-~0~-
Road to Dad
By Kyuutacchi
.
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Genre : Hurt/Comfort, Family, Adventure, (Mostly Angst).
Rated : T (Mungkin bisa berubah)
Main Pairing : Pairing yang sudah Canon. (Maybe a little Borusara)
WARNING :
MISS-TYPO / GARING / EYD TAK TERATUR / FLUFF TANPA KEPASTIAN / SLIGHTLY-OOC / KRIUK-KRIUK.
SIDE EFFECT :
PERHATIAN! DAPAT MEMBUAT PEMBACA DIGANTUNGIN, BANYAK CLIFFHANGER, DITINGGALIN, DITIKUNG, ATAUPUN DIFITNESS—eh maksudnya DIFITNAH!
MOHON MEMBAWA PERALATAN OBAT YANG CUKUP UNTUK MENANGANI ALUR ANGST DALAM CERITA INI.
-~0~-
Summary :
Naruto dan Boruto bertengkar lagi, meski tidak separah seperti waktu itu. Akhirnya Boruto lebih memilih menjalankan sebuah misi panjang bersama dengan timnya—untuk menjauhi ayahnya. Selesai misi, Boruto dan Sarada berjalan-jalan dan menemukan sebuah kota kecil. Disitu, mereka ditawari sebuah hidangan lezat mirip ramen. Tanpa diketahui, mereka terperangkap ke dalam sebuah genjutsu, dimana mereka terjebak di sebuah dunia yang tidak mereka ketahui sama sekali. Dunia—yang membuat Boruto dan Sarada lebih mensyukuri hidup mereka yang sekarang. [Boruto : ROAD TO NINJA ver.]
-~0~-
A/N : Hai, aku kembali lagi dengan chapter 3 yang gaje ini :v.
Btw, special thanks buat semuanya yang udah ngefollow dan nambahin cerita ini ke favourite kalian. Aku seneng banget. Dan juga terima kasih buat Salsabilla12 yang udah setia buat nge-review. Semoga chap. ini lebih memuaskan dari chap sebelumnya ya ;)
Singkat cerita, Naruto dkk bukan punya author, tapi milik om Kishimoto, aku semata-mata cuman pinjem karakter anime-nya buat ngejalanin nih cerita…
Chapter 3 – Tricked.
.
Setelah berdiskusi, akhirnya mereka dapat membaca kode tersebut dengan jelas. Tetapi mereka belum bisa menemukan makna dari kode tersebut.
"Waspadalah ketika Para Raja melangkah, nasib dunia ini ada di tangan dia yang tidak mengetahui, selamatkanlah dunia ini dari bara keegoisan dan hentikan siklus kebencian yang terus hidup dalam dia yang melihat segalanya."
Mereka semua terdiam—terkecuali Boruto yang dari tadi memang membisu. Masing-masing dari mereka mencoba untuk memecahkan kode ini. Sarada pun memulai;
"Mungkin kita harus mengamati satu persatu kata yang ada didalamnya. Mulai dari Para Raja. Kira-kira maksudnya apa?"
Mitsuki mengelus dagunya, "Mungkin para Kage?"
Kage? Apa hubungannya Kage dengan masa depan? Aku tau persis hubungannya, tapi sepertinya konotasinya kurang pas, pikir Boruto. Diam-diam dia ikut berpikir, meski dia sama sekali tidak berniat untuk gabung dalam diskusi. Berbicara tentang Kage, dia jadi ingat dengan—
Ah lupakan saja!
Konohamaru bergumam pelan, "Apa mungkin ini yang pernah diucapkan Shikamaru-san dulu, Para Raja..?"
Bisa jadi, tetapi Konohamaru belum berniat memberitahu maksud dari para raja ini kepada murid-muridnya, maupun kepada Keitaro. Pertama-tama ia harus memikirkan dulu apa maknanya sama dengan makna yang ingin disampaikan dalam kode ini.
"Lalu yang kedua ada dia yang tidak mengetahui, ada yang punya ide?" lanjut Keitaro. Keitaro pun saat ini sedang berjuang. Memaksakan otak kecilnya untuk berpikir keras karena sebelumnya dia sama sekali tidak berpengalaman dalam memecahkan sebuah kode. Dia bahkan bukan seorang shinobi.
Sarada membetulkan letak kacamatanya seraya berkata, "Mungkin si penulis kode sedang memberitahu kita tentang seseorang. Seseorang ini pasti tidak berkaitan dengan ini semua, sehingga disebut dia yang tidak mengetahui,"
"Atau bisa jadi, orang yang disinggung si penulis kode ini ada diantara kita berlima." ujar Boruto, yang sekarang mulai ikut berbicara.
Keitaro memiringkan kepalanya, "Hm? Kok bisa begitu?"
Sepertinya tidak hanya Keitaro yang juga bertanya-tanya tentang teori yang diusulkan Boruto. Konohamaru, Sarada, dan Mitsuki pun terlihat antusias menunggu penjelasan yang keluar dari mulut putra sang nanadaime ini.
"Seperti yang sudah dikatakan tadi; dia yang tidak mengetahui. Bisa saja si penulis kode mengetahui bahwa kode ini tertuju pada orang-orang yang pertama kali membukanya. Maksudku.."
Boruto berpikir dan mencari kata-kata yang pas untuk penjelasannya.
"Keitaro! Dimana kau menemukan kode ini?" Boruto menembakkan pertanyaan pada sang pemimpin desa.
Keitaro tergagap-gagap, "E-Eh, l-lebih tepatnya kode inilah yang secara misterius terkirim ke desa ini." Boruto tersenyum miring dan melipat tangannya di depan dada, "Bingo."
Konohamaru mulai mengangguk-angguk dan Mitsuki tersenyum. "Kurasa, putra nanadaime lebih pintar dari yang kukira ya," Boruto tersedak dan membelalak tiba-tiba ketika mendengar ucapan Mitsuki. Ia menghentakkan kaki dan berjalan mendekati Mitsuki. "Kau pikir aku sebodoh apa? Aku ini 'kan Chuunin. Wajar saja jika dugaanku tepat,"
Mitsuki kembali tersenyum ala Sai, "Hehe, maksudmu genin terakhir yang dipromosikan menjadi chuunin?"
Sarada tertawa, disambut oleh Konohamaru yang nampaknya terbahak-bahak. Bahkan Keitaro tertawa kecil namun berusaha menutupinya dengan kedua tangannya. Wajah Boruto memerah dan mulai memalingkan tubuhnya lagi.
"…by the way, kembali lagi ke topik. Selamatkanlah dunia ini dari bara keegoisan dan hentikan siklus kebencian yang terus hidup dalam dia yang melihat segalanya. Kira-kira menurut kalian apa?" tanya Konohamaru, menghentikan tawanya dan mulai kembali serius.
Ketiga genin terdiam dan mencoba berpikir tentang makna petunjuk terakhir dari kode itu. Bara keegoisan? Siklus Kebencian? Dan juga, siapa dia yang melihat segalanya?
Kami-sama kah?
Oh tidak mungkin sejauh itu.
Konohamaru menggaruk-garuk kepalanya tanda frustasi. Ia menggertak dan memejamkan kedua matanya, sambil membayangkan kenapa Naruto memberikan misi ini kepadanya. Misi ini jelas-jelas rank-S menyangkut-nyangkut tentang dunia. Kalau misi macam ini, sebaiknya diserahkan kepada aliansi saja! Bukan ditangani sendiri. Dan yang lebih lucunya lagi, kenapa Naruto menyerahkan misi ini pada tim ini? Yang jelas-jelas anggotanya saja baru diangkat menjadi Chuunin. Seharusnya Naruto memberikan misi ini pada jounin atau tokubetsu jounin* yang sesuai dengan bidangnya.
Menyerah, akhirnya cucu hokage ketiga ini pun menghela nafas.
"Keitaro-san, aku tidak begitu ahli dalam memecahkan kode seperti ini. Tapi menurutku, ada kesalahpahaman dalam misi ini. Aku dan tim-ku akan kembali ke desa, dan berusaha untuk mengirimkan tim yang lebih baik, untuk memecahkan kode ini."
Keitaro mengangguk-ngangguk. Walaupun agak kecewa, tapi dia harus bisa memaklumi ini semua. Mungkin ini termasuk salahnya juga, karena telah meminta spesifikasi yang salah.
"Baiklah, jika menurutmu itulah yang terbaik, maka aku tidak keberatan."
Tim Konohamaru berjalan pulang, dengan hasil yang kurang memuaskan. Mereka berharap bisa membantu lebih banyak, tapi apa boleh buat.
Dalam perjalanan menuju Konoha, Konohamaru memutuskan untuk makan siang sebuah kedai. Semua nampak bersyukur dan lega saat diberi waktu untuk makan siang dengan tenang—tapi tidak dengan Sarada.
Hatinya masih belum bisa tenang. Menurutnya—atau mungkin menurut firasatnya —misi ini masih memiliki keterkaitan dengan adanya Sharingan, dan itulah yang membuatnya tidak tenang. Pikirannya pun sekarang tertuju pada ayahnya. Sejak kapan ayahnya pulang? Kenapa ayahnya mengizinkannya untuk pergi ke dalam misi ini semudah itu?
Sarada hanya bisa menghembuskan nafas panjang dan memijat-mijat alisnya.
Gadis ravenette ini pun menoleh dan mendapati gurunya sedang merayu seorang pelayan kedai, sementara kedua temannya menyantap makanan seakan misi tadi tidak berdampak apa-apa pada mereka. Sarada mengakui, bahwa kedai ini memang bagus. Tidak hanya bagus pelayanannya dan juga makanan yang disajikan, tapi juga pemilihan tempat yang pas. Letak kedai yang tidak begitu terbuka namun juga terkesan asri, serta dibelakang kedai kita dapat melihat pemandangan pegunungan yang agung.
Sarada tersenyum, mungkin gurunya tidak kan keberatan jika ia berjalan-jalan sebentar, ya 'kan?
Sarada berjalan menghampiri sang jounin, "A-Ano, Konohamaru-sensei." panggilnya. Yang dipanggil pun menoleh dan tersenyum padanya. "Iya, Sarada?"
"Bolehkah aku berjalan-jalan sebentar? Yang lain masih bersantai, aku hanya ingin melihat-lihat lingkungan sekitar saja." ucap Sarada, mengisyaratkan Konohamaru untuk melihat betapa asrinya lingkungan ini.
Konohamaru mengangguk tetapi ia bersedekap didepan dada. "Jangan jauh-jauh, juga jangan lama-lama. Kita akan lanjut perjalanan ke Konoha 20 menit lagi, mengerti?"
Sarada mengangguk mantap. Ia pun berjalan keluar kedai, meninggalkan gurunya yang sekarang kembali menggoda salah satu pelayan kedai. Sungguh, dari mana kebiasaan gurunya itu?
Saat Sarada berjalan, ia merasakan sebuah tangan mendarat di pundaknya. Ia terkejut dan siap-siap mematok orang itu dengan tangannya namun membatalkan niatnya ketika mengetahui siapa yang barusan menyentuh pundaknya.
"Boruto! Ngapain disini, ngagetin tau!"
"Hehe, maaf. Mau ngapain?" tanya Boruto. Ia menyilangkan kedua tangan di belakang tengkuknya.
"Jalan-jalan sebentar, aku udah izin dengan Konohamaru-sensei. Mau ikut?"
"Boleh deh."
Kedua chuunin ini pun berjalan diantara pepohonan. Mengagumi betapa sejuknya daerah ini. Pepohonan seakan melambai-lambai ketika rantingnya tertiup angin. Daun-daun beterbangan dan udara yang tercium begitu segar. Sinar matahari tidak begitu panas siang itu, sehingga momen-momen seperti inilah yang begitu menenangkan. Damai.
Ya, satu kata yang dapat menggambarkan keadaan saat ini.
Berbeda dengan desa Konoha, yang dipenuhi dengan gedung-gedung pencakar langit dan juga beberapa tembok pembatas. Tembok yang menghalangi langit yang biru nan megah. Serta berkurangnya pepohonan. Udara disana pun tidak se'bersih' udara disini.
"Boruto, emang ada apa dengan ayahmu, jadi malah berantem begini?" tanya Sarada, tanpa melirik kearah putra sang nanadaime ini. Boruto, yang merasa kurang nyaman dengan pertanyan ini, berdehem dan mengalihkan pandangannya.
"Nggak kenapa-napa kok."
Karena singkat, Sarada sudah menduga mungkin Boruto belum ingin membicarakan tentang hal ini kepadanya. Meskipun terkadang keduanya bertengkar, namun pada akhirnya mereka masih berteman. Bahkan teman dekat, jika bukan karena hubungan ayah mereka.
"Oh iya, gimana perkembangannya, latihan sama papa?" tanya kembali gadis uchiha ini. Boruto terkejut dan ia menatap putri gurunya itu.
"Yaa...gimana ya, lumayan sih. Sekarang pengendalian chakraku sudah stabil plus bidikan kunai-ku lebih membaik dari sebelumnya."
Sarada memiringkan kepalanya, "Hm? Belum diajarin teknik-teknik baru?"
Boruto menggeleng tetapi seulas senyuman menempel di wajahnya. "Niatnya sih, shisou* mau ngajarin chidori. Tapi, dia juga masih belum tau elemen chakraku apa." Sarada terhenyak, Chidori? Jurus itu? Batinnya.
Terkadang ia juga merasa cemburu. Bukan cemburu karena Boruto semakin hari semakin kuat dan mempelajari jurus-jurus baru. Tetapi cemburu karena Boruto lebih banyak menghabiskan waktu dengan ayahnya, ketimbang dirinya sendiri—sebagai putri semata wayangnya. Tapi selain itu, ia juga senang. Senang melihat perkembangan Boruto.
Boruto yang memang pada dasarnya bersifat kekanak-kanakan dan cenderung penyendiri itu, sekarang lebih terbuka dan lebih bersemangat dalam melakukan segala sesuatu. Boruto yang biasanya mudah menyerah dan tidak mau berusaha demi sesuatu, sekarang tidak lagi seperti itu. Sarada bisa melihat tekad api yang membara di hati temannya itu.
Sarada merasa bangga. Bangga melihat Boruto semakin membaik.
"Baguslah kalau begitu, Boruto!" senyuman manis terukir di wajah Sarada, dan membuat Boruto ikut tersenyum.
Sarada tersentak ketika Boruto ikut tersenyum.
Meskipun tidak mau mengakuinya terang-terangan, tetapi gadis keturunan uchiha ini sepertinya mulai menumbuhkan ketertarikannya pada putra hokage ketujuh. Sejak penyerangan Ootsutsuki, sejak perkataan Boruto; untuk ingin menjadi seperti ayahnya.
Yap, tapi tentu saja Sarada tidak mau mengakuinya.
Tanpa mereka sadari, mereka menemukan sebuah kota kecil. Namun, sepi dan sunyi. Tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan. Meskipun agak ketakutan, tetapi kedua chuunin ini enggan memutar balik arah dan terus menelusuri kota kecil ini.
Di tengah-tengah kota, keduanya mencium aroma masakan yang sepertinya baru saja matang. Entah darimana asal aroma itu. Tetapi keduanya berniat untuk mencari asalnya. Mereka berjalan menelusuri jalan utama kota, yang terdapat balai kota dan sebuah air mancur yang lumayan besar. Kota ini terdiri dari banyak toko. Namun bisa dilihat bangunannya yang agak retak dan catnya yang memudar itu pertanda bahwa kota ini sudah tua.
Akhirnya mereka menemukan sebuah restoran kecil—yang nampaknya menjadi sumber aroma yang tercium tadi. Memasuki restoran itu secara perlahan, Boruto dan Sarada mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Dan mereka menemukan pemilik restoran kecil itu—seorang nenek tersenyum pada mereka.
Kaget setengah mati, keduanya terlonjak dan mengambil langkah mundur. Pemilik resto itu tampak tersenyum, seakan sudah menunggu kehadiran mereka.
"Selamat Siang, Tuan dan Nona muda. Ada yang bisa saya bantu?"
Boruto menelan air liurnya, menahan nafsu ketika indra penciumannya kembali menemukan aroma yang menggugah selera itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "S-Siang, Nek! Emm…Nenek kira-kira jualan apa ya?"
Niatnya ingin bertanya, malah mendapatkan jitakan gratis dari Sarada.
Lah, Boruto nggak salah kok! Perawakan pemilik resto itu memang tua, dan matanya menyipit, seperti seorang nenek-nenek.
(A/N : Wong nenek-nenek kok! :v)
Nenek itu pun tertawa. "Tuan muda, aku menjual hidangan mie. Apa tuan muda bersedia untuk mencicipinya?"
Mata Boruto berbinar-binar. Jika kalian bisa melihat, pasti kalian dapat menemukan bintang-bintang kecil bersinar di matanya yang bermanik safir itu. "Boleh Nek!"
Sarada melongo dan menatap Boruto dalam-dalam. "Kamu bukannya baru abis makan tadi?!"
Boruto mengangguk-angguk. "Iya, tapi kan kalo kayak gini, aku jadi laper lagi. Hehehe..." ucapnya sembari menjilat bibirnya dan melihat nenek itu ketika sedang mengambil makanan.
Sarada menghela nafas namun juga tidak dapat mengelak. Ia juga terpikat dengan aroma masakan itu. Seperti halnya Boruto, Sarada mengambil tempat duduk disebelah temannya itu dan menunggu.
Setelah beberapa menit, Nenek itu pun menyajikan dua mangkuk penuh berisi mie di meja mereka. Kebetulan, Sarada dan Boruto duduk berhadapan. Uap panas mengepul dan aroma wangi kembali tercium, namun lebih tajam.
Kuahnya merah, mienya terlihat banyak namun warnanya yang cerah begitu menggugah selera. Dilengkapi dengan bumbu kari, daun bawang, dan menma (A/N : Kalau nggak salah, menma itu bahan penyedap; bambu kering). Banyak warna yang terdapat dalamnya.
Ketika suapan pertama mendarat di lidah, Boruto terhenyak dan wajahnya terlihat begitu gembira. Rasanya gurih tetapi juga terdapat unsur asam dan daging yang terdapat didalamnya juga tidak kalah enak. Apalagi mie-nya yang halus dan mudah digigit. Sarada juga tampak tidak jauh berbeda. Gadis ini, saking mengagumi masterpiece yang ada dihadapannya ini, melahap secara perlahan sehingga tidak cepat habis.
"Oishi nee~" celetuk Sarada. Mulutnya tidak dapat berhenti mengunyah. Bahkan sekarang, Boruto sudah menyantap mangkuk ketiganya.
"Berapa, semuanya nek?"
Nenek itu pun menggelengkan kepalanya dan menopang dagunya, "Tidak usah membayarnya, tuan muda. Anggap saja ini hadiah dariku, karena sudah mengunjungi kota kecil ini."
"Aih, setidaknya biarkan kami membayar jasamu karena sudah menyambut kami dengan ramah. Aku juga ingin memesan dua porsi dibungkus, untuk orangtuaku." Sarada tercengir dan hendak mengeluarkan dompetnya dari tas kecil yang terikat di pinggangnya.
Namun, ada sesuatu yang tidak beres.
Ketika hendak mengambil uang, Sarada merasakan pandangannya mulai buram. Namun ia masih bisa menangkap sosok Boruto, yang jatuh tersungkur di lantai restoran. Pingsan. Tanpa sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya, Sarada pun terjatuh dan kesadarannya mulai memudar.
Samar-samar, dia masih bisa menangkap sosok wajah nenek-nenek itu. Dan ia juga masih bisa mendengar, suara nenek itu ketika beliau berkata; "Semoga beruntung."
[]
Update setiap minggu dan hari rabu. Ku harap kalian menyukai cerita yang kubuat. Ini semata-mata ingin kubuat untuk merayakan Hari Ayah. Tapi, hey ... setiap hari adalah hari ayah! Jadi, mohon kritik dan sarannya ya semua!
See you soon ;)
-Kyuutacchi.
