Huruf bercetak tebal = Flashback
Bocah berkulit tan itu menghentikan langkahnya saat ia sampai di tempat dimana ia meninggalkan sahabatnya.
"Woon-ie..." lirihnya memanggilkan sahabatnya itu. Bocah itu, menoleh ke sekelilingnya untuk mencari dimana sahabatnya itu berada. Kedua matanya memincing saat ia melihat sosok yang sangat familiar padanya tengah berjalan menunduk di tengah jalan raya. Dengan cepat, ia berlari menyusul sahabatnya itu. Terlebih ia melihat situasi jalan yang begitu ramai dan berbagai kendaraan yang melaju, banyak yang tiba-tiba menghindari bocah malang itu agar terhindar dari tabrakan.
"Woon-ie..." panggil bocah tan itu, berusaha menjangkau sahabatnya. Namun, tiba-tiba saja ia terlonjak saat melihat sebuah mobil yang melaju kencang tak jauh dari tempat dimana sahabatnya itu berada tengah meraih sebuah benda yang memang sedari tadi ia kejar.
"Woon-ie..." bocah tan itu kembali memekik dan berlari sekencang mungkin menuju ke tempat dimana sahabatnya berdiri.
CIIIT!
BRAK!
Bocah tan itu, mendorong tubuh sahabatnya menjauh dimana lajur mobil yang awalnya mengarah padanya. Sehingga, hal tak terduga terjadi. Aliran darah mulai keluar dari tubuh mungilnya.
"Woon-ie..." lirihnya dengan suara tercekat. Sedangkan sahabat yang ditolongnya itu, tubuhnya seketika bergetar hebat ketika melihat tubuh tak berdaya sahabat tannya yang sudah dipenuhi oleh darah.
"Yeon-ie—hiks!" ia mendekati tubuh sahabatnya yang sudah dikerumuni banyak orang. "Yeon-ie! Buka matamu—hiks!" isaknya memeluk tubuh sahabat mungilnya yang sudah menutup kedua matanya. "Yeon-ie! Yeon-ie!" ia mengguncangkan tubuh sahabatnya berharap ia segera membuka kedua matanya.
"Aigoo! Kita harus membawanya ke rumah sakit!" ujar salah seorang ahjumma.
"Nde, ayo bawa dia!" orang berbondong-bondong membawa tubuh bocah tan itu yang sudah berlumuran banyak darah.
"Yeon-ie—hiks!"
PUK!
Wonshik menepuk bahu Taekwoon dengan keras.
"Menangislah hyung—" ujar Wonshik menenangkan, membuat Taekwoon semakin terisak. Justru, kini Taekwoon sampai menjatuhkan dirinya di atas trotoar dan menangis sejadi-jadinya. Tak memperdulikan jika banyak orang yang memperhatikannya, yang Taekwoon ingin hanya menumpahkan beban yang selama ini mengganggu hatinya. Wonshik menatap iba punggung hyungnya yang bergetar itu. Wonshik mengelus punggung Taekwoon perlahan bermaksud untuk menenangkan hati hyungnya itu.
"Yeon-ie! Yeon-ie! Hiks!" isak Taekwoon benar-benar kacau.
"Hyung gwenchana?" tanya Wonshik cemas.
"Hiks! Seharusnya—hiks—seharusnya aku yang disana—hiks—seharusnya—tidak kau—tidak kau yang terluka—Yeon-ie, mianhae! Jeongmall mianhae, aku sangat mencintaimu! Aku sangat merindukanmu! Kembalilah, Yeon-ie—hiks!"
"Hyung! Kau tidak boleh seperti ini! Aku tahu hyung! Hakyeon hyung sudah berubah, tapi itu bukan kesalahanmu! Kejadian itu kecelakaan!" ujar Wonshik kembali berusaha untuk menenangkan.
"Aku tidak bisa menahannya Wonshik-ah! Aku tidak bisa menahannya!" ujar Taekwoon semakin kacau membuat Wonshik semakin panik dibuatnya.
"Hyung—aigoo! Aku harus bagaimana?" Wonshik mengacak rambutnya frustasi.
"Hyung—"
"Hakyeon?" gumam Taekwoon memotong ucapan Wonshik, Taekwoon mencoba untuk berdiri. Kedua matanya menatap lurus seorang namja yang berdiri diam di seberang jalan menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Wonshik mengikuti arah pandang Taekwoon, kedua matanya memincing sempurna saat ia melihat seorang namja yang juga di pandang Taekwoon dalam diam. Wonshik menggelengkan kepalanya, jujur saja ia juga merindukan seseorang di depan sana. Meskipun ia tahu, dia sangat membenci mereka semua termasuk dirinya tapi ia juga tahu sebenarnya dia sangat menyayangi mereka semua yang sudah ia anggap sebagai dongsaeng-nya sendiri. Taekwoon meneguk ludahnya gusar. Dengan langkah cepat ia menyeberangi jalan yang ia tahu peringatan lampunya sudah berubah menjadi hijau.
"Hyung! Yak! Apa yang kau lakukan?" pekik Wonshik, baru saja ia akan mengejar namun sebuah tangan mencegahnya. Wonshik menoleh dan mendapati seorang namja tampan berdimple tengah tersenyum padanya.
"Biarkan saja, Shik-ah!" ujarnya.
"Hongbin? Sejak kapan kau disini?" tanya Wonshik tidak paham. "Kau tidak lihat? Taekwoon hyung—"
"Tentu saja aku tidak buta, kau diam saja disini! Dan, nikmati pertunjukannya!" Hongbin menyeringai yang membuat Wonshik semakin tidak habis pikir.
"Inikah, rencanamu? Kau ingin melihat Taekwoon hyung tertabrak? Dan mati di depanmu dan Hakyeon hyung? Kau tahu, kau benar-benar manusia seperti iblis—" Hongbin membalikkan tubuh Wonshik dengan paksa.
"Aku sudah bilang, kau diam saja! Dan, nikmati saja pertunjukannya!" potong Hongbin menatap lurus punggung Taekwoon yang berhasil menyeberangi jalan raya meskipun banyak kendaraan yang mengarah padanya.
Taekwoon berjalan cepat menghampiri namja yang berdiri diam di depannya.
"Ku mohon, jangan lari!" gumam Taekwoon.
GRAP!
Dengan gerakan cepat, Taekwoon meraih tubuh mungil ora di depannya itu dan langsung memeluknya. Seketika, ia kembali terisak.
"Woon-ie—"
"Nde, bogoshipoyo Yeon-ie!" ujar Taekwoon, kedua bahunya bergetar. Hakyeon—namja yang Taekwoon peluk itu—mengelus punggung Taekwoon dengan penuh kasih sayang.
"Mianhae, jeongmal mianhae!" bahkan, Hakyeon pun ikut terisak dan membalas pelukan Taekwoon. Wonshik dan Hongbin yang melihat interaksi kedua hyungnya itu seketika tersenyum miris.
"Dan, manusia seperti iblis itu juga adalah temanmu!" Hongbin melanjutkan ucapan Wonshik tanpa menatapnya. Wonshik tertegun, ia menundukkan kepalanya. Sungguh, ia tak habis pikir dengan peristiwa di depannya ini.
"Hongbin-ah, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Wonshik.
"Aku hanya butuh waktu 13 jam untuk kembali seperti semula!" jawab Hongbin penuh teka-teki.
"Maksudmu?" tanya Wonshik masih tidak mengerti.
"Aku sudah katakan padamu, kau cukup perhatikan pertunjukannya saja selagi kau bisa!" Hongbin berlalu meninggalkan Wonshik begitu saja.
"Yak! Lee Hongbin!" Hongbin hanya melambaikan tangannya dan tak mengindahkan panggilan Wonshik sedikitpun.
"Aku hanya butuh waktu 13 jam untuk kembali seperti semula!" Wonshik kembali teringang ucapan Hongbin.
"13 jam?" gumam Wonshik, ia berbalik dan menatap kembali seberang jalan yang sekarang sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana.
"Hakyeon hyung? Taekwoon hyung?" lirihnya semakin bingung, saat melihat kedua hyungnya sudah tidak ada di tempat. Wonshik mengambil ponselnya yang berada di dalam saku mantelnya dan mendial nomor seseorang.
"Yeobosseo?" panggil Wonshik saat panggilannnya dijawab oleh orang di seberang sana.
"..."
"Nde, Hyuk-ah! Apa tadi Hongbin bertemu denganmu?" tanya Wonshik to the point.
"..."
"Dimana? Jam berapa?"
"..."
"Ani, jawab saja pertanyaanku!"
"..."
"Apakah bersama Hakyeon hyung?"
"..."
"Jinjjayo? Nde, aku akan kesana sekarang! Jangan lupa juga hubungi Jaehwan hyung!"
"..."
"Nde, Hyuk-ah!"
Wonshik menutup sambungannya dan bergegas menuju tempat yang sudah ia janjikan dengan orang yang ia hubungi tadi. Wonshik berlari dan mencari taksi yang kebetulan lewat di dekat tempatnya saat ini. Wonshik mencegat sebuah taksi yang kebetulan tak jauh melintas di dekatnya.
"Antar aku ke Star Cafe, pak!" ujar Wonshik cepat. Sang sopir hanya mengangguk dan mengantar Wonshik ke tempat yang ia tuju.
.
.
.
"Ada apa hyung?" tanya Hyuk yang melihat Hongbin sedari tadi tersenyum tampan pada benda mati di tangannya. Hongbin menoleh dan tersenyum tulus pada Hyuk, membuat Hyuk mengeryit dan tidak mengerti dengan perilaku hyung yang diam-diam sebenarnya ia kagumi itu.
"Aniya Hyuk-ah! Hakyeon hyung akan kemari—tidak apa-apa kan?" tanya Hongbin. Hyuk berfikir sejenak kemudian mengangguk. Hongbin kembali meletakkan ponselnya di atas kursi di mana ia juga menaruh mantelnya. Hongbin berjalan mendekati Hyuk yang tengah memeriksa mesin mobil Jaehwan setelah ia memastikan tidak ada kerusakan lain selain piston-nya.
"Hyung, bolehkan aku bertanya?" tanya Hyuk, kedua matanya masih fokus memeriksa mesin mobil Jaehwan dan tidak menatap Hongbin yang berdiri di sampingnya sedikitpun.
"Hm, bertanyalah Hyuk!" ujar Hongbin yang ikut serta membantu memeriksa mesin mobil Jaehwan.
"Apa lagi yang akan kau rencanakan?" tanya Hyuk. Hongbin menghentikan aktifitasnya dan menatap Hyuk yang masih sibuk berkutat dengan isi mesin.
"Apa yang ku rencanakan? Apakah aku terdengar sejahat itu di mata-mu Hyuk-ah?" tanya Hongbin. Hyuk diam, dan menatap tangannya yang entah kenapa bergetar.
"Bukan begitu hyung hanya saja—"
"Nde, aku tahu!" potong Hongbin cepat. "Aku hanyalah anak yatim piatu yang hidup dengan belas kasihan dari kalian semua. Apa kau tidak tahu betapa malunya aku, yang hidup tergantung dengan orang lain?" lanjut Hongbin. Hyuk tetap diam di tempatnya dan tidak berniat untuk menatap Hongbin yang ia tahu Hongbin juga menatapnya. "Seharusnya aku benci padamu Hyuk-ah! Pada Wonshik, Jaehwan hyung, Taekwoon hyung bahkan Hakyeon hyung sendiri! Tapi aku tidak bisa—" Hongbin menunduk dan menarik nafasnya perlahan. "Aku tidak ingin kehilangan kalian. Tapi, aku juga ingin menghilangkan kalian dari hidupku. Andaikan kau tahu bagaimana perasaanku setiap hari-nya. Aku harus berperang melawan kebencian dan kasih sayang! Dan, aku tetap tersenyum meskipun kalian menuduhku melakukan rencana yang jahat untuk kalian!"
"Hyung, bukan itu maksudku hanya saja—"
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat kedua orang tua-mu yang meninggal di depan matamu dan itu karena orang tua sahabatmu. Dan aku akhirnya hanya hidup dengan maid kepercayaan eomma-ku yang akhirnya aku memanggilnya dengan sebutan 'eomma'? Aku bisa apa Hyuk? Jika tidak hanya benci? Katakan padaku Hyuk? Apa aku harus merenggut kedua orang tuamu seperti apa yang pernah appa-mu lakukan pada orang tuaku? Aku tidak sekeji itu! Dan, aku tidak sejahat itu membiarkan Jaehwan hyung atau Taekwoon hyung celaka dalam balapan ini! Karena, aku bukan orang pengecut seperti orang tua-mu!" Hongbin mengepalkan kedua tangannya, dan dapat Hyuk lihat dengan jelas. Hyuk mendongak dan menatap Hongbin yang menunduk dan terisak dalam diam.
"Hyung, mianhae! Aku—"
"Sudahlah, Hyuk-ah! Tidak perlu ada yang di bicarakan lagi. Lupakan saja pembicaraan kita barusan!" Hongbin mengusap kedua air matanya dan kembali berkutat dengan mesin mobil Jaehwan. Hyuk menatapnya iba. Jika boleh memilih, Hyuk juga tidak ingin memiliki orang tua pembunuh dan ia juga yakin hyung-nya yang lain juga tidak ingin memiliki orang tua seorang pembunuh. Hyuk kalut dengan pikirannya, ia tahu betul orang tua-nya maupun orang tua hyung-nya menjadi pembunuh satu sama lain dengan tujuan agar mereka bisa berkuasa dengan perusahaan yang mereka bangun bersama-sama di berbagai negara Asia. Tapi, haruskan dengan cara membunuh satu sama lain untuk menjadi pemenangnya? Hyuk mendongak saat ia menundukkan kepalanya dan melihat sekilas siluet seorang namja yang berdiri tak jauh di depannya.
"Hakyeon hyung?" lirih Hyuk yang membuat Hongbin ikut mengeryit dan menatap Hyuk kemudian mengikuti arah pandang Hyuk saat ia melihat Hyuk yang menatap lurus pada seorang namja manis yang baru saja datang di basement mereka.
"Kau sudah datang hyung? Sejak kapan?" tanya Hongbin menghampiri hyungnya itu. Hakyeon tersenyum.
"Sejak, kau dan Hyuk berbicara masa lalu!" jawab Hakyeon seraya berjalan menuju kursi yang kosong. "Hyung membawakan kalian makanan. Hyung tahu, kalian pasti lelah! Hyuk-ah, kau pasti belum makan kan? Aku tahu, kong ini pasti sangat pelit!" Hakyeon membuka bungkusan yang ia bawa dan mengeluarkannya satu persatu.
"Ani, hyung! Tadi, sore aku sudah membawakan Hyuk kimchi! Iya kan, Hyuk?" Hongbin beralih tersenyum pada Hyuk yang seolah-olah sebelumnya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Nde, Sung ahjumma memasakan kimchi yang sangat enak!" Hyuk tersenyum, lebih tepatnya terlihat seperti senyum paksaan. Hakyeon mengeryit saat melihat ada sesuatu yang janggal dari Hyuk.
"Hyuk-ah! Gwenchana, apa kau sakit?" tanya Hakyeon cemas, kedua bola matanya menyiratkan kekhawatiran. Hyuk tersenyum miris.
"Ani, hyung! Aku—aku hanya malu saja dengan kalian!" Hyuk menundukkan kepalanya. Hongbin melengos dan Hakyeon yang tiba-tiba bergerak mendekati Hyuk dan memeluknya menyalurkan kasih sayang antara seorang hyung dan dongsaengnya yang jarang ia berikan.
"Ani, Hyuk! Tidak ada yang boleh meminta maaf, dan memaafkan! Ini sudah takdirku dan Hongbin!" Hakyeon mengelus punggung Hyuk dengan penuh kasih sayang.
"Ani, hyung! Jika saja, takdir itu tidak dirubah oleh orang tuaku dan ahjussi lainnya! Kalian tidak akan seperti ini!"
"Hyuk-ah! Apa kau tahu, aku juga merasa bersalah pada Hongbin karena appa-ku juga hidupnya berubah. Kau tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini?" bisik Hakyeon tepat di telinga Hyuk bermaksud agar Hongbin tidak mendengarnya.
"T-tapi hyung—"
"Ah, aku lapar sekali. Hyung, Hyuk-ah apa kalian tidak lapar? Sudahlah acara pelukannya, jika kalian mengajukku itu tidak masalah. Tapi, kalian berpelukan di depanku dan mengabaikanku, aku kan jadi cemburu!" Hongbin mempoutkan bibirnya lucu. Hakyeon melepas pelukannya dengan Hyuk dan terkekeh kala ia melihat Hongbin yang seperti anak kecil itu.
"Aigoo, kau cemburu? Cemburu pada siapa?" tanya Hakyeon menatap tajam Hongbin.
"Eh!" Hongbin tersentak, kedua matanya bergerak gusar kemudian ia menggeleng. "Em, ani hyung!"
"Aish, hyung tahu maksudmu!" Hakyeon mencoba menggoda Hongbin yang tengah menahan malu di depan Hyuk.
"Hyung!" seru Hongbin benar-benar kesal dan membuat Hakyeon tertawa puas.
"Aish, sudahlah! Tadi, hyung bilang lapar? Aku juga lapar sekarang!" Hyuk menengahi Hakyeon dan Hongbin. Keduanya mengangguk dan ikut duduk di samping kiri dan kanan Hyuk.
"Cha, makanlah yang banyak!" Hakyeon membagi makanan yang ia bawa kepada dua namja tampan itu.
"Hyung tidak makan?" tanya Hyuk yang melihat Hakyeon tidak mengambil makanan yang masih tersisa di dalam kantong yang ia bawa. Hakyeon menggeleng dan tersenyum manis.
"Hyung sudah makan, dan hyung sudah kenyang melihatmu makan sekarang! Kalian harus makan yang banyak, arra?" jawab Hakyeon keduanya hanya mengangguk dengan mulut yang penuh dengan makanan sehingga membuat pipi keduanya menggembung bulat. Hakyeon menatap keduanya, seketika senyum miris ia kembangkan.
"Aku tidak akan menyakiti kalian. Apa pun yang terjadi, akan aku pastikan kalian tetap baik-baik saja meskipun aku harus tetap menjadi orang yang keji di depan kalian!"batin Hakyeon menunduk.
"Hyung, kau baik-baik saja?" tanya Hyuk yang memang sedari tadi memperhatikan Hakyeon. Hakyeon kembali tersenyum manis.
"Ani-Hyuk! Hyung, baik-baik saja!" balas Hakyeon yang mau tidak mau membuat Hyuk percaya dengan ucapannya. Hongbin menatap Hakyeon yang kembali menunduk.
"Apa lagi yang kau pikirkan hyung?"
.
.
.
"Ada apa hyung?" tanya Hongbin menarik tangan Hakyeon keluar basement dan menjauh dari Hyuk yang tengah membersihkan sisa-sisa makanan mereka.
"Apa yang kau lakukan Hongbin-ah? Kau bisa membuat Hyuk curiga!" ujar Hakyeon menepis tangan Hongbin.
"Mian, hyung! Tapi, aku tidak tahan melihatmu seperti menyimpan sesuatu seorang diri seperti ini. Tidak masalah bicara di dalam bagiku, tapi aku tahu kau pasti belum siap jika Hyuk mengetahui semuanya!" lanjut Hongbin "Jadi, ada apa hyung? Sampai kau berani kemari meskipun kau tahu Hyuk ada disini?" Hakyeon menarik nafasnya perlahan, kemudian ia tersenyum.
"Aku butuh waktu 13 jam mulai dari sekarang! 13 jam untuk mengenang masa kecilku. Mengenang kehidupanku yang sesungguhnya!" Hongbin memincingkan matanya bingung.
"Hyung, apa maksudmu?"
"Appa!" Hakyeon menatap Hongbin dengan wajah berbinar. "Appa akan pergi selama 3 tahun. Tapi, aku juga harus menepati janjiku padanya saat ia pergi sekalipun!"
"Lalu, 13 jam itu?"
"Aku ingin, appa-ku melihatnya!"
"Apa kau gila hyung!" seru Hongbin benar-benar keras, namun seketika itu ia langsung membungkam mulutnya.
"Lusa depan, appa akan berangkat! Aku ingin membebani pikirannya dengan kelakuan terakhirku! Aku yakin dia tidak akan fokus mengurus proyeknya yang berada di luar negeri itu!"
"Hyung, kau tak perlu melakukan itu! Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Cha ahjussi?"
"Memang itu yang aku rencanakan Hongbin-ah!" Hakyeon menunduk dan tersenyum kecil. "Aku juga ingin dia merasakan bagaimana rasanya hancur!"
"Hentikan hyung! Bisa saja, kau sendiri yang akan terluka!"
"Hongbin-ah! Jika bukan karena appa kau tidak akan kehilangan appa dan eomma-mu! Dan, karena appa—aku juga kehilangan eomma-ku..."
"Mwoya?" Hongbin membulatkan kedua matanya. "Apa yang kau bilang hyung?"
"Dia memperalatku Hongbin-ah! Karena dia dendam dengan semua ahjussi yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Dia mempergunakan nama eomma untuk menyuruhku menghancurkan kalian!"
"Hyung, apa yang kau katakan benar-benar di luar dugaan!" gumam Hongbin tidak habis pikir.
"Aku mohon padamu, Hongbin-ah! Jangan sampai ada yang mengetahui hal ini. Bagaimanapun juga dia adalah appa-ku. Apa yang dia lakukan adalah tanggung jawabku!"
"Lalu, bagaimana dengan rencana awal kita hyung?"
"Kita akan tetap melakukannya. Dan, kita juga tetap bersikap seperti biasanya!" ujar Hakyeon. Namun, tanpa mereka sadari ternyata ada seseorang yang memang dengan sengaja menguping pembicaraan mereka dari awal Hongbin menarik tangan Hakyeon jauh dari jangkauannya.
Wonshik dan Jaehwan membulatkan kedua mata mereka. Sesekali mereka saling berpandangan setelah mendengar apa yang baru saja Hyuk ceritakan.
"Kau tidak salah dengarkan, kan?" tanya Jaehwan memastikan. Hyuk menggeleng yakin.
"Ani hyung! Telingaku ini masih benar-benar sehat. Apa hyung pikir aku ini Wonshik hyung?" ejek Hyuk menyebalkan.
"Yak! Kau bilang apa bocah tak tahu diri?" ujar Wonshik menantang membuat Hyuk kembali terkekeh dengan puas.
"Aish, sudahlah candaan kalian yang tidak penting itu hanya akan memperkeruh suasana! Hyuk-ah, bagaimana Hakyeon hyung tahu kalau penyebab kematian eomma-nya adalah appa-nya sendiri?" tanya Jaehwan kembali ke topik utama mereka. Hyuk berfikir sejenak.
"Aku tidak tahu hyung! Tapi, yang jelas Hongbin hyung juga tidak tahu mengenai hal ini!" jawab Hyuk seraya menyeruput jus yang ia pesan.
"Aku yakin Hakyeon hyung maupun Hongbin menyimpan rahasia masing-masing dari kita semua!" gumam Wonshik menerka-nerka.
"Tapi, yang harus kita pikirkan adalah apa rencana mereka? Jika Hongbin saja tidak membiarkan aku maupun Taekwoon hyung mati saat balapan itu, jadi apa lagi rencana mereka?" tanya Jaehwan berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Nde, hyung! Itulah, yang aku pikirkan sekarang. Terlebih Hakyeon hyung meminta 13 jam untuk mengenang masa lalunya, dan ia sekarang pergi dengan Taekwoon hyung! Dan, juga ia mengatakan akan menghancurkan appa-nya bahkan Hongbin hyung juga sudah menghimbaunya untuk tidak melakukannya!" jelas Hyuk.
"Aish, dia tetap saja keras kepala! Bagaimana, jika terjadi apa-apa dengan Hakyeon hyung? Kenapa, dia suka sekali membahayakan diri sendiri?" tanya Wonshik.
"Tapi, aku rasa Hakyeon hyung tidak akan menghabiskan 13 jam-nya sepenuhnya bersama Taekwoon hyung!" tebak Jaehwan.
"Jinjjayo?" seru Hyuk dan Wonshik bersamaan.
"Eoh, itu-kan hanya perkiraanku saja!" lanjut Jaehwan yang membuat kedua namja di depannya menahan nafas kesalnya.
"Untung saja, kami menyayangimu hyung!" balas Wonshik. Jaehwan seketika menatapnya tajam.
"Lalu, ap—"
"Chakkaman!" potong Jaehwan yang tiba-tiba merasa terpanggil dengan getaran dari benda persegi di dalam saku mantelnya.
"Yeobosseo, Sandaeul-ah? Ada apa?" tanya Jaehwan menjawab panggilan dari ponselnya.
"..."
"Jinjjayo? Kau tidak bercanda-kan?"
"..."
"Eoh, eottokae? Aku harus bagaimana?" tanya Jaehwan yang tiba-tiba menampakkan ekspresi antara cemas dan senangnya.
"..."
"Hajiman—"
"..."
"Huft, kenapa kau memaksa sekali sih!" Jaehwan mempoutkan bibirnya lucu.
"..."
"Arraseo! Aku akan menjemputmu sekarang Sandeul-ah! Tunggu aku-nde!" Jaehwan menutup sambungannya dengan seseorang yang meneleponnya dari seberang sana.
"Ada apa hyung?" tanya Wonshik.
"Aku ada urusan dengan Sandeul! Aku pergi dulu-nde!" pamit Jaehwan berlalu tanpa menunggu jawaban dari kedua dongsaengnya.
"Memangnya ada apa dengan si Sandeul itu, apa bagusnya di bandingkan diriku!" gumam Wonshik yang entah kenapa kesal ditinggalkan Jaehwan begitu saja.
"Yak! Tentu saja Sandeul hyung banyak lebih baik darimu, hyung!" Hyuk kembali mengejek hyungnya itu membuat Wonshik dengan spontan memukul kepala Hyuk yang sudah tidak polos lagi.
.
.
.
.
.
.
"Hakyeon, gwenchana? Apa kau baik-baik saja?" tanya Taekwoon saat keduanya tengah duduk berhadapan dan selesai memesan makanan yang baru saja mereka pesan. Hakyeon mendongak seraya tersenyum manis dan menatap Taekwoon dengan kedua matanya yang berbinar.
"Jika saja, aku bisa melihatnya setiap hari! Merasakan kembali Hakyeon yang dulu. Hakyeon yang dulu hilang dan entah pergi kemana!" batin Taekwoon merasa tertegun dengan senyum Hakyeon yang tidak seperti biasanya.
"Eoh, waeyo? Kenapa kau bertanya seperti itu? Seharusnya, aku yang tanya padamu kenapa kau menangis di dekat lampu lalu lintas, hm? Apa kau tidak malu? Aish, jinjja aku sebagai temanmu saja merasa mau sekarang. Bagaimana ya, dengan Wonshik-ie dia kan tadi ada di dekatnya!" ujar Hakyeon dengan suara yang semakin lama semakin pelan. Seketika Taekwoon menahan rasa malunya, dan mencoba untuk mengambil sikap seolah ia biasa-biasa saja.
"Yak! Kenapa kau justru mengkhawatirkan Wonshik? Seharusnya, kau mengkhawatirkan aku!" balas Taekwoon. Hakyeon kembali tersenyum.
"Memangnya kenapa aku harus mengkhawatirkanmu tuan Jung?" pancing Hakyeon. "Apa karena kau baru saja menangis?" lanjutnya dengan seringai jahilnya.
"Yak! Cha Hakyeon!" Taekwoon benar-benar sangat malu sekarang, bahkan ia ingin rasanya membuat Hakyeon amnesia hanya karena kejadian memalukan itu. Hakyeon terkekeh.
"Aigoo, lihatlah uri Woon-ie sekarang! Bukankah dia sangat menggemaskan?" lanjut Hakyeon tanpa henti terus menggoda Taekwoon. Taekwoon menarik nafas pasrah. Kedua matanya menatap wajah manis namja yang berada di depannya itu. Hakyeon memincingkan matanya saat melihat Taekwoon yang kini diam saja justru memandangnya dengan seulas senyum menawan. "Eoh, ada apa Taekwoon?" tanya Hakyeon.
"Apa aku harus menangis seperti tadi, supaya kau bisa kembali menjadi Hakyeon yang dulu? Yang dulu, kami kenal!"
"Eh!" Hakyeon tersentak, ia membalas tatapan Taekwoon. "M-maksudmu?" yah, anggap saja Hakyeon sekarang anak yang polos, jujur saja sebenarnya ia juga paham apa yang dimaksud ucapan Taekwoon barusan. Tapi, bukan Hakyeon namanya jika setiap hidupnya tidak dalam ke-akting-an.
"Tak perlu aku menjelaskannya, aku tahu di dalam hatimu—kau paham apa maksudku Yeon-ie!" ujar Taekwoon. Hakyeon bungkam, kemudian ia berfikir sejenak.
"Nde, ini saatnya!" batin Hakyeon, ia mendongak dan menatap Taekwoon dengan senyum manisnya.
"Taekwoon-ah—bolehkan aku meminta tolong padamu?"
TBC
Hime Karuru: Hehe, jinjjayo eon? Nde, kamsahamnida udah baca dan ikutin terus ff ini. Nde, eon! Fighting!
Sky Onix: Iya, ini emang lebih ke friendship. Kenapa Hongbin ada di pihak Hakyeon? Mungkin di chap ini belum kejawab dengan jelas masih agak remang2, di chap berikutnya bakal di jelasin kenapanya sama apa yang terjadi sama appa-nya Hakyeon dan appa-appa mereka semua. Mian, kalau updatenya kurang kilat. Nde, kamsahamnida.
ChandleN: Nde, mian kalau masih bingung. Mungkin flashbacknya kurang panjang dan kelanjut ke chap 3. Nde, kamsahamnida.
NuyChan: Nde, udah dilanjut. Hehe, mian kalau sampai di chap ini masih belum jelas. Ikutin terus nde, di chap seterusnya pasti akan terkuak. Nde, fighting. Kamsahamnida.
Jika ada typo bertebaran, mohon maafkan author ini sebesar-besarnya. Saran, kritik, dll sangat diterima, and don't forget review after read. Follow and favourite to.
Thank you.
See you in next chapter...
Anyeong—
