Uchiha Sai dan Uchiha Sasuke. Dua kakak beradik dengan sifat yang hampir mirip. Bukan hanya sifat, bahkan wajah mereka juga bisa dibilang sebelas duabelas. Dan yang paling menarik, mereka juga menyukai gadis yang sama.
Harusnya bukan masalah kalau gadis yang mereka sukai itu adalah gadis cantik berusia lima belas tahun dan masih kelas satu SMA, karena Uchiha Sai adalah pemuda kelas tiga SMA.
Tapi, masalahnya adalah, Sasuke yang notabene adik dari Sai. Dia masih kelas lima SD, bagaimana mungkin dia menyukai Sakura yang usianya lima tahun diatasnya?
A NARUTO FICT
BY MARI-CHAN
Because of You
SasuSakuSai fictlet
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Uchiha Sasuke & Haruno Sakura & Sai
Genre: romance & humor & terserah reader(?)
Warning: OOC, AU, typo kalau ada *sombong* dan cerita terserah Author
DON'T LIKE DON'T READ
Chapter 3
Sabtu sore.
Kamar bernuansa pink dan putih itu terlihat sedikit berbeda, berantakan dan acak-acakan karena sang pemilik kamar terlihat hanya berguling-guling ria tanpa membereskan barang-barangnya sepulang sekolah tadi.
Laptop yang masih menyala, buku diary yang terbuka isinya juga tas berwarna hitam yang masih tergeletak di atas meja belajarnya. Benar-benar tidak patut dicontoh.
"Besok hari minggu… haaah… waktunya bersantai," ucap sang pemilik kamar dengan nada datar seraya merenggangkan otot-ototnya.
Bruk!
Gadis cantik berambut bubblegum itupun menjatuhkan diri di kasur empuknya dan mulai mencoba memejamkan mata.
"Sakura-chaaan!"
Sebuah teriakan super yang baru saja terdengar sedikit banyak mengganggu acara mencoba-tidur-yang akan dilakukan oleh Sakura.
"Aduh, berisik sekali sih, mengganggu acaraku saja," gerutuan pelan mulai keluar dari bibir tipis gadis cherry itu. mata emerald-nya bergerak tak beraturan karena panggilan super dari sang ibu.
"Sakura-chaaan… kau dengar Kaasan atau tidak, hah!"
"Hhh," menghela nafas panjang, akhirnya Sakura pun bangkit dari tidur—guling-guling—nya dan berjalan memenuhi panggilan ibu tercinta. Entahlah, apa lagi yang akan dia dengar dari kecerewetan super sang Haruno Mebuki.
"Ha'i, ada apa, Kaasan?" Tanya Sakura sesaat setelah berhasil menemui sang ibu di ruang keluarga. Terlihat sang penguasa rumah tengah duduk di sofa coklat dan sedang menonton tayangan di televisi.
"Duduk sini," ucap Mebuki kepada anak tunggalnya itu. dan tanpa menjawab lagi, Sakura segera memposisikan duduknya di sebelah sang ibu.
xxXXxx
"Hah, Gaara?" teriak Sakura saat mendengar penuturan sang ibu tersayang, bahwa sepupu berambut merahnya itu akan datang berkunjung dan dia—Haruno Sakura—diminta menemani sang sepupu tercintanya itu jalan-jalan.
Yang benar saja. Akan ada banyak masalah kalau dia berkeliling dengan pemuda insomnia tapi tampan itu. bayangkan, akan ada berapa banyak gadis yang pingsan saat melihat tatapan mata jade-nya. ok, kau berlebihan Sakura.
"Iya, kau tahu sendiri, Gaara sudah lama tidak ke sini, dia bilang ingin berkeliling kota Konoha dengan Sakura-chan, bisa 'kan Sakura-chan menemaninya, Sakura-chan anak ibu yang manis," bujuk Mebuki lagi berharap sang putri tunggal mau mengabulkan permintaannya.
'Kalau ada maunya saja memujiku,' Batin Sakura. Akhirnya, dengan satu tarikan nafas dan helaan nafas panjang, Sakura menyetujui permintaan sang ibu untuk setidaknya menemani sepupu bertato 'Ai' nya itu jalan-jalan.
Tidak ada salahnya 'kan? Lagipula, sang pemuda yang sifatnya mirip dengan duo Uchiha depan rumahnya itu akan mentraktirnya. Itu pasti. Haha. Dalam hati sang gadis yang masih duduk di bangku SMA itu tertawa nista.
Dasar lintah darat.
xxXXxx
"Oy, Teme! Kenapa kau cemberut begitu? Kau tidak seperti Teme yang ku kenal," sang Uzumaki muda bernama Naruto menepuk pundak sang sahabat yang terlihat sedikit berbeda siang ini. Bahkan, sejak tadi, pemuda bermata onyx itu sangat tidak berminat main bola. Dia malah terlihat sering melontarkan umpatan-umpatan pelan.
'Apakah dia bertengkar dengan Sai-niisan?' batin Naruto sok tahu.
'Memangnya yang biasanya dia kenal itu yang seperti apa?'Batin Shikamaru seraya menatap bosan pada kedua sahabatnya yang berbeda tipe itu.
Sang Uchiha bungsu tidak menghiraukan sama sekali (sok) perhatian yang diberikan oleh sahabat pirangnya. Pikirannya kembali melayang ke kejadian kemarin. Kejadian yang benar-benar membuat sang pemuda kecil tapi tampan itu diselimuti ehem—kegalauan yang luar biasa.
"Kuso!" umpat Sasuke saat mengingat kejadian menyebalkan itu lagi.
Naruto dan Shikamaru yang menyaksikan dengan mata mereka masing-masing bagaimana frustasinya sang Uchiha jenius itu hanya bisa sweatdrop dan membatin 'dia ini kenapa?'
Oh, boys… sahabat kalian butuh pertolongan.
xxXXxx
Sementara itu, di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, terjadi juga hal yang setidaknya mirip dengan kejadian di lapangan bola yang baru saja terlihat.
"Sai-kun, menurutmu gambarku bagus tidak?"
Sai hanya mengangguk pelan saat gadis pirang di sampingnya memperlihatkan sebuah gambar anak bebek—yang sebenarnya tidak ada bagus-bagusnya sama sekali itu.
Entahlah, saat ini dirinya sedang malas memberikan kritik pedas pada apapun dan pada siapapun. Bayangan gadis manis berambut sewarna bunga sakura yang merupakan tetangganya itu kembali menghantuinya. Apalagi kejadian kemarin itu kembali terlintas di pikirannya.
"Kuso!" sudah dua Uchiha yang mengumpat hari ini.
Ino—gadis yang berada tepat di sebelah Sai duduk itu sedikit menaikkan alisnya saat mendengar pemuda yang ia cintai mengeluarkan umpatan pelan.
"Sai-kun, ada apa? Apa kau ada masalah?" Tanya gadis bermata aquamarine lagi.
"Tidak, tidak ada apa-apa, gambarmu sudah selesai 'kan? Sebaiknya kita pulang. Aku sedang tidak berminat kemanapun," kata pemuda bermarga Uchiha itu dengan nada pelan dan tidak semangat.
'Sai-kun?'
xxXXxx
Uchiha Sai memasuki kediamannya dengan wajah yang sangat kusut, mood nya seharian—atau lebih tepatnya dari kemarin—sedang tidak baik.
"Kau sudah pulang, bagaimana kencan dengan Yamanaka-san?"
Sai sepenuhnya mengabaikan ucapan yang baru saja terdengar. Namun, dia menyempatkan diri menoleh ke seseorang yang mengucapkan kalimat tadi.
"Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak kencan dengan Ino-san, dan berhenti mengganggu urusanku, Baka Aniki," ucapnya dengan nada datar seraya melanjutkan langkahnya menuju kamar tercinta.
"Khukhukhu," tawa misterius dari sang sulung Uchiha mengiringi gerutuan lain yang sepertinya dikeluarkan oleh pemuda murah senyum itu.
Brak!
Uchiha Itachi hampir saja melompat dari kursinya saat mendengar suara bantingan pintu. Untungnya dia tidak memiliki penyakit latah.
Mata onyx milik sang calon dokter itu melebar saat melihat sang otouto-lah yang ternyata menggebrak pintu dan hampir saja membuatnya jantungan.
"Sasuke?" ucapnya yang malah terdengar seperti sebuah pertanyaan.
"Hn, Aniki," jawab Sasuke dengan wajah datarnya seperti biasa. Namun, tetap saja terlihat, wajah pemuda berusia sepuluh tahun itu yang tak jauh berbeda dengan orang yang tadi memasuki rumah.
"Kau baik-baik saja, sepertinya kondisimu tidak baik," Tanya Itachi seraya berjalan ke arah pemuda berambut raven yang masih mematung di tengah ruang keluarga.
"Hn," respon pelan, singkat dan tidak jelas berhasil dikeluarkan oleh Sasuke.
"Oy," panggil Itachi saat sang otouto malah melenggang meninggalkannya dan berjalan menuju kamarnya.
"Ada apa dengan mereka berdua?" tanya Itachi entah pada siapa. Sang sulung Uchiha benar-benar tidak bisa menebak apa yang sudah membuat kedua adiknya berubah menjadi err—yah, seperti itu.
xxXXxx
"Aku berangkat," Sakura melangkahkan kaki-kaki jenjangnya meninggalkan rumah tercinta dan menuju sekolah. Raut wajahnya tidak berubah sama sekali, tetap suram seperti biasa. Menyebalkan sekali. Entah apa yang membuat mood gadis cantik ini buruk di pagi hari yang terbilang cerah.
"Hn."
"Eh! Sasuke-kun?" langkah Sakura terhenti tepat di depan gerbang rumahnya saat mendapati tetangga depan rumahnya sudah berdiri di sana.
"Selamat pagi, Sasuke-kun, hm~" sapa Sakura ramah dan tak lupa senyum manisnya. Namun, sepertinya itu belum bisa merubah ekspresi pemuda emo di depannya.
"Sasu-kun sakit?" Tanya Sakura lagi. Dan jawaban yang ia dapatkan adalah gelengan kepala dari sang bungsu Uchiha.
"Belum sarapan?"
"Dia sudah sarapan, porsinya malah bertambah banyak dari biasanya."
Sakura menolehkan kepalanya saat mendengar suara seseorang menjawab pertanyaannya. Mata emerald-nya sedikit memicing saat melihat sang sahabat pecinta lukis itu berjalan ke arahnya dan Sasuke.
"Sai?" gumam Sakura.
"Dia biasanya makan dua buah tomat setiap pagi, tapi tadi pagi dia memakan empat. Dia pasti akan cepat gemuk," kata Sai lagi, kali ini dengan senyum meremehkan yang ia tujukan pada adiknya.
"Benarkah? Sasuke-kun?" tanya Sakura agak sedikit takjub, bagaimana bisa, pemuda kelas lima SD itu bisa makan empat buah tomat dalam sekali makan. Kalau dia pasti sudah muntah duluan hanya dengan mencium bau sang tomat.
"Hn, bukan urusanmu, Aniki," kata Sasuke.
"Haha, bilang saja kau galau," Ucapan pemuda berambut eboni yang menjabat sebagai kakaknya itu mau tidak mau membuat Sasuke terbelalak. Galau, apa itu galau. Uchiha tidak pernah galau.
"Bukan urusanmu," Sasuke berusaha tidak termakan rayuan setan dari kakak tercintanya dengan melanjutkan langkah kecilnya tepat di samping Sakura.
"Kalian berdua aneh sekali, ada masalah apa? Ayo ceritakan!" ucapan Sakura itu segera disambut tatapan dua pasang mata onyx dari kedua pemuda di sampingnya.
"Harusnya kami yang bertanya, Sakura, siapa pemuda itu?"
Ah, akhirnya terucap juga. Lupakan gengsi Uchiha. Ini soal perasaan! Tekad Sai dalam hati yang ternyata sangat Out Of Character.
Sakura menaikkan alis merah mudanya menatap sahabat berkulit pucatnya yang baru saja bersuara.
"Iya, siapa dia?"
Kali ini mata hijau cerah milikgadis musim semi itu bergulir menatap pemuda berambut raven yang sedikit—hanya sedikit—lebih pendek darinya.
"Maksud kalian, Gaara?"
xxXXxx
Dan ingatan Sakura akhirnya dipaksa mengingat kembali kejadian paling menyebalkan dalam hidupnya. Lebih tepatnya, hari minggu kemarin.
Flashback On
"Kyaaa… Keren… dia keren sekali!"
"Tampan…"
"Kawai~"
"Aku mau jadi pacarnya~"
"Eh, tapi lihat, dia bersama seorang gadis."
"Iya, sayang sekali…"
"Dan lebih sayang lagi, pemuda tampan itu sangat tidak serasi dengan gadis di depannya."
Haruno Sakura sedang berusaha menulikan pendengarannya saat ini. Bagaimana tidak, setiap jalan yang ia lalui bersama pemuda di depannya, selalu dipenuhi teriakan serupa. Entah itu, kawai lah, keren lah, sexy lah. Dan yang lebih parah, tidak cocok dengannya. Hei, pemuda ini bukan pacarku.
Bahkan dia berani bersumpah, saat berjalan dengan Sai atau Sasuke, teriakan mereka tidak segila ini.
"Hn, kau kenapa, Sakura?"
Jiiiit!
Mata sewarna dedaunan milik Sakura langsung bertemu pandang dengan jade milik pemuda yang baru saja bersuara. Tapi, sedetik kemudian, Sakura lah yang lebih dulu mengalihkan pandangan.
'Hah, Kami-sama, dia sangat tidak peka. Gara-gara dia aku seperti ini, dasar sepupu tidak berperasaan' batin Sakura heboh.
"Kau baik-baik saja, apa es krimnya tidak enak?"
Sakura segera menggelengkan kepalanya saat mendengar nada bicara pemuda berambut merah di depannya. Ayolah Sakura, kau tahu sendiri, Gaara itu pemuda paling tidak peka di dunia ini.
Gaara kembali asik memakan es krim coklatnya saat melihat gelengan kepala pink milik sepupunya, dia bahkan tidak menyadari raut wajah Sakura yang kembali masam.
Great! Kau terjebak dengan pemuda tampan tapi tidak sadar akan ketampanannya. Andai saja yang berada di depannya ini adalah Sai, pasti pemuda murah senyum itu sudah babak belur dihajar sang ketua karate.
"Hn, para gadis di sini selalu bersemangat begitu yah, apa karena ada artis yang datang?" ucap Gaara lagi setelah memasukkan sesendok es krim coklat ke mulutnya. Mata hijaunya sekilas melirik para pengunjung mall lain yang kebanyakan berwajah merah. Kenapa mereka ini?
Sakura mengepalkan tangannya guna menahan amarahnya yang bisa meledak kapan saja karena ketidakpekaan pemuda bertato 'Ai' di depannya.
"Sudah cukup! Kita pulang!"
Sret!
"Eh?" Sabaku Gaara hanya bisa menuruti kemauan sepupu tersayang yang seenak jidat menarik-narik tangannya keluar dari pusat perbelanjaan di kota Konoha.
'sudah cukup, aku tidak mau lagi jalan-jalan dengan pemuda tidak peka macam Gaara, lebih baik aku tidur di kamar atau berlatih karate sepuasnya'
Sakura masih saja menarik tangan Gaara hingga menimbulkan tatapan heran dari pengunjung. Mungkin banyak orang yang mengira mereka pacaran, lihat saja, sang gadis manis itu terlihat err—mesra menarik tangan pemuda tampan yang hanya menuruti kemauannya.
Kasihan sekali pemuda tampan itu.
"Hn."
"Ayo ikuti mereka."
Dan tanpa Sakura sadari, dia sedang diikuti oleh dua orang berpakaian aneh dengan topi dan kacamata aneh pula.
Flashback off
xxXXxx
Sakura masih terbengong dengan mulut menganga saat mengingat kembali kejadian menyebalkannya dengan sang sepupu kalau saja ia tidak mendengar sebuah—
"Selamat pagi, Sakura."
Jiiiit!
—Sapaan.
Dua pasang onyx dan sepasang emerald itu terbelalak saat menatap siapa yang baru saja bersuara.
Rambut merah. Tato 'Ai'. Senyum sok keren, sok cool. Dasar pemuda menyebalkan. Batin kedua Uchiha tampan itu yang sangat-sangat kompak.
"Gaara?" gumam Sakura saat melihat sepupunya itu berjalan pelan ke arahnya.
"Mau apa kau, Panda?" kata Sai dengan senyuman seperti biasa.
Uchiha Sasuke menyeringai. Kakaknya yang memang tidak bisa menjaga tutur kata itu berguna juga. Panda? Bukan panggilan yang buruk. Dalam hati, Sasuke menyeringai setan.
"Sai, kau tidak sopan sekali, namanya Sabaku Gaara," protes keras segera di lontarkan oleh Sakura saat mendengar sepupunya disamakan dengan panda? Panda? Yang benar saja?
"Hn, biar saja Sakura. Lagipula, aku ada urusan dengan kedua orang ini," jawab Gaara santai seraya melemparkan tatapan penuh selidik pada kedua Uchiha tampan di depannya.
"Hn, kau? Ada urusan apa dengan kami?" tantang Sasuke kecil. Mata hitamnya menatap mata hijau pucat Gaara penuh intimidasi.
"Anak kecil," gumam pemuda bermarga Sabaku itu saat memperhatikan sekilas penampilan Sasuke.
"Apa katamu?" geram Sasuke marah, pemuda di depannya ini memang menyebalkan, jangan bilang kalau dia juga menyukai Sakura. Hell, langkahi dulu mayat Akamaru.
"Kemarin, kalian 'kan yang mengikutiku dengan Sakura di mall, kalian pikir aku tidak tahu?" ucap pemuda berusia tujuh belas tahun itu lagi, kali ini ditambah seringai yang bisa membuat semua gadis pingsan berjama'ah. "Kenapa kalian mengikuti kami kemarin?"
Mata besar milik Sakura semakin membesar saat mendengar ucapan sepupu tampannya. Kali ini, tatapan menyelidik pun dilayangkan sang gadis berambut pink kepada kedua Uchiha berwajah tampan di depannya.
"Kalian—"
"Hah, bodoh, memangnya untuk apa kami mengikuti kalian? Tidak penting sekali," jawab Sai dengan nada datar dan langsung disambut anggukan kepala ayam milik Sasuke.
"Benarkah?" Tanya Gaara lagi.
"Sebenarnya ada apa sih?" teriak Sakura frustasi, sudah cukup dirinya yang tidak tahu apa-apa ini menjadi semakin bodoh di depan ketiga pemuda jenius itu.
"Gadis bodoh seperti dia, ambil saja, aku tidak peduli," ucap Sai lagi.
"Hn," gumam Gaara pelan. Sekilas, mata hijaunya melirik Sakura yang kelihatan shock, apa karena pemuda pucat ini? Batin pemuda tanpa alis itu.
"Aku berangkat dulu, ada janji dengan Yamato-sensei."
Ucapan datar dan pelan dari satu-satunya gadis diantara mereka mau tak mau membuat ketiga kepala menoleh, dan yang mereka dapatkan, Sakura sudah berlalu meninggalkan mereka bertiga.
'Sakura.'
xxXXxx
"Baka Aniki! Awas saja kalau kau tidak minta maaf pada Sakura."
Kalimat itulah yang selalu terngiang di telinga pemuda pemegang gelar ketua OSIS di Konoha High School. Kejadian tadi pagi di depan rumah Sakura benar-benar membuatnya menjadi pemuda paling bodoh di dunia.
"Cih, Kuso!" umpatnya lagi.
Flashback on
"Sakura," gumam Gaara pelan saat melihat sepupu cantiknya sudah berlalu meninggalkan mereka bertiga. Dan sedetik kemudian, mata hijaunya menatap penuh ke arah pemuda yang tadi memanggilnya 'panda'.
"Apa?" Tanya Sai saat mendapatkan tatapan maut a la Sabaku.
"…"
Alis hitam Sai terangkat saat pemuda bertato di depannya hanya menatapnya tanpa berkedip. Maaf saja yah, aku tidak akan tertarik dengan cowok. Batin Sai nista.
"Kau menyukai, Sakura."
Checkmate!
"…"
Sai membeku saat mendengar kalimat pemuda berambut merah darah tanpa alis itu. apa yang harus ia jawab? Atau, perlukah dijawab? Tadi bukan pertanyaan, itu sebuah err—kalimat apa tadi?
"Kalau diam berarti iya," ucap Gaara seenaknya yang langsung dijawab Sasuke dengan tatapan sadis a la Uchiha yang seolah mengatakan jangan-bicara-seenaknya-panda-jelek.
"Oh, kau juga menyukai Sakura? Lucu sekali. Hn, ternyata Sakura disukai dua Uchiha," lanjut Gaara lagi tanpa sedikitpun terpengaruh tatapan maut pemuda berusia sepuluh tahun.
Jleb!
Kedua Uchiha berwajah tampan itu terdiam. Bukan bingung memikirkan ucapan Gaara—karena itu memang kenyataan. Yang mereka bingungkan adalah, kenapa pemuda ini malah mengatakan hal seperti itu, padahal kemarin minggu dia kencan dengan Sakura. Ada ap—
"Aku ini sepupu Sakura."
"…"
"…"
"Kalian terlalu shock, oh, gomen kalau kalian tidak pernah melihatku, aku jarang menemui Sakura ke Konoha, dia yang sering berkunjung ke Suna. Terakhir aku ke sini saat aku masih sangat kecil, jadi wajar kalau kalian tidak mengenalku, oh dan satu lagi, aku tidak menyukai sepupuku sendiri, Uchiha."
"…"
Sai mematung. Sang Uchiha terlalu dibakar cemburu sehingga ia melupakan kenyataan yang sangat nyata dari gadis musim semi itu. dia 'kan sangat tomboy dan tidak peka, bagaimana dia bisa kencan dengan pemuda tampan ini?
Ho, kau baru saja mengakui kalau Gaara itu tampan, Tuan.
"Jadi? Kau."
Jari telunjuk Gaara yang panjang tepat mengarah ke hidung pemuda pucat berambut eboni yang kali ini memundurkan sedikit wajahnya dari jari Gaara. Kedua pemuda berbeda warna mata itu terdiam dalam posisi mereka sampai akhirnya—
"Kau, minta maaf pada Sakura, dia pasti sedih mendengar ucapanmu yang mengatainya bodoh, walau kenyataannya dia memang bodoh, tapi, tidak seharusnya kau mengatakan hal itu."
Sai sudah tidak bisa berkutik, ck, kalimat itu memang tak seharusnya meluncur dari bibir calon pelukis ini, sekali lagi, itu semua karena cemburu. Hn, cara Uchiha cemburu memang sangat merepotkan.
"Baka Aniki, kali ini aku setuju dengan si panda," kata Sasuke yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang 'panda' itu sendiri, "Baka aniki, awas saja kalau kau tidak minta maaf pada Sakura."
Flashback off
xxXXxx
OK. Mudah saja, Sai. Yang harus kau lakukan hanyalah datangi dia dan minta maaf sudah menyebutnya bodoh, walaupun—kata Gaara—itu memang kenyataan.
Tapi, bagaimana? Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sebelumnya, dia memang sering bertengkar dengan Sakura karena alasan sepele, tapi kenapa yang ini sangat susah?
"Sai."
Deg!
Kembali. Untuk ketiga kalinya di hari ini, Sai mematung. Suara tadi? Itu suara tetangga depan rumahnya yang merangkap sebagai sahabat dan orang yang dicintainya. Gawat.
"Sedang apa di sini? Ada urusan dengan Kiba, yah?" Tanya Sakura dengan nada yang—biasa saja. Biasa saja? Hei—
"…"
Sakura masih berdiri di depan sahabat Uchihanya yang kali ini menatapnya dengan tatapan yang, err—
"Sai? Kau sakit?" Tanya gadis yang masih mengenakan baju karatenya itu. dan yang ia dapatkan kembali hanya tatapan intens dari sang onyx.
"Baiklah, kalau kau tidak mau bicara, aku mau kembali ke ke—"
"Gomen."
"—las. Eh? Nani?"
"Soal kejadian tadi pagi aku minta maaf," ucap Sai lagi dengan satu tarikan nafas yang seketika membuat sang emerald melebar.
"Maaf untuk apa? Kejadian tadi pagi? Memangnya kejadian tadi pagi kenapa?"
Hening
Demi Uchiha Sasuke yang sangat menyebalkan itu, Sai berani bersumpah, gadis di depannya ini memang sangat—hah, sudahlah.
"Kau tidak tahu? Lalu kenapa kau langsung pergi sesaat setelah aku mengatakan hal itu, hah!" bentak Sai frustasi. Namun lagi-lagi hanya tatapan polos yang ia dapat dari gadis musim semi di depannya.
"Kau mengatakan sesuatu, oh, masalah panda itu, sudahlah, Gaara memang mirip panda, aku tidak marah kok," jawab Sakura enteng, seolah jawabannya itu bisa mengangkat rasa geregetan yang saat ini menyerang pemuda pucat.
Sai hanya bisa menganga menatap kepolosan atau kebodohan gadis di depannya. Kenapa dia ini sangat bodoh sih. Dan kenapa aku bisa jatuh cinta pada gadis super bodoh macam dia. Batin Sai yang kembali OOC.
"Hm, sudah 'kan? Aku tidak marah, jangan berwajah cemberut begitu, nanti Ino-san tidak suka lagi padamu loh," kekehan pelan menggema setelah Sakura mengutarakan kalimatnya.
"Aku belum selesai bicara, Sakura," cegah Sai saat melihat gelagat gadis lima belas tahun itu yang akan melangkah pergi.
"Nani?"
"Lalu kenapa kau langsung pergi tadi, setelah aku er—mengatakan 'itu'?" tanya pemuda tujuh belas tahun itu lagi.
Sakura terdiam dan kembali mengulang kejadian tadi pagi dengan kapasitas otaknya yang memang di bawah rata-rata orang normal lainnya.
"Aku ada janji dengan Yamato-sensei untuk latihan karate, aku sudah bilang begitu 'kan? Kenapa lagi?"
Jleb!
Ok. Lupakan! Lupakan! Jadi untuk apa dia susah-susah memikirkan rencana minta maaf pada Sakura sementara Sakura sendiri sama sekali tidak menganggap pernyataannya tadi pagi adalah kesalahan.
Uchiha benar-benar bisa turun derajat gara-gara berurusan dengan Haruno satu ini.
"Ggggrrrrhhhh," geram Sai menahan amarahnya yang siap meledak kapan saja.
"Oh, dan soal jalan-jalan dengan Gaara, gomen tidak memberitahumu, itu hasil paksaan dari Kaasan, hehe… ya sudah, aku ke kelas dulu, jyaa… ne…" ucap Sakura seraya berlari meninggalkan sahabat Uchihanya yang masih berdiri mematung dengan nyawa yang sudah melayang setengah.
"Apa salahku?" Tanya Sai entah pada siapa.
xxXXxx
"Baka," Uchiha Sasuke menyeringai miring saat membaca pesan singkat dari Sakura yang masuk ke ponsel hitamnya.
From: Sakura-Cherry
To: Uchiha Sasuke
'Sasuke-kun, sebenarnya apa yang terjadi pada Sai tadi pagi, tiba-tiba dia minta maaf padaku, memangnya dia salah apa?'
"Hn, rasakan kau baka aniki," ucap Sasuke pelan, dia bahkan sudah bisa membayangkan bagaimana jalannya interaksi antara sang aniki dan Sakura. Andai saja ia berada di sana, dia pasti tidak akan kuat menahan tawanya melihat wajah polos Sakura berhadapan dengan wajah tegang aniki-nya yang berusaha meminta maaf itu.
"Teme, ayo makan," teriakan Naruto yang lebih cempreng daripada para fansgirlnya itu sedikit membuat bungsu Uchiha tersentak, namun ekspresinya kembali seperti semula, dirinya segera mamasukkan ponsel hitamnya ke dalam tas sesaat setelah mengetik balasan untuk uhuk—calon gadisnya.
To: Sakura-Cherry
From: Uchiha Sasuke
'Hn, biarkan saja si baka aniki itu, oh iya, titp salam untuk si panda'.
Chapter 3 End
Chapter 3 selesai… akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaa #nangisdipelukanLaw
Yohoho… gomen banget kalau ngaret updatenya… yah, maklumilah keadaan Mari-chan yah *bungkuk-bungkuk*
Osu! Daripada kelamaan. Ini balasan review bagi yang gak login di chap dua kemarin. Hihi…
Sakumori Haruna: hehe… makasih udah review yak, hoho… moga-moga Sasu dapetin Saku #dor
Nanako: that's right, love is blind. Hihi.. ini udah lanjut.. makasih…
Shui getsue: makasih Sigit… hihi… tumben kau memuji tulisanku, biasanya pasti kau menjelekkannya *ceritanya lagi ngambek*
Guest: makasih yah, gomen kalau OOC, Mari-chan kalau buat cerita mesti OOC #pundungngepangsapu. Tapi, makasih dukungannya. Ini udah update :3
Mako-chan: haha, Ino-san… hmm… itu mah deritanya Sai yang disukai ama Ino. Hahaha..
Osu! Sudah semuanyaaa… yang login, Mari-chan bales lewat PM yak? Hihi…
Pokoknya, makasih buat semuanya yang udah nyempetin Review, Fave and follow cerita gajeku ini, hiksu, terharu max…
See you on the next chapter…
