Gay or Straight? (Sequel)

.

.

.

Main Pair: Park Chanyeol x Byun Baekhyun

Other Casts: Oh Sehun, Luhan, Kim Minseok, Choi Jinri, Yoona SNSD, Hani

Length: One Shot

Rate: T

Genre: Romance, Fluffy(?)

Disclaimer: All the casts aren't mine but the story's originally mine.

Warning: BoyxBoy, Shou-ai, OOC, typo(s)

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

Baekhyun itu orang yang paling cuek dengan sekelilingnya, bahkan pria mungil ini juga cuek kepada kekasihnya sendiri; Park Chanyeol. Tapi, bukan berarti Baekhyun tidak mencintai Chanyeol. "Park Chanyeol itu milik-ku!"

.

.

HAPPY READING

.

.

"Bagaimana?"

"Aku menyukainya! Tidak salah kalau aku memilih butik-mu untuk menangani gaun pernikahanku, B"

Baekhyun tersenyum ketika mendengar pujian yang di berikan oleh salah satu kliennya – yang juga teman SMA-nya – tentang gaun pernikahan yang di pesan olehnya.

"Kau akan datang ke acara pernikahanku kan?" tanyanya.

Baekhyun menganggukan kepalanya. "Ya, tentu saja"

Hani tersenyum lebar mendengar ucapan Baekhyun lalu setelahnya perempuan itu tersenyum menggoda ke arah Baekhyun.

"Aku juga menunggu undanganmu dan Chanyeol"

Baekhyun melotot lucu dengan wajah merona ketika mendengar ucapan Hani. Ya, beberapa minggu lalu Chanyeol memang melamarnya dan saat ini mereka juga sedang mempersiapkan acara pernikahan mereka yang akan di selenggarakan beberapa bulan lagi. Hani yang melihat wajah Baekhyun tertawa.

"Kau pikir aku tidak tau hubungan kalian hmm?"

"Bagaimana–"

"Beberapa hari lalu ketika aku mengunjungi butikmu aku bertemu dengan Chanyeol yang sepertinya baru akan pergi dari sini. Kami sempat mengobrol sebentar di dekat pintu dan dia mengatakan tentang hubungan kalian"

Baekhyun menganggukan kepalanya pelan ketika dia mendengar ucapan Hani.

"Ngomong-ngomong, selamat ya! Aku sebenarnya sudah menebak sejak dulu kalau suatu hari nanti kalian pasti akan menjadi pasangan"

"Apa maksudmu?"

Hani memutar bola matanya malas. "Kau benar-benar harus menghilangkan sifat cuek-mu itu Byun Baekhyun! Aku saja menyadari kalau sejak dulu Chanyeol sudah menyukaimu!"

Baekhyun mengangkat sebelah alisnya bingung. "Bagaimana kau bisa tau? Apa si bodoh itu yang mengatakannya padamu?"

Hani mendengus. "Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya? Kalian bahkan selalu bersama kapanpun dan dimanapun! Lagipula masa sih kau tidak menyadari sikap Chanyeol yang terlalu protektif kepada sahabatnya? Bahkan kekasihku dulu tidak sampai seprotektif Chanyeol!"

Baekhyun mengernyitkan keningnya. Dia sadar sih kalau sikap Chanyeol itu memang sangat protektif kepadanya tapi Baekhyun mengira itu hal biasa karena orang tua Baekhyun dan Chanyeol meminta Chanyeol untuk menjaga Baekhyun dengan baik padahal Baekhyun merasa dia bisa menjaga dirinya sendiri – karena namja mungil ini menguasai hapkido dengan baik.

"Kupikir itu hal biasa karena orang tua kami meminta Chanyeol untuk menjagaku dengan baik"

"Apakah menjagamu dengan baik termasuk mengancam orang-orang yang menyukaimu untuk menjauh darimu?"

"A-apa?"

"Sudah kuduga kau tidak mengetahui hal ini. Makanya jangan terlalu cuek, B!"

"Masa sih sampai segitunya?"

Hani mendengus. "Chanyeol bahkan pernah mengancam salah seorang adik kelas karena adik kelas itu datang ke kelas kita dan mencarimu. Saat itu kau tidak masuk karena sakit. Chanyeol bahkan memberikan ultimatum di depan kelas"

Baekhyun terdiam sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya ketika mendengar cerita Hani tentang sikap Chanyeol yang menurutnya kekanak-kanakan. Tapi, kenapa kau merona begitu Byun Baekhyun?

Ketika Baekhyun ingin mengatakan sesuatu kepada Hani, salah seorang wanita cantik berjalan menghampiri mereka dan bahkan wanita itu memeluk Baekhyun dengan erat membuat Baekhyun terkejut bukan main.

"Astaga! Byun Baekhyun! Aku merindukanmu!"

"H-hah?"

Hani yang masih ada di sana juga bingung ketika wanita itu memeluk Baekhyun dengan erat. Keningnya mengernyit ketika melihat wajah wanita yang memeluk Baekhyun itu. Sepertinya dia tidak asing. Tapi, siapa ya? batin Hani.

"Astaga! Apa kau lupa?! Aku Choi Jinri!" seru wanita cantik bernama Jinri itu.

'Ah pantas saja dia terlihat tidak asing. Eh, tunggu dulu Choi Jinri?!' batin Hani sambil menelan ludahnya.

.

.

Park Chanyeol itu adalah namja tampan, tinggi, kaya, dan juga ramah. Jadi, siapa yang tidak mengenal namja itu? Siapapun mengenalnya walaupun hanya mengetahui sosok itu saja. Saat berada di sekolah menengah atas, Chanyeol adalah salah satu anggota klub basket dan hal ini lah yang menyebabkannya menjadi sangat populer. Kalau Chanyeol adalah namja paling populer di sekolah maka yeoja paling populer di sekolah adalah Choi Jinri. Yeoja cantik, manis, dan juga pintar ini adalah kapten cheerleader di sekolah mereka. Banyak sekali yang mengincarnya dan ingin menjadikannya seorang kekasih tapi sayangnya yeoja cantik ini menyukai Chanyeol sejak duduk di tingkat pertama sekolah menengah atas. Semua orang mengetahui hal ini, dan kalau di bilang semua orang maka Baekhyun yang cuek itu juga mengetahuinya bahkan orang yang di sukaipun – Chanyeol – mengetahuinya.

Tapi, saat itu Chanyeol memilih untuk berpura-pura tidak tau walaupun banyak sekali teman-temannya ataupun teman-teman Jinri yang memberikan kode kepadanya. Chanyeol biasanya hanya menganggapnya sebuah candaan karena saat itu hatinya sudah terjerat oleh sahabat mungilnya, Byun Baekhyun. Bukan hanya teman-temannya dan juga Jinri saja, Jinri sendiri berusaha memberikan kode-kode kepada Chanyeol yang tidak di tanggapi oleh namja tinggi itu dan hanya menganggap Jinri teman biasa. Walaupun begitu, Jinri selalu berusaha untuk mendekati Chanyeol dan menempel kepadanya hampir setiap saat.

GREP

Sebuah lengan kekar memeluk pinggang Baekhyun dari belakang dengan erat membuat Baekhyun terkejut dan hampir menjatuhkan mug yang berisi coklat panas yang ada di tangannya.

"Ya Tuhan! Kau mengejutkanku, Park"

Chanyeol yang melihat reaksi Baekhyun hanya terkekeh dan mengecup pipinya membuat Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi wajahnya yang merona.

"Kenapa kau melamun hmm? Apa yang sedang kau pikirkan?"

"Tidak ada. Lagipula siapa yang melamun?"

Chanyeol mengeratkan pelukannya pada pinggang Baekhyun dan meletakan dagunya di bahu namja mungil yang sangat di cintainya itu.

"Kau tau Baek kau tidak bisa berbohong padaku"

Baekhyun mendengus sebelum akhirnya dia melepaskan lengan Chanyeol yang melingkari pinggangnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mereka. Kamar mereka? Ya, setelah Chanyeol melamar Baekhyun, mereka berdua memutuskan untuk tinggal bersama – lebih tepatnya rumah Baekhyun dan membiarkan rumah Chanyeol kosong.

Chanyeol mengikuti Baekhyun yang masuk ke dalam kamar. Namja mungil itu meletakan mug nya dan mendudukan dirinya di atas kasur dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Chanyeol mengikuti Baekhyun dan duduk di sebelah Baekhyun, tangannya terulur untuk meletakan kepala Baekhyun di bahunya dan setelahnya Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dengan erat.

"Katakan padaku, Baekhyunnie. Apa yang mengganggu pikiranmu?" ucap Chanyeol dengan lembut.

Baekhyun yang sedang menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya dan malah memeluk lengan kekar milik Chanyeol membuat namja tinggi itu tersenyum lebar ketika kekasihnya sedang dalam mode manja.

"Tidak, hanya memikirkan masalah pekerjaan"

"Benarkah?"

"Tentu saja"

Chanyeol hanya menghela napasnya sebelum akhirnya dia mencium pucuk kepala Baekhyun berkali-kali. Yah, kalau Baekhyun tidak mau bercerita padanya Chanyeol sama sekali tidak masalah, daripada nanti Baekhyun malah marah padanya lebih baik menunggu saja sampai namja mungil itu bercerita sendiri padanya.

Sedangkan Baekhyun yang tau kalau Chanyeol tidak memaksanya sama sekali hanya tersenyum tipis. Sebenarnya dia bukan sedang memikirkan masalah pekerjaan. Pekerjaannya baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali. Hanya saja yang sejak tadi dia pikirkan adalah sosok yang tadi datang ke butiknya, Choi Jinri.

Baekhyun benar-benar tau kalau Jinri itu sangat menyukai – terobsesi – Chanyeol. Bahkan saat Chanyeol sama sekali tidak pernah menanggapi Jinri, yeoja itu tetap mendekati Chanyeol dan menempel padanya. Baekhyun sendiri juga di dekati oleh Jinri – bukan karena Jinri menyukainya – karena yeoja itu ingin bertanya tentang Chanyeol. Semua orang tau kalau Chanyeol dan Baekhyun adalah sahabat sejak kecil jadi terkadang beberapa orang yang menyukai Chanyeol akan mendekati Baekhyun juga untuk mengetahui tentang Chanyeol.

Baekhyun benar-benar takut kalau Jinri akan mendekati Chanyeol lagi. Tapi, Baekhyun tidak ingin Chanyeol mengetahui tentang Jinri yang mengganggu pikirannya karena menurutnya ini bukanlah hal yang penting.

Lalu kalau tidak penting kenapa kau masih memikirkannya, Byun?

Baekhyun menghela napasnya dengan kasar lalu mengangkat kepalanya dari atas bahu Chanyeol dengan tiba-tiba membuat namja tinggi itu terkejut bukan main melihat tingkah kekasihnya itu.

"Ada apa Baek?"

Mendengar suara Chanyeol, Baekhyun yang segera menoleh ke arahnya dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak, hanya saja aku tiba-tiba mendapatkan sebuah ide untuk membuat sebuah desain"

Chanyeol mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan Baekhyun.

"Jangan bangun tiba-tiba begitu! Aku benar-benar kaget tadi"

Baekhyun meringis. "Maaf kan aku Yeol. Kurasa lebih baik kita tidur saja, aku tau kau lelah"

Chanyeol tersenyum sebelum akhirnya dia menidurkan dirinya dan menarik Baekhyun ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya dengan lembut. Baekhyun membalas pelukan Chanyeol dan menyembunyikan wajahnya yang merona di dada bidang Chanyeol.

"Selamat malam, Baekhyunnie. Aku mencintaimu"

Baekhyun tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Yeol"

.

.

Minseok menatap Baekhyun dengan pandangan bingung karena namja mungil di hadapannya ini hanya diam saja sambil menatap ke arah depan dengan pandangan kosong. Bahkan latte yang ada di atas meja kerjanya masih penuh dan tidak tersentuh sama sekali. Padahal Baekhyun paling tidak bisa untuk tidak meminum latte.

"Baekhyun?"

Tidak ada sahutan.

"Hei, bolehkah aku meminta latte-mu?"

Masih belum ada sahutan.

Kening Minseok mengernyit ketika Baekhyun belum menyahutinya. Padahal biasanya Baekhyun akan mendelik tajam ke arah orang yang ingin meminta latte Baekhyun termasuk Chanyeol. Tapi, kali ini Baekhyun bahkan tidak menyahutinya sama sekali. Jangankan menyahuti, menatapnya saja tidak.

"Ah, Chanyeol! Kau mau mengajak Baekhyun makan siang?"

Dan berhasil.

Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah pintu ketika mendengar ucapan Minseok tapi namja mungil itu malah mengernyitkan keningnya ketika tidak ada Chanyeol di sana. Melihat reaksi Baekhyun, Minseok tertawa dengan keras membuat Baekhyun mendelik tajam ke arah Minseok sebelum akhirnya dia menyesap lattenya yang kini sudah agak dingin.

"Apa-apaan kau ini!"

Minseok memutar bola matanya malas. "Harusnya aku yang bilang begitu, Baek"

Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung lalu menatap Minseok dengan tatapan kenapa-kau-yang-bilang-itu.

"Kau melamun sejak tadi. Bahkan saat aku mengetuk pintu saja kau tidak menyahuti sama sekali. Apa kau sedang ada masalah Baek?"

Baekhyun menghela napasnya ketika mendegar ucapan Minseok. Dia bahkan tidak sadar kalau dia melamun saat sedang jam kerja seperti ini dan ini adalah hal yang jarang di lakukannya bahkan nyaris tidak pernah.

"Kau melamun lagi!" seru Minseok.

"Astaga aku tidak melamun! Jadi, ada apa?"

"Kau yakin tidak ingin membicarakan masalahmu dulu?"

Baekhyun mengernyit. "Masalah apa?"

"Kau melamun Byun Baekhyun. Hal itu adalah hal yang nyaris tidak pernah kau lakukan terutama saat jam kerja begini kecuali kau memiliki sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Contohnya saja Chanyeol"

"Kenapa kau menyebut-nyebut nama si bodoh itu?"

"Karena kau hanya melamun ketika sedang memikirkan Chanyeol saja"

"Kapan aku melamunkannya?"

"Saat kau mendapatkan cincin dari Chanyeol pada saat kencan pertama kalian dan juga tadi"

Baekhyun mendengus. "Aku tidak melamunkannya tadi"

"Ah, apa kau baru saja mengakui bahwa dirimu tadi melamun?"

Baekhyun terdiam sebelum akhirnya dia mengacak-acak rambut coklatnya dengan kasar. Dia terjebak oleh Minseok dan Baekhyun benar-benar tidak ingin menceritakan alasan kenapa dia sampai seperti ini. Oh ya, ngomong-ngomong ucapan Minseok benar. Baekhyun hanya melamunkan Chanyeol atau kali ini dia melamunkan sesuatu yang berhubungan dengan Chanyeol.

Ya, masalah Jinri.

"Demi Tuhan Byun Baekhyun! Kau melamun untuk yang ketiga kalinya!" seru Minseok.

Baekhyun tersentak karena terkejut mendengar suara Minseok yang sangat keras dan membuat telinganya agak berdengung. Baekhyun mendelik tajam dan di balas oleh pelototan oleh Minseok.

"Ceritakan padaku!"

"Apa yang harus aku ceritakan?!"

"Masalahmu! Atau sesuatu yang mengganggu pikiranmu!"

"Aku tidak memiliki masalah ataupun sesuatu yang mengganggu pikiranku!"

"Kau iya!"

"Aku tidak!"

" . "

" . "

"Baekhyunnie..."

Chanyeol memasuki ruangan kerja Baekhyun dan dia mengernyitkan keningnya bingung ketika melihat kekasihnya dan juga sahabat kekasihnya sedang berdiri dan saling melemparkan tatapan tajam.

"Baekhyun?"

Keduanya segera menoleh ke arah Chanyeol yang berdiri di depan pintu dan sedang menatap mereka dengan bingung. Baekhyun mendengus lalu mendudukan dirinya di kursinya sedangkan Minseok langsung berbalik dan berjalan keluar ruangan sambil menghentakan kakinya lalu melewati Chanyeol begitu saja.

Chanyeol menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sebelum akhirnya dia mendudukan dirinya di kursi yang ada di depan Baekhyun dan menatap Baekhyun yang kini sedang mencoret-coret sebuah kertas dengan pensil.

"Ada apa denganmu dan Minseok? Apa kalian bertengkar?" tanya Chanyeol hati-hati.

Baekhyun menghentikan tangannya yang tadi mencoret-coret sebelum akhirnya dia mendongak dan menatap Chanyeol dengan tajam. Chanyeol yang mengerti tatapan kekasihnya itu hanya mengulum bibirnya dan diam, sama sekali tidak berani untuk mengeluarkan sepatah katapun.

.

.

Chanyeol memasuki ruangan kerjanya dan mengernyitkan keningnya ketika melihat Sehun sedang duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Pria tinggi berkulit pucat itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol dan menyuruhnya untuk mendekat.

"Kenapa kau ada di ruanganku?" tanya Chanyeol setelah dia mendudukan dirinya di sofa yang ada di sebelah Sehun.

"Kau tidak akan mempercayai hal ini"

Chanyeol mengernyitkan keningnya sebelum akhirnya dia menggeser kepalanya mendekat ke arah Sehun agar dia bisa melihat sesuatu yang ada di layar iPad milik Sehun yang ternyata adalah jadwal kegiatannya di kantor.

"Itu jadwal-ku. Lalu?"

Sehun mendengus sebelum akhirnya dia menunjuk ke arah salah satu jadwalnya yang membuat matanya membelalak terkejut.

"Bagaimana bisa?"

"Yoona yang mengatur jadwal-mu. Ketika aku sedang mengecek jadwal-mu yang kosong aku malah melihat hal itu"

"Tapi, bagaimana bisa?"

Sehun mengangkat bahunya sebelum akhirnya dia meletakan iPadnya di atas meja dan menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol yang kini sedang mengernyitkan keningnya.

"Kau akan menemuinya?" tanya Sehun.

"Di situ tertulis dia yang akan mengunjungiku"

"Lalu? Kau akan menemuinya? Kau tidak ingin aku melakukan sesuatu? Seperti membuat rapat mendadak?"

Chanyeol terdiam sebentar sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya.

"Tak perlu. Kau hanya perlu menemaniku"

Sehun menganggukan kepalanya.

"Dan Sehun katakan pada Yoona bahwa mulai sekarang kau-lah yang akan mengatur jadwalku tentang pertemuan-pertemuan yang menyangkut urusan bisnis ataupun bukan"

.

Chanyeol menggoreskan tanda tangannya pada sebuah dokumen sebelum akhirnya dia mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar. Kepalanya mendongak dan dia melirik ke arah Sehun yang juga melirik ke arahnya.

"Masuk"

Tak lama, pintu kayu tersebut terbuka dan seorang wanita cantik bertubuh tinggi memasuki ruangan kerja Chanyeol dan wanita itu terlihat terkejut ketika melihat ada orang lain yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Oh Sehun, benar kan?"

Sehun tersenyum tipis sebelum akhirnya dia berdiri dan ingin menyalami wanita itu tapi wanita itu sudah lebih dulu menghambur ke pelukannya dan memeluknya dengan erat.

Sehun terkejut ketika mendapatkan pelukan dari wanita tersebut dan berusaha melepaskan pelukannya.

"Astaga lepaskan aku Jinri-ah"

Wanita itu – Jinri – tertawa kecil mendengar ucapan Sehun. Setelahnya wanita tadi mendongak dan melihat Chanyeol yang sudah berdiri di dekat mereka, Chanyeol yang sudah mengantisipasi bahwa dia akan mendapatkan pelukan dari Jinri segera mundur beberapa langkah. Ck, aku tidak akan lagi membiarkan diriku di peluk wanita ataupun memeluk wanita sekalipun dia mau jatuh batin Chanyeol. Ya, Chanyeol benar-benar kapok dengan yang namanya wanita dan dia benar-benar tidak akan memeluk ataupun di peluk wanita – sekalipun mereka teman – karena hal itu yang membuat hubungannya dengan Baekhyun hampir hancur beberapa waktu lalu.

"Tidak, jangan peluk aku"

Jinri agak terkejut mendengar ucapan Chanyeol tapi setelahnya wanita itu hanya tersenyum canggung dan mengulurkan tangannya. Chanyeol menatap tangan Jinri dengan agak ragu. Apa aku harus membalasnya? batin Chanyeol.

Chanyeol melirik sekilas ke arah Sehun yang juga sedang menatapnya dan mengangguk pelan. Chanyeol yang melihat hal itu lalu mengulurkan tangannya dan membalas jabatan tangan Jinri. Tak lama tautan tangan keduanya terlepas dan setelahnya dia menyuruh Jinri untuk duduk di sofa yang ada di ruangannya. Chanyeol lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan menghubungi Yoona agar datang ke ruangannya.

Setelah itu, Chanyeol duduk di sofa single yang ada di dalam ruangannya sebelum akhirnya dia menatap Jinri yang juga menatapnya dengan pandangan seperti dulu.

Chanyeol mendengus. 'Dia tidak berubah sama sekali, huh?'

Ketika Chanyeol ingin bertanya kepada Jinri, pintu ruangannya di ketuk dan Chanyeol menyuruhnya untuk masuk. Yoona masuk ke dalam ruangan dan membungkukan badannya ke arah Chanyeol.

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

"Tolong bawakan aku cappucino,..." Chanyeol melirik Sehun dan Jinri.

"Kopi hitam seperti biasa"

"Ah, aku teh saja"

Yoona menganggukan kepalanya sebelum akhirnya dia membungkukan badannya ke arah mereka dan berjalan keluar dari ruangan Chanyeol. Chanyeol lalu menatap Jinri dengan pandangan bertanya.

"Jadi, ada masalah apa sampai kau membuat janji denganku?"

Jinri mengerucutkan bibirnya. "Ya! Kenapa kau dingin sekali? Aku kan merindukanmu"

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya. Astaga, bahkan Baekhyun-ku lebih imut ketika mengerucutkan bibir seperti itu batin Chanyeol. Ngomong-ngomong soal Baekhyun, Chanyeol jadi merindukannya.

"Aku serius, Chanyeol-ah. Aku merindukanmu"

"Lalu?" tanya Chanyeol.

Sebenarnya Chanyeol merasa tidak sopan jika dia bersikap seperti ini tapi mau bagaimana lagi? Dia benar-benar sudah cukup muak karena wanita ini selalu menempel padanya saat mereka berada di sekolah menengah atas dan dia tidak ingin bertemu lagi dengan wanita ini.

Jinri berdecak. "Kudengar kau menjadi playboy dan menjalin hubungan dengan siapapun ketika kau berada di bangku kuliah"

Chanyeol mengangkat bahunya. "Ketika di bangku kuliah"

"Dan sampai sekarang" tambah Jinri.

"Lalu apa urusanmu?" decak Chanyeol sebal.

"Kalau begitu jadilah kekasihku!"

Sehun yang mendengar ucapan Jinri berusaha keras untuk menahan tawanya. Astaga apa wanita ini benar-benar gila dan tidak memiliki malu? Sampai kapanpun sahabatnya itu hanya akan mencintai Baekhyun saja batin Sehun.

"Tidak bisa, aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun"

"Jangan membual! Kau bahkan paling tidak bisa jika kau tidak memiliki kekasih"

Iya dulu. Saat aku belum bersama dengan Baekhyun.

"Tapi, saat ini aku sedang fokus dengan pekerjaanku dan tidak ingin menjalin hubungan"

"Kalau begitu hubungan tanpa status saja" paksa Jinri.

Chanyeol mendelik tajam dan dia hampir saja membentak Jinri kalau saja ponselnya yang ada di kantong jasnya tidak bergetar. Chanyeol merogoh kantongnya dan seketika amarahnya hilang malah pria itu tersenyum dengan lebar.

Sehun yang melihat ekspresi Chanyeol hanya tersenyum geli. Ya, tanpa perlu bertanya pria berkulit putih pucat itu tau siapa yang menghubungi Chanyeol.

Byun Baekhyun.

Sehun yang mendapatkan lirikan dari Chanyeol hanya menganggukan kepalanya lalu menoleh ke arah Jinri.

"Jinri, Chanyeol mendapatkan telpon dan setelah ini dia akan menghadiri sebuah rapat. Sebaiknya kau pergi sekarang"

Jinri terlihat akan menolak tapi Chanyeol malah bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi yang ada di dalam ruangannya dan tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Jinri berdecak kesal sebelum akhirnya dia mengambil tas tangannya dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menatap ke arah Sehun sama sekali.

Sehun mendengus ketika melihat wanita tadi keluar dari ruangan Chanyeol dan membanting pintunya.

"Wanita sialan" gumam Sehun kesal.

.

.

"Baekhyunnie..."

Baekhyun yang sedang memakan es krim yang ada di tangannya hanya menggumam kecil dan kembali memakan es krimnya sambil melihat-lihat ke arah toko-toko yang ada di kiri dan kanannya.

Ya, ini adalah malam minggu dan keduanya memutuskan untuk berkencan setelah selama seminggu ini mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mood Baekhyun yang terkadang berubah-ubah pun membuat Chanyeol harus bersikap hati-hati ketika berhadapan dengan kekasih mungilnya itu. Kalau mood Baekhyun sedang jelek, biasanya Chanyeol akan mendapatkan bentakan dan juga tatapan tajam. Tapi, kalau mood Baekhyun sedang baik, biasanya Baekhyun akan bermanja-manja dengan Chanyeol dan sepertinya malam ini mood Baekhyun sedang dalam keadaan baik meskipun pria mungil itu terlihat cuek kepada Chanyeol.

"Apa sampai sekarang kita tidak boleh memberitau hubungan kita kepada orang-orang?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menghentikan langkahnya membuat Chanyeol ikut menghentikan langkahnya dan menatap kekasih mungilnya.

"Kita sudah pernah membahas tentang hal ini, Yeol"

"Tapi, Baek..."

"Kita sudah sepakat dan akan memberitau tentang hubungan kita nanti saat kita sudah menikah"

Chanyeol menghela napasnya. Dia dan Baekhyun memang sudah sepakat untuk tidak memberitaukan hubungan mereka kepada orang-orang – kecuali Sehun, Luhan, Minseok, keluarga Chanyeol, dan keluarga Baekhyun – bahkan para karyawan Chanyeol dan Baekhyun sendiri tidak mengetahui tentang hubungan keduanya kecuali mereka bersahabat.

Alasan Baekhyun tidak ingin memberitaukannya adalah karena mereka berdua merupakan orang-orang yang menjadi sorotan publik. Chanyeol adalah CEO muda yang hebat dalam dunia bisnis. Selain karena kemampuan berbisnisnya yang hebat, Chanyeol sendiri memiliki tubuh yang tinggi dan wajah yang tampan jadi orang-orang yang bukan dari dunia bisnis pun akan mengetahui sosoknya karena Chanyeol sering muncul di majalah – baik bisnis ataupun bukan. Baekhyun sendiri adalah desainer muda yang terkenal karena desain-desainnya yang hebat. Tidak ada orang yang pernah kecewa dengan hasil desainnya karena desain Baekhyun selalu menakjubkan. Selain itu, Baekhyun sendiri juga sering muncul di majalah-majalah fashion dari beberapa negara.

Karena itu Baekhyun tidak ingin mengekspos hubungannya dan Chanyeol ke publik. Pasti mereka berdua akan menjadi perbincangan publik dan para wartawan akan mengejar mereka untuk mengetahui tentang hubungan keduanya.

Baekhyun melirik Chanyeol dan mengernyitkan keningnya ketika melihat pria tinggi itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Baekhyun menggenggam sebelah tangan Chanyeol dan meremasnya pelan membuat Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Baekhyun.

"Ada apa Baek?"

"Harusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu Yeol? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal ini?"

Chanyeol tersenyum tipis lalu mengecup kening Baekhyun sekilas. Baekhyun melotot ketika Chanyeol mengecup keningnya di depan publik. Mata sipitnya melirik ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah ada orang yang melihat mereka tapi setelahnya dia menghela napasnya karena sepertinya orang-orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

"Aku akan memberitaumu nanti di rumah, oke? Sekarang kita sebaiknya pergi ke restoran kesukaanmu itu"

Baekhyun yang merona hanya menganggukan kepalanya pelan lalu berjalan sambil menggenggam tangan Chanyeol erat. Chanyeol tersenyum lebar ketika menyadari kalau Baekhyun masih menggenggam tangannya. Tapi, hal itu hanya berlangsung selama beberapa saat saja karena setelahnya Baekhyun melepaskan genggaman tangannya.

"Chanyeol! Baekhyun!"

Chanyeol mengernyitkan keningnya ketika mendengar suara milik wanita itu. Tak lama seseorang berlari ke arah mereka dari arah samping dan menyapa keduanya lagi dengan sebuah senyuman di wajahnya.

"Sudah kuduga itu kalian! Apa yang sedang kalian lakukan di sini?"

"Ah, kami ingin makan malam bersama" jawab Baekhyun karena Chanyeol hanya terdiam.

"Benarkah? Bolehkah aku bergabung dengan kalian?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Rasanya dia ingin sekali menjawab tidak karena saat ini dia dan Chanyeol sedang berkencan dan dia tidak ingin ada orang lain. Tapi, Baekhyun merasa itu adalah hal yang tidak sopan jadi dia hanya mengangguk pelan dan membuat Chanyeol melotot ke arahnya karena mengizinkan Jinri untuk bergabung.

"Terima kasih Baek! Hei, aku tau restoran yang bagus di sekitar sini. Ayo Yeol ikut aku!" ucap Jinri semangat sambil memeluk lengan kanan Chanyeol dan menariknya ke arah berlawanan dengan restoran kesukaan Baekhyun.

Baekhyun memincingkan matanya tajam ketika melihat tangan Jinri di lengan kekasihnya tapi setelahnya dia hanya mendengus lalu mengikuti keduanya dari belakang.

Chanyeol yang di seret oleh Jinri ingin sekali melepaskan tangan wanita itu tapi pegangannya benar-benar erat bahkan Chanyeol bisa merasakan kuku-kuku wanita itu menancap di lengannya. Chanyeol mendengus lalu menoleh ke arah belakang dan melihat kekasih mungilnya yang sepertinya sedang menggerutu.

Setelah beberapa menit berjalan, ketiganya sampai di sebuah restoran dan masuk ke dalam sana. Baekhyun mendengus ketika Jinri menggoyangkan lengan kekasihnya karena wanita itu ingin agar Chanyeol menarik kursi untuknya.

"Jangan konyol. Tarik sendiri kursimu! Memangnya kau tidak punya tangan?" desis Chanyeol tajam.

Jinri terlihat ingin protes tapi setelahnya dia mengalah dan menarik sendiri kursi untuknya duduk. Wanita itu duduk di sebelah Chanyeol dan di hadapan Baekhyun yang saat ini sudah melihat-lihat daftar menu atau lebih tepatnya pria mungil itu ingin mengacuhkan keduanya.

Jinri sibuk mengoceh tentang menu-menu yang ada di restoran itu membuat kepala Chanyeol pening karena demi tuhan Chanyeol juga pernah datang ke restoran ini bersama dengan beberapa koleganya. Setelah itu, seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan menu yang ingin mereka pesan.

"Aku mau es krim stroberi dengan topping choco chip dan wafer coklat" ucap Baekhyun.

"Apa katamu?" tanya Chanyeol sambil menatap Baekhyun dengan tajam.

Bagaimana mungkin Baekhyun memakan es krim setelah sebelumnya kekasih mungilnya itu memakan es krim? Baekhyun harus memakan sesuatu yang lain selain itu atau pria mungil itu akan sakit.

"Aku mau es krim" jawab Baekhyun lagi.

"Tidak Byun Baekhyun. Kau sudah makan es krim tadi, pesan yang lain"

Baekhyun menatap Chanyeol tajam. "Jangan konyol, Park Chanyeol"

"Apa maksudmu?"

Baekhyun mendengus lalu memutar bola matanya. Chanyeol pasti lupa kalau Baekhyun tidak suka makanan Jepang dan saat ini mereka sedang ada di sebuah restoran Jepang.

Chanyeol mengernyitkan keningnya lalu dia menepuk dahinya.

"Apa kalian mempunyai menu lain selain makanan Jepang?" tanya Chanyeol pada pelayan itu.

Pelayan itu tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya. "Maaf Tuan, tapi kami hanya menyediakan masakan Jepang"

"Memangnya kenapa, Yeol? Kau tidak suka makanan Jepang?" tanya Jinri. Seingatnya Chanyeol suka makanan Jepang, apa selera pria itu sudah berubah? batin Jinri.

"Tidak, Baekhyun tidak suka makanan Jepang. Dia tidak bisa memakannya" jelas Chanyeol.

Jinri menatap Baekhyun dengan tatapan terkejut yang di buat-buat. Sejujurnya dia mengetahui kalau pria mungil itu tidak menyukai makanan Jepang dan Jinri sengaja karena dia ingin agar Baekhyun pergi dan membiarkan dirinya dengan Chanyeol berdua saja.

"Aku makan es krim saja. Bukan masalah" sahut Baekhyun santai.

"Baekhyun tidak masalah, Yeol. Sebaiknya kita pesan saja setelah ini kita membeli makanan untuk Baekhyun"

Chanyeol mendelik. Kita?! Yang benar saja! Ini adalah kencannya dan Baekhyun dan wanita ini-lah yang mengacaukannya!

Chanyeol mendengus lalu membiarkan Jinri memesan menu yang dia inginkan. Nafsu makan pria tinggi itu hilang dan dia tidak akan memakan apapun karena Baekhyun juga tidak akan memakan apapun selain es krim.

"Ada lagi?"

"Satu latte dan satu cappucino. Ah, es krim pisang dengan topping choco chip dan pisang" pesan Chanyeol setelah pria tinggi itu diam selama beberapa saat.

"Baik Tuan"

Setelah pelayan itu pergi, Jinri menoleh ke arah Chanyeol dengan pandangan bingung. Tapi, yang di tatap hanya menatap ke arah Baekhyun yang saat ini sedang fokus memainkan ponselnya. Jinri terdiam tapi setelahnya dia menarik-narik lengan Chanyeol membuat Chanyeol menoleh dan menatapnya dengan pandangan malas.

"Apa?"

Jinri tersenyum lalu setelahnya dia mengoceh tentang kehidupannya di luar negeri dan juga pekerjaannya yang hanya di tanggapi gumaman, gelengan, ataupun anggukan oleh Chanyeol. Wanita itu baru berhenti mengoceh ketika pesanan mereka tiba di meja mereka.

Chanyeol yang melihat Jinri mengambil cangkir latte milik Baekhyun mengernyitkan keningnya.

"Mau apa kau?"

"Eh? Bukannya ini milik-ku?"

Chanyeol mendengus. "Kalau kau mau pesan sendiri. Itu milik Baekhyun"

Baekhyun yang sedang menatap es krimnya kini mendongak karena namanya di sebut-sebut.

"Kenapa?"

Chanyeol mengambil cangkir latte yang ada di tangan Jinri lalu meletakannya di depan Baekhyun. Baekhyun yang melihat cangkir latte yang di letakan oleh Chanyeol di hadapannya tersenyum lebar.

"Terima kasih Yeol"

Chanyeol tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Setelahnya Chanyeol hanya memakan es krimnya meskipun Jinri sudah memaksanya untuk memakan menu-menu yang sudah dia pesankan untuk Chanyeol.

"Aaaa"

Chanyeol yang baru saja menyesap cappucino mengernyitkan keningnya ketika Jinri mengulurkan sumpitnya ke depan mulutnya.

Jinri lalu semakin mendekatkan sumpit itu ke depan mulut Chanyeol membuat Chanyeol mendengus lalu bangkit berdiri dari duduknya. Baekhyun yang baru selesai memakan es krimnya mendongak menatap Chanyeol dengan pandangan bingung. Setelah itu pria tinggi itu menarik tangan Baekhyun agar berdiri dari duduknya.

"Aku yang akan membayarnya" ucap Chanyeol datar lalu setelahnya berjalan pergi dari sana sambil menggenggam tangan Baekhyun dengan erat.

Sedangkan Jinri menatap keduanya yang pergi dengan tatapan kesal.

.

.

Luhan menggebrak meja kerja Baekhyun dan menatap ke arah pria mungil yang menatap Luhan dengan pandangan terkejut. Tangan Luhan terkepal erat dan dia menatap Baekhyun tajam.

"KENAPA KAU TIDAK MENGATAKANNYA SAJA PADA CHANYEOL, BAEK?!"

Baekhyun terdiam. "Ini kekanak-kanakan"

"INI BUKAN KEKANAK-KANAKAN! WANITA ITU BENAR-BENAR SIALAN!"

Baekhyun menghela napasnya. Setelah kencannya dan juga Chanyeol berantakan karena kehadiran Jinri yang tiba-tiba itu, Chanyeol menjadi lebih pendiam kepadanya, pria tinggi itu bahkan tidak lagi memeluk ataupun mencium kening dan pipinya seperti biasa. Lalu hari ini, Baekhyun meminta Luhan untuk datang ke butiknya dan menceritakan tentang hal ini.

"Kau cemburu" ucap Luhan setelah pria mungil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

"A-apa?"

Luhan mendengus. "Kau cemburu karena Jinri menempel pada Chanyeol"

"Aku tidak mungkin cemburu"

"Kenapa tidak?"

"Karena itu kekanak-kanakan"

Luhan memutar bola matanya. "Jangan bodoh, Baek. Kau cemburu dan itu terlihat dengan jelas"

"Itu tidak mungkin"

"Terserah kau. Hari ini aku berencana untuk pergi ke kantor Sehun dan makan siang bersama dengannya, kau mau ikut?"

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Bagaimanapun saat ini Chanyeol sepertinya sedang marah padanya dan Baekhyun takut kalau Chanyeol akan mengacuhkannya nanti.

"Chanyeol tidak akan mengacuhkanmu. Kau kan tau sendiri si raksasa itu tidak akan bisa mengacuhkanmu. Pria itu hanya menjadi lebih pendiam saja kan?" ucap Luhan ketika melihat ekspresi ragu di wajah sahabatnya itu.

"Seharusnya aku tidak membiarkan Jinri bergabung dengan kami" sesal Baekhyun.

Luhan tersenyum lalu menepuk bahu Baekhyun sekali.

"Lagipula ini kesempatan bagus Baek. Kau bisa meminta maaf pada Chanyeol saat makan siang nanti"

Baekhyun menghela napasnya lalu mengangguk.

.

TING

Luhan dan Baekhyun melangkahkan kaki mereka keluar dari dalam lift dan sontak menghentikan langkah mereka ketika melihat Chanyeol yang sedang menyeret Jinri dan juga Sehun dan Yoona yang mengejar keduanya.

Luhan dan Baekhyun saling lirik sebelum akhirnya mereka berjalan mendekati Chanyeol dan Jinri. Jinri yang melihat Luhan dan Baekhyun ada di sana segera melepaskan tangan Chanyeol pada pergelangan tangannya dan memeluk lengan Chanyeol erat.

"Ya! Apa yang kau lakukan?!" tanya Chanyeol tajam.

Jinri mengerucutkan bibirnya. "Kenapa kau kejam sekali Yeol"

Baekhyun mengernyitkan keningnya ketika melihat tingkah Jinri kepada Chanyeol, tanpa sadar pria mungil itu mengepalkan tangannya dengan erat.

"Aku kan hanya ingin mengajakmu makan siang bersama saja" rengek Jinri.

"Menjijikan" desis Luhan pelan.

"Cukup sudah"

Semua orang yang berada di sana menolehkan kepala mereka ke arah Baekhyun yang kini menatap Jinri dengan tajam dan juga mengepalkan tangannya dengan erat. Kelimanya bahkan sempat bergidik karena Baekhyun benar-benar mengerikan.

"Ada apa, Baek?" tanya Jinri.

Baekhyun mendengus lalu berjalan mendekat ke arah Chanyeol dan Jinri. Pria mungil itu lalu mencengkram tangan Jinri yang melingkari lengan Chanyeol dengan erat setelah itu dengan paksa melepaskan tangan Jinri dari sana.

"Aduh! Sakit! Astaga kau kasar sekali!"

Baekhyun memutar bola matanya malas dan menatap Jinri tajam.

"Dengarkan aku baik-baik, Nona Choi Jinri. Park Chanyeol milik-ku!" ucap Baekhyun tajam.

"Apa maksudmu?"

Baekhyun mendengus tapi setelahnya dia menarik tengkuk Chanyeol dengan kasar dan menempelkan bibirnya pada bibir kekasihnya. Chanyeol membulatkan matanya ketika melihat tingkah Baekhyun tapi setelahnya dia memeluk pinggang Baekhyun dengan erat dan membalas ciuman dari kekasihnya itu.

Sehun dan Luhan yang melihat hal itu hanya memutar bola mata mereka sedangkan Yoona tampak terkejut dengan aksi bos dan juga sahabat bosnya itu. Sedangkan Jinri menatap mereka berdua dengan pandangan terkejut dan mata yang berkaca-kaca.

Baekhyun melepaskan ciuman mereka dan Chanyeol mengusap bibir Baekhyun dengan ibu jarinya. Baekhyun yang masih melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol menolehkan kepalanya ke arah Jinri dan menatap wanita itu dengan tajam.

"Kau sudah dengar kan? Park Chanyeol milik-ku! Dia kekasihku, dia tunanganku, dan dia calon suamiku! Kami akan menikah beberapa bulan lagi. Dan kau sebaiknya tidak menjauhi Chanyeol dan tidak menyentuhnya lagi!" ucap Baekhyun tajam.

Chanyeol yang mendengar ucapan Baekhyun hanya tersenyum lebar seperti idiot. Pandangannya terkunci pada kekasih mungilnya yang terlihat sangat menggemaskan. Mulutnya memang mengeluarkan kata-kata tajam tapi wajahnya merona hingga ke telinga.

"Apalagi yang kau lakukan di sini? Cepat pergi" usir Luhan.

Jinri mengepalkan tangannya lalu menatap Baekhyun dengan tajam sebelum akhirnya wanita itu pergi dari sana. Yoona yang merasa kalau ini adalah urusan pribadi kedua bosnya segera melangkah pergi dari sana dan masuk ke dalam ruangannya.

Setelah Jinri dan Yoona pergi, Baekhyun segera melepaskan pelukannya pada leher Chanyeol dan beralih memeluk punggung Chanyeol sambil menyembunyikan wajahnya yang merona di dada Chanyeol.

"Sial~ apa yang baru saja kulakukan..." ucap Baekhyun.

Luhan, Sehun, dan Chanyeol yang mendengarnya hanya tertawa. Baekhyun benar-benar menggemaskan!

"Oh lihat siapa yang cemburu di sini" goda Luhan.

"Tidak! Aku tidak cemburu! Aku hanya kesal!" seru Baekhyun lalu menoleh ke arah Luhan dengan wajah merona.

"Akui saja, Byun Baek" goda Luhan lagi.

Baekhyun hampir saja menyangkal ucapan Luhan lagi sebelum akhirnya Chanyeol mengecup kening Baekhyun dengan lama membuat Baekhyun terdiam.

"Aku senang karena kau cemburu Baek" ucap Chanyeol dengan senyuman lebar.

Baekhyun melotot dan memukul lengan Chanyeol dengan keras tapi pria tinggi itu hanya tertawa seperti orang idiot.

.

.

"Kau yakin akan mengekspos hubungan kita?" tanya Chanyeol.

Baekhyun menganggukan kepalanya dengan yakin.

"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Chanyeol sambil meletakan dagunya di atas bahu Baekhyun.

"Agar tidak ada orang yang mendekatimu dan membuatku kesal lagi" jawab Baekhyun.

Chanyeol tertawa dan mengeratkan pelukannya pada Baekhyun. Setelah kejadian tadi siang, Baekhyun memutuskan untuk memberitau hubungan mereka kepada publik agar semua orang mengetahui bahwa Chanyeol dan Baekhyun sudah saling memiliki. Bahkan Baekhyun berencana untuk memberitau bahwa mereka akan menikah beberapa bulan lagi.

"Tapi, aku senang karena kau cemburu seperti tadi"

"Aish jangan bahas itu lagi"

Chanyeol kembali tertawa lalu memutar tubuh Baekhyun yang membelakanginya agar menghadapnya. Mata bulatnya memperhatikan wajah cantik Baekhyun dengan intens. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi Baekhyun yang lembut seperti kulit bayi.

"Katakan lagi Baek"

Baekhyun mengernyitkan keningnya. "Katakan apa?"

"Katakan bahwa aku milik-mu"

Baekhyun merona lalu menggigit bibir bawahnya.

"Kau milik-ku, Park Chanyeol" cicitnya.

Chanyeol tersenyum sebelum akhirnya Chanyeol mendekati wajah Baekhyun dan mencium bibir Baekhyun yang sudah menjadi candu baginya itu. Chanyeol menggerakan bibirnya di atas bibir Baekhyun dan tak lama kemudian Baekhyun membalas pergerakan bibir Chanyeol. Tak lama Chanyeol menjauhkan wajahnya ketika dia merasa Baekhyun sudah kehabisan nafas.

"Kau juga milik-ku, Park Baekhyun"

.

.

THE END

.

.

BIG THANKS TO:

yoogeurt – yayahunnie – xxobaekido – Hunhanesia – yousee – CussonsBaekby – Chanbaek Numero Uno – RDRD Chanbaek – Dfandra – SHINeexo – banberryCB – chanmeeh – meliarisky7 – septianaditya1997

Hai semuanya!

Karena aku bingung bikin cerita baru Chanbaek jadinya aku malah bikin sequel cerita ini. Di sini aku sengaja bikin Baekhyun nggak begitu dingin ke Chanyeol buat nunjukin kalo Baekhyun itu sebenernya cinta sama Chanyeol(?)

Maaf ya kalo di cerita ini ada banyak kata-kata yang ganyambung soalnya aku langsung nge-post ini tanpa ngedit lagi cerita ini. Jadi, tolong maklumi ya.

Terima kasih buat yang review/follow/favorite cerita ini. Aku bener-bener ngehargain itu /bow/

Terakhir,

Mind to review?