Day 3
.
.
.
"Natsu! Kau masih bangun?"
Seorang pemuda bersurai sewarna malam tengah berdiri di depan sebuah pintu apartemen yang sederhana. Tangannya mengetuk pintu beberapa kali sambil menyerukan kata-kata yang sama berulang kali sehingga beberapa orang tetangga kamar tersebut keluar untuk melihat sekilas siapa yang berani membuat keributan di tengah malam seperti ini.
"Natsu aku tahu kau belum tidur!" Kembali ia menggedor pintu dengan amat keras dan detik berikutnya sebuah senyum puas tercipa ketika pintu terbuka dari dalam dan menampakkan sosok pemuda pinkish dengan piyama yang kedodoran dan mata yang mengantuk hebat. Dari eksrepsinya jelas kalau pemuda itu tidak sedang dalam mood yang baik.
"Oho... bagus sekali Tuan Sok Tahu, terima kasih karena telah membangunkanku di tengah malam ini... kuharap kau punya alasan logis untuk ini, hm Gray?" Natsu memicingkan matanya pada Gray sambil menggaruk rambutnya yang gatal beberapa kali.
"Tentu saja aku punya alasan!" Gray bersenandung riang sembari merogoh tas selempangnya beberapa kali kemudian kembali menatap Natsu dengan sebuah kotak DVD di tangannya, "Ja jaang! Aku bawa game baru, harusnya game ini rilis besok pagi tapi aku punya kenalan orang dalam jadi aku bisa beli 6 jam sebelum jadwal rilis aslinya, aku hebat kan!" Wajah pemuda Fullbuster itu terlihat amat senang seperti tengah memancarkan radiasi sinar mentari tengah hari yang amat terang sehingga membuat Natsu silau.
Ugh, Natsu menggurutu dalam hati. Gray Fullbuster—pacarnya—adalah yang maniak game. Kadang-kadang pemuda Dragnell ini tak habis pikir terhadap sikap Gray yang mementingkan game daripada bertahan hidup untuk satu bulan. Karena tak jarang jatah uang satu bulannya dihabiskan untuk membeli game baru—bukan hanya beli satu saja, tapi banyak. Makanya tidak heran kalau uangnya cepat habis. Dan kalian pasti akan tahu kemana dia akan mengungsi untuk numpang makan ketika uang bulanannya habis.
Yup! Ke apartemen pacarnya, Natsu Dragnell yang kini memasang ekspresi masam. Namun pemuda bersurai sewarna dadu itu hanya mendesah pelan, paham dengan sikap Gray yang tak akan mempan dengan segala gerutuan Natsu ketika ia membeli game baru.
"Masuk, jangan berdiri di luar, kau mengganggu tetangga," Natsu menyingkir sedikit ke samping untuk memberikan jalan bagi Gray untuk masuk, "toh konsol game-mu kau simpan di sini," imbuhnya ketika Gray telah berada di dalam apartemennya.
"Kau mau teh? Masih ada sedikit sisa tadi sore, biar kuhangatkan dulu."
"Aku mau pelukan darimu saja bagaimana?"
...
"...S-stop messing around, gezz..." Natsu mendengus pelan sembari melengos pergi ke arah dapur kecil di sudut apartemennya, berusaha keras agar tidak termakan godaan jahil Gray. Walaupun ia rasa hal itu percuma karena wajahnya kini sudah amat merah. Tidak lama setelah ia menyiapkan camilan dan teh untuk meramaikan acara main game mereka, Natsu menghampiri Gray.
"Sudah kubilang kan, gulung futon-nya kalau kau mau main game," protes Natsu, "apartemenku cuma 1LDK*, tak seperti apartemenmu yang luas," Natsu segera menarik futon yang diduduki Gray dengan kasar sehingga membuat pemuda Fullbuster itu berguling ke samping sambil tertawa-tawa.
"Hahahaha... padahal kalau pakai futon kan kita bisa main sambil tiduran," ucap Gray yang merangkak pelan kemudian meraih joystick dan mulai menyalakan konsol game, "kalau sudah selesai main, kita bisa berguling-guling di atas futon sampai puas," dilanjutkan dengan perkataan super pervy dari Gray yang tersenyum penuh arti.
"Kau ke sini hanya untuk main game saja, kan?" Tanya Natsu was-was.
"Hm... ah, tentu saja," dan Gray menjawab dengan amat tidak meyakinkan sehingga membuat Natsu berpikir untuk meningkatkan kewaspadaan diri untuk jaga-jaga kalau ternyata Gray punya agenda terselubung. Pemuda pinkish itu lalu duduk di samping Gray, meraih joystick kemudian menatap ke layar televisi.
"Oh Street Fighter," ucap Natsu sambil mendengus pelan.
"Yup dan akan kupastikan kau kalah hari ini, Natsu."
"Hee... semangat sekali, memangnya kenapa kalau aku kalah?"
"Hm hm... aku belum bilang peraturannya ya?" Gray menempelkan pundaknya ke pundak Natsu sambil berbisik pelan, "yang kalah harus buka satu persatu baju yang mereka pakai saat ini."
"E—eh?!" Natsu hendak protes, namun Gray sudah memilih karakter yang akan ia pakai untuk bertarung dan Natsu tak punya pilihan kecuali untuk mengikuti kemauan Gray yang ternyata memang punya agenda terselubung hari ini.
Namun Natsu tak begitu khawatir sekarang. Kenapa? Kalian penasran?
Hal itu dikarenakan...
.
.
"Aku menang lagi, Gray," Natsu terkekeh geli. Satu jam. Itulah waktu yang telah mereka habiskan untuk bermain game. Dan dari sepuluh battle. Natsu menang delapan kali sedangkan Gray hanya berhasil menang dua kali. Walaupun Gray adalah seorang maniak game, namun Natsu adalah rajanya game battle walaupun pemuda bersurai pink itu tak terlalu sering main. Bakat alam, begitu yang ia bilang ketika Gray selalu kalah melawannya di masa silam. Dan nampaknya memang sampai sekarang pun Gray tak pernah bisa mengalahkan Natsu secara telak. Gray meneguk ludah berkali-kali dengan gugup, keringat dingin mengucur pelan dari pelipisnya. Kalau boleh dibilang, Gray ini tipe yang tidak pernah belajar karena sudah tahu akan kalah tapi tetap saja menantang.
Natsu kini hanya memakai celana piyama saja karena piyama dan singlet putih yang ia kenakan telah dilepas akibat kalah dua. Nah, sedangkan Gray yang nampaknya menyiapkan diri dengan memakai pakaian lapis banyak—ia memakai sweater, syal, t-shirt lapis dua, singlet, celana levis, celana pendek, dan boxer. Tebal sekali kan? Namun sayangnya kini si pemuda bersurai hitam kebiruan itu telah dipreteli pakaiannya satu persatu sehingga hanya tinggal boxer saja yang tersisa.
"O—oi, Natsu... kau tak sungguh-sungguh membuatku bugil malam ini kan?"
"Hm? Dan siapa yang menantangku tadi dengan menggebu-gebu?" Natsu mulai menarik boxer milik Gray dengan sedikit memaksa.
"Oi! Berikan keringanan dong!"
"Eits! Tak bisa! Malam ini kau tidur tanpa baju! Rasakan! Makanya jangan meremehkanku!"
Dan akhirnya terjadilah aksi tarik-ulur boxer milik Gray yang membuat keributan di tengah malam.
.
.
.
TBC—Day 3, Cleared!
.
.
.
*1LDK= Satu ruang tidur, satu kamar mandi, satu dapur. Intinya, hanya cocok untuk ditinggali satu orang.
Duh... kenapa jadi gini... =)) saya nggak punya ide buat bikin ceritanya di awal-awal tadi jadi deh saya ngetik random begini. Dan akhirnya malah rada-rada mesum hahaha... ya sudahlah. Yang penting sesuai tema
Day 3—Gaming or Watching Movie
Ah iya, saya juga selalu menunggu riview dari para readers sekalian karena riview adalah salah satu penyemangat saya untuk melanjutkan cerita ini. Oke tinggal 27 hari lagi dan misi akan selesai *masih lama*
