Tittle : LOTTO (MEANIE FANFICTION)

Author: Hani Hwang

Casts: Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Genre: Romance, criminal *maybe* School life, Yaoi

Disclaimer: Plot ceritanya punya author, Wonwoo juga punya author

Rated: M

DONT LIKE DONT READ!

.

.

.

.

.

Sementara disisi lain, Zuho menggandeng Wonwoo menyusuri gedung apartemen itu. Lantai demi lantai mereka lewati. Koridor panjang yang seolah tak ada habis-habisnya. Wonwoo menatap lekat layar ponselnya. Matanya berbinar, jantungnya berdebar. Posisinya sudah semakin dekat dengan Jungkook. Mereka terus berjalan.

Beberapa saat kemudian, Zuho menghentak pegangan Wonwoo yang masih berjalan, membuat pemuda bersurai hitam itu berhenti.

"Disini, Wonu-ya." Ucap Zuho, sambil ikut menatap layar ponsel Wonwoo.

"Benar, posisinya berhenti disini." Sahut Wonwoo.

Mereka mengamati pintu didepannya. Sebuah pintu dari kayu eboni yang kokoh bercat cokelat tua. Keduanya berpandangan. Zuho berinisiatif memutar knopnya.

"Terkunci." Ucap Zuho, melaporkan.

Wonwoo mengetuk pintu. "Jungkook-ah! ini Wonu hyung!" Ucap Wonwoo setengah teriak.

Hening.

Zuho ikut-ikutan mengetuk. "Jungkook-ah! ini Hyungmu!" Kali ini Zuho berteriak lebih kencang dari Wonwoo.

"Hmph! Hmph!"

Samar-samar terdengar suara Jungkook yang seolah mulutnya di sumpal. Wonwoo dan Zuho berpandangan dengan mata terbelalak. Seketika Wonwoo panik. Kecemasannya dengan cepat menjalar hingga air matanya mengalir deras.

"Apa kubilang! Jungkook disekap!" Isak Wonwoo.

"Sst, tenanglah sedikit, Wonu-ya." Zuho berusaha memutar-mutar knop pintunya. Namun tak berhasil. Ia mulai menggedornya. Namun tak ada hasilnya juga.

BRAKK!

Zuho berusaha mendobrak pintu itu, namun pintu kokoh itu tetap bergeming. Yang ada bahunya jadi sakit.

"Kita dobrak bersama!" Ucap Wonwoo disela tangisnya. Zuho mengangguk. Mereka bersiap.

BRUGH!

Namun, tak ada hasilnya. Wonwoo merosot jatuh. Bahunya sakit, dadanya sesak. Ia bingung setengah mati. Bagaimana cara mengeluarkan Jungkook?

Zuho berjalan mondar-mandir mencoba mencari cara.

Sepuluh menit berlalu. Dan mereka belum juga berhasil mengeluarkan Jungkook. Wonwoo masih terduduk dengan isakannya.

"Jungkook-ah!" Panggil Zuho lagi.

"Hmph!"

Zuho mengacak surainya. Tangannya berada di saku. Mengaduk-ngaduk isi sakunya, guna menghilangkan -jarinya merasakan sesuatu yang dingin di sakunya. Zuho meraihnya. Dan mendapati sebuah jepitan rambut dari kawat berwarna hitam. Zuho mengangkat sebelah alisnya. Di film, ia sering lihat penjahat menjebol pintu hanya dengan kawat. Mungkin. . .

Zuho langsung saja memutar-mutar kawat itu didalam lubang kunci. Ia berusaha membengkokkan kawat itu agar sesuai dengan bentuk lubang kuncinya. Sementara Wonwoo menatapnya dnegan putus asa.

"Sebaiknya kita lapor polisi saja, Zuho-ya." Ucap Wonwoo lirih.

Zuho terdiam. Masih berusaha mencongkel lubang kunci itu dengan kawatnya. Peluh mengucur di pelipisnya. Untuk Wonwoo, apapun akan dilakukannya.

TREK!

"BERHASIL!" Seru Zuho, Wonwoo melompat dari duduknya dan segera menghampiri.

"Cepat!"

Keduanya segera masuk. Dan mendapati ruangan itu gelap dan pengap. Wonwoo meraba-raba dinding mencari sakelar.

Trak!

Dan lampu ruangan menyala. Wonwoo terbelalak mendapati adiknya di borgol di kasur, dengan mulut dibungkam dan kakinya diikat. Dengan cepat Wonwoo menghampiri Jungkook.

"Jungkook-ah!" Wonwoo melepaskan ikatan kain yang melilit mulut Jungkook.

"Hyung!" Ucap Jungkook dengan terengah-engah setelah kainnya dilepas.

"Syukurlah." Wonwoo memeluk Jungkook. Lalu keduanya menangis.

"Hei! kita harus segera pergi dan lapor polisi!" Tergur Zuho, pemuda itu bergegas membuka ikatan tali yang mengikat kaki Jungkook. Kemudian ia berusaha membuka borgol yang ada di tangan Jungkook.

"Wonu-ya, kau awasi pintu!" Suruh Zuho, Wonwoo mengangguk. Dan segera menghampiri pintu.

.

.

.

.

Mingyu memarkir mobilnya di parkiran apartemen yang disebut Taehyung. Alamatnya sudah benar. Dengan langkah santai ia turun dari mobilnya. Melirik sekilas arloji hitam yang melingkari tangan kirinya. Pukul sebelas lewat seperempat. Mingyu menyeringai. Kemudian kembali berjalan.

Kaki-kakinya yang panjang melangkah menyusuri koridor, melewati lobi dan menuju lift. Menekan tombol, dan pintu lift tertutup. Mingyu menyandar. Bersenandung kecil sambil memainkan ponselnya. Sementara lift bergerak naik membawanya kelantai tujuannya.

Beberapa menit setelahnya, pintu lift terbuka. Mingyu kembali berjalan menyusuri koridor sambil tetap menatap ponselnya. Berjalan menuju ruangan yang ditujunya. Samar-samar ia mendengar kasak-kusuk orang yang ribut. Namun Mingyu tak peduli. Baginya, itu tak penting.

Ia berhenti melangkah, menatap pintu eboni bercat cokelat didepannya. Ia memasukkan ponselnya kemudian membuka pintu itu.

"Tak dikunci? Taehyung tolol atau idiot, sih?" Keluh Mingyu. Yang benar saja, Taehyung meninggalkan sanderanya tanpa mengunci pintu. Mingyu segera masuk.

Dan, hal pertama yang didapatinya adalah sesosok pemuda bersurai hitam yang lebih pendek sedikit darinya, memunggunginya. Pemuda itu berada di dekat jendela, kaki kanannya menapak kusen jendela.

"Hei!" Seru Mingyu. Pemuda itu menoleh dengan tubuh menegang.

"Kau mau kabur dengan melompat? yang ada kau masuk liang lahat." Ucap Mingyu santai. Lalu menghampiri pemuda itu. Pemuda itu membalikkan badannya. Merapat dengan jendela di belakangnya. Wajahnya terlihat ketakutan.

Mingyu mengamatinya. Jarinya yang panjang dan kokoh meraih dagu pemuda itu, mempertemukan pandangan mereka. Kemudian tertawa kecil.

"Manis." Gumam Mingyu. Pemuda didepannya kembali menunduk sambil meremas kaosnya.

Mingyu meraih tangan pemuda itu. Menuntunnya menuju ranjang. Lalu mendudukkannya di sana.

"Tunggu disini. Kau pasti haus, kan? Kim Taehyung memang pelit." Ucap Mingyu, kemudian ia berlalu menghampiri sisi lain dari ruangan itu.

Pemuda itu berkali-kali melirik kearah jendela. Ia mencoba mengendap-ngendap, berniat lari keluar. Namun lagi-lagi Mingyu memergokinya,

"Ey, kau mau kemana hm?" Tanyanya, menghampiri pemuda itu dengan segelas susu vanilla hangat ditangan.

Mingyu mendudukan dirinya di samping pemuda itu. Perlahan, pemuda itu beringsut bergeser dengan canggung. Mingyu gemas karenanya. Diusaknya surai pemuda itu perlahan.

"Ini minum dulu, kudengar bangsa kucing suka minum susu." Ucap Mingyu, menyodorkan segelas susu hangat itu.

Pemuda itu menatap heran Mingyu. "Ku-kucing?" Ulangnya bingung. Mingyu tertawa.

"Sudah, minum saja."

Pemuda itu menatap gelasnya dengan ragu. Mingyu yang mengamatinya berkata lagi, "Tenang saja, aku tak membubuhkan racun kedalamnya." Ucap Mingyu, seolah mengerti kegelisahan pemuda itu.

Perlahan, pemuda bersurai hitam itu mereguk susu hangat di gelasnya. Membiarkan cairan putih itu mengaliri tenggorokannya dan menyatu kedalam tubuhnya. Sampai gelas itu kosong.

"Good boy." Seru Mingyu, mengusap kembali surai pemuda itu.

"Siapa namamu, hm?" Tanya Mingyu, dengan senyum manlynya.

"Jeon Wonwoo." Ucap pemuda bersurai hitam itu.

Wonwoo merasa tubuhnya gerah. Entah karena perutnya yang hangat setelah minum susu, atau karena kehadiran Mingyu di sebelahnya. Ia mulai bergerak tak nyaman.

"Namaku Kim Mingyu." Ucap Mingyu, membalas ucapan Wonwoo. Ia mulai menanam seringai disudut bibirnya, saat melihat perubahan sikap Wonwoo.

Wonwoo mulai bergerak gelisah tak menenu. Tubuhnya terasa panas dan mulai berkeringat. Benar-benar tak nyaman. "Ke-kenapa disini panas sekali?"

"Kalau begitu, mari kerumahku. Kau pasti takkan kepanasan di sana." Mingyu meraih tubuh Wonwoo yang mulai lemas, menggendongnya ala bridal style.

.

.

.

.

Jungkook menghentak pegangan Zuho. Membuat langkah mereka terhenti.

"Hyung! kita harus kembali! Wonu-hyung dalam bahaya!" Seru Jungkook marah. Zuho menatap lesu.

"Aku tahu, Jungkook-ah. Karena itu aku bermaksud melapor kekantor polisi." Sahut Zuho lirih.

"Laporannya nanti saja!"

Jungkook berbalik, dan melangkah. Bersamaan dengan keluarnya ia dari tempat persembunyian, sebuah ferrari merah melintas di hadapannya. Zuho dengan cepat menarik tangannya hingga mereka berguling kebelakang dinding tempat mereka sembunyi tadi.

"Celaka." Gumam Zuho.

"Wo-wonu hyung. .. hiks!"

.

.

.

.

Zuho membawa Jungkook yang masih menangis sesegukan dengan mobilnya. Mereka berhenti di depan kantor polisi yang buka dua puluh empat jam. Zuho menatap prihatin Jungkook yang masih berlinang air mata. Pemuda pirang itu mengusap wajahnya, menarik napas panjang. Fikirannya kacau. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Wonwoo bersama para penjahat itu. Zuho meringis.

"Aku akan lapor polisi. Kau mau ikut atau disini saja?" Tanya Zuho.

"A-aku ikut!" Sahut Jungkook.

"Baiklah."

Keduanya turun dari Corolla itu. Kemudian melangkah lesu memasuki kantor polisi. Jungkook menatap gugup bangunan di depannya. ini pertama kalinya ia kekantor polisi. Dan tak pernah terbayangkan ia akan memasuki bangunan yang dikenal sebagai tempat untuk menghukum para penjahat. Penjahat? Jungkook bukanlah penjahat. Zuho juga bukan. Apalagi Wonwoo. Mereka hanya korban kan? Jungkook berusaha mengusir keraguannya. Ia harus melaporkan semuanya dengan jelas, agar kasus ini segera ditangani dan Wonwoo segera selamat.

Keduanya disambut-atau dihampiri- oleh seorang polisi berperawakan sedang berwajah masam. Polisi itu mengantar mereka keruang laporan. Di sana, seorang polisi kekar berwajah tampan menunggui meja ketik. Zuho mereguk paksa ludahnya. Gugup setengah mati.

Dengan agak gemetar, Jungkook dan Zuho duduk didepan polisi itu.

"Baiklah, apa yang terjadi sampai kalian datang selarut ini?" Tanya polisi bername tag 'Shim Changmin' itu.

"Hng. . ." Zuho bergumam. Wajahnya ragu. Tapi kemudian ia menguatkan diri. Ia harus melakukannya, Wonwoo harus segera dibebaskan. "Begini,. . ."

"Biar aku saja yang bicara." Jungkook memotong ucapan Zuho. Pemuda pirang itu menatap Jungkook dari samping. Jungkook terlihat begitu yakin.

"A-aku. . ." Jungkook terlihat agak ragu saat mulai bicara. "Begini, hyungku diculik." Ucap Jungkook kemudian. Ia merasa lega setelah mengatakannya.

"Hyungmu? Di culik?" Ulang Polisi itu.

Zuho dan Jungkook mengangguk bersamaan.

Tapi tiba-tiba saja Polisi itu tertawa terbahak-bahak.

"Kau bilang hyungmu diculik? bhuahahahaa!" Changmin tertawa kencang sambil memegangi perutnya. Jungkook dan Zuho berpandangan. Apa yang lucu? jelas-jelas mereka sedang memberikan laporan, bukan sedang melawak.

"Berapa usia hyungmu?" Tanya Changmin, meredakan tawanya.

"Delapan belas tahun lebih enam bulan." Sahut Jungkook dengan wajah bingung.

"Hyungmu berumur delapan belas tahun dan ia diculik? bhuahahahaha!" Changmin kembali tertawa sampai matanya berair.

Jungkook jadi jengkel begitupun Zuho. Mereka merasa dipermainkan.

"Maaf, Tuan Shim! Tapi kami tidak sedang bercanda!" Bentak Zuho yang refleks bangkit dari duduknya.

Changmin berhenti tertawa, kemudian menatap Zuho yang berdiri dengan wajah menantang.

"Kau bilang tak sedang bercanda? kau fikir aku bodoh? aku tanya, siapa yang mau menculik seorang pria berumur delapan belas tahun? hyungmu itu terlalu tua untuk di eksploitasi!" Ucap Changmin sinis.

"Tapi aku benar-benar! Wonu hyung memang diculik!" Jungkook memelas.

Changmin menyandarkan punggungnya. Ia sudah berkali-kali menghadapi kasus begini. Dan berkali-kali pula ia ditipu oleh anak-anak iseng.

"Sudahlah. Pulang sana. Ini sudah larut malam. Sebaiknya kalian pulang, dan istirahat di rumah. Orang tua kalian pasti mencari." Ucap Changmin remeh.

"Ta-tapi, Wonu hyung!"

"Pulang! Dan berhentilah membuat laporan iseng begini!"

.

.

.

.

Jungkook menarik napas lesu. Wajahnya menunduk. Ia kelihatan murung. Saat ini ia sedang duduk di depan sebuah mini market yang buka siang malam. Terduduk di salah satu kursi dengan canopy memayunginya. Jungkook mendongkak. Malam kelihatan cerah. Tapi ia benar-benar merasa hancur. Rasa bersalah merayap kian lama menelannya. ia tak sanggup begini. Jungkook merasa kalau lebih baik dia yang bersama para penjahat itu. Karena ini semua murni kesalahannya. Salahnya percaya pada orang yang baru sebulan dikenalnya. Jungkook menangis. Ia tak menyangkan Kim Taehyung ternyata seorang bajingan.

Sebuah cup regular kopi tersodor didepannya. Jungkook menoleh dengan wajah lesu. Zuho duduk didepannya.

"Minum dulu." Ucap pemuda pirang itu. Jungkook terdiam. Zuho kelihatan lebih tenang dari dirinya. Padahal saat dikantor polisi, Zuho yang dengan geram membentak polisi itu.

"H-hyung. . . kenapa polisi itu tak mau percaya?" Tanya Jungkook putus asa.

Zuho menatap langit, menerawang. "Entahlah. Mungkin karena kita hanya bocah ingusan. . ." Gumam Zuho mengambang.

Jungkook menunduk semakin dalam. "Wonu hyung, maafkan aku. . ." Dan ia kembali terisak.

Zuho iba karenanya. Diusapnya punggung Jungkook dengan sayang. Baginya, Jungkook sudah seperti adiknya sendiri.

"Wonu-ya, bagaimana aku harus menyelamatkanmu?" Gumam Zuho dalam hati. Mengingat Wonwoo yang dalam bahaya, hatinya sakit sekali.

.

.

.

.

Ruangan gelap itu terbuka. Membuat seberkas sinar masuk lewat pintu dan meneranginya. Seorang pria jangkung masuk sambil menggendong sesuatu. Membawanya masuk kedalam ruangan. Kemudian membaringkan sosok yang digendongnya keranjang.

Sosok yang setengah sadar itu menggeliat-geliat. Peluh membanjiri tubuhnya. Ketika pria jangkung itu hendak berbalik pergi, sebuah tangan menariknya.

"Ja-jangan pergi. . ." Ucap sosok itu dengan rintihan pelan.

"Shits! Kau minta dimakan!"

Mingyu mendorong tubuh Wonwoo, dan kemudian menindihnya. Dengan gerakan kasar di raihnya pergelangan tangan putih pucat itu, mengikatnya keatas dengan ikat pinggangnya.

"Shh-shakith. . ." Rintih Wonwoo, menggeliat tak nyaman. Tubuhnya banjir peluh.

Mingyu tak peduli. Dilumatnya bibir tipis itu, mengulumnya kasar. Sementara tangannya melucuti pakaian sosok yang terikat itu.

"Argh!" Wonwoo mengerang, taring Mingyu yang panjang mengigit lehernya, menimbulkan berkas keunguan berlumur liur.

Mingyu menyeringai, lidahnya mulai menyusuri leher putih didepannya. Menciuminya, sesekali menghisapnya kuat. Menimbulkan berkas merah keunguan disana-sini. Sementara Wonwoo terus menggeliat karena suhu tubuhnya yang semakin memanas.

"Argh~ yasshhhh. . . eungh. . ." Lenguhan panjang mulai terdengar, membuat permainan mereka kian erotis.

Mingyu menurunkan lidahnya sampai kedada Wonwoo. Mengulum tonjolan kecokelatan disana. Sementara tangan kirinya memelintir nipple yang lain. Bibirnya mulai mengulum benda kecil itu. Membuat Wonwoo menggelinjang.

"Anghh. . hen-tihhkannh. . . eungh~" Rengek Wonwoo, air matanya merembes membasahi pipinya. Tubuhnya terasa begitu panas. Birahinya sudah naik keubun-ubun

Mingyu menurunkan lidahnya, menelusuri tiap lekuk kulit putih mulus itu, melumurinya dengan ludahnya. Terus turun, sampai lidahnya terhenti didepan gundukan yang masih terbalut sehelai kain. Mingyu menyeringai, kemudian ia bangkit. Tangannya yang panjang meraih sesuatu dari dalam laci nakas. Mengeluarkannya. Wonwoo menoleh, dan terbelalak saat mendapati benda yang digenggam Mingyu. Cambuk, silet, dan benda-benda yang asing bagi Wonwoo.

"Ughh~" Rintih Wonwoo saat tiba-tiba Mingyu kembali menindihnya.

Mingyu memasang sebuah nipple sucker di kedua nipple Wonwoo. Membuat sosok bersurai hitam itu meringis kesakitan.

"Lepashh-kan. . . shhakith. . ." Rintih Wonwo, air matanya semakin deras.

"Lepas?" Ulang Mingyu, kemudian menggeleng tegas dengan sebuah seringai iblis. Mingyu merobek celana dalam Wonwoo, lalu melempar kain itu kesembarang tempat.

Jari-jarinya yang panjang mulai bergerak mengelus dan mengurut junior Wonwoo, mengocoknya berirama. Membuat tubuh kurus itu semakin menggelinjang tak nyaman. Suhu ruangan naik, mereka berlumur keringat. Napas memburu terdengar bersahutan, silih berganti dengan desahan dan erangan.

"Argh!"

"Akh! S-sshakit!" Lagi-lagi Wonwoo mengerang saat ia hendak mencapai klimaks. Tiba-tiba saja Mingyu menghentikan kocokannya. Dan memasang cockring diujung junior itu. Membuat Wonwoo merasakan mulas yang luar biasa melilit diperutnya.

"Sebentar, sayang~ kita bahkan baru foreplay." Mingyu mengembangkan kembali seringaiannya. Wonwoo bergidik ngeri antara sadar dan tak sadar.

Perlahan, Mingyu melucuti pakaiannya sendiri. Melepas seluruh helaian kain ditubuhnya, tanpa tersisa satupun. Hingga Wonwoo bisa melihat tubuhnya secara utuh. Wonwoo berpaling, saat matanya menangkap sesuatu yang berdiri tegak di antara kaki Mingyu. Sesuatu yang jauh lebih besar dari miliknya, kecokelatan dan tampak kekar. Wonwoo merinding karenanya. Mingyu benar-benar terlihat seperti monster yang siap melahapnya.

Mingyu menarik dagu Wonwoo sampai pemuda itu terduduk, kemudian membungkukkan paksa tubuh kurus itu, menghadap juniornya.

"Suck it!" Perintah Mingyu tajam, Wonwoo terbelalak mendengarnya. Susah payah ditelannya ludahnya. Menggeleng pelan.

"Tak mau? baiklah, aku akan membuatmu mau melakukannya." MIngyu menaikkan sebelah alisnya, kemudian membuka paksa mulut Wonwoo. Menyodokkan juniornya kedalam mulut mungil pemuda itu.

Wonwoo tersedak. ia serasa mulas diperutnya mulai bercampur mual. Junior Mingyu menghentak-hentak didalam mulutnya. Dan Wonwoo benar-benar tersiksa. Sementara Mingyu justru mendongak, sambil menggerakkan pinggulnya maju mundur. Menghentak-hentak juniornya didalam mulut Wonwoo.

"Sssh~ yasshhh. . " Mingyu mendesah kenikmatan. Tak perduli Wonwoo yang sudah menangis deras didepannya.

Pria berambut biru itu mempercepat gerakan maju mundurnya, membuat juniornya semakin melesak kedalam mulut pemuda manis itu. Juniornya berkedut dan menebal didalam sana. Wonwoo merasa semakin mual.

"Argh!" Mingyu klimaks. Cairannya menyembur didalam mulut Wonwoo dan bahkan meluber keluar. Antara sadar dan tak sadar, Wonwoo menelannya dengan paksa.

Mingyu menyeringai. Didorongnya kasar tubuh kurus Wonwoo kekasur. Kemudian membalikkannya, menaikkan sedikit pinggul kecil itu, membuatnya menungging. Satu persatu Mingyu melepas nipple sucker dan cockring di tubuh Wonwoo. Kemudian dengan gerakan tak terduga menghentak kejantanannya kedalam hole Wonwoo.

"Argh! Sakit! Keluarkan!" Teriak Wonwoo tertahan. Mingyu membungkam mulutnya, memasukkan jari-jarinya yang panjang kedalam mulut Wonwoo. Memegangi pinggul pemuda itu. Kemudian mulai bergerak maju mundur.

"Argh~"

"Akh! akh! akh!" Wonwoo mengerang beberapa kali. Tumbukan milik MIngyu dilubangnya benar-benar kasar. Air matanya kembali merembes turun.

Mingyu melepas pegangannya di mulut Wonwoo, kemudian menggapai sesuatu dari meja disebelahnya.

Ctar! ctar!

Mingyu mulai mencambuki punggung Wonwoo.

"Sakith! Kumohon hentikan!" Rintih Wonwoo. Tapi Mingyu benar-benar tuli, dia hanya terus mendesah sambil memaju mundurkan pinggulnya.

Mingyu meraih tubuh Wonwoo, melempar cambuknya entah kemana. Ia sudah terlanjur gila. Entah kenapa tubuh Wonwoo bagai candu untuknya. Didudukkannya Wonwoo dipangkuannya, mengangkat kaki kiri Wonwoo kepundaknya, dan kembali menghajar lubangnya.

"Akh! akh! akh!"

"Eungh~~"

"Argh!"

Geraman, erangan, desahan, rintihan, dan segala macam bunyi kenikmatan mereka beradu diudara. Membuat ruangan itu dipenuhi suara erotis dengan suhu yang terus memanas.

Mingyu kembali klimaks, kali ini bersamaan dengan Wonwoo. Tubuh pemuda putih itu lemas, tapi Mingyu memaksanya untuk ronde berikutnya.

Wonwoo tanpa sadar memeluk Mingyu erat. Kakinya melingkari pinggang Mingyu, sementara Mingyu terus menghentak kejantanannya didalam sana. Tubuh mereka menempel, kulit mereka saling bergesekkan. Sementara ranjang berdecit nyaring.

"Kim-Minhgyuhh~ ssihh. . . cukuph. .. eungh~" Erang Wonwoo lemas. Tenaganya sudah habis.

Mingyu tak peduli, dia tetap menghentak kejantanannya didalam sana. Merasakan dengan jelas urat-uratnya bergesekkan dengan lubang Wonwoo yang sempit.

Dalam beberapa hentakan, Mingyu klimaks. Dan dia meluberkan cairannya didalam sana. Milik Wonwoo juga ikut-ikutan mengeluarkan cairannya, hingga tubuh mereka lengket oleh cairan putih kental itu.

BRUK!

Wonwoo ambruk tak sadarkan diri. Ini pengalaman pertamanya, dan benar-benar pengalaman yang buruk. Mingyu menyeringai. Merebahkan tubuh Wonwoo dikasur, kemudian ikut terbaring. menyelimuti tubuh mereka dengan selimut. Menyalakan pendingin ruangan. Dan mulai memejamkan mata.

"Tidurlah, Jeon Wonwoo."

.

.

.

.

Tanpa MIngyu sadari, pintu kamar itu terbuka setengahnya. Membuat siapapun yang lewat bisa melihat jelas apa yang terjadi didalam. Dan salah satu dari 'siapapun' itu adalah Minki. Pemuda pirang itu tengah menyusuri koridor menuju kamarnya setelah minum susu. Dan, langkahnya terhenti ketika melintasi kamar itu. Matanya melihat jelas apa yang terjadi didalam sana. Tubuhnya menegang. Dan langkah berikutnya, Minki ambruk sambil memeluk lututnya. Menangis dalam diam tanpa sepengetahuan siapapun.

.

.

.

.

To be continued OR END/?

Review please

Note: Ya ampun. Apdet telat banget. Maap ya. Sibuk banget sumpah. -,-