Tittle: Kataomoi
Disclaimer: Naruto dan High school DxD bukan punya saya
Genre: Superanatural, Romance, Comedy.
Pairing: Uzumaki Naruto x Rias Gremory(oke, mungkin bakal ada harem tapi mini harem aja.)
Rated: M
Summary: Uzumaki Naruto, seorang pemuda SMA yang kelewat baik hati harus bersedia menerima kenyataan dirinya mati karena hal itu. Namun, apakah itu akhir semuanya?
A/N: 3 chapter dan masih abu-abu? ya ini ceritanya hanya menggunakan pikiran seadanya dari aku hehehe. Tapi kuharap kalian menikmatinya.
Warning: Typo,Adult theme, Sexual theme, Violence, etc.
Chapter 3: Hidup
Disebuah gudang, terlihat dua orang berbeda gender sedang berada dalam posisi mereka masing-masing. Si gadis memilih untuk tetap merebahkan badannya di sebuah kasur kardus sederhana. Sedangkan pemuda disampingnya terus menatap wajahnya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Aku adalah separuh darimu." Gadis itu merasa kebingungan mendengarperkataan itu. Baginya itu semacam kalimat ambigu yang mengarah keberbagai konotasi. Akhirnya, gadis berambut merah itu memberanikan diri membuka suaranya.
"Apa maksudmu? Siapakah dirimu?" Dua pertanyaan sekaigus langsung terlontar dari bibir mungil itu. Rasa penasaran yang amat sangat membuatnya tak dapat lagi menahan hasrat untuk bertanya.
"Hmm,bagaimana ya?" pemuda itu menjadi bingung sendiri. Dirinya menemukan cara untuk menjawabnya tetapi tak dapat merangkai kata yang pas untuk menjelaskannya. Sungguh, dia merasa bingung sekarang. Pemuda pirang tersebut hanya terdiam sembari bergumam tak jelas seperti hendak memikirkan sesuatu.
"Biar aku yang menjelaskannya." Sebuah suara asing sukses mengalihkan perhatian mereka berdua. Mereka menoleh kedepan pintu gudang itu. Dari penglihatan mereka telah berdiri seorang pria setengah baya yang mengenakan sebuah jaket kulit berwarna merah marun. Rambut hitam berponi emas milik pria tersebut bergoyang perlahan ditiup angin malam. Dua belas pasang sayap kelam miliknya mengembang sempurna seolah membuat cahaya lindap tertelan olehnya.
"Azazel…" Pemuda itu memasang wajah bingung. Sementara itu, gadis disebelahnya lebih terkejut lagi. Sudah beberapa kali dalam hari ini dia melihat makhluk aneh. Secara otomatis tubuh gadis itu mendekat kearah pemuda pirang itu. Tangannya meremas kuat baju orang itu. Ketakutan. Ya, sebuah ketakutan tergambar diwajahnya. Sebuah trauma telah membekas diingatannya.
"Rias-senpai.." Pemuda memandang iba gadis itu. Dirinya melihat semuanya ketika berada ditubuh gadis itu. Semua kenangan buruk yang ada. Semua ingatan mengerikan akan masa lalu yang terus membayang-bayangi gadis berambut pirang tersebut.
Sementara itu, Azazel yang melihat hal itu hanya bisa memasang wajah sedikit bersimpati. Dia memahami semua perasaan, ego, serta kepribadian manusia. Dirinya sendiri menyimpan rasa iri pada manusia ketika masih menjadi malaikat. Dimana manusia bisa saling mencintai. Hal tersebut tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Manusia menganggap malaikat adalah mahluk suci yang memiliki kuasa Tuhan. Itu benar namun mereka tidak punya satu hal penting sebagaimana manusia miliki. Kebebasan.
Kebebasan. Ya, manusia bisa bebas mencintai secara posesif, membenci secara rahasia ataupun terang-terangan. Jangkauan kata cinta bagi manusia lebih luas dan beragam dibandingkan malaikat. Hal inilah yang membuat dirinya jatuh. Dirinya mencintai sebuah ambisi serta wanita tentunya. Bahkan mencintai manusia lebih menyenangkan dibanding makhluk lainnya.
"Naruto, tenangkanlah dia dahulu. Aku akan menunggu diluar. Jika dia sudah mau keluar akan kujelaskan semuanya." Azazel memilih berjalan keluar meninggalkan mereka berdua. Naruto hanya mengganguk pelan menuruti perkataan pria itu.
XXXXXXXXXXXXXXX
Akhirnya, setelah setengah jam menunggu, Azazel melihat kedua orang itu keluar dari gudang. Nampak gadis itu masih mencengkram erat pemuda pirang disampingnya. Ketakutan masih tergambar jelas dari lemahnya langkah gadis tersebut ketika berjalan mendekatinya.
"Uzumaki Naruto, Rias Gremory. Duduklah dahulu." Azazel menepuk sebuah bangku kecil dari kayu yang telah teronggk disana. Mereka berdua hanya menurut saja. Azazel kemudian lebih memilih duduk ditanah entah karena apa.
"…" kedua orang itu menatap Azazel dalam diam. Mereka tak tahu harus berkata apa. Akhirnya, malaikat Jatuh itu memilih membuka suaranya terlebih dahulu.
"Rias, tahukah kau kenapa Euclid mengincar dirimu tadi?" Azazel telah melihat semuanya dari kejauhan tadi bersama Naruto.
"Tidak…" Rias hanya menjawab dengan nada lirih. Dirinya kembali teringat wajah pria yang dianggapnya sebagai lelaki penuh cinta padanya. Tak terasa air mata kembali menetes diwajahnya. Naruto hanya bisa menghapus air mata itu dengan jarinya.
Azazel hanya menghela nafas secara berat. Dia lalu melanjutkan penjelasannya. "Rias, didalam tubuhmu terkandung sebuah kekuatan rahasia. Kekuatan ini belum bisa kuprediksi secara pasti. Namun, aku menduga kalau kekuatan itu merupakan semacam firman Tuhan yang lebih kuat dibandingkan Sacred Gear."Pria itu memasang wajah penasarannya. Kemudian dia menoleh pada Naruto.
"Naruto. Kau tentunya ingat bahwa aku pernah mengandaikan pertempuran antara ketiga fraksi sebagai sebuah turnamen? Dan pernahkah kau berpikir mengenai apa hadiahnya?" Hal ini membuat pemuda pirang itu berpikir sejenak. Dia mencoba mencampurkan nalarnya kedalam hal ini.
"Dominasi?" Sebuah jawaban dengan keraguan dicoba untuk menjawab tanya itu.
Azazel hanya tersenyum mendengarnya. "Hahaha, kau terlalu sederhana dalam berpikir. Akan kuberitahukan padamu mengenai hadiahnya. Hadiahnya tidak ada! Mereka hanya mencoba saling menghancurkan sampai sehabis mungkin. " Pria itu memasang senyum getir diwajahnya. Dia kelihatan kurang bersemangat mengenai hal tersebut.
Naruto menaikkan alisnya ketika mendengar itu. "Lalu, kenapa mereka terus bertarung?" adalah hal bodoh baginya jika kau bertarung untuk sesuatu yang tidak ada seperti itu.
"Ah, kau tidak tahu saja. Memangnya dunia ini hanya berisi Tuhan, Malaikat, Malaikat jatuh, dan iiblis aja? Masih ada para dewa serta para manusia super. Mereka saling mengadu domba semua pihak agar saling bunuh. Mereka ingin eksistensi kaumnya berambisi menggantikan Tuhan." Azazel mengepalkan tangannya secara kuat. Kelihatannya sebuah kekesalan tergambar jelas diwajahnya.
Naruto hanya terhenyak mendengarnya. Rias memilih untuk diam karena tidak mengerti permasalahan yang ada.
"Lalu, apa hubungannya denganku? Dan apakah kaummu akan terus bertarung sampai habis?" Naruto mencoba menanyakan hal tersebut secara langsung. Dirinya bertambah bingung sekarang.
"Kaumku? Ah, mereka bertindak sesuka hati mereka. Aku berkeinginan mendisiplinkan mereka suatu saat nanti." Nampaknya Azazel tak punya niat melaksanakannya. "Ah, kembali lagi kemasalah awal. Rias, aku tahu bahwa hal ini terlalu mendadak bagimu. Namun, maukah kau membantuku?" Pria ini menoleh kearah gadis yang masih terdiam itu.
"Membantu?"Gadis itu nampak kebingungan mendengarnya. Dirinya hanya gadis remaja yang ingin hidup normal. Itu saja.
"Ya, mulai sekarang jadilah seorang petarung. Turnamen yang kumaksud tadi sebenarnya ada. Maaf tadi membuat kalian pusing karena penjelasanku. Kau harus menghentikan semua pihak disana untuk menang. Tidak ada yang boleh memenangkan pertandingan itu." Azazel memasang wajah seriusnya kali ini.
"Apa maksudmu?" Rias bertambah bingung. Penjelasan berbelit-belit pria dihadapannya ini bagaikan sebuah kisah fantasi yang dibuat lebih kompleks.
"Begini maksudku. Kau sudah kuselamatkan tadi dengan bantuan Naruto. Sekarang saatnya kau membalas budimu padaku. Aku hanya minta kau menyingkirkan semua lawan disana. Turnamen ini tidak terjadi disebuah arena melainkan disekitarmu. Dan tato itu adalah lambang keikutsertaan kalian dari fraksi malaikat jatuh." Azazel membuat keduanya terkejut bukan main. Ini curang! Dia menolong orang dengan meminta balasan lebih tinggi.
"T-tunggu dulu! Aku tidak tahu caranya bertarung dan aku bukan pembunuh!" Rias nampaknya mulai emosi. Dirinya tidak terima dengan keputusan sepihak dari Azazel. Ini tidak adil baginya.
Azazel hanya tersenyum pelan mendengarnya. "Rias, kau punya teman-teman bukan? Ataupun orang yang kau anggap berharga? Kau harus membayangkan bila sesuatu terjadi ketika pertandingan itu dimenangkan pihak lainnya. Aku bilang hadiah itu tidak ada karena selama turnamen tersebut diselenggarakan, belum pernah aku melihat hadiah itu." Pria itu tak mau peduli tanggapan lawan bicaranya. Dia terus berbicara layaknya tape rusak.
"Maaf, tapi aku tidak siap untuk ini." Rias melepas genggamannya dari Naruto. Perlahan dia beranjak dari tempat itu tanpa menoleh kepada mereka berdua.
Naruto yang melihat hal itu lalu menghampiri Azazel."Oi, bagaimana sekarang? Apakah aku akan mati lagi?" Pemuda itu menjadi bimbang melihat reaksi gadis itu.
Mendengar itu, Azazel hanya tertawa lepas. "Ha, ha, ha. Biarkan saja dia sendirian sekarang. Aku tahu dirinya masih terguncang karena hal tadi. Sebaiknya kau pulang kerumah saja." Pria tersebut beranjak pergi juga meninggalkan tempat itu.
"O-oi, apa maksudmu? Aku kan sudah mati. Bagaimana mungkin mereka tidak terkejut melihat aku sekarang?" Naruto menjadi bingung sendiri mendengar perkataan Azazel.
"Tenang saja, aku sudah mengatur semuanya untukmu. Lain kali kita bertemu lagi. Oh, ya. Tolong awasi gadis itu. Dia mungkin berada dalam bahaya lagi tak lama setelah ini." Azazel kemudian menghilang dari sebuah lingkaran bercahaya.
"Apa maksudnya ini? Ah, sudahlah. Aku pulang saja." Naruto memilih menuruti perkataan Azazel dan pulang kerumahnya dengan bus.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Kriet!
Seorang pemuda berambut pirang secara diam-diam membuka pintu belakang sebuah rumah. Dia berjalan seperti seorang ninja untuk memasuki rumah itu dengan berjinjit pelan. Nampaknya tekni ini berhasil. Nampaknya….
Klak!
Lampu rumah itu menyala secara tiba-tiba. Sementara itu, pemuda tersebut merasakan aura pembunuh dia menoleh kebelakang dan mendapati seorang wanita berambut merah sepunggung tengah menatap marah dirinya.
"Naruto…..kenapa kau pulang selarut ini?..." Tanya bercampur aura pembunuh itu membuat pemuda itu segera bersujud layaknya budak. Sementara itu, nampak seorang pria dibelakang wanita tersebut. Namun, dia memilih bungkam.
"Kau…" Wanita itu kemudian mencengkram baju pemuda malang itu dengan tenaga diluar akal sehat. Sementara pria dibelakangnya hanya bisa menelan ludah karena melihat pemandangan horor tersebut.
"Dasar anak bodoh!" Wanita itu memeluk anaknya dengan erat. Tak terasa air mata mengalir dari mata wanita itu. "Kau tidak pernah pulang selarut ini. Kusangka ada apa-apa denganmu. Ayahmu sampai keliling kota mencarimu tadi." Naruto hanya memasang wajah lega mengetahui ibunya tak marah. Ayahnya hanya tersenyum melihat itu. 'Dasar Tsundere.' Begitu isi pikiran pria dua anak ini.
"Gomen, Kaa-san. Tadi aku ada urusan mendadak. Tapi sekarang tidak lagi kok." Dia mencoba menenangkan ibunya itu. Tentu dia harus berbohong karena tidak mungkin dia bilang kalau dirinya habis menjadi semacam benda gaib. Dirinya melirik tatonya yang menghilang secara ajaib.
'Ah, untung Azazel bertindak banyak tadi. Jadi aku masih dianggap hidup oleh mereka.' Naruto kemudian melepas pelukan ibunya yang mulai membuat lehernya sesak.
"Hahaha, sudahlah Kushina. Yang penting dia sudah pulang sekarang. Naruto, sebaiknya kau makan malam dulu. Kulihat kau pasti lapar." Pria pirang itu kemudian merangkul mereka kedua sembari menuntun mereka ketempat makan.
"Ah, Sara?" Naruto menoleh pada sang ayah. Dirinya mengingat adiknya yang masih SMP itu.
"Sara? Dia kan sedang study tour. Kau lupa ya?" Ayahnya berbalik bertanya pada Naruto dengan memasang wajah bingung.
"Oh, iya. Aku lupa hahaha." Naruto terpaksa mengikuti alur yang ada. 'Hmm, Azazel rupanya melakukan perubahan lagi.' Pemuda itu mengantisipasi perubahan kecil disekitarnya sekarang. Sementara itu, sang ayah mengacak rambutnya sambil tersenyum. "Dasar kau ini."
'Ah, aku bersyukur aku masih hidup sekarang.' Naruto mengucapkan terima kasih pada Azazel. Meskipun dia sekarang menjadi sebuah Sacred Gear.
XXXXXXXXXXXXXXXX
Brukh!
Naruto merebahkan badannya diatas ranjang miliknya. Dilihatnya tas serta laptopnya kini sudah berada dimeja belajarnya dengan rapi tanpa lecet sedikitpun. 'Pasti ulah Azazel lagi.' Begitulah isi pikirannya sekarang.
Dirinya mencoba memejamkan matanya. Perlahan berbagai isi pikirannya kini mulai menguar. Hidupnya tak akan sama lagi seperti dulu. Dia kini menggantungkan hidupnya pada Rias. Kini pusat kehidupannya adalah Rias. Jika Rias mati maka dia juga akan kembali mati.
"Sedang banyak pikiran?" Sebuah suara lembut membuat Naruto membuka matanya dan menoleh kearah suara itu.
"Ah, ternyata ini orang pilihan Azazel-sama? Kuharap kau tidak mengecewakannya." Seorang gadis berambut hitam panjang sedang berdiri dijendela Naruto yang terbuka secara otomatis. Rambut gadis tersebut bergerak lembut mengikuti arah tiupan angin malam. Mata violetnya juga nampak indah. Hanya saja, kedua sayap hitamnya menampakkan kesan seram tapi indah.
"Siapa kau?" Naruto memasang sikap waspada namun memilih tidak bertindak banyak. Lagipula dia merasa orang didepannya bukan musuh. Jika musuh maka pasti dia akan menyerangnya dari tadi.
"Ah, kau begitu pencuriga. Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Raynare. Aku adalah pelayan Azazel-sama." Gadis itu mendarat didalam kamar Naruto sembari menutup kedua sayapnya. Naruto hanya sedikit merasa risih melihat pakaian ketat gadis tersebut.
"Hmm, jadi kau pelayan Azazel. Kalau aku boleh tahu. Apa tujuanmu kemari?" Naruto nampaknya penasaran mengenai hal tersebut. Dirinya tak pernah mendengar Azazel pernah mengutus pengawal untuknya.
Raynare hanya tersenyum melihat wajah penuh Curiga Naruto. Dirinya menyadari bahwa pemuda dihadapannya itu mempunyai sifat paranoid.
"Hmm, kau mungkin mencurigaiku karena Azazel-sama tak pernah memberitahukannya. Namun, kau memerlukan aku. Setidaknya kau harus memikirkan keadaanmu sekarang sebagai sebuah Sacred Gear buatan yang sebenarnya merupakan hasil percobaan. Azazel-sama mengutusku sebagai perawatmu." Raynare lalu menghampiri Naruto dan memojokkannya kedinding kamar itu.
"Kau tahu, rohmu masih menyesuaikan diri dengan Shusui?" Raynare menyibak baju Naruto dan mengelus pelan pusar pemuda itu dengan jari lentiknya.
"B-begitukah? kalau begitu mohon bantuannya." Naruto yang terkejut langsung menghindar kesamping dan menutup bajunya. 'G-gadis ini berbahaya!' Pemuda pirang itu merasakan bahaya dalam konotasi lain berasal dari gadis itu.
Raynare yang melihat reaksi Naruto hanya terkikik pelan. "Baiklah, aku akan selalu berada didekatmu mulai sekarang." Gadis itu lalu melompat mundur kebelakang jendela dan terbang pergi.
'Selalu? Apa maksudnya tadi?' Naruto hanya kebingungan karena itu. Dirinya lalu memilih kembali ketempat tidur saja. Terlalu banyak hal mengejutkan hari ini.
XXXXXXXXXXXXXXX
Keesokan paginya, Naruto yang masih berada dialam mimpi dibangunkan oleh teriakan keras ibunya. Namun, kali ini wajah ibunya hanya memasang senyum bahagia. Pemuda pirang itu menjadi bingung.
Kemudian, Naruto memilih berjalan menuju dapurnya yang bergabung dengan ruangan keluarga. "!" dirinya begitu terkejut melihat sesosok gadis yang dia baru kenal dalam hitungan jam.
"R-Raynare?!" Naruto menunjuk tak percaya kearah gadis yang masih mengenakan pakaian sekolah sekolahnya itu. Tunggu dulu. Pakaian sekolah yang sama dengannya? Apa maksudnya semua itu?
"Ohayou, Naruto-kun." gadis itu membalas dengan sebuah senyuman manis, namun, dimata pemuda pirang tersebut, senyuman itu lebih seperti senyuma psikopat.
"O-ohayou." Dia tak tahu harus membalas seperti apalagi. Ini terlalu mengejutkan baginya. Dalam satu hari saja kehidupannya telah berubah total. Mulai dari menghadapi kematian sampai ada seorang gadis beraura psikopat dihadapannya.
"Naruto! Ayah tidak tahu kau punya teman secantik ini! Biasanya kau membawa laki-laki terus sampai ayahmu ini khawatir kau sudah menjadi serong." Sang ayah tampak tak membawa hal baik dalam hal ini. Ayahnya lebih seperti seorang yang terlalu banyak berimajinasi ketika dirinya mengurung diri dikamar bersama para temannya. Hey, mereka cuma remaja yang perlu privasi.
"Ano, ojou-san siapa namanya? Kudengar tadi namamu R-ray-….?" Pria itu tak bisa mengeja nama tersebut. Tipikal lidah orang jepang.
"Bukan, namaku adalah Amano Yuma. Itu panggilan Naruto padaku." Raynare memberikan jawaban yang menambah pusing kepala Naruto.
Grep!
Kushina sang ibu dengan cepat menarik lengan baju anaknya itu. "Naruto! Siapa dia? Apakah dia pacarmu?" Wanita itu mulai bertingkah layaknya orang seusianya. Usia dimana para wanita mengalami semacam puber kedua. Dimana khayalan cinta monyet mereka kembali aktif.
"B-bukan! Dia hanya teman sekolahku." Naruto mencoba berbohong. Namun, Kushina memberikan tatapan tak percaya.
"Oh, teman ya." Kushina menyetujui jawaban Naruto dengan nada menyebalkan layaknya orang mengejek. Anaknya hanya bisa menatap malas sang ibu kalau sudah begini jadinya.
"Kaa-san, aku mau sikat gigi dulu." Naruto memilih meninggalkan sang ibu karena malu melihat ibunya mulai lebay karena melihat anak gadis datang menemui dirinya pagi hari.
Sementara itu, Kushina lebih memilih mendekati Raynare dan mengajaknya bicara berbagai hal. Ayahnya sendiri memilih ikut dalam pembicaraan itu saja. Gadis tersebut tersenyum lembut sembari menjawab semua tanya yang diajukan wanita tersebut.
Setelah beberapa menit berlalu, Naruto keluar dari kamar mandi mengenakan pakaian sekolahnya. Tampaknya dia sekalian mencuci badannya didalam sana. Dirinya lalu naik kekamarnya sebentar mengambil tas sekolahnya kemudian turun kembali sembari menuju meja makan. Namun, dirinya hari ini lebih terburu-buru dari biasanya. Dia hanya mengambil sebuah roti panggang dan menyeret Raynare pergi bersamanya.
Kushina yang melihat itu hanya tersenyum melihat itu. "Minato, anak kita sudah besar ya." Wanita itu memeluk suaminya sembari melihat anaknya menarik gadis itu keluar.
"ya, kau benar." Minato ikut tersenyum bahagia. "Kuharap Sara menyukai Nee-san satu itu." Ayah satu ini memikirkan hal yang terlalu dini nampaknya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
"Raynare, jadi ini maksudmu semalam?" Naruto kini berjalan bersama gadis itu. Matanya menatap sebal pada gadis tersebut. Dia merasa seperti diuntit.
Raynare hanya mengangguk pelan. "Ya, seperti inilah kiranya. Aku telah diberikan kepercayaan dari Azazel-sama untuk mengawasimu dan menjagamu. Apakah kau menginginkan hal lebih?" gadis itu mengubah nadanya menjadi lebih menggoda.
"Tidak!" Naruto hanya menggeleng singkat sembari menggoyangkan kedua tangannya. Pagi harinya sudah dirusak dengan nada sensual itu. Sementara itu, Raynare hanya tersenyum melihatnya. 'Dasar perjaka.' Begitulah kiranya isi hati malaikat jatuh satu ini.
Tep!
Langkah Naruto berhenti begitu melihat sesosok gadis yang dia sering lihat. Siapa lagi kalau bukan Rias Gremory. Naruto berniat menyapanya namun dia ragu karena mengingat reaksi gadis itu semalam.
"Oh, jadi dia pemilikmu ya? Ternyata seleramu suka yang besar-besar ya." Raynare mengeluarkan sebuah celetukan yang membuat wajah Naruto memerah.
"Urusai! Bukan begitu maksudnya!" Teriakan Naruto membuat Rias menyadari kehadiran mereka. Namun, gadis itu memilih membuang muka dan pergi meninggalkan kedua orang itu.
"Ah, ini gara-gara kau!" Naruto menunjuk kesal Raynare. Sementara itu, gadis tersebut hanya terkikik pelan. Akhirnya mereka berdua berjalan menuju sekolah lagi.
XXXXXXXXXXXXXX
Akhirnya, mereka berdua tiba disekolah. Mata para penghuni sekolah menatap tak percaya pada apa yang mereka lihat. Naruto berjalan bersama seorang gadis cantik!
"O-oi, Issei. N-Naruto sepertinya sudah punya pacar tuh. Dan kelihatannya dia murid pindahan dari sekolah lain." Seorang pemuda berkacamata menepuk pundak sahabatnya yang sedang asik membaca komik hentai.
"Apa?!" pemuda itu melempar komiknya secara refleks kesembarang arah. Dirinya kemudian melihat dari kaca kelasnya yang berada dilantai dua. "Ini tak adil." Begitulah desisan pemuda tersebut.
"Kenapa pemuda maniak foto seperti dia punya pacar lebih dulu dariku!" Issei berteriak layaknya orang gila melihat kenyataan yang dianggapnya kejam itu.
"Motohama, ayo kita hampiri Naruto." Issei mencoba memanggil salah seorang sahabatnya. Namun, tak ada respon sama sekali. "Motohama? Matsuda?" Dia lalu menoleh kebelakang karena tidak ada respon dari siapapun.
Glek!
Jakun Issei sekarang naik turun karena ketakutan. Bagaimana tidak? Didepannya berdiri seorang gadis berambut sebahu dengan kacamatanya. Tatapan tajam diarahkan pada pemuda itu. Ditangan gadis tersebut telah tergenggam sebuah komik bergambar 'wow'.
"Hyodou Issei, bisa ikut denganku sebentar kekantor guru?" Gadis itu memasang tatapan intimidatifnya yang membuat ciut nyali setiap orang. Issei hanya mengganguk ketakutan karena tatapan itu. Akhirnya dia digelandang kekantor guru bersama benda nistanya.
XXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tak lama setelah itu, bel tanda masuk kembali berbunyi. Naruto kini memilih menyiapkan buku pelajarannya. Kemudian, masuklah seorang guru sembari membawa seorang gadis berambut hitam yang tak lain adalah Raynare. 'Ah, perkenalan klasik lagi.' Begitulah isi pikiran pemuda pirang ini. Dirinya lebih memilih melanjutkan bacaan bukunya ketimbang melihat acara perkenalan membosankan itu.
"Minna-san, hari ini kita kedatangan teman baru. Silahkan perkenalkan dirimu." Sang guru seperti biasa melakukan acara perkenalan diri secara normal seperti biasanya.
"Ha'I, sensei." Gadis itu membungkuk tanda berterima kasih. Sementara itu, para kaum ada dikelas tersebut minus Naruto telah menatap gadis tersebut secara intens karena pesona kecantikkan yang dipancarkannya.
"Ohayou Minna-san, Nama saya Amano Yuma. Saya pindahan dari Tokyo. Mulai hari ini saya mohon bantuan dari kalian semua." Yuma atau yang nama aslinya Raynare itu menunduk sesaat secara sopan. Tak lama setelah itu dia mengangkat kepalanya sembari menyebarkan senyum lembutnya.
'Kawaii~' begitulah isi kepala setiap pemuda dikelas tersebut. sementara itu, Naruto hanya menatap ngeri pada gadis tersebut. 'O-oi, kalian tertipu pada tampilannya tahu!' tentu dia tak mau mengatakannya. Dia merasa bahwa gadis itu bakal melakukan sesuatu padanya jika ia macam-macam.
"Ah~" Dirinya lalu memilih melihat kearah jendela. Disana dilihatnya seorang gadis berambut merah sedang berlari dengan lesu. 'Ah, aku harap aku punya waktu berbicara dengan Rias-senpai.' Dia merasa bersalah karena telah menyeret Rias kedalam masalah ini.
Srukh!
Naruro menyadarisesuatu. Kursi dibelakangnya menoleh dan melihat Raynare duduk dibelakangnya.
"Mohon bantuannya ya, Naruto-kun." Dia memasang senyum lembutnya yang sukses membuat Naruto berkeringat dingin.
Sementara itu, para siswa menatap tajam Naruto. "Oi,dengar itu? Dia memanggil Naruto dengan sebutan 'kun'. mungkinkah mereka punya hubungan spesial?" salah satu murid membisiki teman lainnya karena mendengar ucapan Raynare tadi. Untung saja Issei masih dikantor guru akibat komik nistanya itu.
Naruto hanya menatap malas pada mereka semua. 'O-oi, kalian terlalu berlebihan.' Sungguh dirinya tak habis pikir menddengar fantasi anak SMA para temannya itu. Hey, masa kalau seorang gadis cantik memanggilnya secara akrab kau langsung mencapnya memiliki hubungan spesial?
Akhirnya,pelajaran kembali berlanjut. Meninggalkan Naruto yang masih menatap sendu pada sosok Rias diluar sana.
XXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tak terasa bel istirahat akhirnya berbunyi. Naruto memilih menuju atap sekolah kali ini untuk menghindari keramaian kelas yang terjadi karena kedatangan Raynare.
Tap Tap Tap
Secara perlahan dia melangkah keatas atap sekolah. Namun, dia tak menyadari bahwa Rias juga berada disana. Dirinya tetap berjalan lurus sampai kepagar pembatas. Mata biru langitnya menatap bosan semuanya. Dia merasa hampa.
Namun, dia merasakan bahwa ada orang lain disekitarnya. Dia lalu menoleh kesamping dan melihat Rias kini berdiri tak jauh darinya. "Rias-senpai?" mulutnya secara otomatis memanggil gadis tersebut. membuat sang gadis menoleh padanya.
"Naruto?" Itulah nama yang dia ingat dari percakapan singkat digudang kemarin. Dirinya lalu berniat pergi meninggalkan tempat itu.
Grep!
Tangan Naruto menggengam pergelangan tangan Rias. "Dengarkan aku dulu. Kumohon." Pemuda pirang itu menatap mata gadis dihadapannya dengan wajah serius. Hal ini membuat gadis berambut merah ini mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Baiklah, aku akan mendengarkan penjelasanmu." Rias memasang wajah tak enak hati karena hal ini. Dia masih tak terima pada semua kenyataan yang terjadi kemarin. Hari inipun dia memaksakan dirinya untuk masuk sekolah. Untung saja Euclid dan dirinya tinggal berbeda rumah.
Sruk!
Naruto melakukan sebuah pose bersujud dihadapan Rias."maaf, maafkan aku. Karena keegoisanku untuk membuatmu tetap hidup kau jadi terbawa semua masalah ini. Aku tahu kau tidak akan memaafkanku. Aku yang membunuh pria itu. Aku tidak tahan melihatnya menyiksamu seperti kemarin." Pemuda pirang ini menurunkan semua harga dirinya dan memilih minta maaf.
"Naruto…." Rias menatap Naruto dengan pandangan yang sulit diartikan. Dirinya harus mengakui bahwa dirinya masih membenci Naruto yang membunuh Euclid. Namun, dia juga menyelamatkan dirinya. Dan Rias pula yang meminta agar tetap hidup. Pemuda tersebut hanya menjawab pintanya.
"Aku tahu ini percuma. Namun , aku akan tetap menjagamu karena aku telah menyeretmu kedalam masalah ini." Naruto terus berbicara tanpa memperdulikan lawan bicaranya. Dia merasa menyesal sekarang.
Perlahan, Rias mengangkat wajah Naruto, matanya menatap dalam-dalam pemuda tersebut. "Naruto, kau tidak bersalah. Ini adalah keegoisanku karena menginginkan kehidupan. Ini semua salahku." Gadis itu berkata demikian namun wajahnya jelas menampakkan sedikit rasa sedih pada pemuda dihadapannya itu.
"Rias-senpai." Naruto hanya diam menatap Rias. Dia tidak bisa berkata apapun sekarang. Ini bukan hal yang dia mau. Rias tidaklah egois. Adalah hal normal baginya untuk dirinya.
"!" Naruto mendapatkan semacam pencerahan. 'begitupula dirinya….' Ah, akhirnya dia menyadari sesuatu. Dia sadar bahwa yang egois adalah mereka berdua ingin hidup. Mereka takada bedanya satu sama lain.
"!" Naruto merasakan sensasi aneh. Sebuah sensasi bahaya menuju mereka berdua.
Wush!
Sebuah pedang beraura hitam menuju kearahnya. Rias tentu saja tidak menyadarinya. Namun, Naruto tentu sadar. Dengan cepat dia mendorong Rias dan melihat pedang tersebut mengarah padanya.
Jrash!
'Ada apa ini?' Rias perlahan membuka matanya dan melihat Naruto tertusuk pedang diperutnya. Pedang tersebut nampak mengeluarkan aura gelap. Perlahan Naruto memuntahkan darah dari mulutnya.
"Rias….senpai…" Naruto menatap nanar pada Rias. Sementara itu, tak jauh dari sana berdirilah seorang pria berambut pirang dengan wajah lembut namun pemuda yang tertusuk itu sadar bahwa orang ini berbahaya.
"Rias…senpai…..larilah…" Suara Naruto tak kuat karena menahan sakit. Sementara itu, langit diatas mereka berubah menjadi gelap dan berwarna kemerahan.
Pemuda piran berbahaya itu lalu mengepakkan sayapnya. "Wah, wah, wah. Tampaknya fraksi malaikat jatuh akan kehilangan peserta mereka kali ini." Pemuda tersebut membiarkan pedangnya menancap pada Naruto.
Sementara itu, Rias yang melihat kondisi Naruto bergetar ketakutan. " N-Naruto, kenapa kau menolongku?" Gadis ini kebingungan melihat aksi Naruto.
"Ukh! Tentu…saja….aku…menolongmu….karena…kau…adalah….tanggung….jawabku….." Naruto semakin mencapai batas kesadarannya. Meskipun dia Sacred Gear, namun tubuhnya tetaplah tubuh manusia.
Rias hanya terdiam mendengarnya. 'Tidak! Aku tidak ingin ini terjadi lagi! Semuanya tak boleh hilang lagi!' Gadis itu mengepalkan tangannya sembari melihat Naruto yang semakin kepayahan.
"NARUTO! Tetaplah hidup!" Sebuah tato dipergelangan tangannya kembali muncul. Seketika tubuh Naruto bersinar dan membuat pedang yang menancap tersebut terjatuh ketanah karena targetnya sirna.
Sring!
Kini tangan kanan Rias menggengam sebuah katana hitam bergaris merah pada tengahnya. Iris gadis itu berubah menjadi kuning. Tatapannya menjadi lebih garang dari sebelumnya.
Sementara itu, musuh mereka menatap Rias dengan tatapan tertarik. "Wah, Sacred Gear berbentuk manusia? Ini menarik. Suatu kehormatan bagi Diodora Astaroth ini untuk mencicipinya." Pemuda tersebut menembakkan blok-blok sihir kearah gadis tersebut.
Trank! Trank! Trank!
Gadis tersebut berhasil menangkis semua blok tersebut. Dirinya lalu melancarkan sebuah tusukkan frontal kearah Diodora.
Trank!
Diodora dengan gesit mengelak. Tangannya kemudianmembentuk sebuah pedang iblis berwarna putih dan mencoba menebas Rias.
Trank!
Rias berhasil menangkis serangan tersebut. Namun dirinya terpental lumayan jauh dan menabrak pagar pembatas.
Sementara itu, ditubuh Rias kini sedang terjadi pembicaraan serius antara dirinya dan Naruto.
[Mindscape]
"Naruto,bagaimana cara mengalahkan orang ini? Dia lebih kuat dibandingkan Euclid. Kemampuan bertarungmu juga tidak mengalir maksimal tadi." Rias kini sedang berada disemacam ruangan putih. Tubuhnya telanjang namun diselimuti cahaya. Begitupun dengan Naruto.
Naruto yang mendengarnya menjadi bingung. "Ah, Azazel juga lupa memberitahuku. Bagaimana ini?" pemuda pirang ini juga bertambah bingung.
'Gunakan Balance Breaker milik Shusui!' Sebuah suara membuat mereka berdua tersadar.
"Siapa itu?" Naruto menoleh terkejut karena suara aneh itu.
'Ini aku,Raynare. Seluruh kelas tertidur tadi karena pertarungan aktif secara tiba-tiba. Cepat lakukan saja Balance Breaker itu!' Suara tersebut layaknya telepati pada mereka karena hanya bergema disana saja.
"Bagaimana melakukannya?!" Naruto berteriak kebingungan.
'Suruh Rias bilang Balance Breaker. Itu cukup!'Raynare berteriak karena sedikit kesal terhadap sikap bolot Naruto.
Rias yang paham lalu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Raynare. "Balance Breaker!"
Sringgg!
Sebuah cahaya menyinari tempat itu secara hebat. Hal ini membuat Rias dan Naruto menutup mata mereka.
[End Mindscape]
Diodora yang melihat cahaya terang muncul dari badan Rias menutup matanya. "A-apa?! Cahaya suci?!" pemuda itu merasa kepanasan saat diterpah cahaya tersebut. rasa panas yang lebih kearah membakar.
Jrash!
Sebuah tudukkan menghantam perut Diodora. Dengan susah payah dirinya melepaskan diri dari tusukkan tersebut. Kemudian secara perlahan dia melihat seperti apa lawannya itu.
"Namamu Diodora? Kalau begitu salam kenal. Namun kali ini aku, Uzumaki Naruto akan menghabisimu." Seorang pemuda berpakaian perang berwarna putih sedang menatap Diodora secara datar layaknya melihat sesuatu yang tak penting.
Wush!
Naruto melesat kencang sembari mencoba menusuk tubuh Diodora menggunakan sebuah pedang besar.
Trank! Bruakh!
Diodora terpental jauh karena menahan serangan tersebut dengan pedangnya. "Ukh!" Pemuda tersebut mencoba berdiri kembali. Namun tubuhnya merasa berat akibat serangan itu. 'Sial! Dia memakai pedang suci!' Orang itu menyumpahi lawannya yang menggunakan kelemahan kaumnya itu.
Diodora lalu mengambil sebuah bola dan dilemparkannya. Buum! Bola tersebut mengeluarkan semacam kabut dan pemuda itupun menghilang.
Naruto yang melihat mangsanya kabur kemudian merasakan tenaganya merosot amat jauh. Perlahan tubuhnya keluar dari tubuh Rias. Gadis tersebut dengan sigap menangkap pemuda itu.
"Dasar egois." Rias hanya tersenyum menatap Naruto yang tertidur pulas.
XXXXXXXXXXXXXXXXX
Dilain tempat, Azazel sedang duduk bersama seseorang dengan tubuh kekar serta brewokan. Mereka berdua menatap layar dimana Rias dan Naruto muncul disana. Kelihatannya yang bertubuh kekar menatap serius layar tersebut.
"Baraqiel, apakah menurutmu Sacred Gear buatanku kali ini bagus?" Azazel menoleh pada pria kekar itu. Tangannya tetap konsentrasi memegang wine kesukaannya.
"Hmm, ini menarik namun masih perlu pengembangan dan penyetelan. Apakah kau mengirim anak buahmu untuk menjaga bocah bernama Naruto itu?" Baraqiel memasang wajah seriusnya.
"Tentu saja. Aku tidak mau karya berhargaku rusak. Lagipula mana ada yang pernah berpikir menggabungkan setiap fragmen pedang suci, jiwa manusia, tubuh manusia, serta pedang kosong menjadi sebuah Sacred Gear hidup hah? Aku mengakui tadi aku terkejut melihat pedang iblis mampu melakukan penetrasi lumayan parah pada tubuh manusia Naruto. Ini harus kuteliti lagi." Azazel kemudian memilih menghabiskan Winenya dalam sekali teguk.
"Ya, kuharap kau benar. Ini ciptaanmu yang paling unik. Balance Breaker dimana Sacred Gear menggantikan sang pemakai untuk bertarung. Kuharap masih banyak perkembanga lain yang tercipta." Baraqiel meninggalkan tempat itu dengan langkah gagahnya.
"Ya, itu pasti."Azazel hanya tersenyum senang pada karyanya kali ini.
TBC
Oke, Disini mungkin akan semakin membuat cerita jelas. Kalau alurnya pelan banget (itupun kalau pelan) gomen. Soalnya author santai aja buat yang satu ini. Karena Side-Project.
Oke, sekian dulu chapter tiganya, seperti biasa. Silahkan berikan koreksi, saran, ataupun ide bagi fic ini. Terima kasih buat yang mau Review, fav, ataupun follow fic ini. Review kalian merupakan sumber inspirasi dan pembangkit semangat bagi author untuk melanjutkan cerita. Mind to review?. Sekian dan terima kasih ^_^.
