Onmitsukido
Bleach milik Tite Kubo.
Warning: ooc, typo bertebaran, tak sesuai EYD, author newbie, dll.
Jangan di flame...
Yuhuu...author abal kembali..
Terimakasih banyak untuk para reader yang sudah membaca dan meluangkan waktu untuk me-review. Semua itu berharga banget buat saya. Mohon maaf karena saya update-nya agak lama. Selain karena faktor malas /uhuk
Ada juga masalah karena saya ngetiknya dari hp. Yah, bisa di bayangkan gimana susahnya...
Oke, ini chap selanjutnya, selamat membaca...
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Ryuu memandang datar sebuah rumah yang merangkap klinik di depan sana. Dari balik topengnya, pemuda itu memandang jendela lantai dua rumah yang lampunya masih menyala. Bisa dia duga kalau penghuninya tak bisa tidur.
Tentu saja.
Siapa yang bisa tidur nyenyak setelah melihat pembunuhan sadis secara langsung?
Ryuu tahu, perbuatannya memang sedikit berlebihan. Tapi dia juga tahu, apa yang akan di hadapi Ichigo di masa mendatang akan jauh lebih mengerikan dari yang sudah dia lihat malam ini. Pemuda itu mungkin belum merasakannya sekarang. Risiko macam apa yang akan menimpanya jika memilih jalan ini. Jalan penuh bahaya yang tak hanya akan mengancam keselamatannya, melainkan juga orang-orang terdekatnya.
"Ryuu?" pemuda itu menoleh. Di dapatinya seseorang mendekat.
Seorang petinggi Onmitsukido yang lain. Di lihat dari pakaiannya yang sama dengan Ryuu; kimono hitam dan haori putih. Yang membedakannya hanya amrband di lengan kirinya. Jika armband Ryuu bergambar bunga daffodil, maka armband milik orang ini bergambar bunga camellia.
"Taka? Sedang apa kau disini?" tanya Ryuu.
"Hanya patroli biasa," jawabnya singkat, ikut memandang rumah keluarga Kurosaki. "Kau sedang memata-matai seseorang?"
Ryuu mengangkat bahu.
"Hanya seorang anak muda yang tak sengaja melihat adegan horor."
Orang yang di panggil 'Taka' itu mengangguk. Paham maksud ucapan Ryuu.
"Anjing baru milik Kyouraku, eh?"
"Aku yakin kau sudah tahu itu," jawab Ryuu sekenanya; matanya menerawang langit. "Sebaiknya aku kembali. Sudah menjelang pagi," lanjut Ryuu kemudian menatap Taka.
Orang itu membalas tatapan Ryuu lalu mengangguk. Tak sampai satu detik setelahnya, Ryuu sudah menghilang dari tempatnya, meninggalkan Taka seorang diri.
"Kau telah melibatkan temanmu dalam bahaya besar, Renji," gumam Taka sepelan tiupan angin.
.
.
.
Ryuu menyelinap masuk ke rumah sederhana yang menjadi tempat tinggalnya bersama kedua orang yang telah di anggapnya sebagai keluarga. Bukan hal yang sulit baginya kalau hanya menyelinap masuk seperti itu.
Setelah menanggalkan semua perlengkapan Onmitsukido-nya, kini pemuda itu telah kembali menjadi sosok Hitsugaya Toushiro, murid SMA Karakura. Pemuda itu berbaring di tempat tidurnya, menatap jam di meja nakas yang masih menunjukkan pukul tiga dinihari. Masih ada waktu beberapa jam untuk mengistirahatkan diri. Toushiro memutuskan untuk tidur sejenak.
Entah berapa lama pemuda itu tertidur, begitu bangun, di dapatinya Hinamori yang tengah berkacak pinggang. Tangan kanannya memegang sendok sayur, yang kemudian di gunakannya untuk menunjuk wajah Toushiro.
"Cepat mandi dan sarapan. Setelah itu kita berangkat ke sekolah sama-sama," titahnya dengan gaya ibu-ibu yang sungguh sangat tak cocok untuknya.
Toushiro mengernyit. "Kau jadi kelihatan seperti bibi penjual sayur, Hinamori," kata Toushiro, yang langsung di sesalinya begitu melihat Hinamori mengambil ancang-ancang untuk melempar sendok sayurnya.
"Apa kau bilang?" teriak Hinamori angker, membuat Toushiro buru-buru ngacir ke kamar mandi; takut kena amuk.
"Huh, awas saja!" gerutu Hinamori dengan wajah cemberut, lalu berjalan keluar dengan kaki di hentak-hentakkan.
"Ck, aku heran kenapa dia selalu galak kalau pagi-pagi," kata Toushiro yang kini mengintip Hinamori dari balik pintu kamar mandi. "Perempuan benar-benar merepotkan," lanjutnya kemudian memulai ritual paginya.
.
.
.
Setelah melalui banyak cobaan -termasuk lemparan sendok sayur dari Hinamori- akhirnya Toushiro berada di ruang kelasnya yang nyaman -untuk tidur. Pemuda itu menjadi yang pertama kali sampai di ruang kelas 2A. Itu pun karena dia memutuskan untuk tidak menunggu Hinamori, gadis itu biasanya berangkat bersama Inoue Orihime yang searah dengannya, atau dengan Kotetsu Isane yang sekelas dengannya.
Suasana sunyi kelas kala itu menjadi keuntungan tersendiri bagi Toushiro, karena dengan begitu dia bisa tidur tanpa di ganggu siapapun. Semalam dia cuma bisa tidur beberapa jam, kau tahu.
Kurang dari sepuluh menit memejamkan mata, pemuda itu mendengar suara pintu kelas terbuka. Toushiro membuka sebelah matanya. Sekilas dia melihat seseorang berdiri di depan kelas, lalu dengan gontai sosok itu berjalan menuju bangkunya. Barulah setelah itu Toushiro mengetahui dengan jelas siapa sosok itu. Dia adalah Kurosaki Ichigo, orang yang dia takut-takuti semalam. Pemuda bersurai jingga terang itu datang dengan wajah mengantuk di tambah lingkarang hitam di bawah matanya, bukti kalau dia tak tidur semalaman. Pemuda itu sepertinya tak sadar sedang di perhatikan. Itu terbukti karena dia terus berjalan ke bangkunya lalu meniru posisi Toushiro; kedua lengan di lipat untuk di jadikan bantal.
Melihat itu, Toushiro cuma angkat bahu, lalu melanjutkan tidurnya. Yah, setidaknya itu yang dia inginkan.
Secara tiba-tiba, seseorang mendobrak masuk ke ruang kelas 2A, yang kemudian di susul dengan teriakan lebay yang membuat sakit telinga.
"GOOD MORNING EVERYBODY! KUSAKA SOUJIRO IS BACK!" teriak Kusaka dengan sangat percaya dirinya -tak peduli dengan penghuni kelas yang cuma ada dua orang- di tambah dengan ekspresi sok cool yang bisa membuat muntah siapa pun yang melihatnya.
Perempatan merah imajiner langsung muncul di dahi Toushiro begitu tahu siapa orang yang berteriak barusan. Dengan jengkel, di lemparnya sebuah novel hardcover setebal lima ratus halaman lebih ke arah Kusaka hingga membuat pemuda itu terjengkang dengan sangat tidak elitnya.
"Berisik, Kusaka!" bentak Toushiro sangar.
Tapi hal itu sepertinya tak mempan pada Kusaka. Itu terbukti ketika pemuda itu bangkit seolah tak merasakan apa-apa -walaupun bekas buku berwarna merah masih nampak di wajahnya- lalu melompat(?) ke arah Toushiro.
"Toushiro, sobatku tercinta. Bagaimana kabarmu? Kau pasti rindu padaku, ya 'kan?! Ayo mengaku saja. Ayo mengaku," kata Kusaka semangat, yang kemudian di lanjutkan dengan mengguncang bahu si rambut putih dengan beringas.
Baru berhenti setelah kepalan tangan Toushiro menghantam rahangnya.
"Coba saja lakukan itu sekali lagi. Akan kupastikan kau akan jadi orang pertama yang terjun bebas dari gedung sekolah ini, Kusaka," ancam Toushiro; menatap pemuda yang terjengkang (lagi) itu dengan tatapan yang bisa membuat preman lari kelabakan.
"Ya, ampun. Kau ini kasar sekali. Tidak tahukah kau bahwa aku sangat merindukanmu, wahai sobatku," ucap Kusaka makin lebay, lalu mengambil ancang-ancang untuk memeluk Toushiro, yang batal di lakukannya begitu melihat pemuda itu kembali mengangkat novel hardcover yang entah darimana asalnya.
Ichigo yang menjadi penonton tak di anggap cuma bisa sweatdrop melihat interaksi aneh kedua orang berbeda warna rambut itu. Tipe persahabatan mereka agak sedikit ekstrim, menurut Ichigo.
Setelah aksi saling dorong yang berujung aksi saling tendang, kedua orang itu akhirnya duduk dengan tenang. Pengecualian untuk Kusaka yang walaupun sudah duduk di bangkunya, nampak masih belum puas menggerecoki Toushiro dengan berbagai macam hal. Dari yang normal sampai yang paling aneh. Ichigo sampai geleng-geleng melihat Kusaka yang kini kembali jadi korban penganiayaan Toushiro. Kali ini bukan dengan buku, melainkan dengan gagang sapu.
Ichigo dalam hati bertanya-tanya apa yang membuat Kusaka betah berteman dengan orang seperti Toushiro -yang walaupun di cap sebagai pemalas, tetap memiliki tenaga yang bisa mematahkan tangan orang. Padahal sudah jelas kalau dia lebih banyak babak belurnya daripada momen indahnya.
" Kau hanya melihat apa yang semua orang lihat, Ichigo," kata Kusaka ketika Ichigo menyuarakan isi pikirannya siang itu. "Toushiro itu adalah teman terbaik yang pernah aku miliki. Dia tipe orang yang jujur. Dia akan bilang salah kalau memang itu salah. Dan akan mengatakan benar kalau itu benar. Dia tak seperti kebanyakan orang yang pernah aku temui. Yah, memang benar, dia itu kadang bisa jadi sangat galak, tapi dia aslinya baik. Dia hanya terlalu bingung untuk mengekspresikan dirinya."
Jujur, Ichigo sama sekali tidak mengerti ucapan Kusaka. Dari sisi mananya Toushiro itu bisa di anggap baik?
Kusaka yang sepertinya paham ketidakmengertian Ichigo, terkekeh geli.
"Kalau kau ingin tahu, kenapa tidak coba mengobrol dengannya?" usul Kusaka.
Sayangnya, menurut Ichigo itu adalah ide yang buruk.
Pemuda bersurai jingga itu cukup sadar diri kalau dirinya bukan anak yang alim atau sebangsanya. Dia takut kalau mencoba mengobrol dengan si rambut putih, dia akan hilang kendali dan berakhir adu jotos dengan pemuda itu, mengingat Toushiro juga bisa di bilang memiliki temper yang buruk.
"Kau salah jika menganggap Toushiro itu memiliki temper yang buruk, Ichigo." Suara Kusaka yang seolah bisa membaca pikiran Ichigo itu kembali terdengar. Di lihatnya pemuda itu tengah menyeringai ke arahnya.
"Sebaliknya, Ichigo, dia punya pengendalian diri yang luar biasa. Dia tidak akan marah meski di profokasi dengan begitu jelas. Dia hanya akan diam, mengabaikan ucapan orang itu. Sikap galaknya yang kadang muncul itu bukan karena marah, melainkan karena jengkel." Karena jika dia marah, yang akan terjadi justru lebih mengerikan dari itu. Lanjut Kusaka dalam hati.
"Kalau kau tidak percaya, coba saja bandingkan dia dengan temanmu yang berkacamata itu. Aku yakin kau pasti bisa melihat perbedaannya," lanjut Kusaka, langsung melenggang pergi begitu melihat Toushiro yang sedang di seret Hinamori.
Bisa di duga jika pemuda itu pasti akan menggerecoki Toushiro, lagi.
.
.
.
Onmitsukido
.
.
.
Ruangan dengan pencahayaan temaram itu nampak lengang. Hanya beberapa perabotan yang sudah lapuk di makan usia yang tampak mengisi ruangan itu. Seorang laki-laki tegap berpakaian rapi terlihat duduk di belakang meja. Menunggu kedatangan seseorang. Wajahnya nampak licik dan bengis. Seringainya memuakkan. Laki-laki itu sepertinya orang penting, terlihat dari perangainya yang arogan. Di luar ruangan juga di jaga ketat oleh orang-orang yang masing-masing memegang senjata. Bukti bahwa pertemuan ini sangatlah rahasia.
Beberapa saat setelahnya, terdengar suara langkah kaki yang memasuki ruangan. Bunyi kelotak dari sepasang kaki beralas sepatu hak tinggi memecah kesunyian. Membuat seringai si lelaki melebar, terkesan. Tak menduga jika tamunya kali ini adalah seorang perempuan.
Tampak di matanya kini seorang wanita berambut strawberry blonde mendekat. Wajahnya cantik dengan mata berwarna abu-abu terang dan bibir penuh. Tubuhnya tinggi semampai bak model profesional. Tapi tentu saja yang langsung menjadi perhatian adalah bagian dadanya yang berukuran di atas rata-rata. Apalagi terlihat bahwa si wanita sengaja melepas beberapa kancing atas kemeja putih ketatnya, agar belahan dadanya terlihat. Blazer dan rok yang di kenakan wanita itu juga tak kalah ketat, sehingga lekuk tubuhnya benar-benar terlihat. Dan tentu saja itu membuat tatapan pria yang menunggunya berubah menjadi tatapan lapar. Terlihat tatapan matanya yang jelalatan memandang tubuh klien seksinya.
Wanita itu tersenyum manis, setengah menggoda. Lalu dengan gerakan anggun mendudukkan dirinya di kursi begitu si pria mempersilakan dirinya duduk -walaupun dengan jelas mata pria itu tak lepas dari tubuhnya.
"Bagaimana?" tanya si wanita.
"Semua beres, nona. Anda hanya tinggal memberi imbalan, dan setelah itu operasi bisa segera di lakukan," jawab si pria dengan santai.
"Apakah saya bisa mempercayai Anda? Bisakah Anda menjamin jika ini aman?"
"Ini bisnis gelap, nona. Tentu semua mengandung risiko. Tapi jika Anda percaya, saya jamin, saudara Anda akan pulih dari penyakitnya dalam beberapa bulan."
"Saya harap Anda menepati janji Anda. Saya terpaksa melakukan ini karena rumah sakit tak bisa menemukan donor ginjal yang tepat untuk adik saya. Jika sampai terjadi kesalahan, saya tak akan segan melaporkan Anda ke polisi."
"Anda terlalu tegang, nona. Saya jamin semua beres. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Anda hanya tinggal memberi imbalan. Setelah itu selesai. Atau, Anda ingin membayar dengan sesuatu yang lain?" mata si pria kembali memandang penuh nafsu pada tubuh wanita tadi.
"Saya rasa tidak," balas si wanita ketus. Mulai jengkel akan pandangan pria itu pada tubuhnya.
"Baiklah, kalau begitu Anda bisa mulai dengan menyerahkan imbalan," ujar pria itu dengan seringai, meski kecewa tak bisa 'mencicipi' tubuh wanita di hadapannya.
Wanita itu meraih tas kecil yang di letakkan di samping kakinya lalu menyodorkannya pada pria di seberang meja. Pria itu menerima tas itu dengan gembira. Segera di bukanya tas itu untuk memastikan nominal uangnya. Namun, pria itu mengernyit ketika mendapati bukan uang yang berada di dalamnya, melainkan sebuah kertas karton berbentuk persegi berwarna putih. Begitu dia membalik kertas itu, dia mendapati sebuah gambar, bukan tulisan. Hanya gambar. Meski begitu, gambar itu sudah cukup untuk membuatnya pucat pasi. Gambar yang menjadi pertanda kematian bagi orang-orang di dunia hitam.
Daffodil hitam; simbol salah satu pasukan Onmitsukido.
"Beraninya kau-" kalimat penuh emosi itu terputus begitu menyadari sisi tajam sebilah katana telah menyentuh permukaan lehernya.
Wanita cantik tadi rupanya sudah berpindah posisi. Bukan lagi di seberang meja, melainkan di belakangnya. Tangan kanannya memegang katana yang kini menempel di lehernya.
"K-kau tidak bisa membunuhku..." katanya gemetar; perlahan mengambil jarum suntik dari balik pakaiannya. Berniat menyerang.
Sayang, sebelum dia sempat bertindak, sarung pedang wanita tadi sudah terlebih dahulu mementalkan jarum itu hingga jauh dari pemiliknya.
"Kau pikir kau bisa bermain curang denganku?" ujar wanita itu sinis; memandang rendah pria itu. "Pengalamanku jauh lebih banyak darimu, brengsek!"
"Kau tidak tahu apa yang akan menimpamu, nona. Jika aku berteriak, orang-orangku akan masuk dan membunuhmu," ujar pria itu; percaya diri meski dirinya sudah berada dalam keadaan terjepit.
"Oh, begitukah?" si wanita tertawa. "Tenang saja, orang-orangmu sudah kami urus. Jadi, hanya tinggal kau dan aku," lanjutnya sambil menyeringai.
Mendengar itu, pria yang tadinya percaya diri itu kembali pucat pasi. Jika semua orang-orangnya sudah mati, berarti sekarang dirinya sudah tak memiliki harapan lagi.
"Jadi, tuan, bagaimana jika kita mulai bisnis kita sekarang?!"
Seringai kembali tersungging, bersamaan dengan mantra pelepasan shikai.
"Unare, Haineko"
.
.
.
.
.
.
Tbc
Saya tahu chap ini gaje banget. Tapi...
Berniat review?
