Jaemin's PoV

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Jam yang menempel di dinding kamar Mark hyung sudah menunjukan pukul lima petang. Langit juga sudah berubah jingga ketika aku melihatnya melalui jendela.
Bisa gawat jika aku tidak segera pulang.

"Hyung, aku pulang ya?" ucapku pada Mark hyung seraya mengangkat kepalanya dari pahaku. Aku berdiri, memakai kembali jas sekolahku dan menyampirkan tas ke kedua pundakku.
Kulihat Mark hyung juga berdiri setelah merapikan playstation yang tadi kita mainkan.
Setelah itu, kami berjalan keluar untuk turun kebawah.

Oh iya, perkenalkan, namaku Na Jaemin. Panggil saja Jaemin, atau Jae juga boleh, agar terkesan akrab,hehe.
Aku lahir tahun 2000, setaun lebih muda dari Mark hyung yang lahir tahun 1999. Walaupun berbeda tahun, tetapi kami berada di tingkat yang sama, meskipun berbeda kelas.

Bagiku, Mark hyung adalah seseorang yang sangat baik. Aku sudah mengenalnya sejak masih di kelas enam sd. Ia bisa menjadi teman sekaligus kakak dalam waktu bersamaan. Sifatnya yang dewasa dan selalu memberiku saran di saat-saat aku sedang putus asa, membuatku selalu nyaman berada disekitarnya.

Setelah berpamitan pada bibi Lee, aku dan Mark hyung segera menuju halte bus. Awalnya aku menolak ketika Mark hyung menawarkan antarannya, namun seberapapun aku menolak, tetap saja namja itu mengantarku. Keras kepala sebenarnya -,-

Dalam perjalanan tidak banyak obrolan yang kami buat, hanya sesekali aku meringis dan sesekali juga Mark hyung mendumal karena kekalahan telaknya dariku saat permain game tadi.
Orang itu sangat lucu ketika merajuk, pasti bibirnya akan maju beberapa senti.

"Sepertinya kau harus berguru padaku hyung! Hahaha." kataku sedikit mengejeknya. Ejakan yang cukup manjur. Buktinya, ia mendengus tadi.

"Ada-ada saja. Lihat saja, nanti pasti akan kubalas,Jae!"

"Ya ya terserahmu saja hyung."

Obrolan kami terhenti ketika sudah berada di halte. Aku mendongak. Langit sudah benar-benar berwarna jingga, sepertinya aku harus rela mendengar omelan ibuku saat dirumah nanti.

Aku merutuk dalam hati ketika bus yang kutunggu tak kunjung datang. Mark hyung juga sedari tadi tidak berbicara apapun, membuatku menjadi canggung. Aku pun bingung kenapa harus merasa canggung, toh ia memang tipe orang yang tak banyak bicara. Tetapi sekalinya bicara, pasti tak bisa berhenti. Mirip sekali dengan bibi Lee.

"Lee Minhyung!"

Aku terlonjak ketika suara yang kencang tersebut terdengar. Seorang gadis berlari kearah kami. Ia memakai seragam sekolah berwarna merah tua serta rok selutut berwarna hitam. Rambutnya panjang terurai dengan sebuah pita kecil yang menjepit poninya. Saat gadis itu sudah dekat, aku baru menyadari tingginya hanya sebatas pundakku.

"Lami?"

Aku menoleh kearah Mark hyung. Kerutan di dahi sudah kupasang sedari tadi. "Kau mengenalnya?" bisikku pelan.

Aku melihat ia mengangguk.
Ku pandang lagi gadis bernama Lami itu, dan ia sedang tersenyun lebar dengan mata yang menatap lekat Mark hyung.

"Akhirnya aku menemukanmu, Minhyung!" serunya girang.

"Ck jangan panggil aku dengan nama itu. Lagipula sekarang kau berada di Korea, pemakaian panggilan formal sangat berlaku disini."

Aku bergeser kesamping. Cukup tau diri ketika Lami terus mendekat untuk bisa bersampingan dengan Mark hyung.

"Baiklah baiklah... Mark.. oppa? Aigoo aneh sekali rasanya! Kenapa tidak Minhyung saja? Itu terdengar imut!"

"Pokoknya jangan Minhyung. Panggil Mark saja!"

Perdebatan keduanya hanya kudengar dengan setia. Aku terus bergerak-gerak gelisah karena bus belum kunjung datang. Namun suara Mark hyung menginterupsiku.

"Jae, kenalkan, ini Lami. Temanku saat di Vancouver. dia dua tahun lebih muda dari mu." ucapnya. Aku melihat gadis itu tersenyum sangat manis.

"Hai, oppa!Namaku Lami!"

"H-hai juga. Aku Jaemin." balasku gugup. Setelah perkenalan singkat itu, Lami segera berpaling lagi ke Mark hyung dan melanjutkan acara bernostalgia bersamanya. Sedangkan aku sudah seperti patung yang hanya bisa berdiri diam.

Lima menit terasa lama sekali bagiku ketika bus berwarna merah itu akhirnya datang. Aku segera menaikinya setelah memberi salam perpisahan kepada Mark hyung dan Lami.
Di dalam bus, entah kenapa rasanya ada yang aneh pada diriku. Sengatan-sengatan kecil pada dada kiriku membuatku jengkel setengah mati. Sengatan itu bertambah parah ketika melihat dua orang yang sedang bernostalgia tadi berjalan berdampingan meninggalkan halte.

"Tch!"

.

Tbc

Bukan chapter 2
cuma lanjutan dari chapter 1

Review?