Yah..mumpung lagi liburan...update fic ahh! Hehe, tapi satu-satu, mulai dari yang ini dlu..


Day 3. Demon Spade

...Demon—berarti Iblis...


"Kemari..." Chrome menuntunku yang masih jalan dengan sedikit terpincang pelan-pelan, tangannya yang putih pucat dengan kuku-kuku tajam bersentuhan dengan tangan kananku yang masih sedikit gemetaran. Dia pasti merasakan getarannya, karena sesekali mata violet itu memperhatikan tanganku yang terus ia genggam.

Aku memutuskan untuk tidak bersuara lagi dan meng-iyakan apapun yang diminta Chrome. Tadi ia sempat memintaku untuk tidak berontak, maka aku tidak berontak, ia juga sempat memintaku untuk memakai baju mewah yang rumit, maka aku memakainya tanpa banyak mengeluh atau bertanya. Sudah kubilang kan, aku menyerah. Aku menyerahkan apapun yang kumiliki pada Mukuro, sesuka dia lah mau bagaimana. Sudah tidak ada apapun yang bisa kupertahankan, tubuhku, bahkan juga hatiku.

Kami berdua berhenti di sebuah pintu kembar tinggi yang terlihat beda dengan pintu-pintu lain. Ukiran naga emas yang memenuhi engsel pintu tersebut membuatku mengernyitkan alis.

"Nanti, tolong jaga sikapmu saat makan malam." Kata-kata Chrome membuat pandanganku teralih dari pintu besar itu dan menatap sebelah matanya yang jernih.

"Ya," jawabku pendek sambil sedikit menghela nafas.

Chrome membuka salah satu daun pintu dan mengajakku masuk ke dalam ruangan luas dengan sederet meja penuh hidangan. Spontan tubuhku merinding, mengingat bahwa saat pertama kali aku datang kemari waktu itu, aku mengunjungi ruang makan yang persis seperti ini dan berakhir dengan diracuni.

Lilin-lilin merah tak pernah absen menghiasi sebuah ruangan. Kali ini pun, berpuluh-puluh lilin dengan cahaya remang berjajar rapi di tengah-tengah meja panjang berhiaskan taplak berwarna emas. Saat aku melewati meja yang tingginya sepinggang itu, aroma puluhan hidangan ala restoran berhasil membuat air liurku hampir menetes.

"Duduklah!" Chrome menggeserkan sebuah bangku untukku, aku pun duduk sesuai permintaannya, kemudian ia menuangkan segelas sampanye ke dalam gelasku. Adegan ini pernah terjadi sekali, dan sedikit membuatku trauma dengan sesuatu yang disuguhkan Chrome.

"Bi-bisa kuminta air putih saja?"

Chrome menatapku sebentar, "Baiklah."

Setelah itu ia berjalan ke arah pintu yang letaknya berjauhan dengan pintu besar tadi, tak lama kemudian Chrome kembali dengan sebotol air mineral dingin dan gelas yang baru.

"Kau mau menuangkannya sendiri?" tanya Chrome sambil meletakkan botol dan gelas itu di samping piring yang telah disediakan.

"Ya, terima kasih."

"Mukuro-sama akan datang sebentar lagi, tunggulah!"

DEG.

Mendengar nama Mukuro, tubuhku seketika tersentak, tapi aku berusaha keras agar tidak membuat reaksi mencurigakan dan bertingkah sewajarnya.

"Mukuro-sama akan membawa teman-temannya yang lain, kalau kau mau selamat, jangan melawan dan ikuti alur mereka," bisik Chrome, aku mengangguk kecil. Heran juga, rupanya makhluk seperti Mukuro juga memiliki teman ya?

Tak sampai 15 menit kemudian, sesuai perkataan Chrome, Mukuro pun datang bersama empat orang rekannya. Semua dari mereka tentu saja tidak ada yang kukenal. Bahkan kalau boleh jujur, aku tidak pernah melihat orang-orang itu sekali pun.

Mereka berjalan berendengan; Di paling kiri, ada seorang gadis berambut biru air panjang yang mengenakan gaun hitam hingga menutupi kedua lututnya. Di samping gadis itu ada seorang lelaki yang keperawakannya mirip sekali dengan Mukuro, baik mimik wajah maupun model rambut, semuanya hampir sama persis. Di tengah sudah pasti ada Mukuro yang mengenakan stelan formal kerajaan, membimbing para tamunya menuju meja makan. Di sebelah Mukuro, ada seorang anak laki-laki yang berpenampilan serba merah yang wajahnya dipenuhi oleh plester dan perban, mungkin usia anak itu seumuran denganku. Sementara yang paling mencolok adalah laki-laki jangkung dengan penampilan serba putih, laki-laki itu sempat melirik ke arahku saat rombongan itu menghampiri tempat duduknya masing-masing.

Chrome segera bergerak cepat untuk menuangkan sampanye ke gelas mereka masing-masing. Saat itu bisa kurasakan kalau semua mata tertuju ke arahku dalam keheningan yang panjang, membuatku resah dan tidak tahu harus memberikan respon seperti apa.

"Tidak keberatan kalau kau mengenalkan pada kami siapa anak manis itu, Mukuro?" Tanya pria bermodel rambut sama seperti Mukuro.

Mukuro berdiri dari kursinya dan mendekatiku, lalu mulai memperkenalkanku pada mereka dalam bahasa resmi.

"Seperti yang pernah kuceritakan," kata Mukuro sambil memegang bahuku dari belakang, "Dia ini adalah yang terkasih satu-satunya, Sawada Tsunayoshi."

-yang terkasih?

Apa Mukuro tidak bisa membedakan mana yang terkasih dan mana yang tersiksa?

"Tsunayoshi-kun, yang di ujung sana adalah Kozato Enma," kata Mukuro sambil menunjuk lelaki serba merah itu, "Dia adalah salah satu dari saudara jauhku yang sering berkunjung kemari, lalu di sebelahnya Demon Spade, kakak tiriku, di sampingnya lagi, Bluebel, dan ini—adalah Byakuran."

Byakuran memperlihatkan senyum lebar padaku saat namanya disebut, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi—senyumnya jahat.

"Senang bisa berkenalan denganmu, Tsunayoshi-kun!" sapa Byakuran, aku melempar senyum palsu sambil mengangguk.

"Senang berkenalan denganmu juga, Byakuran."

"Kuharap kita bisa menjadi teman baik."

"Kuharap juga demikian."

Mukuro kembali ke kursinya, di samping kursiku, Chrome yang sudah selesai menuang sampanye pun duduk di sebelahku dengan anggunnya.

"Untuk leluhur kita!" seru Mukuro sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.

"Untuk leluhur kita!" sahut yang lain. Aku hanya mengikuti mereka tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang kami lakukan. Pertemuan ini terlalu formal kalau hanya untuk sekedar upacara penyambutan teman. Tapi, siapa peduli? Yang kucemaskan sekarang adalah perutku, aku sampai lupa kapan terakhir kali aku makan.

"Silakan nikmati jamuan kami, saudara sepupu." Kata Mukuro, kemudian masing-masing dari kami mengambil makanan yang telah disediakan. Kebanyakan dari mereka mengambil makanan pembuka terlebih dahulu, tapi aku langsung saja menyambar makanan utama dan kumakan dengan lahap namun hati-hati agar tak terlihat norak.

Sambil makan, aku memperhatikan wajah mereka satu-satu. Anak yang bernama Enma itu rasanya pernah kulihat di suatu tempat entah di mana, aku lupa tapi aku yakin pernah melihatnya. Secara tak sengaja mata kami bertemu saat Enma juga menoleh ke arahku. Aku tersenyum, namun ia tak membalasnya dan malah memalingkan muka. Sombong sekali. Yah, tak apalah, aku juga tidak ingin berteman dengan kawanan iblis.

Mataku beralih pada Spade yang sedang berbincang-bincang dengan Bluebell, aku tak mengerti dengan topik pembicaraan mereka, tapi lewat ekspresi Spade yang selalu tersenyum itu sepertinya mereka sedang membicarakan hal-hal yang menyenangkan. Menyenangkan bagi mereka, tapi tidak bagiku.

Kemudian pandanganku pindah lagi pada Byakuran yang ternyata juga sedang memperhatikanku, ia tersenyum sambil melambai-lambaikan sendoknya pelan, mau tak mau aku pun membalas senyumannya lalu cepat-cepat beralih pada Mukuro yang duduk di sampingku.

"Ada apa Tsunayoshi-kun?" tanya Mukuro saat ia menyadari kalau aku terus menatapinya.

"Tidak ada apa-apa." Aku pun kembali terpaku pada piring yang masih penuh. Tiba-tiba saja selera makanku hilang.

"Mungkin dia sakit." Ujar Byakuran. "Wajahmu dari tadi terlihat pucat."

"Aku tidak kenapa-kenapa."

"Hm, mungkin gara-gara kamu masih merasa asing dengan kami?"

"Sepertinya begitu."

Dan percakapan pun terputus saat aku kembali menyantap hidangan di depanku, meski sebenarnya aku sedikit mual dengan makanan berkadar lemak tinggi. Kemudian suasana kaku itu dipecahkan oleh suara Byakuran yang terdengar jelas dibawah dentingan sendok-garpu.

"Jadi, sudah berapa lama kalian saling mencintai?"

Aku ingin sekali meralat pertanyaan pria yang duduk di sebrangku ini, kami ini tidak saling mencintai sama sekali, bahkan aku membencinya.

"Tiga hari," jawab Mukuro tanpa mengangkat wajahnya.

Ya, dan selama tiga hari itu kau menyiksaku...

"Sedekat apa hubungan kalian?"

"Sangat dekat..."

"Bagaimana dengan seks?"

'TRAANG'

"Oh, ma-maaf, sendokku jatuh." Aku yang terlalu kaget mendengar Byakuran menanyakan tentang seks secara tak sengaja menjatuhkan sendokku, membuat semua orang menatapku dengan pandangan heran yang terlalu aneh.

"Tidak perlu diambil, Chrome ambilkan sendok yang baru untuk Tsunayoshi-kun." Titah Mukuro. Chrome segera menjalankan tugasnya dan memberiku sendok baru. Tapi sungguh, sekarang aku benar-benar sudah tak nafsu makan. Pikiranku pun mulai tak terkendali karena rasa tidak nyaman, satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah pergi dari perkumpulan ini secepat mungkin.

"Tsunayoshi, kau terlihat tegang, sedang tidak enak badan?" tanya Demon Spade.

"Aku tidak apa-apa."

"Hmmh...apa karena kau mendengar kata seks barusan?"

"—Aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu."

Hening dan saling pandang. Mata Spade jelas-jelas memperlihatkan perasaan tidak suka dengan sikapku barusan.

"Memangnya kenapa dengan seks?" tanya lelaki berambut double-zigzag itu, garpu di tangan kanannya terarah padaku.

"Aku tidak suka kalian membicarakan hal itu saat kita sedang makan."

"Tidak suka bagaimana? Bukankah kau sering melakukannya dengan Mukuro?"

"Ada apa denganmu?" gertakku sambil berdiri dan sedikit membanting sendok-garpu ke atas meja, "Bisakah kau tidak menanyakan hal itu terus? Kau membuatku mual!"

Kemudian dalam gerakan singkat, mata Spade dan mataku bertemu, saling melempar delikan tajam sebelum semua yang ada di sana tiba-tiba menghilang.

Menghilang—

Menghilang...

Mulanya aku seperti tersedot ke dalam saluran WC besar yang gelap, kemudian saat membuka mata, aku berada di dalam dunia baru yang hanya kuhuni seorang diri.

Tapi mataku—oh aku tak bisa mempercayai semua yang kulihat saat itu. Ratusan bahkan ribuan tubuh tak bernyawa tergeletak di tanah merah tandus dengan kubangan darah yang dikelilingi kobaran api. Sebagian dari mereka dirantai, dirajam, digantung, dibelah, tertusuk tombak tajam, tertimpa baja, terlindas roda besi raksasa. Kulit yang terkelupas, bola mata yang nyaris keluar, tubuh mereka telanjang hanya tertutupi darah dan organ dalam yang berceceran.

"Ahh..akh.." Aku kesulitan membuat kedua kakiku tetap berdiri, pemandangan mengerikan itu sampai membuatku lupa untuk bernafas. Keringat dingin yang mengalir dari pelipisku jatuh dan seketika berubah menjadi uap begitu mencapai permukaan tanah. Aku seperti sedang terbakar, di sini luar biasa panasnya.

"J-Juudaime!"

Aku berpaling, mataku yang sudah berkunang-kunang menangkap siluet Gokudera yang tertutup kepulan asap. Kemudian syaraf motorikku tiba-tiba berfungsi, aku berlari menghampirinya sambil memanggil-manggil nama "Gokudera-kun" berulang-ulang.

"Juudaime!"

"Gokudera-kun!"

Dengan tersenggal-senggal, akhirnya aku menemukan sosok si rambut perak yang mengenakan seragam Namimori kotor berlumuran darah di balik puing-puing reruntuhan bangunan.

"Kau tidak apa-apa Gokudera-kun?"

"Aku tidak apa-apa, bagaimana kau bisa datang kemari Juudaime?"

"Aku juga tidak tahu, tempat apa ini?"

"Ini—mimpi buruk, iblis itu senang membuat dunia yang seperti ini."

"Iblis itu?"

"Kalian membicarakanku?" Kami berdua menoleh ke belakang, di atas sebongkah puing bangunan besar, berdirilah Demon Spade yang menatap lurus ke arahku sambil tersenyum sinis. Bagai raja yang menguasai dunia, ia mengacungkan tongkatnya tinggi-tinggi sambil tertawa keras, menggema secara keseluruhan hingga menembus langit yang berwarna merah darah.

-Dia gila...

"Selamat datang di mimpi burukmu," ujar Spade sambil lompat dari atas puing dan berjalan di atas tubuh-tubuh tak bernyawa untuk menghampiri kami, "Bagaimana menurut kalian duniaku yang indah, kalian suka?"

"KAU SINTING SPADE!" Teriak Gokudera sambil maju melindungiku, "IBLIS MACAM APA KAU INI HAH?"

"Iblis? Hmmm...bahkan Iblis pun tunduk padaku..."

Seringai tajam, pandangan mata tiada belas kasihan, kata-kata dingin yang lancar seolah tak ada perasaan bersalah, itulah yang kurasakan saat memandanginya. Nafas Demon Spade begitu tenang dan stabil, tak ada perasaan tertekan, tak terganggu dengan pemandangan penuh mayat di sekelilingnya. Mungkin kalau dibandingkan dengan Spade, Mukuro jauh lebih baik dalam tanda kutip.

"Demon Spade—apa yang—telah kau lakukan?"

Untuk pertama kalinya, suaraku bergetar karena emosi yang beraduk dan bergulung. Takut? Ya, aku memang ketakutan, tapi aku juga marah, sedih, gundah, tak bisa mentolerir apapun yang ada di sini.

"Kau tanya apa yang telah kulakukan? Fufu—hahahahaha! BODOH! Kau tidak bisa melihat sekelilingmu hah?" Spade tetap tersenyum khas seorang psikopat, "Aku bermain-main dengan mereka," lanjutnya sambil menjilat bibir seolah-olah ia telah menyantap sesuatu yang lezat.

"MANUSIA ITU BUKAN MAINAN, BRENGSEK!"

"Gokudera-kun..."

Tatapan Demon Spade menajam, "Nufufu—perhatikan posisimu saat kau berteriak, bocah!"

Kemudian, aku tak sempat berkedip saat Demon Spade tiba-tiba berada di depanku sambil mencengkram leher Gokudera. Waktu terasa begitu lambat, detik-detik ketika tangan berlumuran dosa itu menghancurkan leher Gokudera dengan sekali remasan kuat terasa seperti berjam-jam dan nafasku kembali terhenti.

"Tidak..."

Tuhan—kenapa aku tidak terlahir buta saja? Melihat kegelapan yang tak kunjung usai rasanya lebih damai dibanding melihat pemandangan yang sama sekali tak ingin kusaksikan.

Tangan haus darah milik Demon Spade tak cukup puas hanya dengan memutuskan leher Gokudera, ia mengambil kepala tak bertubuh itu kemudian mencongkel mata hijau-abu nya—dengan sendok yang kujatuhkan saat makan bersama.

"Goku—dera—kun.. tidak..."

Aku bahkan tak sempat mendengar suara teriakan Gokudera. Secepat itu kah Spade merenggut nyawanya?

"Tsunayoshi..." Demon Spade beralih padaku sekarang, dengan kedua bola mata Gokudera di tangan kanannya yang masih berdarah-darah, "Kau mau satu? Ambillah!" Dia melempar satu bola mata, tapi tanganku tak refleks menangkap, membiarkan benda bulat itu terjatuh dengan gerakan lambat dan menggelinding ke sepatuku.

Aku hanya meredam suara saat melihat Spade memakan mata Gokudera seperti snack makan siang yang renyah.

"Gokudera-kun—" Air mataku yang mengalir untuk menangisinya terasa terbuang percuma, Gokudera sudah tak ada di sini, meski tubuhnya tergeletak di depanku dan kepalanya masih digenggam Spade, "Gokudera-kun..."

Spade melempar kepala Gokudera ke sembarang tempat, tragisnya kebetulan saja menancap di atas tonggak besi tajam hingga menembus ubun-ubunnya.

"Wah, wah Tsunayoshi—ada apa? Kau terlihat tidak senang?"

"Kurang ajar—"

"Aku tak bisa mendengar suaramu dengan jelas, Tsunayoshi.."

"KURANG AJAAARR!"

Emosi ku tak terkontrol, tubuhku maju tanpa perintah otak untuk menyerang Spade dengan tangan kosong. Bodoh sekali.

"Nah, itu baru semangat—"

"!"

"Tapi kau banyak celah—"

Pukulanku tak sampai, Spade sudah berhasil menghentikan gerakanku dengan tinjunya yang telak mengenai ulu hati. Aku pun jatuh tersungkur di sebelah tubuh Gokudera, terbatuk-batuk dan mengerang seadanya di atas tanah panas.

"Kau tahu, Mukuro pernah cerita padaku kalau rasa tubuhmu enak—"

Spade menjambak rambutku dengan kasar, sambil menghadapkan wajahku ke wajahnya yang putih pucat. Tahu apa yang dia lakukan selanjutnya? Dia menciumku, aku bisa merasakan lidah panjangnya bergulat tak seimbang dengan lidahku, dan terasa darah serta sisa kunyahan mata Gokudera di mulutnya. Kukira ini akan berangsur lama, tapi syukurlah ia langsung melepasnya.
"Ternyata memang nikmat—aku belum pernah merasakan yang seperti ini..."

Lagi-lagi kulihat pandangan mata yang dipenuhi nafsu birahi, mata kejam pengincar kepuasan dunia. Apa yang akan ia lakukan? Menjamahku seperti yang dilakukan Mukuro?

'ZLEEBB'

"Nah, sekarang bangun dulu—Tsunayoshi~"

Tonggak besi yang memajang kepala Gokudera sekarang menancap di perutku, rasa sakit yang luar biasa membuat mataku gelap—

Gelap—

Gelap—

.

.

.

Kuhembuskan nafas yang selanjutnya, dan aku sudah kembali ke dunia di mana seharusnya aku berada: Meja makan penuh hidangan, dengan semua mata bisu yang tertuju ke arahku.

"Uhuk..."

Sedetik kemudian aku terbatuk kecil dan darah segar mengalir di sudut bibirku. Sebelum Mukuro sempat menanyakan keadaan, tubuhku sudah tumbang dengan kesadaran yang masih utuh.

"Tsunayoshi-kun!"

"Sudah kubilang kan, mungkin dia tidak enak badan..."ujar Spade sambil bangkit dari kursinya, "Biar aku yang membawanya ke kamar, kau harus menemani yang lainnya selesai makan, Mukuro."

Jangan—kumohon! Jangan Demon Spade yang mengantarku...

"—Baiklah."

MUKURO!

"Aku akan segera kembali~"

Spade mengangkat tubuhku, bau parfumnya yang mencolok segera membiusku hingga aku tak memberikan perlawanan dalam bentuk apapun. Dia membawaku ke kamar terdekat dan meletakanku ke atas ranjang dengan hati-hati. Mataku yang setengah terbuka masih bisa menangkap sosoknya yang menghadap cermin.

Khayalan singkat tadi membuatku takut kepadanya...

"Itu bukan khayalan, Tsunayoshi..."

Eh?

"Kau ingat dengan ini?"

Spade menunjukkan benda mengkilat berlumuran darah segar. Itu adalah—sendok yang kujatuhkan dan yang dipakai Spade untuk mencukil mata Gokudera.

"Dari ekspresi wajahmu, sepertinya kau ingat hmmm?—" Spade naik ke atas ranjang, membuka pakaian rumit yang kukenakan satu-satu, menciumi wajah dan leherku, kemudian mencium bibirku dengan kasar. Rasa darah masih tersisa, rasa yang datang ke lidahku ini sama dengan rasa ciuman Spade dalam lamunanku. Tadi itu tidak diragukan lagi nyata!

Mukuro—MUKURO!

.

.

.

"Selamat datang di mimpi burukmu—Tsunayoshi."

.

.

.


Thanks for reading minna!

Next, I'll update my Il Mio Amore, but..review please? ^^