Cerita tentang Hyungseob dan pria bernama Woojin/"Kak Woojin!"/[Romance—maybe—/A lil' bit cheesy/Produce 101 S2]
"Woojin!"
Seruan seseorang dengan dimple di kedua pipinya membuat sang pemilik nama tersentak. Surai kehitaman sang pelontar suara beterbangan, mengindikasikan betapa kuatnya hembusan sang buana di area parkir outdoor kampus sore itu.
"Kenapa, Chan?" Ia bersuara. Tubuh kekar berbalut sweater rajut v-neck hitam dengan border line putih, dan riped jeans[1] hitam itu menghentikan aktifitasnya yang nyaris melingkupi kepala bersurai keabuan miliknya dengan helm full face. "Bukannya kamu harus kumpul sama Pak Jinyoung, ya?"
Pria dihadapannya meringis kecil. Berlembar partitur yang ada digenggamannya ia cengkeram erat, membuat Woojin yang bermarga Kim itu agaknya bisa menebak perihal sebab—musabab kenapa sang sahabat memanggilnya. "Ah, beliau belum nyerah juga ya nyuruh kamu buat maksa aku wakilin kampus di event Busan minggu depan." Jawabnya diiringi dengan tawa renyah yang membuat beberapa mahasiswa—yang kebetulan di dominasi wanita dan pria submisif—yang berlalu lalang disekitarnya mati-matian menahan pekikan gemas.
"Aku juga masih menyayangkan kenapa kamu nolak tawaran beliau, Jin." Chan—Bang Byung Chan—wakil ketua Klub Vocal memulai argumentasinya. "Kak Woozi aja yang biasanya cuek kelimpungan pas kamu jawab nggak buat tawaran itu."
Woojin kembali memuntahkan tawa. Berdeham kecil, sebelum kemudian menyugar surai cerahnya. Bibirnya mengulum senyum, membuat Chan terdiam sejenak. "Kamu tau, kan. Event pekan olahraga akan diadakan dalam waktu dekat. Aku bukannya nggak royal ke klub vokal, toh ada Kak Jaehwan dan yang lain kok yang lebih mumpuni. Ingat, Chan. Aku nggak mau 'orang itu' melampiaskan kemarahannya ke Hyungseob—lagi—sementara ia kesal sama aku."
Chan menghela napas. Ia sedikit demi sedikit mulai mengerti motif sang sahabat. Yeah, ia rela mengorbankan dirinya sebagai objek cibiran anak-anak Vocal yang lain daripada mengumpankan Hyungseob pada 'orang itu'. "Ya udah mau gimana lagi. Berarti aku bilang ke Pak Jinyoung dong kalau kamu fokus ke Kendo?"
Woojin mengangguk, sembari menatap wajah Chan dengan raut penuh penyesalan. "Maaf, ya. Katakanlah aku pecundang karena mencampur adukkan organisasi dengan urusan pribadi. Tapi mau bagaimana lagi.."
Chan mengangguk; mengiyakan. Ia berpikir bahwa kemungkinan besar jika dirinya ada di posisi Woojin, pasti ia akan melakukan hal yang sama. "Aku ngerti, kok. Oh, kamu mau kemana omong-omong jam segini udah mau cabut?"
Woojin terkekeh. Ia mulai mengenakan helm berwarna hitam yang tadi sempat tertunda. Dibukanya kaca pelindung, supaya lebih mudah berkomunikasi dengan sahabat dengan tahun lahir yang sama dengannya itu. "Aku ma—"
"Kak Woojin!"
Tep.
Seruan pria mungil berparas cantik membuat atensi sepasang sahabat itu teralih sempurna. Senyum tampan melekat erat di wajah Chan; yang sejatinya adalah senyum penuh godaan darinya untuk seorang Kim Woojin. "Well, aku tau alasannya sekarang. Hahahahaha.."
Woojin—Kim—hanya menggeleng. "Iya, aku udah kepalang tanggung janjiin kesayangan aku buat ke toko buku sama ke kedai Ice cream yang baru aja buka di dekat SMA Cheongdam. Aku pergi dulu ya, Chan." Woojin melambaikan tangannya. Kemudian mulai menstater motor sport hitam kebanggaannya. Detik berikutnya ia melesat secepat mungkin ke arah Hyungseob—pria manis yang tadi menyerukan namanya—yang tengah menunggunya di lobby utama.
Chan tertawa. Ia bahkan belum menanggapi ujaran maupun pamitan seorang Kim Woojin; justru sahabatnya itu sudah pergi begitu saja. "Dasar BuCin!" Gumamnya geli.
"Siapa yang Bucin, Chan?"
Suara berat seseorang memecah lamunan Bang Chan; membuat yang diberi pertanyaan melonjak, kemudian memutar tubuhnya dengan cepat—balik badan—guna memastikan siapa gerangan yang tiba-tiba bersuara dibelakangnya.
Uh—oh. Seketika kelopak mata pria muda kelahiran benua Australia itu melebar dua kali lipat dari ukuran aslinya.
'Hah, rival cinta si Beruang Kim'—gerutu Chan dalam hati.
"Sialan kau, Park Woojin! Apa yang kau lakukan disini?" Umpatnya kesal.
Park Woojin mengedikan bahunya malas. Ia sebenarnya tahu, kok.. Pernyataan Chan mengenai 'BUCIN' ini ditujukan untuk siapa. Dan yah.. Beginilah kenyataannya, Park Woojin bersembunyi dalam kepura-puraan atas ketidaktahuan serta rasa sakit yang ia tahan-tahan.
"Park, kalau kau memang masih menyayangi Hyungseob, runtuhkan semua egomu." Chan tiba-tiba bersuara. "Meskipun aku dekat dengan si Beruang Kim, aku tidak memihaknya, kok."
Woojin mengernyit kecil. Ia masih berusaha mencerna apa maksud yang diisyaratkan pemilik nama asli Christopher itu. "Jujur aja, aku netral. Aku tau kalian berdua berusaha melindungi Hyungseob meskipun cara kalian bersebrangan."
"Tapi, satu hal yang pasti. Ada satu hal yang bisa kamu pelajari dari si Beruang. Ia rela mengorbankan apa saja; termasuk menumbangkan imejnya dengan melakukan perlawanan secara terbuka atas tindakan Hangyul."
"Aku nggak mau gegabah, Chan. Asal kau tau.. Aku tengah menyusun rencana gimana caranya numbangin kesombongan si Tolol Lee tanpa harus mengundang perhatian pihak universitas."
Woojin—Park—meninggalkan Chan yang mematung.
.
.
.
二人の男
[Futari no otoko]
Pt. 3—Pengorbanan—
© Aaltonen Ryuunosuke—as known as— Caspian
Produce 101 S2/Wanna one x Yuehua's Project Fiction x Stray Kids
Main Pair : JinSeob vs ChamSeob
Genre : Romance, a lil' bit cheesy, humor and friendship. Also a lil' bit hurt. Dramatic
Alert : Boyxboy, bukan homophobic area. Cast diluar dugaan. Akan ada selipan harem!Hyungseob.
Slight pair Panwink. Yang bukan sekapal silahkan bisa meninggalkan lapak. Hehehe...
.
.
.
Hyungseob yang kini tengah asyik memilih berbagai macam novel tengah larut dalam dunianya. Sementara itu, tak jauh darinya sosok Kim Woojin terus mengawasi Hyungseob dengan salah satu lengan kekarnya yang ia sandarkan di rak bahan bacaan dengan tema sains yang ada di sudut ruangan.
Kedua tangannya ia masukkan ke saku jeans, sementara kaki berbalut adidas putih itu sesekali mengetuk permukaan lantai dengan irama pelan. Netranya dengan seksama menangkap refleksi pergerakan pemuda Ahn yang sedang asyik sendiri. Tak ia pedulikan bisikan maupun lirikan menggoda dari beberapa pengunjung yang entah mengapa berlalu lalang di dekatnya.
"Kak, aku bingung.." Hyungseob bersuara. Bibirnya mengerucut lucu sementara matanya nampak berkaca-kaca. Di tangannya ada dua novel yang amat familiar bagi Woojin. "Menurut kakak bagusan yang The Hound of Death[2] atau Fantastic Beast[3]?"
Woojin tersenyum. Detik berikutnya ia menghampiri lelaki yang dikasihinya dengan pandangan lembut. Salah satu tangannya ia ulurkan, menyelipkan anak rambut Hyungseob di belakang telinga Hyungseob dan mengelus pelan puncak kepala yang lebih mungil. "Kamu lebih prefer ke fantasy atau thriller?"
Hyungseob memiringkan kepalanya dengan netra yang sesekali berkedip. Ia mulai menerawang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sang kakak tingkat. "Aku sebenarnya lebih suka novel romance, tapi aku pengin coba nantang diri, kak."
"Ya udah.. Ambil aja yang The Hound of Death. Ada selipan romance-nya kok walaupun ada bagian yang kurang masuk akal."
"Ih, kakak malah spoiler. Kakak tau, kan aku nggak suka dikasih spoiler?" Hyungseob manyun. "Kurang greget kakak kalau udah kena spoiler." Sungutnya kemudian.
Salah satu aset kebanggaan universitas itu tertawa ringan. Jemarinnya dengan cekatan merapikan poni yang menjuntai, menutupi kening sang Submisif. "Ya, udah.. Kakak minta maaf. Tapi beneran kok novel yang kakak rekomen menarik."
Hyungseob mengangguk mengiyakan. Ia meletakkan kembali novel Fantastic Beast di tempatnya semula, kemudian menyeret tubuh besar Woojin ke arah kasir.
"Kakak aja yang bayar, sini novelnya. Kamu tunggu di depan." Woojin merebut novel yang ada di genggaman Hyungseob, berlanjut mendorong pelan tubuh mungil Hyungseob keluar dari antrian; dan tentunya disambut dengan raut wajah sebal—namun menggemaskan—dari Hyungseob.
"Kebiasaan kak Woojin, deh." Si Mungil menggerutu. Ia sibuk memainkan jaket bomber berwarna hijau army yang melingkupi tubuhnya yang tadinya hanya berbalut kemeja berwarna soft pink. Sepatu kets putihnya ia gerakkan berlahan, di atas permukaan marmer yang ia pijaki; bermaksud mengusir rasa bosan yang tiba-tiba menyambangi.
Drrtt..
Drrttt...
Getar perangkat pintar yang ada di saku jaket mengalihkan fokus Hyungseob. Membuatnya kelimpungan. "Ugh, Kak Woojin lama. Ini handphonenya getar terus dari tadi juga."
Iya, jaket yang Hyungseob pakai memang jaket Woojin. Maka jangan heran bagaimana bisa jaket itu menenggelamkan tubuh Hyungseob :)
"Kak, ponsel kakak getar terus.." Seru Hyungseob segera, sesaat setelah Woojin keluar dari antrian. "Aku mau buka tapi nggak sopan, kan.. Privasi kakak."
Woojin hanya menyunggingkan senyum menawan. Ia meraih ponsel yang Hyungseob ulurkan. Dengan segera ia mengecek notifikasi yang masuk, dan dalam hitungan detik ia menyambar lengan Hyungseob, menyeretnya dengan raut wajah yang sulit ditebak. Rahangnya mengeras, dengan sorot mata yang menajam. Tangan kanannya menarik tangan Hyungseob—dengan jarinya yang bertautan dengan jari Hyungseob—sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menopang ponselnya. Ia nampak sibuk menghubungi seseorang.
Hyungseob mengerucutkan bibirnya kesal, karena setiap ia melontarkan pertanyaan, Woojin hanya menanggapinya dengan senyum kecil, sementara raut wajahnya penuh dengan ke khawatiran. Tepat di pelataran pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi, Woojin menghentikan langkahnya. Ia melambaikan tangannya ke arah seberang jalan, dimana ada sosok yang teramat Hyungseob kenal. Sosok yang berbalut jaket denim hitam dengan surai eboni yang kini nampak berantakan karena empunya surai melepas pelindung kepalanya dengan tergesa.
"Park, bawa Hyungseob pergi dari sini!"
Seru Woojin—Kim—disambut anggukan pasti dari Woojin yang lain. Baru dua langkah desing timah panas membuat beberapa pejalan kaki berteriak histeris. Woojin—Kim—berdecak, ia mendorong tubuh Hyungseob hingga tubuh serupa mannequin itu jatuh dalam rengkuhan hangat seorang Park Woojin.
Setelahnya, terdengar baku hantam yang membuat Hyungseob memberontak dalam rengkungan Woojin—Park—ketika netra serupa kelincinya menangkap refleksi kekar Woojin—Kim—yang menangkis dan melayangkan pukulan pada tubuh dua orang yang sangat dibenci olehnya; Lee Hangyul dan Byun Hyunmin.
Hyungseob terus berteriak, meminta Woojin—Park—melepaskan kungkungannya, ia tak tega melihat orang yang ia kasihi mulai goyah karena mendapat serangan berturut-turut dari dua arah.
"Lepaskan aku! Aku harus menghentikan mereka! Hiks! Kak Woojin! Siapapun selamatkan Kak Woojin!"
Ahn terus memberontak bahkan setelah Woojin—Park—dengan terpaksa membawanya menjauh dari tempat itu dengan menggunakan jasa taxi online yang dipesankan oleh Woojin—Kim—sebelumnya. Ah, pria itu benar-benar di luar dugaan. Dan yeah, ia tak peduli dengan motor yang ia parkirkan di dekat kedai yang ada di seberang mall.
Di jarak 50 meter, taxi yang ia tumpangi berpapasan dengan motor sport milik Hyunjin. Setidaknya, Woojin—Park—bisa sedikit lega, karena ia tahu pemuda Hwang itu akan membantu si Beruang Kim.
Hyungseob terus menangis tersedu, memikirkan nasib Woojin—Kim—yang masih berjibaku dengan dua berandalan sialan itu. Ia terus mengutuk, sementara tangannya yang mengepal; memberi pukulan yang tak henti-hentinya ia daratkan di dada bidang pria Park.
Sepuluh menit berlalu. Akhirnya kedua insan yang pernah terikat sebuah ikatan asmara itu sampai di kawasan apartemen mewah di Gangnam—tempat Park Woojin tinggal—.
Sang dominan membayar tunai tarif yang disebutkan dengan selipan uang tambahan; beserta ucapan maaf atas keributan yang ditimbulkan lelaki kesayangannya. Sang sopir mengucap terima kasih dan memakluminya.
Woojin menggendong Hyungseob laksana koala, menahan berontakan yang terus dilakukan oleh pria selucu kelinci. Bahkan sepupu Park Jihoon itu tak mempedulikan setiap pandangan yang ditujukan orang-orang yang berpapasan dengannya di loby apartemen.
Woojin menurunkan tubuh Hyungseob di ranjang; sesaat setelah keduanya memasuki kamar bernomor 911 tersebut.
Woojin—Park—menatap lekat ke arah Hyungseob, menghujaninya dengan tatapan mesra penuh cinta dan pemujaan yang justru disambut dengan tatapan tajam penuh kebencian dari sang submisif.
"Aku benci kakak!" Ia mulai mencaci. "Kenapa kakak membiarkan Kak Woojin-ku dipukuli?! HAH?! KENAPA?!"
Hyungseob kembali mendaratkan pukulan tak berarti di tubuh Woojin—Park—."Kakak senang, kan?! IYAKAN?! KAKAK SENANG AKU YANG NYARIS BAHAGIA KEMBALI MENDERITA?!"
Woojin menggeleng, jemarinya tergerak, menghapus aliran likuid yang menodai paras cantik sang terkasih. "Ini nggak kaya yang kamu pikirin, by.." Lirihnya.
"BOHONG! KEMBALIIN AKU KE KAK WOOJINKU! AYO KEMBAL—"
Cup.
—bungkam sudah. Dominan bermarga Park itu mendaratkan bibir sensualnya tepat di bibir tipis Hyungseob, menghentikan caci maki dan teriakan yang justru membuat rasa bersalah dan rasa terluka yang sedari dulu bersemanyam di rongga dadanya berdenyut bahkan melonjak tajam, memenuhi rongga dadanya.
Lumatan demi lumatan, Woojin berikan kepada Hyungseob seorang. Berharap si Mungil bisa mengerti setidaknya merasakan sejumput kecemburuan berbalut asa dan rasa darinya yang tak akan pernah pudar dan hanya akan ditujukan pada seorang Ahn Hyungseob.
Hyungseob terlena, bahkan ia tak segan untuk ikut melumat bibir atas sang dominan sementara Woojin melumat bibir bawahnya.
Deg.
Di menit kedua, Hyungseob merasakan sentakan di jantungnya, hingga membuat mahasiswa semester dua jurusan Fashion Design itu tersadar. Ia mendorong tubuh Woojin hingga akhirnya berjarak dua langkah darinya.
Wajah Hyungseob tertunduk, dengan deru napas keras yang bersautan dengan Woojin. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Plak!
Tamparan mendarat sempurna di pipi Woojin—Park—, membuatnya terdiam sejenak. Ia menatap Hyungseob dengan pandangan tak mengerti. Sebelum akhirnya tatapan kecewa yang ditampilkan oleh yang mungil membuatnya tercekat. Ia merasa tertampar telak begitu deret kalimat terdengar bagai petir yang menyambar.
"Aku benci Kakak!"
Hyungseob berlari meninggalkan Woojin yang mematung.
.
.
.
—Kkeut—
.
.
.
[Notes :]
[1] Sweater v-neck hitam & riped jeans hitam : Outfit Woojin di teaser & MV District 9 :)
[2] The Hound of Death :
Novel Karya Agatha Christie, dengan judul bahasa Indonesia = Anjing Kematian; berisi kumpulan cerita pendek dengan berbagai genre.
[3] Fantastic Beast : Novel Karya J.K. Rowling; spin—off dari seri Harry Potter.
[Rambling's Area] :
Ngahahahaha~ Aal nggak tau lagi bisa dengan lancar jaya ngetik lanjutan ini. Untuk scene woojin dengan style yang ada di narasi plus bomber jaket ala outfit debut showchase plus lagi bawa motor ya bayangkan cbr hitam jangan dibayangin, kalian nggak akan kuat. Biar aku saja; Dilan Aaltonen, 2018.G
Wkwkwkwkwkkwkwk kakkoi—re:Keren(bahasa Jepang)— banget nih kembaran Aal pastinya /ditampol/ 😂
Sub judul dramatis amat ya.. Sok banget emang, Aal 😂
Bisa disimpulkan lah pengorbanan siapa yang dimaksud disini /melipir ke dinding Maria sebelum kena tampol/
Plot twist lagi, kah?
HAHAHAHAHAHAHAHAH— /staph/
Oh iya, Thanks udah review sama follow+favorit cerita nggak bermutu punya Aal lol
So?
Gimana lanjutannya? Delete or next?
.
.
.
Sign,
Orang—ngotot—Tampan.
