THE TЯICKSTER AND THE PRINCE
Author: Kai
Rating: G for
this chapter
Genre: General (for this chapter)
Pairing: Bakal
ada, tapi baru ketauan di chapter berikutnya (kali ini bener dhe!
Suer!)
Disclaimer: Tennis no Oujisama bukan milik saia
Chapter 3, akhirnya! ;;joged;; ga banyak cing-cong dhe, selamat menikmati!
Chapter 3: Meet The Trickster Part Three
Yagyuu benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiran Niou-kun. Pagi ini ia datang ke sekolah dengan wajah penuh percaya diri, dan dengan ekspresi yakin ia mengatakan pada Yagyuu bahwa ia pasti akan mengajak Yagyuu bergabung dalam klub tenis.
Yagyuu tidak yakin kalau Niou sudah belajar. Dia belajar semalaman dan hampir tidak tidur, dan ia yakin kalau Niou tidak akan bisa mengalahkannya, kecuali ia menggunakan cara yang tidak biasa. Biar bagaimanapun juga, Yagyuu tidak boleh lupa kalau yang ia hadapi adalah seorang trickster, dan ia harus siap melihat apapun yang akan terjadi nanti. Mungkin kesannya terlalu berlebihan, tapi tidak ada kata terlalu berlebihan untuk Niou Masaharu.Yagyuu sudah tahu pasti hal itu.
"Niou-kun," panggil Yagyuu sebelum tes dimulai, "apa yang kau rencanakan?"
Niou tidak menjawab dan hanya tersenyum dengan senyum yang terlihat mencurigakan. Perasaan Yagyuu tidak enak. "lihat saja nanti," jawabnya dengan penuh percaya diri.
Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
"BRENGSEEEEEEEEEEEEEEEEK!! YANAGI PEMBOHOOOOOONG!!" Niou berteriak dengan penuh putus asa setelah tes selesai. Yagyuu mengerutkan alisnya.
"Ada apa, Niou-kun?" tanyanya heran, tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Niou menatap Yagyuu dengan tatapan depresi, lalu menghela nafas. "Percuma… aku gaga—" ia belum sempat menyelesaikan kata-katanya, terdiam, dan seperti memikirkan sesuatu. "Ah, iya, benar juga. Tidak, ini semua belum selesai!" setelah itu, melesat begitu saja keluar dari kelas.
"…Haaah?" Yagyuu hanya terbengong-bengong melihat kelakuan temannya itu. Ia menghela nafas. Benar-benar deh. Ia tak akan bisa mengerti jalan pikiran seorang Niou Masaharu.
Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
"Eh? Niou-kun?"
Itu kata pertama yang keluar dari mulut Yagyuu ketika esok harinya, gurunya memberitahu bahwa Niou tidak akan masuk selama lima hari karena skors. Teman-teman sekelas hanya merasa itu hal yang biasa, begitu juga dengan Yagyuu, tapi ia tetap merasa ada yang aneh. Setelah mereka berteman, Niou selalu membicarakan ide-ide gilanya pada Yagyuu, dan tidak jarang Yagyuu membantu keusilannya. Selalu, kecuali—
Soal tes itu.
Yagyuu makin bingung dengan apa yang terjadi. Ia merasakan firasat tidak enak. Apa yang terjadi sebenarnya? Apa lagi yang telah dilakukan Niou-kun hingga ia diskors? Dengan alasan yang tidak diketahuinya? Dan lagi, sikap Niou yang mencurigakan belakangan ini…
Ia ingin tahu. Tidak, ia HARUS tahu.
Karena itu, saat jam istirahat ia menuju ruang guru dan menanyakan pada wali kelasnya, apa yang telah dilakukan Niou hingga ia diskors lagi. Tapi sang guru benar-benar kelas kepala, ia bersikeras tutup mulut, walaupun Yagyuu berusaha sebisanya untuk mengorek keterangan darinya. Akhirnya, ia menyerah. Mungkin lebih baik ia bertanya langsung pada Niou saat ia masuk lima hari lagi.
Tapi rupanya Yagyuu tidak perlu menunggu selama itu. Saat ia keluar dari ruang guru, seseorang memanggilnya. Ia tidak kenal siapa dia. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, matanya sipit dan senyum ramah tidak lepas dari mulutnya. Sepertinya ia kelas satu seperti dirinya, dilihat dari emblem di kerahnya.
"Tadi aku juga ada di ruang guru saat kau bertanya pada Yoshihara-sensei soal Niou Masaharu. Apakah kamu Yagyuu Hiroshi?" itu hal yang dikatakannya. Yagyuu tidak tahu siapa orang ini. Ia hanya mengangguk dengan heran.
Senyum laki-laki itu melebar setelah anggukan Yagyuu, dan kemudian ia tertawa. Yagyuu makin tidak mengerti. "Maaf, apa yang kau tertawakan? Aku tidak tahu siapa kau."
Lak-laki itu berhenti tertawa dan menoleh pada Yagyuu. "Aah, maaf, maaf, aku sudah tidak sopan. Namaku Yanagi Renji, kau bisa memanggilku Renji."
Yagyuu hanya mengeluarkan "oh," menunggu kata-kata Yanagi berikutnya.
"Aku tahu," kata Yanagi, "Aku tahu kenapa Masaharu di skors."
Yagyuu terdiam. "Eh?"
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
"Masa-chan!! Jangan cuma tidur-tiduran saja! Ayo bangun, bantu mamamu siapkan makan malam!"
"Malaaas… itu kan kerjaan cewek. Suruh aja si Kou…"
"Kou juga anak cowok! Lagian dia sedang mengerjakan prnya. Sementara kamu, lagi-lagi diskors. Dasar. Lebih serius sedikit dong di sekolah. Musti berapa kali diskors sih kamu baru mengerti?"
"Aah!! Cerewet…"
"Begitu kata-katamu pada mamamu?? Kau tidak tahu akibatnya kalau membangkang pada orang tua, ya, Ma—sa—chan…"
"…"
"GYAAAAAAAA!! AMPUN MAMA!!"
"…Ano…"
Niou dan ibunya yang sedang 'asyik membagi kasih sayang ibu-anak'-nya terhenti saat mendengar suara asing yang tiba-tiba terdengar. Mereka menoleh berbarengan, dan di depan pintu kamar Niou sudah berdiri sosok Yagyuu Hiroshi.
"Ya… Yagyuu?? Apa yang kau lakukan disini??"
"Ara? Dia temanmu, Masa-chan? Kau tidak pernah memberi tahu kalau kau punya teman yang kawaii sepert ini…"
Yagyuu mengerutkan keningnya. Ka-kawaii?? Ini pertama kalinya aku dibilang begitu… kecuali oleh ibuku.
"Aah, ano, aku tidak bermaksud tidak sopan, tapi tadi kata anak yang d bawah, aku disuruh langsung masuk ke sini…"
"Aah, si Kou sialan itu!"
"Jaga ucapanmu, Masa-chan! Kou jauh lebih menurut dari pada kamu!! Jyaa, Temannya Masa-chan, siapa namamu?" ibu Niou menghampiri Yagyuu dan tersenyum manis. Yagyuu merasakan firasat aneh. Perasaan yang sangat familiar…
"Aah, Yagyuu Hiroshi. Senang berkenalan dengan anda," jawab Yagyuu sambil membungkukkan badannya.
"Uwaah, sopan sekali. Masa-chan, kau harus belajar dari temanmu ini!"
Niou bersungut-sungut dan bangkit dari tempat tidurnya. "Iya-iya, terserah. Sekarang mama keluar dulu, aku ada urusan dengannya," Niou mendorong ibunya untuk keluar dari pintu kamarnya. "Mou, Masa-chan… iya, iya, mama tahu, jangan kasar begitu dong…"
"Aah, tunggu! Ini, tadi aku beli sedikit oleh-oleh di jalan… cake coklat, semoga kalian suka," Yagyuu menyerahkan bungkusan ke ibu Niou sambil tersenyum ramah. "Eh? Tidak usah repot-repot, ya ampun! Kamu bisa saja menarik hatiku, Hiro-chan!" Ugh, Hiro-chan? Aku sudah dapat nama panggilan? "Terima kasih, yah. Kalau begitu tante akan segera kembali dan menghidangkan ini, tunggu tante kembali, ya!" Dan setelah itu, ia meninggalkan ruangan.
"Humm… 'mama', yaa, Niou-kun?" goda Yagyuu.
"Aah, sial kau. Kalau aku tidak memanggilnya begitu, hal mengerikan bisa terjadi. Ada perlu apa kau kesini?"
"Hoo… begitu. Entah kenapa, rasanya aura mamamu itu mirip denganmu, ya…"
"Oi, oi, aku sedang bertanya, sedang apa kau di sini!" protes Niou sambil kembali duduk di tempat tidurnya dan menyuruh Yagyuu duduk di sampingnya dengan isyarat tangan. Yagyuu menurut dan duduk dengan sikap sempurna, sebagaimana biasa ia lakukan.
"Soal tes biologi," jawabnya, "dan soal alasanmu diskors. Aku sudah dengar semuanya dari teman SMPmu yang bernama Yanagi Renji-kun."
Niou terlihat sedikit terkejut, tapi kemudian bersikap biasa lagi. "Si brengsek Yanagi itu! Bisa-bisanya ia bercerita padamu tanpa beban, padahal semua itu salahnya!" gerutunya.
"Kurasa itu salahmu sendiri, Niou-kun. Membuat contekan sama sekali bukan ide bagus, apa lagi hanya menulis bagian kecil dari bab dengan berdasarkan persentase soal yang keluar. Hal seperti itu mana mungkin ada, tahu."
"Kau tidak tahu, Yagyuu, tebakan Yanagi waktu SMP selalu tepat! Ia selalu bisa memperhitungkan soal tentang apa saja yang akan keluar dalam ujian manapun! Itu sudah terbukti, kok, aku sering mendapat nilai 90-sekian berkat perhitungan persentase-nya."
Yagyuu menghela nafas. "Kalau begitu, kenapa kali ini kau gagal? Apa hal itu hanya berlaku di SMP? Mungkin kemampuannya menghilang saat memasuki SMA?" tanya Yagyuu dengan nada sedikit mencemooh.
"Bukan begitu!! Si brengsek itu sengaja memberi kemungkinan yang salah!"
"Kenapa kau bisa langsung memberi kesimpulan begitu?"
"Soalnya TIDAK ADA SATU PUN SOAL YANG MASUK dari kemungkinan yang ia beritahukan padaku!! Kalau bukan sengaja apa lagi coba?"
Yagyuu tertawa. "Iya juga sih. Yanagi-kun juga mengatakan padaku kalau ia sengaja memberi kemungkinan yang sebaliknya."
"Ja-jadi si brengsek itu bilang begitu padamu? Yangai sialaaaan!! Gara-gara dia aku jadi diskors!" teriak Niou dengan geram.
Yagyuu menghentikan tawanya, dan wajahnya mulai serius. "Tentu saja tidak, Niou-kun. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada orang sepertimu yang selalu menganggap enteng segalanya. Lagipula bukan ia yang menyuruhmu mengendap-endap ke ruang guru tengah malam untuk menukar lembar jawabannya kan? Itu inisiatifmu sendiri, dan kau harus menerima konsekuensinya sendiri. Aku sudah salah menilaimu, Niou-kun. Kupikir kau hanya berbuat iseng sewajarnya saja, tapi melakukan hal seperti itu sudah sangat keterlaluan. Masih untung pihak sekolah tidak membesar-besarkannya dan hanya menskors-mu selama lima hari. Kemungkinan terburuk kau bisa dikeluarkan, tahu!" otot wajah Yagyuu menegang, dan wajahnya terlihat sangat serius. "…Aku kecewa padamu, Niou-kun."
Suasana menjadi sunyi. Tidak ada seorang pun yang ingin membuka mulutnya. Tapi kemudian Niou berbisik, "aku tahu kok."
"Eh?"
"Aku tahu kalau hal ini sangat buruk. Meskipun aku suka melakukan berbagai keisengan, aku tidak pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku tahu kalau aku juga bisa dikeluarkan. Aku juga merasa… takut, takut waktu melakukannya." Wajah Niou tertunduk hingga poninya yang panjang menutupi matanya. Yagyuu mengerutkan alisnya. "Kalau begitu kenapa kau tetap melakukan hal seperti itu? Meski tahu resikonya? Mungkin kita belum lama saling mengenal, tapi aku tahu, kamu tidak pernah melakukan keisengan yang beresiko tinggi seperti ini…"
Niou menoleh ke Yagyuu dan menatap Yagyuu dengan wajah serius. "Habis mau bagaimana lagi! Aku tidak bisa mengerjakan soalnya sama sekali! Tidak ada cara lain kecuali cara itu! Kalau tidak begitu, aku tidak akan memenangkan pertaruhan ini…" suara Niou meninggi, terdengar ada sedikit emosi. Yagyuu agak terkejut karena baginya, ini pertama kalinya ia melihat Niou seperti ini.
"Sepenting itukah bagimu memenangkan sebuah pertaruhan? Sepenting itukah arti sebuah 'game' untukmu?"
"Bukan karena pertaruhannya. Bukan karena game. Tapi karena kalau aku menang, kita bisa bermain tenis bersama-sama, kan??"
Ucapan terakhir Niou benar-benar membuat Yagyuu terkejut. "Jadi… hanya karena kau ingin aku masuk klub tenis bersamamu, kau sampai melakukan hal seperti itu? Kenapa?"
Wajah Niou memerah. Yagyuu benar-benar merasa heran. Ia tidak menyangka… akan melihat ekspresi seperti ini dari seorang trickster.
"Tentu saja bagiku ini penting. Kamu adalah… teman pertamaku yang mau dekat denganku, Yagyuu. Aku terbiasa mengendalikan orang. Aku terbiasa meniru orang, dan mempermainkan orang. Sebelumnya, bagiku, 'teman' itu hanya 'permainan'. Tapi…" Niou menarik nafas, "…Kamu orang pertama yang membuatku senang mempunyai seorang 'teman'. Kamu orang pertama yang tidak bisa kukendalikan, kecuali ibu dan adik brengsek itu, tentunya, dan kamu orang pertama… yang membuatku merasa dikendalikan…"
Yagyuu tertegun. "Kamu merasa aku mengendalikanmu?"
"Bukan begitu. Tapi sikapmu yang tidak bisa diprediksi… dan selalu membuatku penasaran. Kamu tidak bisa kukendalikan seperti 'teman' yang lain. Tanpa sadar, aku merasa senang berteman denganmu, dan aku ingin punya waktu denganmu lebih lama… dan kupikir, pasti akan menyenangkan, kalau bisa bermain tenis denganmu."
Suasana menjadi hening. Wajah Niou sudah benar-benar memerah, dan ia berusaha tidak memandang mata Yagyuuu karena terlalu malu. "…sial, padahal kalau aku menang taruhan ini, aku tidak perlu mengatakan hal-hal seperti ini…"
Yagyuu tersenyum. "Jadi itu yang kau rasakan selama ini, ya. Benar-benar sebaliknya, aku merasa bahwa aku-lah yang selama ini kau kendalikan, trickster. Aku tidak pernah mengira kau akan berpikiran seperti itu."
"Yah, itu juga sia-sia kan? Toh aku kalah, jadi sesuai janji, aku tidak akan memaksamu lagi." Niou kembali menggunakan bahasanya yang biasa dan merebahkan dirinya di tempat tidur. Yagyuu tersenyum dan menatap Niou. "Ya, kau tidak perlu membujukku lagi. Karena aku akan masuk klub tenis bersamamu."
Niou terkejut dan bangkit lagi dari tempat tidurnya, terduduk di samping Yagyuu. "Eeh? Tapi—"
"Dan aku juga akan berhenti les pianoku. Tadinya aku hanya ikut untuk mengisi waktu kosongku, dan kurasa sekarang aku sudah tidak akan punya waktu kosong lagi. Lagipula," Yagyuu mengubah cara duduknya menjadi lebih santai, membuka kakinya dan meletakkan tangannya di sisi tempat tidur Niou, "aku tidak terlalu berbakat dalam piano."
"Yagyuu… kau serius?"
"Dengan begitu kita bisa lebih sering bersama, kan?"
Niou tersenyum. "Terima kasih. Dan… maaf."
Yagyuu menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku yang minta maaf. Aku yang bodoh. Padahal, aku juga… sangat senang berteman denganmu, Niou-kun."
"Aah…" hanya itu yang keluar dari mulut Niou.
"Jya!! Maaf menunggu lama! Aku lupa kalau tadi aku sedang menyiapkan makan malam, ohohohoho! Hiro-chan, bagaimana kalau kau makan malam di sini saja? Kamu belum makan kan?" tiba-tiba ibu Niou membuka pintu dan masuk begitu saja, mengagetkan kedua pemuda yang sedang mengobrol serius tersebut. "Eh? Ah, tidak usah, tante, nanti merepotkan," tolak Yagyuu sopan.
"Tidak, Hiro-chan, kamu harus mau. Sebagai ucapan permintaan maaf juga, soalnya ternyata pada saat tante sedang sibuk mengurus masakan yang hampir gosong, kue yang kau bawa dihabiskan oleh Kou-chan, ahahahaha! Jadi kau harus mau makan malam di sini, oke?" ujar ibu Niou dengan senyum manis, tapi entah kenapa, Yagyuu merasa ada aura kau-harus-mau-kalau-tidak-ingin-terjadi-sesuatu-padamu. "A, aah, baiklah tante…" jawabnya dengan senyum terpaksa. Aku tahu sekarang dari mana kamu mendapat sifat trickster itu, Niou-kun.
"Eeeh?? Kou ngabisin kuenya? Bocah sialan itu!!" Niou segera bangun dari duduknya dan berlari keluar dari kamarnya. Tidak lama terdengar suara gradak-gruduk— sepertinya suara Niou menuruni tangga.
"Dasar anak itu, benar-benar serampangan! Jya, Hiro-chan, ayo kita turun," ajak ibu Niou ramah. Yagyuu mengangguk pelan dan mengikutinya keluar ruangan.
"Nee, Hiro-chan," ibu Niou tiba-tiba membuka mulutnya.
"Ya?"
Ia menoleh ke arah Yagyuu dan tersenyum, kali ini dengan senyum yang terlihat sangat tulus, tanpa aura aneh seperti sebelumnya, "Ini pertama kalinya ada teman sekolah Masa-chan yagn datang main ke sini. Terima kasih, ya, sudah mau berteman dengan Masa-chan."
Yagyuu terdiam dan tidak bisa mengatakan apa-apa kecuali "ah…", dan ia memang tidak mengatakan apa-apa karena ibu Niou memberinya isyarat untuk mempercepat langkahnya, sebelum dua anaknya di lantai bawah melakukan sesuatu yang mengancam keselamatan masakannya yang tercinta.
Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
"Nee, Masa-chan," kata ibu Niou sambil membereskan piring bekas makan malam setelah Yagyuu pergi, "Lagi-lagi, kau pakai akal bulusmu itu untuk membuat orang tunduk padamu, ya? Dasar, padahal dia anak yang manis…"
Niou tidak mengalihkan perhatiannya dari majalah yang dibacanya. "Pasti mama nguping, ya. Yah… gitu deh…," Niou membalik majalahnya, "dan hasilnya lebih dari yang kutargetkan."
Ibu Niou menghela nafas. "Huuh… kenapa aku bisa punya anak nakal seperti kamu ya? Coba aku punya anak manis kaya' Hiro-chan…"
"Oi, bisa-bisanya ngomong begitu, dikira aku ini turunan siapa?" potong Niou, tapi dengan senyum menghiasi bibirnya.
To Be Continued
Lololol dia panjang lagi!! XD tapi akhirnya…. Part Niou selesaiiiiiii!! ;;menangis terharu;; OMG, gw ga nyangka nulis ini bakal menyenangkan, (padahal tadinya terpaksa XD) buat penjelasan yg belom ngerti, yupz, kata2 Niou ke Yagyuu soal kenapa dia sampai melakukan itu demi menang taruhan itu juga adalah perhitungan Niou. Karena dia tahu sifat Yagyuu, dia tahu Yagyuu bakal ikut klub tenis kalau dia mengatakan hal seperti itu. ;;dibunuh fans Niou;; gomen, Niou di sini kaya'nya jahat banget yah. Tapi meskipun itu perhitungannya, sebenarnya itu kata hati Niou juga kok, jadi ga bisa dibilang bohong.
……….Gw ngerasa Niou di sini kaya' Zero-nya Code Geass deh… XD
And soal Kou, adeknya Niou, itu cuma karakter buatanku, jadi dia ngga bakal ada klo kamu cari di profile Niou yang manapun...
Yupz, thanks buat yang dah baca. Bener2 makasi da baca sampe sejauh ini. Dan sekali lagi, Review please! Tolong kritik dan sarannya yah!
See u adieu!
