Chapter 3: Rencana
Tittle: Kepuasan
Author: Hime Putri Akira137
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Crime, Romance, Slice of Life, Family, Drama.
Pairing: NaruSasu, BoruMenma, ItaKyuu slight NaruSaku.
Rate: M
Warning: Yaoi, Slash, BL, ada adegan kekerasan yang berangsur, Lemon Scene, Hardcore, bahasa yang vulgar, EYD, OC, Incest.
Summary: Menma tidak pernah mengenal siapa ibunya, yang merawatnya dari kecil adalah ayahnya. Namun, saat ayahnya menikah lagi karena paksaan dari nenek dan kakeknya kehidupan akan kepuasan pun telah dia nikmati, ibu tiri yang dia tunggu telah datang.
Note: Jangan cari NaruSasu disini hanya fokuskan BoruMenma dulu, NaruSasu akan ada saat di rumah sakit. Jangan tanya kenapa tunggu aja nanti kalian akan tau jawaban setelah mengikuti jalan ceritanya.
Boruto: 19 tahun
Menma: 18 tahun
Ryuuuchi, Syuuichi dan Yuki: 21 tahun
Happy Reading
Don't Like Don't Read
.
.
.
Menma melihat sebuah rumah yang terlihat sama dipandangannya, rumah yang sudah lama dia tinggalkan karena sebuah perpisahan, tapi tidak masalah selama hubungannya masih dianggap baik-baik saja. Kakinya dia langkahkan menuju lantai dua dimana kamar sang kekasih terletak, meninggalkan Boruto yang sedang mengambil sesuatu di gudang.
Menma memasukki kamar yang terlihat familiar dimatanya, masih rapi seperti biasanya tidak sepertinya kamarnya yang berantakan seperti kapal pecah. Makanya tiap pagi dia akan mendapat omelan mentah dari papahnya.
"Apa ini?" Menma melihat ada sebuah foto yang terselip disalah satu buku harian Boruto, karena penasaran akhirnya dia mengambilnya dan menariknya.
"Astaga, dia berniat melakukan apa dengan foto-foto gadis ini?" Tanya Menma lalu membuka buku tersebut dan matanya terbelalak terkejut.
Ada salah satu dari foto yang tertempel dibuku itu sudah dilingkari dengan spidol hitam, gadis yang ada digambar itu sangat Menma kenal. Apa maksudnya semua ini, apa yang ingin dilakukan Boruto dengan foto-foto gadis sekolah yang merupakan teman sekelas mereka. Juga foto dirinya pun ada tapi dilingkari dengan spidol biru.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Menma membalik-balikkan buku tersebut, lalu dia mendapatkan jawabannya tapi hanya tulisan dalam bahasa Spanyol tapi ada sedikit bahasa kanji Jepang dengan artian Membunuh dan Mati.
"Kau membaca apa?" Tanya Boruto membuat Menma langsung menutup bukunya dan mendorong hingga jatuh kebelakang meja belajar Boruto, lalu berbalik dengan ketakutan.
"Tidak ada, aku hanya membaca novel yang pernah aku tinggalkan di kamarmu!" Kata Menma lalu menunjukkan sebuah novel bercover biru kepada Boruto.
"Hmm... Aku kira kau membaca buku harianku dan mulai membaca isinya!" Kata Boruto menaruh buku yang tadi dia cari di gudang.
"Kau bercanda, buat apa aku membaca buku tidak penting itu!" Kata Menma beranjak dari tempatnya, mendekati Boruto dan duduk diatas karpet merah untuk jadi alas mereka belajar.
"Nah, Menma jika semuanya dapat diselesaikan dengan mudah aku akan mengajakmu ke Osaka, tapi jika tidak maka kita batalkan niat untuk pergi kesana!" Kata Boruto duduk tepat didepan Menma yang sedang membuka buku sekolahnya.
"Baiklah, ayo kita mulai lalu kerjakanlah yang kau anggap mudah aku akan mengawasi jika kau melakukan kesalahan maka aku akan menegur!" Kata Menma menatap Boruto yang mulai membuka buku untuk melanjutkan tugas sekolahnya.
"Menma, bisakah kau buat minuman?" Kata Boruto membuat Menma mengangguk lalu beranjak pergi meninggalkan Boruto yang menatap senang.
Boruto melihat Menma yang keluar dari kamarnya dengan perasaan tenang, dia membalikkan bukunya dan mulai mencatat lagi apa yang menjadi targetnya.
"Sarada, kau akan jadi yang berikutnya. Bukan aku tapi Menma yang melakukannya!" Kata Boruto menyeringai melihat foto Sarada dibuku hariannya yang lain, lalu menyimpannya dibawa kolong ranjangnya.
Drrt. Drrt.
Boruto mendengar suara handphone bergetar, mungkin handphonenya memang hancur dilempar Menma tapi selama dia mempunyai cadangannya maka jangan berharap Boruto terfokus pada satu handphone.
Tangannya mulai dia gerakkan untuk mengambil handphonenya yang bergetar lalu melihat nama seseorang yang tertera dilayar, menekan handphonenya untuk menjawab panggilan dari ibunya. Ada apakah ibunya menghubunginya disiang menjelang sore ini.
"Hallo?"
"Boruto, apakah kau ada di rumah?"
"Iya bersama Menma, memangnya kenapa?"
"Ibu akan pulang, sepertinya ibu akan menunda kepergiannya ke rumah kakekmu!"
"Baiklah!"
Boruto menaruh lagi handphonenya lalu berbaring dikasurnya untuk menikmati kesendiriannya sambil memikirkan sebuah rencana untuk menghiburnya sendiri.
Tidak lama datanglah Menma dengan sebuah nampan ditangannya lalu menaruhnya diatas meja dekat meja belajar Boruto, berjalan mendekati kekasihnya yang sepertinya sedang melamunkan sesuatu sehingga tidak menyadari kedatangannya.
"Boruto, kau kenapa?" Tanya Menma yang sudah duduk diatas tubuh Boruto sambil menatap dengan kebingungan, apa yang sedang melanda kekasihnya sehingga galau seperti ini.
"Tidak ada, aku hanya bingung bagaimana jika Sumire menolak aku membatalkan pertunangan itu?" Kata Boruto menatap wajah Menma yang sedang berhadapan dengan dirinya.
"Kau tolak saja, katakan bahwa kau sudah memilikki calon yang layak jadi pengantinmu!" Kata Menma tersenyum membuat Boruto hanya memutar matanya malas.
"Baiklah, ayo kita kerjakan tugasnya!" Kata Boruto ingin beranjak dari rebahannya tapi langsung dicegat Menma yang menahan pergerakkannya.
"Aku mau kita melakukannya Boruto?" Perkataan Menma membuat Boruto menghela nafas lega, akhirnya ukenya mau juga menggodanya meskipun hanya ucapan saja.
.
.
.
Hinata melihat rumahnya yang sudah mulai dekat dan mencoba membangunkan putrinya yang sedang tertidur pulas dipangkuannya. Setelah membangunkan dengan lembutnya akhirnya Himawari pun terbangun dengan uapan yang pelan. Tatapannya sayu saat memandang sang ibu yang hanya tersenyum lembut.
"Kita sudah sampai!" Kata Hinata membuat Himawari terbelalak dan langsung membuka pintu mobil, berlari meninggalkan Hinata yang berjalan turun dari mobil sambil memegang handphone ditangannya.
"Sepertinya dia lembur lagi!" Kata Hinata menerka-nerka suaminya bekerja dan pulangnya pasti malam lagi, helaan nafas pelan dia hembuskan memaklumi suaminya yang mempunyai jabatan sebagai direktur.
Himawari menatap rumahnya yang tampak sepi dan tidak ada orang sama sekali, dimana kakaknya sekarang apakah masih bermalam di rumah ayahnya yang sudah menikah itu. Kakinya dia langkahkan untuk menaiki lantai dua, dimana kamarnya berada dan memastikan kamar kakaknya terkunci dan menadakan ada orangnya.
Pelan sekali Himawari berjalan sambil menahan gejolak senangnya menuju pintu kamar kakaknya yang tertutup rapat, setelah berdiri didepannya Himawari tidak mendengar suara kakaknya yang sering menyanyi dengan nyaring, apakah sedang tidur karena kelelahan.
Tok. Tok. Tok.
"Kakak, apakah kau ada didalam?" Tanya Himawari mendudukkan dirinya dikursi dekat jendela samping pintu kamar Boruto.
"Ada apa Himawari?" Ada jawaban berarti kakaknya ada didalam, lalu mengapa pintunya tidak terbuka mungkin terlalu lelah untuk sekedar berdiri membukakan pintu.
"Kak Menma, ada didalam?" Tanya Himawari menatap sinar jingga yang mulai turun dengan sangat perlahan, sungguh pemandangan yang indah lagikan memukau mata.
"Iya ada tapi dia sedang tidur, kau ingin masuk?" Tanya Boruto dari dalam kamar, menjawab berbagai pertanyaan dari adiknya yang sedang duduk diluar pintu kamarnya.
"Ahh... Tidak, aku juga lagi sedang cari angin!" Kata Himawari tersenyum senang mendengar bahwa Menma ada disini. Bagi Himawari, Menma itu seperti kakaknya yang mempunyai sifat keibuan baik dan selalu lembut padanya.
"Baiklah, kakak juga lagi sibuk mengerjakan tugas sekolah!" Kata Boruto membuat Himawari terkagum-kagum mendengarnya, tidak biasanya kakaknya mau mengerjakan tugas sekolah.
"Tugas sekolah, tidak biasanya kakak, bohong ya. Mana pernah kakak mengerjakan tugas sekolah di rumah!" Kata Himawari tersenyum remeh, mengatakan bahwa faktanya itu memang kebenaran kakaknya suka mengerjakan tugas di rumah teman daripada di rumah sendiri.
Sementara didalam kamar Boruto terlihat dia sedang menyodomi Menma yang menahan desahannya, memunggungu Boruto yang ada dibelakangnya bahasa gaulnya nungging.
"Hmmpp.. Nghh!" Menma menahan desahannya agar tidak didengar oleh Himawari yang sedang ada diluar kamar Boruto.
"Ahh... Iya, apakah kau sudah tau tentang pertunanganku itu, Himawari?" Tanya Boruto memegang pinggul Menma yang sedang menahan tubuhnya agar tidak oleng karena sodomannya.
"Iya, aku sudah tau kok lalu Kak Menma sudah tau?" Tanya Himawari terdengar khawatir jika Menma mengetahui pertunangan tersebut.
"Iya, dia sudah tau!" Kata Boruto semakin mempercepat tempo sodokkannya, memaju mundurkan pinggulnya hingga penisnya keluar masuk dari lubang rectum Menma yang basah.
"Ah.. Hahh.. Boruto.. Nghh!" Menma memejamkan matanya sambil mengunci mulutnya rapat-rapat agar desahannya tidak lolos dari mulutnya, menutupnya dengan susah payah.
"Lalu tanggapannya?" Tanya Himawari membuat Boruto menyeringai pelan semakin mempercepat tempo sodokkannya pada lubang rectum Menma.
"Ahh.. Hmmpp!" Menma hampir saja berteriak jika tidak mengingat siapakah orang yang ada diluar kamar ini, berbincang dengan sang kakak yang tidak habisnya. Bisakah biarkan dia mendesah sebentar saja, mulutnya terasa lelah menahannya.
"Tentu saja dia marah, dia hampir memukuliku karena dituduh selingkuh!" Kata Boruto menatap Menma yang sedang menutup mulutnya dengan tangannya, menggerakkan pinggulnya hingga mengenai prostatnya.
"Hahaha... Seperti kemarin saat Kak Sarada mendekatimu, andai kakak melihat wajah Kak Sarada saat terkejut dikatai Kak Menma!" Kata Himawari tertawa pelan saat mengingat jelas bagaimana raut wajah gadis tersebut.
"Sayangnya kakak tidak melihat karena ada urusan lain dengan Menma!" Kata Boruto menjilat pelan punggung Menma yang terhenyak menerima sodokkannya yang beruntun.
"Hah... Boruto aku.. Ahh.. Ahh.. Nghh!" Menma merasakan penisnya ingin mengeluarkan cairannya, jika dia berteriak maka tamatlah sudah dan Himawari akan mendobrak pintu ini lalu menatap mereka sedang nganu.
"Gigitlah!" Kata Boruto menyodorkan tangannya untuk Menma gigit agar desahannya tidak keluar saat klimaks pertamanya.
"Urusan apa, andai kakak lihat betapa sedihnya Kak Sarada saat cintanya kau tolak mentah-mentah?" Kata Himawari merasa sedikit iba melihat wajah murung yang pastinya sedang menyimpan rencana untuk mendapatkan kakaknya.
"Ini rahasia tidak semua yang perlu kau ketahui Himawari!" Kata Boruto semakin mempercepat tempo tusukkannya pada lubang rectum Menma hingga tubuhnya terhentak dengan keras.
"Hmmpp.. Nghh.. Ahh!" Menma merasakan penisnya ingin mengelurkan cairannya, ingin rasanya dia berteriak tapi tidak bisa karena takut adegan nganu mereka dipertontonkan pada anak yang masih dibawa umur seperti Himawari.
"Tapi aku tau hubungan kakak dengan Kak Menma!" Kata Himawari terdengar tidak terima saat kakaknya mulai menyembunyikan sebuah rahasia padanya.
"Nghh... hmppp!" Menma menggigit dengan keras telapak tangan Boruto saat mengeluarkan cairannya yang membasahi perutnya dan dadanya.
"Akhh... Kau tau dari mana?" Tanya Boruto meringis saat telapak tangannya digigit hingga mengeluarkan darah.
"Tentu saja aku tau dari perilaku kakak yang membuatku curiga, aku pernah melihat kakak berciuman dengan Kak Menma dibawah pohon belakang halaman rumah!" Kata Himawari tersenyum penuh kemenangan, itu faktanya bahwa dia memang menyaksikan sendiri bahwa kakaknya sedang mengecup pelan bibi Menma saat tidur.
"Jika aku melihatmu sedang memergokki aku dan Menma, aku tidak akan membelikan apa pun lagi untukmu Himawari!" Kata Boruto mengeluarkan penisnya yang belum klimaks, masih menegang dan tegak seperti tihang.
"Hahh.. Boruto!" Menma membalikkan tubuhnya sambil menatap Boruto yang sedang menunggu ronde kedua.
"Jangan begitu, kakak tidak asik. Aku juga tidak bilang-bilang pada ibu kok!" Kata Himawari merasa kesal dengan kakaknya yang selalu mengancamnya dengan sebuah kalimat itu.
"Ahh... Baiklah, bisa kau pergi sekarang aku sedang sibuk!" Kata Boruto memasukkan lagi penisnya pada lubang rectum Menma yang sudah terlihat basah.
"Hahh.. Hmmpp.. Boruto kau keterlaluan!" Delik Menma pada Boruto sedang membersihkan tangannya yang berdarah akibat digigit.
"Aku baik Menma karena itu Himawari ada diluar untuk mempertanyakan pertunanganku!" Kata Boruto menatap Menma yang sedang kesal mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Kau keterlaluan, lebih baik aku pulang!" Kata Menma melipat kedua tangannya didadanya tanpa balutan busana.
"Jangan seperti itu Menma, bersikap manislah padaku. Ahh.. Aku belum minta izin kepada ayah untuk pergi ke Osaka!" Kata Boruto dengan perlahan memasukkan penisnya lagi dan mengeraknya dengan perlahan.
"Ahh.. Hahh.. Hmmpp.. Ahh!" Desah Menma saat penis Boruto kembali menusuk lubang rectumnya lalu menghentakkannya dengan pelan.
"Mungkin ayah.. Hahh.. Tidak mengizinkanmu pergi kesana." Boruto mempercepat tempo tusukkannya membuat Menma menggeleng kepalanya dengan pelan.
"Nghh.. ahh.. Boruto!" Menma mendesah nikmat dibawah Boruto dengan lubang rectumnya yang terus ditusuk oleh penis Boruto berkali-kali.
"Bagaimana kalo kita batalkan kepergian kita ke Osaka, ayah tidak mungkin mengizinkan kita pergi ke sana kecuali kita ikut Paman Obito?" Kata Obito mempercepat tempo tusukkannya pada lubang rectum Menma hingga menimbulkan bunyi decakan.
"Tidak-ahh.. Ahh!" Desah Menma menggeleng kepalanya tidak setuju dengan pendapat Boruto.
"Ayolah, kau tidak bisa kesana tanpa Paman Obito?" Kata Boruto memperdalam tusukkannya hingga tubuh Menma terhentak keras.
"Hahh... Tidak akan ahhh.. Ahh!" Kepala Menma terpelatuk merasakan prostatnya terus ditabrak oleh penis Boruto yang panjang.
"Hahh... Kau akan dihukum ayah jika kesana?" Kata Boruto menggeleng kepalanya tidak habis pikir dengan sikap keras kepala ukenya.
"Ahh.. Aku.. Aku.. Ahh!" Menma merasakan penisnya berkedut ingin mengeluarkan sesuatu membuat tubuhnya semakin dihentakkan oleh Boruto.
Boruto mempercepat hentakkannya degan cepat agar klimaks kedua mereka bisa keluar.
"Boruto... Ahhhhhhh!" Menma berteriak hingga membuat tubuh menegang merasakan penisnya mengeluarkan cairannya tepat mengenai lantai kamar Boruto.
"Menma... Akhh" Boruto meringis merasakan cairannya keluar didalam lubang rectum Menma, menembakkannya hingga lima kali.
"Hahh.. Hahh..!" Menma akhirnya ambruk dengan cairan Boruto yang ada dimana-mana, rasanya lengket dan licin.
"Aku tidak yakin, apakah kau bisa ke Osaka tanpa izin ayah?" Tanya Boruto mencoba menarik tubuh Menma dan mendudukkannya dipangkuannya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Menma tidak mengerti mengapa kekasihnya itu terus mempertanyakan hal yang sama.
"Tidak apa, mungkin besok aku akan mengajak Shikadai dan Inojin kesini!" Kata Boruto membayangkan apa saja yang akan dia lakukan nanti bersama teman satu kelasnya itu saat sudah datang ke rumahnya.
"Hmm... Bisakah, kita ke supermarket aku ingin membeli sesuatu?" Tanya Menma yang hanya dapat pelukan dari Boruto dibelakangnya.
.
.
.
Tepat di Rumah Sakit Konoha yang merupakan pemilik dari Naruto Namikaze kini telah sepi hanya beberapa dokter dan suster yang masih menetap menjaga sang pasien untuk dirawat kembali. Terlihat Naruto sedang berada di ruangan yang amat terang dan putih.
Nit. Nit. Nit.
Suara monitor menandakan bahwa Naruto sedang merawat pasien tetapnya yang terbaring menutup mata diatas bankar, perlahan kakinya dia langkahkan untuk mendekati sang pasien dengan wajah sendu dan sedih.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" Tanya Naruto mengelus pelan surai rambut raven itu dengan lembut, sesekali tersenyum lembut saat menatap wajah damai sang pasien.
Tidak ada jawaban seperti biasanya, rasanya sepi dan sunyi membuat Naruto kembali menatap kesal dengan hasil kerja kerasnya yang tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Kenapa, kenapa kau tidak bangun sekarang?" Tanya Naruto menunduk sedih sambil memegang tangan sang pasien yang masih tidak bergerak penuh selang yang tersambung pada impus.
"Kau tau, sekarang Menma sudah besar, dia ingin melihatmu. Sekarang aku sudah mempunyai istri lagi. Bukankah itu yang kau mau, kau ingin melihatku bahagiakan tapi aku tidak bahagia!" Naruto menunduk sedih membiarkan air matanya turun dari pelupuknya, turun membasahi tangan persolen yang dia pegang.
"Aku akan bahagia saat kau bangun, aku sudah menikah tiga kali dan punya anak lagi, tapi semuanya tidak membuatku bahagia!" Naruto menatap wajah yang masih tertidur tanpa membuka kelopaknya sama sekali.
"Apakah kau bisa bangun saat Menma ada disini?" Tanya Naruto kepada orang yang sedang tertidur tersebut.
Masih tidak ada jawaban Naruto lelah berbicara tanpa mendapatkan hasil, pandangannya dia alihkan pada impus berisikan darah yang setengahnya sudah habis.
"Aku akan mengajak Menma kesini jika dia memang sudah mengetahui semuanya!" Naruto melepaskan tangan persolen itu dan menaruhnya disisi bankar.
Cup.
"Aku mencintaimu, Sasuke!" Naruto beranjak pergi meninggalkan tempatnya dengan hati berat, sesekali dia menoleh kebelakang berharap sang tercinta bangun dari tidurnya tapi sayangnya bukan.
Naruto berjalan menaikki tangga untuk pergi keluar ruangan, lalu menguncinya saat sudah di lorong rumah sakit, berjalan dengan angkuhnya.
Perlahan tangan Naruto dia gerakkan untuk meraih handphone yang ada disaku jas dokternya, melihat siapakah yang tadi menelponnya.
"Boruto?" Naruto tidak tau anak pertamanya itu menelponnya, mungkin akibat operasi tadi dia tidak mengetahui handphonenya bergetar.
"Hallo ayah?"
"Ada apa kau menelpon?"
"Ahhh... Iya, Menma ingin pergi ke Osaka bisakah ayah izinkan?"
"Tidak!"
Naruto mengakhiri pembicaraan singkat dirinya dan putranya dengan perasaan kesal, sepertinya Naruto tau apa tujuan Menma ke Osaka jika bukan bertemu dengan sepupu jauhnya pasti bertemu dengan pamannya.
"Hahh... Pasti dia nekat pergi!" Kata Naruto melangkah pergi meninggalkan tempatnya.
"Bagaimana Naruto sudah mendapat pergerakan dari adikku?" Naruto berbalik dan melihat kakak iparnya sedang berjalan kearahnya.
"Tidak sama sekali!" Kata Naruto menggeleng pelan dengan tatapan kecewa membuat Itachi maklum saja dengan tatapan itu lagi.
"Tidak apa, mungkin bukan saatnya dia bangun dari komanya!" Kata Itachi berjalan beriringan dengan Naruto di lorong rumah sakit yang sudah gelap.
"Yahh... Menma juga mulai nekat mencari tau siapa ibunya!" Naruto ingat betul beberapa bulan yang lalu anaknya kabur dari rumah hingga melibatkan para kepolisian.
"Hmm... Biarkan saja dia mencari taunya sendiri Naruto, kau tidak bisa menahannya terlalu lama. Kelahiran Menma memang membuat Sasuke koma!" Itachi ingat saat adiknya melahirkan hingga berakhir koma dan tertidur begitu lama diatas bankar.
"Sudahlah Kak Itachi, bagaimana keadaan Kak Kyuubi?" Tanya Naruto mencoba melupakan wajah sakit sang tercinta saat melahirkan dulu.
"Kyuu-chan sekarang membuat makan malam dan memukuli Syuuichi dan Yuuki!" Itachi membayangkan aura iblis yang keluar dari tubuh Kyuubi saat menatap kesal kearah kedua anaknya yang nakal.
"Ryuuuchi tidak mendapatkan apa-apa?" Naruto membuka pintu ruangannya lalu mempersilahkan kakak iparnya masuk.
"Hahh... Ryuuuchi itu pendiam dia tidak pernah melakukam hal yang dilakukan adiknya!" Bagi Itachi putra pertamanya itu sama seperti dirinya pendiam dan hanya bertingkah seperlunya saja.
"Tapi Kak Kyubi masih menjalankan kedua perusahaan ayah bukan?" Tanya Naruto menatap Itachi yang hanya mengangguk pelan.
"Tidak keduanya masih ada ayahmu yang melakukannya dan Paman Kakashi!" Kata Itachi membuat Naruto mengingat paman mesumnya yang mempunyai dua istri, geli rasanya tapi maklumi saja.
"Aku dengar Paman Kakashi ingin menikah lagi, akur ya uke-ukenya!" Beberapa tahun ini Naruto tidak mendengar pertengkaran apa pun tentang pamannya yang paling mesum itu, entah sihir apa yang diberikan pamannya itu untuk menaklukkan kedua ukenya.
"Ya begitula, katanya Kakashi ingin menikahi salah satu guru sekolah bernama Iruka Umino!" Itachi tidak sengaja mendengar berita menggencarkan seisi rumahnya saat mengetahui pamannya akan menikah untuk ketiga kalinya.
"Pertama Paman Obito, kedua Paman Yamato sekarang Guru Iruka, sepertinya Paman Kakashi tidak puas satu lubang!" Kata Naruto membuat Itachi tertawa pelan.
"Sepertinya begitu, sama sepertimu Naruto!" Kata Itachi membuat Naruto menatap tajam dengan ekor matanya.
"Asal kau tau Kak Itachi, mungkin aku menduda sampai sekarang jika bukan kehendak Sasuke dan ibu, aku lebih baik mengurusi Menma daripada menikah lagi!" Kata Naruto menggantung jas dokternya lalu mendudukkan dirinya tepat didepan kursi Itachi.
"Hmm... Aku kira kau menikah karena belum puas ternyata kau setia juga ya, tidak salah dulu aku mengajakmu bertarung lalu mempersilahkanmu menikahi adikku!" Itachi ingat dulu saat Naruto meminta restu padanya lalu mengajaknya adu pedang selama seminggu sebagai tantangan.
"Bukannya sudah aku katakan bahwa aku sangat mencintai Sasuke, saat dia bangun nanti aku akan mengajaknya pulang lalu hidup bahagia setelah menceraikan Sakura, tentu saja!" Kata Naruto membayangkan masa-nasa indahnya bersama sang tercinta.
"Iya, aku akan mendukungmu jika wanita itu macam-macam pada adikku, aku dengar Menma mematahkan kaki teman sekelasnya?" Tanya Itachi membuat Naruto yang sedang meminum kopi jadi menatap serius.
"Hmm... Aku sudah dengar rumornya, tapi sayangnya tidak ada bukti kuat menjadikan Menma sebagai pelakunya, ingat dulu saat aku bertunangan dengan Ino?" Kata Naruto menatap Itachi yang hanya mengangguk pelan, penasaran dengan lanjutan kalimat dari mulut Naruto.
"Iya aku dengar setelah dia bertunangan dengamu, Ino langsung membatalkan pertunangannya tanpa hal yang jelas!" Kata Itachi ingat jelas semasa kuliahnya dulu, saat adiknya masih duduk dibangku sma.
"Sasuke memukuli Ino dengan membabi buta, lalu mengancamnya akan membunuhnya jika tidak membatalkan pertunangan itu!" Kata Naruto memangut pelan, begitu mengerikannya sikap sang terkasih padanya.
"Bagaimana kau bisa tau?" Itachi tidak dapat mempercayai jika adiknya yang jadi penyebab batalnya pertunangan seseorang.
"Aku dan Ino diculik Sasuke lalu kami diikatnya!" Kata Naruto mengingat jelas kejadian dulu saat tubuhnya disentuh dan bibirnya dihisap pelan.
"Kau melakukan apa?" Tanya Itachi sepertinya tau apa yang dilakukan adiknya jika kekasih hidupnya dimilikki orang lain.
"Aku hanya duduk sambil tertidur!" Kata Naruto membuat Itachi sweatdrop mendengarnya, ternyata tidak ada peran penting yang dilakukan oleh Naruto.
"Lalu apa hubungannya dengan Menma?" Itachi tidak habis pikir mengapa Naruto menyamakan sikap psikopat adiknya dengan keponakan tersayangnya.
"Tentu saja ada, karena sikapnya itu menurun pada Menma!" Kata Naruto tersenyum bangga pada Itachi yang hanya menggeleng pelan.
"Hahh... Jadi benar bahwa Menma yang mematahkannya?" Tanya Itachi yang hanya dapat anggukan pelan dari Naruto.
"Aku tidak sabar rasanya melihat Menma mematahkan tangannya nanti!" Itachi menatap adik iparnya yang terlihat gilanya sama seperti adiknya dulu.
"Baiklah, aku mau pulang dulu. Jaga diri dan adikku, Naruto!" Kata Itachi beranjak dari duduknya setelah mendapatkan anggukan dari Naruto.
.
.
.
Terlihat keluarga Uchiha yang damai dan tidak tentram tepatnya Kyuubi yang sedang asik memasak di dapur tidak memperdulikan suara kegaduhan yang berada di ruang tamu, sesekali dia menatap putra sulungnya yang sedang duduk dikursi meja makan.
"Jadi Ryuuichi, bagaimana lessmu hari ini menyenangkan?" Tanya Kyuubi memotong sayuran lobak dan memasukkannya kedalam panci bening yang sudah mendidih.
"Hmm... Tidak terlalu menyenangkan, apa lagi Syuuichi dan Yuuki sering membuat masalah dengan membully para geng sekolah!" Ryuuichi mengingat kejadian tadi pagi, bagaimana dia sedang berlajar ditempat les dan kedua adiknya yang mengamuk sambil memukuli geng sekolah.
"Sebenarnya aku bingung, bukannya sekolahmu dan Menma berseberangan tapi kenapa hanya sekolahmu saja yang tidak libur?" Tanya Kyuubi tidak memperhatikan Ryuuichi yang sekarang sedang membaca buku.
"Aku dan Menma beda sekolah Mama, dan juga aku sudah kuliah tentu saja selalu sekolah!" Kyuubi suka melihat wajah jengkel putra sulungnya itu, mirip sekali seperti wajah jengkelnya sewaktu digoda oleh Itachi.
"Memangnya kedua adikmu melakukan apa pada geng terkenal di sekolahmu?" Tanya Kyuubi membawa semangkuk sup tomat menuju meja makan.
"Memukuli mereka saat rambut Yuuki disentuh, mama taukan betapa sadisnya Yuuki saat rambut merah yang panjang itu disentuh oleh orang selain dirinya?" Kata Ryuuichi menatap ibunya yang hanya diam mengangguk tidak jelas.
"Iya, mama pernah melihat Yuuki waktu Sekolah Dasar memukuli semua teman gadis sekelasnya karena pamer didepannya... Itu mengerikan!" Kyuubi beranjak pergi menuju alat masaknya lagi.
"YUUKI BANTU MAMA!" Teriak Kyuubi membuat kegaduhan yang ada di ruang tamu jadi berhenti seketika Kyuubi berteriak tadi.
Tidak lama datanglah seorang gadis berpenampilan seperti orang baru saja terkena badai mengerikan, berjalan dengan menyisir rambutnya yang berantakkan akibat perkelahiannya dengan kakak kembarnya. Setelah merasakan rapi baru mendekati Kyuubi yang hanya memutar matanya malas.
.
.
.
Menma melihat didepan cerminnya ada pantulan dirinya yang kini tubuhnya penuh kissmark merah dan akan berbekas hingga beberapa hari kedepan, sementara pelaku yang membuatnya hanya diam sambil tersenyum senang melihat mahakarya yang dia buat dengan kecupan dan gigitan darinya.
"Boruto sepertinya aku harus pulang, hari ini aku tidak bisa membantumu mengerjakan tugas sekolah, aku ada pekerjaan yang harus diselesaikan!" Kata Menma memasang jaketnya setelah melihat penampilannya yang terlalu indah bagi Boruto.
"Jadi kau tidak akan menginap malam ini?" Tanya Boruto yang hanya dapat anggukan dari Menma sebagai jawaban, masih sibuk dengan pakaian yang dikenakan.
Cup.
"Jangan merindukanku. Aku mencintaimu!" Kata Menma beranjak pergi setelah mengecup pelan bibir Boruto yang hanya mengangguk senang.
"Aku juga mencintaimu, salam pada ayah!" Kata Boruto melempar senyum hangat pada Menma yang tersipu menahan malu.
Menma berjalan dengan derap langkah nyaring hingga terdengar oleh Hinata dan Himawari yang sedang sarapan dimeja makan.
"Pagi semuanya!" Sapa Menma berjalan mendekati Hinata yang sedang memasak di dapur dan Himawari menikmati sarapan paginya.
"Menma, ayo sarapan dulu!" Menma menatap hangat wanita yang merupakan ibu tirinya dulu sambil menggeleng pelan, hanya mengambil sepotong roti tawar dan beranjak pergi.
"Aku ada urusan mendadak jadi tidak bisa ikut sarapan, sampai jumpa!" Kata Menma beranjak pergi setelah mendapatkan anggukan setuju dari Hinata.
Menma berjalan menuju pintu keluar setelah memasang sepatunya lalu berjalan lagi menuju garasi untuk mengambil mobilnya, meninggalkan rumah kekasihnya yang sedang tersenyum mesum menatap dari jendela.
"Saatnya kita urus gadis itu!"
.
.
.
Brak.
Terlihat seorang gadis yang tengah tiarap dengan mulut terikat kain, mata yang tertutup kain dan kedua kaki serta tangan yang terikat dengan tali mengikat dengat kencang. Rambut violetnya yang panjang mulai tergerai mengikuti gerak tubuhnya.
"Hmmpp!" Tangannya yang terikat dari belakang mulai menggapai-gapai untuk melepaskannya dengan susah payah.
Tangannya ditarik dengan paksa hingga berlutut didepan seseorang yang sedang duduk dikursi depannya, mengamati sambil menyeringai senang dengan apa yang dia lihat sekarang.
Perlahan kain yang menutup mata violet itu mulai terlepas, hal pertama yang dia lihat adalah sebuah ruangan yang penuh dengan lampu menyilaukan dan seorang pemuda yang sedang duduk didepannya bak seorang bangsawan tengah tersenyum senang menatapnya, dibelakangnya ada dua orang pria berpakaian hitam dan bertubuh besar tengah berdiri.
"Merasa sudah baikkan Sumire?" Tanya seseorang membuat kepalanya menegadah, dimana sumber suara menatapnya dengan meremehkan.
"Menma?" Sumire melihat kekasih dari calon tunangannya duduk dengan beraninya didepannya, memegang dagunya untuk menegadah menatap keatas.
"Kau belum jera juga ya, kadang aku ingin sekali membunuhmu saat ini juga?" Kata Menma menompangkan dagunya dengan tangannya yang menyanggah pada pahanya.
"Lakukan saja jika bisa?" Tatapan itu membuat Menma menyeringai lebar, tangannya yang berlapis sarung tangan mulai ditaruh sebilah pisau oleh pria besar yang merupakan bodyguardnya.
"Aku bisa melakukannya sekarang tapi aku tidak ingin keluargamu menangis darah hanya kematian putri kecilnya... Aku akan memberikan penyiksaan saja padamu agar kau jera!" Kata Menma berjalan mendekati Sumire dan berjongkok dibelakangnya dengan sebilah pisau diarahkan pada lehernya.
"Pengecut!" Kata Sumire membuat Menma mendelik tajam, pisau yang tadi berada dileher Sumire berpindah kearah matanya.
"Bagaimana jika aku hadiahkan matamu ini kepada Boruto, mata violet itu mengingatkanku pada bola mata nenekku!" Pupil Sumire spontan membulat saat pisau tajam itu semakin dekat pada matanya.
Keheningan membuatnya diam saat pisau itu semakin dekat keorgan matanya secara perlahan, keringat dingin turun dari pelipisnya saat mengenai pupilnya. Dengan susah payah Sumire menelan air liurnya saat pisau itu berhenti bergerak.
Apakah penusukkannya akan dilakukan secara perlahan-lahan agar dia merasakan sakit yang amat luar biasa nantinya, jantungnya berdegup dengan kencang saat menunggu pergerakan yang akan dilakukan oleh Menma.
"Aku tidak sejahat itu, Sumire!" Kata Menma melihat betapa ketakutannya wajah itu, rasanya dia ingin tertawa senang.
"Akhh!" Sumire meringis saat pisau itu menyayat pipi kanannya melintang kebawah, menorehkannya hingga mengeluarkan bercak darah.
"Kau cukup tangguh untuk seorang perempuan, kebanyakan dari mereka akan berteriak meminta tolong lalu dibunuh oleh bodyguardku setelah mereka selesai memperkosanya!" Kata Menma membuat Sumire terbelalak terkejut mendengarnya.
'Di-diperkosa?' Batin Sumire ketakutan saat mendengar kalimat terakhir dari Menma, apakah ini akhir hidupnya. Mati dengan cara konyol.
"Tenang saja Sumire, kau tidak akan mati diperkosa oleh mereka tapi... Kau akan mati ditanganku!" Kata Menma mengarahkan lagi pisaunya pada pipi kanan Sumire dan menggoreskan sebuah luka yang lebih dalam.
"Akhh.. hah!" Perlahan air mata turun dari pelupuknya membuat Menma mendorong tubuh Sumire dengan kasar.
"Kau membosankan, lepaskan dia!" Kata Menma beranjak pergi meninggalkan Sumire dan ketiga bodyguardnya yang hanya patuh mengikuti perintah sang tuan.
"Hahh.. Hiks!" Sambil menahan sakit Sumire melihat Menma berjalan menjauh meninggalkannya yang sedang menahan isakkan.
Menma terus berjalan keluar dari sebuah rumah kosong yang dia kenakan untuk menyiksa Sumire tadi, meskipun singkat membuat suasana senangnya hilang saat mendengar isak tangis dari seorang gadis tapi dia senang pada akhirnya bisa membuat gadis itu ketakutan dengan perkataannya.
"Hahhh... Baru segitu sudah menangis bagaimana aku tusuk dibagian lagi bisa menjerit seperti orang gila!" Kata Menma menggeleng kepalanya pelan lalu berjalan lagi.
Menma melihat sesosok orang yang dia kenali tengah berjalan berdua dijalan raya, dengan seringainya Menma berjalan mendekati dua orang yang sedang kencan berdua tanpa dirinya.
"Ha. Jadi Shikadai dan Inojin sedang kencan, sudah pulang dari liburannya?" Tanya Menma membuat dua pemuda yang seumuran Boruto berbalik.
"Ehh... Menma?" Tatapan pemuda Nara tersebut melihat Menma yang sedang berdiri didepannya sedang tersenyum senang.
"Kalian sedang kencan? Kenapa berdua saja, dimana Iwabe dan Denki. Mereka tidak diajak?" Kata Menma melipat kedua tangannya didadanya sambil melihat dua sepasang kekasih yang sedang kencan ini.
"Mereka baru pulang liburan jadi kami tidak ingin menganggu!" Kata pemuda Yamanaka ini membuat Menma hanya mengangguk memaklumi sahabat-sahabat dari adiknya.
"Baiklah, hati-hati ya saat kencan terkadang banyak halangan!" Kata Menma berjalan kearah mobil hitam yang baru saja datang untuk menjemputnya.
"Shikadai, Menma itu memang mengerikan ya?" Tanya Inojin Yamakana pada kekasihnya yang hanya mengangguk setuju, masih sadar dengan apa yang dia lihat.
"Sudahlah!" Shikadai Nara berjalan meninggalkan kekasihnya yang masih terpana dengan kedatangan mobil yang tadi tidak ada ditempat, lalu berlari menghampiri kekasihnya yang sudah berjalan meninggalkannya.
.
.
.
Menma berjalan memasukki rumahnya dengan merenggangkan kedua tangannya lalu membuka ganggang pintu, mendapati dua perempuan yang telah menjadi keluarga tirinya tengah berdiri didepannya, mendelik tajam kearahnya dengan tidak suka saat melihat dirinya. Bukannya bertanya tapi Menma hanya diam pergi dengan wajah tidak perduli.
"Dasar, kenapa baru pulang sekarang?" Tanya Sakura berkacak pinggang sambil menatap Menma yang hanya berhenti berjalan.
"Ini rumahku jadi terserah diriku!" Kata Menma melihat kedua perempuan tersebut dengan ekor matanya, lalu beranjak pergi setelah melihat Sarada terdiam seperti ketakutan.
'Tatapannya, mengerikan!' Batin Sarada berdiri dengan tubuh bergetar membuat Sakura yang ada disampingnya menatap penuh tanda bingung.
"Ingat ini Sarada, gadis itu hampir...!" Menma mengarahkan pisaunya pada lehernya lalu berjalan pergi menuju lantai dua sambil menahan tawa.
"Tidak mungkin!" Sarada tidak dapat mempercayai gadis itu dengan mudah dapat ditaklukan oleh Menma, pasti ada yang mengatur semua trik ini.
Sarada menatap kepergian Menma yang hanya diam sambil tertawa pelan, sungguh ini kali pertama dia mendapati seseorang yang begitu sulit untuk dikalahkan.
"Bagaimana masih mau bersikeras mengejar Boruto?" Perkataan seseorang membuat ibu dan anak ini berbalik.
"Ayah, tentu saja!" Kata Sarada sudah membulatkan tekadnya bahwa dia tidak akan menyerah dengan mudah untuk mendapatkan Boruto.
"Baiklah, semangat ya!" Apa maksud dari senyum Naruto yang seperti menyembunyikan sesuatu, ada kejanggalan yang membuat Sarada ingin menggalinya.
Sementara Menma yang sedang asik melihat layar laptopnya dimana ada sosok Boruto sedang tersenyum menatapnya, sesekali menyeringai saat melihat dada Menma yang terekspos.
"Jadi, bagaimana masih mau pergi ke Osaka meskipun tidak dapat izin dari ayah?" Menma menatap Boruto yang ada dilayar laptopnya, hatinya juga bimbang bagaimana jika papahnya tidak setuju dia pergi, tapi rasa penasarannya terus mendorongnya untuk mencari lebih dalam siapakah orang tersebut.
"Tentu saja, aku akan pergi meskipun papah tidak menyetujuinya!" Kata Menma mendudukkan dirinya diatas kasurnya dan menghadap laptopnya.
"Baiklah, kakakku tersayang aku akan ikut bersamamu, pergi untuk bertemu dengan Paman Hashirama dan Paman Madara!" Kata Boruto hanya bisa pasrah dengan keputusan kakak tirinya yang hanya tersenyum senang.
"Tapi jika kau tidak mau ikut juga tidak masalah, aku akan pergi sendiri!" Kata Menma mengambil buah apel yang tadi dia ambil di dapur lalu mengupasnya dengan pisau.
"Tidak akan kubiarkan kau pergi sendiri dan digoda oleh om-om hidung belang, aku akan pergi bersamamu dan hanya aku yang boleh menyentuhmu!" Kata Boruto membuat Menma tersenyum senang.
"Kau berlebihan, sebelum mereka menyentuhku akan kubuat mereka mati terlebih dahulu!" Kata Menma mengarahkan pisau yang tadi dia gunakan untuk mengupas apel kepada layar laptopnya dimana Boruto hanya bisa diam.
"Kapan, kau akan ke rumahku lagi?" Tanya Boruto langsung dapat tatapan tajam dari Menma yang sedang asik memakan irisan apel.
"Bukannya baru kemarin malam kita tidur bersama?" Menma tidak habis pikir dengan keinginan adiknya yang selalu melakukan hubungan intim dengannya.
"Tapi aku merindukan mulutmu melakukan blowjob pada penisku!" Kata Boruto langsung membuat pergerakan Menma berhenti saat ingin mengiris apel kedua.
"Aku akan memotong penismu jika kau merindukanku hanya untuk bersetubuh!" Kata Menma mengarahkan kembali pisau yang ada ditangannya pada jarinya, membayangkan jika itu adalah penis Boruto yang siap dia potong-potong.
"Hahaha...Tentu saja tidak, aku rindu kita kencan lagi, kapan kau mau mengajakku kencan?" Tanya Boruto membuat kening Menma berkerut tidak suka saat mendengarnya.
Mana ada seorang uke mengajak semenya kencan, kadang Menma ingin menusuk perut Boruto saat ini juga biar rasa kesalnya hilang.
"Selama kita pacaran aku tidak pernah mengajakmu kencan, yang ada kau yang selalu mengajakku kencan!" Menma memutar matanya malas, kembali mengiris apel yang dia makan.
"Ck. Ayolah kali ini saja, buatlah aku senang Kak Menma!" Kata Boruto memelas membuat Menma ingin menghancurkan laptopnya sekarang juga.
"Baiklah... Aku akan mengajakmu kencan setelah semua tugas sekolahmu selesai!" Kata Menma tersenyum senang saat mendengar desah kecewa dari Boruto.
"Baiklah, aku ingat perkataanmu jika kau tidak mengingatnya aku akan memperkosamu tepat dihadapan ayah!" Kata Boruto membuat Menma tersedak saat mendengar dan ingin protes.
"Hey!" Menma berdecak kesal saat Boruto offline dari kegiatan dimedia sosial, bagaimana bisa dia setuju dengan perkataan Boruto tadi. Apa jadinya jika dia lupa dengan perkataan sendiri dan diperkosa Boruto tepat didepan sang papah.
"Jadi, Boruto memaksamu kencan?" Tanya seseorang membuat Menma berbalik untuk mencari asal suara dan mendapati papahnya sedang berdiri diambang pintu.
"Papah?" Menma tidak akan terkejut jika yang dia lihat adalah papahnya, sudah lama rasanya dia tidak melihat papahnya tersenyum tulus saat melihatnya.
"Masih berkeinginan pergi ke Osaka?" Tanya Naruto membuat Menma menggeleng kepalanya dengan cepat, jika sang papah tau dia berniat pergi kesana, jangan harap dia selamat dari hukuman maut papahnya yang berhubungan dengan memberi makanan rubah ekor sembilan di rumah kakeknya.
"Aku tidak jadi pergi, aku harus membantu Boruto mengerjakan tugasnya!" Bohong besar, padahal didalam hati Menma sudah membuat rencana apa saja untuk pergi ke Osaka dalam menuntaskan masalah rasa penasarannya.
"Baiklah, ini hewan yang kau diami dua hari ini mulai merindukan tuannya!" Kata Naruto memperlihatkan seekor rubah putih yang ada digendongannya kepada Menma.
"Wahhh... Kitsune, aku merindukanmu maafkan aku ya, aku juga harus mengurus rubah yang lebih besar lagi agar dia tidak mengancamku!" Kata Menma memeluk rubah putih yang diberikan sang papah tadi.
"Jaga dia Menma, Paman Kyuubi tidak pernah baik dua kali!" Kata Naruto yang hanya dapat anggukan setuju dari Menma.
"Paman Kyuubi selalu baik kok padaku, memberikan apa saja jika aku mau!" Kata Menma membaringkan Kitsune diatas kasur yang sudah tertidur dengan cara meringkukkan tubuhnya. Membaringkan tubuhnya bersebelahan dengan sang rubah.
Menma melihat langit-langit kamarnya ada perasaan sedih yang masih berkecambuk didalam dirinya, rasanya ingin dia berjalan ke ruang kerja papahnya untuk mencari tau lebih dalam, siapakah orang yang bersanding di altar pernikahan dengan pakaian pernikahan Adat Jepang itu. Apakah ibunya lalu mengapa disobek, apakah ada alasan yang menjadi jawaban untuk Menma.
"Hahhh... Bagaimana ini, aku ingin sekali pergi ke Osaka tapi papah tidak mengizinkan, Boruto juga tidak paham akan posisiku. Aish... Tidak kuberi jatah baru tau rasa!" Kata Menma kesal lalu berbalik kesamping kiri dimana dia melihat gumpalan putih sedang tertidur.
.
.
.
Boruto melihat sosok gadis yang terlihat mengenaskan ini, malam ini merupakan pertemuan dirinya dengan tunangannya bukannya kebahagian yang datang malah keibaan dia rasakan sekarang, apa yang terjadi pada gadis cantik teman sekelasnya ini hingga ada perban melilit ditangan kanannya dan kapas yang menutup pipi kanannya. Keadaan gadis didepannya ini begitu mengenaskan seperti orang yang baru saja terkena kecelakaan parah.
"Apa yang terjadi padamu, Sumire?" Boruto sesekali melihat ibunya yang sedang berbicara pada ibunya Sumire.
"Ahh... Ti-tidak Boruto ini hanya luka kecil saja!" Ada sesuatu yang disembunyikan gadis polos ini, sapphirenya mulai melihat lebih teliti tiap luka yang didapatkan Sumire.
"Apakah Menma yang melakukannya?"
Deg.
Sumire terdiam saat perkataan Boruto tepat pada kebenarannya tapi jangan ada yang tau bahwa dia telah dicelakai oleh Menma, apa yang harus dia jawab jika perkataan Boruto adalah kebenaran.
"Tidak Boruto, mana mungkin Menma melakukan hal sehina ini!" Baik sekali Sumire mau membela Menma hingga segitunya mungkin dia tidak mau menjelek-jelekkan kakak tiri Boruto.
"Benarkah, aku tau tiap luka yang diberikan Menma!" Sumire terdiam mendengarnya, apa jadinya jika dia mengatakan kebenarannya apakah Boruto akan membatalkan pertunangan ini.
"Ti-tidak Boruto, aku hanya mengalami luka kecil jadi jangan terlalu diperdulikan!" Kata Sumire mengalihkan pembicaraan agar dirinya tidak terpojok seperti ini.
"Baiklah, aku akan menerima pertunangan ini setelah kau mendapatkan izin dari kakakku!" Kata Boruto melipat kedua tangannya didadanya sambil melihat raut wajah Sumire yang terkejut.
Hinata yang mendengarnya hanya bisa tersenyum maklum, bagi Boruto apa pun yang harus dilakukannya pasti harus meminta izin pada sang kakak, bukan tapi kekasihnya.
'Aku yakin Menma pasti tidak akan mengizinkannya!' Batin Hinata kembali melanjutkan pembicaraannya dengan wanita paruh baya yang ada didepannya itu.
Boruto melihat kearah ibunya yang sedang menggeleng pelan, apa maksud dari gelengan ibunya itu.
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
