Manusia itu lucu.

Mereka bergetar ketika kedinginan, dan mengusap mata ketika lelah. Mereka tidak bisa melihat saat gelap, menekan benda kecil di dinding yang menciptakan matahari kecil di ruangan. Manusia juga suka berpelukan, mengikat satu sama lain dengan lengan mereka. Memekik senang, berlarian berganti peluk rindu setelah sekian lama tak bertemu di bandara. Berdekap di bawah selimut untuk mencari kehangatan. Pergi kemana-mana dengan benda besi beroda. Saat langit malam tidak berawan, manusia suka melihat ke atas, menunjuk ke arah milyaran bintang dan berbayang untuk pergi berpetualang ke tempat-tempat baru, yang masih liar dan indah.

Bel kecil di rumah mereka akan berbunyi bila ada yang berkunjung. Mereka menghirup aroma bunga yang dibawakan kekasih dan menekan bibir satu sama lain untuk menunjukkan cinta. Mengucapkan salam dengan saling memegang tangan. Mereka suka melihat benda elektronik berbentuk petak yang mereka bawa kemana-mana. Mendengarkan sekumpulan melodi melalui benda berkabel di telinga untuk hiburan.

Manusia itu lucu.

Mereka begitu unik dan cerdas, begitu berbeda dari segala makhluk hidup. Begitu bangga atas keberadaan mereka. Merasa sangat penting dan berkuasa atas segala hal di sekitarnya. Pada akhirnya, mereka hanyalah segerombol kehidupan kecil yang beraktifitas di atas sebongkah batu melayang di angkasa, sebuah planet yang mereka sebut bumi. Makhluk-makhluk kecil yang jatuh cinta dan tertidur di bawah langit berbintang.

Sangat unik dan menarik, manusia itu.

Tapi, hidup manusia, dikendalikan oleh kertas.

Kertas berwarna di dalam dompet mereka. Buncahan tulisan rumit yang mereka kerubungi tiap harinya, folder-folder berisi sertifikat dan dokumen-dokumen kerja.

Manusia-manusia kecil berkumpul tiap pagi hingga siang di sebuah gedung bernama 'sekolah', mulai dari usia dimana mereka belum fasih membaca. Selama belasan tahun. Hingga kepala mereka terisi penuh dengan berbagai informasi, yang kebanyakan tidak akan terpakai di kehidupan dewasa nantinya.

Apa yang mereka dapatkan setelah bersekolah seumur hidupnya, tanyamu?

Dalam hal material, mereka mendapatkan lembaran kertas, yaitu ijazah.

Kebanyakan manusia muda, merasa kesulitan menentukan apa yang akan mereka lakukan setelah kelulusan dari sekolah. Ada yang melanjutkan edukasi, lagi, untuk beberapa tahun, disebut kuliah, di 'universitas' , 'kampus'. Ada yang berhenti bersekolah. Ada yang bekerja sambil beredukasi.

Tapi, banyak yang kebingungan. Bingung dengan berbagai hal. Segala hal.

Tertekan.

Tidak terkecuali seorang manusia muda yang cukup berbeda dari yang lain, seorang Boboiboy Gempa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Presented to you,

By IceFlowerGirl

.

.

.

Demons

.

.

.

Disclaimer: Boboiboy milik Animonsta

.

.

.

Warning(s): slight depression / mental breakdown

DLDR.

.

.

.

.

.

.

.

.

3

.

.

.

2 tahun kemudian

Manik karamel bergulir untuk kesekian kalinya, meneliti hasil ketikan di atas kertas, hitam di atas putih, dengan pikiran melayang.

Tertulis angka-angka dan huruf-huruf. Tanda tangan dan berbagai macam yang terlihat penting.

Hasil usaha tiga tahun.

Gempa sudah lulus SMA.

Sekarang usianya sudah delapan belas tahun.

Ia tidak perlu terburu-buru di pagi hari untuk pergi ke sekolah lagi. Ia tidak perlu lagi khawatir tertidur di kelas. Tidak ada lagi uang sekolah, berandalan yang mengganggunya, ataupun tugas-tugas penyita konsentrasi di saat ia kerja sambilan.

Tidak ada lagi.

Ia sudah lulus.

Ijazah yang ia teliti semenjak tadi tidak bergeming, balik menatap seolah bertanya, "sekarang apa?"

Apa? Apanya?

Tentang kelulusan ini, apa sih bedanya dengan enam bulan yang lalu saat ia masih di bangku sekolah?

Yah, mungkin waktu tidur lebih panjang. Tapi bukan itu masalah utama Gempa sekarang.

Memang tidak perlu dipertanyakan lagi, Gempa sudah tidak asing dengan rasa lelah.

Dimulai dari empat tahun lalu, sepeninggalan orang tuanya, Gempa yang berusia empat belas tahun sudah dipaksa untuk tumbuh dewasa lebih cepat dibanding anak seumurannya.

Dua minggu setelah pemakaman - tepatnya enam belas hari, ia duduk di atas kasur. Terbangun dari tidur berisi mimpi kosong yang menyesakkan atau iblis khayalan yang tak kunjung berhenti menghantuinya.

Ia berada di kursi belakang mobil, tertidur pulas. Suara rintik hujan dan percakapan pelan ayah dan ibunya menuntun Gempa ke dalam alam mimpi.

Sesosok bayang duduk di atas tubuhnya, berat dan dingin, mata berkilau emas. Ia berbisik, dengan satu jari di depan mulutnya, "Tak lama lagi," disertai seringai tajam yang membuat bulu kuduk Gempa berdiri.

Mobil menukik tajam. Jeritan. Tabrakan. Gempa terjatuh dari tempat tidurnya di kursi belakang, mendarat di ranjang yang asing. Seorang perawat masuk, mengucapkan syukur akhirnya kau bangun setelah tiga hari pingsan, sekaligus mengantarkan berita duka tentang kedua orang tuanya yang tidak selamat dalam tabrakan, bahwa ketiga adiknya yang kala kecelakaan ditinggal di rumah akan diantar ke panti asuhan karena tidak ada sanak saudara yang bisa merawat mereka—, bahwa Gempa sendiri pun harus pindah ke Pulau Rintis bersama Tok Aba karena kakeknya yang sudah renta hanya mampu merawat seorang anak, dan semuanya berjalan terlalu cepat terlalu banyak informasi terlalu banyak perubahan semuanya terlalu berlebihan sakitsakitsakit semuanya terasa sakit—

Tanpa menghentikan rantaian berita yang ia sampaikan, suara suster berubah serak. Ia berhenti bicara sesaat. Kemudian matanya yang tadi berwarna hazelnut berubah emas. Memantulkan cahaya— apa itu cahaya lampu kamar? Cahaya lampu truk? Gempa tidak tahu. "Tak lama lagi," ucapnya.

Mekanik, dengan suara yang tidak manusiawi, leher suster berderit seiring kepala bermata emas itu menatap Gempa, yang terpaku ke kasur oleh horor.

"Tak lama lagi." Bisikan kelam, serak itu kembali terdengar, seringaian keji melebar, tajam.

Gempa, usia empat belas tahun, terbangun. Menarik napas tajam, membuatnya tersedak di tengah jeritan, ia bercucur keringat dingin, berusaha menetralkan napasnya yang memburu.

Pagi itu, Gempa terbangun dari mimpi buruk berisi iblis penghuni ingatannya.

Ingatan yang baru saja terjadi kurang dari tiga minggu lalu.

Tiga minggu yang terasa sangat, sangat panjang.

Entah karena keberuntungan atau simpati orang-orang di pengadilan, Gempa sendiri yang masih dibawah umur berhasil merebut kembali hak asuh ketiga adiknya, dengan syarat nama Tok Aba tercantum sebagai wali mereka berempat.

Mereka pulang ke rumah dengan bingung, kak Gempa, mana papa dan mama? Kakak kok menangis?, merasa sakit ya? , dimana, perlu dicium?, mama mana?, kenapa kalian telat pulang, kok Atok murung?, kakak yakin oke-oke saja?, kenapa kenapa kenapa . . .

Sakit, iya. Tapi Gempa sendiri tidak tahu lagi sakitnya dimana.

Pemakaman terasa seperti warna abu-abu yang berkelebat di depan matanya. Air mata –yang terasa tidak sungguhan— dari bibi ini, ucapan turut berduka cita dari paman itu, doa-doa dari sekian sanak saudara yang tidak ia kenal wajahnya sama sekali.

Hanya beberapa wajah familiar yang ia tahu dari bingkai foto di rumah.

Beberapa dari 'famili' tidak sungkan tertawa lepas di pemakaman, mungkin tidak merasa perlu memasang wajah duka. Mereka hanya... hadir. Ada, tetapi disaat bersamaan; tidak ada. Seperti hadir di pesta reuni atau sejenisnya. Seolah tidak ada yang kehilangan. Tidak ada rasa hormat sama sekali.

Beberapa terlihat kaget, dia punya empat anak?, apa-apaan itu, mereka semua sangat identik, ada yang tertawa gemas melihat anak kembar tiga, karena wow bukankah hal itu sangat langka?

Tidak ada yang benar-benar peduli bahwa dua orang sudah wafat. Bahwa ibu dan ayah dari empat orang anak sudah pergi, meninggalkan anak-anak dalam pemakaman yang penuh dengan famili yang persetan dengan mereka.

Hanya Tok Aba yang benar-benar berduka.

Gempa tidak bisa merasakan wajahnya saat pemakaman sudah selesai dan hanya ia, ketiga adiknya yang tertidur karena lelah, dan Tok Aba yang tersisa di sana. Dingin membekukan tangisnya. Air mata tidak bisa lagi terjatuh. Langit ikut berkabung, ia gelap, pilu. Angin mendekap erat tubuhnya yang panas serasa akan meledak.

Hujan akan turun.

Dingin.

Gempa tidak ingin pulang sekarang.

Ia meminta Tok Aba membawa Petir, Angin dan Tanah menginap di rumahnya di Pulau Rintis untuk sementara waktu. Bawa adiknya, ringankan pikiran mereka. Jangan sampai... jangan sampai mereka melihat kakaknya dalam keadaan begini.

Dan lagipula, Gempa hanya... ingin sendiri untuk beberapa hari.

Tok Aba menerima ketiga cucunya dengan tangan terbuka, tahu betul Gempa membutuhkan momen berduka tanpa harus mengkhawatirkan adiknya.

Beberapa hari berubah menjadi satu minggu. Sepuluh hari. Dua minggu.

Gempa masih belum meninggalkan rumah pada hari ke enam belas.

Gempa mengusap matanya. Tiga jam. Ia hanya tertidur selama tiga jam sebelum mimpi buruk membangunkannya. Ia lelah. Sangat lelah. Tapi ia tidak bisa tidur. Segala hal berlalu dan lepas dari tangan terlalu cepat, seperti air lewat jemarinya. Ia ingin tidur. Ia lapar. Ia ingin melihat adik-adiknya lagi. Ia mau mandi. Ingin kembali ke sekolah, ingin menyakinkan Tok Aba ia baik-baik saja, ingin kembali duduk di kursi belakang mobil dan memperingatkan orang tuanya bahwa ada truk besar yang melaju kencang, bukannya tertidur di bawah buntalan selimut dan tas yang menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan.

Ia ingin menjadi anak normal kembali.

Tapi ia terlalu lelah.

Jadi Gempa duduk di kasurnya. Terbangun dari mimpi buruk, memori kelam, delapan menit dan tiga puluh tujuh detik yang lalu. Menatap jam dan menghitung detik.

Ia duduk di sana, merenung.

Memikirkan masa depannya. Ketiga adiknya. Apa yang akan terjadi setelah ini. Bagaimana mereka akan menyambung hidup.

Gempa yang kala itu berusia empat belas tahun terkulai ke belakang, punggungnya menabrak headboard tempat tidur. Matanya mulai berair, panas dan lembab, untuk entah keberapa kalinya dalam tiga minggu terakhir. Denyutan panas menyergap kepala, bibir dan mata terasa ngilu, hasil dari tangisan berhari-hari yang dipicu emosi. Hidungnya perih, sakit. Suaranya parau, pecah, karena sudah berhari-hari tidak bicara. Ia menarik kedua lutut mendekat, memeluknya erat. Mengerang. Bersalah, pasrah, kesal, marah sedih kecewa menyesal. Campur aduk. Ia membenamkan kepala disana, sampai akhirnya bulir air hangat tidak bisa lagi dibendung, merembes ke dalam celana tidurnya. Mengangkat kepala dan menekan iris karamel itu dengan kedua pergelangan tangan, menarik napas lewat hidung yang agak tersumbat. Gempa mengutuk hidupnya. Hidup yang terasa tak memiliki tujuan.

Berapa lama sudah berlalu? Sejak ia "membutuhkan waktu sendiri"? Ia sudah berhenti mengitung dari hari ke sebelas. Dengan ketiga adiknya yang dibawa menginap oleh Tok Aba, Gempa leluasa berubah menjadi makhluk menyedihkan yang menolak menerima kenyataan hidup.

Ia melirik layar ponselnya.

Menghitung tanggal hanya memakan waktu singkat, tapi matanya tak beranjak dari layar walau sepasang angka sudah berdiam di pikirannya.

Enam belas hari. Ia tidak lagi menangis meraung sejak hari ketiga. Tidak lagi bergetar takut tiap kali malam membawa serta gelap, mengingatkannya pada malam kecelakaan sejak hari ke sepuluh.

Hari ke enam belas. "Waktu sendiri" Gempa mulai terlihat sangat sendirian. Kesepian.

Rumahnya yang selalu hangat dan penuh kekeluargaan mendadak terasa dingin, kehilangan.

Ia tidak bisa terus seperti ini.

Ia bisa jadi tidak memiliki tujuan hidup. Namun adiknya? Yang bahkan belum sempat menikmati dunia? Ketiga bocah yang hanya memiliki dirinya sebagai sandaran?

Apa kata orang tuanya jika mereka melihat Gempa seperti ini sekarang?

Hal itu membuat remaja muda itu mengangkat kepalanya perlahan.

Inilah hidupnya sekarang. Tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mengembalikan ayah ibunya, tapi ia bisa, dan perlu, memperbaiki keadaan.

Maka Boboiboy Gempa, usia empat belas tahun, mengelap air matanya dan turun dari kasur.

Sebulan kemudian, Gempa mendapat sebuah pekerjaan di sebuah minimarket. Adik-adiknya pun pulang, untuk memulai sekolah.

Gempa mengenal kemandirian dengan cara yang jauh lebih keras. Walinya, Tok Aba yang tinggal di ujung lain negara ini, berusaha mengecek mereka sesering mungkin. Namun usianya yang terbilang renta tidak mendukung perjalanan sejauh delapan belas jam di dalam bus. Gempa bahkan sampai bertengkar dengan Tok Aba agar jangan memaksakan diri. Tidak perlu datang setiap minggu. Ia tahu benar, kakeknya hanya berprofesi sebagai seorang pemilik kedai coklat. Ongkos perjalanan menyeberangi negara bukan hal main-main.

Ia tahu benar, ia tidak akan bisa lagi bergantung pada orang lain. Tidak disaat orang lain itu bisa direnggut kapan saja darinya. Tok Aba mengalah pada akhirnya, setelah Gempa mengancam akan berhenti sekolah jika kakeknya tidak memenuhi permintaan remaja muda itu.

Gempa meminta maaf pada Tok Aba setelah itu, dan mereka minum cokelat hangat bersama di depan televisi.

Dengan tanpa bantuan dari siapa pun, kecuali biaya secukupnya yang ditransfer Tok Aba per bulan, Gempa pun melanjutkan hidupnya.

Dua tahun kemudian, disaat keuangan semakin dituntut dengan masuknya Petir, Angin dan Tanah ke sekolah dasar, Gempa yang berusia enam belas tahun memalsukan usianya dan melamar pekerjaan di sebuah restoran untuk shift malam. Bukan tindakan yang bijaksana, memang, tapi bayarannya setimpal.

Tak berapa lama setelah ia memulai rutinitas tak menyehatkan itu – yang melibatkan tidur terlampau singkat, Gempa mendapatkan tamu tidak diundang berupa sakit kepala yang menempa tengkorak.

Ia bertahan. Melanjutkan.

Seminggu setelah kemunculan insomnia dan sakit kepala, Petir, si kembar sulung, terlibat kecelakaan parah dan kehilangan kesadaran. Angin dan Tanah mengalami luka ringan, namun mengalami trauma yang cukup berat.

Lutut Gempa seolah terbuat dari jelly, merosot ke lantai, lemas, shock, saat menerima kabar itu dari rumah sakit.

Sesuatu yang gelap dalam pikirannya tertawa, menggema. Kilat mata emas dan seringai tajam muncul di pojok kesadarannya. Memperhatikan. Bersiap menyerang di saat ia lengah.

Gempa tidak menghiraukannya dan bergegas pergi ke rumah sakit. Bayang itu lenyap, bisikan perlahan menguap hilang.

Di sanalah Gempa bertemu dengan seorang pemuda bersurai anggur, yang mengaku sebagai anak pemilik limosin, pelaku kecelakaan lalu lintas yang melibatkan adik-adiknya.

Pemuda itu— Fang, membayar seluruh biaya perawatan dan kemudian pamit pergi setelah berbincang beberapa lama dengan Gempa. Membiarkan remaja itu terduduk di sofa empuk ruangan VIP, pikiran dikacaukan khawatir dan diselimuti penat.

Ia tertidur disana pada hari itu. Saat ia terbangun, tanpa sakit kepala, dengan selimut yang diberikan perawat merosot turun dari bahunya, Gempa melirik jam dan melebarkan matanya tidak percaya.

Kenyataan bahwa ia sanggup tertidur sampai dua belas jam mengubah pandangan hidupnya. Bahwa kesehatan lebih penting daripada pekerjaan.

Ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus menjalani hari-harinya tanpa tidur. Maka begitu ia mendaftarkan adik-adiknya ke sekolah dasar beberapa bulan kemudian, dengan berkurangnya beban, Gempa mengambil shift yang lebih pendek di restoran. Ia mulai pulang ke rumah pada pukul sepuluh malam. Sakit kepala tidak mengganggunya lagi.

Sekarang, dua tahun kemudian, Gempa yang berusia delapan belas tahun sudah lulus dari sekolah. Duduk di kamarnya, di atas kasur, menatap bukti kelulusannya dengan nilai yang terbilang tinggi, Gempa merasa tidak berbeda dari empat tahun yang lalu. Di saat ia terbangun dari mimpi buruk dan tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Apa yang akan terjadi ke depannya, apa yang akan ia perbuat selanjutnya.

Walau dengan segala cobaan yang dihadapi dan pengalaman yang ia miliki, Gempa tetap hanyalah seorang anak remaja yang tersesat, tidak memiliki peta menuju jalan keluar.

Demons

"Sialan," umpat Gempa frustasi.

Pubertas adalah satu dari banyak masalah yang Gempa atasi sendirian. Masa berontaknya terbilang terlambat dalam hidup— sekarang ini, di usia delapan belas. Remaja dewasa yang sangat labil. Memang, pikirannya terbilang dewasa bila dibanding remaja biasa yang dikendalikan hormon dan emosi. Tapi segala hormon dan frustasi yang ia pendam menjelang masa sulit beberapa tahun terakhir akhirnya membludak setelah satu hari penuh bencana.

Ia terlambat masuk kerja. Seseorang menabrak Gempa di jalan, memakinya, lalu berlari pergi, meninggalkan Gempa dengan baju yang basah terkena kopi panas. Lalu ia mendapat telepon dari sekolah yang memberitahukan Petir berkelahi lagi. Tidak hanya itu saja, rekan kerjanya cuti hari ini, jadi pekerjaan Gempa berlipat ganda.

Lalu hujan turun lebat, tepat disaat ia sudah setengah jalan pulang ke rumah. Berteduh di bawah sebuah bangunan, Gempa akhirnya retak dan mengumpat kesal habis-habisan, suara tertelan hujan. Urat nadi di kepalanya berdenyut marah, rahang mengeras. Ia sudah cukup sabar hari ini, Gempa merasa bangga ia belum berteriak sendiri di tengah hujan.

"Sialan memang,"

Teleponnya berbunyi. Mengeluarkannya dari saku dengan hati-hati – ia tidak percaya pada keberuntungan untuk tidak menjatuhkan ponselnya— Tok Aba menelepon.

"Halo, Tok?"

"Ah, akhirnya kau menjawab. Atok kira ada apa-apa, dua panggilan terakhir tak terjawab—"

Gempa menarik poninya yang basah. Menghela napas. "Tidak. Aku kerja tadi. Handphone kusimpan di loker."

Diam sejenak di ujung sana, Gempa mengecek layar ponselnya untuk memastikan panggilan tidak terputus. Usai mengecek –tidak terputus—, Gempa menunggu respon kakeknya.

"Kau baik-baik saja?"

Sang remaja ingin mengatakan tidak. Ingin menceritakan emosinya yang mudah terpicu belakangan. Menahan diri menceritakan harinya yang buruk. Benar-benar buruk.

Tapi Tok Aba sudah berbicara di ujung sana. Iblis gelap pada hari itu, yang tidak pernah pergi dari hati kecil Gempa, berbisik padanya. Tidak menunggu jawaban Gempa, berarti menganggap keadaannya tidak baik-baik saja. Bahwa Gempa yang tidak baik adalah hal yang besar, berpikir bahwa empat tahun terakhir Gempa membesarkan adik-adiknya sendirian, empat tahun lamanya ia berjuang melewati mimpi buruk dan derita, selama empat tahun, ini adalah kali pertama ia merasa tidak baik-baik saja. Itu adalah hal yang buruk kan, Gempa yang biasanya tenang, merasa tidak baik-baik saja. Dan Atok yang hebat akan menolongnya supaya bisa baik kembali. Mood Gempa yang sudah buruk, memburuk lagi.

Pikiran tidak rasional itu menolak pergi.

"—Karena, Gempa, kau tahu aku akan tinggal disana bersamamu kalau aku bisa. Tapi pekerjaan dan toko Atok—"

"Iya, iya, Gempa tahu. Pekerjaan Atok penting. Maksudku, aku baru saja lulus sekolah. Aku hidup sendiri tanpa orang tua dan menghidupi tiga orang adik, emangnya hal buruk macam apa yang bisa terjadi?" potong Gempa sakrastik.

Ia tahu keadaan kakeknya. Ia juga tahu, selama empat tahun, Gempa sendiri yang menolak halus pertolongan Tok Aba untuk merawat adik-adiknya. Tapi ia masih berusia delapan belas tahun. Disaat remaja seusianya bermain dan bersenang-senang dengan teman-teman, Gempa tidak bisa melakukan segala itu. Ia hanya ingin egois untuk beberapa saat. Tanpa harus memikul tanggung jawab, atau bekerja, atau sejenisnya. Ia hanya ingin— ia hanya ingin jadi normal.

Tapi Gempa bukanlah remaja normal, dan ia tahu itu.

Tok Aba terdiam selama beberapa detik sebelum menghela napas sedih di ujung sana. Mendengar itu, remaja yang kerasukan emosi ini ditelan rasa bersalah. Berharap bisa menarik kata-katanya kembali. "Gempa, Atok tidak bermaksud untuk—"

Ah, sial. "Gempa tahu, Tok. Hanya saja, aku—" lelah dengan semua ini, dengan ketidaknormalan ini— ".. ah. Nggak apa-apa. Maaf, tok. Mungkin Gempa hanya terlalu capek hari ini."

"Ya sudah. Pulanglah dan istirahat. Atok hubungi lain waktu."

"Baik, Tok."

Klik.

Melepas topi dinosaur yang selalu ia kenakan dan membaliknya kedepan, Gempa meniup poninya. Hari ini tidak mungkin bisa bertambah parah lagi. Berterima kasih sedikit untuk topi yang membayangi mata dari hujan, Gempa bergerak, hendak pulang.

Suara langkah kaki berat berhenti tepat di belakang Gempa, bersamaan dengan leher jaketnya yang disentak keras ke arah penyerang.

"Hei-!" Pekiknya tidak terima.

"Woah, coba lihat siapa ini. Bocah kita, Gempa." Tawa meremehkan yang dalam, cemooh khas tiap bel pulang sekolah. Familiar. Gempa tidak berani menoleh ke belakang, walau kerah jaketnya dalam bahaya robek.

Krek, begitu bunyinya.

Betapa mirip dengan suara tulang yang diremukkan.

Darah Gempa seolah beku. Jemari kiri yang pernah dipatahkan di masa sekolah kembali berdenyut. Menelan ludah, teror mengalir lewat jantung. Emosi bersliweran dalam dada. Ia kenal betul suara itu.

Bernapas perlahan, Gempa berbalik sejauh diizinkan jaketnya yang disandera, berharap lututnya tidak bergetar.

"Ejojo,"

.

.

.

A/N:

/balik dari hiatus

Wew, hampir lupa caranya ngetik fanfic. School life is hard, I kid you not. Akhirnya updateeeeeee aaaaaaAAAAAAH ;-;

Ice ragu masih ada reader yang nungguin Demons… tapi cerita ini gak akan terbengkalai walau Ice bisa hiatus tiba-tiba. Semua fic Ice pasti akan complete walau makan waktu. Ice masih pelajar SMA makluminlah ;_;

Leave me love! Review whether you like this chapter or not. I'll be needing your support ;)