Sasuke Uchiha, sang pemilik mata tajam itu terus menatap gadis berhelaian merah muda dibawah sana dengan penuh arti.

Hingga ia melihat dengan jelas sang gadis dicium oleh pria berambut merah, entah kenapa timbul perasaan tak suka hinggap dihatinya. Tanpa sadar ia semakin mencengkram erat tiang infuse disebelahnya.

DEG

"Arggh..." lagi dan lagi kepalanya berdenyut sakit.

Dengan sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa sakit itu. Sampai akhirnya ia berhasil dan bergumam dengan nada lirih.

"Haruno Sakura."

~~*~~

HEAL ME !

.

.

.

.

.

Descleimer Mashashi Kishimoto

.

.

.

.

.

Rate M

.

.

.

.

.

.

Sasuke Uchiha - Sakura Uchiha

.

.

.

.

Senju Luxury Apartement

Kriiiingg~

Bunyi nyaring benda mungil berbentuk hati di atas nakas yang memekakan telinga siapa saja yang mendengarnya telah menunjukkan pukul 06.00 a.m tepat, memberitahukan jika hari sudah semakin beranjak siang.

Tapi sepertinya bunyi itu tak dihiraukan oleh sang pemilik yang saat ini masih bergelung dengan nyaman di bawah selimut tebalnya.

Hingga alarm itu berhenti dengan sendirinya, sang pemilik masih tak bergeming dari tempatnya.

"Engh.."

Akhirnya setelah 15 menit terlewat dari waktu yang sudah diatur sebelumnya, wanita cantik bersurai merah muda itu perlahan-lahan mulai membuka kedua kelopak matanya memperlihatkan sepasang iris emerald nya yang kini terlihat sayu. Menguap kecil serta merenggangkan sedikit kedua tangannya, Sakura mulai beranjak untuk membersihkan diri ke kamar mandi yang terletak didalam kamar apartement mewahnya.

Setelah 10 menit berendam dan membersihkan dirinya, ia mulai mempersiapkan diri untuk memulai hari nya pagi ini. Mengoles sedikit make up diwajah cantiknya,dan dengan kemeja merah yang pas melekat ditubuh langsing nya, dipadukan dengan skirt hitam diatas lutut serta jangan lupakan sepasang sepatu Christian Louboutin kesayangannya yang mempercantik penampilannya saat ini. Haruno Sakura siap menjalani hari nya.

.

.

.

.

*

.

.

.

.

HARUNO HOSPITAL

"Selamat pagi, Sakura-sama!"

Sapaan dari setiap pegawai yang berkerja di Haruno Hospital menjadi rutinitas setiap harinya tatkala sang CEO muda mulai memasuki kawasan rumah sakit.

"Selamat pagi."

Sang CEO yang memang terkenal ramah dan sopan kepada orang lain itu pun setia membalas setiap salam yang ditunjukkan untuk nya disertai senyum manis yang melekat diwajah ayu nya.

"Selamat pagi, Haruno-san."

Langkah Sakura yang akan membawanya ke ruang kerjanya seketika terhenti, tatkala seorang pemuda tampan bersurai raven panjang yang diikat longgar dihadapannya menyapanya dengan sopan.

Awalnya ia merasa tak asing dengan wajah pemuda tersebut, ia bergeming mencoba mengingat siapa pemuda itu, sampai akhirnya sang pemuda menyadarkannya dari lamunannya.

"Saya Uchiha Itachi, kakak dari Uchiha Sasuke. Kurasa anda melupakan saya dokter Haruno?"

Tersentak mendengar ucapan Itachi. Akhirnya sang dokter muda itu ingat, pantas saja wajah itu tak asing dimata nya. Dan oh kenapa ia bisa melupakannya, Itachi adalah anak sulung dari dua bersaudara Uchiha. Ia menemuinya kemarin setelah bel apartement nya berbunyi dan menampilkan Itachi yang tersenyum sopan dihadapannya, mengatakan ingin membicarakan hal penting dengannya.

Awalnya ia bingung, darimana Itachi mendapat alamat apartementnya, Itachi hanya menjawab jika ia mengetahuinya dari data di rumah sakit miliknya. Tanpa pikir panjang, Sakura mengiyakan ajakan Itachi.

Dan disanalah mereka membicarakan tentang sang adik pemuda tersebut. Itachi menceritakan semua keadaan Sasuke kepadanya, ia berharap besar kepada Sakura untuk bisa menyembuhkan Sasuke.

Mendengar nama Sasuke disebut, ia tak lagi marah karena Sakura telah mencoba melupakan kejadian tiga hari yang lalu itu. Sakura hanya diam saat itu, dirinya sempat terkejut mendengar kondisi Sasuke. Itachi yang melihat Sakura seperti tak mempercayai ucapannya hanya memberikan senyum manis dan mengatakan agar Sakura memikirkan tawarannya terlebih dahulu.

Ya, memikirkan tawaran untuk menyembuhkan sang adik dari penyakit langkanya. Pada saat itu, Sakura hanya bisa menjawab,

"Berikan saya waktu, Itachi-san."

Itachi yang mendengarnya lantas tersenyum memaklumi. Dan sejak saat itulah Sakura mulai memikirkan tawaran tersebut.

"Selamat pagi, Itachi-san. Ah tentu saja saya tidak melupakan anda."

Kembali pada situasi saat ini, Sakura dan Itachi yang tengah berdiri di salah satu lorong rumah sakit.

Sakura akhirnya membalas sapaan Itachi, setelah ia kembali dari lamunannya tentang pertemuan dengan pemuda itu kemarin.

"Ada yang bisa saya bantu, Itachi-san?" lanjut Sakura sopan.

"Ah tidak, aku kesini untuk mengambil obat adikku, Sakura-san."

jawab Itachi sambil memperlihatkan sekantong plastik digenggamannya. Sakura hanya tersenyum tipis menanggapi.

"Kalau begitu saya permisi dulu, Itachi-san." pamit Sakura merasa tidak ada hal yang akan dibicarakan lagi. Tapi baru dua langkah ia meninggalkannya, Itachi kembali memanggilnya.

"Tunggu Sakura-san!"

"Ya Itachi-san?"

"Aku hanya ingin bertanya tentang tawaranku kemarin. Jadi apakah kau mau membantu adikku?"

Sebenarnya Sakura sudah menebak Itachi akan menanyakan tawaran itu cepat atau lambat. Bingung, itulah yang dirasakannya saat ini, ia tak menyangka jika hari ini pemuda itu menanyakannya secara langsung sekarang, setidaknya berikan lah ia waktu empat atau lima hari. Sakura merasa ia masih ingin memikirkannya lagi dengan matang.

"Hm.. soal itu, a..apakah anda bisa memberikan saya waktu lagi?" balas Sakura dengan nada gugup, takut-takut Itachi merasa kecewa akan dirinya apabila tak memberikan kepastian saat ini juga.

"Kau masih ragu?"

"Ya."

"Haah.. baiklah, aku akan memberikanmu waktu sampai akhir pekan besok. Aku harap kau sudah menentukan pilihanmu, Sakura-san."

hanya anggukan kepala yang diterimanya dari Sakura sebagai balasan.

"Dan aku sangat berharap lebih padamu, Sakura-san. Yang kudengar kau adalah dokter terhebat di kota ini. Entah kenapa, aku punya firasat jika hanya kau dokter yang bisa menyembuhkan Sasuke. Maka dari itu kumohon pikirkan tawaranku dengan matang." lanjut Itachi dengan nada serius didalamnya. Setelah menepuk singkat bahu Sakura, Itachi pamit untuk pergi dengan senyum tipis yang tersemat diwajahnya.

Sepeninggalan Itachi, Sakura mulai beranjak pergi ke ruangannya. Memulai perannya sebagai dokter hari ini.

.

.

.

.

*

.

.

.

.

UCHIHA CORPORATION

Para pegawai Uchiha Corp tampak sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Hari ini mereka berusaha lebih fokus pada pekerjaan, karena mereka tak ingin mendapatkan semprot kemarahan dari sang atasan apabila melakukan sedikit saja kesalahan, mengingat sang pemilik perusahaan yang terkenal perfeksionis itu telah menampakkan batang hidungnya tadi pagi setelah tiga hari yang lalu diberitakan bahwa beliau tengah sakit.

Disamping itu, kini terlihat seorang CEO muda nan tampan yang tengah duduk di kursi kebesarannya. Uchiha Sasuke. Siapa yang tak mengenalnya, nama serta wajahnya hampir setiap hari menghiasi koran maupun papan iklan di kota ini, di usianya yang kini baru menginjak 20 tahun, ia telah menuangkan prestasi yang luar biasa dengan menjadi CEO termuda saat ini.

Dengan otak nya yang jenius dan didikan orang tua nya yang ketat, ia telah berhasil mendirikan perusahaannya sendiri. Sebenarnya pemuda yang terkenal ahli dalam permainan saham itupun masih merasa kurang puas dengan apa yang dimilikinya. Walaupun diluar sana ia terkenal sebagai sosok pria yang sempurna baik fisik maupun finansial, Haha tapi menurutnya anggapan itu adalah salah besar. Orang luar tidak tahu seperti apa kondisi Uchiha Sasuke yang sebenarnya, ia hanya lah makhluk menyedihkan yang setiap harinya mengkonsumsi obat-obatan, pria penyakitan, pria gila.

Uchiha Sasuke merasa tersiksa dengan kehidupannya karena penyakit ini. Ya, ia telah mengetahui penyakit nya, penyakit yang banyak orang menyebutnya dengan DID (Dissociative Identity Disorder) atau Kepribadian ganda. Penyakit langka yang hanya dimiliki oleh satu hingga tiga persen manusia di dunia ini.

Dan jika kalian memperhatikannya lagi, Sasuke tampak sangat berbeda hari ini, perbedaan itu terlihat jelas dari penampilannya saat ini, jas mahal yang biasanya terpasang rapi ditubuh atletisnya dan dasi yang selalu terikat sempurna dileher jenjangnya, kini kedua nya tak lagi sama, jas mahalnya tergeletak begitu saja di belakang kursi kebesarannya, dasi nya yang terikat longgar dan jangan lupakan dua kancing kemeja nya yang sengaja ia buka, memperlihatkan dada nya yang bidang. Damn! He's so hot!

Haha ya! Dia bukan Uchiha Sasuke si lemah itu tapi ia Saskey Uchiha, pria cerdik, angkuh, hentai, hot dan playboy.

Menyeringai memikirkan betapa lemahnya pemilik tubuh ini hingga dengan mudahnya ia mengambil alih.

Uchiha Sasuke mulai merasakan keanehan pada dirinya saat ia berusia 13 tahun. Kejadian yang membuatnya takut pada dirinya sendiri. Dan hanya Saskey Uchiha lah yang mengingat dengan jelas kejadian itu.

Flashback on

Otogakure, Uchiha Mansion

Remaja muda pemilik mata onyx menawan terlihat sedang menikmati liburan musim panas nya diruang keluarga ditemani anjing kesayangannya. Bermalas-malasan itulah yang dilakukannya. Ia hanya dirumah sendirian saat ini, kedua orang tua serta kakak nya pergi entah kemana.

"Sakura.." gumam Sasuke penuh kerinduan.

Ia sangat merindukan teman kesayangan yang saat ini tak pernah terlihat lagi olehnya itu. Sudah satu tahun lamanya Sasuke tak pernah lagi mendengar kabar Sakura.

Sasuke tahu Sakura pasti masih bersama bibi nya yang jahat itu.

Terakhir kali ia melihat Sakura ialah saat Sasuke dengan keberanian yang dimilikinya selalu mengunjungi rumah bibi Tsunade. Melihat kondisi Sakura setiap harinya.

Hingga pada suatu hari, Sasuke melihat secara langsung bibi Tsunade yang tengah marah besar pada Sakura, bibi Tsunade memukul Sakura dengan tidak berperasaan, sedang yang diperlakukan hanya diam sambil menahan isak tangisnya. Sasuke yang melihatnya merasa geram dan kasihan melihat kondisi Sakura saat itu.

Tiba-tiba onyx tajam nya melebar tatkala melihat bibi Tsunade yang menyeret Sakura dengan kasar agar mengikutinya. Sasuke dengan perlahan dan penuh kehati-hatian mengikuti kedua orang tersebut.

Hingga tibalah mereka di ruang bawah tanah yang kotor dan lembab. Tsunade menyeret paksa Sakura lalu mendorongnya kedalam gudang dengan kasar, setelah menguncinya dengan cepat Tsunade berbalik meninggalkan anak malang tersebut.

"Tidaak! Tidaak! Baa-san jangan tinggalkan Saku sendiri! Hikss.. hikss.. Saku takut." teriakan menyayat telinga itu berasal dari gadis malang yang kini terkurung didalam gudang yang gelap dan kotor.

Menyadari Tsunade mulai berbalik dan akan berjalan keluar, segera saja Sasuke menyembunyikan dirinya dibalik kardus-kardus disampingnya. Setelah memastikan bibi jahat itu keluar, Sasuke lantas berlari kearah gudang tempat dimana Sakura dikurung.

"SAKURA?!"

"SAKURA?! Apa kau mendengarku Cherry?! Ini aku Sasuke!" teriak Sasuke sambil menggedor-gedor pintu dihadapannya.

"Sa..Sasuke-kun?!"

"Ya Cherry, ini aku!"

Akhirnya Sakura menjawab panggilan Sasuke dengan suara paraunya.

"Aku akan mengeluarkanmu, Cherry!"

Setelah mengatakan hal itu pada Sakura, Sasuke mulai mencoba mendobrak pintu itu dengan tubuh mungilnya. Tapi apadaya pintu itu tak bergerak barang seinchi pun, yang terdengar hanyalah suara keras tubrukan antara pintu dan tubuh Sasuke yang mulai lelah dan kesakitan.

"Sial!"

"Hentikan Sasuke-kun! Pulanglah! Tak ada gunanya!"

"Diam Sakura! Aku akan mengeluarkanmu apapun itu caranya." bentak Sasuke

Sakura tercekat mendengar bentakan dari Sasuke. Tanpa ia sadari air mata kembali mebasahi wajahnya.

"Hikss.. Hentikan Sasuke-kun! Aku tak mau Tsunade-baasan melihatmu! Hikss.. aku tak ingin dia menyakitimu. KUMOHON HENTIKAN!" dengan beruraian air mata Sakura bersikeras menghentikan Sasuke.

"Sudah kubilang di-"

"Sedang apa kau bocah?!"

Seketika tangisan Sakura terhenti saat mendengar suara Tsunade dari balik pintu, sedang Sasuke langsung diam mematung lalu dengan perlahan membalikkan tubuhnya menghadap Tsunade yang kini terlihat sangat murka. Raut wajah Sasuke saat ini sangat pucat pasi bagai seorang pencuri yang ketahuan.

"Aku bilang, sedang apa kau disini bocah?!"

"A..Aku.." sahut Sasuke dengan nada ketakutan yang terdengar jelas.

"Dasar bocah nakal! Kemari kau!"

Dengan amarah yang meluap, Tsunade menjewer telinga Sasuke lalu menyeretnya keluar rumah. Sasuke hanya diam sambil meringis sakit mengikuti langkah Tsunade yang menyeretnya.

"Beraninya kau memasuki rumahku tanpa izin. Dimana orang tua mu?! Mendidik anak saja tidak becus!"

Setelah membawanya keluar rumah, Tsunade mendorongnya hingga jatuh lalu memarahinya dengan suara keras. Sasuke hanya diam dan menatap Tsunade dengan mata onyx nya yang sedikit berkaca-kaca.

"Kau teman bocah pink itu kan?! Dan kau ingin menyelamatkannya?! Cih, jangan harap! Aku tak akan membiarkannya. Jangan kau temui bocah pembawa sial itu lagi! Sekarang pulanglah!" ujar Tsunade lalu berbalik masuk kedalam rumah menghiraukan kondisi bocah yang baru saja dianiayanya.

"Cherry..."

.

.

*

.

.

"Cherry..."

Kembali pemuda itu bergumam dengan panggilan yang berbeda. Panggilan sayang yang diberikannya untuk gadis pink yang telah mendiami hatinya sejak pertama kali mereka bertemu.

Sekembalinya ia saat itu dari kediaman Tsunade, Sasuke hanya dapat menangis dengan kencang dipelukan sang kakak. Menceritakan semua yang dialaminya, tentang Sakura dan bibinya yang jahat. Tanpa mereka sadari sang ayah dan ibu yang telah kembali dari pekerjaannya dan mendengar dengan jelas kejadian yang dialami putra bungsu nya. Seketika amarah langsung menguasai Mikoto, sebagai ibu tentu saja ia merasa tak terima dengan apa yang dialami putranya. Mikoto menyuruh Sasuke agar tak mendekati gadis itu lagi. Masih jelas di ingatannya saat ia bersikeras menolaknya, tapi Mikoto tidak menerima penolakan ditambah sang ayah yang menganggukkan kepalanya menyetujui. Sudah bisa dipastikan hal itu mutlak untuk dipatuhi olehnya.

Sejak saat itu, Sasuke tak lagi dapat bertemu dengan Sakura. Sasuke marah, ia merasa menjadi sahabat yang tidak becus karena tidak bisa menyelamatkan Sakura atau menemaninya saat Sakura sangat membutuhkan seseorang disampingnya.

"ARGGGHHHHH...!!!!"

Sakit kepala kembali mendatanginya, setelah ingatan nya tentang Sakura berhenti. Sakit yang teramat sangat menderanya, ia mencengkram kuat kedua sisi kepalanya, berharap dapat menahan rasa sakitnya.

"ARGGGGHHHH... Sakiit!" jerit Sasuke kesakitan.

Sasuke bergerak-gerak gelisah di sofa. Ia mencoba bangkit untuk mengambil obat yang setia menemaninya untuk mengobati rasa sakit ini. Belum sampai tangannya meraih obat tersebut dari meja didepannya, tiba-tiba kesadarannya menghilang. Ia pingsan dengan tubuh yang jatuh menyentuh lantai.

.

.

*

.

.

"Sasuke-kun? Nak bangunlah."

Mendengar sebuah suara lembut memanggilnya, Sasuke dengan perlahan membuka kedua kelopak matanya, memandang ibunya yang kini tengah duduk disampingnya sambil mengelus surai ravennya.

Sasuke mengedarkan pandangannya, ia sekarang berada di kamarnya, seingatnya tadi ia pingsan diruang keluarga dan masih pagi, tapi sekarang ia sudah didalam kamarnya yang nyaman bersama ibunya dan hari sudah menunjukkan malam mengingat langit sudah terlihat gelap dari jendela kamarnya.

"Kaa-san?"

"Ya, Sasuke-kun?"

"Kenapa aku bisa disini?"

"Kau tidak ingat sayang? Kau tadi pingsan di dekat danau. Itachi yang menemukanmu disana sayang."

"Danau?" ujarnya kebingungan.

"Ya, danau. Kau juga membawa kuda kesayanganmu kesana. Karena khawatir kau tidak juga kembali kerumah padahal hujan tengah turun, Itachi langsung mencarimu dan menemukanmu yang pingsan di pinggir danau seorang diri." jelas Mikoto panjang lebar.

"Apa yang kau lakukan disana sayang? Kaa-san khawatir saat melihatmu basah kuyup digendongan Itachi." lanjut sang Ibu sambil menatap lembut putra bungsunya.

"A..Aku tidak ingat Kaa-san. Aku bingung. Kurasa tadi pagi aku pingsan diruang keluarga, karena kepalaku sangat sakit. Aku juga tidak merasa pergi ke danau tadi." jawab Sasuke penuh kejujuran.

Mikoto yang mendengarnya menyiritkan dahinya bingung. Jelas-jelas tadi ia melihat sendiri Sasuke yang masih pingsan dan basah kuyup digendongan Itachi. Dan sekarang dengan jelas pula Sasuke mengatakan jika ia tak pernah pergi ke danau. Ada yang aneh dengan putra bungsunya, pikirnya.

Mikoto kembali menatap kedua onyx sewarna dengan miliknya itu sambil membelai lembut pipi sang bungsu.

"Kau tak apa sayang? Kau benar-benar tak mengingatnya?" Hanya sebuah anggukan menyetujui yang didapatkannya.

"Besok kita akan ke dokter, Sasuke-kun."

"Tapi kaa-san-"

"Sstt, sekarang tidurlah."

.

.

*

.

.

Hingga tiba keesokkan harinya mereka di rumah sakit. Pada awalnya mereka pergi ke dokter umum, tapi setelah Mikoto menceritakan bagaimana keanehan yang dialami oleh putra bungsunya, sang dokter menyuruh mereka untuk ke dokter psikiater. Awalnya Mikoto menolak, ia bersikeras mengatakan bahwa anaknya tidak gila. Tapi dengan penuh kesabaran dokter tersebut mengatakan bahwa itu adalah hal tepat yang harus dilakukannya saat ini.

Dengan menahan amarah Mikoto mengajak Sasuke ke psikiater. Mikoto berharap cemas semoga anaknya baik-baik saja. Setelah satu jam lamanya pemeriksaan yang Sasuke lakukan, sang dokter menyimpulkan bahwa penyakit yang diderita Sasuke saat ini ialah penyakit DID atau kepribadian ganda.

Dokter tersebut menjelaskan bahwa penyakit itu tumbuh seiring rasa frustasi, depresi, atau trauma akan kekerasan yang dialami sang penderita.

"Tidak pasti kapan suatu pribadi atau pribadi yang lainnya akan muncul tapi menurut penelitian, kepribadian yang lain dalam diri seseorang atau yang disebut dengan alter ego akan muncul saat pasien DID merasakan kondisi emosional seperti sedih atau tertekan. Kondisi emosional tersebut muncul dikarenakan orang tersebut mengira bahwa kondisi itu akan menjadi lebih baik dan dapat diatasi oleh kepribadian lain yang bukan dirinya sendiri. Saya harap mulai sekarang anda lebih memperhatikan putra anda, Nyonya." jelas dokter psikiater itu panjang lebar mengenai penyakit DID.

Terkejut, hal itu lah yang dialami Mikoto saat itu tatkala mendengar diagnosis dokter tersebut.

"A..Apakah penyakit ini bisa disembuhkan?"

Sebuah gelengan kepala menanggapinya. "Sayangnya tidak Nyonya, tapi penderita DID bisa dibantu dengan beberapa terapi untuk sedikit mengurangi rasa depresi, kecemasan atau trauma sang penderita. Beberapa jenis pengobatan hanya bisa mengobati gejala yang muncul suatu waktu dan tidak bisa menghilangkan gangguan mental ini sepenuhnya. Saya akan coba membantu putra anda, Nyonya." ucap dokter ber name tag 'Yakushi Kabuto'.

"Ya, kumohon sembuhkan anak ku dokter. Aku akan membayar berapa pun yang kau mau!" ucap Mikoto dengan menggebu-gebu berharap agar dokter dihadapannya saat ini bisa menyembuhkan anaknya.

"Ya, Nyonya. Akan saya usahakan."

Lima tahun telah terlewat sejak ia di diagnosa mengidap penyakit langka itu. Banyak psikiater telah mencoba menyembuhkannya. Dari pria sampai wanita, dari muda sampai tua. Tapi sayang sekali, tak ada satupun yang bisa. Mereka awalnya sangat percaya diri dan bersemangat menyembuhkannya tatkala tawaran yang keluarga Sasuke ajukan kepada mereka sangatlah menggiurkan, namun baru ditengah jalan mereka menyerah dan selalu menatap ketakutan apabila berpapasan langsung dengan Sasuke.

Fugaku dan Mikoto, tetap tak menyerah untuk menyembuhkan Sasuke bagaimanapun caranya. Hingga pada suatu hari, ditengah perjalanan menuju tempat pertemuaan bisnisnya, pasangan Uchiha itu mengalami kecelakaan hebat yang merenggut nyawa mereka ditempat.

Sasuke dan Itachi hanya bisa mengikhlaskan kedua orang tercintanya. Itachi yang saat itu menginjak usia 23 tahun, mencoba melanjutkan bisnis keluarga nya agar bisa menghidupi dirinya dan Sasuke yang sudah tak memiliki siapapun yang bisa mereka jadikan penopang. Sedang Sasuke yang mulai beranjak dewasa kini lebih fokus dan giat lagi dalam belajar serta sesekali mencoba membantu sang kakak di perusahaan.

Sasuke tak lagi memikirkan penyakitnya. Ia biarkan saja penyakit itu semakin menguasai tubuhnya. Sasuke tak lagi membutuhkan seorang psikiater, ia merasa bisa mengendalikannya sendiri sekarang. Dengan obat-obatan yang bisa meredakan rasa sakit kepalanya dan Itachi yang selalu disampingnya, ia merasa semua nya akan baik-baik saja.

Flashback off

"Hahahaha... Dasar lemah!"

Tawa menggelegar seorang pria terdengar dari ruangan mewah CEO perusahaan Uchiha Corporation.

Saskey Uchiha, tak bisa menghentikan tawa nya setelah ingatan nya berlambuh ke masa lalu sang pemilik tubuh yang kini tengah terlelap dengan tenang di alam bawah sadarnya itu. Ia merasa bahwa Sasuke adalah orang terbodoh dan lemah yang pernah dikenalnya.

"Oh tidak, aku hampir melupakannya. Dimana benda kesayanganku itu? Apa si lemah itu meninggalkannya dirumah?" Teringat akan suatu hal, Saskey mulai mencari benda kesayangan yang dikatakannya tadi.

"Aha, ketemu!"

Benda berwarna biru berbentuk setengah lingkaran dengan dua lingkaran kecil diujungnya akhirnya telah berada digenggaman Saskey.

Segera saja Saskey memasang headphone itu ditelinga nya dan mulai memainkan musik dari ipod nya.

Saat sedang asik-asiknya mendengarkan musik, tiba-tiba pintu sialan itu terbuka dan memunculkan seorang pemuda berambut kuning dengan setelan kemeja yang dikenakannya, tanpa mengetuk pintu pemuda itu langsung menerobos masuk dan berteriak pada sang pemilik ruangan.

"TEME! Apa yang ka-" ucapan pemuda kuning itu tercekat tatkala melihat sosok didepannya saat ini yang tengah memperlihatkan tatapan tajam disertai seringai menakutkan.

"Saskey-sama. Maaf atas kelancangan saya."

"Hn."

.

.

.

.

.

To be Continue

.

.

.

.

.