Jaehyun sama sekali tidak percaya dengan teori love at the first sight. Jaehyun fikir semua itu konyol, walaupun Ibunya selalu mendoktrin dengan bacaan penghantar tidur berupa bacaan putri dan pangeran. Jaehyun sungguh benci dengan semua hal bodoh itu.
Tetapi semuanya menghilang ketika dia bertemu namja yang tidur tepat disebelahnya. Seorang namja yang berhasil membuatnya jatuh saat pertama kali mereka bertemu. Seorang namja bernama Lee Taeyong.
Bahkan sampai sekarang. Jaehyun ingat bagaimana kejadian –yang selalu disyukurinya itu terjadi.
Jaehyun tidak tahu apa yang membuatnya masih berada di kampus sampai semalam ini. Dia bahkan sudah terlalu rajin pada tahun pertamanya di perguruan tinggi, padahal dulu dia berjanji akan menghilangkan kebiasaanya ini. Dia menghentakkan kedua kakinya ke marmer, tidak peduli ada orang yang akan marah apalagi dia melakukannya di tangga darurat, dia hanya ingin mengeluarkan segala kekesalannya.
"AAAHHHHHHHH."
Jaehyun menghentikan pergerakkannya ketika dia mendengar suara teriakkan itu. dia yakin suara itu berhasil dari tangga darurat lainnya yang berada tepat dibawahnya. Jaehyun melangkahkan kakinya perlahan. Dia sangat penasaran dengan suara itu, samar-samar dia kembali mendengar suara itu bergumama.. ah lebih tepatnya berdoa.
"Tuhan, aku memang sering menganggu Taeil hyung tapi semua itu kelakukan untuk menghilang semua kecanggungannya. Sedangkan Johnny hyung dan bocah jepang itu memang sering mengerjaiku, jadi bukankah aku seharusnya memang melawan. Jadi tolong jauhkan aku dari hantu-hantu kampus ini."
"Amiiinnn." Jaehyun tidak tahan untuk tidak menyambut do'a namja bersurai coklat yang kini tengah terduduk di salah satu anak tangga. Jaehyun yakin langkah kakinya-lah yang membuat namja itu ketakutan.
Dia menolehkan wajahnya –setelah yakin bahwa suara yang menyambutkannya adalah suara seorang manusia. Dengan wajah menyeramkan dan tatapan tajam, dia memandang Jaehyun.
Sungguh saat itu, Jaehyun tidak takut sama sekali. Wajah itu terlihat indah di matanya, dengan wajah sempurna bak pahatan artistik, bibirnya yang sedikit merah dan eye candy membuat dunianya seolah berhenti berputar, ada desir aneh yang mengundang Jaehyun itu tersenyum. Namja itu pasti salah satu sunbaenya di kampus, Jaehyun sangat familiar dengan wajahnya.
"Menyebalkan." Gerutunya membuat Jaehyun berdehem, dia melakukan sesuatu yang salah.
"Sunbae." Jaehyun berjalan takut-takut lalu duduk tepat disamping namja itu. "Maafkan aku jika aku mena-."
"Tidak. Siapa bilang aku takut?" Gerutunya lagi, membuat bibir itu mengerucut perlahan, sebal, sangat sebal malahan.
"Lagipula sunbae sedang apa disini?" Jaehyun menggaruk tengkuknya perlahan, menahan senyum di bibirnya untuk mengembang.
"Bukan urusanmu."
Jaehyun, dia sama sekali tidak menginginkanmu.
"Baiklah sunbae, kalau begitu aku pergi." Jaehyun hendak bergerak tetapi tangan mungil nan hangat itu menghentikannya.
"Kakiku sakit. Dan sama sekali tidak bisa berjalan." Dia berkata dengan sangat lirih, dia bahkan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, bagaimana kalau aku gendong?" Jaehyun langsung meluncurkan kata yang muncul di otaknya.
"Tidak perlu, aku hanya perlu dipapah." Dia seolah merasa harga dirinya terinjak tetapi dalam seperti ini apa masih perlu memikirkan harga diri.
Lalu sedikit kemudian, Jaehyun menarik tangan itu untuk melingkar di pundaknya. Perjalanan dari lantai lima gedung kampus ini cukup melelahkan apalagi sunbaenya ini sama sekali tidak ingin terlalu dekat dengan tubuh Jaehyun yang membuat Jaehyun harus ekstra sabar dan harus membutuhkan tenaga yang cukup.
Ketika sampai dilantai dua, Jaehyun menyerah. Jaehyun melepaskan tangan sunbaenya itu, yang membuat tatapan tajam dijatuhkan langsung kearahnya –yang sama sekali tidak mempengaruhi Jaehyun. Jaehyun berjongkok lalu menarik kedua tangan sunbaenya itu untuk naik ke punggungnya.
"Yakk, apa yang kau lakukan?" Gerutunya, dia masih berusaha menolak tetapi tenaga Jaehyun sungguh kuat sehingga dia kini hampir berada di gendongan Jaehyun.
"Aku bisa mati berdiri kalau terus-terusan memapahmu ke lantai satu. Naik ke punggungku sunbae, tak lebih dari lima menit kau sudah sampai di lantai satu." Jaehyun tidak sepenuhnya bohong sih lagipula tubuh sunbaenya itu sangat ringan. Ringan sekali. Dan yang membuat Jaehyun makin tersenyum senang, kedua tangan itu terus melingkar di lehernya dan Jaehyun dapat merasakan pipi namja itu menempel tepat di lehernya.
"Lee Taeyong." Seru beberapa orang ketika Jaehyun dan sunbaenya itu –yang baru saja Jaehyun tahu bernama Lee Taeyong, baru saja turun dari tangga. Wajah mereka sungguh kebingungan apalagi melihat sahabat karib mereka berada diatas seorang namja yang tidak terdeteksi namanya.
"Kakiku sakit. Untung ada-." Taeyong berhenti sebentar. "Siapa namamu?"
"Jaehyun. Jung Jaehyun." Jaehyun menurunkan Taeyong, dia sebenarnya takut juga dengan tatapan tajam yang dilayangkan tiga namja didepannya ini.
"Ah.. Terima kasih Jung Jaehyun." Kata Taeyong dengan senyum sumringah yang –entah kenapa membuat hati Jaehyun serasa berbunga-bunga, dia ikut tersenyum.
"Aisshhh lihat senyum idiotmu itu. Dasar orang bodoh." Seru namja yang berdiri dekat dengannya dengan dua telinganya yang digantungi oleh anting-anting, dia memasang wajah memuakkan lalu berjalan mengikuti teman-temannya yang telah menghilang sambil membawa Taeyong –Jaehyun tidak sadar kapan mereka membawa Taeyong.
"Jung Jaehyun." Jaehyun tersadar lalu menolehkan kepalanya ke bawah tepat kearah Taeyong.
"Apa hyung? Kau mau ronde selanjutnya?" Katanya dengan senyum mesum yang membuat Taeyong ingin melemparnya dari balkon apartemennya.
"Tidur atau aku pecahkan kepala besar dan mesummu itu." Serunya yang membuat Jaehyun langsung merebahkan badannya tepat disebelah Taeyong. Tangannya dengan sigap membawa tubuh Taeyong kedalam pelukannya.
Tak perlu ronde selanjutnya, dalam keadaan seperti ini Jaehyun masih bisa menggerayanginya dengan bebas. Jaehyun terkekeh perlahan.
"Jaehyunnnn." Jaehyun menghentikan pergerakkan tangannya dan membiarkan matanya tertutup perlahan, biar kami bertemu dalam mimpi saja, mana tahu bisa melakukan didalam mimpi, Jaehyun mengeringai, lalu cepat-cepat menjemput mimpi.
"Aku mencintaimu, hyung." Bisik Jaehyun tepat di telinganya membuat Taeyong mendadak geli dibuatnya.
"Aku tahu. cepat tidur." Katanya sambil menarik tangan Jaehyun lebih kedalam, membuat mau tak mau Jaehyun mengeringai.
dia mencintai Taeyong dan sikap tsunderenya itu.
haiii aku kembali dari kefrustasian -_- *jangan tanya mengapa lol*
btw makasih yang udah review kemarin. aku sebenarnya mau sebutin satu-satu. tapi jaringannya ngajak berantem *gratis sih -_-*
reviewnya jangan lupa~~~~ *pyong pyong*
