"Ibu? Dia memanggilmu 'Ibu'?"

"Kalena Om Naluto minta dipanggil Ayah sama Haluki?"

"Aku… merindukanmu."

"Kita masih pacaran kan?"

"Sepertinya putri bosmu suka padamu."

"Haluki mau tidul sama Ayah sama Ibu! Haluki nggak mau di sebelah Haluki ada yang kosong!"

Selanjutnya, Sakura tak menyangka. Ia merasa begitu berdosa. Membohongi dua pria sekaligus dalam sehari. Di satu sisi ia menjadi kekasih salah seorang di antara mereka, namun di sisi lain, ia merasa seperti menjadi seorang istri dari salah satu di antara mereka.


Penyejuk Musim

Naruto © Kishimoto Masashi

'This is SasuSakuNaru's fiction'

.

.

.


3# Gugur: Ketidaktahuan

Autumn: Ignorance


Sebulan telah berlalu. Waktu yang cukup lama untuk menyembunyikan sebuah kebohongan, bukan?

Sakura tahu dirinya salah, sangat salah. Namun ia juga sudah terlanjur melakukan kesalahan itu, dan tak tahu harus bagaimana lagi. Ia tak mungkin mengulang kembali semuanya dari nol. Ia juga bukan wanita supernatural yang bisa mengulang waktu—atau paling tidak, hanya memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan di masa lalu dengan kembali ke masa di mana kesalahan itu dibuat.

Sakura memang belum resmi menjadi istri dari Uchiha Sasuke. Tapi tinggal serumah dengannya dan terlebih ia juga telah memiliki anak dari pria itu, membuat Sakura merasa berselingkuh karena hubungannya dengan Naruto.

Jika Sakura bertanya-tanya sendiri perihal perasaannya, ia masih saja dilema. Sakura merasa dirinya telah mempermainkan dua pria sekaligus—walaupun sesungguhnya ia tak bermaksud seperti itu. Ia tak ingin Naruto tak menjauh darinya, namun ia juga menginginkan Sasuke berada di dekatnya. Naruto adalah cinta pertamanya, dan Sasuke adalah ayah dari anaknya sekaligus saudaranya. Kedua orang itu memiliki tempat dan jabatan yang berbeda dalam hatinya. Tak bisa ia pungkiri, ia menyayangi mereka berdua dan tak ingin bila keduanya terluka.

Ah, tahukah kau Sakura? Dengan ketidakterusteranganmu ini justru bisa membuat mereka berdua terluka nantinya?

Sakura melangkah lesu sambil membawa nampan makanannya. Ia tengah beristirahat siang di kantin rumah sakit. Menyembunyikan kebohongan besar selama sebulan ini bukanlah perkara yang mudah.

"Sakura, kaukah itu?"

"Hn?" Sakura menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Di sana ia mendapati seorang perempuan seumurannya berdiri mematung. Rambut kuning keemasan yang panjang menjuntai indah. Poni yang sedikit panjang menutupi bagian mata sebelah kanan. Tak perlu jarum untuk berputar-putar lagi lebih jauh, Sakura bisa langsung mengingat siapa dia. "Ino?"

Yamanaka Ino sebenarnya ingin sekali berteriak kegirangan saat itu juga. Namun, perasaan bahagia itu ia tekan sedalam mungkin mengingat tempatnya berada adalah tempat umum. Tanpa meminta izin, Ino langsung duduk berhadapan dengan Sakura. "Ya ampun, kau seorang dokter?"

"Seperti yang terlihat."

Ino memandang Sakura takjub. Masih dalam proses tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Ino bertanya, "Bagaimana kabarmu?"

"Aku… baik-baik saja. Kau?"

"Sama." Ino menatap mata Sakura agak lama. Sungguh sepasang mata yang sangat ia rindukan. Dan mata hijau itu, entah mengapa ia merasa tak ada perbedaan di dalamnya. Masih seredup dulu. Masih terlihat seperti mata yang menahan banyak sekali kesedihan seperti dulu. Tiba-tiba saja, ingatan Ino melayang ke kejadian enam tahun lalu. Pandangannya pada Sakura langsung berubah. Dari tatapan penuh kekaguman, menjadi tatapan penuh rasa penyesalan. "Sakura… Sasuke telah menceritakan semuanya padaku. Hanya aku yang diceritakannya mengenai dirimu, dan juga apa yang telah ia lakukan padamu malam itu."

Sakura terkesiap mendengarnya. Saking kagetnya, terdengar dentingan garpu terjatuh di atas meja, tak sengaja bagi ia untuk menjatuhkannya. Ia membelalak ke Ino. Tak ada perubahan berarti di iris hijau itu. Namun Ino tahu, Sakura tengah menahan tangisnya. "I-Ino… kau—"

Ino memalingkan wajah. "Pasti… aku sahabatmu yang paling buruk ya…?" desah Ino penuh rasa penyesalan. "Selama menjadi sahabatmu, aku tak tahu apa yang kaurasakan, tak peduli akan masalahmu, hanya membesarkan keegoisanku. Padahal, kau… selalu berusaha menyenangkanku…."

Hening sejenak. Kedua sahabat lama itu saling hanyut dalam pemikiran masing-masing. Saling menahan diri untuk tidak berkata tentang sesuatu yang bisa menyakiti satu sama lain.

Sakura menunduk. "Kau tak salah," katanya. "Semua itu terjadi, karena Tuhan memang menghendakinya."

Alis pirang itu terangkat karena pemiliknya heran.

Sakura tersenyum lebar. "Aku sudah memaafkannya, bahkan saat ia melakukan hal itu padaku."

"Sakura—"

Tiba-tiba saja suara dering ponsel Sakura mengacaukan pendengaran—merusak pembicaraan. "Maaf, sebentar." Sakura menghindar agak jauh, kemudian mulai mengangkat teleponnya. Tak tahu apa yang dibicarakannya—dan dengan siapa juga.

Denyut berlebihan di jantungnya tidak juga berhenti. Ino memegangi dadanya sendiri. Memandang Sakura dan menyesali tentang perubahan yang ditangkapnya. Ino merasa ia seperti tak mengenal Sakura. Gadis itu tak seceria dulu, tak sehangat dulu. Ino merasa ada jarak di antara mereka.

Mungkin 'hal' itu yang membuat Sakura berubah? Yang membuat Sakura hancur?

Ino mengerjap saat Sakura menoleh padanya. Wajah si merah muda itu terlihat panik. Matanya menyiratkan kekhawatiran. Ekspresi yang mengutarakan tentang keterdesakan. "Aku harus pergi, Ino. Lain kali saja kita bahas pembicaraan ini!" Dengan tergesa-gesa, Sakura mengambil dompetnya. Ia berlari begitu cepat, dan membuat Ino penasaran.

"Apa… tentang Sasuke?"

Makanan yang baru saja diambil Sakura tak dihiraukan. Ditinggal begitu saja di meja makan. Karena berpikir pasti ada sesuatu—atau mungkin seseorang—yang mendesak Sakura tadi, dengan cepat Ino berusaha menyusul sahabatnya.

Sakura berlari ke arah rumah sakit. Setelah bertanya-tanya pada resepsionis, dirinya langsung melaju menuju sebuah ruangan. Ruang pasien di rumah sakit itu. Di sanalah Sakura bertemu dengan seorang laki-laki yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun. Mereka berbincang-bincang sebentar, lalu Sakura masuk ke dalam ruangan. Ino yang mengikuti pun tak bisa maju lebih jauh. Barulah saat pria tadi ikut masuk, Ino bisa leluasa untuk mengintip dari luar.

Dilihatnya Sakura tengah membelai rambut seorang anak kecil laki-laki yang terbaring lemah di atas ranjang pasien. Tatapan hijaunya lebih redup dari sebelumnya. Tatapan itu… penuh kasih sayang… sungguh bukan tatapan seorang gadis pada umumnya.

"Dia tak pernah menunjukkan tanda-tanda sakit. Atau mungkin aku kurang memperhatikannya ya?" tutur Sakura kecewa pada dirinya sendiri.

"Dia hanya terlalu lelah. Ah iya, sepertinya dia menyimpan sebuah beban yang seharusnya tak dipikirkan seorang anak kecil sepertinya. Itu membuat pikirannya agak kacau dan berujung pada kesehatannya yang memburuk," sahut Dokter Kabuto.

"Beban?" gumam Sakura bingung. Ia menatap Haruki yang tengah dibelainya dengan iba. Apa yang dipikirkan anak sekecil ini sampai membuatnya jatuh sakit?—batin Sakura nyeri.

"I…bu?" panggil Haruki lemah. Irisnya yang bulat seperti permata emerald mulai terlihat. Kepalanya menengok kesana kemari. "Haruki di mana?"

"Kau di rumah sakit. Tadi Guru Iruka menemukan Haruki jatuh di sekolah," jawab sang ibunda. "Kenapa bisa sampai seperti itu?"

Haruki tak menjawab, ia hanya menggelengkan kepala. Wajahnya yang putih terlihat pucat. Rasanya miris mengingat Haruki adalah anak kecil yang penuh semangat, kini tengah terbaring lemah di rumah sakit.

"Wah, sekarang Haruki sudah bisa berkata 'r' ya?" ujar Kabuto, berusaha membuat Haruki semangat.

Haruki mengangkat wajahnya, lalu tersipu-sipu. "Hehe…," cengirnya ringan. Tentu saja ia ingat Dokter Kabuto. Dokter Kabuto adalah dokter anak-anak yang menyenangkan. Dulu, Sasuke pernah membawanya untuk periksa di Dokter Kabuto.

"Haruki kan cepat belajar ya," sahut Sakura sambil mencubit pipi anaknya. Haruki semakin tersipu, lalu bangkit dari tidurannya dan memeluk Sakura erat.

"Haruki kangen sama Ibu… Haruki juga ingin ketemu Ayah…," pintanya manja.

"Haha, tenang saja. Nanti Ayah akan datang," jawab Sakura sambil membelai punggung Haruki.

Ino menutup mulutnya. Ia salah lihat? Tidak mungkin. Ia salah dengar? Rasanya telinganya tak pernah bermasalah. Lalu yang dilihatnya ini apa? Kenyataan? Atau hanya mimipikah?

Sakura memeluk seorang anak kecil yang memanggilnya 'Ibu'. Seorang anak kecil yang rambutnya begitu mirip… dengan seseorang….

"Astaga…." Ino tak mampu menahan air matanya yang jatuh mengalir. "Bagaimana mungkin?" isaknya pelan, sambil menjauh dari depan ruangan itu. Meski bukan ia yang terlibat, tapi hatinya ikut sakit. Sakura… sahabatnya… ketika malam itu… jadi…?

"Bodoh! Bodoh!" Ino mengumpat pada dirinya sendiri. Kenapa Sakura begitu menderita? Ino tahu sekali, Sakura sangat menyayangi Naruto, rasanya mustahil jika Sakura meninggalkan Naruto. Melihat anak itu, Ino bisa memperkirakan berapa usianya. Kalau dihitung-hitung, berarti Sakura memang mengandung enam tahun lalu. Anak yang mirip dengan Sasuke.

"Sasuke… kenapa kau begitu tega? Kau begitu jahat padanya…," geram Ino sakit hati. Rasanya sulit membayangkan jika ia berada di posisi Sakura. Hamil oleh seseorang yang selama ini menyiksanya, terlebih dia tinggal serumah dengannya. Yang paling tragis, Sakura dihamili orang yang tidak dicintainya, orang yang dianggapnya sebagai saudara.

Ino bersandar pada dinding, di dekat ruang tunggu. Ia tak henti-hentinya terisak. Wajahnya ia tutup dengan telapak tangan. Namun meski begitu, ia tetap menyadari siapa orang yang baru saja melewatinya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi yang berjalan tergesa-gesa. Rambutnya emo, sedikit berantakan pada bagian belakang kepala. Dan yang paling ia ingat, mata hitam tajamnya. Uchiha Sasuke.

0o0o0

"Udaranya dingin ya."

Ino memandang hampa ke arah luar jendela. Tangannya masih terdiam di atas sebuah koper dalam pangkuannya. Ia tengah melamun.

"Hei, Ino? Kau baik-baik saja? Kau mendengarkanku tidak sih?" gerutu Shimura Sai kesal. Apa sih yang terjadi? Setelah izin untuk pergi mencari udara segar, Ino kembali ke kamarnya sambil menangis. Sai meminta gadis itu untuk bercerita apa yang terjadi, tapi Ino hanya diam saja. Itu membuat Sai jadi gerah sendiri. "Baiklah, sepertinya sekarang kau yang sakit, tertular penyakit dariku."

Ino tak menyahut juga.

"Ino!" saking kesalnya, Sai menggoyang-goyangkan bahu Ino. Itu membuat Ino menjadi panik.

"A-ada apa? Ada apa?"

Sai berdecak lidah, ia menatap kekasihnya dengan serius. "Demi Tuhan, apa yang terjadi padamu Ino? Kau tak menyahut omonganku, kau terus saja melamun!"

"A-ah… maaf," desah Ino pelan, sambil menyingkirkan tangan Sai di bahunya.

"Kenapa? Kau bertemu dengan hantu rumah sakit?" gerutu Sai kesal.

Ino menggeleng. "Aku… bukan sahabat yang baik, Sai."

Sai mengangkat sebelah alisnya. Rasanya sudah lama Ino tidak mengungkit-ungkit soal 'persahabatan'. Pertama kali Sai bertemu gadis itu… benar, keadaannya seperti ini. Sering melamun, dan itu membuatnya bisa melukis gadis cantik itu diam-diam tanpa ketahuan. "Ada apa? Kau bertemu dengan 'Sakura'?" kata Sai dengan nada penuh simpati. Ia duduk di sebelah Ino. Perlahan tangannya menuntun kepala Ino untuk bersandar di bahunya.

Ino tak langsung menjawab. Awalnya ia diam, lalu lambat laun mulai terisak. "Ya… dia adalah dokter di sini."

"He? Lalu kenapa kau menangis? Bukankah seharusnya kau senang? Ada apa? Dia berubah ya?"

Ino menggeleng-geleng. "Dia… masih sama seperti Sakura yang dulu… bahkan… kehidupannya jauh lebih sulit dari yang dulu…. Aku tak tega mengingatnya… hiks."

Yang bisa Sai lakukan hanya membelai punggung Ino dengan lembut. Membiarkan cairan-cairan asin membasahi bahunya. Mendengarkan dengan seksama tangisan gadis yang sangat dicintainya itu. Tangisan yang begitu pilu.

Ino dan Sai bertemu di universitas. Sejak bertemu Ino, Sai sudah memandang penuh minat pada gadis itu. Baginya, Ino begitu misterius sehingga membuat Sai sangat tertarik. Ino adalah orang yang ceria, namun ada kalanya Sai memergoki gadis itu tengah melamun, bahkan menangis. Ketika sedang melamun, Sai selalu mencuri-curi kesempatan untuk melukisnya tanpa disadari Ino. Setiap hasil goresan kuasnya yang sudah jadi, akan selalu Sai berikan pada Ino secara diam-diam. Awalnya Ino begitu bingung, siapa orang iseng yang selalu mengiriminya lukisan dirinya. Namun ia juga begitu terharu. Terlebih dalam lukisan itu selalu dicantumkan kata-kata penyemangat untuk membuatnya tak bersedih. Lambat laun, sudah menjadi kebiasaannya untuk menunggu lukisan dirinya datang. Ia menunggu itu, seperti menunggu surat.

Selama dua bulan Sai selalu mengirimi Ino lukisannya diam-diam. Ino pun semakin tak bisa menahan diri. Ia menyelidiki siapa pengirim lukisan dirinya. Namun tak perlu waktu lama, Sai datang dengan sendirinya. Pria itu tak bisa menahan perasaannya yang semakin hari semakin jadi. Yang tak disangka, ternyata Ino juga sudah menaruh perhatiannya pada Sai sejak awal. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih dalam.

Setelah berhubungan sebagai seorang kekasih, Ino tak pernah enggan untuk menceritakan masalahnya. Ino selalu bercerita mengenai sahabat baiknya. Mengapa ia begitu murung selama ini adalah karena ia selalu menyesali diri karena tak bisa menahan sahabatnya pergi. Sai memaklumi itu. Lambat laun, ia jadi tahu kalau Ino begitu menyayangi sahabatnya. Ternyata dengan menumpahkan isi hatinya pada Sai, bisa membuat Ino menjadi lebih lega. Setelah itu Ino selalu bersemangat untuk menjadi orang sukses. Dibantu Sai yang mengirimkan beberapa lukisannya ke agen model, akhirnya Ino berhasil menjadi orang sukses. Sai pun begitu, lukisannya mengenai Ino dan juga ilustrasi mengenai persahabatan—yang kebanyakan terinspirasi dari cerita Ino—telah membuat dunia seni lukisan menjadi geger. Dalam sekejap, Sai menjadi terkenal dengan karya-karyanya yang begitu menakjubkan.

"Kau tahu? Sejak dulu aku selalu ingin bertemu dengan sahabat terbaikmu sepanjang masa itu," ungkap Sai. Ino sudah sedikit lebih tenang. Gadis itu masih menyandarkan kepalanya di bahu Sai, dan membiarkan Sai mengelus-elus rambutnya lembut.

Ino tersenyum kecil. "Mungkin, aku bisa mengenalkannya padamu ketika nanti aku bertemu dengannya lagi," sahut Ino. Dan setelah aku meminta penjelasan mengenai statusnya sebagai seorang ibu, tambah Ino dalam hati.

"Ah, aku jadi tidak sabar."

"Haha," Ino tertawa kecil. "Jangan terlalu bersemangat begitu. Kau kan orangnya sangat aneh, masa terlalu bersemangat bisa sakit?"

"Huh, tukang ngejek." Sai menjewer kedua belah pipi Ino sampai gadis itu mengaduh kesakitan. "Aku hanya ingin mempersiapkannya sebaik mungkin. Yang penting, sekarang aku sudah sembuh," ujar Sai membela dirinya sendiri. "Oh iya, bagaimana kalau kau memperkenalkannya padaku ketika pameran nanti?" usul Sai.

Ya, alasan mengapa Sai sampai jatuh sakit adalah karena dirinya terlalu bersemangat mempersiapkan segala sesuatunya untuk sebuah Pameran Foto dan Lukisan yang disponsori Dinas Kesenian. Tentu saja begitu, Sai adalah ketua panitianya. Saking bersemangatnya, Sai sampai lembur dan hampir setiap malam ia begadang. Ia ingin mempersiapkannya sesempurna mungkin—mengingat ini adalah Pameran Foto dan Lukisan terbesar tahun ini—dan membuat Sai melupakan kesehatannya. Pria itu terlalu lelah, dan tanpa sadar itu berpengaruh buruk pada kesehatannya.

Ino mengusap dagunya dan menimbang-nimbang. "Baiklah, doakan saja aku agar bisa bertemu dengannya lagi sebelum pameran dimulai."

"Huh, gampang, kan? Dia kan bekerja di sini."

0o0o0

Malam ini gerimis mengguyur Konoha. Dan lagi-lagi, kursi itu kosong. Kursi yang biasanya selalu ditempati oleh seseorang, sekarang kosong.

"Hei, Suigetsu, apa kau merasa kalau Sasuke mulai aneh?" tanya Karin sambil menopang dagunya di atas meja.

"Mana kutahu, aku tak pernah memperhatikannya, dan aku tak peduli. Yang penting aku mendapat gaji," sahut Suigetsu, ia tetap berkutat di depan komputernya. Menggerakkan jemarinya di atas keyboard sambil sesekali melirik ke arah kertas di atas meja sebelah komputernya.

"Aku selalu memperhatikannya, " bisik Karin. "Aku merasa… selama sebulan ini ia berubah. Dia jadi gampang mengeluarkan ekspresi. Terkadang terlihat begitu bahagia, kadang-kadang terlihat cemas," gumam Karin. Ia mengetuk-ngetukkan pensil di kepalanya. "Dan dia juga sering pulang cepat, malah sering membatalkan rapat ketika mendapat telepon entah dari siapa." Karin diam sejenak. Lalu ia menatap Suigetsu yang duduk tak jauh dari tempatnya. "Hei Suigetsu, apa Sasuke sudah memiliki kekasih?"

Suigetsu mengangkat bahu. "Diamlah Karin. Aku sedang bekerja," sahut Suigetsu, dengan tatapan mengarah ke arah layar komputer. Ia mulai jenuh dengan celotehan Karin.

Karena kesal dengan sikap cuek Suigetsu, Karin pun melempar sebuah penghapus dan mengenai kepala pria penyuka air itu. Itu membuat Suigetsu naik darah.

"Kau punya masalah apa denganku, he?" bentak Suigetsu. Ia menatap Karin tajam.

"Kau sok cuek. Dengarkan curhatanku dong!"

Suigetsu memutar bola matanya. "Dasar perempuan. Curhat sana sama Juugo! Aku ini sedang kerja, mengerti?"

Karin melirik Juugo yang juga sedang sibuk dengan pekerjaannya. Ah, yang benar saja. Juugo itu hampir tak pernah bicara saat bekerja. Bisa-bisa ia merasa bicara dengan patung kalau curhat dengan Juugo.

"Tapi, semoga saja benar kalau Sasuke memiliki kekasih. Dengan begitu, kau pasti berhenti untuk mengejarnya. Kasihan Sasuke selalu dikejar perempuan setan sepertimu," komentar Suigetsu tanpa keraguan sedikitpun. Ia asal mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.

Karin mendelik. Dipelototinya Suigetsu dengan bengis. "Dasar penghianat! Apa itu yang namanya teman? Harusnya kau mendukungku dong!"

"Yah… awalnya begitu. Tapi lama-lama aku capek juga. Sejak kuliah, kau selalu ragu-ragu untuk menyatakan perasaanmu. Terlalu lama untuk menunda, bodoh. Kalau Sasuke sudah jadi milik orang lain, jangan menyesal ya."

Karin menunduk. Ucapan Suigetsu begitu mengena di hatinya. "Bukan begitu…. Kau tahu sendiri kan Sasuke orangnya seperti apa? Dia tak pernah menampakkan perasaannya, orangnya terlalu cuek. Aku takut… kalau ternyata dia tidak suka padaku… aku tidak bisa bersahabat dengannya lagi…," keluh Karin frustasi.

"Kau terlalu pesimis. Kau kan teman wanita satu-satunya Sasuke di universitas! Percaya diri sajalah! Bisa saja Sasuke juga menyukaimu. Lihat saja, dia sampai menjadikanmu sekretarisnya kan? Pasti ada maksud tersembunyi di balik itu."

Karin merasakan jantungnya berguncang-guncang mendengar ucapan Suigetsu. Kalau dipikir-pikir… memang benar. Karin selalu merasa kalau Sasuke juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Mulai dari teman satu fakultas, lalu menjadi sahabat…. Ingat, Karin adalah satu-satunya teman wanita Sasuke di universitas! Dan juga, mungkin karena tak ingin berpisah terlalu cepat saat lulus, Sasuke menawarkan pekerjaan sebagai sekretaris padanya. Ah, mungkin saja Sasuke diam-diam memiliki maksud di balik semua itu! Ada udang di balik batu!

Melihat Karin menutup mulut dan terlihat sedang berpikir, membuat Suigetsu lega. Akhirnya ia bisa bekerja dengan tenang juga.

"Tapi bagaimana kalau benar Sasuke sudah punya pacaaar!" teriak Karin kemudian. Ia sampai menjambak rambutnya sendiri.

"Ha…ha…ha…!" Suigetsu tertawa kering. Saking kesalnya ia dengan suara Karin, Suigetsu sampai mematahkan pensilnya menjadi dua. "Berisik kau! Itu karena dia bosan menunggumu tahu!"

"Tapi, tapi, aku kan sudah sering menunjukkan tanda-tanda bahwa aku menyukainya! Harusnya ia menyadari itu! Kenapa harus menunggu aku yang mengatakannya?"

"Seharusnya kau tahu Sasuke orangnya tidak peka dan egois! Dia begitu sombong untuk berkata lebih dulu!" teriak Suigetsu.

Akhirnya, terjadi adu teriak-teriakan di ruangan itu selama sepuluh menit. Yang ajaib, hal itu sama sekali tidak mengganggu ketenangan Juugo yang sedang bekerja. Juugo menganggap teriakan-teriakan itu hanya angin lalu saja.

"Ah, sudahlah, aku capek! Padahal laki-laki, tapi kenapa kau begitu cerewet sih!" keluh Karin sambil menarik napasnya dalam-dalam. Ternyata melelahkan juga berdebat dengan Suigetsu.

"Lihat! Gara-gara kau aku jadi menelantarkan pekerjaanku! Waktu sangat berharga tahu! Dan aku kehilangan waktuku sepuluh menit untuk pulang lebih cepat! Dasar tidak berguna! Seharusnya sekretaris payah sepertimu dipecat saja!"

Karin memberikan tatapan membunuh pada Suigetsu, namun tak dihiraukan pria itu. "Huh, Sasuke takkan berani memecatku! Dia membutuhkanku tahu!"

Suigetsu merasakan urat-urat di kepalanya menegang saking kesalnya. Dasar perempuan, percaya diri di saat-saat begini, batinnya kesal. Ia melirik Karin yang tengah berpikir keras sambil memegangi kedua belah pipinya yang memerah. Huh, dasar perempuan!

Mungkin karena kejadian di kantornya itu, yang membuat Sasuke semalaman selalu bersin.

0o0o0

"HATSYUU!"

"Ah, kau bersin lagi," kata Sakura. Ia memandang cemas ke arah Sasuke yang tengah mengusap-ngusap hidungnya. "Kau sakit?" tentu saja Sakura cemas pada Sasuke. Dalam perjalanan dari rumah sakit menuju rumah, sudah beberapa kali Sasuke bersin. Bahkan saat sudah sampai di rumah, Sasuke juga bersin.

Sasuke menggeleng. Langkahnya terhenti sejenak, padahal sudah sampai di depan pintu rumah. Ia khawatir, namun bukan pada dirinya, tetapi lebih kepada Haruki yang tengah tertidur pulas dalam gendongannya. Ia takut suara bersinnya akan membangunkan Haruki, padahal Haruki sedang sakit. "Kau tak keberatan menggendong Haruki? Kupikir ia takkan nyaman bersamaku selama aku terus bersin."

Sakura memberikan payung yang ia gunakan untuk memayungi mereka kepada Sasuke. Lalu Sakura mengulurkan tangannya dan mengambil Haruki dari gendongan Sasuke dengan hati-hati. Sasuke pun memencet bel rumah.

Pintu terbuka, dan muncullah Itachi dari dalam. "Kudengar Haruki sakit, ya?" tanya Itachi segera. Melihat tubuh lemas Haruki dalam gendongan Sakura, membuat Itachi cemas. "Ya ampun, ternyata benar."

"Iya, tapi kurasa Sasuke juga sakit," kata Sakura. "Ia bersin-bersin terus," tambahnya.

Sasuke memalingkan wajah. Ia malu, wajahnya memerah. "Masuklah, di luar dingin." Ia mempersilakan Sakura dan Haruki untuk masuk lebih dahulu. "HATSYUU!"

Itachi menutup mulutnya. Ia menahan tawa melihat ekspresi Sasuke saat bersin. "Kau sih, ini kan gerimis. Cepat masuk!"

Sasuke tak berkata apa-apa dan menurut.

Setelah menutup pintu, Itachi cepat-cepat mengampiri adiknya. "Kenapa tidak dirawat saja di rumah sakit?"

"Siapa?"

"Tentu saja Haruki. Mana mungkin kau, kau kan hanya bersin saja."

"Oh." Sasuke melepas jasnya. "Haruki merengek minta ke rumah."

"Oh…." Itachi mengangguk-angguk mengerti. Lalu senyum jahil terpatri di bibir tipisnya. "Ah, kau pasti senang sekali ya? Saking senangnya, sampai bersin-bersin."

"Apa maksudmu?" Sasuke memandang Itachi bingung.

"Halah, pura-pura. Biasanya kalau sudah seperti ini kan Haruki pasti selalu minta tidur denganmu dan Sakura, hihihi," kekeh Itachi.

Sasuke mengerutkan dahi. Pipinya bersemu merah. Namun, emosinya tetap terjaga. "Kapan Ayah dan Ibu pulang?" tanya Sasuke mengalihkan pembicaraan. Oh, jujur saja. Ia tak suka digoda seperti ini—terlebih oleh kakaknya yang jahil dan iseng ini.

"Mungkin seminggu lagi," jawab Itachi. "Biasalah, mengenang masa muda mungkin."

"Oh, baguslah. Sebaiknya jangan beritahu apapun tentang Haruki yang sakit," kata Sasuke sebelum akhirnya dengan buru-buru ia naik ke atas tangga dan menyisakan Itachi yang terkikik-kikik di bawah.

Seperti kata Itachi. Ketika Haruki bangun, ia langsung mencari-cari ayahnya ketika hanya mendapati Sakura yang sedang menungguinya. Sakura pun segera memanggil Sasuke. Dan malam itu, Haruki terlihat begitu bahagia karena bisa tidur dengan orang tuanya.

Sejujurnya, Sasuke agak enggan kalau malam ini ia harus tidur dengan Haruki—tentu saja dengan Sakura juga. Hal itu dikarenakan…

"HATCHIIY!" begitu memasuki kamar Haruki, Sasuke langsung bersin. Hal itu membuatnya kembali keluar kamar.

"Ayah bersin-bersin!" Haruki melompat dari tempat tidurnya. Ia memandang ayahnya terkaget-kaget.

"Karena itu, Ayah tak bisa tidur denganmu malam ini. Kau tidur dengan Ibu saja ya?" tawar Sasuke.

Haruki menggeleng—pertanda ia menolak. "Nggak mau! Biarin aja Ayah bersin, Haruki juga lagi sakit!"

Sasuke menutup pintu, lalu menghampiri Haruki. "Kasihan ibumu dong, dia kan tidak sakit, nanti ketularan kita," bisik Sasuke.

"Ibu kan dokter, Ayah minta diobati saja sama Ibu!" usul Haruki.

Ekspresi Sasuke menegang. Ia menatap Sakura yang kebetulan saat itu juga tengah menatapnya. Lama kedua insan itu terdiam sampai kemudian Sakura tersenyum manis.

0o0o0

Sasuke menidurkan dirinya di sebelah kiri Haruki. Kepalanya terasa pusing, mungkin memang benar apa yang dikatakan Sakura : ia akan terserang flu. Dan sekarang Sakura tengah mengambilkannya obat.

Tangan Sasuke bergerak untuk membelai rambut Haruki yang benar-benar mirip dengan rambutnya. Pasti akan sangat menyenangkan kalau saja statusnya sebagai ayah bagi Haruki sudah sah secara hukum.

Saat tengah asyik membelai rambut anaknya, Sasuke dikejutkan oleh suara ponsel Sakura. Ponsel itu meraung-raung minta diangkat, bergetar-getar di atas meja di samping kanan ranjang. Awalnya Sasuke ragu untuk mengambilnya, bagaimanapun juga Sasuke tak berhak mengangkatnya karena itu privasi bagi Sakura. Tapi, ponsel itu terus berbunyi meski Sasuke diamkan—harusnya kan yang menelepon tahu diri kalau orang yang diteleponnya tidak ada. Dan Sasuke tak suka itu. Bisa saja suara ponsel itu membuat Haruki bangun.

Sasuke menurunkan tubuhnya dan berjalan menuju ponsel Sakura. Belum sempat Sasuke mengambilnya—Sasuke baru menyentuhnya sedikit—tiba-tiba pintu kamar terbuka.

"Sasuke?"

"Ah." Sasuke menoleh ke arah Sakura yang datang sambil membawa nampan berisi segelas air putih dan beberapa tablet obat. "Ada telepon untukmu." Sasuke mengambil ponsel Sakura, dan mengulurkan tangannya ke arah Sakura.

Sakura melebarkan mata. Buru-buru ia menaruh nampannya di meja dan meraih ponselnya.

"Tenang saja. Aku tak sempat melihat siapa yang menelepon."

Sakura menatap Sasuke dengan dahi berkerut dan raut wajah cemas. Ia segera memeluk ponselnya yang baru saja ia matikan.

"Kenapa dimatikan? Barangkali penting," tegur Sasuke. Ia mengambil segelas air yang baru saja dibawa Sakura dan mengambil obatnya.

Sementara Sakura, ia berdiri mematung. Setelah mencoba menghilangkan gemetaran di tubuhnya, Sakura pun menyahut ringan. "Tadi keburu mati, mungkin nanti akan menelepon lagi."

Selesai meneguk obatnya, Sasuke menoleh ke arah Sakura. "Oh."

Sakura tersenyum kecut. Tapi benar, belum ada lima detik, ponselnya kembali berbunyi. Sakura pun segera mengangkatnya. "Moshi-moshi—" Sakura menatap Sasuke yang juga tengah menatapnya. "Ah, Haruki sudah lumayan kondisinya."

"Dari Dokter Kabuto?"

Sakura mengangguk. Sambil menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya, ia mengambil nampan yang tadi berisi segelas air dan obat untuk Sasuke. "Biar aku yang membawanya lagi. Kau tidur saja." Sakura tersenyum kecil pada Sasuke sebelum ia keluar kamar dan buru-buru berlari menuju dapur.

Sementara itu, seseorang yang berada di ujung sana terheran-heran. "Apa maksudmu? Aku tak mengerti."

"Ah, maaf. Kukira kau Dokter Kabuto. Habis, Haruki sedang sakit. Biasanya Dokter Kabuto ingin tahu tentang keadaannya," jawab Sakura dengan suara sepelan mungkin.

Naruto mengerutkan dahinya bingung, walaupun Sakura pasti tidak akan tahu itu. "Dasar. Cek dulu dong siapa yang menelepon sebelum mengangkatnya."

"Iya, lain kali aku akan hati-hati. Oh iya, kan sudah kubilang kau jangan meneleponku malam ini. Aku harus menjaga Haruki. Ayah dan Ibu sedang di luar kota."

"Ah, iya, iya. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu yang kelupaan. Kalau tidak kuberitahu secepat mungkin, nanti aku malah keburu lupa."

"Apa?"

"Hm, sebentar lagi akan ada Pameran Foto dan Lukisan yang disponsori Dinas Kesenian. Aku ingin kau—"

"Ah, begitu, sudah ya. Haruki memanggilku. Oyasumi," kata Sakura cepat-cepat. Ia segera mematikan ponselnya. Sakura merasa ada yang datang mendekat ke arahnya.

"Sakura? Sedang apa kau?" tanya Itachi yang baru saja masuk ke dapur. Ia langsung membuka kulkas dan mengambil sekaleng soda dari sana.

"Ah, aku sedang menaruh nampan. Tadi Sasuke baru minum obat," jawab Sakura agak gugup.

"Oh." Itachi mengangguk-angguk. Ia segera meneguk minumannya. "Tadi kau sedang menelepon?"

"Ah, iya."

"Dengan siapa?"

"Dokter Kabuto. Dia bertanya tentang Haruki."

Sekali lagi Itachi hanya mengangguk-angguk sambil bergumam 'Oh' dengan panjang. "Kalau begitu, kau tidurlah. Ini sudah malam."

Sakura mengangguk. Setelah mencuci gelas, ia segera naik ke atas. Namun, ia tidak segera masuk ke kamar Haruki. Ia berdiri sambil menunduk di depan kamar.

Bagaimanapun juga, Sakura tak bisa menjamin perkataan Sasuke tadi jujur atau tidak. Yang Sakura takutkan adalah kalau Sasuke berbohong—padahal Sasuke tahu kalau telepon tadi dari Naruto.

Sakura menggigit bibirnya. Ia begitu merasa takut dan merasa bersalah. Kenapa ini jadi semakin rumit? Sudah saatnyakah bagi ia untuk berterus terang? Tapi, kepada siapa ia harus berterus terang? Naruto? Sasuke?

Ya Tuhan, bodohnya aku ini, rutuk Sakura pada dirinya sendiri. Mau tidak mau, Sakura berusaha untuk mempercayai kata-kata Sasuke bahwa Sasuke tak tahu siapa yang menelepon Sakura. Ya, mencoba percaya pada Sasuke—meski ada kemungkinan kebohongan pada perkataannya.

Sakura membuka pintu. Sasuke sudah tertidur. Sakura mendekat pada pria itu. Melihat wajah Sasuke, Sakura jadi semakin merasa bersalah. Wajah Sasuke ketika tidur begitu inosen, seperti manusia tak berdosa. Wajahnya juga begitu tampan, membuat rona kemerahan muncul dan mewarnai pipi Sakura dengan sendirinya.

Tak tahu apa yang ada di pikirannya, Sakura mengecup dahi Sasuke. Namun, begitu sadar dengan apa yang dilakukannya, ia segera menarik diri. Dipegang bibirnya malu. Aduh, apa sih yang kupikirkan? batinnya malu-malu. Sambil memegang pipinya yang semakin memanas, Sakura mematikan lampu lalu segera merebahkan dirinya di samping kanan Haruki.

Sasuke membuka matanya dalam kegelapan ruangan. Perlahan, tangannya menyentuh dahi. Ia tersenyum kecil.

Memang tidak mungkin ya. Mungkin karena kepalaku sedang pusing, aku jadi salah lihat—batin Sasuke.

Entah mengapa, ia merasa begitu senang—tak menyangka Sakura akan mengecup dahinya diam-diam. Malam itu, Sasuke pun melupakan apa yang jadi beban pikirannya sejak Sakura mengangkat telepon tadi. Dalam hati, ia terus bergumam : Tidak mungkin. Tidak mungkin Naruto yang menelepon Sakura. Aku pasti salah lihat. Dia 'Kabuto', bukan 'Naruto'.

Bersambung


A/N

Konnichiwa…

Hoshi Yamashita di sini! :D

Chap 3: done.

Mungkin memang ceritanya ngebosenin ya? Maaf kalau begitu. Saya hanya ingin membuat cerita yang tidak terlalu terburu-buru dan mengalir begitu saja. Mungkin saya ingin membuat pembaca berpikir, 'Eh, sudah sampai sini toh.' Tapi kayaknya nggak terlalu berhasil *pundung*

Banyak yang bilang kalau di fic ini Sakura jahat. Waduh, kok bisa sih? Bukannya itu manusiawi? Cinta seseorang nggak bisa dipaksakan kan? Bukan salah Sakura juga masih suka sama Naruto XD Yang jelas, saya nggak menonjolkan siapa yang jahat siapa yang baik. Saya membuat plot ceritanya mirip dengan kehidupan sehari-hari (nggak ada yang terlalu jahat dan nggak ada yang terlalu baik)

Ya… semoga pemikiran saya dapat diterima #plak

Ya sudahlah, balasan review! (yg login check PM kecuali buat momijy-kun yg entah kenapa nggak bisa saya kirimi PM )

HikariNdychan: Waduh, mau bagaimana lagi, ceritanya memang begitu mungkin memang kebanyakan orang sukanya sama Sakura yg jadi cewek baik ya XD Puncak konfliknya… um, belum dihitung-hitung sih… hehe. Tapi mungkin nggak lama lagi :3 Ini sudah update kok :D RnR lagi?

Cynee: Salam kenal. Lagi-lagi ada yang nggak suka karakter Saku di sini *pundung* Sakura kan manusia biasa, pasti juga setiap manusia punya sisi jahat dan baik kan? Masa Sakura bakal selamanya jadi anak baik? XD anyway, thanks for the review, RnR lagi?

hanae mizuna: Hehe… ya begitulah… tapi Sakura ibu sayang anak kok Ini sudah update, RnR lagi?

WinterCherry: Waah, senang deh tergerak untuk review fic ini XD *peluk* Tentang kapan sadarnya Naruto, suatu hari pasti dia akan tahu kok, :D makanya, ikuti terus yaaaa #plak. Ini sudah update. RnR?

Kikyo Fujikazu: Makasih hehe, iya tuh, Sakura tukang boong *dishannaro* Ini sudah update. RnR?

SS: Tapi mungkin kalo Itachi yang punya anak, anaknya lebih pinter #dor. Makasih ya atas reviewnya… RnR lagi?

hannyhutri: Umm… ini updatenya nggak lama kan? *gigit jari* RnR lagi?

Fivani-chan: Waah, saya jadi kepikiran pas baca review kamu XD apa Sakura nanti dibikin galau terus cemburu berat ke Sasu ya? =..=a RnR lagi?

me: Ini sudah update (gak tau kilat apa nggak, soalnya nggak pernah ngukur kecepatannya kilat XD) RnR lagi?

Aoi Ciel: Salam kenal Ciel-san! :D (berasa manggil Ciel di Kuroshitsuji =_=) Eh, nggak dapet ya? Saya memang nggak pandai dalam membuat pembaca mendapat feel ceritanya, hiks. Hehe, makasih banyaaak! Ini sudah update, RnR?

momijy-kun: Makasih atas reviewnyaaa *nangisharu* ya, semoga aja Sasukke nggak terlalu menderita XD soalnya kalo saya lagi pengin, dia bakal saya buat semenderita orang kesurupan (?) *dichidori* Ini sudah update, makasih atas cake coklatnya yaaa Xd RnR lagi?

Terima kasih juga kepada:

Gracia De Mouis Lucheta, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Sindi 'Kucing Pink, RUKI's marrionette, Karasu Uchiha, momijy-kun, YuuKina ScarJou, Soraka Menashi, tomatcerry, Nishikido Inori

Sekali lagi, kepada semuanya, thaaaaaanks!

Sebenernya, saya nggak berharap ada silent reader di sini. Kalau kalian baca, paling tidak berikanlah saya masukan untuk fic ini, karena saya sangat membutuhkan itu untuk memperbaiki kekurangan saya. Dan juga, agar saya mengenal siapa saja yang telah membaca cerita saya XD

So, review?

.

.

.

If you do, thanks a looot!

Love,

Yamashita