Euphoria dari tahun baru memuncak malam ini. Suara kembang api yang memekakan telinga meledak dimana–mana, dan disusul dengan lolongan lautan manusia yang memenuhi jalanan kota Tokyo tepat pukul duabelas tengah malam.

Salah satu pemuda dengan rambut pirang itu tersenyum kecil, memandang kembang api yang meletus diudara, sambil menggosok telapak tangannya yang tak tertutupi apapun. Melupakan kalau ini masih musim dingin.

Salah seorang pemuda dengan rambut oranye membelah lautan manusia yang tengah hanyut dengan euphoria yang menurutnya berlebihan itu. Iris ruby–nya memperhatikan kanan dan kiri; mencari seseorang. Hingga matanya nampak seorang pemuda rambut pirang yang sedang berdiri dibawah kanopi sambil menengadahkan kepalanya, ia segera berjalan ke arah pemuda itu.

Puk

"Naruto"panggilnya, membuat sosok yang sedang menikmati langit itu memandangnya dengan senyum kecil.

"Terimakasih sudah datang, Kyuu–nii."ucap pemuda pirang itu. Ia tersenyum makin lebar, hingga kedua pucuk pipinya yang bersemu merahmuda. Membuat pemuda dengan iris ruby itu tak bisa menahan senyumannya lagi.

"Bagaimana bisa aku tak datang, sedang kau pergi tanpa memakai sarung tangan. Dasar baka."ucap Kyuubi, sambil memakaikan sepasang sarung tangan berbahan wol itu ke telapak tangan Naruto.

'Terimakasih, karena sudah memperhatikanku. Walau aku harus selalu mengorbankan kesehatanku.' Batin si pirang sambil menatap pemuda rambut oranye dengan senyum kecil.

003; Past

Words; 2,423

Disc. ; Naruto belongs to Masashi Kisimoto. I just borrow the chara.

Naruto terbangun pagi berikutnya. Wajahnya terlihat menyeramkan dengan kantung mata hitam dan muka yang kusut. Kepalanya menengadah, menatap langit–langit kamarnya yang bercat peach. Matanya terpejam lelah, mungkin ia tak akan masuk hari ini. Dan dengan helaan nafasnya lagi, ia sudah berada diatas ranjangnya. Menatap sendu sebuah bingkai foto yang terpasang di meja nakasnya.

"Aku masih–begitu–mencintaimu. Kyuubi."lirihnya.

Dan pagi itu Naruto habiskan penuh dengan air mata, sampai akhirnya ia terlelap, dengan anak sungai di pipinya.

XXXX

"Uzumaki Kyuubi, apa yang sedang kau pikirkan?"suara lembut ibunya menyadarkan Kyuubi dari lamunanya. Sendari tadi ia hanya memainkan makanannya, tanpa ada niatan sedikit pun untuk melahapnya.

"Kau bisa berangkat kalau kau tak ingin sarapan di rumah, sayang."ujar ibunya, sambil mengelus rambut merah ke–oranye–an milik anaknya itu.

"Baiklah, kaa–san. Aku berangkat."ucapnya lalu berdiri dan berjalan menjauhi sang ibu dengan tas ransel di punggungnya.

Mobil ber–cat metalik miliknya berjalan pelan menyusuri jalanan sepi pagi ini. Matanya menatap malas jalan yang renggang. Ini memang masih terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah, namun karena mood–nya yang kacau pagi ini, ia memutuskan untuk menenangkan dirinya di sekolah.

Kyuubi keluar dari mobilnya, menatap lapangan parkir yang masih sepi, hanya ada mobilnya dan sebuah mobil sport berwarna putih. Alisnya menyatu, siapa orang gila yang datang sepagi ini ke sekolah, selain dirinya tentunya?. Itu adalah pemikiran yang terlintas dalam benak seorang Uzumaki Kyuubi dalam kurun waktu lima belas detik, sebelum melangkahkan kakinya menuju atap.

"Jangan membenciku terlalu lama Naruto. Kau tahu itu adalah kelemahanku."bisiknya. Iris ruby–nya menatap ke atas langit biru. Angin pagi berhembus lembut, seakan ingin membuat Kyuubi merasa lebih baik.

XXXX

Langkah sepatu yang terdengar tergesa itu menggema di lorong kelas satu di kelas atas. Seorang pria dengan masker yang menutupi wajah hingga sebatas matanya berjalan cepat. Matanya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya itu.

'Kuso, aku terlambat' runtuknya dalam hati.

Suara kelas yang tadinya gaduh kini mulai tenang, saat seorang pria dengan rambut perak; seorang guru masuk kedalam kelas. Kaki–kaki panjangnya berjalan menuju mejanya, dengan pelan dan seakan mengintimidasi.

"Ya! Kaka–sensei! Kenapa kau telat lagi?! Ini sudah telat satu jam dari jadwalnya!"teriak seorang gadis dengan rambut merah muda dan sebuah bandana merah di kepalanya.

"Maafkan sensei, oke? Aku hanya bangun kesiangan tadi"jawab Kakashi. Ia mulai membuka map merah di mejanya yang berisi absensi. Dan mulai membacanya.

"Uzumaki Naruto"panggilnya. Namun tak ada seorang pemuda pun yang berkata 'Aku disini, tebayo' ataupun hanya mengangkat tangannya.

"Jadi, kemana pemuda itu?"tanyanya pada seluruh siswa dikelasnya.

Hening, hanya hening dan tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaannya.

XXXX

Tok! Tok! Tok!

"Masuk"ucap seorang wanita dengan rambut blonde dan kulit putih. Iris orange–nya menatap tajam seorang pria bermasker yang masuk kedalam ruangannya.

"Ada apa Kakashi? Biasanya kau kesini hanya jika anak itu membuat masalah, benar?"tanyanya. Jubah hijaunya sedikit tergolak karena pergerakan yang ia ciptakan.

Pria yang ia ajak bicara itu duduk didepannya. Dengan membawa sebuah amplop coklat ditangannya, kemudian meletakkannya diatas meja.

"Uzumaki Naruto tak masuk sekolah tanpa izin hari ini. Dan ini laporan dari suruhan anda, Tsunade–sama"ucap Kakashi. Matanya menatap setiap mimik wajah yang diciptakan oleh penerus Klan Senju itu.

"Apa–apaan bocah bodoh itu?! Kenapa dia menjadi gila seperti ini. Kakashi, cepat panggil Kushina dan Minato agar menghadapku sekarang juga!"teriaknya. Tangannya menggebrak meja kerjanya, menimbulkan sedikit retakan pada kayu yang sengaja dipilih kualitas nomor satu itu.

Matanya menatap sendu potret demi potret cucunya yang terlihat tak se'hidup' dulu. Matanya menyorotkan ke–putus asaan, dan kosong.

XXXX

Naruto duduk di kursi yang ada di dapurnya. Didepannya sudah ada se–cup ramen instan yang siap santap. Namun alih–alih memakannya, ia hanya mengaduk–aduknya dan memperhatikan kuahnya yang lama–kelamaan mulai menghilang.

Irisnya teralihkan pada pemandangan di luar jendela. Matanya menatap kosong jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan–kendaraan tersebut.

'230793 is calling…'

Naruto menatap layar ponselnya, dengan malas ia menekan tombol hijau lalu menempelkan benda persegi panjang dan tipis itu ke telinga kanannya.

"Halo."

"Kenapa kau membolos, dobe?"

"Eh, Teme! Dari mana kau tahu nomor ponselku?"pekiknya. Matanya membulat dan badannya bangkit dari duduknya. Terlalu kaget dengan kabar kalau yang meneleponnya adalah Sasuke.

"Aku sudah dibawah. Berpakaian yang cantik, dan cepat temui aku dibawah. Aku benci menunggu" ucap Sasuke lalu dengan itu dia memutus telepon sepihak.

Alis Naruto bertautan.

Apa katanya tadi?

Cantik?

"Teme!"

XXXX

Naruto tak tahu apa hari ini adalah hari sialnya, karena tanpa paksaan dia menuruti permintaan pemuda raven yang sedang mengemudi disampingnya itu. Ia lebih tertarik dengan pemandangan yang terlihat dari jendela mobil milik Sasuke.

"Uhm… Sasuke, dari mana kau tahu aku bolos?"tanyanya dengan suara yang kian memelan. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merahmuda di kedua pipinya.

"Aku dengar saat lewat depan kelasmu."jawab Sasuke singkat, lalu kembali menaruh perhatiannya pada jalanan didepannya.

"Lalu kenapa kau sekarang disini? Kau juga membolos?"tanya Naruto dengan mata yang membola. Ia menatap Sasuke dengan pandangan tak percaya. Hanya demi dirinya kah pemuda raven ini bolos?.

"Ya. Tidak. Aku punya dua alasan kenapa menjawabnya 'ya' dan 'tidak'."

XXXX

"Tsunade–sama. Apa yang Tsunade–sama ingin bicarakan dengan kami berdua. Kami segera terbang dari Beijing saat mendengar pesan dari Kakashi kalau Tsunade–sama ingin berbicara dengan kami."ucap seorang pria dengan rambut pirang dan iris biru. Ia memandang sosok 'ibu' yang sedang menatapnya tajam itu.

"Sebenarnya apa yang kalian lakukan sehingga membuat Naruto berubah menjadi seperti itu?"tanya Tsunade dengan suara rendah dan datar. Ia kemudian melempar beberapa potret Naruto ke depan kedua orang beda warna rambut itu.

Wajah Minato mengeras saat melihat bagaimana sendunya wajah anaknya dalam potret tersebut. Ingatannya kembali pada waktu lima tahun yang lalu, saat ia dan Kushina melakukan perubahan besar–besaran pada anak mereka.

"Kami tak melakukan apapun, Tsunade–hime. Kami hanya melakukan apa yang sepantasnya dilakukan seorang orang tua"ucap Kushina dengan datar. Iris merahnya menatap dalam iris oranye Tsunade.

"Apa kalian tahu bahwa apa yang kalian lakukan sudah mengubah Naruto menjadi seperti ini?! Kalian membuatnya terpuruk! Apa kalian sadar akan hal itu?!"teriakan Tsunade menggema hingga ke sudut ruangan. Matanya menatap nyalang kedua orang tua yang menurutnya tak pantas disebut sebagai orang tua itu.

"Kami sadar, Tsunade–hime. Kami sangat sadar dan tak ada penyesalan sedikit pun karena telah membuat Naruto menjadi seperti itu."Jawab Kushina. Minato menatap istrinya dengan pandangan tak percaya. Apa itu katanya? Tak ada penyesalan?

"Demi Tuhan Kushina, Deidara sudah mati lima tahun yang lalu!"teriak Tsunade lagi. Dadanya naik–turun karena nafas yang ia ambil. Kushina dan Minato, benar–benar orang tua yang menyedihkan.

"Apa yang ia alami selama ini tak bisa menebus rasa kehilangan yang kami rasakan, Tsunade–hime. Dan maaf kami permisi. Ada satu hal yang harus kami lakukan. "ucap Kushina sebelum meninggalkan Tsunade sendiri diruangannya dengan kemarahan di ubun–ubun.

XXXX

Naruto menatap kagum padang ilalang yang tingginya mencapai setinggi dadanya itu. Ia terus berlari sambil tertawa, Sasuke menatapnya dengan senyum segaris.

Sasuke menyamankan diri dengan bersandar pada sebuah pohon sakura dengan tangannya yang disilangkan didepan dada. Alisnya mengernyit saat tak lagi mendengar suara tawa Naruto. Kakinya secara reflek berlari mendekati padang ilalang itu.

"Akh! Suke! Suke! T–tolong!"teriak Naruto. Kaki Sasuke tanpa sadar berlari lebih cepat, membelah lautan ilalang setinggi perutnya itu untuk mencari sosok Naruto.

"Naruto! Naruto!"teriaknya. Iris kelamnya menatap kalut sekeliling. Ia masih terus berlari, hingga kakinya menapak hamparan rumput hijau dengan beberapa batu besar dan sebuah pohon sakura besar.

Sasuke baru ingat kalau bagian tengah dari padang ilalang ini adalah padang rumput. Kakinya kembali berlari saat melihat sosok Naruto yang sedang berlutut didepan pohon sakura. Ia memelankan lajunya saat jaraknya dengan Naruto tersisa tiga meter.

Ia melihat Naruto yang terus bertahan dalam posisinya, sambil menatap batang pohon tersebut. Alis Sasuke terangkat. Mengingat sesuatu.

'Apa dia sudah mulai ingat?'

XXXX

"Kushina berhenti!"teriak Minato. Pria dengan rambut pirang itu memandang punggung istrinya dengan pandangan tajam.

Wanita dengan rambut merah se–pinggang itu membalikkan badannya, menatap sang suami yang menatapnya berbeda dari biasanya. Ia hanya terdiam saat sosok Minato mulai mendekat kearahnya, hingga ia kini sudah ada didepannya.

"Apa yang kau ucapkan tentang tak menyesal. Kau tahu kalau kematian Deidara itu murni bukan karena Naruto."ucap Minato. Pandangannya semakin tajam dan dalam kepada istrinya itu.

"Kau terus saja membelanya. Kau tahu sendiri kalau bukan untuk menyelamatkan anak sialan itu, Dei–chanku mungkin masih bisa bersama kita."

Flash back

Hari minggu pada minggu ke–dua di bulan Agustus. Seorang pemuda dengan rambut kuning sebahu itu menatap kedua orang tuanya dengan pandangan memohon.

"Aku mohon. Kaa–san, Tou–san. Tolong ijinkan aku untuk menyelamatkan Naruto"ucap pemuda itu yang bernama Deidara.

Sang ibu yang sendari tadi menangis menatap anak sulungnya dengan pandangan tak rela.

"Jangan melakukan hal se nekat itu Deidara. Tsunade–sama sudah mengerahkan beberapa ANBU untuk menyisir ke lokasi terakhir Naruto berada."ucap ayahnya–Minato. Berharap kalau ucapannya bisa meyakinkan anak sulungnya itu.

"Tapi tou–san. Bukankah ini arti dari kakak seperti apa yang tou–san beritahukan padaku. Apapun keadaannya, aku akan selalu berusaha melindungi adikku sendiri. Bahkan jika itu mempertaruhkan nyawaku."ucapnya tegas. Ia mulai beranjak dari duduknya. Menatap ibu dan ayahnya lembut sebelum menundukkan kepalanya, bersalam. Lalu hilang dibalik pintu utama Namikaze, dengan dibarengi isakan atau raungan dari ibu tercintanya.

Ditempat lain.

Anak lelaki dengan rambut pirang dan tiga garis lembut di pipinya itu terlihat sedang menutup matanya. Kaki dan tangannya diikat dengan tambang, sedang mulutnya dibungkam dengan isolasi hitam.

Dahinya terlihat mengkerut, pertanda kalau ia mulai meraih kesadarannya. Secara perlahan kelopak tan itu mulai terbuka, menampilkan iris safir yang terlihat sendu. Ia menatap sekelilingnya. Dari apa yang ia lihat, ia hanya melihat obor yang ada di empat sudut ruangan, cukup menerangi ruangan yang tergolong sempit itu. Dan saat Naruto mulai mencoba untuk menggerakkan badannya, saat itulah ia sadar kalau ia sedang di ikat dan ada selembar isolasi yang menutupi mulutnya.

"Engh.. erngh…"hanya desahan–desahan halus yang bisa ia keluarkan. Matanya sekali lagi menatap sekeliling dengan takut, dan tanpa ia sadari ia sudah mulai menangis.

Pria dengan rambut kuning itu berjalan mengendap dan masuk kedalam sebuah pintu kayu yang disampingnya terdapat lilin kecil sebagai penerangan. Ia membuka pintu itu pelan, agar tak menimbulkan suara sedikitpun. Ia segera menutup kembali pintu kayu itu.

Kakinya terus melangkah mencari ruangan dimana adiknya itu disekap.

"Engh.. erngh…"ia mendengar lenguhan kecil dari dalam ruangan yang berjarak tak jauh darinya. Setelah meyakinkan hatinya sesaat, ia memegang kenop pintu itu dengan jantung yang berdegup kencang.

Cklek.

Iris aquamarine–nya membulat, melihat sang adik yang terikat dengan mulut yang di tutup lakban. Ia segera berlari menuju adiknya. Hatinya terasa teriris saat melihat mata adiknya yang memerah dan jejak air mata di pipinya.

Tanpa ragu, ia segera mengeluarkan sebilah pisau dan memotong tambang yang mengikat tubuh Naruto.

"Naru. Naru, sadarlah."bisiknya sambil mengguncang pelan tubuh pelan sang adik.

Ia mengerutkan dahi saat melihat iris safir adiknya yang terlihat sendu. Ia segera menggendong adiknya dan berlari kecil keluar dari ruangan dan tempat itu.

Deidara membulat saat ada dua orang dengan masing–masing short gun ditangan mereka yang mencegatnya di ambang pintu keluar. Ia mengeluarkan sebuah pistol dari balik punggungnya, menembak dada kiri kedua pria itu sebelum pria itu menembaknya.

Setelah selesai dengan dua pria tadi, Deidara segera berlari menuju mobilnya. Namun sebelum ia sampai di mobilnya.

Dor!

Seorang pria tadi yang belum terbunuh sepenuhnya menembak tepat dijantungnya. Matanya menyipit menahan sakit dengan mulutnya yang beberapa kali mengeluarkan darah. Ia segera menurunkan adiknya yang menatapnya dengan mata yang membulat takut. Menatap adiknya dengan senyuman yang–sangat–dipaksakan.

"Naruto cepatlah lari dari tempat ini. K–kau harus tetap hidup."ucap Deidara sebelum kegelapan menguasainya.

"Dei–Dei–nii! Dei–nii bangun!"teriak Naruto. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya.

"Naruto–sama"panggil seorang pria dengan topeng diwajahnya. Naruto membalikkan sambil tetap terisak.

"A–apa?"ucap pria itu tak percaya. Ia segera memanggil beberapa temannya dan ia sendiri menggendong Naruto dan segera membawanya pulang.

Flashback OFF

"Jangan egois, Kushina! Naruto juga anak kita, Ia juga berhak mendapat kasih sayang kita sebagai orang tuanya"ucap Minato sambil menatap sang istri yang hatinya benar–benar sudah membatu untuk Naruto.

"Kasih sayang sebagai orangtua, ya?"ucapnya lirih sambil menatap ke lantai marmer dan kakinya yang dibalut stiletto hitam.

Minato menatap Kushina tajam. Ia benar–benar tak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.

"Jangan harap dia akan mendapatkannya. Setelah dia membunuh Deidara, Jangan pernah berharap!"teriak wanita paruh baya itu kemudian meninggalkan Minato yang sedang membeku.

XXXX

Sasuke mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang. Sosok pemuda rambut pirang itu sudah terlelap di sampingnya. Dengan wajah yang mengarah ke arah Sasuke.

'Cantik sekali' batinnya. Ia seperti melihat sosok sahabat kecilnya lagi, tapi sayang beribu sayang, Naruto tak pernah mengingatnya setelah kejadian itu.

Flashback ON

"Ayo Sasu–nii! Kejar Naru!"teriak bocah lelaki dengan rambut pirang itu. Ia tengah berlari sedang satu bocah lelaki dengan rambut dark blue lainnya mengejarnya. Ia berlari tanpa melihat kearah depan dan akhirnya…

Brukk…

"Itte!"pekiknya sambil mengelus bokongnya yang terlebih dahulu mencium tanah. Sasuke yang melihatnya segera berlari menuju Naruto dan membantunya berdiri.

"Naruto, kau baik–baik saja?"tanya Sasuke sambil mengerutkan keningnya, ia memandang wajah temannya yang melihat kearah depan dengan wajah takut.

"Kaa–chan"lirih Naruto. Matanya membulat saat menemukan sosok ibunya yang menatapnya penuh kebencian berdiri didepannya.

"Dasar anak tak tahu diri. Cepat pulang!"bentak kushina. Ia bahkan tak merasa iba sedikit pun saat iris sewarna berlian safir itu mulai memerah dan mengembun.

Sosok wanita dengan rambut merah se–pinggang itu segera membalikkan badannya dan di susul oleh Naruto dibelakangnya.

"Naru…to"panggil Sasuke dengan nada yang semakin menghilang. Ia memandang punggung mungil temannya itu, lalu tersenyum kecil.

"Tadi itu ibunya Naruto, ya? Pasti dia akan baik–baik saja kalau bersama ibunya"ucap Sasuke pada dirinya sendiri sebelum meninggalkan padang rumput itu.

Jantung Naruto berdetak tak karuan, ia tak bisa menerka–nerka, hukuman apalagi yang akan ibunya berikan untuknya. Ia hanya menundukkan kepalanya saat pintu kamarnya tertutup, ia memejamkan matanya sebelum mendengar perkataan ibunya …

"Dasar anak pembawa sial! Sudah kubilang jangan pernah keluar dari kamarmu ini! Apalagi bermain dengan bungsu Uchiha yang sama sekali tak sederajat denganmu! Kau harus melupakan semua ingatanmu dengan bungsu Uchiha itu! Aku tak ingin kau semakin mempermalukan keluarga Namikaze dengan tingkah bodohmu itu!"bentakan demi bentakan. Naruto hanya memejamkan matanya, sambil menggenggam erat ujung kaos yang dikenakannya.

"Aku sudah menyesal pernah melahirkanmu, kau harus ingat itu!"bentak kushina sebelum ia meninggalkan kamar Naruto dan mengunci kamar itu dari luar.

Brukk…

Lantai kayu itu mulai basah, karena tetes demi tetes air mata yang mengalir dari bocah lelaki malang itu. Ia jatuh bersimpuh, dengan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya. Menyembunyikan isakan pedihnya dari siapapun.

FLASHBACK OFF

Sasuke menekan tombol lantai lift sambil menggendong Naruto ala bridal. Jangan tanya bagaimana ia bisa mengetahui lantai dan nomor apartemen Naruto. Dia itu Uchiha, dan Uchiha selalu mendapat apa yang mereka inginkan.

To be continue…