Akatsuki Horror Stories
By : DeiChi
Disclaimer : Masashi Kishimoto.
Warning : OC, OOC, DON'T LIKE DON'T READ.
" Aniki.. Ayo berangkat, ntar Mirai telat ke sekolah.. " kata seorang anak kecil berambut ikal yang bernama Mirai.
" Iya iya, sebentar ya.. Aniki belom nyapu.. " ujar seorang pemuda berambut putih itu sambil menguap.
" Makanya, Aniki tidurnya jangan kayak kebo!! " ejek Mirai, berkacak pinggang.
" Iya iya, " gerutu pemuda itu.
Kemudian datang seorang pemuda lagi, kali ini pemuda itu memakai cadar kayak Aisyah AAC.
" Tuh, Hidan.. Masa' lo kalah sama Mirai sih? Mirai aja niat sekolah.. " sindir pemuda bercadar itu.
" Heh, Kakuzu!! Emang gue aja yang gak niat sekolah? Lo juga tuh! Kerjaannya cuma malakin duit orang!! " ejek Hidan gak mau kalah.
" Lo kerjaannya cuma ngajarin aliran sesat! Apaan tuh Jashin? Ngayal lo!! "
" Auk ah gelap, " ujar Hidan gak peduli. Kakuzu mulai memasang kuda-kuda
Mirai yang dari tadi minta dianterin sekolah, sekarang udah gak tahan akan tingkah Hidan dan Kakuzu yang kayak anak kecil. Mirai dengan sengaja, menendang keduanya.
" Ih diem lo pada!! Anterin Mirai ke sekolah!! GE PE EL!! " seru Mirai
" Tapi gak usah pake acara nendang gitu napa ?! " ujar Kakuzu gak terima.
" Denger Mirai dong tadi!! Mirai mau dianterin sekolah !! " kata Mirai.
" Ayo ke mobil, Mirai, " kata Hidan, berusaha mendamaikan keduanya.
Akhirnya, Hidan mengantar Mirai ke sekolah. Tapi, Mirai harus sudah sampai di sekolah pada pukul 06.30, sekarang, waktu menunjuk pada pukul 06.20. Maka, Hidan dengan segera menyetir dengan ngebut.
Tanpa lihat kanan kiri, Langsung aja diterobos ama si Hidan. Gak taunya, ada seorang anak kecil yang menyeberang zebra cross.
BRUUUUUKKKK !!!
Mobil Hidan menabrak anak kecil itu. Mirai kaget.
" Itu kan Chi chan!! Kok tergeletak gitu di jalan ? " sahut Mirai
Hidan menelan ludah dengan wajah ngeri. Tubuh anak kecil itu berlumuran darah, tangan anak itu juga sepertinya patah. Hidan gak peduli, sekarang kewajibannya adalah mengantar Mirai ke sekolah. Hidan langsung tancap gas, dan membiarkan anak itu tergeletak.
--
Lalu, seorang pemuda berambut merah panjang segera berlari menuju jenazah anak itu. Dia terkejut, betapa tidak, anak itu adalah adiknya sendiri.
" Chi chan!!! Kenapa kamu begini? " ujar pemuda itu.
Pemuda itu memeriksa denyut nadi anak itu, ternyata sudah berhenti.
" Ini adalah kenyataan terpahit seumur hidupku, aku harus kehilangan adikku yang sangat kusayangi, " kata pemuda itu pada dirinya sendiri. Pemuda itu langsung membawa jenazah itu ke rumah sakit terdekat untuk otopsi.
--
Mirai sudah sampai di sekolah, dengan selamat. Pelajaran di kelas Mirai akan segera dimulai. Mirai menunggu kedatangan teman sebangkunya yang tak kunjung datang, dialah Chi chan, anak yang tadi di tabrak Hidan.
" Dimana ya Chi chan, un? " tanya seorang anak lelaki berambut pirang panjang.
" Gak tau dimana, Dei kun.. Tadi aku liat, dia tergeletak begitu saja di jalan, " jawab Mirai lesu.
" Loh kok tergeletak, un? " tanya anak itu lagi.
" Daripada gitu, tanya sensei aja yuk. " kata Mirai, menarik tangan Dei menuju ke ruang guru.
--
" Chi chan sudah meninggal.. " kata seorang guru.
Mendengar itu, Deidara dan Mirai tertunduk sedih. Mereka harus kehilangan teman mereka yang suka jahil. Sekarang, kejahilan Chi chan sudah menjadi kenangan. Deidara langsung menangis, begitu juga Mirai.
" Kalian harus merelakan teman kalian.. Ayo masuk ke kelas, Tsunade sensei akan mengajar, " hibur Tsunade.
" Tapi Tsunade sensei, kenapa harus Chi chan yang pergi? " tanya Mirai pada gurunya yang cantik itu.
" Itu sudah kehendak Tuhan, kita tak bisa berbuat apa apa lagi, selain menerima kepergiannya.. " jawab Tsunade.
--
" Apa Shuichi kun? Chi chan.. " kata seorang ibu ibu paruh baya tersebut tak percaya.
" Iya okasan.. Sebenarnya aku sendiri juga tak tahu kenapa dia bisa begitu, " kata Shuichi dikenal sebagai Kurama.
Ibu dari Chi chan dan Kurama langsung menangis, Kurama segera merangkul ibunya dan menghiburnya.
" Kita harus menerima kenyataan, " bisik Kurama pada ibunya.
--
Beberapa tahun kemudian..
" Hidan, kita menerima undangan ulang tahun si Itachi tuh!! " kata Kakuzu, menyerahkan undangan itu pada Hidan.
" Gue harus tampil sekeren kerennya.. " kata Hidan, narsis.
Hidan lupa dengan kesalahannya beberapa tahun silam. Chi chan tak terima akan kematiannya secara mendadak, dia mulai menggentayangi Hidan.
--
" Hidan, lo tampak keren malam ini.. " kata Hidan pada dirinya sendiri. Hidan melihat penampilan dirinya di cermin, lalu yang muncul bukan bayangannya. Melainkan seorang anak kecil yang berlumuran darah.
" Niichan, kembalikan nyawaku.. " kata anak kecil itu.
" Siapa kamu?? " tanya Hidan ketakutan.
" Niichan sudah lupa ya? Niichan kan yang menabrak Chi chan dulu.. Padahal, hari itu kan Chi chan harus membacakan puisi tentang mawar hitam di sekolah, niichan menghancurkan hari terbaikku, "
" Gue gak tau siapa lo anak kecil !! " seru Hidan. Hidan langsung keluar dari dalam kamarnya, menuju ruang tamu.
Disitu, terdapat Mirai dan Kakuzu yang sudah bersiap siap berangkat. Hidan teriak teriak histeris.
" Aniki napa sih?? " tanya Mirai merapikan gaunnya.
" Anak itu, Mirai!! Anak yang dulu aku tabrak!! " kata Hidan yang tiba tiba mengingat kesalahannya.
Mirai tersentak kaget, dia mengingat kenangan bersama temannya.
" Aniki ngada ngada aja deh, mungkin cuma perasaanmu doang.. Ayo berangkat!! " seru Mirai
--
Di pesta ulang tahun Itachi, banyak sekali orang yang datang, kebanyakan dari kalangan artis dan tokoh masyarakat. Hidan dan Kakuzu sekarang adalah anggota Akatsuki, begitu juga dengan Deidara.
" Woi Hidan, necis banget lo, un!! " seru Deidara yang memakai tuxedo berwarna putih tulang.
" Dan ehem.. Lo juga udah punya anak ya? " lanjut Deidara.
" Anak apa? Ngayal lo!! " kata Hidan.
" Kayaknya gue kenal deh anak itu.. " kata Deidara
Tiba tiba, yang berulang tahun muncul dalam pembicaraan Hidan dan Deidara.
" Anakmu lucu banget, tuh, Hidan! " sahut Itachi menunjuk sebelah Hidan.
Hidan menoleh ke sebelah kanannya. Tak ada anak kecil di sebelahnya.
--
Tiba tiba handphone Hidan berbunyi di tengah keramaian. Hidan segera keluar dari ruangan dan mengangkat telponnya. Ketika ia menyapa yang menelepon, ternyata sambungan putus. Hidan kembali ke ruangan, tapi jalannya terhalang anak kecil berlumuran darah.
" Niichan.. Aku ingin kau tahu, sebenarnya hari itu, aku juga ingin menyatakan perasaan pada Dei kun, niichan merusak hariku, " kata anak kecil itu lirih.
Hidan membeku di tempat, dia tak bisa bergerak, karena anak kecil itu menatapnya tajam.
" Niichan, aku ingin kau tahu bagaimana rasanya mati. Sangat menyakitkan.. Apalagi kasusnya sama sepertiku, " kata anak itu lagi.
Tangannya yang patah itu mengeluarkan pisau daging dan mengarahkan pisau itu pada Hidan.
" Ampun.. gue dulu nganterin Mirai ke sekolah, takut telat, " kata Hidan ngeri.
Mendengar kata 'Mirai' anak kecil itu menangis. " Mirai.. " sahut anak itu sedih.
Tapi anak itu tak peduli, dia melangkah mendekat ke Hidan. Hidan sudah komat kamit minta pertolongan dari Jashin. Tapi semuanya sudah terlambat. Anak itu mulai mencincang Hidan dengan potongan zig zag.
--
" Aniki!!! Kok jadi kayak gini sih?? " tanya Mirai berkaca kaca, melihat aniki nya sudah termutilasi.
Anak yang membunuh Hidan itu masih tinggal di tempat. Mirai menatap anak itu, sebuah memori terkenang tentang anak itu.
" Chi chan.. " kata Mirai lirih.
Deidara mengikuti langkah Mirai ke tempat TKP. Deidara melihat anak itu dengan seksama. Dengan rasa rindu yang mendalam, Deidara langsung memeluk anak itu.
" Chi chan, kenapa kau tinggalkan kami? Aku saat itu sebenarnya ingin membacakan puisi tentangmu. Aku sayang kamu, tapi kupendam perasaan itu, un. Saat itu juga, kau telah tiada, un, " kata Deidara mengeluarkan unek uneknya.
" Aku juga sayang kamu, aku pikir kau takkan membalas perasaanku ini, " kata anak itu mempererat pelukannya. Mirai juga memeluk anak itu.
" Terimakasih, Dei kun, Mirai, sekarang Chi bisa istirahat dengan tenang.. " kata Chi chan melambaikan tangan.
A Ghost with Broken Arm : O.W.A.R.I
DeiChi's Corner :
Chi : Cerita gaje, dan ending yang gaje.
Dei : Tapi, Chi, kamu beneran gak mati kan?
Chi : Sehat walafiat malah.
Mirai : Ih, aku kok lebay banget disini ??
Chi : Gomen.. Chi suka bikin orang jadi lebay.
Mirai : Dan kenapa Aniki ku tercinta (?) dipotong jadi zig zag gitu?!
Chi : No comment ah..
-Mirai dan Chi berantem –
Dei : OK, jangan lupa review ya. Sebenarnya, fic ini untuk chap. The Blind Old Lady, tapi si Chi kehabisan ide, un!! Inget, gak terima FLAME.
