A/N : HAI minna maaf ya lama. sebagai gantinya aku akan post 3 chapter sekaligus. hope you like this :-)


DLDR!

ENJOY IT ^_^)/

Chapter 3

.

.

.

Aku menghela napas. Tanganku mengepal, urat kesabaranku hampir terputus, "Apa anda berpikir bahwa semua yang saya katakan itu hanyalah dongeng?"

"Hahaha, iya!" jawabnya enteng.

"Maaf, Tuan! Tapi ini bukan hanya dongeng! Melainkan ini kenyataan yang harus Anda percayai, Tuan!" tukasku berusaha untuk sabar.

"Haha kau itu sangat lucu, Sara? sungguh kenyataan dunia anak kecil haha!" balas pemuda itu masih bertahan dengan gelak tawanya.

"Apa Anda tak percaya?" dia menggeleng cepat seraya meneruskan gelak tawanya, "Baiklah akan kubuktikan!" tanganku terangkat, mengacungkan jemari telunjukku, mencoba mengalirkan sihir di tanganku. Aku mengayunkan jemariku ke arahnya, pemuda itu bergidik. Di detik berikutnya, tawanya kembali menggelegar.

Aku menarik jemariku kembali, mengamatinya seksama, "Mengapa tidak bisa? Apa yang salah?" desahku bingung.

"Hahaha kurasa otak anda yang salah, Nona!" cibirnya, balik badan. Memunggungiku hendak pergi.

"Tunggu sebentar! Akan saya tunjukkan sihir Ryūmyaku," ucapku seraya merentangkan tangan.

"Sudahlah tak usah repot-repot!" jawabnya enteng, balik kanan lantas menunjuk dahiku dengan dua jemarinya, "Kau hanya membuang-buang waktuku saja!" lanjutnya, kini ia jadi pergi.

Aku masih terperangah, bagaimana bisa sihirku menghilang dalam waktu sesingkat itu? Apa yang terjadi sebenarnya?

Sebersit bayangan kembali terlintas. Reflek aku menjentikan tangan. Kristal bulan telah di curi dari singgasana kuil suci. Mungkin inilah efeknya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku membutuhkan pemuda itu.

Lantas bagaimana aku meyakinkan pemuda itu? Aku sangat yakin bahwa dialah Keturunan suku kaze itu. Aura biru menyelimutinya. Namun, masih temaram. Aura kami juga sempat saling tarik menarik walau masih lemah. Juga lencana itu! Aku yakin itu adalah lencana bulan, kunci kuil suci Rōran.

Langkahku terus beranjak melacak keberadaan dari Sang Penjaga Kuil Suci itu. Tak butuh waktu lama, aku berhasil menemukannya. Aku terus mengikutinya dalam tahu dan ketidaktahuannya. Akhirnya masa penguntitan itu harus terbongkar.

"Hei, kenapa kau mengikutiku?" seru pemuda bersurai mentari itu.

"Karena saya butuh bantuan Anda!" jawabku enteng.

"Bantuan apa? Kau itu gadis yang gila serta gaya bahasamu yang terlalu formal itu sangat kurang nyaman menurutku!" hei, mengapa dia malah mengkritikku?

"Saya meminta Anda untuk menolong saya! Bukan mengkritik gaya bahasa saya!" dengusku.

"Ah terserah kau sajalah!" erangnya, ia kembali menyambung langkah. Lantas aku pun membuntutinya. Namun, tiba-tiba ia berhenti.

"Dan jangan mengikutiku lagi!" gertaknya kembali melangkah. Namun, aku tak mengindahkan ancamannya itu. Bagiku prioritas utamaku sekarang adalah mendapatkan bantuannya. Hanya itu saja.

Pemuda beraksen durian itu merasa kurang nyaman, ia mempercepat langkahnya. Aku pun sama. Semakin lama langkahnya semakin cepat. Aku pun tak kalah cepat. Diambilnya lari sekencang-kencangnya. Aku pun menghentikan langkah. Mengapa dia lari dariku? Memang aku ini hantu? Gumamku dengan guratan menghiasi dahiku.

xxx

Rasa lega menghiasi wajahnya. Ia pulang dengan tenang. Dihempaskannya badan tegap itu di atas tumpukan satuan kapas yang sangat nyaman. Mengantarkannya ke alam bawah sadar dengan senyum tipis tersulam tulus. Tentu aku masih belum melepaskannya. Aku terkekeh pelan, mengamati gaya tidur pemuda keras kepala itu.

xxx

Seberkas cahaya kehidupan menyelinap masuk dari celah-celah kamar. Seorang pemuda bersurai surya baru saja terbangun dari alam mimpi. Ia menguap, melemaskan otot-ototnya yang sempat capai. Hening sejenak, ia mengerjapkan maniknya beberapa kali demi mengembalikan kesadarannya yang tak sepenuhnya sadar. Jemari kekarnya meraih jam weaker di samping meja tempat tidurnya. Sepasang manik blue-sky terbelak lebar mendapati angka yang tak diharapkan.

"Aku terlambat lagi!" teriaknya panik seraya bergegas dari tempat tidur. Mandi ala duck style menjadi pilihannya, hanya dalam 10 menit dia telah usai dengan persiapannya. Dia berlari mengejar waktu. Walau sekolahnya terbilang dekat dengan apatementnya. Namun tetap saja keterlambatan telah mendarah daging baginya.

Dan benar saja, pintu gerbang telah tertutup rapat-rapat. Pemuda itu mengumpat gerbang sekolah itu tak henti-hentinya dengan sesekali menendang pintu gerbang sekolah itu.

Sebersit ide terlintas, tanpa pikir panjang ia langsung memanjat gerbang sekolah itu.

"Apa anda butuh bantuan, Tuan?" tawarku.

"Tidak terimakasih" jawabnya enteng tanpa menoleh ataupun melirikku. Dia masih sibuk memanjat gerbang itu.

"Jangan dipanjat cukup didorong saja, Tuan!" ucapku enteng. Jemari telunjukku mengayun seketika gerbang itu terbuka, membawa pemuda itu terombang ambing di atas puncak gerbang.

"Hei, apa-apaan ini? Hentikan!" teriaknya panik, aku terkekeh pelan, "Dan bagaimana cara kuturun?" wajahnya kian pucat. Aku kembali terkekeh, lantas mengayunkan kembali jemari telunjukku. Membuatnya jatuh terjungkal.

Tsuzuku...

mind to review?

_ Nami-Aika71 _
Jum'at, 2 Desember 2016