PET RESCUE
Story by – (Kenjiro Teo)
Romance, Crime, Yaoi Chaptered PG -15 Jaehyun, Taeyong, Yuta, Heechul, Hangeng, Ten, and Other Cast
Disclaimer : Ini hanya cerita fiktif. Jika merasa cerita ini tidak masuk akal. Silahkan pindah lapak.
#
#
#
#
Brukkkk
Seorang pria mungil manis dengan mata kecilnya melemparkan tas ransel mahal itu ke bangku. Dan setelahnya ia juga duduk dengan bosan sambil menatap sekelilingnya. Semuanya nampak membosankan baginya. Ia malas berada dikelas terus menerus. Belajar dan belajar membuatnya pusing setiap waktu. Yang ia inginkan hanyalah cuci mata. Ya bukan dalam artian ia harus melepas matanya dan melemparnya ke mesin cuci. Tapi ia ingin melihat seseorang yang sangat sangat ia sukai belakangan ini. Seseorang yang hampir dua Minggu lamanya merawat dia dirumah sakit. Ia begitu terpesona dan jatuh hati pada orang itu. Dan ia pun sering mengkhayal tentang bagaimana jika ia mendapatkan orang itu. Seperti saat ini, ia sedang berusaha keras berpikir untuk menemui orang yang ia kagumi itu hingga tak sadar ia melamun. Sampai akhirnya sebuah ide cerdik melintas di kepalanya. Ia mengeluarkan ponsel mahalnya dan menghubungi seseorang
"Hey kau! Cari tau alamat orang yang mengobatiku di rumah sakit itu! Sekarang"
"Baik tuan muda"
dan setelahnya ia menutup panggilan lalu kembali tersenyum sendiri bagai orang yang sudah hilang kewarasannya
Yup, seseorang yang dipanggil dengan sebutan tuan muda itu bernama Chittaphon Lee... atau biasa dipanggil Ten oleh teman-temannya. Ia memang bukan orang Korea asli. Ten pindah dari Thailand ke Korea saat berumur 15 tahun. Ia mengikuti seseorang yang ia yakini adalah ayahnya. Yang Ten tau hanyalah ayahnya membawanya ke Korea dan memberikan liburan gratis kepada seluruh keluarga serta saudara kandung Ten di Thailand. Jadi ia menurut saja tanpa tau apa-apa. Ia berpikir jika ayahnya ini sangat baik. Ayahnya mampu memberikannya apapun tanpa berkata tidak.
Di umur Ten yang masih terbilang remaja labil pun ia sudah mendapatkan banyak mobil mewah serta barang-barang mahal lainnya. Bahkan ia pun bersekolah di sekolah yang sangat berkelas. Ia juga punya banyak teman disekolah. Ten anak yang baik ramah dan ceria. Membuat siapapun senang jika sedang bersamanya. Tapi ada satu hal yang membuatnya bingung dan penasaran. Sebenarnya darimana datangnya uang dengan jumlah besar itu di tangan ayahnya. Ia hanya tau jika ayahnya akan lebih sering pergi berlibur atau pergi bisnis dengan temannya. Tapi Ten tidak pernah tau apa pekerjaan ayahnya. Dan bahkan Ten sendiri tidak pernah bertemu dengan keluarga ayahnya di Korea. Disekelilingnya hanya ada bodyguard. Sudah hampir dua tahun ia tinggal dengan ayahnya di sebuah mansion besar megah dan amat mewah. Begitu luas hingga kau bisa bermain bola didalamnya. Dan selama dua tahun itu pula Ten tak pernah dihubungi atau dibiarkan menghubungi keluarganya di Thailand. Ia begitu merindukan saudara-saudaranya. Sorn, Lisa, Bambam, terkadang Ten merasa kesepian karena tidak ada mereka disisinya. Tapi Ten langsung menepis itu semua dan berpikir positif. Bahwasanya keluarganya itu pasti baik-baik saja dan mereka menjalani kehidupan seperti biasa.
Ten berjalan mengendap endap dibalik gedung kelasnya. Setelah sebelumnya ia meminta izin ke toilet. Masabodo dengan tas nya yang masih terjebak di kelas. Ia harus segera menemui pujaan hatinya saat ini.
"Cepat berikan padaku. Sekarang!" Ucapnya agak ketus pada seorang bodyguardnya
"Ini tuan" bodyguardnya memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat yang membuat Ten menatapnya dengan berbinar
"Terima kasih. Kau- maksudku kalian semua. Pergilah! Kemanapun kalian mau. Aku akan pergi ke suatu tempat dan aku tidak mau kalian mengikutiku"
"Tapi, bos akan marah jika kita tidak mendampingi Anda tuan muda"
"Persetan dengan itu! Aku tuan muda kalian! Aku juga bos kalian! Dan aku perintahkan kalian untuk kembali saja ke rumah. Jangan membuntutiku" Ten berkata dengan tegas.
"B-baiklah tuan muda. Kami hanya akan memantau Anda dari jauh" lima bodyguard itu segera pergi dari hadapan tuan mudanya. Tak ingin membuat tuan muda memecatnya dengan sadis.
"Baiklah, Dr.Jung yang tampan. Aku datang!" Ten tersenyum lebar berlari keluar sekolahnya menuju rumah orang yang dia sukai atau lebih tepatnya Dr.Jung.
Sinar cahaya mentari pagi menembus setiap celah gorden besar itu. Jam dinding berdetak pelan tanpa ada niatan membangunkan sang majikan yang masih terlelap didalam selimut tebalnya. Suara dengkuran halus masih terdengar dari kedua manusia yang saling berpelukan diatas ranjang itu. Hingga salah satunya terbangun dengan perlahan
"Hoaaaaaaaam" Jaehyun menguap lebar sembari membiasakan matanya bertemu dengan cahaya matahari yang menyilaukan melalui celah jendela kamarnya. Matanya beralih ke dadanya saat dirasa ada sesuatu yang menindih nya. Sebuah senyuman tulus terukir di bibirnya tatkala melihat Taeyong tertidur nyenyak dengan kepala diletakkan di atas dadanya. Dengan perlahan ia mengelus rambut Taeyong. Ia tidak menyangka jika Taeyong memiliki rambut yang sangat halus dan terasa sangat lembut saat disentuh. Menciumnya sesaat tepat di pucuk kepala Taeyong membuatnya mabuk akan aroma bayi yang menguar dari rambut halus itu. Jaehyun pun sempat mengelus pipi mulus tanpa noda milik Taeyong yang entah kenapa membuatnya makin ingin terus menyentuhnya. Hingga Jaehyun tanpa sadar sudah membangunkan si anak ayam mungilnya
"Eungghhhhh... hoaaammm Jaehyun?" Taeyong menangkap basah Jaehyun yang terdiam menatapnya dengan tangan masih setia mengelus rambut serta pipinya
"Apa yang kau lakukan?" Taeyong menatap polos kearah Jaehyun
"A-aku ahahahahahhahh tidak ada. Hanya ingin membangunkanmu saja" Jaehyun bersikap santai dan senormal mungkin menghindari tatapan Taeyong yang sanggup meluluhkan hatinya. Jaehyun beranjak dari ranjangnya dan segera memasuki kamar mandi saat melihat jam dinding menunjukkan waktu yang tepat untuknya bersiap sebelum berangkat menuju rumah sakit tempatnya bekerja. Dan Taeyong dengan tubuh masih linglung pun berjalan keluar kamar menuju sofa depan TV. Mencari kartun kesayangannya.
15 menit kemudian Jaehyun sudah bersiap dan keluar dari kamarnya. Dengan pakaian kerja ala dokternya, ia terlihat berkali kali lipat lebih tampan. Hingga Taeyong menatapnya tak berkedip
"Ayo sarapan Taeyongie. Jangan menatapku seolah olah aku ini pokemon langka yang kau incar kkkk" Jaehyun berjalan menuju dapur dan menyiapkan sandwich untuk keduanya sarapan
"Jaehyun mau kemana?" Taeyong menggigit roti sandwich nya lahap tetapi matanya terus menatapi Jaehyun
"Aku harus pergi bekerja. Untuk bisa membeli sesuatu dengan uang. Maka aku harus bekerja" Jaehyun menjelaskannya dengan tenang
"Jaehyun itu apa?" Taeyong masih ingin tau lebih banyak rupanya
"Aku adalah dokter. Dokter bertugas menolong orang yang sakit. Dan aku bekerja di rumah sakit" Taeyong hanya mengangguk saja. Ia memang mudah mengerti akan suatu hal yang baru dipelajarinya
"Ah Taeyong, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Jaehyun teringat sesuatu yang ia temukan tadi malam
"Tanya apa?" Taeyong menatapnya dengan mulut penuh roti
"Semalam aku menemukan ini. Apa ini milikmu?" Jaehyun menunjukan sebuah lipatan kertas yang ia temukan di ranjangnya semalam. Berharap ia bisa mengetahui darimana asalnya kertas itu.
"Itu apa? Taeyong tidak tau" Taeyong dengan polosnya menggeleng pelan
"Kau benar-benar tidak tau? Apa kau tidak mengingat apapun?" Jaehyun masih belum puas dengan jawaban Taeyong
"Aku benar-benar tidak tau itu apa. Tapi, hmmm..." Taeyong nampak berpikir sejenak
"Taeyong ingat dimana menemukannya" dan detik berikutnya Taeyong berlari menuju kardus telurnya dan mencari Hoodie putih yang ia kenakan saat pertama kali menetas
"Apa yang kau ingat tae?" Jaehyun nampak kebingungan melihat apa yang Taeyong lakukan sedari tadi
"Ini. Aku menemukan kertas itu dibaju ini. Tapi aku tidak tau itu apa. Saat Jaehyun menyuruhku mengganti baju, aku tetap menyimpannya di kotak ini" Taeyong menjelaskan dengan aksen polos bagai anak TK
"Itu saku baju tae. Bukan kotak" Jaehyun menunjuk saku baju Taeyong
"Memangnya kenapa Jaehyun??" Taeyong ikut penasaran dengan maksud kertas itu
"Ah tidak ada apa-apa. Lupakan saja. Ini hanya kertas biasa. Kenapa kau menyimpan ini tae? Apa kau bisa membaca?" Jaehyun agak sedikit penasaran dengan Taeyong yang sengaja menyimpan kertas itu
"Taeyong suka warnanya!! Sama seperti celana dalam kita!!" Taeyong melonjak senang dan membuat Jaehyun bersweat drop ria.
Jaehyun sudah selesai memakai sepatu dan bersiap pergi. Ia menatap Taeyong sejenak. Berpikir apakah baik-baik saja meninggalkan Taeyong sendirian dirumah. Taeyong kan masih belum mengerti banyak hal. Tapi pekerjaannya membuatnya harus segera bergegas sebelum ia mengacaukan jadwal hariannya
"Taeyong. Kau diam dirumah saja sampai aku pulang ya? Nanti jangan lupa mandi. Aku akan pulang secepatnya. Jangan keluar rumah seenaknya. Dan jangan buka pintu rumah seandainya bel ini berbunyi. Mengerti?" Jaehyun menatap tepat kearah mata jernih Taeyong
"Baiklah Taeyong mengerti!" Taeyong tersenyum menunjukkan eyesmilenya
"Aku pergi dulu ya" Jaehyun mengacak rambut Taeyong sejenak namun saat ia hendak menyentuh pegangan pintu, lengannya ditahan-
"Jaehyun, pulangnya belikan aku pokeball yah..??" Taeyong menatapnya dengan puppy eyes. Dan ia menyesal telah melihatnya. Membuat Jaehyun tak ingin pergi bekerja.
Taeyong kembali kedalam kamar dan langsung mandi. Ia masih agak bingung dengan cara mandi manusia pada umumnya. Dan Jaehyun pun belum mengajarkannya mandi. Jadi ia hanya mengikuti insting saja. Untungnya ia dikaruniai IQ yang tinggi sehingga ia bisa mengerti apa kegunaan benda-benda dikamar mandi itu.Ia sempat bergidik kedinginan saat pertama kali masuk kedalam bathub yang penuh dengan air. Awalnya Jaehyun sudah mengisi bathub itu dengan air hangat. Tapi karena terlalu lama didiamkan, airnya pun kembali dingin dan Taeyong mau tidak mau harus tetap mandi. Karena Jaehyun menyuruhnya mandi. Tentu saja Taeyong mau karena ia tak akan berani melawan Jaehyun.
Setelah beberapa menit mandi, Taeyong pun kembali ke depan tv dengan memakai kaos pendek bergambar Pikachu dan celana pendek selutut. Ia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang. Jadi Taeyong hanya menonton tv saja.
"Ah bosan! Aku mau main" Taeyong mengerucutkan bibirnya. Matanya masih menatap kearah tv. Ia sedikit melamun sampai akhirnya perhatiannya teralih pada pintu depan apartemen yang belnya berbunyi. Taeyong mendekati pintu itu tanpa ada niatan ingin membukanya. Ia masih ingat pesan Jaehyun untuk tidak membuka pintu sembarangan. Jadi ia berbalik dan membiarkan saja bel itu terus berbunyi.
"Aku mau minum susu" Taeyong berjalan menuju dapur dan mencari susu vanillanya yang sangat diinginkannya kemarin.Belum sampai Taeyong menemukan box susunya, matanya sudah teralih lagi pada sesuatu yang kecil dan berada didekat kakinya. Taeyong tidak tau benda apa itu. Tapi yang jelas dia bergerak disekitar kakinya. Ada dua antena panjang dan sayap tipis. Warnanya coklat dan bergerak cepat menjauhi Taeyong. Taeyong yang begitu penasaran pun lantas mengejarnya. Berlarian ke sana kemari tanpa tau apa yang ia kejar. Sampai benda kecil berantena itu melewati pintu apartemen, seketika itu pula Taeyong lupa akan ucapan Jaehyun.
Brukkkk
Taeyong membuka pintu dengan tergesa,namun gerakannya langsung terhenti saat matanya menangkap sosok asing berdiri kebingungan dihadapannya.
"Siapa kau?" Tanya orang itu
"Siapa kau?" Bukannya menjawab, Taeyong malah membalikkan pertanyaannya. Membuat orang bertubuh lebih kecil dari Taeyong itu mengernyitkan dahinya
"Apa yang baru saja kau lakukan? Mengejar kecoa?" Tanya orang itu
"Ke.. kecoa?" Taeyong ikut mengernyitkan alisnya bingung
"Aku Ten. Kau siapa? Dan apa yang kau lakukan disini?"
"Hmmhh t-taeyong" Taeyong berkata dengan gugup. Karena ia merasa orang bernama Ten ini tidak begitu menyukainya. Dilihat dari sikapnya tadi.
"Okay kau Taeyong. Dan aku- "
"Kecoa!!" belum sempat Ten menyelesaikan ucapannya, Taeyong berseru lebih dulu. Taeyong melihat kecoa dipundak Ten
"YAK!!! BERANINYA KAU MENGATAIKU KECOA!!!"
Taeyong berjalan tak tentu arah dengan badan lesu. Ia tak tau mau kemana. Setelah tadi seseorang bernama Ten mengusirnya dari apartemen Jaehyun. Taeyong juga tidak tau siapa Ten. Tapi sebelum Taeyong sempat masuk kedalam apartemen, Ten sudah lebih dulu menarik pintunya. Sehingga siapapun tak bisa membukanya lagi tanpa tau password pintu itu. Jadilah sekarang Taeyong melangkah di trotoar jalan. Ia tidak memakai alas kaki apapun. Ia hanya berjalan tanpa tujuan. Kakinya berhenti melangkah tatkala ia mendengar suara petir disertai awan abu-abu yang semakin lama semakin menghitam. Yang siap meluncurkan air hujan kapanpun. Taeyong duduk meringkuk di halte yang sepi. Ia cukup kedinginan karena hanya memakai kaos pendek dan celana selutut. Udara Seoul saat ini cukup dingin untuk seseorang dengan pakaian pendek seperti yang Taeyong gunakan saat ini. Ia memejamkan matanya. Berharap Jaehyun datang saat ia membuka matanya nanti.
Ten segera berlari menuju rumah sakit tempat Jaehyun bekerja. Karena ia tidak menemukan Jaehyun di apartemennya dan hanya menemukan orang asing yang dengan tidak sopan nya mengatainya kecoa. Ten memasuki gedung putih itu dan langsung menghampiri meja resepsionis.
"Dimana Dr.Jung?" Tanyanya langsung
"Dr.Jung sedang dalam tugas. Jadwalnya padat hari ini. Ada pesan atau Anda ingin menemuinya?"
"Tentu saja! Kapan jadwalnya selesai?" Ten sudah tidak sabar bertemu Dr.Jung kesayangannya itu
"Mungkin jam 6 sore nanti selesai. Itu jadwal hariannya"
"Apa?! Aku harus menunggunya selama itu? Apa kau gila?! Aku hanya ingin menemuinya"
"Apa anda ingin konsultasi? Anda bisa mendaftar. Tapi Anda di barisan paling bawah. Karena di daftar teratas sudah banyak pasien lain yang mendaftar"
"Tidak mau! Aku ingin menemuinya!" Ten terlihat kesal menatap sang resepsionis
"Hey hey ada apa ini? Ten? Kau Ten yang Minggu kemarin baru keluar dari sini kan?" Seseorang berdiri dan berbicara di samping Ten yang ikut menatapnya kesal
"Iya! Kenapa? Kau siapa?" Ten menjawab dengan ketus
"Hahahaha lucu sekali. Aku Yuta. Nakamoto Yuta. Kenapa kau marah-marah seperti itu hm?"
"Aku ingin menemui Dr.Jung! Dimana dia? Antarkan aku ke ruangannya!" Ten berbicara dengan nada memerintah
"Jaehyun sedang sangat sibuk hari ini. Banyak sekali pasien yang harus ia tangani. Kalau kau mau kau bisa menunggu. Disini ada kantin yang bisa kau gunakan untuk menunggu"
"Hhhhhhhhhh baiklah" Ten akhirnya menyerah dan memilih ikut dengan Yuta menuju kantin rumah sakit. Mereka saling berkenalan dan mengobrol sedikit. Walaupun terkadang Ten suka menyentak atau berseru pada Yuta. Tapi Yuta memakluminya. Karena Yuta lebih tua dari Ten. Yuta adalah dokter anak. Ia bekerja di rumah sakit yang sama dengan Jaehyun karena mereka adalah sahabat sejak SMA. Yuta maupun Jaehyun saling mempercayai satu sama lain. Yuta pindah dari Osaka ke Seoul saat kelas 2 SMA. Dan Jaehyun adalah teman pertamanya di sekolah. Karena Yuta belum menguasai bahasa Korea, dan hanya menggunakan bahasa Inggris saja. Hanya Jaehyun lah yang mengerti dan mau bermain dengannya. Karena Jaehyun sangat fasih berbicara bahasa Inggris. Sejak itu pula mereka berikrar bahwa persahabatan mereka tak akan pernah putus sampai kapanpun. Yuta ataupun Jaehyun selalu berusaha membantu dan menolong satu sama lain.
06.00 PM
Waktu menunjukkan pukul enam sore dan langit mulai meredup. Menampilkan sisi gelapnya dimalam hari. Dan Jaehyun baru saja selesai dengan tugas hariannya. Ia masih memakai jas putih ala dokternya dan duduk lemas di kursi kerjanya. Jaehyun tersenyum mengingat Taeyong dirumah. Ia yakin Taeyong sedang menunggunya. Ah ia hampir lupa dengan pokeball yang diminta Taeyong tadi pagi. Jaehyun melamun sambil tersenyum sendiri hingga tanpa sadar seseorang telah masuk keruangan nya diam-diam.
"Dr.Jung!" Ten tersenyum lebar melihat Jaehyun tersadar dari lamunan nya dan ikut menyapanya
"Oh,hai Ten! Bagaimana kabarmu? Kau sudah baikan?" Jaehyun menatap lembut kearah Ten yang langsung menghampirinya. Ten tidak langsung duduk dihadapan Jaehyun melainkan kesamping dokter muda itu sambil memeluk lengannya erat
"Aku sehat dokter. Kesehatanku juga membaik. Terima kasih kau sudah mengobatiku" Ten tersenyum amat manis membuat Jaehyun mengacak rambutnya gemas. Jangan salah kira Ten, Jaehyun gemas padamu hanya karena kau sudah dianggap seperti adiknya sendiri
"Lalu apa yang membawamu kemari? Kau ingin check up? Tapi jam kerjaku sudah habis. Aku harus pulang" Jaehyun melirik jam tangannya
"Aku merindukanmu dokter. Kau sudah mau pulang? Ke apartemen?"
"Tentu saja. Kemana lagi memangnya? Apartemenku kan hanya satu" Jaehyun merapikan kertas-kertas diatas mejanya
"Kau yakin hanya satu? Apa jangan-jangan bodyguard bodohku itu salah memberikan alamat ya?" Ten nampak berpikir sejenak
"Apa maksudmu?" Jaehyun menatapnya bingung
"Lihat. Apa benar ini alamat apartemenmu?" Ten menunjukkan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat apartemen dengan jelas
"Benar. Ini memang alamatku. Kenapa?"
"Tapi saat aku kesana, hanya ada seseorang yang aneh bernama Taeyong. Dia siapamu?"
"T-taeyong? Kau bertemu Taeyong? Apa yang dia katakan padamu?"
"Aku masih tidak percaya dia mengataiku kecoa! Ya sudah, kuusir saja dia dari apartemenmu. Lagipula saat aku bertanya dia siapa dia tidak menjawab"
"APA?! Kau mengusirnya? Lalu dimana dia sekarang?" Jaehyun mulai kalut dan panik. Pikirannya dipenuhi oleh Taeyong sekarang
"Mana aku tau, mungkin dia pergi ke tempat lain" Jaehyun tak menggubris ucapan Ten dan segera keluar dari ruangannya. Tanpa melepas jas dokternya. Ia berlari ke lift dan segera turun. Ia berdiri didepan pintu depan rumah sakit yang besar itu. Menatap keluar dengan cemas. Diluar sudah hujan deras. Dan hari pun sudah mulai gelap. Ia benar-benar panik. Tanpa berpikir lebih lama lagi, ia segera berlari menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari pintu depan itu. Menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Berharap ia bisa menemukan Taeyong. Di sepanjang jalan Jaehyun terus melihat kanan kirinya. Meneliti setiap tempat. Barangkali Taeyong ada disana. Namun setelah berkeliling pun ia tetap tak menemukan Taeyong. Mobilnya berhenti saat lampu lalu lintas berwarna merah. Jaehyun mengacak rambutnya frustasi.
"Arrgghhh Taeyong kau dimana?"
"Ssshhh.. hufff... ssshhh" Taeyong semakin menggigil sejak air hujan turun dengan derasnya. Ia memang tidak kehujanan karena duduk dibawah atap halte. Tapi tubuhnya seakan membeku. Tak kuasa menahan dinginnya suhu saat ini. Taeyong masih memejamkan matanya menahan dinginnya udara saat hujan deras seperti ini. Ia terus memanggil nama Jaehyun berulang kali. Entah harapannya bisa terkabul atau tidak. Yang pasti ia sangat membutuhkan Jaehyun saat ini.
"J-jaehyun... tolong aku..."
Dan detik berikutnya ia merasakan sesuatu yang hangat melingkupi tubuhnya
"Ayo pulang"
To be continued.
Big thanks to semua review nya. Dan untuk yang masih kepo, hahah sabar yah. Ini beneran ada Crime scene nya kok. Tapi masih dirahasiakan. Dan untuk yang masih belum paham, jadi Taeyong ini memang manusia. Tapi dia dirancang sama 2 ilmuwan yang baru aja didepak dari Lab. Cairan sperma sama sel telurnya itu digabung didalam telur jumbo itu. Dan dengan bantuan alat sama cairan kimia, Taeyong lebih cepet tumbuh sama berkembang. Dan Heechul juga nyuntikin cairan khusus yang bikin Taeyong ini cerdas. Makanya setelah telur itu menetas, Taeyong udah dalam bentuk tubuh remaja umur 17 atau 18 tahun gitu. Karena dia tumbuh berkembangnya didalam telur jumbo itu. Kalo buat seberapa gede telurnya,silahkan kalian bayangin aja sendiri ya :v pokoknya gede. Kalo masih ada yang mau tanya silahkan review ya.
Salam sayang TEO
