Disclaimer: Bleach © Tite Kubo-Sensei
Here we go with 2nd Chapter
Title : To Make You Feel My Love
By : Nakki Desinta
Pairing : Byaruki
Chapter 2 : The Truth
Seminggu sudah berlalu sejak kecelakaan di lintasan lari Universitas Karakura, dan dengan mudahnya Rukia beradaptasi dengan sakit yang berdenyut dari lukanya di dahinya. Awalnya dia agak bingung, terbangun di rumah sakit dengan jarum transfusi darah dan kepala yang beratnya minta ampun. Tapi Ibu menjelaskan padanya tentang apa yang sudah menimpanya, walaupun Ibu merasa heran kenapa Byakuya tidak ingin menjelaskannya langsung pada Rukia, malah meminta agar Ibu yang menjelaskan pada Rukia.
Ibu menangkap dengan jelas kejanggalan yang terjadi sejak melihat Byakuya di rumah sakit. Byakuya jauh lebih diam dan dingin dibanding sebelumnya. Ayah hanya menjelaskan padanya bahwa Byakuya hanya kaget, makanya bersikap lebih pendiam.
Sekarang Rukia sudah kembali berada di kampus, dan kembali ngobrol dengan sahabat dekatnya di kantin kampus.
"Kau hebat, Rukia. Baru seminggu sudah bisa kuliah lagi," puji Hinamori ceria dan Rukia mengangguk menanggapi pujiannya.
"Kau tidak amnesia kan?" sambung Rangiku.
Rukia menggeleng sambil menyeruput minumannya, hanya air mineral, mengingat kondisinya sekarang yang harus banyak minum air untuk menyegarkan kondisinya yang masih dalam masa penyembuhan.
"Atau mungkin jadi telmi?" tambah Hinamori lagi.
"Kalian ini berharap sekali aku celaka ya? Atau ingin aku melupakan masalah taruhan kita?" tanya Rukia kesal.
"Tapi kan kita tidak bertanding sampai selesai," protes Rangiku.
"Walaubagaimanapun tetap aku yang berada di urutan pertama," Rukia tetap berkeras.
"Iya, iya, kau menang!" jawab Hinamori menyerah dengan kekerasan hati Rukia, dia pun mempersilahkan Rukia untuk memesan makanan yang akan disantapnya.
Sementara itu Byakuya yang duduk di sisi lain kantin sedang memperhatikan Rukia yang asik memilih menu dalam daftar kantin kampus. Grimmjow yang duduk di hadapannya tersenyum melihat tingkah Byakuya. Tidak biasanya Byakuya memperhatikan sesuatu seperti ini, terlebih lagi seorang perempuan. Sekalipun ia hanya mengenal Byakuya dalam waktu enam bulan, tapi dia cukup tau bahwa Byakuya adalah orang yang dingin terhadap sekitar, tapi sekaligus cerdas dan memiliki fisik yang kuat.
"Sampai segitunya melihat dia. Kau suka padanya?" tegur Grimmjow, membuat perhatian Byakuya langsung kembali padanya, mengalihkan perhatiannya dari Rukia.
"Bukan urusanmu aku suka dia atau tidak. Memangnya ada masalah?" jawab Byakuya dengan sorot mata tajam.
"Ya.. tidak juga. Tapi kalau aku boleh memberimu saran, sebaiknya kau beri tahu dia tentang perasaanmu, dari pada jadi penyakit asma," kata Grimmjow dengan nada cuek.
"Lho, apa hubungannya perasaan sama penyakit asma?"
"Jelas ada. Perasaan yang terpendam bisa menyebabkan penyakit dalam," bisik Grimmjow sambil berbisik penuh keseriusan pada Byakuya.
"Penelitian dokter mana? Dokter Somat?" celetuk Byakuya tidak peduli dengan fakta yang Grimmjow coba sajikan padanya.
"Yah, terserah jika kau tidak percaya!" Grimmjow pun melengos pergi, malas menanggapi Byakuya yang yang terus saja membantahnya.
Byakuya yang ditinggalkan Grimmjow hanya tetap duduk tenang di kursinya. Byakuya tidak ingin berada dalam situasi rumit yang melibatkan perasaan lagi, dia sudah berusaha untuk menahan emosinya agar tidak membuat Rukia membaca perasaannya dengan jelas. Sekalipun dia merasa perasaan ini tidak selayaknya ada, tapi dia tidak bisa secepat membalikkan telapak tangan untuk menghapusnya.
Byakuya meraih ponselnya dari saku celana jeansnya, gayanya mengambil ponsel saja sudah sebegini keren, menyedot perhatian hampir seluruh isi kantin. Dia mengirim pesan pada Rukia agar mereka bertemu di ruang auditorium lima menit lagi.
Byakuya langsung beranjak dari kantin dan berjalan menuju auditorium yang kosong, dia sempat melirik Rukia yang melihatnya sesaat tepat sebelum ia benar-benar meninggalkan kantin.
Hinamori yang mendapati Rukia melihat Byakuya, langsung menyenggol Rangiku.
"Ada yang sudah mulai tertarik…" gumam Rangiku meledek Rukia.
"Tertarik apa?" tanya Rukia tidak mengerti, dia menggingit roti bakar dihadapannya lagi, perhatiannya kembali menatap kedua temannya.
"Tentu saja tertarik pada pangeran yang sudah menolongmu. Kau seharusnya lihat bagaimana dia saat mengendongmu, wajahnya yang tampan benar-benar seperti pangeran dalam dongeng. Keren," ujar Hinamori sambil menyatukan tangan dan wajahnya berbinar penuh pesona, membayangkan sosok Byakuya yang menggendong dirinya, bukan Rukia.
"Dia bukan pangeran," bantah Rukia.
"Tapi aku merasa aneh. Kenapa dia terlihat sangat cemas, dan langsung berlari untuk menolongmu waktu itu? Sepertinya dia memiliki perasaan padamu, Rukia." Rangiku mencoba berpikir secara rasional.
"Perasaan apa yang kau maksud? Kau ini terus saja mengarang bebas," celetuk Rukia yang menghabiskan tetes terakhir minumnya dan beranjak dari kursi kantin.
"Kau mau kemana?" tanya Hinamori.
"Ada urusan sebentar, tapi tidak akan lama," jawab Rukia sambil melambai pergi, meninggalkan tagihan makan siangnya untuk Hinamori dan Rangiku.
Langkahnya lurus menuju ruang auditorium, menyusul Byakuya. Tangannya mendorong pintu ruang auditorium perlahan, ruangan itu kosong seperti biasanya. Ruangan ini memang selalu kosong jika tidak ada kegiatan dari club kesenian.
"Byakuya?" ucap Rukia ragu-ragu, berusaha mencari sosok Byakuya diantara deretan kursi yang mengelilingi podium yang berada ditengahnya.
"Aku disini," sebuah suara bergema dalam ruangan berbentuk lingkaran itu.
Rukia berbalik dan mendapati Byakuya sedang duduk bersandar pada kursi yang berada ditingkat paling atas dari jajaran ratusan kursi, tepat di dekat pintu masuk. Langkahnya lincah menuju tempat Byakuya duduk, mereka sudah berjanji bertemu untuk mengganti perban Rukia.
"Kau seperti batu, napas pun tidak kentara," komentar Rukia saat sampai ditempat Byakuya.
"Bagus kan? Jadi lebih mudah untuk menyembunyikan segalanya," ucap Byakuya, ada makna ganda dalam kalimatnya, tapi Rukia tidak sadar dengan hal itu.
Rukia duduk tepat di kursi samping Byakuya. Byakuya meraih sebuah kotak kecil dari sisinya, kotak yang berisi peralatan P3K yang harus dia gunakan untuk mengganti perban Rukia.
"Sudah kubilang ganti tadi pagi," kata Byakuya seraya menarik bahu Rukia agar menghadap padanya.
"Tidak usah protes. Ganti saja perbannya, nanti jam kuliah keburu mulai," kata Rukia yang gerah terus-terusan diceramahi oleh Byakuya.
"Sudah ditolong, malah marah-marah. Dasar anak kecil," Byakuya mendorong kepala Rukia ke belakang.
"Sakit.." keluh Rukia yang langsung membalas Byakuya dengan tindakan yang sama.
"Sini!" Byakuya menegakkan tubuh Rukia, karena bagaimanapun tubuh Rukia jauh lebih pendek darinya, makanya Byakuya harus ekstra menunduk untuk menyamakan level mereka.
Dia membuka perban di kepala Rukia dengan sangat hati-hati, dan mulai membersihkan luka yang memiliki tiga jahitan didahinya.
"Ini akan meninggalkan bekas," ucap Byakuya tanpa sadar, menyuarakan hatinya yang kembali tergores oleh rasa bersalah.
"Biar saja," jawab Rukia cuek.
"Apa yang membuatmu terjatuh seperti itu?" Byakuya memberikan obat pada luka yang sudah bersih dengan bantuan kapas.
"Tidak tau, pandanganku tiba-tiba saja gelap, aku tidak ingat apa-apa lagi setelah itu," jelas Rukia dengan nada tidak peduli. Tangan Byakuya sangat hangat, membuat Rukia membeku dibawah sentuhannya yang lembut.
"Sudah," kata Byakuya seraya merapikan peralatannya.
"Terima kasih," jawab Rukia seraya meraba perbannya yang sudah rapi, sama sekali tidak terasa sakit selama Byakuya mengganti perbannya. Rukia pun bangkit dari kursi, tapi Byakuya menahan langkahnya.
"Ada yang kurang," ucap Byakuya seraya bangun dari kursi dan membungkukkan badan condong pada Rukia, tanpa permisi lagi dia mengecup perban Rukia cepat. Rukia membatu ditempatnya, seketika wajahnya seperti termometer yang dicelupkan ke air panas, garis merahnya naik dengan cepat.
"Byakuya!" seru Rukia seketika, tapi Byakuya sudah melompat dan menghilang dari hadapannya, dilihatnya Byakuya sudah berjalan dengan santai melintasi tengah podium dengan gaya santainya.
"Kenapa aku harus punya Kakak tiri seperti dia?" gerutu Rukia. Jantungnya berdebar dengan sangat cepat, semua seperti drum yang dihentakkan tanpa henti. Mencium wangi cologne Byakuya yang sangat lembut, merasakan tekanan ringan kecupan Byakuya di dahinya yang terbungkus perban.
Byakuya melangkah melintasi taman kampus, matanya menatap langit yang terang, matahari berada tepat diatas kepalanya.
"Kenapa aku bisa melakukan hal itu tanpa berpikir lagi?" gerutunya pada diri sendiri. Sesaat tadi dia merasa sangat dekat dengan Rukia, sekalipun dimata Rukia dia terlihat seperti sedang mengolok-oloknya, namun Byakuya melakukannya dengan sepenuh hati, semua berasal dari dalam hatinya, sedalam perasaannya pada Rukia.
.
.
Ibu menatap Rukia lembut, sementara Rukia masih saja berwajah keras, seolah ingin secepatnya menyelesaikan pembicaraan yang tidak nyaman ini.
Dia baru saja kembali dari kampus, lebih cepat dari biasanya karena dosen mata kuliah terakhir tidak hadir. Begitu sampai di rumah ia mendapati Ibu yang sedang memasak di pantry, Ibu pulang lebih cepat hari ini, dan mereka langsung terlibat dalam pembicaraan serius mengenai sikap Rukia yang tidak pernah sedikitpun membaik pada Ayahnya. Rukia yang masih lelah, dia baru saja menempuh perjalanan pulang yang tidak menyenangkan karena terjebak macet, sekarang harus bersiap untuk lebih lelah lagi.
Jadilah sekarang mereka saling bungkam dan berusaha membaca isi hati satu sama lain.
"Cobalah untuk memanggilnya dengan sebutan Ayah, Rukia," ucap Ibu memecah kesunyian diantara mereka, Ibu sedang berusaha membujuk Rukia dengan sangat lembut.
"Aku tidak mau," jawab Rukia tanpa berpikir lagi.
"Ibu mohon, kamu akan terus membuatnya merasa terasing dalam keluarga ini, Rukia."
Ibu mengusap bahu Rukia penuh kasih sayang.
"Terasing? Ibu tidak salah?" seru Rukia dengan wajah semakin kukuh, melihat Ibunya yang mengucapkan kalimat itu membuatnya semakin terpojok dalam pertahanannya sendiri. Ibu mengerutkan alis tidak mengerti dengan emosi Rukia yang tiba-tiba meningkat, nada bicaranya sarat dengan kemarahan.
"Justru aku yang merasa terasing, Bu. Seisi rumah ini menerima dia dan Byakuya dengan tangan terbuka, tidak ada yang peduli denganku. Aku diam saja saat Ibu menikah lagi, Ibu juga mengajakku pindah rumah, aku diam karena Ibu tidak sedikitpun menanyakan pendapatku," kata Rukia cepat, membuat paru-parunya menyempit karena kekurangan oksigen, sesak bukan main.
"Ibu tidak pernah mau peduli bagaimana perasaaku yang kalut. Menerima orang lain dalam kehidupanku dan harus memanggilnya Ayah. Tidak akan ada yang bisa menggantikan Ayah, aku hanya memiliki satu Ayah. Kenapa Ibu bisa dengan mudah menikahi pria lain? Apa Ibu sudah tidak mencintai Ayah lagi? Ibu sudah melupakan Ayah, semudah itu Ibu melupakan Ayah?"
"Jaga mulutmu, Rukia!" sebuah tamparan mendarat dipipi Rukia, membuat kepalanya terlempar kebelakang, segera saja panas yang amat sangat menjalar dari jejak tamparan di pipinya.
Ibu menekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Menampar Rukia dengan tangannya sendiri. Air matanya mengembang di pelupuk mata, melihat Rukia yang hanya berdiri kaku dengan mata terbelalak, tidak bergerak sejengkalpun.
Rasa sakit di diri Rukia menjalar hingga keseluruh tubuhnya. Rasa sakit bukan karena tamparan di pipinya, tapi rasa sakit karena ini adalah pertama kalinya Ibu menamparnya, dan itu demi seorang asing, demi memaksanya untuk memanggil orang asing itu dengan sebutan Ayah, memaksanya untuk menerima orang itu masuk dalam kehidupannya.
"Rukia…" Ibu menjulurkan tangan hendak memeluk Rukia, penyesalan membumbung tinggi dalam dirinya. Rukia mundur menjauh untuk menghindari tangan Ibu, membuat Ibu semakin merasa menyesal telah menamparnya tanpa sengaja.
"Ibu tidak pernah melupakan Ayah, Ibu tetap mencintainya sebagai seorang pria baik yang telah menjaga Ibu, semua tidak akan berubah. Ibu menikah karena Ibu tidak…"
"Bohong!" pekik Rukia sambil terus menggelengkan kepala. "Jika Ibu masih mencintai Ayah, Ibu tidak akan menikah dengan pria lain. TIDAK AKAN PERNAH!"
Rukia berlari keluar rumah.
"Rukia, kamu mau kemana?" Ibu berusaha mengejar Rukia, tapi langkah kakinya tidak pernah bisa menyamai Rukia, dalam sekejap Rukia sudah hilang dari jangkauan pandangnya, menerobos gerimis yang sudah mulai membasahi bumi.
"Maafkan Ibu, Rukia," bisik Ibu dalam isak tangisnya.
Rukia terus berlari, hanya satu tempat yang akan ia tuju. Ia tidak pernah peduli dengan hujan yang semakin deras, mengirimkan hawa dingin keseluruh tubuhnya, membuatnya menggigil, menambah sesak yang ia rasakan dalam dadanya. Sakit, hanya itu yang mampu ia teriakkan dalam hati. Seumur hidup Ibu tidak pernah sekalipun melayangkan tangan kepadanya, ini sungguh menyakitinya.
Rukia sampai di sebuah taman dekat pemakaman tempat Ayahnya bersemayam, dari tempatnya berdiri sekarang dia bisa melihat batu nisan milik Ayahnya. Dia menatap lurus batu nisan itu, membuat tangisnya makin keras.
"Aku benci rumah itu, aku benci isi rumah itu, aku benci semuanya!" kata Rukia pada hujan yang terus mengguyur tubuhnya. Perlahan dia duduk di bangku panjang di bawah pohon, kakinya gemetaran saat ia menekuk lutut untuk duduk. Seluruh tubuhnya melemah karena terluka, terluka terlalu dalam hingga sebegini sesaknya.
"Ayah, beri tau aku. Apakah aku salah? Aku hanya berusaha menyampaikan perasaanku pada Ibu, menyampaikan apa yang selama ini ku tahan, aku lelah terus berpura-pura seolah semua baik-baik saja," Rukia tertunduk, airmatanya jatuh dan bercampur dengan air hujan, dia bersyukur karena hujan turun di saat ia menangis seperti ini, membuatnya terlihat seperti tidak sedang menangis.
.
.
"Bagaimana ini, aku takut sesuatu terjadi pada Rukia," rintih Ibu yang sudah hampir putus asa.
Ayah baru saja sampai di rumah dan mendapati Ibu sedang menangis dengan tangan menangkup wajah, putus asa menangisi kepergian Rukia. Mereka tidak tau ke mana Rukia pergi, mereka sudah berusaha menelepon semua teman Rukia di kampus, namun tidak ada seorangpun yang tau keberadaan Rukia.
"Tenang, jangan panik, kita pasti akan menemukannya segera," ucap Ayah seraya meremas bahu Ibu perlahan, berusaha menenangkannya.
Pintu rumah terbuka, Byakuya muncul dengan payung terlipat di tangannya. Pandangannya langsung tertuju pada kedua orang tuanya yang terduduk di sofa. Ayah menatapnya lurus, tapi Ibu terus saja terisak.
"Ada apa?" ucap Byakuya seraya meletakkan tas dan payungnya diatas lantai, perasaannya langsung tidak enak melihat kedua orang tuanya yang seperti ini.
"Rukia," bisik Ibu susah payah. Kontan perhatian Byakuya terpusat pada sosok mungil Rukia dalam benaknya.
"Tadi Ibu berdebat dengannya, dan… dan.. tidak sengaja menamparnya." Ibu kembali menekap wajahnya, berusaha menyembunyikan airmata dan penyesalan yang amat sangat.
"Dia pergi, dan kami tidak tau dimana dia sekarang, temannya tidak ada yang tau dimana dia sekarang," kata Ayah melanjutkan kalimat Ibu yang terputus.
Byakuya langsung berlari keluar rumah, tidak lagi teringat pada payung yang harus ia kenakan, dia berlari menerobos hujan yang sangat deras. Petir menggelegar diatas langit, mengirim hujan yang jauh lebih deras disertai angin yang membuat tubuh menggigil.
"Anak itu…" gumam Byakuya sambil berpikir keras mengingat tempat yang mungkin ia gunakan untuk bersembunyi, mata Byakuya menyusuri tiap tempat yang ia lihat dengan sorot mata tajam, mencari-cari sosok Rukia diantara derasnya hujan.
Lalu sebuah ingatan dari masa lalunya menyeruak dalam benaknya, membuatnya sangat yakin bahwa Rukia pasti ada di tempat itu. Kakinya berlari secepat mungkin untuk mencapai tempat yang terekam dengan baik dalam benaknya.
Byakuya berbelok menuju sebuah pemakaman, dan berhenti tepat didepan gerbang pemakaman. Hari sudah sangat gelap, membuatnya sulit untuk melihat. Kata hatinya memerintahkannya untuk berlari kearah taman, dan benar saja. Dia menemukan Rukia sedang duduk di bangku taman, kepalanya tertunduk dalam, seketika ia menghela napas lega, Rukia akan selalu berada ditempat ini, persis seperti dalam ingatannya.
Perlahan Byakuya mendekat, langkahnya sangat tenang hingga Rukia tidak menyadari kehadirannya.
"Dasar bodoh," ucap Byakuya.
Rukia menengadahkan wajahnya, dan dia sangat kaget melihat Byakuya berdiri dihadapannya. Bagaimana bisa Byakuya menemukan tempat rahasianya?
Sorot mata Byakuya lembut menangkap sorot mata Rukia yang penuh duka, dia pun mengambil tempat tepat disebelah Rukia, duduk berdampingan dengan Rukia di tempat ia bisa memandang Rukia, ini pertama kali baginya, dan terasa sangat aneh. Biasanya ia hanya berdiri dari jarak jauh dan melihat Rukia terduduk diam di tempat ini, menunggu dari kejauhan hingga Rukia beranjak pergi dari bangku taman.
"Sudah hampir jam sepuluh, Rukia. Kau sudah kehujanan berjam-jam, kau bisa sakit," kata Byakuya sambil menatap Rukia yang masih terus tertunduk lesu.
"Tidak usah pedulikanku," kata Rukia. Suaranya dingin dengan wajah tanpa ekspresi, wajahnya sekeras karang. "Dari awal aku memang tidak pernah dianggap, seperti tidak pernah ada diantara kalian, jadi kau tidak perlu mengasihaniku," lanjutnya lagi.
Byakuya tidak menjawab kalimat Rukia, dia tau Rukia sedang sakit hati, terluka karena Ibu telah menamparnya. Di pukul oleh orang yang paling disayangi adalah hal yang menyakitkan.
Byakuya meraih sehelai daun yang tergeletak diatas bangku, membolak baliknya tanpa tujuan, semua memang membingungkan jika berada dalam kondisi seperti ini. Dia tidak tau harus seperti apa bersikap pada Rukia yang labil seperti ini.
"Kau Adikku," ucap Byakuya, dan seketika nyeri yang amat sangat menghantam hatinya mendapati kenyataan bahwa Rukia memang adiknya, "bagaimanapun dan seperti apapun kau menolak kenyataan itu, aku akan tetap peduli. Lagipula Ibu…"
"Cukup!" potong Rukia penuh amarah.
Byakuya tersentak mendengar suara Rukia yang sangat keras, dia menatap Rukia yang melihatnya dengan sorot mata tajam.
"Aku benci dengan sikap kalian yang terlalu baik, aku muak!"
Byakuya terdiam, membiarkan Rukia melampiaskan kekesalan dan kemarahannya. Rukia yang tidak mendapat respon berarti dari Byakuya malah semakin marah.
"Berhentilah bersikap seolah semua baik-baik saja. Jangan selalu bersikap sok baik kepadaku, aku menolak semua ini, dan kalian masih saja baik, apakah kalian ingin membuat aku merasa bersalah, dan menerima keluarga ini dengan lapang dada?"
"Jalani saja. Biarkan semua berjalan seperti biasa, lambat laun kau akan terbiasa dengan keluarga baru ini," kata Byakuya perlahan.
"Tidak bisa, aku tidak akan bisa." Rukia menggeleng lemah.
"Rukia, aku tau perasaan sulit untuk dirubah. Tapi berusahalah untuk tidak terlalu menunjukkannya pada Ibu. Kau tau Ayah dan Ibu tidak pernah memaksamu untuk mengikuti keinginan mereka."
Mau tidak mau Rukia mengakui ucapakan Byakuya, sekalipun hanya dalam hatinya. Tapi tetap saja dia merasa tidak bisa menerima semuanya dengan mudah.
"Sekarang kita pulang, Ayah dan Ibu menunggu di rumah, mereka mencemaskanmu. Simpan dulu egomu. Kau sendiri yang bilang tidak ingin membuat Ibu menderita, sekarang kau malah membuatnya cemas. Ayo kita pulang," ucap Byakuya seraya beranjak dari bangku dan berdiri di hadapan Rukia, tangannya terjulur pada Rukia.
Rukia melihat Byakuya yang tak kalah basahnya dengan dirinya, mereka terlihat seperti dua orang bodoh yang membiarkan diri mereka diguyur hujan hingga seperti ini. Rukia menyambut tangan Byakuya, namun saat menggerakkan kakinya untuk berdiri, Rukia malah limbung, untungnya Byakuya menangkap tubuhnya cepat. Kaki Rukia gemetar hebat, padahal hanya menopang tubuhnya yang ringan, pandangannya kabur sesaat, matanya berkunang-kunang.
Byakuya menopang tubuh Rukia dengan tangannya.
"Kenapa?" tanya Byakuya cemas.
"Agak pusing, tapi tidak apa-apa," jawab Rukia seraya melangkahkan kakinya, tapi tiba-tiba Byakuya menariknya untuk diam ditempat.
"Kepalamu masih belum sembuh benar, aku tidak ingin ambil resiko dan membiarkanmu jatuh lagi."
Byakuya berjongkok membelakangi Rukia, Rukia bingung dengan posisi Byakuya.
"Kau mau apa?" tanya Rukia tidak mengerti.
"Aku gendong," jawab Byakuya dengan suara datar.
"Tapi…"
"Cepat, Rukia," suruh Byakuya setengah memaksa.
Byakuya melirik Rukia lewat bahunya, Rukia tidak bergerak juga, akhirnya Byakuya berinisiatif menarik tangan Rukia dan membuat Rukia terjerembab diatas punggungnya, segera saja ia menahan tubuh Rukia dengan tangan yang memegang kaki Rukia erat, dia langsung bangun, membuat Rukia reflek mengalungkan lengannya di leher Byakuya.
"Aku bisa jalan sendiri," Rukia masih berkeras untuk turun dari gendongan Byakuya, tapi Byakuya tidak menggubrisnya, Byakuya malah melangkah dengan santai seolah tidak sedang menggendong Rukia.
"Seperti menggendong sekarung kapas," ucap Byakuya datar.
"Apa maksudmu?" Rukia tidak terima dengan komentar Byakuya tentang bobot tubuhnya, dia memang kurus dan enteng tapi tidak terima jika disamakan dengan sekarung kapas.
Hujan mulai berhenti saat mereka keluar dari area taman. Mereka berdua basah total, hingga bulu kuduk mereka berdiri menggigil kedinginan. Byakuya melambatkan langkahnya saat melewati trotoar jalan yang membawa mereka mendekat pada jalan menuju rumah. Merasakan Rukia yang berada sedekat ini selalu membuatnya senang karena Rukia berada dalam jangkauannya, memastikan bahwa Rukia baik-baik saja.
Tangan Rukia menggantung didadanya, tangan yang sangat mungil, putih bersih, hampir terlihat ringkih karena jari-jarinya sangat kurus. Rukia menyandarkan kepalanya di bahu Byakuya, membuat pipinya menempel pada kaos Byakuya yang basah, namun entah mengapa dia merasa nyaman dalam gendongan Byakuya, merasa dilindungi.
Perlahan matanya terpejam karena gerakan Byakuya saat berjalan, membuatnya merasa seperti sedang berada dalam ayunan, punggung Byakuya hangat.
Mereka saling bungkam selama beberapa saat, Byakuya tidak sadar bahwa Rukia terpejam dalam gendongannya. Lampu jalan menerangi trotoar yang mereka lewati, tetes-tetes air sisa hujan yang masih menggantung di dedaunan berjatuhan karena angin yang menerpa pepohonan, menimbulkan suara gemerisik nyanyian alam.
"Rukia," panggil Byakuya, dan tidak ada jawaban, tapi dia merasakan kepala Rukia bergeser, dan dia menganggap itu sebagai respon dari Rukia.
Jantung Byakuya berdetak keras, dia ingin mengatakan rahasia terbesarnya pada Rukia, dan menurutnya ini adalah kesempatan besar, dan dia berharap setelah ini dia bisa terbebas dari perasaan yang terus membelitnya ini.
"Apakah kau percaya bahwa aku sudah mengenalmu sejak sepuluh tahun lalu?" bisik Byakuya dengan suara datar, tidak ada jawaban sama sekali.
"Pertama kali aku melihatmu adalah saat aku melihatmu tengah menangis ditempat yang sama seperti tadi, kau selalu berada disana dan menangis hingga aku bosan melihatmu menangis. Aku selalu bertanya-tanya apa yang membuatmu begitu sedih, dan aku baru tau enam bulan lalu. Kau menangisi kematian Ayahmu," ucap Byakuya.
"Aku selalu menunggumu muncul disana, dan aku akan melihatmu dari kejauhan, karena itu aku bisa menemukanmu sekarang. Kau akan selalu kesana setiap kali menangis," tutur Byakuya, dan perlahan hatinya seperti terbebas dari sebuah beban yang sangat berat.
"Aku tau bahwa aku mencintaimu sejak saat itu, karena sejak saat itu aku tidak penah sekalipun mengalihkan pandanganku darimu, hingga aku merasa sangat terikat pada sosokmu. Seorang perempuan berambut hitam dengan mata gelap dan selalu terlihat memendam kesedihan mendalam. Aku pun memutuskan untuk mendekatimu, namun didetik yang sama Ayah membawamu kehadapanku sebagai seorang adik baru."
Byakuya berhenti melangkah dan menatap langit, mengenang kembali saat ia diperkenalkan Ayah dengan Rukia dan Ibunya. Segala macam perasaan bercampur dalam benaknya saat itu, senang, bingung, sekaligus gamang, semua bercampur dalam kepalanya, membuatnya bereaksi tidak lebih dari pada diam.
"Aku tidak tau harus bertindak seperti apa, hingga saat aku tersadar semua sudah menjadi seperti ini. Hidup satu rumah denganmu, melihatmu dari dekat sungguh membuatku senang, tapi mengetahui betapa kau tidak menginginkan kehadiranku dalam hidupmu juga membuatku sakit hingga ke tulang," kata Byakuya yang kembali melangkah menyusuri trotoar jalan.
"Aku ingin sekali egois, karena aku adalah orang pertama yang mengenalmu, aku ingin merebutmu dan merubah status bukan lagi sebagai Kakak dan Adik. Tapi saat aku pikir kembali, aku tidak pantas melakukan hal itu. Aku memiliki waktu yang sangat lama, sepuluh tahun, dan aku hanya melihatmu dari kejauhan, tidak sekalipun berusaha mendekatimu, sedangkan Ayah, dia mencintai Ibumu dan menganggap bahwa Ibumu adalah orang yang tepat untuk mendampinginya selama sisa hidupnya. Ayahku tidak akan sembarangan memilih seseorang dalam hidupnya, akhirnya aku putuskan untuk berperan sebagai Kakak yang baik untukmu, hanya untukmu."
Byakuya menghela napas berat, menyesali dirinya sendiri yang seperti ini. Berusaha seperti apapun untuk membuang perasaan itu, malah membuatnya semakin tidak bisa menjauh dari Rukia, perasaan itu semakin kuat, semakin mengikat dan semakin menjeratnya hingga sulit menghindar.
"Aku sendiri ragu apakah aku mampu seperti ini selamanya…"
Mereka sampai di depan rumah, Ibu langsung lari berhambur kearah mereka.
"Rukia, Rukia?"
Byakuya terdiam, memberi waktu pada Ibu untuk bicara dengan Rukia, tapi beberapa saat berlalu tidak ada jawaban dari Rukia.
"Dia tertidur," ucap Ibu seraya kembali kehadapan Byakuya.
"Tidur?" ulang Byakuya nyaris pingsan, dan lebih mau pingsan lagi saat melihat Ibu mengangguk dengan pasti.
Dia merasa semua sudah sia-sia, dia sudah berusaha mengumpulkan semua keberaniannya untuk bicara pada Rukia, namun ternyata tidak sedikitpun Rukia mendengarnya. Pantas saja dia merasa aneh karena Rukia tidak sedikitpun menjawabnya, sungguh Rukia benar-benar perempuan yang sulit untuk ditebak, disaat seperti inipun dia masih bisa tertidur dengan nyenyak.
"Aku akan membawanya ke kamar," ucap Byakuya seraya menaiki anak tangga menuju kamar Rukia.
"Kau temukan dia dimana, Byakuya?" tanya Ibu yang berlari-lari mengambil handuk dan menyusul Byakuya.
"Di taman," jawab Byakuya singkat.
Byakuya segera keluar dari kamar Rukia, memberikan waktu pada Ibu untuk menggantikan baju Rukia yang basah kuyup, dan dia sendiri juga harus mengganti baju, tubuhnya sudah kelewat menggigil.
Dia membilas badannya dengan air hangat, bertujuan untuk mengalirkan kehangatan di tubuhnya, namun setelah itu ternyata dia tidak juga merasa lebih hangat. Dia mengganti bajunya cepat, memakai extra jaket untuk membalut tubuhnya, dan kembali ke kamar Rukia.
"Dia sedang tidur, demam," ucap Ibu seraya melirik Rukia yang terbaring dengan selimut tebal membalut tubuhnya.
"Dia kehujanan seh.. Hatchi!" Byakuya menekap hidungnya yang tiba-tiba gatal, rasanya mau bersin terus.
"Kalian sama-sama kena flu," kata Ibu tersenyum menertawakan Byakuya dan Rukia.
"Sepertinya," sahut Byakuya sambil menggosok hidungnya yang mulai berair, ini buruk, dia sangat benci jika kena flu.
"Terima kasih, Byakuya." Ibu mendekat dan memeluk Byakuya hangat. Byakuya membeku dalam pelukan Ibu, ini pertama kalinya seorang Ibu memeluknya setelah sekian lama, rasanya hangat dan nyaman.
"Terima kasih telah menemukan Rukia, Ibu tidak akan mampu memaafkan diri sendiri jika Rukia tidak kembali," bisik Ibu penuh kasih. Byakuya menjawabnya dengan satu anggukan pelan.
"Sudah hampir tengah malam, cepatlah tidur," kata Ibu seraya melepas pelukannya dan meninggalkan kamar Rukia. Tinggal Byakuya dan Rukia yang tertidur.
Byakuya menarik kursi belajar Rukia, dan meletakkannya di sisi tempat tidurnya, dia duduk di sana, memperhatikan Rukia. Terus terdiam dengan kegiatan yang sama, hanya duduk kaku sambil memperhatikan wajah Rukia.
"Kita berdua adalah orang bodoh yang keras kepala, Rukia." Byakuya menyandarkan satu sisi wajahnya diranjang Rukia, menggenggam tangan Rukia dan meletakkannya dipipinya yang tidak menempel pada tempat tidur.
Meresapi kulit telapak tangan Rukia yang menyentuh pipinya, sementara matanya terkunci lurus melihat Rukia. Tenang dan nyaman, membuatnya terpejam dan perlahan ditelan kegelapan alam bawah sadarnya, tertidur di sisi Rukia, dia tidak pernah menyangka jika rahasia mereka akan terbongkar esok…
To Be Continue
A/N : Mina, ini chap dua, menurut kalian bagaimana alurnya? Jawab di review ya, agar aku bisa mengembangkannya.
Aku memiliki sedikit ide alur suspense dalam benakku, aku akan sisipkan nanti, jadi jangan bosan untuk mengikuti kelanjutan fict ini.
BTW boleh aku bertanya? (boleh ya.. boleh ya…)
Menurut kalian di fict ku yang MY MARRIAGE apa yang menarik dari fict itu? Kasih aku masukan ya…
Pokoknya aku sampaikan terima kasih sekali atas reviewnya.
