Sepasang iris biru cerah itu menyembul pelan dari balik kelopak matanya. Gelap, dan hangat. Punggungnya yang menimpa futon di bawahnya terasa nyeri. Ia mengalihkan pandangannya kesekitarnya. Hanya ada dinding bebatuan dan sebuah meja kecil yang di hiasi lilin yang hampir sekarat. Selanjutnya ia menatap lengannya yang masih di lapisi oleh jaket putih tebalnya. Ia mencoba menarik tubuhnya duduk, dengan mengabaikan rasa nyeri di punggungnya.

"Kau sudah bangun rupanya" ucap seseorang yang menyembul di balik kegelapan. Matanya menatap seorang wanita yang menggunakan jubah bercorak awan merah itu dengan ngeri, "Salam kenal, Yamanaka"

Berakhir © LavenMick Amanda

Naruto © Masashi Kishimoto

Warn: abal, gaje, typo, semi-canon, ItaIno

.

N'Joy!

.

"Si-siapa kau?" tanya gadis beriris biru itu dengan takut. Yang ia tahu, bahwa perempuan yang mungkin dua belas tahun lebih tua darinya itu memakai jubah bercorak awan merah, yang melambangkan bahwa perempuan itu adalah salah satu anggota Akatsuki, dan itu merupakan hal buruk bagi keselamatan gadis bermanik biru tersebut karena Akatsuki adalah pembunuh yang menakutkan, pikirnya.

"Eh? Kau lupa?" tanya perempuan itu mengerutkan alis. Mata yang sewarna dengan karamel itu memandang gadis berambut blondie —Ino bingung. Ino yang menangkap pertanyaan perempuan berambut ungu itu menggali kembali ingatannya sebelum ia pingsan.

"Sekarang, pergilah dengan Konan. Pergilah dari Konoha."

"Oh jadi kau Konan?" tanya Ino memastikan. Perempuan dengan tindik dibawah bibir membentuk segaris tipis yang ramah, lalu mengangguk membenarkan ucapan Ino.

"Apa kau lapar? Kau sudah terlelap selama dua hari" ucap Konan memberi sebuah kotak kecil yang Ino tak ketahui apa isinya itu. Setelah Ino membuka tutup kotak itu, ternyata itu adalah makanan. Ino segera memakannya setalah mengucapkan terima kasih pada perempuan di depannya. Tak ia pungkiri bahwa ia memang kelaparan.

"Kurasa punggungmu nyeri, karena kemarin ada musuh yang menyerangmu. Untung kertasku menyelimutimu, jadi kau tak terluka parah" ujarnya. Ino menghabiskan bekal itu dengan cepat.

"Ya, kurasa tidak terlalu nyeri. Oh iya, terima kaih bekalnya ya, err... Konan-san" ucap Ino sedikit membungkuk. Konan mengangguk merespon Ino.

"Ngomong-ngomong Konan-san, kita ini dimana?" tanya Ino mengamati sekitarnya. Pengelihatannya hanya menangkap cahaya lilin yang kecil, lalu gelap. Konan pun mengganti lilin tersebut dengan lilin baru setelah membereskan bekal Ino tadi.

"Di tempat yang tidak bisa di lacak siapapun" ucap Konan. Ino mengangguk-angguk kecil sambil memegang ujung dagunya.

"Lalu Itachi-nii kenapa menyuruhku pergi bersama Konan-san?" tanya Ino lagi.

"..." Konan hanya tersenyum kecil, tak menjawab pertanyaan Ino. Ia pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan Ino sendirian.

.

Ini terjadi begitu cepat, bukan?

Biarlah kupendam sendiri emosi yang menyayat ini, biarlah.

.

Lima hari berlalu. Anak sulung dari Inoichi itu hanya termenung menatap aliran sungai kecil di depannya. Pengelihatannya menembus air bening itu, membentur bebatuan sebagai dasar sungai yang hanya tiga jengkal dalamnya. Konan —orang yang membawanya kesini membiarkannya keluar dari rumah tua yang mengekangnya selama beberapa hari yang lalu, tentunya tak lepas dari pengawasannya. Gadis yang mencelupkan pandangannya kedalam sungai sedang bertarung dengan pikirannya.

'Apa maksud Itachi-nii membawaku kesini? Apa ada sesuatu yang akan terjadi?'

Salju mulai turun dengan lebat. Ia juga memikirkan bagaimana bisa air itu tak membeku sementara salju hampir menutupi semua permukaan tanah. Butiran putih itu turun perlahan-lahan, terjun bebas kesungai yang mengalir itu. Beberapa terjun ke kepala Ino yang di lapisi tudung jaketnya. Ia hanya berjongkok di tepi sungai kecil yang mungkin lebarnya hanya kurang lebih dua meter itu. Sebuah tepukan di pundaknya menarik kesadarannya kembali.

"Di sini dingin. Ayo masuk." Ucapnya yang di ikuti oleh anggukan Ino. Namun beberapa langkah sebelum masuk, Konan berhenti memandangi sekitarnya. Matanya menjadi was-was terhadap pemandangan sekitarnya. Ia merubah sebagian lengan tubuhnya menjadi kertas dan menerbangkannya entah kemana. Tubuh yang masih utuh mendekati Ino, "Berhati-hatilah" ucapnya. Lalu ada sebuah tanaman yang Ino tak tahu apa namanya itu menyembul keluar dari permukaan tanah dan mekar, menampilkan sosok tubuh sebatas dada yang setengah tubuhnya berbeda warna.

"Sudah selesai, dia kalah" ucap orang itu. Sepertinya ia laki-laki, karena suaranya menggambarkan seperti itu. Konan mengangguk merespon sosok itu. Lalu ia mengguncupkan kelopak tumbuhan yang aneh dan berwarna hijau dan kembali masuk dalam tanah.

"Konan-san, dia siapa?" tanya Ino.

"Zetsu"

"Lalu yang kalah siapa?" tanya Ino lagi.

"..." kembali, Konan hanya menjawabnya dengan senyuman. Ia dan Konan kembali menapak masuk ke rumah tua yang tak terlalu jauh jaraknya. Setelah sampai dalam rumah, Konan mengunci pintunya. Ia berjalan ke dapur yang terhubung langsung dengan ruangan depan rumah itu. Hanya ada dua kamar tidur di situ, dan tak ada kamar mandi. Ino yang hanya duduk di depan ruangan itu hanya menatap gerak gerik perempuan itu. Sedetik selanjutnya, otak Ino langsung meraung-raung tengah terjebak pada situasi yang benar-benar membuatnya mati kaku ini. Ia pun memikirkan topik apa yang cocok untuk saat seperti ini.

"Ung, Konan-san, berapa lama perjalanan ke sini?" tanya Ino. Konan kembali dengan sepiring apel yang sudah di kulitinya, lalu duduk di depan Ino sambil menaruh piring tersebut.

"Empat hari" ujarnya sambil menyodorkan piring itu kepada Ino.

"Ehhh? Berarti tempat ini sangat jauh dari Konoha ya? Oh jangan-jangan kau menculikku?" tanya Ino histeris. Konan hanya tertawa kecil.

"Hahaha, tentu saja tidak, Ino. Itachi yang menyuruhku untuk membawamu" ucap Konan. Ino lalu mengambil apel yang sudah di potong kecil-kecil itu.

"Hm, Itachi-nii kenapa menyuruhmu membawaku kesini?" tanya Ino, lagi. Dan sama seperti sebelumnya, hanya senyuman lah yang di lontarkan Konan.

"Beberapa menit lagi teman-temanku akan sampai di sini. Jangan terkejut dengan penampilan mereka." Tutur Konan. Ino pun hanya bisa menelan air ludahnya dan kembali memakan potongan apel-apel itu. Hening terjadi di atmosfer mereka, hanya ada suara gigitan apel yang di makan Ino. Tak lama kemudian, apa yang di sampaikan Konan beberapa menit lalu memang benar. Dua orang datang kerumah itu mengetuk pintu yang terkunci. Setelah membuka pintu dan bercakap-cakap sebentar mereka pun masuk kedalam rumah tua itu. Ino yang melihat penampilan mereka pun tersedak dengan potongan apel terakhirnya. Penampilan mereka memang bukan penampilan biasa.

Ada dua pria di sana. Yang satu berambut oranye dengan tindikan di hidung dan mulutnya. Yang satu lagi sangat kurus dan berkeriput, serta rambutnya memutih. Mata mereka di hiasi oleh mata rinengan di sebelah kanan, dan mata hitam menyeluruh di sebelah kiri.

"Kenalkan Ino, mereka Yahiko dan Nagato" ucap Konan. Hanya berambut putih-lah yang tersenyum padanya.

"Aku Ino. Yamanaka Ino" ucap Ino tegak (dengan susah payah karena kakinya gemetar ketakutan) sambil membungkukkan badannya. Ino segera menepis rasa takut itu dengan tersenyum manis pada mereka berdua. Ino yakin, yang berambut oranye adalah Yahiko, dan yang –ehem-beruban-ehem- adalah Nagato.

"Besok kami akan pergi ketempat yang agak jauh dari sini. Kuharap kau bisa jaga dirimu" ucap Konan.

"Tidak ada yang menjagaku? Bagaimana kalau ada musuh?" tanya Ino takut-takut. Yahiko berjalan mendekati Ino dan menepuk kepala Ino.

"Kami sudah memasang pelindung di sini. Kami harap kau tetap berada di sini sampai kami pulang" ucap Yahiko. Dia tersenyum ramah dengan Ino, yang di beri senyum hanya melongo, antara terkejut dengan bingung bahwa orang di depannya sangat ramah. Benar kata pepatah, jangan melihat buku dari sampulnya.

"Tapi kalian akan kembali bukan?" tanya Ino. Kali ini Nagato-lah yang menyentil dahi Ino. Wajahnya yang berkeriput pun menampilkan senyum ramah pada Ino.

"Ya, namun kami tak berjanji." Ucap Konan dan Nagato bersamaan.

.

Selama masih ada cinta di bumi, maka kebencian masih tetap ada.

Dulu, itu lah yang kupikirkan jika mendengar cinta.

.

Dua bulan. Dan hari ini masuk hari pertama pada minggu ketiga ia di tinggal sendirian di sini. Sebenarnya sih sah-sah saja. Ia dapat membeli makanan yang ada di pasar tak jauh dari rumah tua ini (Konan meninggalkan uang untuknya), Ia juga berinteraksi dengan beberapa orang di pasar itu, dan juga akhir-akhir ini ada tiga orang anak yang selalu menemaninya di balik salju tebal ini. Ia –Yamanaka Ino dengan senang hati menyambut anak-anak tersebut. Anak-anak itu suka memainkan rambut Ino seharian, atau menyeret Ino ke sungai di depan rumahnya untuk bermain air yang sangat menusuk dinginnya itu. Banyak kegiatan yang mereka jalani. Terkadang Ino juga membantu orang tua anak-anak itu (yang sebenarnya anak-anak itu satu ayah, beda ibu) berdagang di pasar. Seperti saat ini, anak-anak itu tengah bermain-main di pinggir sungai.

"Onee-chan, ayo main sini!" ucap anak tiga anak perempuan berumuran tujuh tahun itu. Ino kembali tertawa bersama anak-anak itu. Sekilas, ekspresi bahagia anak-anak itu mengingatkannya pada masa kecilnya. Saat ia pertama kali bertemu Sasuke, dan juga Itachi.

Itachi.

Pria yang masih menjadi misteri terdalam kenapa pria itu mengasingkannya ke desa ini.

"Ah, Maki, Shoko, Takada, apa kalian tahu desa Konoha?" ujar Ino duduk di pinggir sungai itu.

"Desa Konoha ya? Tentu saja! Kami pernah kesana dulu. Tapi kudengar sedang ada perang di sana" apa? Perang?

"Iya. Kata Kaa-chan Shoko gitu. Tapi ga tahu benarnya."

Matanya membulat. Jantungnya berdentum dengan cepat. Tangannya bergetar. Otaknya jeniusnya bekerja dengan cepat. Tak salah lagi, Itachi mengasingkannya karena pemuda itu tak ingin Ino terlibat dalam perang itu. Ia tak ingin Ino terluka dalam peperangan itu. Dan yang paling penting...

...Uchiha Itachi tak ingin kehilangan Ino!

Dan, Oh! Demi Jahannam, bagaimana bisa Ino tak menyadari gelagat aneh Konan yang selalu tersenyum saat di tanyai kenapa Ino di bawa kesini, tiba-tiba dua teman Konan yang datang dan Konan yang pergi lama. Itu artinya Konan dan teman-temannya juga terlibat dalam perang itu! Dan juga, mereka yang juga menggunakan jubah akasuki! Tidak mungkin, kalau mereka bertarung, sudah dapat di pastikan Itachi juga ikut terlibat dalam peperangan itu. Konoha mempunyai jumlah ninja yang kuat, dan juga... Oh! Kalau Itachi ikut peperangan itu, Sasuke pasti mengetahuinya! Dan dia pasti akan terlibat dalam perang itu dan akan membalaskan dendamnya pada Itachi yang artinya... Salah satu dari mereka akan mati. Tidak, kemungkinan terbesarnya Itachi akan mati, karena Sasuke sudah jauh lebih kuat, di tambah ninja Konoha yang jumlahnya tidak sedikit.

Tak bisa. Ia tak bisa berdiam dan bersembunyi di sini. Ia tak bisa hanya diam tanpa membantu desanya yang sedang darurat. Ia tak bisa membiarkan Sasuke yang akan membunuh Itachi. Semuanya hanya kesalah pahaman Sasuke saja! Ia harus secepat mungkin ke Konoha! Harus!

"Ung, Nee-chan... Daijobou ka?" tanya Takada. Ino mengangguk tersenyum.

"Bisakah kalian kembali kerumah? Nee-chan mengantuk" ucap Ino. Lalu ketiga anak itu mengangguk mengerti dan pulang. Ino langsung berlari kedalam rumahnya dan mengambil jaket serta rok ungunya yang ia gunakan sebelum ia 'di-culik'. Kemudian ia membeli beberapa persenjataan di pasar dekat rumahnya, serta celana dan sepatu ninja. Setelah itu ia melesat pergi ke Konoha, dengan panduan peta yang tak lupa ia beli tadi. Ia mengikat rambutnya seperti biasa.

'Semoga belum terlambat'

.

—To be continue.

.

Bam Dum Tsss~

Satu chapter lagi meluncur dari fiksi 'Berakhir'! xD #ceritaMacamAfaIni?

Maafkan segala keterlambatan Laven minna #sujudGaje

Baiklah kita bales review non-login dan login! (biasanya Laven bales PM kalo yang login, namun berhubung sinyal ngajak ribut jadi di sini aja ya balasnya ^^)

Uchiha ulin : Inonya mau Laven culik :D #dibakar / Hua jangan dong, terlalu tjantik dijadiin tumbal :v #dipenggalIno / Makasii atas reviewnya, ulin-chan! ^^ (boleh manggil gitu?)

Kici: Iya ini sudah dilanjutin kok #pokpok :D / Makasii atas reviewnya minna ^^.

Lmlsn: iya minna! / Udah dong, di chapter satu Ino ada nongol tu perihal pembantaian Uchiha :D / Arigatou Reviewnya minna!

Andrea scathatch : Hehehe, maaf andrea-san, idenya maren belum nongol :D / Terimakasih atas ripiwnya

INOscent Cassiopeia : Hahaha iya minna. Semuanya sudah terjawab di chapter ini. / Terimakasih ripiwnya minna! ^^

Special Thank's for :

Semua pembaca, dan kamu yang belum menampakan diri.

Akhir kata, read and review?

Salam manis,

LavenMick Amanda