Halo semuanya. Setelah puas hiatus untuk ujian Universitas selama 2 tahun akhirnya Claves boleh update lagi. Seneng banget pas liat komentar dari teman teman semua, tapi maaf ya Claves belum bisa update ulang chapter 1dan 2 karena belum lihai pakai aplikasinya. Dan untuk chapter 1 atau 2 nya akan tetap dibiarkan dalam keadaan mengenaskan dulu.
Jadi inilah chapter 3 nya...
Karakter adalah milik Masashi Kishimoto, saya hanya menggunakan nama karakter saja.
Dont like dont read
.
.
.
Chapter 3 : Two Distinct Life
Aku berlari menjauh dari rumah sementara ledakan itu semakin keras terdengar, api membara menghanguskan penjuru kota, orang-orang lari ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri masing-masing. Bayi Ino menangis pelan, aku mengeratkan pelukanku dan berusaha berlari lebih cepat, semakin masuk ke dalam hutan maka semakin gelap juga cahaya disana, aku bersembunyi kedalam sebuah gua saat mendengar derap kaki tentara itu mendekat.
"Kau yakin melihat seseorang berlari ke sini ?" tanya sebuah suara
"Aku yakin ada gadis cantik berlari ke sini. Arggh sial kemana dia ?! Aku bosan dengan gadis-gadis yang kita tawan di markas" sahut suara lainnya, bisa kurasakan kakiku gemetar dan lemas, kutatap bayi dalam pelukanku, matanya terpejam waspada seolah ia paham bahwa hidup mati kami kini hanya bergantung pada keheningan ini, jantungku berdetak semakin kencang.
"Ayo pergi, aku yakin masih ada banyak gadis cantik di kota ini yang bisa dijadikan pakaian kita. Hahahaha" mereka semua tertawa bersamaan lalu pergi menjauh, aku terduduk lemas, seumur hidupku baru ini aku merasakan ketakutan seluar biasa ini. Aku menarik nafas dalam seolah aku tak akan bisa bernafas lagi, lalu segera berdiri dan keluar dari gua itu, berlari menjauh menuju sungai terdekat, kuharap ada seseorang yang bisa membantu kami.
Dari kejauhan aku bisa melihat sebuah kapal akan berlayar pergi dari sungai itu, aku berteriak pada mereka
"Hei ! Tolong !" teriakku tanpa terpikir bahwa mungkin saja mereka adalah tentara musuh, orang-orang di kapal itu melihatku dan salah seorang wanita meminta kapal itu dihentikan, aku berlari menyusuri sungai itu berusaha mengejar mereka, kapal mereka kembali merapat. "Cepat naik!" suruh seorang wanita bermata amethyst, seorang pria menurunkan tangga kayu untukku naik, aku segera menaiki kapal itu dan menunduk memohon terimakasih.
"Terimakasih banyak, aku benar benar berterimakasih" ucapku sambil menahan airmataku, wanita itu memegangi bahuku, menatapku sebentar lalu memelukku erat sambil berkata "Kau sudah aman sekarang".
Perjalanan kami dipenuhi keheningan, aku duduk di geladak kapal sambil memandangi laut tak berujung. "Bagaimana bisa kau lolos dari mereka ?" tanya seorang pria berambut pirang yamg kuketahui sebagai suami dari wanita bermata amethyst tadi, "Aku... Entahlah tuan, ceritanya begitu panjang" jawabku lemah, "Aku bisa melihatnya nona...", " Sherry, namaku Sherry" jawabku.
"Kami tahu kau mengalami hal berat nona Sherry, tapi kami ingin membantumu" jawab wanita mata amethyst,
"Namaku Hera dan ini suamiku Nicholas, kami berasal dari Jepang. Nama Jepang ku Hinata dan suamiku adalah Naruto", " Itulah alasan kalian semua memakai kimono?" tanyaku, mereka mengangguk. Aku menatap sekelilingku dan menemukan beberapa kru kapal menatapku waspada, mungkin aku memang harus bercerita.
"Semuanya dimulai pada suatu pagi.." aku mulai bercerita pada mereka, maka sisa perjalanan itu kuhabiskan mengisahkan semua yang terjadi padaku, pada keluargaku, pada Ino, pada bayi dalam pelukanku, dan pada kotaku.
"Begitulah" kuakhiri ceritaku, lalu menatap bayi Ino, ia terlelap setelah tadi disusui oleh Hinata, karena kebetulan Hinata juga memiliki seorang anak bernama Shally, atau nama Jepangnya Shion.
"Menakutkan, menakjubkan, sekaligus mendebarkanku. Kau benar benar melalui semua itu Sherry." ucap Naruto dengan mata berbinar sedih, "Kami akan pergi ke Jepang, kau bisa tinggal dengan kami dan memulai hidup baru disana nona Sherry. Kami akan mengajarimu bahasa Jepang, mencari suami terbaik untukmu, dan juga bayimu" ajak Hinata, ia menatap bayi Ino lembut.
"Bisakah ?" tanyaku ragu, "Kau harus bisa" tegas Naruto, "Apa kau sudah memberi nya nama ?" tanyanya, aku menggeleng.
"Kau harus memberinya nama Sherry, beri ia nama" usul Hinata, aku mengangguk "Namanya Sasuke, Ibunya sangat suka nama itu, jadi mulai sekarang namamu adalah Sasuke, dan kau adalah adalah penerusku. Haruno Sasuke"
"Dan kami harus membiasakan diri memanggilmu Sakura, betul bukan ?" Hinata tersenyum lembut padaku, aku balas tersenyum pada mereka, penyelamatku.
Daratan semakin dekat, pelabuhan di Jepang terlihat lebih padat, orang orang berlalu lalang, kuli angkut mengangkut beban sebesar tubuh mereka, dan kapal kapal itu tak bisa kuhitung jumlahnya dengan jariku.
"Sakura, bersiaplah untuk hidup barumu" ucap Hinata, "Mereka akan berteman baik" ia mendekatkan Shion pada Sasuke, mata Shion terlihat berbinar manis, berbanding terbalik dengan mata Sasuke yang gelap namun memikat. "Ya, mereka akan berteman" aku mengecup mata Sasuke, ia tertawa kecil.
Kapal kami berlabuh, tangga diturunkan, Naruto berusaha memayungi kami berdua tapi aku menolak, tugasnya adalah melindungi Hinata, aku tak mau menjadi beban.
Kakiku menginjak tanah, langkah pertamaku di Jepang.
Dan kuharap semuanya benar-benar baik baik saja.
Cerita ini hanyalah fiktif belaka, semua kejadian dan waktu adalah disengaja dan tanpa niat menyinggung pihak manapun.
