My Life Begin - Chanbaek
Oneshot, Mpreg, YAOI, B X B, Marriage Life
e)(o
"Jadi, kau sudah bertunangan dengannya?"
"Ya, begitulah. Seperti yang kau tahu."
Chanyeol menyesap kopi dari cangkir yang baru pertama ia sentuh sejak kedatangannya di restoran ini.
Seorang wanita dengan surai brunette panjang yang duduk dihadapannya mengangguk kecil, dengan senyum yang hanya terlihat mengembang dari bibir saja. Tidak matanya. Tidak hatinya.
"Kau sudah benar-benar melupakanku ternya-..."
Tiba-tiba suara tenggorokan Chanyeol menginterupsi. Pria itu melucuti wajah tenang yang selama ini ia pamerkan didepan sosok yang sebenarnya tidak ingin ia lihat lagi dalam hidupnya.
"Baiklah. Rose, dengar. Aku sudah bahagia. Satu-satunya hal benar yang pernah kulakukan dalam hidupku adalah mencintai Byun Baekhyun. Kau tahu itu?"
Sesuatu dalam mulut Rose terarasa seperti menggertak, bibirnya terlihat diam namun dengan usaha yang keras ia menahannya untuk tidak bergetar. Wanita berparas cantik itu akhirnya berpikir jika tidak ada lagi alasan baginya untuk tetap berada disini.
"Baiklah, aku mengerti."
Setelah menyampirkan Bucket Bag dibahu kanan, Rose beranjak dari kursi dihadapan Chanyeol. Tapi sebelum pergi, ia ingin menyelesaikan pernyataan terakhirnya.
"Saat kau mulai bosan, jangan pernah mencariku dan menangis karena menyesal telah menikahi carrier membosankan seperti dia."
Rose pergi. Namun ketika tubuhnya berjalan melewati Chanyeol, seseorang menahannya.
Dalam diam, segaris senyum ditarik dari bibir tipisnya. Sudah ia duga, Chanyeol tidak akan membiarkannya.
"Kau benar. Aku tidak perlu mencarimu karena bosan sudah tidak ada lagi dalam kamusku. Kau tahu benar, perasaan yang aku miliki untuk Byun Baekhyun adalah cinta. Bukan nafsu."
Chanyeol menekankan kata terakhirnya, dan pergi mendahului Rose meninggalkan restoran tersebut.
Tapi Rose terlalu malu untuk mencampakkan harga dirinya dengan menangis didalam ruangan yang terlihat sangat romantis seperti ini. Tempat ini tidak seharusnya menjadi saksi baginya yang baru saja mengalami patah hati.
e)(o
Sejak bertunangan sebulan lalu, Chanyeol menyarankan agar ia dan Baekhyun sementara tinggal bersama di apartemennya sebelum mereka menikah dan tinggal di rumah baru. Dan hari ini adalah hari pertama kepindahan tunangannya itu ke Apartemen miliknya. Pagi-pagi, Chanyeol sudah datang untuk menjemput Baekhyun dan membantunya mengemasi barang. Ia tidak pernah sesemangat ini dalam hidup. Hanya dengan memikirkan bahwa ia akhirnya bisa tinggal satu atap bersama orang yang ia cintai sudah cukup membuat Chanyeol tidak tidur dengan nyenyak semalaman.
Setelah memasukkan digit kode dan bunyi "bip" terdengar, Chanyeol memutar knob dan mempersilahkan tunangannya masuk terlebih dahulu.
Dari belakang, Chanyeol menyusul bersama koper Baekhyun ditangannya.
Baekhyun melihat ke sekitar, kemudian berbalik dan menatap Chanyeol dengan senyum kecil.
"Kau mengganti semua perabotnya sebelum aku datang?"
"Kau menyadarinya?"
Chanyeol hanya tersenyum kikuk sambil mengelus tengkuknya.
"Tentu saja, sayang. Dulu sofamu berbahan kulit. Sekarang mereka semua berlapis beludru dan berwarna ungu. Lalu gorden, TV-nya, taplak meja, bahkan meja makan, mereka semua sudah berganti. Ada apa ini?"
Baekhyun menunjuk satu-persatu perubahan yang terlihat dari apartemen tunangannya yang seminggu lalu tidak terlihat seperti ini.
"Mm... apa kau tidak suka, sayang?"
Chanyeol jadi gugup. Ia sebenarnya tahu bahwa Baekhyun sangat benci dengan yang namanya pemborosan. Tapi, sungguh, ia tidak bermaksud begitu. Ia hanya ingin...
"Marah? Untuk apa? Aku tahu kau hanya ingin membahagiakan diriku. Kau tahu aku sangat suka sofa ini."
Baekhyun mendekat dan mengalungkan tangannya di leher Chanyeol. Ia menatap kekasihnya itu dengan mata penuh cinta, yang membuat Chanyeol larut didalamnya dan hampir menyingkirkan jarak diantara bibir mereka jika saja Baekhyun tidak menahannya dengan telunjuknya yang manis.
"Dan kuharap kau sudah menambah peralatan memasak didapurnya untukku."
Chanyeol tersenyum lebar. Ia senang karena membeli peralatan memasak baru adalah hal yang ia lakukan pertama kali sebelum merubah isi apartemennya seperti ini.
"Aku jadi tidak sabar ingin memakan masakkanmu setiap hari mulai detik ini."
"Mulai detik ini? Apa kau mau langsung memintaku memasak untukmu sekarang juga?"
"Hm, jika kau tidak keberatan."
Baekhyun terkekeh dan mencubit hidung mancung Chanyeol dengan sayang, yang berakhir dengan Chanyeol yang menggendongnya menuju dapur sambil tertawa.
Kehidupan cinta mereka baru saja dimulai. Sampai hari pernikahan tiba nanti, Chanyeol berjanji untuk terus berusaha membahagiakan Byun Baekhyun mulai sekarang, bahkan hingga selamanya. Ia tidak pernah menemukan seseorang seindah dan secantik Byun Baekhyun selama ini. Ia tidak pernah mendapati seseorang yang mencintainya tanpa syarat apapun. Ia tidak pernah merasa menjadi manusia yang seutuhnya sebelum ia bertemu dengan Byun Baekhyun.
Jika harus menuliskannya dalam verbal, Chanyeol tidak tahu akan ada berapa halaman yang terisi untuk bisa menceritakan betapa banyak keajaiban yang telah diberikan Byun Baekhyun dalam hidupnya.
e)(o
x A Year After Marriage x
"Tuhan memberkatimu, nak. Kelahirannya tinggal menghitung hari. Semoga persalinannya lancar, ya." Tangan wanita paruh baya itu menyentuh pipi Baekhyun, memberkatinya dengan doa yang pemuda itu terima dengan senyum dan anggukan.
"Terima kasih, Bibi. Besok aku harus mulai tinggal dirumah sakit selagi menunggu hari kelahirannya tiba. Sebenarnya, ini semua karena Chanyeol yang memaksa."
Baekhyun melirik suaminya yang duduk tepat disampingnya. Saat ini, mereka sedang kedatangan seorang tamu istimewa dikediaman indah mereka. Dia adalah Bibi Ahn, wakil ketua yayasan panti asuhan tempat Baekhyun tinggal saat remaja dulu pasca kedua orangtuanya meninggal dunia. Baekhyun memang sangat dekat dengan Bibi Ahn bahkan hingga sekarang.
"Lebih baik seperti itu kan, bibi? Aku tidak ingin ada drama dikelahiran anak pertama kami. Aku tidak tahu kepanikan seperti apa yang akan terjadi jika sampai air ketuban Baekhyun pecah disaat yang tidak terduga, seperti yang sering ada di televisi."
Chanyeol merangkul Baekhyun saat itu juga dan menatapnya dengan senyum penuh "kemenangan". Tentu saja, bukan tanpa alasan jika ia jadi super protektif terhadap istrinya yang sedang hamil 9 bulan ini.
"Aigoo, lihat ini. Kalian benar-benar tercipta untuk mencintai satu sama lain. Baekhyun, kau beruntung nak memiliki suami seperti Park Chan-..."
Kalimat Bibi Ahn tiba-tiba terputus ditengah jalan.
Baekhyun menatapnya dengan bingung, begitupun Chanyeol. Mata Bibi Ahn nampak tertuju pada kaki Baekhyun dan kedua tangannya kini beralih mendekap mulutnya.
"Ya Tuhan, Baekhyun... Air ketubanmu sayang..."
Butuh beberapa detik bagi pasangan suami istri ini untuk memproses kalimat dari Bibi Ahn.
Kemudian dengan kompak, keduanya mengikuti arah pandangan Bibi Ahn dan benar saja, Park Chanyeol seketika...
"PANGGILKAN DOKTER! OH, TIDAK. PANGGILKAN AMBULANS. BAGAIMANA INI? BAEKHYUN, KAU TIDAK APA-APA KAN SAYANG? MANA KUNCI MOBILKU?! DIMANA AKU MENARUHNYA?! BAEKHYUN, KAU TIDAK KESAKITAN KAN?! BAGAIMANA ANAKKU???!!"
Yang Chanyeol lakukan sungguh diluar ekspektasi orang-orang yang "menontonnya" saat ini. Ternyata, kepanikan pria itu jauh lebih "mengerikan" dibanding para aktor di televisi. Baekhyun hanya menatap datar suaminya, tidak tahu harus berucap apa.
Memang, saat ini air ketubannya pecah. Lalu apa? Apa ia juga harus berteriak dan menambah kepanikan suaminya saat ini?
Bibi Ahn berusaha membantu Baekhyun berdiri sementara Chanyeol berlarian kesana kemari, terlalu gusar untuk memilih antara mencari kunci mobil atau membantu istrinya berjalan keluar rumah.
"BAEKHYUN APA KAU KESAKITAN SAYANG?! TUNGGULAH KUNCI MOBILNYA SUDAH KUTEMUKAN SAYANG."
Dari lantai atas suara teriakan Chanyeol masih terdengar jelas. Entah siapa yang barusan berkata jika tidak ingin ada "drama" dimomen persalinan anak pertama mereka tadi, tapi yang pasti kini Chanyeol lah yang telah terjebak dalam drama tersebut.
"Baekhyun, apa kau merasa sakit?"
"Untungnya tidak, Bibi. Aku juga tidak mengerti kenapa air ketubanku bisa pecah diluar tanggal prediksi dokter. Mm... maafkan aku. Chanyeol memang suka seperti ini."
"Tidak perlu meminta maaf. Aku akan ikut mengantarmu kerumah sakit. Cepat, kita sekarang harus menuju mobil."
Dan ketika Chanyeol datang bersama kunci mobilnya, Baekhyun sempat berkata pada suaminya bahwa ia tidak apa-apa tapi sepertinya pria itu tidak mau mendengarkan. Ia masih terserang sindrom "calon ayah" yang berlebihan dan berulang kali mencoba menenangkan Baekhyun dalam perjalanan seolah istrinya itu tengah mengeluh kesakitan.
Ia menyuruh Baekhyun untuk menarik nafas berulang kali, membawakan bantal dari rumah, selimut, dan menyodorkannya air minum. Sambil menyetir, Chanyeol bahkan menyanyikan lagu kesukaan Baekhyun berharap istrinya itu bisa rileks selama perjalanan.
Padahal, satu-satunya orang yang butuh "rileks" saat ini adalah Chanyeol sendiri.
Baekhyun hanya membalas genggaman tangan kiri Chanyeol dengan lembut, mencoba menghantarkan ketenangan untuk suaminya yang terlalu gugup saat ini. Harus Baekhyun akui, mungkin ia sendiri jauh lebih gugup dibanding Chanyeol karena sebentar lagi, ia akan berjuang untuk melahirkan anak pertama mereka. Tapi Baekhyun menutup semua perasaan itu agar Chanyeol tidak terlalu khawatir lagi padanya.
Sedikit lagi, buah cinta mereka akan lahir ke dunia dan melengkapi kebahagiaan keluarga kecil ini.
e)(o
!!!LABOR SCENE ALERT!!!
Ketika mobil hitam Chanyeol tiba didepan pintu masuk paviliun persalinan, sejumlah petugas rumah sakit yang berjaga didepan dengan sigap berinisiatif menarik kursi roda untuk membawa Baekhyun kedalam.
"Pelan-pelan, sayang. Apa masih sakit? Sabar ya, sayangku... Atau mau kugendong?" Baekhyun hanya menggeleng dan mencegah tangan suaminya yang hampir mengangkat tubuhnya itu.
Chanyeol kembali memapah istrinya dan mendudukkannya perlahan di kursi roda. Sepanjang jalan menuju ruang bersalin, Chanyeol membawa kakinya berlarian hingga hampir mendahului Baekhyun dan para suster.
"Ayo cepatlah... istriku sedang kesakitan."
Ia terlalu panik sehingga menyuruh seorang perawat yang mendorong kursi roda Baekhyun untuk berjalan lebih cepat. Baekhyun hanya mengisyaratkan permintaan maaf kecil atas sikap suaminya yang berlebihan kepada para suster.
"Suamimu sungguh sigap dan siaga, Nyonya. Anda beruntung."
Seorang suster menanggapi. Baekhyun hanya tersenyum kecil disela-sela ringisannya menahan sakit. Perutnya mulai terasa semakin bergejolak. Ia merasakan bahwa calon anaknya sudah benar-benar mendesak untuk keluar dari rahimnya. Ia hanya berdoa didalam hati semoga semua proses persalinannya berjalan lancar.
"Bawa pasien keatas tempat tidur. Dokter Cho sudah siap dan sedang berjalan kemari."
Ketika beberapa perawat bergotong-royong mengangkat tubuh Baekhyun keatas tempat tidur, Chanyeol yang saat itu berada didekatnya merasa bingung harus berbuat apa. Ia ingin ikut mengangkat tubuh istrinya tapi pergerakannya sendiri terhalang oleh siluet-siluet perawat ini.
Akhirnya Baekhyun berhasil dibaringkan dan selembar kain dibentang diatas tubuhnya, menutupi bagian perut sampai ke kaki.
"Nyonya-..."
"Park."
Chanyeol memotong secara spontan.
"Iya, Nyonya Park, buka sedikit lebar selangkanganmu ya. Kami juga harus melepas celana dalam Anda."
"Tu-tunggu-tunggu. Sebelum itu apa boleh aku bertanya sesuatu?"
Lagi-lagi Chanyeol memotong perkataan suster, sekalipun keadaan sedang genting seperti ini.
"Apa dokternya perempuan? Atau laki-laki?"
"Dokter Cho adalah perempuan, Tuan. Dia bidan senior di rumah sakit ini."
"Oh... syukurlah. Oke suster, lanjutkan."
Beberapa perawat yang berdiri didekat Chanyeol mulai saling melempar pandangan dan menahan tawa masing-masing. Baekhyun yang menyadari hal itu hanya menepuk jidatnya pelan.
Chanyeol yang sadar akan gerakan Baekhyun barusan kembali bereaksi panik. "Kenapa sayangku? Kau pusing?"
"Iya, suamiku... kepalaku sungguh pusing... kau tahu kenapa?"
"Kenapa, sayang?"
"Karena kau, suamiku... bisakah kau berusaha untuk lebih tenang? Siapa yang mau melahirkan disini? Kau atau aku, sayang?"
Baekhyun bertanya dengan nada sarkasme, membuat Chanyeol tergagap saat mencoba menjawabnya.
"I-iya... tentu saja kau, sayang... Tapi--..."
"Enough, Chan. Please..."
"Okay, I will. Fiuh..." Chanyeol menarik nafas panjang dan mencoba menenangkan diri. "Of course i will, honey."
"Okay. Thats good. Thank you, Chan."
"Dont mention it, baby. You know, i'm the father here, Baek. You guys see? I'm going to be a father today."
Semua orang disekitar yang menatap terperangah kearah suami istri unik ini hanya mampu merespon dengan anggukan.
"Tolong semuanya minggir sebentar, Dokter Cho sudah tiba."
Sejumlah suster yang berada didekat brankar segera menyingkir. Tirai kanan-kiri hingga depan dengan sigap ditutup. Chanyeol yang menyaksikan semua ini hanya terpaku dengan wajah dungu dan mata penuh kekhawatiran yang terpaku pada istrinya yang saat ini sedang berbincang serius dengan dokter.
"Kita mulai sekarang. Pembukaan 5 sudah terlihat."
Dokter yang baru saja mengecek kedaerah selangkangan Baekhyun kini bersiap dengan masker dan sarung tangan. Suster lain mulai berlarian, datang dengan membawa baskom stainles berisi air, handuk, serta sanitizer. Disisi lain, seorang suster lainnya memegang sebuah nampan stainles yg berisi berbagai macam alat kedokteran; gunting, jarum, kasa, kapas, bahkan benda-benda silver lain yang tidak begitu Chanyeol tahu apa namanya.
"Tuan Park, silahkan duduk disini."
"Huh?"
Sayangnya, Chanyeol tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh suster itu padanya barusan.
"Duduklah di kursi ini, Tuan. Anda harus membantu proses bersalin dengan menemani istri Anda disini."
"Ah iya. Tentu saja."
Chanyeol duduk disebuah kursi yang persis diletakkan disisi tempat tidur Baekhyun. Dengan sigap ia meraih tangan istrinya, menggenggamnya dan menciuminya lembut. Satu tangannya yang lain ia pakai untuk membelai kepala istrinya dengan sayang. Setelah mencium kening istrinya cukup lama, Chanyeol kemudian membisikkan sesuatu.
"Kau kuat kan, sayang? Berjuang, ya... aku selalu disini menemanimu. Jangan takut."
"Iya, sayang. Aku bisa... demi anak kita."
Baekhyun tersenyum lemah karena rasa sakit diperutnya terasa semakin tak terhankan. Tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya pada siapapun. Karena rasa sakit ini memang merupakan bagian dari tanggung jawabnya, dan dia juga tidak ingin membuat suaminya semakin khawatir.
"Nyonya Park. Hasil pemeriksaan terakhirmu sudah kupelajari tadi. Jantung dan tekanan darahmu dalam keadaan baik. Semua hasilnya bagus. Apa kau siap menjalani persalinan normalnya sekarang?"
"Siap, dokter."
Baekhyun mengangguk yakin, sekalipun jantungnya kini berdegup kencang mengantisipasi apa yang akan terjadi nanti. Ia tahu, rasanya akan amat sakit. Tapi yang ia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana melahirkan anaknya dengan sehat dan selamat. Hanya itu saja yang pinta dalam doanya sejak tadi.
"Baiklah. Saat aku bilang 'dorong', Anda harus mendorongnya ya, Nyonya. Doronglah sekuat tenagamu."
Baekhyun mengangguk kecil. Chanyeol tidak tahu mengapa tiba-tiba sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Ia benar-benar gugup, demi Tuhan. Istrinya sedang berjuang antara hidup dan mati. Dalam beberapa menit, suara tangisan bayinya akan terdengar. Chanyeol tidak tahu harus bagaimana sekarang, selain duduk disini mencoba menenangkan istrinya (atau sebenarnya ia sendiri yang perlu ditenangkan) sambil terus berdoa dalam hati.
"Baiklah, 1...2...3. dorong..."
"Aaahhhhhnnn..."
"Dorong Nyonya, Park. Lagi..."
"Aaaaaagghhhhhh... Fuuuhhh... Aaahhnn..."
Chanyeol meringis dengan sendirinya melihat ekspresi Baekhyun yang terlihat sungguh kesakitan. Ia merasakan cengkraman tangan Baekhyun dalam genggamannya semakin kuat. Chanyeol tahu, itu adalah isyarat untuk mendistraksi rasa sakit yang dirasakannya.
"Maaf ya, kita harus mengguntingnya sedikit."
Chanyeol membelakakan matanya sejenak melihat sebuah gunting mengarah kedalam selangkangan istrinya, dan benar saja, spontan ia memejamkan mata dan mengigit bibirnya sendiri. Rasanya sungguh ngilu. Bagaimana dengan Baekhyun yang merasakannya? Chanyeol hanya bisa menciumi punggung tangan istrinya berulang kali. Ia mencoba menguatkan istrinya. Tapi disaat yang sama, ia lebih ingin menyanjung istrinya yang berjuang begitu banyak untuk melahirkan buah cinta mereka. Tidak ada kata lagi yang bisa Chanyeol ucapkan bagaimana ia kagum pada sosok Baekhyun dan bersyukur memiliki dirinya sebagai seorang istri.
"Baiklah, sekali lagi ya, Nyonya Park. Tarik nafas... Dorong!"
"AAAGGGHHHHHH... SUAMIKU... AAAHHNNN..."
Setelah cengkraman kuat hingga pukulan yang dirasakan Chanyeol pada bahunya, tak lama setelah itu suara tangisan bayi terdengar memenuhi ruangan.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Park. Bayi kalian laki-laki yang tampan."
Chanyeol terperanjat. Tubuhnya gemetaran. Bibirnya ingin berucap sesuatu namun begitu banyak perasaan yang bergejolak di dadanya sehingga ia sendiri tidak tahu bagaimana menyampaikan semuanya. Tanpa sadar, ketika bayi mereka telah sampai dalam gendongannya, Chanyeol meneteskan air mata tepat dihadapan sang istri yang terbaring lemah dan kelelahan.
"Anakku... anak kita..."
Baekhyun mengangguk lemah. Ia tersenyum. Tapi tangis bahagia juga sudah tak dapat ia bendung.
"Anak kita, Chan..."
e)(o
End
Afterwords:
Please review juseyo. I'm so happy to read your review, its really made my day :)
