Disclaimer : TO kuadrat bukan TO kuartet.

Warning : OC plus OOC! Alur kecepetan, dan maksa. Sebagian mungkin kaga nyambung. Tolong jangan terlalu mempercayai informasi apapun yang anda baca, karena kebenaran cerita ini masih dipertanyakan.

Wai! Luna datang lagi! Updatenya sengaja cepet, biar ide ceritanya nggak ilang. Oh iya, modem Luna udah bener lo! Ga perlu ke warnet deh! Males aja pergi ke warnet. Entah kenapa, pulang dari warnet bahu pada terasa pegel.

Oh, iya, Luna bikin Mello jadi cewe, soalnya Luna paling ga bisa nulis kalo tokoh utamanya bukan cewe. Susah ngebayangin apa yang ada dipikiran cowo. Luna aja masi belum ngerti ama isi otak Luna, apalagi yang lain.

.

Happy Reading

.

.

Chapter 3 : Si gadis aneh

.

Mello's POV

.

.

Rasanya haus sekaligus mengantuk. Aku masih menutup mataku, berpikir apakah sebaiknya aku bangun dan minum air atau melanjutkan tidurku. Aku berbalik dan memutuskan untuk tidur saja. Ngantuk sekali rasanya.

Beberapa menit kemudian, rasa hausku tidak kunjung hilang. Jadi, kuputuskan bangun dan mengambil air untuk minum. Belum juga aku mengambil air, siluet hitam yang tidak asing mengagetkanku.

"Halo…"

Che! Gadis aneh itu LAGI! Mau apa lagi, dia sekarang? Kenapa sih, hal–hal yang menyebalkan itu suka sekali terulang–ulang?

Gadis itu tersenyum sambil menawariku segelas air, "Kau pasti haus kan?"

Aku mengambil gelasnya dengan kasar dan langsung menenggaknya sampai habis. Rasa hausku hilang, begitu juga kantukku. Hhh… aku menyesal kenapa aku tadi tidak memaksa Matt untuk mengambil pistolku. Lagipula, sasaran tembaknya juga sudah ada, hanya pistol yang kurang.

"Sepertinya kau tidak menyukai kehadiranku. Yah, kemarin malam kau juga mengusirku. Benar–benar tidak sopan. Itukah balasanmu untuk orang yang sudah menolongmu?"

Aku merasa kesal. Menolong? Bikin kesal iya! "Kau itu benar–benar orang yang paling tak tahu diri yang pernah aku temui, Nona! Kau bohong soal perubahanku! Aku sudah bertanya pada dokter yang menanganiku. Dia bilang aku hanya kelelahan."

Gadis aneh itu tersenyum. Aku tidak suka melihatnya. Seolah–olah dia tahu segalanya. Seolah–olah dia tidak salah.

"Dokter yang kau maksud dia kan?" katanya sambil menunjuk lurus ke arahku. Aku mendongakkan kepalaku. Ternyata ada orang dibelakangku. Dua orang malah. Kenapa aku bisa tidak tahu? Tapi, yang mengejutkanku adalah bahwa aku mengenal dua orang ini. Dia dokter dan suster yang menanganiku. Yang aku temui tadi pagi. Apa maksudnya ini?

"Mereka berdua adalah asistenku," jelasnya. "Perlu kau ketahui, hanya empat orang yang tahu tentang kekhususanmu ini. Aku mengira bahwa mungkin kau akan kesulitan jika orang lain tahu mengenai hal ini, karena itu aku merahasiakannya."

Aku bengong, "Bagaimana mungkin, kau bisa-"

"Aku harap kau tidak lupa siapa aku sebenarnya. Sangat mudah bagiku untuk melakukannya. Pengaruhku bahkan sama besarnya dengan L. Memangnya kau pikir kenapa tidak ada yang pernah tahu mengenai jati diri dan penampilanku selama ini?"

Aku tambah bengong, "Jadi, aku benar–benar…" aku terdiam, rasanya aneh menyebutnya, "perempuan?"

Gadis itu menyerahkan sesuatu kepadaku. Kertas–kertas yang berisi banyak tulisan, aku membacanya dan terkejut menyadari apa yang tertulis disana.

"Itu adalah hasil pemeriksaanmu yang sebenarnya. Berdasarkan sampel darah dan sehelai rambutmu. Sekarang kau percaya atau tidak?"

Uh-oh. Aku bingung. Ini benar–benar terjadi, aku perempuan. Tapi aku kan…

"Ini tidak mungkin. Aku masih laki–laki. Kau pasti mengerti kan? Maksudku… 'ituku' kan…"

Dia tersenyum. Senyuman menyebalkan bagiku. "Itu bisa diatur. Maksudku, bisa diubah," ugh, aku mual mendengarnya, "lagipula, " tambahnya, "kau punya hormon perempuan, jadi kecuali yang itu, kau adalah perempuan."

"Maksudmu?"

"Well, kau tidak akan punya kumis dan jakun. Bentuk tubuhmu akan seperti perempuan, kau tahu? Langsing, mungil, ringan, pinggang yang ramping, kaki yang kecil. Menurutku semua itu sudah mulai terlihat," jelasnya sambil jelalatan melihatku. "Dan, yang paling utama adalah pembesaran buah dada."

What the f##k! apa dia bilang tadi? Pembesaran buah dada? Sontak aku memegangi dadaku. Masih rata. Tidak ada yang berubah. Belum. Ugh… sungguh saat membayangkannya aku benar–benar ingin muntah.

"Kau bilang kau akan menolongku kan?"

"Yap!"

"Kalau begitu apa yang harus aku lakukan agar aku tidak berubah jadi perempuan?"

Keningnya berkerut, "Seingatku aku tidak pernah bilang akan membantumu agar tetap jadi laki–laki."

Aku melongo, "Lalu apa-"

"Yang akan aku lakukan," potongnya, yang entah sudah berapa kalinya, "adalah membantumu untuk menjadi perempuan yang sebenarnya. Perempuan asli. Sejati. Tulen."

Oke, aku benar–benar melongo sekarang.

"Hanya ada dua pilihan," katanya membentuk jarinya menjadi lambang perdamaian. "Jadi manusia berkelamin ganda alias waria atau menjadi perempuan seutuhnya."

Apa tidak ada pilihan yang ketiga?

.

mmmoooonnn

.

"Mello, kenapa kau tidak sarapan?" tanya Matt padaku yang hanya mengutak–atik makananku. Sebenarnya aku lapar, tapi benar–benar tidak berselera makan sekarang. Alih–alih makan atau ngobrol dengan Matt, aku malah melamun.

"Mello?" panggil Matt. Aku mendongakkan kepala kearahnya. "Kau ada masalah, Mells? Tidak biasanya kau melamun. Ah! Kau pasti bosan disini ya? Akan kutanyakan pada dokter kapan kau bisa pulang!" usulnya.

Aku terdiam sejenak, "Pulanglah Matt."

Matt tersentak. "Kenapa?"

Aku diam. Matt menatapku nanar seolah–olah aku mengusirnya dengan kejam. Demi Tuhan, aku cuma menyuruhnya pulang ke Wammy's House! Sikapnya benar–benar berlebihan. Terlalu melodramatis. Kenapa bukan Matt saja sih, yang berubah menjadi perempuan? Dia lebih cocok untuk itu.

"Kenapa kau menyuruhku pulang?" tanyanya memelas. Aku lupa kalau Matt adalah anak yang cengeng. Beda dengan Near. Ah, sudah berapa lama aku tidak melihatnya? Dua hari? Rasanya lama sekali. Pasti dia senang karena tidak ada yang mengganggunya lagi.

"Mello…" Matt mulai merajuk lagi. Aku menghela nafas. Aku akan bertemu dengan Riena sekarang. Mana mungkin aku biarkan Matt ikut serta? Apa yang harus aku lakukan sekarang?

"Pulanglah. Aku tidak apa–apa sendirian. Lagipula, kau masih punya tugas bukan? Nanti peringkatmu bisa turun."

"Aku tidak peduli dengan peringkat! Aku mau-"

"Matt!" seru seseorang. Kami berdua berpaling ke arah pintu. Disana ada Roger.

"Sudah waktunya kembali ke Wammy's House. Mello akan menjalani pemeriksaan sekarang. Kau hanya akan mengganggunya. Lebih baik kau pulang denganku. Mello sudah dewasa, tidak perlu ditemani."

"Roger benar, Matt, " kataku. "Pulanglah, aku tidak apa–apa sendiri."

Aku menepuk bahu Matt. Dia hanya menunduk lesu.

"Baiklah Mello. Jika itu yang kau mau."

Akhirnya Matt pulang dengan Roger. Sebelum pergi, dia berhenti dan berbalik memandangiku. Sepertinya dia berharap agar aku menyuruhnya tinggal. Ya, ampun! Tingkah Matt seakan–akan aku akan pergi jauh darinya.

.

mmmoooonnn

.

"Baiklah, ini obatnya. Minum secara teratur, tidak boleh bolos," kata Riena sambil menyerahkan botol kecil berisi pil berwarna kuning.

"Oke, oke."

Aku memandangi botol obat itu. Hah… kuharap aku tidak menyesali keputusanku kemarin malam.

"Jadi, bagaimana? Apa yang kau pilih? Oh, ya, untuk memudahkanmu, aku akan membantu untuk memperlambat proses perubahanmu."

"Hng?"

"Well, kau diperbolehkan keluar dari Wammy's House saat umurmu 15 tahun kan? Saat itu kau bisa memulai hidup baru tanpa ada yang mengenalmu. Kau pasti mengerti maksudku. Satu tahun waktu yang lumayan lama. Tapi, aku rasa aku bisa memperlambat untuk jangka waktu setahun," jelasnya.

Hmm… menarik. Jadi, aku akan benar–benar menjadi perempuan seutuhnya saat umurku 15 tahun? Oke, aku bisa pergi dari Wammy's House, dan mengganti identitasku. Aku rasa itu tidak sulit.

Jadi perempuan. Hah… padahal aku paling benci pada perempuan. Makhluk lemah, kelebihan air mata dan terlalu melodramatis. Aku akan jadi seperti itu? Tapi, pilihan yang lain… Memikirkannya saja, bulu kudukku sudah merinding. Makhluk tidak jelas, adalah pilihan pertama, dan makhluk cengeng adalah pilihan kedua.

"Yang berubah darimu hanya jenis kelaminmu, kau tahu? Kepribadianmu sih, itu terserah padamu," celetuknya seolah–olah tahu apa yang aku pikirkan.

Kami terdiam, aku mengedarkan pandangan ke segala arah. Mataku tertuju pada sesuatu yang berwarna merah. "Matt..."

"Tenang saja, dia tidak akan terbangun walaupun kau berteriak padanya."

"Obat bius?"

Dia tersenyum, "Yap! Akan merepotkan kalau dia tahu bukan? Tenang saja, dosisnya rendah kok. Dia bahkan tidak akan sadar kalau dia kuberi obat bius."

Aku tidak berkomentar apa–apa. Dia dokternya disini.

"Kau ingin dia tahu?"

"Hng?"

"Kau ingin dia tahu tentang perubahanmu ini?" tanyanya penasaran sambil memandangku lekat–lekat.

Apa sebaiknya Matt tahu? Tidak! Tidak boleh ada yang tahu. Termasuk Matt. Karena ini… sangat amat memalukan.

"Tidak. Jangan sampai dia tahu."

Gadis aneh itu tersenyum lega. Tapi aku tidak peduli kenapa.

"Jadi, kita sepakat, Mello?" tanyanya sambil berdiri.

Aku menghela nafas panjang, "Entah apa ini baik atau tidak. Tapi aku setuju."

"Untuk?" Alis kanannya naik beberapa senti.

Aku menggertakkan gigiku, "Untuk menjadi perempuan, Gadis Aneh!'

"Namaku Riena. Aku harap kau memanggilku seperti itu mulai sekarang," protesnya sambil berkacak pinggang. Dia menjulurkan badannya kearahku, "Meeee-llllooooooo….."

"Oke, Riena."

Dan seperti biasanya, dia hanya tersenyum.

.

mmmoooonnn

.

"Obat ini berguna kan?" tanyaku sambil duduk dibangku taman rumah sakit. "Kau yakin tidak ada yang tahu masalah ini?"

"Tenang saja, semua beres," jawabnya tersenyum. Kami pun mengobrol, sebenarnya hanya Riena yang berbicara, aku hanya membalas berupa gumaman pendek karena aku mengantuk. Karena itu aku memilih untuk tidur. Bersandar dibahunya kelihatannya lumayan enak. Tapi, sepertinya ocehannya berkurang dan suaranya mengecil saat aku bersandar dibahunya. Aku juga merasa sentakan kecil saat itu. Persis seperti saat aku bersandar di bahu Matt. Ternyata, orang akan bersikap seperti itu, jika ada yang bersandar di bahunya ya?

Aku pun tertidur tanpa tahu ada sesosok anak berambut merah yang memandangiku dengan tatapan nanar.

.

.

T*B*C

.

Satu chapter lagi selese! Gak nyangka bisa cepet banget! Yah, soalnya mood lagi bagus dan ide mengalir dengan tenang sih! Yap! Yap! Yap! Ada yang pernah baca komik The Day of Revolution? Luna ngambil referensi dari sana! Tapi ceritanya beda kok! Kayaknya…

Sebenernya, Luna mau nampilin humor juga, tapi kok gak bisa ya? Mungkin karena Luna gak punya selera humor kali ya? Karakter si Mello kurang keras ya? Kayaknya kurang temperamental deh! Abis itu, si Mello bener – bener bolot disini. Masa sih, gak nyadar kalo si mamat suka ma dia?

Buat yang udah review, makasi banyak! Buat Orange Burst dan Kirarin Ayasaki (sorry banget karena dulu salah tulis), makasi udah mau baca lanjutan fic aneh ini. Mudah – mudahan, update selanjutnya juga cepet. Makasi banget!

Buat AnnaYuki, makasi udah baca and nge-review fic ini. Apalagi sampe jam dua malem. Luna aja udah bobo. Oh,iya, reviewnya benar–benar berguna lo! Ya, gitu deh, kalo updatenya cepet-cepet. Langsung tancap gas tanpa liat ke belakang.

Soal penyakit Mello, Luna gak bakal bahas lagi dichapter berikutnya. Itu urusan si Riena. Hehehe… chapter selanjutnya paling berkisar dari Mello yang kucing-kucingan ngerahasiain keadaan tubuhnya entu.

Oh, iya! Kenapa Riena bisa memperlambat proses perubahannya? Karena dia adalah dokter nomer satu didunia. Sama kaya L yang detektif nomer satu didunia. Gak ada yang gak mungkin bagi mereka!

Sekali lagi, buat AnnaYuki, makasi sarannya. Luna seneng banget pas bacanya. Gak apa–apa panjang, artinya Anna bener–bener meratiin fic buatan Luna kan? Sampe membahas masalah penyakitnya. Hebat! Luna gak terlalu mengerti sih, soalnya Luna kan anak ekonomi *ngeles*.

Oh,iya, kalo udah baca chapter 3, review plisss….