SOULMATE?

Main Cast : Lu Han, Oh Se Hun, Wu Yi Fan (HunHan, KrisHan)

Genre : Family, Romance, Sad

Length : Chapter 3 0f ?

Summary :

Lu Han, gadis yang berusia 18 tahun, periang, pintar, humoris dan selalu positif thingking, menerima perjodohan dengan anak laki-laki tunggal keluarga Wu, seorang pengusaha garment menengah di Kota Seoul, yang berusia 33 tahun, demi mengangkat derajat keluarganya.

Bagaimanakah perjalanan rumah tangga mereka?

.

.

.

DISCLAIMER :

Hai Readers, sebelum kalian membaca fanfic ini, aku kasih tau dulu kalau cerita fanfic ini aku ambil dari sebuah novel yang berjudul 'Belahan Jiwa?' by KY. Inti ceritanya hampir mirip dengan kisah yang aku alami kurang lebih setahun yang lalu. Garis bawahi ya, HAMPIR MIRIP. Makanya aku tertarik untuk mempostingnya di FFN dengan mengubah tokoh utamanya dengan anggota boyband biasku-EXO.

Aku kasih tau sama kalian kalau ceritanya ini bagus. Konfliknya banyak dan sangat menarik untuk dibaca. Kalau kalian tidak puas hanya dengan membaca fanfic ini, aku saranin untuk membaca novelnya langsung. Dijamin kalian akan puas.

Aku ngeposting cerita ini niatnya bukan untuk meng-COPAS tapi hanya untuk berbagi dengan kalian semua yang suka hunting cerita di FFN, terutama yang suka HunHan sebagai tokoh utamanya. Dan cerita ini sepertinya belum ada terposting di FFN, menurut sepengetahuanku ya ^-^"

Terakhir, aku ingatkan bahwa cerita ini Genderswitch dengan Rate M. Bagi Readers yang tidak suka dengan Genderswitch dan yang belum cukup umur dipersilahkan menutup kembali halaman ini.

NB. Tulisan miring hanya untuk kata/kalimat dalam bahasa asing.

.

.

.

Happy Reading ^-^

.

.

.

CHAPTER 3

.

.

.

Aku melampiasan semua rasa kesepian, kesedihan, kekesalan dengan menulis. Setiap kali menulis artikel tentang tempat wisata, jiwaku terasa terbang ke tempat itu, memandang secara langsung keindahannya, keeksotisannya, semilir anginnya...sementara ragaku akan mengetik dengan lancar melalui jari-jariku di keyboard

Sudah lima bulan berlalu sejak 'pemerkosaan' atas diriku. Aku menjadi malas berbicara, malas untuk melakukan apa-apa. Aku berubah. Aku bukanlah Luhan yang positive thinking lagi. Dalam kasusku ini, tidak ada sedikit celahpun yang kuanggap sebagai ke-positif–an, kecuali kalau aku mau harga diriku hilang total.

Aku merasa tidak betah lagi. Rumah terasa seperti neraka! Hatiku gelisah. Otakku berputar terus, apa yang harus kulakukan? Apa?

Sudah tidak ada canda tawa diantara aku dan Yifan. Tekanan kepada Yifan, terutama kepadaku dari mama mertua benar-benar besar, membuatku terhimpit, sesak, susah bernafas!

Aku sering terbangun tengah malam, gelisah dan ketakutan karena mimpi buruk, dimana aku seperti dikejar-kejar orang banyak, disiksa, namun tidak ada satu orang pun yang menolong!

Berminggu-minggu aku merasa 'tersesat', lost somewhere...hidupku seperti Zombie...

Namun akal sehatku mengingatkan bahwa aku tidak boleh dan tidak bisa seperti ini terus.

Aku ingin menghirup udara bebas, aku ingin berlari di padang rumput yang luas, aku ingin tertawa lagi, aku ingin bahagia lagi, aku ingin menjadi gadis positive thinking seperti dulu lagi…

Yifan sekarang berubah mesra lagi seperti biasanya, tapi aku mulai merasa dingin...bukan hanya karena masalah sperma siapa, tapi jari dan dildo pink sudah tidak menarik lagi bagiku, aku sudah kebal, aku ingin yang alami milik suamiku. Memakai dildo atau jari membuatku seakan aku tidak memiliki sparing partner yang nyata...

Aku masih ingat bagaimana keperawananku direnggut oleh 'suami keduaku' itu, Dildo...

Yifan membawa pulang kaset film porno, dia ngotot membeli kaset seperti itu setelah tahu aku bisa menikmati dan langsung terangsang.

Waktu itu, film mungkin baru main sekitar 10 menit, tapi aku sudah merasakan libido tinggi menyerangku. Aku mengesek-gesekkan kakiku ke kakinya, itu seakan-akan menjadi isyarat bahwa aku mulai 'naik'.

Yifan menciumiku, bibir hangat dan basahnya menyapu bersih leherku. Kedua tangannya melepaskan semua bajuku hingga polos...Aku memejamkan mata, menggerakkan kedua pahaku, merasakan sensasi basah diantaranya...

Yifan membuka bajunya, lalu bermain dengan kedua payudaraku...permukaan lidahnya yang kasar memberi sensasi kenikmatan luar biasa! Syaraf-syaraf seks ku langsung bereaksi cepat ke arah pangkal paha! Aku melenguh dan menjambak rambut Yifan.

"Fan…hisap...dua-duanya..." Aku meracau. Yifan langsung menghisap putingku yang keras!

Kenikmatan yang dihasilkan bergitu berlipat...Pangkal pahaku sudah tidak sabar menunggu sentuhan suamiku...

"Oh Fan…gigit Fan!"

Yifan menggigit - menghisap – menggigit lagi. Aku melingkarkan tungkaiku ke pinggangnya...aku menarik ke bawah, menyentuhkan bagiannya pas di bagianku...

Yifan menurunkan badannya, dengan kedua lengannya dia membuka lebar pahaku.

"Oh Luhan...kamu indah sekali..." Yifan menyingkap rambut pubis hitamku, membuka lebar hingga klitorisku terlihat jelas!

Lidahnya mulai bermain aktif, menyodok-nyodok dan menjilat di bagian yang tiada berhenti mengeluarkan cairan itu!

Ketika ujung lidahnya menyentuk klitorisku, aku langsung 'naik' lebih cepat. Aku merasa akan mendapatkan klimaksku sebentar lagi.

Yifan yang sudah bisa membaca bahasa tubuhku menghentikan kegiatan lidahnya di daerah paling sensitif itu.

Aku menggeram! Nafsuku sudah berada di puncak!

Yifan merogoh laci meja kecil dekatnya, mengeluarkan dildo yang baru dibelinya.

Aku masih menggeliat-geliat dikuasai nafsu yang membara.

"Aku akan masukkan penis ini sayang...kamu bertahan ya...kalau sakit kamu tinggal bilang untuk berhenti…"

Aku hanya mengangguk-angguk gelisah, tanganku sudah meremas-remas sprei sampai kusut!

Aku merasakan sesuatu menyentuh mulut liang vaginaku. Yifan menekan lagi hingga seperempat masuk lalu berhenti. Aku merasakan sensasi yang jauh berbeda!

"Terus Fan…terus..." aku meracau lagi.

Yifan menekan lagi sampai setengah, menembus sesuatu di dalam sana!

Yifan berhenti, dia meraih tisu dan mengelap bagian luar liang vaginaku.

"Darah perawan kamu keluar sayang...sakit?"

Aku menggelengkan kepala.

Perlahan Yifan memasukkan lagi batang penis itu hingga mencapai ujung...dan aku menggeram oleh sensasi rasa 'penuh' yang menyenangkan!

Jari Yifan mengusap klitorisku sementara batang penis itu masih menancap diam.

Aku menggelinjang, merasakan ada dua tempat yang terasa nikmat menggelitik!

Setelah Yifan melihat cairan pelumas keluar dari lubang vaginaku lagi, dia mulai menarik pelan batang penis itu, memasukkannya, mengeluarkannya lagi, berkali-kali.

Aku bergerak tak menentu mendapat dorongan seperti itu! Tiba-tiba aku merasakan ada yang bergetar di dalam diriku, Yifan menyalakan vibratornya!

Aku benar-benar melengking penuh kenikmatan, apalagi dildo itu memiliki 'tanduk' yang secara berirama menyentuh gundukan diantara labiaku.

"Yifan!" Aku melengkungkan badanku ke atas, menyorongkan pinggulku tinggi-tinggi, lalu terhempas keras di kasur…

Aku mendapatkan klimaks yang terbaik!

Yifan mengeluarkan Dildo Pink itu dari dalam vaginaku. Menunjukkan padaku betapa bagian batangnya basah kuyub bercampur dengan bercak darahku.

Yifan memelukku erat, menciumi wajahku…Wajahnya memperlihatkan rasa puas dan bahagia.

Setelah aku tenang, Yifan membantuku ke kamar mandi membersihkan semua noda yang tertinggal...

Aku tersenyum getir mengingat pengalaman pertama itu...keperawanan yang aku jaga seumur hidup direnggut oleh sebuah dildo...

Sekarang semua terasa hambar. Rasa cinta yang besar dalam hatiku perlahan tertutup rasa galau, rasa ingin terlepas dari kungkungan dan tekanan...Aku sudah tidak merasa sebagai istri Yifan lagi. Aku sudah tidak kuat. Aku menyerah...

.

.

.

Hari ini aku berniat mengutarakan perasaanku, keputusan finalku. Tapi Yifan pulang dari kantor dengan kejutan lagi, dia memberiku hadiah mobil!

Mobil Eropa empat kursi yang nyaman berwarna putih.

Rencana untuk membicarakan keputusanku terlupakan begitu saja...

"Kalau kamu sudah lancar, kapanpun kamu mau berkunjung ke rumah mama, kamu bisa pergi sendiri atau pergi duluan dan aku bisa menyusul belakangan." jelas Yifan.

Aku tersenyum lebar mendengarnya.

Butuh dua bulan bagiku untuk lancar mengendarai mobil itu.

Seperti anak kecil yang baru bisa menaiki sepeda, kemana-mana aku selalu membawa mobil. Bahkan ke rumah Minseok pun aku pernah naik mobil!

Saat ini aku sedang di jalan raya, mengantar Minseok dan kedua bayinya ke bandara, suaminya mendapat tugas menjalankan cabang baru di pulau Jeju.

Suaminya sudah berangkat terlebih dahulu seminggu yang lalu, merapikan tempat tinggal mereka, baru kemudian istri dan anaknya menyusul.

Aku memeluk Minseok erat sebelum dia masuk ke ruang check in bandara...mataku merah karena menangis, berat berpisah dengan sahabat yang selama dua tahun ini selalu menjadi tempat curhatku…

Minseok mengelap air matanya.

"Masih ada email Lu, kamu bisa menghubungi aku seperti biasa..."

Aku mengangguk, melambaikan tanganku lemas...

.

.

.

Perpisahan dengan Minseok menambah kekosongan baru dalam hidupku. Otak dan hatiku mulai gelisah lagi, ingin memberontak lagi, ingin kebebasan lagi!

Hubunganku dengan Yifan masih jalan ditempat. Mama mertuaku semakin tidak memperdulikanku. Aku merasa bagaikan burung nuri yang terpasung dalam sangkar emas...

Kosong…hampa...rasa sesak seperti dalam kurungan sudah menjadi momok bagiku.

Aku bangun setiap pagi, seperti robot, tanpa perasaan.

Sudah berbulan-bulan aku selalu mengelak kalau Yifan mau memberiku kepuasan.

Dan Yifan tidak berani untuk menekanku.

Hambar.

Hari ini aku melakukan kegiatan seperti biasanya, aku menunggu suamiku pulang kantor di kamar, aku sudah lama malas menonton televisi bersama papa dan mama mertua di ruang tengah.

Yifan masuk ke kamar dengan wajah ceria, seperti tidak pernah terjadi apa-apa, dia memelukku, mencium pipiku, bibirku. Hatiku perih.

"Fan..." Aku memanggil Yifan, mengajaknya duduk di tengah kasur di hadapanku.

Aku mengepalkan tanganku kencang, tekadku sudah bulat!

"Fan…aku mau bicara." aku menunduk.

Yifan menengadahkan wajahku, roman ceria wajahnya menghilang begitu melihat mataku...

"Luhan…ada apa sayang?" Yifan menggenggam kedua tanganku yang dingin dan gemetar.

Aku menarik nafas panjang. Menunduk lagi, tidak sanggup melihat wajah Yifan.

"Aku ingin berpisah Fan!" aku berkata cepat dan tegas.

Yifan terkejut, diam, mencoba mencerna apa yang barusan didengarnya.

"Berpisah...? Maksudmu?" Yifan bertanya pelan, genggamannya makin erat – menyakitiku.

"Ceraikan aku Fan..." aku menjawab pendek, menatap mata Yifan lurus-lurus.

"Luhan...kamu...aku...aku tidak mungkin menceraikan kamu Luhan!" Yifan tergagap, tidak menyangka aku akan berkata seperti itu. Wajahnya pucat pasi seperti mayat, matanya terbelalak kaget, tangannya semakin kuat menggenggam tanganku.

"Maafkan aku Fan…aku tidak kuat lagi…aku tidak tahan...tekanan papa-mama, kondisi kamu, membuat aku terjepit Fan! Aku tidak mau menjadi penghalang kebahagian papa-mama Fan, kamu harus mencari wanita lain yang bisa menjadi ibu buat penerus keluarga ini. Tidak adil rasanya aku tetap bertahan disini, hanya diam menyaksikan papa-mama dan kamu tersiksa..."

"Luhan…aku tidak mau berpisah sama kamu sayang. Aku cinta kamu dengan seluruh hidupku. Tolong Luhan. Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu. Luhan, lakukanlah apa yang mau kamu lakukan Luhan, asal kamu tidak pergi dari sisiku...Luhan..." Yifan mulai terisak-isak, menangis...

Oh Fan...jangan menangis...jangan mempersulit situasi ini, marahlah! Agar aku bisa keluar dari rumah ini dengan perasaan lebih ringan...marahlah Fan! Maki-lah diriku dengan segenap emosimu!

Aku mulai terbawa suasana kesedihan ini, air mata yang sedari tadi aku tahan, mengalir tidak terbendung lagi menyaksikan orang yang sangat aku cintai, menangis di depanku.

"Fan...aku tidak mau begini terus...aku ingin bebas...jiwaku merasa terkekang disini Fan…" aku berkata diantara isak tangisku.

"Luhan, lakukan apapun yang kamu mau, apapun, asal kamu tetap disini." Yifan terdiam dalam isakannya. "Kalau kamu ingin bersama pria lain yang normal Luhan, lakukanlah sayang…aku tidak akan marah, aku tidak akan melarang apapun yang kamu lakukan...asal kamu tetap disini, disisiku Luhan..." Yifan sudah mengenyahkan semua ego, nafsu, dan harga dirinya.

"Yifan...maafkan aku…aku tidak bisa…besok aku akan pulang ke rumahku...aku akan tanda tangani segera surat perceraian yang kamu kirimkan nanti..." aku bersikeras.

Yifan semakin terisak, matanya memerah, wajahnya sudah benar-benar terlihat putus asa.

"Adakah sesuatu yang bisa aku lakukan agar kamu tetap berada disisiku Luhan...tolong aku Luhan..."

Aku menggigit bibirku, menggelengkan kepalaku.

Yifan melepaskan genggamannya, kedua tangannya mengepal dan meninju kepala kasur hingga retak!

Aku terhentak kaget!

Ketika tangannya berdarah, aku cepat mengambil kotak obat.

Yifan tidak memperdulikan darah dari tangannya yang berceceran di kasur. Nafasnya tersenggal-senggal oleh tangisnya.

Aku membersihkan dan membalut luka di tangannya dengan air mata yang juga tidak bisa aku hentikan…

Oh Tuhan...apakah keputusanku sudah tepat?

Bahu Yifan yang biasanya tegak kini merosot turun, lunglai...

"Luhan…aku mencintaimu…" Yifan berkata lagi dengan penuh perasaan, terdengar begitu pedih…

Aku menggelengkan kepalaku, lebih mengeraskan hatiku lagi...

Lama kami hanya berdiam…Yifan tampak termenung...sesekali diusapnya air mata yang membasahi wajahnya…aku hampir menyerah, mengalah...

Tiba–tiba Yifan merengkuh wajahku di kedua tangannya yang baru kuperban, tidak terlihat sedikitpun kernyitan sakit karena luka itu di wajahnya.

Perlahan Yifan mendekatkan bibirnya ke bibirku.

"Biarkan aku menciummu, memelukmu malam ini Luhan...biarkan aku merasakan saat terakhir melihatmu disisiku...kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku Luhan…aku tidak akan pernah menceraikan kamu...kamu boleh pergi kemanapun juga, bersama siapa pun juga…tapi aku tidak akan pernah menceraikan kamu, satu-satunya cinta di hatiku...saat kamu lelah dan bosan di luar sana Luhan, kembalilah…pulanglah kepadaku...jadikan aku sandaran hidupmu Luhan..."

Yifan mengulum bibirku dengan hangat, menciumku penuh perasaan...menggenggam erat tanganku, menciumi satu persatu jemariku...airmatanya seperti rintik hujan di tanganku...

Hati kami berdua berdarah, oleh keadaan…

Kejadian ini membuatku merasa letih. Ketika aku membaringkan tubuhku, Yifan berbaring juga disisiku, memelukku erat, mengikat kakiku dengan belitan kakinya. Wajahnya dia benamkan di dalam leherku…dengan segukan tangisnya yang terdengar seperti rintihan dari hati yang terluka dalam…

.

.

.

Entah berapa lama aku jatuh tertidur...ketika terbangun jam dinding sudah menunjukkan waktu pagi, aku masih dalam posisi meringkuk dan Yifan juga masih di belakangku, masih memelukku.

Ketika aku menoleh ke wajahnya, aku tahu Yifan belum tidur sama sekali…

"Kamu tidak tidur Fan?" pertanyaan ini reflek terucap melihat betapa kuyu matanya.

"Aku tidak mau kehilangan sedetikpun melihat wajahmu Luhan...dan aku belum merasa puas juga...jangan pergi Luhan..." Yifan berbisik lemah masih berusaha merubah keputusanku.

Aku menarik nafas panjang, membuang sebersit rasa kasihan dan penyesalan yang datang sekilas. Dengan mengeraskan hati, aku melepaskan diri dari Yifan, melangkah ke kamar mandi.

Yifan terlihat tercenung, duduk diam mematung di pinggir kasur.

"Mandilah dulu Fan, setelah kamu berangkat ke kantor, aku akan pulang ke rumah dengan taksi..."

"Aku tidak akan ke kantor hari ini Luhan...Aku akan mengantar kamu ke rumah mama..."

Aku diam, hatiku tergores lagi. Oh Yifan...aku masih mencintaimu...

Aku mengambil koper yang dulu aku pakai ketika masuk ke rumah ini. Aku memilih baju-baju yang sekiranya bisa aku pakai sehari-hari. Semua baju pesta dan sepatu aku tinggalkan di lemari.

Semua perhiasan pemberian Yifan aku letakkan di meja rias dalam kotak beludru merah.

Aku hanya akan membawa cincin pernikahan yang ada di jariku. Aku tidak mengenakan perhiasan apapun ketika datang kesini dulu…

Yifan keluar dari kamar mandi, dan air matanya mengalir lagi begitu melihat aku sudah siap dengan koperku.

"Aku mau menjumpai mama dan papa dulu Fan, aku mau pamitan..."

Yifan tidak menjawab.

Aku keluar kamar, menarik nafas panjang...dan mencari orang tua Yifan.

"Apa?!" papa mertuaku berteriak kaget setelah aku menjelaskan bahwa aku meminta perceraian dari anaknya. Mama mertuaku terlihat agak kaget tetapi wajahnya terlihat normal kembali dengan cepat.

"Semua hal bisa dibicarakan Luhan...tidak adakah jalan lain selain bercerai?" papa mertua mencoba mempertahankan aku.

"Sudahlah Pa, maunya dia berpisah. Tidak usah dihalang-halangi, mungkin ini jalan yang terbaik buat kita semua." mama mertua memotong percakapan kami dengan bibir tersungging senyum tipis.

Aku menghapus air mata dengan punggung tanganku.

"Maafkan kesalahan Luhan selama ini Pa, Ma. Terima kasih sudah memberi kesempatan Luhan untuk berbahagia mendampingi Yifan. Sekarang Luhan akan langsung pulang."

Aku membungkukkan badan sedikit, menghormati mereka untuk terakhir kalinya sebagai menantu.

Aku kembali ke kamar, Yifan masih tercenung duduk memandang koperku.

Ketika aku menarik koperku, Yifan tersentak kaget, mengambil alih untuk membawa bawaanku.

Tidak ada satu patah kata pun terucap ketika kami keluar dari rumah yang sudah lima tahun ini aku tempati…

.

.

.

Yifan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sangat rendah. Sebentar-sebentar dia melihat ke arahku, menyentuh wajahku, menggenggam tanganku...

Tidak ada seorang pun dari kami berucap kata. Otakku kosong. Mataku hanya menatap ke arah depan, sayu.

Ketika sampai di rumah, Mama memandangku dan Yifan bergantian tidak percaya ketika aku mengutarakan kami akan berpisah baik-baik.

"Kalian sudah berpikir masak-masak? Kalian benar-benar tidak saling mencintai lagi?" mama bertanya heran, terkejut dengan keputusan yang aku ambil, karena aku tidak pernah bercerita tentang masalah rumah tanggaku dengan Yifan selama ini.

"Saya mencintai Luhan dengan sepenuh hati saya, Ma...kalau Luhan meminta perpisahan ini, saya akan mengikuti kemauan Luhan asalkan dia merasa bahagia…"

Aku tidak tahan lagi melihat Yifan...dengan terisak aku berlari ke kamar mama.

Ketika kudengar suara mobil Yifan berlalu pergi, ada sepotong hati yang patah dalam diriku...yang meninggalkan luka bernanah...

Mama mendekatiku, mengelus-elus rambutku….

"Yifan secara jujur menceritakan masalah kalian tadi ke mama Lu…ini hidup kamu….pikirkanlah lagi apakah memang jalan ini yang ingin kamu tempuh…hati tidak bisa bohong Lu…renungkanlah...lakukan apa yang membuatmu bahagia…"

Aku memeluk mama erat.

Raungan tangisku semakin kencang, emosi yang kutahan-tahan selama ini, meledak liar!

Mama tidak mengeluarkan sekecap kata pun lagi, menghiburku dengan senyumannya, dengan usapan hangatnya, dengan keringkihan dadanya menahan kepalaku yang terisak lemah.

Aku tertidur dalam pelukan mama…

.

.

.

Aku terbangun, memutar mataku ke seluruh ruangan, menyadarkan diriku sendiri bahwa aku sudah tidak di rumah Yifan lagi.

Ada sekelumit rasa, yang mengharapkan ini semua hanyalah mimpi...yang mengharapkan kesedihan dan kepedihan ini adalah fana….

Aku melirik koperku, wajah Yifan terbayang lagi.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku mencoba melupakan Yifan dan kenangan lima tahun bersamanya. Kenangan yang sulit aku lupakan.

Aku membuka lemari baju mama, ingin merapikan isi lemarinya agar aku bisa menyimpan baju-bajuku disana.

Ketika aku membuka koperku, kotak beludru merah terjatuh di dekat kakiku….

Aku terperanjat, mengambil kotak itu dan membukanya. Ada secarik kertas kecil tulisan tangan Yifan.

LUHAN, TOLONG HORMATI AKU UNTUK TERAKHIR KALINYA, SEMUA PERHIASAN INI ADALAH MILIKMU SEPENUHNYA. AKU TIDAK PUNYA MAKSUD APA-APA.

AKU AKAN KIRIMKAN MOBIL DAN SURAT RUMAH YANG ATAS NAMA KAMU.

SEMUA ITU BUKAN MILIKKU, TAPI SUDAH MENJADI MILIKMU SEJAK LAMA.

LUHAN, KAMU TAHU KEMANA HARUS MENCARIKU KALAU KAMU MEMBUTUHKANKU.

AKU MENCINTAIMU. SELAMANYA.

YIFAN.

Aku mendekap erat surat Yifan itu, aku melipat rapi dan kusimpan kembali ke dalam kotak perhiasan. Yifan...andai akhir cerita kita tidak seperti ini...

Yifan pasti memasukkan kotak itu ke dalam koperku ketika aku pamitan ke orang tuanya, pikiranku menerawang.

Aku berusaha tidak menangis lagi. Setelah membereskan bajuku ke lemari, aku keluar kamar, menghampiri mama yang sedang mengerjakan rutinitasnya. Aku langsung membantu mama tanpa banyak bicara.

.

.

.

Sebulan kemudian, aku seperti kehilangan jiwaku, Yifan dengan rutin selalu mengirim pesan singkat ke handphoneku. Tetapi aku tidak mau memberi Yifan harapan palsu, aku tidak pernah membalas pesannya ataupun menjawab panggilan telponnya. Aku benar-benar memastikan kami putus hubungan, ini akan lebih baik bagi kami berdua.

Namun ketika pesannya sudah tidak pernah kuterima lagi, hatiku merasa sakit juga...

Terakhir kali aku meneleponnya ketika dia mengirimkan mobil dan surat rumah seperti yang dia pernah janjikan untukku, aku hanya mengucapkan terima kasih.

Hari ini akal sehatku bekerja dengan baik. Aku membuka lagi padku yang sudah lama terbelangkalai. Ada satu email dari Junmyeon sajangnim, pemimpin redaksi tabloid Wisata.

Isi pesannya membuat aku merasa meraih lagi keping-keping hidupku yang hancur luluh lantak.

Dia menawariku kontrak kerja lagi di tabloid Wisata!

Tanpa pikir panjang, aku membalas emailnya dan menerima tawarannya sebagai staff redaksi. Gajinya juga lumayan bagiku, bisa menghidupi kami sekeluarga.

Semangatku mulai terkumpul lagi, gairah hidupku mengalir perlahan namun pasti. Sosok positive thinkingku mulai keluar.

Walaupun aku hanya lulusan SMA, tapi aku punya bakat alami untuk menulis, dan punya kemampuan bahasa Inggris yang lumayan!

Mama tersenyum lega melihatku bersenandung lagu riang seperti kebiasaanku sewaktu belum menikah. Aku menceritakan dengan antusias ke mama tentang pekerjaan baruku sebagai reporter.

Mama memelukku lagi, menciumi wajahku seperti aku baru saja pulang dari perjalanan yang panjang!

"Lakukan apapun yang menurutmu adalah yang terbaik Luhan. Mama sangat bahagia kamu sudah bisa bangkit lagi. Masa lalu adalah pelajaran agar kamu lebih kuat lagi menjalani kehidupan ini."

Aku mengangguk dengan perasaan senang.

Hal pertama yang aku lakukan setelah mendapatkan lagi kepositifanku adalah meyakinkan mama untuk pindah ke rumah yang Yifan sudah serahkan kepadaku.

Tidak mudah, namun dengan dalih jarak kantor tempatku bekerja nanti lebih dekat ke rumah baru, mama tidak bisa menolak lagi.

Aku melarang mama berjualan lagi, aku mengambil alih tugasnya sebagai kepala keluarga, termasuk membiayai kuliah kedua adikku. Sudah saatnya mama menikmati masa tuanya.

.

.

.

Kantor tabloid Wisata berada di lantai tujuh suatu gedung di daerah Gangnam. Dengan memakai setelan blazer abu-abu, rambut dikuncir satu, lipstick berwarna nude, aku memasuki ruangan resepsionis. Memperkenalkan diriku dan menjelaskan bahwa ini hari pertamaku bekerja disini.

"Ooo…. Luhan-ssi? Junmyeon sajangnim sudah menunggu anda….silahkan masuk…nama saya Yixing …." aku menjabat tangannya.

Memasuki ruang staff di balik pintu seperti memasuki planet lain, benar-benar terasa asing bagiku. Ruang staff di sekat kecil per meja. Suara printer dan mesin fax terdengar mendesis suara wanita di telepon mengharmonisasikan irama bising yang ada. Suara pintu di banting tidak mempengaruhi mereka. Bunyi dengungan kencang tiba-tiba terdengar, office boy menyalakan vacuum cleaner di sudut ruangan, tampak memaju mundurkan mesin itu dia atas karpet yang berwarna abu-abu….Suara tertawa cekikikan dari dua orang wanita yang sedang mengaduk cangkir di tangan mereka menggambarkan suasana yang hangat.

Seorang pria meniup-niup ramen yang ada di depannya, sementara matanya memandang ke selembar kertas di tangan kirinya…

"Sini Luhan-ssi…ini ruangan Junmyeon sajangnim." Yixing menunjuk ke salah satu ruangan dan mengetuk pintunya.

"Masuk!" terdengar sahutan dari dalam. Yixing langsung membuka pintu dan kami berdua masuk.

Kim Junmyeon, pemimpin redaksi, pria separuh baya dengan beberapa rambut putih yang terlihat disana-sini, mengenakan kaos polo dan celana denim, bangkit berdiri dan menjabat tanganku.

"Well well well Luhan, akhirnya kamu disini….setelah…hmmm...tiga tahun ya saya menunggu?" sebuah seyuman bijak terhias di wajahnya yang penuh keriput.

Aku tersipu malu, menerima jabat tangannya.

"Manusia bisa berubah, Junmyeon sajangnim, kesadaran biasanya hadir belakangan…" jawabku merendah.

Junmyeon sajangnim tertawa.

"Yixing, apa meja yang saya instruksikan sudah disiapkan semuanya? Letakkan di dekat Sehun saja…saya akan membawa Luhan berkeliling ke semua staff."

Yixing mengangguk dan mengundurkan diri.

Junmyeon sajangnim memulai office tournya.

Dimulai dengan seorang wanita berpenampilan rapi dengan kacamata minusnya, Kyungsoo, sekretaris Redaksi. Aku menjabat tangannya dan membalas senyumannya.

Lalu Junmyeon sajangnim menunjuk ruangan luas di depan ruangannya.

"Mereka semua staff redaksi, di bawah kepemimpinan saya. Empat meja berderet di dekat jendela adalah redaktur pelaksana, dimana kamu akan berhubungan langsung dengannya, namanya Sehun. Di sebelahnya bagian riset, lalu bagian artistik, dan bagian pracetak yang di pojok tersendiri disana."

Aku melayangkan pandangan mengikuti penjelasan Junmyeon sajangnim.

"Masing-masing memiliki staff tersendiri."

Dia memperkenalkanku sebagai staff baru di bagian resporter ke semua orang tanpa terkecuali.

"Di lantai delapan, khusus untuk bagian usaha, jadi kalau kamu perlu berhubungan dengan bagian keuangan, pemasaran, sirkulasi ataupun personalia, kamu cari disana."

Aku mengangguk mengerti.

Kami berputar lagi sampai ke meja kepala divisiku, redaktur pelaksana yang bernama Sehun.

"Sehun, ini Luhan, dia lah pembuat artikel-artikel lepas yang membuat readers kita ketagihan..."

Aku tertunduk malu mendengar sanjungannya.

Sehun, Oh Sehun nama lengkapnya, seorang pria jangkung, berkulit putih bersih, rambut ikal agak panjang, terbilang masih muda, 30 atau 31 tahun. Bajunya T-shirt putih dengan tulisan hitam, celana panjangnya berbahan denim biru tua. Semua karyawan disini berbusana kasual, Junmyeon sajangnim membebaskan ekspresi semua bawahannya asalkan masih dalam tahap wajar dan sopan.

"Selamat datang Luhan." Sehun berdiri menjabat tanganku. Senyumnya manis memperlihatkan gigi taringnya.

"Baiklah, selamat bekerja Luhan. Sehun, Luhan duduk disini, tempat kita sudah terlalu sesak." Junmyeon sajangnim menutup office tournya dan kembali ke ruangannya.

"Baik sajangnim." Sehun mengiyakan.

"Ternyata Luhan si penulis misterius itu masih muda ya. Saya pikir sudah separuh baya, artikel yang kamu tulis selalu berbobot, tetapi sangat menyenangkan untuk dibaca." Sehun mengucapkan kalimatnya tanpa ekspresi apa-apa di wajahnya, tapi gerakan tangannya gesit, mencari dan memasang sambungan listrik, kabel komputer dan telepon di meja yang di sediakan untukku.

"Apakah kamu sudah sanggup mulai langsung bekerja? Oh ya Luhan, semua orang disini memanggil nama saya, Sehun, tidak usah memanggil dengan sebutan sajangnim."

Aku mengiyakan dan langsung duduk menghadap komputer di meja. Posisi mejaku sebenarnya agak aneh, dua meter di depan mejaku ada pintu salah satu ruangan yang terlihat kosong dan tidak ada keterangan nama ruangan di daun pintunya.

Sedikit menata ini itu di atas meja aku mulai berkonsentrasi dengan tugas pertama yang di serahkan Sehun.

Aku menyalakan padku, membuka internet untuk mengambil beberapa informasi pendukung.

Tak lama aku sudah tenggelam dalam pekerjaanku.

.

.

.

Sehun ternyata berotak encer, tidak salah kalau dalam usia yang relative muda, dia sudah menduduki posisi redaktur pelaksana di sini.

Ide-idenya cemerlang, dan mampu mengkoordinir perjalanan naskah dari para redaktur atau reporternya ke bagian layout hingga ke bagian percetakan, sekaligus menilai ataupun mengedit beberapa naskah dengan baik.

Hubungan dengan para staffnya juga terjalin dengan bagus.

Sehun menguasai bahasa Inggris juga, sangat mendukung apabila dia tiba-tiba harus keluar negeri untuk meliput berita, yang sering terjadi kalau sudah tidak ada reporter yang memiliki waktu untuk mengerjakannya.

Orangnya efisien, berbicara lugas, tegas, langsung tepat sasaran –straight to the point-. Mata gelapnya yang tajam sudah banyak berbicara apabila dia ingin mengatakan ya atau tidak, setuju atau tidak, suka atau tidak.

Setiap kali Sehun melintas di depan mejaku, aku mencium bau rokok bercampur aroma maskulin parfum kopi di badannya.

Bibirnya sudah menyatakan kesenangannya merokok, tidak heran dalam satu hari dia bisa bolak-balik ke tangga darurat hanya untuk merokok.

Menurut Kyungsoo pada salah satu makan siang kami, Sehun terkenal sebagai High Quality Jomblo di gedung ini.

"Kamu sebenarnya sudah menikah belum sih Lu?" Kyungsoo bertanya penasaran.

"Sudah, tapi divorced." jawabku singkat. Aku mengelus jari manisku yang kosong, ada lekukan tipis bekas cincin pernikahan dari Yifan. Aku memutuskan untuk tidak memakai cincin itu lagi, yang hanya membuat hatiku terluka.

"Oh maaf ya Lu, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih." Kyungsoo meminta maaf begitu melihat mataku tiba-tiba terlihat sendu.

"Ah, tidak apa-apa Kyung. Masa lalu."

"Sekarang lagi jalan sama yang baru?"

"Tidak. Belum kepikiran kesana. Aku ingin konsentrasi di kerjaan dulu."

Aku harus berhati-hati sekarang untuk menjalin hubungan lagi. Aku tidak mau terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya!

.

.

.

Satu tahun berlalu dengan cepat, aku sudah begitu menyatu dengan tempatku bekerja. Aku menyukai lingkungannya yang bersahabat, teman yang baik, atasan yang perhatian dan tidak otoriter. Aku sudah mulai bisa melupakan kepahitan yang pernah terjadi.

Pagi ini aku datang ke kantor dengan perasaan riang. Kemarin Sehun memberitahuku, artikelku berperan serta meningkatkan omset penjualan tabloid kami.

Aku melompat-lompat kegirangan di depan Sehun yang asyik merokok di tangga darurat. Sesekali aku berada di tempat itu, biasanya tempat itu disebut dengan TP,Tempat Pelampiasan.

Pertama aku bingung, pelampiasan? Ternyata maksudnya tangga darurat adalah tempat strategis yang cukup tersembunyi untuk melakukan kegiatan terlarang atau aneh, misalnya untuk merokok, pacaran, tiduran...

Aku sempat tertawa mendengar penjelasan Kyungsoo waktu itu. Tapi memang demikian adanya. Di mana lagi orang bisa tiduran? Di kantor? Sama aja bunuh diri!

Berbicara dengan Sehun sama seperti membaca ensiklopedia. Pengetahuannya luas! mau bicara tentang tempat wisata dunia? Dia sudah pernah mengunjungi 30 negara! Mau bicara soal politik, oke!

Mau bicara masalah hukum, oke! Mau bicara tentang sastra? kecil! Mau bicara soal fashion dan kecantikan? Hmm banyak tahu juga dia! Mau bicara tentang masakan?...Nah! Bidang ini saja dia yang Nol besar, kecuali cara masak air, membuat omelet dan memasak mie instant...

Aku yang selama ini bagaikan katak dalam tempurung, mataku baru mulai terbuka akan dunia luar. Menghadapi ribuan karakter manusia. Menghadapi berbagai ragam masalah. Menghadapi kerasnya hidup di luar rumah Yifan benar-benar membuat mataku terbuka dengan lebar!

Enam tahun yang lalu, aku adalah seorang gadis lugu, idealis tapi naïf.

Saat ini aku, Luhan, 24 tahun, seorang gadis...well, ralat, seorang janda, yang sama sekali berbeda.

Hubunganku dengan Yifan sudah sama sekali terputus, kalaupun beberapa kali Yifan mencoba menghubungiku, tapi aku tidak pernah sekalipun meladeninya. Aku masih meyakini ini lebih baik bagi kami berdua agar benar-benar bisa melupakan masa lalu yang pahit.

Siang ini aku masih berkutat dengan editan naskah. Bukan tugasku, tapi Sehun memintaku membantunya. Sebelum ini aku pernah membantu Sehun mengedit, dan dia puas dengan hasil kerjaku.

Sejak saat itu, setumpuk naskah sering mampir di mejaku...Sehun terlihat menahan senyum kalau melihat aku pura-pura merajuk melihat delegasi dia yang sewenang-wenang.

Sekotak coklat, atau traktiran makan siang ataupun makan malam akan Sehun berikan setiap kali aku selesai membantunya.

Katanya itu bukanlah suatu sogokan, tapi hanya sekedar pelicin...hah!

Suara seorang pria memecah konsentrasiku. Suaranya berasal dari gang belakangku. Aku menoleh, suara yang penuh wibawa dan tegas...Dia sedang melihat handphonenya.

Orang itu memakai setelan abu tua, jas simple satu kancing dan dasi warna abu muda terlihat serasi. Usianya sekitar 30-an.

Rambutnya pendek dan rapi. Tubuhnya jangkung, mungkin sekitar 181 cm, badannya proposional, ramping. Kulit wajahnya putih bersih dan hidung bangirnya mengalahkan hidung dewa-dewa Yunani!

Dia terus berbicara dan diam mendengarkan sambil berjalan lambat, ke arahku...siapa sih orang ini? Mungkin tamu Junmyeon sajangnim, aku berkata dalam hati.

Tiba-tiba orang itu masuk ke ruangan yang ada tepat di depanku!

Eh, mau ngapain dia? tanyaku dalam hati.

Dengan telinga masih menempel di handphonenya, pria itu membuka pintu lebar-lebar dan langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi di belakang meja. Ketika dia menengadah, matanya bertatapan langsung dengan mataku. Aku seperti terhipnotis mata coklatnya. Aku diam membeku tidak bisa mengalihkan mataku dari ikatan matanya, dan pikiranku masih berkecamuk dengan rasa ingin tahu tentang tamu ini.

Pria itu tetap berbicara dan pandangan matanya masih ke arahku.

Aku mulai jengah, dia menutup handphonenya, tapi matanya masih menatapku tajam. Aku merasa seperti sapi yang siap dibeli orang, diteliti dari ujung kepala sampai ujung kaki! Aku merasa wajahku memanas.

Ketika pandangan mata pria itu mulai turun ke bawah, aku cepat-cepat merapatkan kedua kakiku, karena aku memakai rok hari ini.

Tapi bukankah mejaku tertutup depannya? Penasaran aku berdiri, ke depan mejaku, melihat ke bawah dan ternyata memang ada penutup...jadi tidak mungkin dia bisa mengintip kakiku.

Aku tidak perduli pria itu menatap semakin tajam melihat tingkahku.

Apa boleh buat, pikirku lagi, daripada aku tidak bisa konsentrasi dalam bekerja...Aku melangkah cepat ke arah ruangan itu, membungkukkan badanku sedikit ke dia, menggumamkan kata maaf...lalu aku menutup pintu ruangan itu.

Merasa lega, aku kembali ke mejaku. Bersiap melanjutkan pekerjaanku.

Tidak lama terdengar suara pintu ruangan itu dibuka. Pria itu membuka pintu itu lagi dan kembali menatapku seperti harimau yang menemukan kelinci! Bibir merahnya menipis membentuk garis lurus.

Tapi kelinci yang ini pemberani dan tidak mau dijajah! benakku berkata.

Dengan gemas aku menghampiri ruangan itu lagi, menggumamkan kalimat "maaf saya harus menutup pintu ini." aku menutup pintu itu lagi dengan rapat.

Belum sampai aku di mejaku, pintu sudah dibuka lagi. Aku menjadi kesal. Hampir aku berteriak ketika tiba-tiba Kyungsoo berjalan cepat ke arah ruangan itu, membawa setumpuk file.

"File yang sajangnim minta...saya di extension 133 kalau sajangnim memerlukan bantuan saya." Kyungsoo berkata sopan, tapi mengenal Kyungsoo satu tahun membuatku sangat hafal dengan bahasa tubuhnya yang 'mengundang' pria itu.

"Ya, terima kasih Kyungsoo. DAN BIARKAN PINTU RUANG INI TERBUKA LEBAR!"

Kyungsoo mengangguk, terkesima dengan tekanan suara dan nada pria itu di kalimat terakhir, setengah berteriak.

Kyungsoo tidak tahu, tapi aku tahu dan merasa, kalimat itu ditujukan kepadaku!

Kyungsoo membalikkan muka dan memasang ekpresi wajah yang mengatakan "OOHH BETAPA TAMPANNYA ORANG INI…ANDAI AKU BISA MEMILIKINYA"

Aku membalas tatapan Kyungsoo dengan pandangan "SIAPA SIH DIA?"

Kyungsoo membuat gerakan mengelap keringat di dahinya, dan bibirnya di majukan membentuk suara "phiuhhh..."

Aku menjadi agak sebal dengan tamu ini. Aku cemberut, terakhir aku membalas tatapan mata pria itu untuk menyatakan kalimat "TERSERAH! BUKA SAJA ENGSEL PINTUNYA SEKALIAN!"

Aku berusaha berkonsentrasi keras.

Tak lama Sehun mendekatiku dengan membawa naskah lagi, aku menghempaskan badanku ke kursi…

"Sehun...ya ampun...memangnya aku robot? Yang setumpuk ini saja belum selesai!"

"Siapa yang mau memberikanmu naskah lagi? Justru aku mau mengambil sebagian, biar cepat selesai. Nanti pulang ke café dulu yuk?" Sehun mulai mengiming-imingi makan malam gratis. Aku nyengir.

"Hun, itu siapa sih? Di ruangan itu tuh…" aku berbisik sepelan mungkin dan menutupi wajahku dengan selembar kertas.

Sehun reflek melihat ke arah ruangan yang aku tunjuk dengan ujung mataku.

Bodoh! Aku mendesis, tidak perlu dilihat seperti itu! Sekalian saja datangi orang itu dan katakan aku ingin tahu siapa dia!

Ih, dasar laki-laki tidak sensitif!

Sehun memasang wajah minta maaf mendengar aku mengoceh geram.

Dia jadi ikut berbisik.

"Namanya Cho Kyuhyun, Direktur pelaksana sekaligus pemilik saham terbesar perusahaan ini. Alias atasan langsung Junmyeon sajangnim, notabene atasan kita juga...Sebenarnya kantornya di atas, lantai delapan tapi kalau lagi kesini, dia memakai ruangan ini"

OH MY GOD!

Aku menepuk dahiku kencang!

"Mati aku Hun, mati aku! Kalau aku besok tidak masuk kantor Hun, artinya aku sudah dipecat!"

Sehun bingung melihat aku yang tiba-tiba panik sendiri.

"Wanita aneh..." Sehun berlalu setelah dia mengetuk dahiku dengan ujung telunjuknya.

Akhirnya aku salah tingkah sepanjang sore harinya, berkali-kali tatapan matanya bertubrukan dengan mataku.

Pria yang ternyata bernama Cho Kyuhyun ini akhirnya membuka pintu ruangannya lebar-lebar sepanjang sore hingga dia keluar bergegas, berjalan cepat membelah atmosfer , meninggalkan aroma parfum yang seksi di hidungku...

.

.

.

T B C

.

.

.

Mind to Review..?