Pagi ini matahari bersinar cerah, sinarnya menembus seluruh jendela istana. Perlahan-lahan Zoe membuka matanya kemudian duduk di atas tempat tidurnya yang empuk. Ia masih sangat mengantuk karena semalam ia tidak bisa tidur. Ia terus saja teringat kejadian di pinggir sungai itu.
Apa yang sudah terjadi kemarin? pikirnya sambil memegang bagian belakang kepalanya.
Seorang pelayan membuka pintu kamarnya, "Tuan Putri, anda sudah bangun?" tanyanya.
Zoe mendongakkan kepalanya dan menjawab "Ya, baru saja."
"Kalau begitu, silahkan mandi dulu. Saya sudah mempersiapkan air hangatnya," kata sang pelayan sambil tersenyum.
Zoe segera bangun dari tempat tidurnya dan berjalan sambil mengantuk. "Hoaammm..."
Setelah selesai mandi, Zoe berjalan menuju ruang makan untuk makan bersama ayahnya. Ruangan itu berada di sisi barat istana, menghadap langsung ke sebuah sungai dan hutan kecil yang indah. Ketika Zoe datang, sang raja sudah duduk di kursinya. Kemudian, salah seorang pelayan langsung mempersiapkan kursi untuk Zoe dan Zoe pun duduk di situ.
Mereka duduk berhadapan di sebuah meja berbentuk persegi panjang yang dilapisi oleh emas. Kursinya pun sangat empuk sehingga sangat nyaman untuk diduduki. Beberapa saat kemudian, dua orang pelayan masuk sambil membawakan makanan dan minuman. Mereka meletakkannya di depan raja dan Putri Zoe.
"Terimakasih," kata Zoe. Pelayan yang membawakan makanan untuknya itu membalasnya dengan senyum lalu pergi dari ruangan tersebut. Raja langsung memegang sendok dan garpunya, lalu mulai makan. Suasana dalam ruangan itu hening. Baik raja maupun Zoe, tidak ada yang berbicara sepatah kata pun.
Tiba-tiba sang raja memecah keheningan, "Cuaca hari ini sangat cerah. Apakah kau tidak pergi jalan-jalan lagi?" katanya. Zoe tersentak, makanannya hampir saja keluar dari mulutnya. Hari ini, ia sedang tidak berniat untuk jalan-jalan ke luar. Ia merasa risih kalau harus pergi bersama Levi karena kejadian kemarin.
Zoe bingung harus bilang apa. Kalau dia bilang ia tidak ingin keluar karena kejadian kemarin ayahnya pasti akan bertanya "Apa yang terjadi? Ada orang yang berbuat macam-macam terhadapmu? Apa kau terluka? Mana yang sakit?" dan sebagainya. Tetapi kalau ia jujur, ayahnya pasti akan marah dan mengganti Levi dengan pengawal-pengawal lain. Akhirnya ia memutuskan untuk mencari alasan lain.
"Tidak. Hari ini aku mau latihan pedang," katanya pelan.
"Oh, begitu. Ayah ingin melihatnya, sudah lama ayah tidak melihatmu latihan pedang," kata raja.
Zoe tersenyum, "Baiklah."
.
.
.
"Haah... hah..." Zoe terengah-engah. Lawannya kali ini benar-benar kuat. Meskipun prajurit biasa, tetapi tubuhnya sangat besar dan kuat. "Sial, di mana kelemahannya? Tangan? Bukan, tangannya benar-benar kuat. Cih..." katanya dalam hati.
"Bagaimana tuan putri? Apa Anda sudah menyerah?" kata prajurit itu sambil tersenyum.
Zoe memicingkan matanya, "Masih belum!" Ia mengangkat pedangnya kemudian mengarahkannya pada prajurit itu. Akan tetapi, sang prajurit dapat menahannya dengan perisainya.
"Di mana kelemahannya?" kata Zoe dalam hati sambil terus mengayunkan pedangnya dengan semangat. Tanpa sengaja kakinya menendang kaki prajurit itu dengan keras dan membuat prajurit itu jatuh ke tanah. Zoe segera mengarahkan pedangnya ke leher prajurit itu. "Huft... Ternyata kelemahanmu di kaki ya? Badanmu terlalu besar sehingga tidak imbang dengan kakimu."
"Kau benar, tuan putri. Kau sudah lebih kuat sekarang," kata sang prajurit.
"Tidak juga, aku hanya beruntung bisa menemukan kelemahanmu," kata Zoe sambil tertawa kecil.
"Kau lebih hebat sekarang, putriku!" sang raja yang sejak tadi hanya diam melihat pun akhirnya berbicara. Zoe menghampiri ayahnya. Ia tersenyum dan berkata "Terimakasih, ayah."
"Hei, kau. Apa kau lihat Kenny?" kata sang raja kepada prajurit itu.
Prajurit itu menjawab "Saya melihatnya tadi bersama Levi, mereka berjalan menuju taman."
"Baiklah. Kalau begitu panggil Kenny, ah tidak, mereka berdua saja. Panggil mereka berdua ke sini."
"Eh, tunggu. Mereka berdua? Levi juga?" kata Zoe dalam hati.
"Baik, Yang Mulia," prajurit itu memberi hormat kemudian pergi.
Zoe benar-benar bingung, ia tidak tahu harus memasang tampang apa pada Levi. Dia benar-benar malu. "Eee... Ayah, latihannya sudah selesai. Jadi, aku pergi dulu ya?" kata Zoe, kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan pergi. Akan tetapi sang raja menghentikannya dan berkata "Tidak. Jangan pergi dulu. Ada hal penting yang ingin ayah bicarakan padamu dan juga mereka."
A..apa? Jangan-jangan ayah sudah tahu kejadian kemarin? pikir Zoe. Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Ia tidak tahu harus bagaimana ketika bertemu Levi. Apalagi, sejak kejadian kemarin mereka sama sekali tak berbicara apa pun. Levi bahkan tidak menoleh ke arahnya sepanjang perjalanan pulang kemarin.
Beberapa saat kemudian, prajurit yang diutus oleh raja datang bersama Kenny dan Levi. "Saya permisi, Yang Mulia," katanya.
Raja tersenyum, "Ya, terimakasih." Kemudian ia menoleh ke arah Kenny dan Levi "Nah, Kenny dan Levi. Ada yang ingin kubicarakan pada kalian."
Zoe bisa merasakan jantungnya berdegup dengan kencang. Keringatnya mengucur deras. Ia melirik ke arah Levi yang sedari tadi berdiri diam disebelah Kenny. Tidak... kumohon jangan... "Sebenarnya..." belum selesai sang raja mengucapkan perkataannya Zoe sudah menyahut "A-ayah! A-aku mau ke kamar dulu, ya!"
"Tidak," kata sang raja. Kali ini ia serius "Jangan suka memotong pembicaraan orang. Bagaimana bisa seorang putri Kerajaan Titania tak mengerti tata krama seperti ini?"Zoe menunduk, ia merasa kali ini ayahnya akan marah lagi. "Maafkan aku."
"Dengarkan dulu, ini hal penting. Ini juga menyangkut tentang dirimu. Jadi, besok kita akan kedatangan tamu dari Kerajaan Utopia. Maka dari itu, aku ingin kau, Kenny, untuk memperketat penjagaan di sekitar perbatasan dan juga di istana."
"Baik," kata Kenny sambil menundukkan kepalanya.
"Lalu, Levi aku ingin kau lebih menjaga Zoe. Pintu masuk kerajaan akan terbuka lebar besok, kita tidak akan tahu apabila ada orang yang menyusup. Akan sangat sulit mencarinya di keramaian." Kemudian ia melirik pada Zoe, "Dan kau, Zoe. Kau tidak boleh berkeliaran seenakmu sendiri. Jangan pernah keluar sendirian. Kalau mau keluar, keluarlah bersama Levi. Ah ya, satu lagi. Jangan melakukan hal-hal yang memalukan di depan para tamu kerajaan. Persiapkan dirimu baik-baik untuk acara penyambutan di istana."
Setelah selesai berbicara, raja membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan mereka bertiga. Demikian juga dengan Kenny, ia pergi menuju ruangannya meninggalkan Levi dan Zoe. Sekarang mereka hanya berdua ditemani para penjaga, suasananya benar-benar kaku.
"E.. " belum selesai Zoe mengucapkan kata-katanya Levi sudah berbalik dan pergi. "Tu-tunggu dulu!" Levi membalikkan badannya. "A-ada yang ingin kutanyakan padamu..." kata Zoe canggung. Ia memberi sinyal kepada para penjaga untuk meninggalkan mereka berdua.
"Apa?" tanya Levi datar.
Zoe benar-benar canggung, tapi ia benar-benar ingin menanyakan kenapa Levi tidak mau berbicara padanya kemarin. Ia memberanikan dirinya untuk berbicara dengan Levi "I-itu.. Soal kemarin. Maaf."
"Sudah kubilang, lupakanlah. Itu hanya sebuah kecelakaan. Kau tidak perlu memikirkannya terlalu jauh."
"Se-sejak kemarin, kau tidak berbicara padaku. Apa kau marah padaku?" tanyanya takut.
"Tidak."
"Ta-tapi sejak kemarin kau menghindariku. Itu membuatku tidak tenang. Sepanjang malam aku terus saja memikirkan kejadian kemarin. Baik kejadian itu maupun sikapmu, itu membuatku tidak tenang."
"Kau pikir aku tenang-tenang saja sejak kejadian kemarin?" Jujur saja, meski Levi adalah orang yang keras dan dingin, ia tetap saja seorang laki-laki. Berciuman dengan seorang perempuan, apalagi orang itu adalah putri Kerajaan Titania membuatnya tidak bisa tenang. Meskipun di luar ia terlihat biasa-biasa saja, namun jauh di dalam hatinya ia tidak bisa tenang.
Zoe bisa melihat semburat merah tipis di pipi Levi. Entah kenapa, Levi yang seperti itu menurutnya... Sangat imut. Levi yang ini benar-benar berbeda dari biasanya.
"Kalau itu saja yang ingin kau katakan, aku permisi dulu," kata Levi, ia ingin menghindar dari percakapan ini. Kemudian, ia pergi meninggalkan Zoe.
"Tunggu dulu! Aku belum selesai bicara!" seru Zoe. "Ka-kalau kau memang tidak tenang. Apakah itu artinya... " suaranya mendadak menjadi lebih pelan "...kau..." Zoe terdiam sejenak, ia sedikit takut untuk mengucapkan apa yang ada di pikirannya. "Apa itu artinya kau juga tidak bisa melupakannya?"
Levi terdian sejenak, namun akhirnya menjawab dengan datar "Ya."
Zoe menundukkan kepalanya dan berkata "Ka-kalau begitu... Mulai sekarang aku akan berusaha melupakannya. Berjanjilah padaku kau juga akan melupakannya."
Lagi-lagi Levi membalasnya dengan datar "Ya. Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Tunggu dulu!" seru Zoe lagi.
Levi membalikkan badannya, "Apa lagi?" tanyanya sedikit kesal.
"Emm... Kau masih mau menemaniku jalan-jalan, kan?" tanya Zoe sambil memainkan jari telunjuknya.
"Ya," jawab Levi, lagi-lagi dengan datarnya.
Zoe tersenyum, "Baiklah, kalau begitu besok temani aku ke kota lagi, ya!"
"Ya."
.
.
.
"Tidak! Hari ini kau harus mempersiapkan dirimu menyambut para tamu Kerajaan Utopia!" suara sang raja menggema di seluruh ruangan. Hari ini, Zoe berencana untuk jalan-jalan lagi. Akan tetapi, ayahnya tidak mengijinkan karena hari ini para tamu akan datang.
Zoe memohon, "Tapi, ayah... Kemarin kan aku tidak pergi. Aku juga akan pergi bersama Levi."
"Tidak, tetap tidak bisa!" katanya lagi, keras.
"Cih, baiklah!" kata Zoe kesal. Ia membalikkan badannya lalu pergi ke luar ruangan. "Ayah menyebalkan! Katanya aku boleh pergi ke luar asalkan bersamamu. Tapi ini... Arghhh!" katanya kesal. "Ah, sudahlah! Aku mau latihan pedang saja!"
Mereka berdua berjalan menuju ke tempat para prajurit untuk berlatih. Sepanjang perjalanan Zoe melihat-lihat ke sekelilingnya, banyak sekali pelayan yang sedang sibuk mempersiapkan pesta penyambutan para tamu dari Kerajaan Utopia. Tidak sedikit juga yang bekerja sambil menggosip.
"Kau dengar? Pangeran Kerajaan Utopia akan datang, lho!" seru salah seorang pelayan.
"Eh, pangeran yang tampan itu?" pelayan yang lain pun ikut menyahut.
Suara mereka begitu keras sehingga Zoe yang sedang berjalan bersama Levi dapat mendengarnya. "Pangeran Kerajaan Utopia? Levi, kau tahu siapa dia?" tanya Zoe pada Levi.
"Ya, aku pernah melihatnya ketika Kerajaan Utopia membantu kita saat perang beberapa hari yang lalu. Namanya, Erwin, dia masih muda dan berbakat."
"Oh.. Begitu ya," kata Zoe sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aku jadi penasaran seperti apa orangnya! Aku jadi tidak sabar ingin bertemu dengannya!" Ia mempercepat langkah kakinya agar lebih cepat sampai di tempat latihan, "Ayo, Levi!"
Sesampainya di sana, tidak ada satu pun prajurit yang sedang berlatih. Tempat itu begitu sepi karena semua prajurit sedang bertugas untuk menjaga pintu-pintu dan tempat-tempat tertentu. "Ah... Sepinya..." keluh Zoe. "Apa tidak ada satu pun prajurit di sini?"
"Kau pikir aku ini apa?" kata Levi ketus.
"Ah, iya! Aku sampai lupa kalau kau juga prajurit. Prajurit terkuat di seluruh Titania!" Zoe mengambil pedang di sampingnya kemudian menodongkannya di hadapan Levi. "Ini kesempatan bagus! Nah, lawan aku prajurit terkuat!"
Zoe bersiap-siap di posisinya. Ia menunggu Levi mengeluarkan pedangnya. Matanya terus tertuju pada setiap gerak yang dilakukan oleh Levi. Levi berjalan perlahan mendekati Zoe dan menyentil dahinya. "Masih terlalu cepat untuk melawanku, putri kecil!" kata Levi.
Zoe kesal mendengar perkataan Levi barusan. Ia membanting pedangnya ke tanah. "Aku sudah dewasa! September nanti aku juga 16 tahun!"
"Sebentar lagi kau memang berumur 16 tahun. Tetapi, kelakuanmu belum bisa dikatakan sebagai orang dewasa," kata Levi.
Zoe semakin kesal "Memangnya berapa umurmu sehingga merasa sudah cukup dewasa untuk menasihatiku?" Melihat proporsi tubuh Levi, Zoe merasa umurnya tidak jauh dengan Levi.
"25."
Zoe tersentak, Levi si pendek ini sudah berumur 25 tahun? Pantas saja badannya tidak tinggi-tinggi, masa pubertasnya sudah lewat. "Hihihi... Pantas saja kau tidak tinggi-tinggi," kata Zoe sambil sedikit tertawa.
Beruntung Zoe adalah seorang putri. Kalau saja dia hanya orang biasa, Levi pasti sudah memukulinya sampai memar-memar. Tiba-tiba muncul seorang pelayan, ia memanggil Zoe dan mengajaknya untuk kembali. "Tuan Putri, sebentar lagi para tamu dari Kerajaan Utopia akan datang. Yang Mulia memerintahkan Anda untuk bersiap-siap sekarang."
"Ah, baiklah!" jawab Zoe bersemangat. Ia tidak sabar bertemu dengan Pangeran Erwin karena begitu penasaran dengan orang itu. "Dah, Levi! Lain kali kita lanjutkan lagi!" katanya sambil melambaikan tangan ke arah Levi.
.
.
.
"Ni-nifa... Apa menurutmu hiasan rambut ini tidak aneh?" tanya Zoe malu-malu.
Nifa, kepala pelayan sekaligus yang menjadi pelayan kepercayaan Zoe, hanya tersenyum. "Tidak, tidak aneh. Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Eh.. Yah.. Em.." Zoe malu-malu. "Aku kan jarang sekali memakai hiasan seperti ini."
Nifa tersenyum dan menggodanya sedikit "Kau malu karena itu atau karena pangeran yang akan datang nanti?"
Wajah Zoe mendadak memerah setelah mendengar kata-kata Nifa itu. Ia menyangkal "Ti-tidak, kok!" sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hee... Masa? Kau sudah mulai jatuh cinta, ya?" kata Nifa, masih dengan nada menggoda.
"A-a-aku saja belum pernah bertemu dengannya!" kata Zoe menyangkal. "A-aku hanya sedikit grogi. Aku tidak ingin mempermalukan ayah serta seluruh Kerajaan Titania. Lagipula, mana ada yang namanya jatuh cinta sebelum bertemu?"
Nifa tertawa kecil, "Yah... Siapa tahu ada yang seperti itu? Hihihi..."
"Mana mungkin, hahaha... Ayo kita pergi! Sebentar lagi mereka akan datang, kan?" kata Zoe sambil sedikit tertawa. Ia menggandeng tangan Nifa lalu pergi ke luar kamarnya.
Mereka berjalan menuju pintu masuk istana, di mana para tamu dari Kerajaan Utopia akan datang. Zoe berdiri di sebelah ayahnya, menunggu para tamu datang. Tak lama kemudian, pintu gerbang istana dibuka. Masuklah Raja dari Kerajaan Utopia, Raja Darius, bersama putranya yakni Pangeran Erwin beserta para pengawalnya.
"Selamat datang, kawanku!" kata Raja Grisha sambil memeluk Raja Darius.
"Terimakasih atas penyambutanmu ini, Grisha. Setelah melihatmu, rasa lelahku sepanjang perjalanan mendadak hilang."
"Benarkah? Haha..." kata Raja Grisha, sedikit tertawa. "Perkenalkan, ini putriku, Zoe."
Zoe berjalan beberapa langkah ke depan Raja Darius dan memberi hormat kepadanya, "Salam, Raja Darius. Saya sungguh senang bisa bertemu dengan Anda."
Raja Darius tersenyum, menurutnya Zoe sangat sopan (dia tidak tahu kalau biasanya Zoe seperti anak liar)."Ya, senang juga bertemu denganmu. Ah, iya, perkenalkan juga ini putraku, Erwin."
Zoe menundukkan kepalanya dan mengangkat sedikit roknya dengan kedua tangannya. "Salam, Pangeran Erwin. Senang bisa bertemu dengan Anda," katanya sambil tersenyum.
"Aku juga, senang bisa bertemu denganmu," balas Erwin sambil tersenyum. Ternyata benar kata para pelayan itu, Pangeran Erwin benar-benar tampan. Senyumnya melelehkan hati para gadis, termasuk Zoe.
"I-iya..." kata Zoe terbata-bata. Baru pernah ia melihat seseorang yang begitu... menawan. Rambut blonde-nya yang terbang ditiup angin, alisnya yang tebal memperlihatkan betapa tegasnya dia, serta matanya yang lembut itu.
"Kau akan menikah dengan seseorang keluarga bangsawan dari kerajaan lain. Dia tampan dan berwibawa. Ia juga kuat, ia akan selalu melindungimu."
Melihatnya, Zoe jadi teringat perkataan wanita peramal yang meramalnya beberapa hari yang lalu. Erwin sangat mirip dengan orang yang dikatakan peramal itu. Dia tampan, berwibawa, dan juga kuat. Setiap gadis yang melihatnya pasti berpikir dialah pangeran sejati.
"Kalau begitu, silahkan Yang Mulia dan Pangeran Erwin beristirahat dulu. Kami sudah menyiapkan kamar untuk kalian berdua. Mari..." kata Raja Grisha, wajahnya dipenuhi senyuman. Mereka bertiga berjalan pergi, meninggalkan Zoe yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
.
.
'Mungkinkah, dialah orang yang dikatakan peramal itu?'
.
.
.
Yuhuuu! Ini dia Chapter 3!
Maaf ya, kalau update-nya lama. Mataku sering sakit kalau menghadap layar, jadi nulisnya bisa lama banget -_-
Makasih buat para pembaca yang sudah setia membaca. Baik yang sudah fav, follow, atau comment. Maupun yang cuma baca-baca aja. Makasih juga buat Rei-chan sama Kiki-chan yang selalu bantuin aku meskipun aku kadang maksa. Hahaha...
Di chapter ini Erwin muncul! Yey! (Rei.. Erwinmu tuh!) Sumpah, pas nulis bagian 'Pangeran tampan' tanganku gemeteran. Ngakak aku nulisnya. Erwin memang tamvan... *cling cling*
Dan untuk selanjutnya, ga cuma Levihan aja, tapi Eruhan-nya juga banyak. Jadi bingung mau buat Hanji sama siapa -_-
Menurut kalian? Mending sama siapa? Hahahaa...
Oiya, karna ini tahun baru jadi SELAMAT TAHUN BARU, YA! HAPPY NEW YEAR!
Seperti biasa... Maaf kalau ada typo.
Kritik dan saran? Review ya...
Or maybe fav and follow?
