ia takut terjadi sesuatu pada Naruto yang ia sukai, "Ta…tapi.."

"Hinata-chan, percayalah pada kami." Sai ikut meyakinkan Hinata agar tetap berada di kubu mereka tanpa membela Sasuke dan Naruto.

"Ba…baiklah." Hinata berjalan ke sudut kelas. Tak ingin menyaksikan Naruto yang disukainya terlibat pertengkaran. Gadis berambut seperti bunga Sakura di musim semi berjalan mendekati Hinata. Ditatapnya Hinata dengan mata hijau toscanya. Tatapan yang berarti. Seolah mengatakan sesuatu. Pria berambut kuning menyeruak dari balik pintu. Beberapa teman Sai segera menarik Naruto dan menjauhkannya dari Sasuke.

"Kalian mau apa, hah! Kenapa kalian melakukan ini?" Naruto berusaha lepas dari cengkraman tangan pria berambut coklat panjang sebahu. Matanya menyerupai mata Hinata.

"Kau tenang saja, Naruto-kun. Sasuke hanya perlu diberi sedikit pelajaran." pria itu berbicara tepat ditelinga kiri Naruto.

"Tapi apa, Neji?" tanya Naruto pada pria yang sekarang telah melepas cengkramannya.

"Lihat saja." Naruto terdiam. Bukan karena ia tak ingin membela Sasuke-nya. Ada saatnya ia akan membela Sasuke. Sai melangkah menuju Sasuke. didongakkannya kepala Sasuke agar mata mereka bertemu.

"Sasuke. Ada hubungan apa kamu dengan Naruto? Ternyata kamu seorang gay, ya? Pantas banyak gadis yang kamu tolak. Tak sepantasnya Sakura-chan jatuh cinta pada wajah burukmu itu. Cih,… BRUUGH," Naruto memberikan sebuah pukulan telak di bawah pipi kanan Sai.

"Kaulah yang tak pantas Sai! Kenapa kalian melakukan semua ini pada Sasuke. Apa salahnya, hah?" tanya Naruto pada seisi kelas. Sai mengelus pipinya yang tadi dipukul Naruto.

"Dia terlalu sombong, Naruto." seorang pria berambut coklat dan memiliki sepasang tattoo segitiga terbalik dipipinya, angkat suara.

"Kiba benar, Naruto. Sejak pertama ia sekolah disini, sikapnya bak pangeran yang harus dipuja. Angkuh." Neji ikut angkat suara.

"Tapi, kalian tak tahu bagaimana perasaan Sasuke. Kalian semua sudah salah paham! Dia tak seperti yang ada di pikiran kalian!" Naruto kembali membela Sasuke. Para penghuni kelas itu hanya menatap Naruto heran.

"Kenapa kamu membelanya, Naruto," tanya Sai. Naruto kembali melangkah mendekati Sai. Ia menatap Sai dalam. Sai dapat melihat sebuah keyakinan di dalam mata iris biru muda milik Naruto.

"Lihat dia," tunjuk Naruto kearah Sasuke. "Dia sama sekali tak ingin menyakiti kalian. Parasnya saja yang terlihat sombong tapi kalian tak pernah melihat hatinya. Biarkan dia berbaur dengan kalian. Ia kesepian ia ingin berteman. Tapi caranya berbeda. Ia tak seperti orang biasa yang mudah beradaptasi. Kita harus bisa memahaminya. Tak sepantasnya kita mengucilkannya." Naruto sangat yakin akan perkataannya. Ia percaya apa yang telah terucap dari bibirnya benar-benar menyiratkan seorang Uchiha yang sekarang menjadi kekasihnya. "dan jika ia gay, kenapa? Aku mencintainya dan ia juga. Apa itu salah?" tambah Naruto. Kembali seisi kelas itu dibuat tercengang oleh Naruto. Sai terlihat berpikir keras akan perkataan Naruto tadi. Memang tak sepantasnya ia menindas Sasuke. Ia juga tidak terlalu mengenal Sasuke. Apa yang dipikirkan Sai juga ada di benak seluruh penghuni kelas yang menyaksikan kejadian itu.

"Kau benar, Naruto. Kami salah telah berbuat jahat pada Sasuke. Benar kan teman-teman?" tanya Sai. "Sai, benar. Sasuke tak salah apa pun. Kita harus minta maaf padanya." Neji meyakinkan seisi kelas. Semua mata tertuju pada Sasuke. semua teman-teman berjalan menuju tempat Sasuke berdiri. Jemari terulur untuknya. kata maaf mulai terucap dari bibir-bibir yang semula selalu menghinanya.

"Maafkan kami, Sasuke." semua membungkukkan badan berharap Sasuke memaafkan mereka.

"Tentu, aku pasti memaafkan kalian." Sasuke membalas membungkukkan badannya. Mata hitamnya dihiasi air bening membentuk kaca-kaca yang terpantul cahaya matahari. Naruto merangkul pundak Sasuke dan ia berbisik pelan di telinga alabaster milik kekasihnya.

"Sudah kubilang semua akan baik-baik saja," Naruto mengulum senyum. Sasuke menatap kekasihnya dengan tatapan seolah berkata terima kasih.

"Teman-teman, ayo kita ke ichiraku Ramen! Aku yang traktir!" ajak seorang pria berambut bop hitam dan berbulu mata panjang.

"Ayo!" sahut seisi kelas diikuti gelak tawa. Sepasang kekasih yang baru saja resmi itu berharap kebahagiaan akan selalu mengisi hari-hari mereka. siang itu cuaca cerah dengan awan putih meliuk-liuk di langit biru muda. Hari yang indah untuk perasaan yang indah juga. Ya, untuk saat ini.

~Ditempat lain~

"Deidara-san, tolong kau urusi beberapa berkas ini," seorang pria berambut hitam panjang menutupi telinganya sedang memberikan berkas-berkas bisnis pada seorang pria berambut pirang terikat dihadapannya. Ia tak menoleh sedikit pun menuju lelaki yang diajaknya bicara. "Aku ingin menjemput Sasuke. Bagaimana keadaannya di sekolah, aku ingin tahu." Tambah lelaki itu. "Baik, tuan. Mobil sudah siap di depan." lelaki cantik yang diajaknya berbicara itu menjawab dengan sangat formal dan sopan mengingat yang diajaknya berbicara bukan sembarang orang melainkan atasannya. "Baiklah, aku pergi dulu," ujar lelaki itu. Ia melangkah menuju tempat yang mampu merusak kebahagiaan seorang Sasuke.

~ TO BE CONTINUED…~

Author's Note :

Maafkan fic jelek nan pendek ini …. OOC banget pula!

Maaf jika ada yang tak berkenan di hati.

Akhir kata,

MIND TO REVIEW?