JUST FOR YOU, CHERRY!

.

"Haruno Sakura chan, aku... Maksudku, aku menyukaimu. Ya, tak salah. Maukah kau menerima cintaku?"

"... Maaf, Sasuke kun..."

.

.

.

Just For You, Cherry © Masashi Kishimoto

Pair:

- Uchiha Sasuke

- Haruno Sakura

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Frienship

Warning!

-GJ, AU, Typo(s), abal, alur cepat, dll-

.

.

.

Tempat mereka berada memang tak jauh dari Konohagakure High School. Jadi, ada beberapa orang yang menyaksikan momen ini. Sasuke memang sengaja memilih tempat yang ramai supaya bisa memperlihatkan ke semua orang bahwa dia sangat menyukai Sakura.

"Maaf, Sasuke-kun..." Sakura menggantung ucapannya. Hati Sasuke berdebar-debar, begitupula dengan Sakura.

Iya, atau Tidak?

Sakura tiba-tiba saja menyambut uluran tangan Sasuke, tentu membuat lelaki itu terkejut. Ia memandang kearah Sakura, dan Sakura pun juga sedang memandangnya.

"Maaf, aku tak bisa menolakmu, Sasuke kun!" Sakura tersenyum lembut. Sasuke ikut tersenyum, kemudian berdiri setelah berlutut. Kini, mereka berpandangan.

"Sungguh, kau mau menerimaku, Sakura-chan?" Sasuke menggenggam tangan Sakura. Sakura hanya mengangguk, masih menyisakan senyuman hangatnya.

Kini setelah momen itu, Sakura dan Sasuke berjalan bersama menuju kelas, seperti seorang kekasih. Ya, memang sekarang mereka resmi menjadi seorang kekasih. Semoga hubungan mereka berjalan lancar.

Setelah mereka masuk kelas, mereka disambut dengan tepukan tangan, sorakan senang, dan siulan jahil dari teman-teman mereka.

Sasuke mendekatkan bibirnya pada telinga Sakura. "Sebaiknya kau segera duduk, lalu menjelaskan semuanya pada teman-temanmu,"Sasuke berbisik di telinga Sakura, membuat wajahnya panas. "I-iya..."

Sakura langsung menuju meja samping Ino. Temannya itu langsung memberikan senyuman jahil pada Sakura.

Ino memulai pembicaraan hangat ini. "Jadi... Nona Uchiha, hihihi!" Ino terkikik. Begitu pula dengan Hinata dan Tenten. Sakura cemberut menahan malu.

"Jadi... Bisa kau jelaskan, Sakura?"

...

Sasuke dari tadi tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari mulut teman-temannya. Ia malah memandangi Cherry-nya itu.

Karena kesal tak disahut, Naruto memukul kepala Sasuke pelan. "Aww! Ada apa sih Teme? Hmph!" Sasuke mendengus.

"Ayoooo ayoooo jelaskan padaku! Bagaimana kau meluluhkan hati Sakura-chan?" kejar Naruto. Sasuke menoleh pada Naruto dengan heran. "Memangnya ada apa?" tanyanya.

Naruto tersenyum lugu, lalu menjelaskan. "Yah... Aku, ya... Ekhm! Hanya ingin tahu. Soalnya kan... Emm, aku harus mengutarakan perasaanku pada... Hinata-chan! Yaaa... Jadi... Ajarkan aku!" Naruto tersenyum jahil sekarang.

"Haaa... Tahap pertama, pengejaran dahulu, Naruto. Cobalah untuk mendekatinya. Pastikan caramu mendekatinya tidak terlalu frontal. Lalu, setelah kau rasa cukup dekat, buatlah dia merasa dia itu istimewa di matamu -dan aku tak akan memberitahumu cara itu. Kemudian, mantapkan hatimu untuk kemudian mengutarakan perasaan. Pilih waktu dan tempat yang tepat. Begitulah- ha? Ada apa kalian?" Sasuke bingung melihat semua teman cowoknya mengerubunginya.

Teman-temannya memandang dengan berbinar-binar. "Kau hebat, Sasuke!"

"Memang pria sejati...(?)"

Sasuke terdiam ditempat.

.

.

.

.

.

"Hinata-chan..."

Lelaki berambut kuning jabrik itu tengah memanggil gadis yang disukainya dilorong loker. Entah tempat ini tepat atau tidak, dan entah waktunya tepat atau tidak, karena sekarang jam istirahat. Tapi dilihatnya tidak ada orang disini. Sepi, hanya mereka berdua. Jadi baik-baik saja.

Rasanya, Naruto tak bisa menahan perasaannya lebih lama lagi. Kali ini ia akan mengutarakan perasaanya.

Hinata berbalik, memandang lelaki yang disukainya sejak SMP itu. "Na- naruto kun?" ucap Hinata terbata.

Naruto memaksakan seulas senyum agar tidak kelihatan tegang. "Hinata chan... Aku..."

Hinata masih menunggu.

"Aku menyukaimu, Hinata chan! Sejak SMP aku tak berani mengutarakannya padamu tapi kurasa sekarang adalah waktu yang tepat. Dan... Kuingin kau menjadi kekasihku. Maukah...?" Naruto memberikan bunga pada Hinata yang sejak tadi disimpannya dibelakang punggung.

Hinata masih diam, malu dan gugup serta senang. Lalu, tangannya terulur menerima bunga pemberian Naruto -yang tadi sempat ia beli saat jam pelajaran. Itu tandanya, ia menerima Naruto.

"Te-tentu, Naruto-kun. Aku... Aku juga menyukaimu!" Hinata berujar. Tiba tiba tangannya digenggam oleh kekasih barunya itu.

"Arigatou, Hinata-chan..."

...

Hinata masuk kelas dengan perasaan masih gugup. Rona merah terlihat diwajahnya. Sakura dan Ino -Tenten sedang dikantin- yang melihat itu sudah menduga dalam hati. Hinata pasti ditembak oleh Naruto.

Hinata duduk dibangku. Kepalanya menunduk agar tidak terlihat warna merah di wajahnya.

Sakura mendekatinya. "Etcieeee ditembak yah sama Naruto? Hihihi, longlast yaaa!"Ucap Sakura sambil tersenyum. Hinata mengangguk samar, masih menunduk.

...

"Kriingg!"

Bel pulang sudah berbunyi. Kushina sensei, guru Konseling mengakhiri.

"Anak-anak, kemarin kalian sudah menerima lembaran kertas eskul kan? Hari ini eskul nya sudah dimulai!" terangnya. Semua anak terkaget-kaget.

Sakura angkat tangan. "Sensei, bukannya Sabtu minggu depan ya?" Sakura bertanya. Kushina menggeleng.

"Maaf anak-anak, tadi guru-guru semua rapat mendadak. Jadi pemberitahuannya belum diberitahu. Nanti kalian pulan sore." jelas Kushina. Semua anak-anak mengerang.

"Baik, Ibu tinggal dulu. Masuk ke ruangan eskul masing-masing." Kushina kemudian keluar dari kelas XI-I.

Sakura, Ino, Hinata, Tenten masuk eskul yang sama. Ya itu Band. Yah, mereka punya hobi yang sama.

"Yah, bagaimana ini? Nanti Kaasan dan Touchan pergi. Aku tak bisa mengabarkannya, padahal aku mau ikut...!" Sakura kesal. "Sialan. Gara-gara ponselku nyemplung bak!" Sakura marah-marah.

"Sakura... Bagaimana kalau..."

"Nanti aku yang mengantarmu, Sakura-chan." Tiba-tiba Sasuke sudah berada disamping Sakura dan menyela Ino berbicara. Sakura terkejut.

"Sa-sasuke kun?" Sakura tersipu. "Bagaimana kau...?"

Sebelum Sakura menyelesaikan bicaranya Sasuke meletakkan telunjuknya di bibir Sakura.

"Nanti tunggu aku di depan gerbang sekolah ya." Setelah itu Sasuke berjalan mendahului Sakura yang berdebar-debar.

"Cieeeee Sakuraa!"

.

.

.

.

Ia sudah berdebar-debar tadi di perjalanan menuju ruang eskul. Ditambah lagi saat eskul musik. Ternyata Sasuke juga ikut eskul musik! Sakura harus jaim dalam menyanyi dan tidak salah tingkah saat disuruh Iruka sensei menyanyi. Kyaa~

"Duuh, Sasuke kun mana ya?" Ia kemudian mendesah. Ia merogoh kantong.

'Lho, Ponselku ma- Lah! Ponselku kan rusak. Haa~ Bodohsekali!" Sakura merengut.

mendesah. Ia merogoh kantong.

Tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Suara Sasuke terdengar lembut di telinganya. Rasanya geli! "Maaf membuatmu menunggu, Cherry-ku!"

Sakura menoleh, lantas tersenyum. "Ah ah... Tak apa Sasu-kun!"

Sasuke menggenggam tangan Sakura sambil berjalan. "Ayo, Cherry!" Sasuke berjalan kearah parkir motor. Membuat Sakura heran.

"Sasu-kun? Kau punya motor? Sebagus ini? Waah! Kau kaya sekali!" Sakura jadi berbinar-binar melihat motor Ninja Sasuke.

"Pakai helm?" Sasuke menyerahkan helm pada Sakura. Sakura menolak. Alasannya satu. Rambutnya jadi lembab.

Sakura sudah naik ke motor itu dengan susah payah. U-uwaaa tinggi sekali!

"Siap, Cherry? Pegangan!" Sasuke tersenyum saat Sakura melingkarkan tangannya di pinggang Sasuke, menyenderkan kepalanya ke bahu Sasuke yang -anehnya- masih wangi. Matanya menutup sebentar, menikmati saat-saat ini. Ia tidak tahu kalau mobil berplat xx xxxx xx yang barusan lewat adalah mobil milik Pamannya.

...

"Sakura-chan?"

Suara Sasuke terdengar samar. Tentu saja ia tadi ketiduran saat naik motor Sasuke.

"Mm? Sasuke-kun? Ini... Kenapa kita ada di Mall?!" Sakura yang baru bangun kaget. Dia ada di Mall sekarang.

Sasuke turun dari motor, membantu Sakura turun dari motor. "Yah... Kau bilang ponselmu rusak kan? Kita beli lagi saja, ya? Supaya kita biaa berkomunikasi dan supaya kau tidak bosan," ujar Sasuke.

Sakura tegelak. "Ekkk~ AKU GAK PUNYA UANG, SASUKE KUN! UANGKU DIRUMAH!" jerit Sakura sehingga beberapa orang disekitarnya menoleh heran.

"Tenang saja. Ayo, masuk. Kau boleh pilih sesuka hatimu."

Masih cemberut, Sakura ikut Sasuke masuk. Tiba-tiba, bunyi aneh keluar dari perut Sakura.

"Emmh..." Sakura menahan malu, melirik sekelilingnya serta Sasuke. Kuharap dia tak mendengarnya, batin Sakura dalam hati.

"Lebih baik kita makan dulu yuk. Aku lapar nih. Kau juga kan?" kata Sasuke membuat Sakura makin malu. "Y-ya terserah Sasuke deh."

Walau begitu Sakura tetap tersenyum.

...

"Mmh, enak sekali es krimnya! Sasu mau?" kata Sakura sambil menyerahkan es krimnya pada Sasuke. Sasuke memakan sedikit.

Mereka baru saja makan di McDonalds. Ia memang paling suka eskrim disana.

Mereka sampai ke gerai HandPhone.

"Pilihlah yang kau suka, Cherry." ujar Sasuke. Dengan senang Sakura mencari-cari HandPhone idamannya.

Lama mencari akhirnya Sakura mendapatkannya. Samsung Galaxy S4.

"Berapa ini?" tanya Sakura kepada penjualnya. " (-) yen , Nona!" ujar pembelinya.

Sebelum Sakura sempat protes, Sasuke sudah berujar, "Baiklah, aku bayar cash."

Sasuke mengambil dompetnya, kemudian mengeluarkan kartu ATMnya.

"Sasuke-kun?! I-ini terlalu mahal! Kau serius?!" ucap Sakura tak percaya.

Sasuke tersenyum. "Tenang, Cherry. Apapun untukmu."

Sakura tersenyum. "Arigatou, my Sasuke kuuun!" Tiba-tiba saja Sakura mencium pipi kiri Sasuke, hingga membuat Sasuke tersipu.

"Frontal... Tapi aku senang."

.

.

.

.

Sakura berjalan pelan, mengendap-endap melihat rumahnya.

"Mobil Paman? Haa untung hanya paman. Jadi aku bisa berbohong. Kalau sama Tousan dan Kaasan mati aku!" Sakura berbicara dalam hati.

Tadi Sakura meminta diturunkan di perempatan gang rumahnya. Sakura memberi alasan kalau rumanya sudah dekat. Akhirnya Sasuke menurunkannya disitu.

"Tadaima~" Sakura melangkah menuju ruang tamu.

Sakura terkejut. "To-Tousan? Kaasan?"

"Darimana saja kamu, Sakura?" Tajam suara Kizazhi.

Sakura terdiam, mencari-cari alasan. "Emmh! Tadi kata Kushina sensei waktu eskul di majukan mendadak. Dan aku belum memberitahuan kalian. Ja-jadi setelah eskul aku ketempat servis Ponsel. Pedagangnya mengatakan ia salah membetulkan jadi ponselku benar-benar tak bisa dibetulkan. Jadi penjualnya... Memohon padaku agar jangan menuntutnya jadi... Ia memberikan ini..." Sakura mengeluarkan Ponsel barunya. "Aku menerimanya, karena aku memang membutuhkan ponsel, Ayah. Ta-tadi aku juga membeli nomor baru. Tidak apa kan Ayah?" Sakura terdiam lagi setelah menjelaskan panjang lebar. Sasuke kun, gomen. Aku harus berbohong pada Touchan dan Kaachan! Sakura berbicara dalam hati.

"Baiklah." Hanya satu kata itu.

"Terimakasih Touchan! Oh, kenapa ada mobil paman disitu? Mobil kalian...?" tanya Sakura.

"Kamu bertukar mobil." jawab Ibunya singkat. Sakura hanya mengangguk.

'Kalau begitu Sakura masuk kamar ya Bu!" Setelah mendapat anggukan dari Ibunya Sakura masuk kamar lalu mandi.

...

'Nee! Arigatou, Sasuke kun. Oyasumi~"

Ia tak sabar hari esok. Ya, besok hari Minggu dan tadi Sasuke menelepon Sakura. Ia mengajak Sakura jalan-jalan besok.

"Lebih baik aku mencari alasan pada Ayah besok saja. Sekarang aku istirahat dulu." Setelah berkata begitu Sakura mematikan lampu kamar, menyalakan lampion kecil. Ia pun terlelap didunia mimpi.

.

.

.

TBC!

A/N : *merenggangkan otot* Ah akhirnya selesai juga. Ehe, maaf Minna atas keterlambatan Fic ini. Aku belum ada imajinasi sih. Mm mungkin minggu depan updatenya lama lagi o(╥﹏╥)o Review ya Minna ^^ Sayo-nara~!