Tittle » The First
Author » Namitsu Titi
Rate » PG-13
Genre » Friendship, School-life, Slice Of Life.
Cast » Yoo Ara, Park Chanyeol, Lime, Kim Jongdae.
Others Cast » Lay, Bae Suzy, Kris.
Summary » Bukan Kris ataupun Chanyeol, melainkan seorang pemuda usil yang bernama Lay.
Disclaimer » Semua cast milik orang tuanya masing-masing dan Tuhan YME. Popularitas Cast milik agency dan diri nya masing-masing. Tapi, alur cerita milik saya.
A/n : FF ini telah di tulis ulang dengan versi berbeda, dengan judul The First Time Say Love [Park Jiyeon-Nam Wohyun Fanfiction] dan telah saya share di 'catatan' Fb dan blog pribadi saya.
© 2014 Namitsu Titi
.
~Happy Reading~
.
.
.
Ara terlihat sedang menerawang tentang masa-masanya saat masih SMP, di depan kelasnya, seperti biasa. Ia merindukan teman-temannya, dan juga ia sedikit penasaran dengan kabar beberapa pemuda yang pernah dikaguminya dulu. Ara adalah tipe gadis yang mudah 'tertarik' pada lelaki, tapi mudah juga melupakannya. Yeah, tipe gadis labil semacam itu. Bahkan sekarang juga masih mengalaminya.
Coba tebak, siapa saja yang menjadi pusat perhatian Ara saat ini? Marilah kita hitung satu-satu.
Pertama : Zhang Yixing, tapi sering dipanggil dengan nama Lay. Pemuda berkebangsaan China ini, pindah ke Korea saat ia akan memasuki tahun pertamanya di SMP. Lay hanya tinggal sendiri di Korea, sedangkan kedua orangtuanya berada di China. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia hanya diberi kiriman uang yang bisa dibilang cukup, setiap bulannya.
Kedua : Wu Yi Fan atau yang sering kita dengar dengan sebutan Kris ini, pastinya kita sudah mengenal pemuda ini, bukan? Jadi, kita lewati saja.
Terakhir : Park Chanyeol. Ia adalah pemuda asli keturunan Korea. Pemuda Stylish ini, gemar sekali menebar senyumnya, entah itu pada sesama atau lawan jenisnya. Istilahnya, murah senyum lah.
Adakah yang ingin bertanya, disini? Ehm, maksudnya mengenai seseorang yang disebutkan tadi. Adakah yang bertanya, kenapa Lay muncul disini? Kenapa dia berada diurutan pertama? Sejak kapan, Lay menjadi bagian dari salah satu pemuda yang mengambil alih perhatian Ara?
Ara menoleh ke sampingnya, saat seorang gadis bernama Suzy itu menyentuh bahu kirinya.
Suzy tersenyum, kemudian menyapanya, "Kau melamun, eoh?"
Ara tersenyum, "Hm... hanya teringat saat masa-masa SMP hehe..."
Suzy mengangguk mengerti. Selain teman sekelas Ara saat ini, Ara juga teman sekelasnya sewaktu SMP. Tapi saat itu, keduanya tidak terlalu akrab, hanya saling mengenal. Namun beda dengan sekarang, karena sepertinya mereka sudah kelihatan keakrabannya.
"Apa kau kenal dengan seorang pemuda bernama Chanyeol dari kelas 1-B?" tanya Suzy, dengan matanya yang tertuju ke halaman sekolah, sama seperti dirinya.
Ara berpikir sejenak. Chanyeol dari kelas 1-B? Apakah Chanyeol yang 'itu' ? Tapi yang diketahuinya, pemuda yang bernama Chanyeol itu hanya dari kelas 1-B. Ah, mungkin Chanyeol yang 'itu.' Pikirnya. Ia tidak ingin salah sangka lagi seperti waktu itu.
"I-iya, kenapa memangnya?"
"Emm... aku dengar dari orang lain, kalau senyumnya manis," ujarnya, yang sepertinya sambil membayangkan pemuda itu tengah tersenyum.
Ara yang mendengar ucapan tak terduga itu mengernyit heran. 'Apa katanya tadi? Manis? Perasaan, senyuman Chanyeol biasa saja. Tidak ada manisnya sama sekali. Oh, mungkin karena Chanyeol merupakan pemuda yang murah senyum, jadi Suzy menyetujui bahwa itu manis.' tebaknya, sembari mengingat-ingat orang yang dimaksud Suzy itu.
"Aku malah sekelompok dengannya di KIR," ucapnya sembari tersenyum mesem-mesem, dan dari nada bicaranya, sepertinya ia bangga dengan pernyataannya.
"Eh, Ara. Tuh, orangnya," bisik Suzy pada Ara, saat ia tak sengaja menoleh ke arah tangga dekat kelasnya.
Ara langsung menoleh ke arah yang dituju Suzy, dan ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, masih dengan senyum penuh kecurigaan itu.
Melihat gelagat Ara yang seperti itu, Suzy menyadari satu hal, "Heh, Ara. Kau menyukai Chanyeol, ya?"
"Tidak~"
"Ah, bohong~"
"Beneran! Aku tidak menyukainya." Ara menatap ke halaman lagi.
'Justru, aku yang curiga padamu, Suzy. Kau menyukainya, kan? Aku melihat itu, Suzy. Kau tampak sedikit kecewa, saat kau menyadari perubahan tingkahku. Meski kemungkinannya hanya sepuluh persen, tapi aku yakin itu. Gerakan matamu, membuktikannya. Seperti sedikit berair.'
.
.
Ara tampak asyik dengan fokusnya, pada dua orang berbeda jenis yang tengah cekcok (?) sepertinya, di meja paling depan, dekat meja guru. Mempermasalahkan sebuah nama.
Seorang gadis yang menjabat sebagai bendahara kelas, terlihat kesal pada seorang pemuda di hadapannya, lantaran pemuda yang mengaku bernama Mr.X itu, tidak mau menyebutkan nama aslinya. Padahal, gadis itu harus menceklis nama pemuda itu, sebagai tanda bahwa pemuda yang bisa dikatakan tampan itu sudah membayar uang KAS.
"Cepat katakan, siapa nama aslimu?!" tanya gadis itu emosi, karena sedari tadi, orang itu tidak menjawabnya dengan benar.
"Mr.X," keukeh pemuda itu. Sepertinya ia sangat suka melihat ekspresi kesal orang lain.
"Yak! Aku juga harus menagih yang lain! Jawab yang benar!"
"Baiklah... baiklah..., namaku Lay."
Gadis itu segera memeriksa nama-nama di buku pendataannya, kemudian mengernyit bingung. "Gessst... disini tidak ada yang bernama Lay! Berhentilah bertele-tele!"
"Haha... kau lucu sekali dengan ekspresimu yang seperti itu. Gadis cerewet, dengarkan baik-baik. Nama favorite-ku adalah Mr.X, nama panggilanku itu Lay, dan nama asliku adalah Zhang Yixing. Bagimana? Baguskan namaku? Haha..."
"Cih! Aku tak butuh nama-nama anehmu!"
Dilain sisi, Ara tertawa tertahan di tempat duduknya, ketika melihat 'keakraban' kedua orang itu.
Si gadis yang emosian, dan si pria yang usil.
"Yah! Ara, ada apa dengan mulutmu itu? Kau menertawaiku, eoh?" teriak gadis itu, saat ia menoleh ke arah Ara sekaligus ingin menagih orang yang diteriakinya.
"Hmfff... tidak, lime. Haha..." Akhirnya, Ara pun tak tahan untuk tidak tertawa, melihat ekspresi Lime yang semakin lucu, saat kekesalan sahabatnya itu meningkat.
"Huh! Cepat bayar KAS mu!" teriak Lime lagi.
Ara menghentikan tertawanya, kemudian berjalan mendekati Lime. Lay juga masih berdiri di sana, dan pemuda itu langsung memamerkan senyum usilnya, saat tatapan Lay dan Ara bertemu pandang.
Ara mencoba untuk menatap biasa saja, saat matanya menangkap tatapan dan senyuman Lay.
.
.
"Hei, kau melihat Lime?" tanya Ara pada salah seorang teman sekelasnya.
"Ehm... sepertinya dia ada di perpustakaan. Tadi aku melihatnya berjalan ke arah sana."
Setelah mendengar jawaban gadis itu, Ara langsung keluar dari kelasnya, menuju perpustakaan sembari menggerutu, "Dia itu suka sekali menghilang. Jangan-jangan dia menemui Jongdae Sunbae lagi."
.
.
"lalla...lalala...lalallala~ la... *bersenandung lagunya Doraemon.*" Lime bersenandung pelan seraya memasuki ruang perpustakaan yang ada di hadapannya. Lime akan meminjam buku Sastra Korea sebagai bahan referensinya. Ia sengaja ke perpustakaan sendirian, karena sepertinya tadi Ara sedang sibuk mencari seseorang dari kelas sebelah -karena Ara terus menatap ke arah sana- di depan kelasnya. Ara juga tidak tahu siapa yang tengah dicari Ara, dan ia tidak peduli itu. Lagian ia memiliki firasat baik di sini, di sebuah ruangan yang luas, dan terdapat begitu banyak buku dari jenis fiksi, non fiksi, maupun yang lainnya.
"Sastra... sastra... Korea. Mana, ya? Ehmmm... ah, ini dia," gumamnya, saat menemukan buku yang dicarinya. Jari rampingnya segera mengambil buku itu.
Lime berjalan menuju salah satu meja di sana, dengan mata yang sesekali mendongak ke depan, karena sedari tadi matanya tertuju pada buku yang dipegangnya.
Saat pandangannya ia dongakkan ke depan lagi, ia langsung berhenti melangkah.
Di sebuah meja yang hanya terhalang oleh beberapa meja lainnya itu, ada sesosok pemuda tampan di sana, yang terlihat begitu senang dengan candaan yang dilontarkan oleh seorang gadis di hadapan pemuda itu.
Perlahan Lime menutup bukunya, dan bergumam lirih, "Jongdae Sunbae, aku... aku tak suka dengan rasa yang seperti ini." Meskipun begitu, sepertinya ia enggan untuk beranjak dari sana. Fokus matanya juga terasa sulit untuk berpaling, hingga akhirnya,
"Lime, kenapa kau berdiri diam di situ?" tanya Ara, yang sepertinya sudah menemukan sahabat cantiknya yang hilang itu.
"Hei..." Ara sedikit mengguncang bahu Lime.
"A-ah... eh, A-Ara," ucap Lime gelagapan.
"Kau kenapa?" Ara sedikit mengkhawatirkan Lime, lantaran sorot mata sahabatnya itu sedikit murung.
"T-tidak. Ah, ayo kita ke kelas. Aku sudah mendapatkan bukunya," ajaknya, seraya berjalan lebih dulu. Ara langsung berjalan menyusul Lime dengan raut yang keheranan.
.
.
Ara sesekali memandang ke depan, tapi sesekali ke bawah juga. Ah, lagi-lagi ia harus merasakan situasi yang seperti ini. Tapi untuk yang satu ini, ia bersikap biasa, tidak segugup saat di dekat Chanyeol.
"Lay, kau akan ikut KIR, tidak?" tanya Ara pada akhirnya. Kini keduanya berada di dekat area kantor guru. Ara tak sengaja berpapasan dengan Lay, saat ia akan menemui guru pembimbing di KIR.
"Em... aku izin, ya. Tolong sampaikan ke songsaenim," ujarnya. Bibirnya menyunggingkan senyum ramah.
Lay ikut KIR? Yes. Lay juga ikut mendaftar sebagai member di club itu, tapi di hari pertama les itu dimulai, Lay tidak hadir, dan sekarang pun sama.
"Ehm, baiklah," Ara mengangguk sembari membalas senyuman itu.
"Ayo, Jonghan," ujar Lay pada seorang pemuda di sampingnya.
Ara menatap kepergian Lay dengan hati gembira. Maklum, ini pertama kalinya terjalin 'sahutan' seperti ini.
Lay... Lay... Lay, sebenarya ia adalah pemuda yang pertama kali disukai Ara. Ini benar-benar yang pertama. Pemuda-pemuda yang pernah disukai ah lebih tepatnya ditertariki (?) Ara, diantara mereka, tidak ada yang mampu membuat Ara sampai menyukai. Bisa dikatakan hanya sebatas mengagumi. Tapi sekarang, saat Ara bertatapan dengan Lay, di hari itu, ia langsung menyukai Lay. Ia merasa menginginkan pemuda itu. Meskipun Lay itu pemuda usil, tapi ia tetap menyukainya. Itu seperti hiburan tersendiri baginya, dan terlebih lagi, ia tidak mempermasalahkan kekurangan ataupun sifat buruknya. Love at the first sign? Entahlah. Karena yang diherankan olehnya, ia hanya merasa senang, belum pernah merasakan bagaimana jantungnya berdegup ketika di dekatnya, dan rasa gugup pun hanya kadang-kadang. Ah, sulit dijelaskan. Jika seperti itu, perasaan seperti apa yang tengah dirasakannya untuk pemuda bermarga Zhang itu? Kenapa saat berhadapan dengan Chanyeol, ia bisa sangat gugup dan kadang berdebar, tapi dengan Lay tidak? Padahal, untuk saat ini, perasaan suka terdalamnya hanya pada orang itu. Bukan Kris ataupun Chanyeol, melainkan pemuda usil yang bernama Lay. Tapi, ah... adakah yang ingin menjawabnya, siapa yang sebenarnya disukai gadis itu?
Lay atau Chanyeol?
Jangan tanya kenapa Kris tidak masuk didalamnya, karena Ara murni mengagumi pemuda pirang itu, layaknya perasaan seorang fans terhadap idolanya.
Ara mengambil sebuah ember kecil yang berisi beberapa bongkahan es batu, dari guru pembimbingnya, kemudian membawanya ke ruang les-nya.
.
"Lime?"
"Hadir."
"Kris?"
"Izin, mrs."
"Chanyeol?"
"Belum datang, mrs."
"Bla...bla..." guru pembimbing KIR itu sibuk mengabsen members-nya, saat Ara tengah memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan Chanyeol. Ia tidak mencari keberadaan Kris, karena ia sudah melihat Kris sebelum memasuki ruangan ini. Pemuda dengan sejuta pesona itu tengah latihan gerakan pramuka di halaman sekolah, itulah kenapa gadis bermarga Yoo itu, tidak mencari keberadaan seorang pemuda yang satu itu.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Chanyeol muncul bersama Sehun, yang entah kemana saja tadi.
Peserta KIR segera mempersiapkan segala sesuatu untuk prakteknya kali ini. Membuat es lilin *anggap di Korea ada * tanpa harus dimasukkan ke dalam lemari es. Semua anggota kebagian tugasnya masing-masing. Ada yang membuat sirupnya, menyediakan kantung plastik hitam, garam kotak-kotak (?) yang dihaluskan, dan Ara memilih untuk membantu menuangkan sirup ke dalam plastik kecil -untuk es lilinnya.
"Pelan-pelan," ujar Ara pada Alice. Ia tengah memegang plastiknya, sedangkan Alice yang menuangkan sirupnya. Dan sesekali matanya melirik ke arah Chanyeol yang tengah bercandaan dengan seorang gadis, yang sepertinya teman sekelas pemuda itu. Dan ia memandang jengah pada dua orang itu. Terlebih lagi pada gadis itu, karena Ara menerka-nerka kalau cara menatap gadis itu pada Chanyeol terlihat berbeda. Mungkin hampir seperti dirinya. Yah, bisa dibilang seperti itu.
Setelah selesai, mereka kembali masuk ke ruangan itu, tinggal melakukan tahap selanjutnya.
Semua anggota disuruh berkumpul, untuk mendengarkan penjelasan lebih jelasnya, serta reaksi-reaksi apa saja yang terjadi. Saat sang guru sedang menjelaskan, Ara sama sekali tidak fokus. Ia merasa diperhatikan oleh Chanyeol yang berdiri di sebrangnya. Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidak ada faktanya sama sekali. Yeah, mungkin jika orang yang sedang jatuh cinta itu, memang seperti itu, kah?
Akhirnya, Ara sedikit lega, karena Chanyeol tidak berdiri di sebrangnya lagi. Dan Ara tidak ingin tahu kemana Chanyeol 'pindah'.
sebab, jika ia tahu, maka matanya akan mencuri-curi pandang terus ke arah sana. Mungkin. Namun,
Jleb...!
Oh, ya Tuhan, kenapa sekarang malah makin parah?
Ara segera menundukkan kepalanya, hanya menatap ke arah meja di depannya, dengan wajah yang memerah sepertinya. Ia berdiri kaku di sana, tak bergerak sedikit pun. Ia tak menyangka bahwa Chanyeol akan... akan... aaaa... tidaaakk! Please, lihat ke belakang tubuh Ara.
Fiuhhh... dengarkan baik-baik. Park Chanyeol , berdiri di belakang tubuh Ara, dengan kedua lengannya berada di masing-masing pinggang gadis itu, dan telapak tangannya di tumpukan di meja. mungkin lebih gampangnya, pose mengurung gadis itu, tapi dari belakang. Tapi ada sisi romantisnya, kan. Bukankah seperti pose memeluk? kkekeke... beruntung tubuh Chanyeol tinggi. Coba kalo sejajar dengan Ara, pasti... silakan pikirkan sendiri.
.
Satu jam pun berlalu, dan akhirnya Les KIR berakhir. Sebelum benar-benar Ara melewati pintu gerbang sekolah, Ara menengok ke belakang, menatap Chanyeol sejenak, yang masih berada di halaman sekolah. Hahhh... sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya. Ia takut tidak bisa tidur karena terbayang sweet moment-nya bersama Chanyeol tadi.
.
.
Ara bertelungkup di kasurnya, dengan tangan yang sedang mengotak-atik ponselnya. Ia terlihat sedang membuka account Facebooknya. Tak sengaja, matanya tertuju pada 'saran teman' yang muncul di 'beranda' nya. Dan ia sedikit mengernyit, saat melihat ID Park Yeolli di sana. Ara merasa seperti pernah mendengar nama itu. Eh, tunggu... Park Yeolli? Ehm, namanya mirip seperti nama panggilan Chanyeol. Ah iya, tadi pagi ia mendengar Suzy menyebut-nyebut nama Yeolli, dan itu adalah... nama panggilan Chanyeol? Jangan-jangan... karena penasaran, akhirnya ia membuka 'profil' orang itu, kemudian membuka 'koleksi foto'nya, dan itu memang benar. Itu Chanyeol.
Ara membuka 'kronologi' orang itu, dan membaca 'status-status'nya. Dan, ia langsung mengernyit bingung sekaligus sedikit kesal saat menemukan sebuah 'kiriman' yang membuatnya iritasi.
Love You
"Apa ini? Hih! Bisa-bisanya dia mengirim status 'love you' di 'kronologi' Chanyeol?!" gerutunya pada seorang gadis yang tak dikenalnya dengan ID nya yang lebay. Shinmi YeojyaImmuetPoenyaYeolli. Apalagi dengan foto profilnya yang benar-benar membuatnya jijik.
.
.
.
.
TBC
