"Ayo kita menikah."

Ucapan Ino membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut secara tiba-tiba. Ia meneguk ludahnya, dan mendekatkan telinganya pada Ino. "A-apa kau bilang?" Semoga saja ia salah mendengar.

Dan sayangnya, telinganya benar-benar baik dalam menyampaikan apa yang ia dengar ke otak. Ucapan Ino tetap sama, simpel, 3 kata...

Ayo. Kita. Menikah.

Ino tidak sedang berbohong, kan? Bukankah sepertinya gadis itu yang lebih pusing memikirkan tentang bagaimana membatalkan pernikahan mereka ini? Kenapa sekarang Ino mengajaknya menikah.

"Iya, kita m-memang akan menikah..." Ujar Naruto gugup. Semoga saja, maksud Ino berkata begitu adalah,

Ayo kita menikah. Maksudnya menikah dalam artian bohongan. Bukan benar-benar menikah. Arrrrgghhhh! Lagipula Naruto tahu, Ino masih menyukai pria bernama Sai itu. Dan juga... Ia masih mengharapkan Sakura.

"Maksudku... Menikah dalam artian sesungguhnya, Naruto." Bisik Ino penuh penekanan. Naruto benar-benar akan menolak, sebelum ia melihat dan mendapati mata Ino berkaca-kaca.

"Sai..." Gumam Ino pelan. "... Ia ada di sini. Kita tidak mungkin membatalkannya, kan?" Mata biru sapphire Naruto mulai menjelajahi setiap tamu di pestanya. Cukup lama ia dapat menemukan Sai diantara kerumunan itu. Tapi kemudian, tepat di meja yang paling jauh, ia melihat Sai dan Sakura.

Oke, ini benar-benar membuat amarahnya memuncak. Ino benar. Mau taruh dimana muka mereka, kalau mereka membatalkan pernikahan ini di depan Sai dan Sakura dengan alasan tak saling mencintai.

Ia tidak akan kalah dengan Sakura.

Ia akan membuktikan bahwa ia tidak akan terus-terusan terpaku pada gadis pinky itu.

Ia akan membuktikan pada Sakura bahwa ia sudah menemukan 'princess serenity'-nya.

Dan gadis itu adalah Ino. Tidak kurang tidak lebih. Ia bertekad akan mendatangi Sakura dan—kalau dibutuhkan—Sai, kemudian mengatakan ia mencintai Ino dengan suara yang keras. Kalau perlu, ia akan mencium Princess Serenity-nya agar mereka percaya.

Oke, itu terlalu berlebihan. Ia mungkin tidak akan melakukan hal itu jika masih ingin melihat matahari terbit besok.

Dan saat pertanyaan pendeta pun terdengar, Naruto menjawab dengan santai dan penuh keyakinan, seakan ia benar-benar berperan sebagai suami dari seorang Yamanaka Ino.

"Aku bersedia. Aku bersedia mencintai dan menjaga My Princess Serenity dalam keadaan apapun..." Naruto memberi jeda. Ia mengambil napas, kemudian menghembuskannya. Ino merasakan sensasi aneh ketika hembusan napas itu mengenai kulit wajahnya. Begitu hangat. "..., dan menjaganya sampai hembusan napas terakhirku. Bahkan, aku tetap tidak akan berhenti mencintainya, walaupun dunia memaksaku untuk berhenti..."

Semua yang berada di sekitar Ino terasa berhenti. Jantung gadis itu berdetak terlalu cepat, sehingga ia bisa mendengarnya sendiri. Ia terpaku. Mendengar ucapan yang terdengar seperti telah dipersiapkan itu keluar dari mulut pemuda Namikaze, membuatnya tak henti-hentinya menatap Naruto dengan raut wajah yang tak dapat diartikan. "Walaupun, ia sendiri yang memintaku berhenti mencintainya... Aku akan tetap mencintainya. Selamanya dan selalu."

Suara-suara disekitarnya terasa tak penting. Ia tak mendengar apapun, selain...

'Aku bersedia. Aku bersedia mencintai dan menjaga My Princess Serenity dalam keadaan apapun, dan menjaganya sampai hembusan napas terakhirku. Bahkan aku tetap tidak akan berhenti mencintainya, walaupun dunia memaksaku untuk berhenti, walaupun ia sendiri yang memintaku berhenti mencintainya... Aku akan tetap mencintainya. Selamanya dan selalu.'

Suara itu terdengar begitu lembut, berulang kali diputar oleh otaknya.

"Kau kenapa, Ino? Oii... Pendeta bertanya padamu!" Naruto berteriak pelan, sambil sedikit mengguncangkan tubuh Ino. Ino tersentak, tersadar dari halusinasinya. Pendeta bertanya padanya? Apa? Ia harus menjawab apa?

Wajah Ino memerah. Benar-benar merah. Ia menunduk, diam.

"Ino... Katakan sesuatu." Bisik Naruto. Ino meneguk ludahnya. Astaga! Ia benar-benar tak bisa berpikir sekarang! Apa yang harus ia katakan?

Ayolah, Ino.. Lakukan sesuatu!

Dan...

Sret!

Tanpa dapat Ino duga, Naruto mengangkat wajah cantiknya dan mencium keningnya lembut. Bahkan kecupan yang cukup lama itu, belum bisa membuatnya menyadari apa yang terjadi.

"Kau terlalu malu untuk mengatakan bahwa kau mencintaiku ya, My Princess? Kalau begitu... Cukup anggukan kepalamu."

Dan...

Ino menganggukan kepalanya malu-malu. Jantungnya berdebar lebih keras, rasanya tenaganya hilang begitu saja, tubuhnya lemas.

Bagaimana bisa? Ia merasakan hal seperti ini saat Naruto mengecup keningnya?

Bagaimana bisa, ia memerah saat mengetahui dirinya terpana dengan ucapan lembut Naruto?

Bagaimana bisa, ia merasa senang saat Naruto menggenggam tangan kecilnya dan memasukan sebuah cincin berwarna perak itu ke jari manis-nya?

.

"Selamat ya, Naruto! Semoga kalian mempunyai anak yang cakep nanti..." Ujar seseorang. Ino yakin, wanita berdada super ini bernama Senju Tsunade. Ia dan Naruto sudah berbincang mengenai orang-orang yang akan datang ke pesta cukup lama kemarin malam. Sehingga mudah baginya untuk berterima kasih saat ada yang mengucapkan selamat.

"Ingat! Saat di kamar nanti, jangan pernah menyentuh—"

Duakkk!

Dan Ino tahu pria berambut putih jabrik itu adalah Jiraiya. Pria berumur yang terkenal mesum sepanjang hidupnya. Untung saja ada Tsunade yang selalu memberikan pukulan-pukulannya di saat yang tepat.

Dan jangan lupakan, kalau melihat Jiraiya dan Tsunade, itu artinya Orochimaru juga berada di sana.

"Hm... Selamat ya, Naruto-kun. Paman sarankan kau harus memelihara ular jenis—" ya, semua yang ia bicarakan pasti berujung pada ular. Dan kali ini apa? Ia menyuruh Naruto dan Ino untuk memelihara seekor ular yang namanya aneh—entahlah—, agar hubungan keduanya lancar tanpa ada rintangan. Ino yakin, Naruto tidak akan pernah mau melakukannya.

Dan kemudian, setelah mendapat ucapan-ucapan dari para sahabatnya, tibalah saat dimana Sai dan Sakura datang mengucapkan selamat.

"Um... Tak kusangka kau akan menikah secepat ini, Ino..." Sai memberi jeda, "... Dengannya." Tambahnya sambil melirik Naruto.

Naruto tersenyum penuh kepalsuan dan merangkul Ino, seakan-akan ia dan Ino memang sudah terbiasa melakukan hal semacam merangkul.

"Hm... Aku dan My princess serenity, sudah mengenal lama, dan saling suka pada pandangan pertama, kemudian kami berpacaran tak lama ini, dan menikah. Takdir, kan? Haha... Aku tahu, kau juga pasti berpikiran bahwa kami memang ditakdirkan bersama..." Naruto menjawabnya dengan santai dan aneh. Dan lagi-lagi mengucapkan sesuatu seolah-olah mereka memang begitu.

Oh... Hebat sekali akting pemuda itu.

"O-oh..." Sai terlihat sedikit jengkel, kemudian berjalan pergi begitu saja, dengan senyum yang selalu melekat di bibirnya. Sekarang giliran Sakura. Gadis itu terlihat gugup, sesekali ia menggigit bibir bawahnya, dan menatap canggung ke arah Naruto, dan Ino.

"Um... Aku Sakura, aku adalah... Teman... Naruto. Kau Ino, kan?" Sakura mengulurkan tangannya ke arah Ino. Ino baru akan membalasnya, apabila Naruto tak menarik tangannya.

"Sudah tahu, masih tanya." Ujarnya dingin. Sakura tersenyum kecut.

Ino tahu, bahwa saat ini Naruto sangat-sangat cemburu pada Sakura dan Sai. Tapi... Ini salah. Ia dan Naruto tidak saling mencintai. Naruto menyukai Sakura, dan ia masih mengharapkan Sai.

Salah.

Benar-benar salah.

"O-oh.. M-maaf. A-aku a-akan pergi kalau b-begitu!" Ino dapat mendengar helaan napas Naruto saat Sakura sudah pergi meninggalkan keduanya. Namun, saat ia menatap pemuda Namikaze itu, Naruto nampak tersenyum manis.

Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke telinga Ino, dan berbisik. "Aku... Lelah..."

Kalau melihat keduanya tanpa tahu apa-apa, maka siapapun akan setuju apabila menyebut mereka sepasang suami-istri yang bahagia.

.

.

.

.

Ino mengantar Naruto menuju kamarnya untuk beristirahat sejenak. 2 jam lagi, mereka akan berangkat ke rumah baru mereka. Oh... Tuhan, orang tua mereka benar-benar gila. Semuanya dapat mereka persiapkan dalam waktu sehari. Tidak ada yang kurang.

Naruto langsung jatuh terbaring di kasur empuk Ino. Ia menutup matanya dengan punggung tangan, kemudian membuka suara. "Aku..." Ia menggantung. Memejamkan kedua mata biru sapphire-nya dan melemaskan seluruh tubuhnya. "... Aku tidak tahu, apakah aku terlalu kasar pada Sakura-chan..."

Ino terdiam. Ia memutuskan untuk duduk di pinggiran kasur, sambil menatap Naruto.

"Kau kasar sekali tadi." Ucapan itu sama sekali tak membuat Naruto senang. Tapi, memang itulah kenyataannya, bukan?

"Tapi... Setidaknya kau jadi terlihat keren." Tambah Ino. Naruto membuka matanya, ia melirik Ino dan tersenyum. "Yah... Begitulah. Tapi aku rasa, aku terlalu berlebihan saat berkata di altar tadi."

"Sangat." Ucap Ino setuju. Naruto tertawa kecil, kemudian menepuk-nepuk kasur. "Ayo, berbaring bersamaku."

Ino tertawa, ia kemudian berbaring di sebelah Naruto. Kaki keduanya masih menggantung, mereka tak sepenuhnya berada di kasur.

"Kasurmu lumayan besar."

"Hm.."

"Tapi aku tidak mau kita tidur di kasur ukuran segini."

"Kenapa?" Oke, itu pertanyaan bodoh, Ino. Naruto baru saja mengatakan sesuatu yang mesum.

"Karena aku bukan tipe orang yang bangun dalam keadaan yang sama sebelum aku tertidur."

Naruto selalu dapat membuat amarahnya mereda karena kepolosannya. Oke, ia akui... Sebenarnya Naruto tak mesum.

"Ternyata kau... Tidak mesum ya, Naruto."

Tidak ada respon. Naruto terlihat telah kembali memejamkan matanya. Ino tersenyum, gadis itu kemudian bangkit berdiri dan mengganti gaunnya.

Ino turun setelah 10 menit. Butuh waktu cukup lama untuk membersihkan seluruh wajahnya dari make up, dan melepaskan seluruh hiasan yang berada di rambutnya. Dan kebetulan sekali, ia bertemu dengan Minato yang sedang duduk sambil membaca buku.

"Minato-jiisan.." Panggilnya. Minato menoleh dan tersenyum. Pria berwajah mirip Naruto itu melepaskan kacamata-nya. "Oh... Ino-chan... Ada sesuatu yang ingin kau katakan?"

"Hm... Naruto tertidur sebelum mengganti pakaiannya... Jadi, aku..."

Tunggu! Kenapa mulutnya terasa sulit sekali untuk mengatakan ia butuh bantuan? Kenapa seakan-akan ia ingin dirinya... Untuk...

"Oh, iya. Aku akan menggantinya."

Dan rasa kecewa itu datang entah darimana.

'Yamanaka Ino! Kau benar-benar sudah gila.'

.

.

.

.

.

"Ng...?" Naruto membuka matanya perlahan. Ini dimana? Dan apa yang terjadi? Naruto bertanya-tanya dalam hati, kemudian pemuda tampan itu mendudukan dirinya sambil berusaha mengingat-ingat.

Ah, Ia baru ingat bahwa ia sempat dibangunkan Minato, kemudian setelah berganti baju, ia bersama yang lainnya segera pergi ke rumah barunya dengan Ino, kemudian ia langsung ke kamar dan tidur dengan alasan masih ngantuk. Dan juga... Ia baru ingat bahwa ia sekarang sudah resmi menjadi seorang suami. Itu artinya...

Naruto menoleh, matanya terbelalak saat melihat seorang wanita berambut pirang yang sedang terbaring tanpa sehelai benang pun.

Wanita yang ia yakini adalah Ino itu, mengerang, kemudian berbalik ke arahnya dan...

"Uwaaahh...!" Naruto terbangun, dan kali ini ia benar-benar terbangun. Ia menoleh perlahan ke arah samping.

Fyuuhh... Untung saja mimpinya tidak benar-benar terjadi. Tapi... Tunggu! Kenapa ia harus lega? Bukankah Ino sudah resmi menjadi istrinya dan mereka ber-hak untuk melakukan, ehm, itu?

"Kau sudah bangun, Naruto?" Suara yang sangat ia kenali itu datang dari arah pintu. Ino.

"U-um... Yah, begitulah." Naruto benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegugupannya. Ia tak berani menatap Ino.

"Turunlah ke bawah. Orang tua-mu dan orang tua-ku, akan pergi sebentar lagi."

Pergi? Minato, Kushina, dan kedua orang tua Ino akan pulang? Itu artinya...

Ia dan Ino akan tinggal sendirian di rumah?

"U-uh... B-baiklah." Dengan setengah berlari, Naruto langsung menuju ke bawah, dan berbalik menatap Ino saat dirasanya ia melupakan sesuatu. "Kau... M-mau ikut?"

Ino tertawa, ia mengulurkan tangannya ke arah Naruto, meminta disambut. Naruto mau tak mau tertawa, pemuda Namikaze itu kemudian menggenggam tangan Ino dan berjalan beriringan dengannya.

Tunggu! Sejak kapan mereka seakrab itu?

"Wow!" Seru Kushina saat melihat tangan keduanya saling terpaut. Ino dan Naruto saling berpandangan, mereka kemudian tersadar dengan arah pandangan Kushina, dan segera melepaskan genggaman mereka. "Sekarang kalian sudah tidak malu menunjukkan hubungan kalian, ya?"

"U-um... Ayah, ibu, jii-san, dan baa-san, benar-benar akan pergi sekarang?" Tanya Naruto tak menghiraukan ucapan Kushina, membuat wanita cantik berambut merah itu berdecak kesal. Minato tertawa kecil dan mengangguk, sedangkan Inoichi masih belum bisa melepaskan Ino sepenuhnya, ia menangis.

"Hm... Kami tidak mungkin mengganggu malam pertamamu, kan?" Tanya Minato enteng. Naruto mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian setelah 3 detik, ia membelalakan matanya. "M-maksud a-ayah?"

"Tidak ada." Minato menjawab cepat, kemudian berpura-pura sibuk dengan handphone-nya. Naruto mendengus kesal dengan wajah yang merona. Entah kenapa, ia merasakan sebuah dorongan untuk menoleh ke arah... Ino.

Dan saat pandangan keduanya bertemu, tubuh Naruto seakan membatu, tak bisa bergerak untuk berpaling. Bahkan hanya untuk sekedar memalingkan wajah saja ia tak bisa. Ia baru sadar kalau... Ino memiliki wajah yang cantik. Bukan, ia tahu Ino adalah gadis yang cantik, hanya saja, ia tak menyangka wajah itu terbentuk dengan sempurna. Mata biru, rambut pirang, dan kulit putih. Seperti putri dalam negri dongeng. Tapi entah kenapa, ia malah menyebut Ino dengan sebutan 'My Princess Serenity'. Apa mungkin karena ia mirip dengan Usagi dari anime Sailor Moon?

Usagi-nya yang lincah.

"Naruto?" Tanya Ino. Astaga. Kali ini apa yang Naruto lakukan, mata biru sapphire itu menjelajah turun ke arah...

"Hey, Naruto!" Bentak Ino. Naruto tersadar dan segera mundur beberapa langkah. "E-eh... Aku t-tidak bermaksud..."

"Apa sih, maksudmu? Kau tidak mau masuk, ini sudah malam..."

"E-eh...?" Naruto melihat sekeliling, ia tak sadar Kushina dan yang lainnya telah pergi dari tadi.

A.s.t.a.g.a.

.

.

"Mau makan apa?" Tanya Ino seraya berjalan ke arah dapur. Gadis itu membuka kulkas yang sudah tersedia di sana dan menaikkan sebelah alisnya saat melihat tidak ada yang bisa dimasak di sana. Isinya kebanyakan hanya susu cair, teh botol, biskuit, sereal dan makanan ringan lainnya.

Naruto ikut melihat isi kulkas dari balik pundak Ino sambil sedikit membungkuk. "Kita makan di luar saja, ya!" Ajak Naruto semangat. Pemuda itu beranjak naik ke kamar mereka yang berada di lantai atas, dan mengambil jaket serta kunci mobilnya.

"Hm... Baiklah." Ino mengikuti Naruto, dan masuk ke dalam kamar, ia hendak membawa tas kecilnya namun, gerakannya terhenti begitu ia teringat sesuatu.

Naruto adalah suaminya.

Ya, dan itu berarti ia tidak harus membawa uang, bukan?

Senyum licik perlahan terukir di bibir gadis Yamana—, ehm, nyonya Namikaze. Ia melirik Naruto yang berwajah polos, dan tertawa dalam hati. Naruto menoleh, "Ayo cepat, keburu ramai..."

"Oke..."

Mobil porsche targa merah Naruto sampai di sebuah kedai ramen dalam 3 menit. Tentu saja kedai yang ia datangi memiliki nama 'Ichiraku', kedai ramen yang terkenal dengan kelezatannya.

"Kau serius... Naruto?" Lagi. Ino menaikkan sebelah alisnya saat melihat papan nama kedai Ichiraku yang nampak usang dan sudah ada cacat di beberapa bagian. Naruto mengangguk tanpa ada sedikitpun keraguan. Ia kemudian melipatkan kedua tangannya di depan perut dan tersenyum bangga. "Tempat ini adalah kedai terenak di Tokyo. Aku selalu makan disini saat SMU."

"Tapi aku... tidak suka ramen."

Krik. Krik. Krik.

Naruto mengerjapkan matanya berkali-kali, ia menatap Ino dengan pandangan tak percaya, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

Ino mengerutkan keningnya. Apa yang lucu? Apa menurut pemuda ini, tidak menyukai ramen adalah hal yang lucu?

Setelah cukup lama tertawa, Naruto menghentikannya. Ia mengusap air mata yang sempat keluar, dan memandang Ino dengan wajah tak yakin. "Kau serius?"

"Tentu." Jawab Ino dengan kesal.

"Tidak ada yang tidak menyukai ramen, jadi aku yakin pasti kau sedang bercanda. Ramen adalah makanan paling enak sepanjang masa, hal itu adalah mutlak!"

"Terserah mau menganggap aku bohong atau apa, tapi yang pasti... Aku tidak suka ramen." Ucap Ino penuh penegasan di bagian akhir. Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, bingung mau bilang apa.

"Err... Memangnya apa yang salah dengan ramen?"

Ino menatap Naruto malas. Apa yang salah dengan ramen? Banyak sekali, makanan itu berminyak, baunya menyengat, dan ia tak suka naruto—bahan pelengkap yang biasa berada di ramen. Bisa gendut kalau ia bersama dengan Naruto yang makan ramen terus.

"Ramen makanan yang sangat berminyak."

"Lalu?" Lalu? Pemuda itu menjawab lalu, saat Ino bilang ramen berminyak? Oh God, pasti selama ini Naruto tak hidup dengan sehat.

"Tentu saja bukan hal yang baik, Naruto."

"Kalau hanya sekali-kali, tak apa, kan? Jangan terlalu ketat dengan makanan yang kau makan, nanti kau jadi kurus..."

Kurus? Jadi sekarang ia... Gemuk?

"Sudahlah, ayo masuk!" Naruto yang tak sabar ingin segera merasakan ramen di mulutnya, menarik lengan Ino. Memaksa gadis itu untuk masuk, dan duduk di sebuah meja.

"Duduk dan rasakan. Kalau kau masih bilang tak suka, aku janji tak akan membawamu ke sini lagi." Oke, Ino pegang janji Naruto.

"Mau pesan apa, Naruto?" Tanya sebuah suara pria besar bertubuh gempal. Mau tak mau Ino menoleh, karena ia amat mengenali suara ini. "Chouji?"

"Ah, kau Ino! Mau pesan apa?" Ulang Chouji. Ino menatap Chouji heran, ia tak tahu Chouji bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai. "Sejak kapan kau bekerja disini?"

"Eum... Entahlah. Sejak kapan ya, Naruto?" Jawab Chouji sambil balik bertanya pada Naruto. Naruto melirik ke atas, mencoba mengingat. "Sekitar 2 bulan yang lalu, mungkin."

"Sudah selama itu? Jadi kalian juga sudah saling mengenal?"

Chouji mengangguk. "Hm... Makanya aku juga kaget, saat mengetahui calon suamimu adalah Naruto. Aku kira Naruto menyukai—"

"Ahahahaha! Rambut kapas itu? Sebenarnya aku hanya berpura-pura saja dengannya. Aku sudah lama menyukai Ino-chan, dan baru-baru ini kami pacaran dan kami langsung memutuskan untuk menikah." Potong Naruto sambil tertawa. Entah akting pemuda itu yang jelek atau apa, yang jelas Ino merasa muak.

Bohong. Lagi-lagi pemuda itu berkata bohong.

Setelah Naruto mengucapkan pesanannya, Chouji segera kembali menuju Teuchi dan menyebutkan pesanan pemuda beriris mata biru sapphire itu. Tak berapa lama kemudian, pesanan pun datang.

"Yosh! Terima kasih atas makanannya!" Naruto segera melahap ramennya. Ino hanya memandang Naruto heran. Entah kenapa, ia merasa Naruto seolah-olah... Memaksakan dirinya?

Tanpa bisa Ino cegah, muncul pikiran-pikiran aneh dalam otaknya. Dugaan mengenai... Naruto tak bahagia dengan pernikahan ini...?

"Henapha hihak himakhan?(Kenapa tidak dimakan?)" Tanya Naruto disela-sela makannya.

"..." Ino terdiam, ia menatap Naruto kemudian menatap ramen miliknya. "Selamat makan..." Ujarnya pelan. Ia mulai menyumpit, dan memasukannya perlahan ke dalam mulut.

Enak.

Ya, tentu saja. Ia tak pernah mengatakan ramen tak enak. Ia cuma bilang, ia tak suka ramen. Karena ramen dapat membuatnya gemuk, cuma itu. Ino termasuk salah satu gadis yang melakukan diet ketat walaupun ia tak gemuk. Tentu semua gadis menginginkan sesuatu yang sempurna, kan? Kebiasaan ini bermula saat usianya menginjak 14 tahun, ia mulai menyukai lawan jenis, dan melakukan berbagai cara agar mereka tertarik. Ia dan Tenten yang tadinya sangat dekat, menjadi pesaing, dan terkadang adu mulut karena seorang cowok. Kemudian, saat ia menginjak bangku SMU, ia sedikit menyesal karena lebih mementingkan penampilan daripada pendidikan, membuat nilainya turun jauh. Ia mulai kembali fokus belajar saat kelas 3, membuat Tenten berseru kemenangan karena saingannya telah mundur. Lebih sulit lagi saat masa-masa kuliahnya, ia mulai berpacaran karena tidak ingin dianggap remeh oleh teman-temannya. Apalagi saat mengetahui Tenten berpacaran dengan Neji. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap membuat belajar menjadi prioritas utamanya, sehingga pacar-pacarnya bosan, dan otomatis ia selalu mencari pacar baru. Ia masih ingat betul saat Tenten menyebutnya sebagai seorang playgirl.

"Bagaimana?" Naruto bertanya penuh harap. Ino mengangguk kecil dan tersenyum tanpa mengatakan apa-apa.

"Baguslah! Aku 'kan sudah bilang..." Naruto tersenyum bangga, dan kembali menyantap ramennya.

Ino tersenyum menatap suaminya. Naruto seperti anak-anak yang lugu dan polos. Tak seperti dirinya.

.

.

.

"Sampai..." Ujar Naruto. Pemuda berambut pirang jabrik itu menghela napas lega, dan menatap Ino.

"Ayo turun... Aku sudah sangat mengantuk."

Keduanya berjalan bersama-sama menuju kamar mereka, dan tiba-tiba berhenti secara bersamaan juga tepat di depan pintu. Menyadari sesuatu.

Bersama. Dalam. Satu. Kamar.

"A-ah... A-aku akan tidur di sofa." Ucap Naruto cepat, sambil berlari mengambil bantal, dan segera turun ke bawah.

Ino mengangkat kedua bahunya, ia melepaskan jaketnya dan menjatuhkan tubuhnya ke kasur.

"Malam yang melelahkan..." Gumamnya dan ia langsung tertidur.

Sedangkan Naruto...

Naruto mematikan lampu, merebahkan tubuhnya di sofa, dan menjadikan jaketnya sebagai selimut. Ia tersenyum dan memejamkan mata.

Ia kembali teringat, kejadian beberapa jam lalu, sesaat setelah keduanya masuk ke dalam kamar Ino.

.

TBC.

.

.

A/N: Hayooo? Kejadian apakah itu? Jadi gimana? Masih kependekkan? Kan biar pas waktu TBC(alesan). Oke, cuma itu yang ingin Ito sampaikan, terima kasih kepada readers yang udah setia membaca My Princess Serenity dan udah mau nge-review, nge-fav, dan nge-follow.

Balasan semua review:

Terima kasih telah membaca My Princess Serenity sampai chap 3 ini. Maaaaafff seekaaalliiii...

1. Rated-nya akan tetap T! Masalahnya saya masih 14 tahun, belum cukup umur buat bikin yang begituan... Semoga saja anda tidak kecewa.

2. Masalah word, chap 3 udah cukup panjang, kan?

3. Ito juga masih bingung sama alur cerita, pengennya sih, buat yang ringan aja, tapi sudah Ito siapkan beberapa konflik yang akan mendatang...

4. Konflik Ino di SMA, mungkin bakalan ada yang berpengaruh sama masa depan, haha—mungkin.

5. Ino putus dengan Sai karena... *sensor*. Lalu Sai manggil Ino waktu itu karena... *sensor*. Oke, nanti bakalan dibahas. Ingatkan Ito kalo belum ya, haha... Nyicil penjelasannya ya!

End.

Terima kasih, dan sampai jumpa di chapter selanjutnya. Mungkin chap depan update-nya lamaaaa banget...