Bleach © Tite Kubo (Mau pake gelar Eyang, Aki, Om, UncLe takut salah xixixi maklum belom kenalan)

My Stories © udah tau punya my, apa perlu disebutin sodara"nya.. I, me, mine, myself, aye halah..

Pairing : Ichiruki dkk,

Genre : sedikit Romance, sedikit Humor, and sedikit ga jelas ^^a

Rated : K menjurus T

Chap 3

Hai minna, sesuai janjiku akan kulanjutkan kisah perjalanan hidupku ini. Pernah dengar pepatah mengatakan 'kenyataan tidak sesuai dengan harapan' itulah yang terjadi pada hidupku. Harapan-harapanku tidak pernah terwujud akhir-akhir ini. Pertama, aku berharap bisa menemukan seseorang yang dapat menggantikan kedudukan 'orang itu' dihatiku, tapi pada kenyataannya dia justru muncul di dalam kehidupanku membuat hatiku kembali terusik padanya. Kedua, harapanku untuk menjauh sejauh-jauhnya dari 'orang itu' GAGAL TOTAL! Dikarenakan 'tugas baru' yang semakin merajalela itu. Damn!

masih ingat ceritaku sebelumnya? Aku berniat untuk meminta pak tua membatalkan 'tugas baru' itu, tapi yang terjadi hari itu adalah…

Pagi yang cerah, seperti hari kemarin. Kulangkahkan kakiku sangat bersemangat hari ini mengingat tujuan awalku bertemu Prof. Ukitake maka ku rencanakan untuk datang lebih awal. Dan saking bersemangatnya aku sampai lupa jika atasanku selalu datang di atas jam 10 pagi, dan sekarang masih jam 7 pagi, kebodohan pertama! Aku baru sadar melihat situasi kampusku yang masih kosong melompong belum ada satu mobilpun diparkiran.

Dengan pikiran cepat kuputar balik arah tujuanku untuk menjauhi kampus ini, aku tidak ingin di cap sebagai 'orang rajin' coz bisa rusak imageku nanti. Dan yang menjadi tujuanku kali ini adalah rumah sahabat tersayangku Matsumoto Rangiku. Dan ini adalah kebodohan keduaku! Apa kalian tahu? Jika aku sudah bersama tante-tante cerewet ini, sudah dipastikan aku tidak akan bisa lepas darinya. Dan begitulah nasibku hari itu. Melihat kedatanganku yang tiba-tiba membuatnya sedikit bingung tapi sedetik kemudian 'senyuman maut'nya mengembang, menarikku memasuki kediamannya dan dimulailah 'aksi'nya terhadapku. Dari memintaku mendengarkan ceritanya selama setengah harian, menemaninya shoping, nonton, makan, sampai akhirnya waktu menunjukan pukul 10 malam. Dan hari itu kuakhiri langsung dengan ritual favoritku – tidur.

Hft… hari berikutnya kulalui dengan tidak begitu bersemangat mengingat kebodohan hari sebelumnya. Untuk informasi, saat itu aku baru saja menyelesaikan jadwal mengajarku untuk sesi pagi ini. Setelah selesai kuputuskan untuk berjalan sedikit lambat memikirkan rencanaku berikutnya. Aku sedang tidak ingin masuk kedalam ruanganku, karena mejaku pasti sudah dijajah oleh 'anak-anak' itu. Mau makan siang waktunya masih setengah jam lagi, sedangkan kelas berikutnya masih satu jam lagi. Mau ketemu waktunya pasti sudah kadarluasa, kalau bilang sekarang aku mundur dari 'tugas' itu nanti beliau akan berkata apa? Aku pasti di cap buruk olehnya dan akan bertambah satu nama di 'DOK'ku – Daftar Orang yang Harus Kuhindari

Hah, kenapa jadi seperti ini? – frustasi. Kuacak-acak rambutku saking kesalnya. Dan salahku juga sih tidak memperhatikan jalan, alhasil – GUBRAKK!

Aku terjatuh dengan sangat tidak elit, dengan sangat keras pula. Dengan posisi duduk seperti balita –kaki tertekuk kesamping, buku yang kubawa bertebaran kemana-mana. Satu kata – Sial.

Orang yang menabrakku, um.. atau orang yang telah kutabrak.. entahlah karena disini aku yang menjadi korban maka kusimpulkan pasti aku telah tertabrak. "Anda tidak apa-apa?" ucapnya ragu. "hn" jawaban malasku keluar. Sebal juga dengan sikap orang ini, sudah tahu aku jatuh bukannya membantuku berdiri atau apalah dia malah diam membatu, dasar orang bodoh. Aku tegakkan diri kusendiri sambil mengambil sebagian bawaan yang terjatuh di dekatku, dan kemudian dia berteriak "Astaga Rukia? Ini kau? Maav ya aku tidak tahu itu kau". Ucapnya sambil mengambil buku-buku yang entah terlempar kemana.

Ck, aku benar-benar kesal sekarang, kuhadapkan wajah sebalku kearahnya agar dia mengerti bahwa aku tidak suka dengan kelakuannya yang telah membuatku terjatuh dengan sangat tidak elit dan membuat bokongku kesakitan luar biasa, tapi sedetik kemudian kurasa raut wajahku berubah menjadi terkejut mungkin – err ketakutan lebih tepatnya.

Mimpi apa aku semalam? Kenapa orang ini ada dihadapanku lagi? Bukankah rencana awal baru minggu depan? Tapi kenapa dia ada DISINI? DIHADAPANKU? Tidak ini pasti tidak benar, aku pasti hanya mimpi, kugelengkan kepalaku untuk meyakinkan bahwa aku pasti sedang berhalusinasi, tanpa kusadari kakiku melangkah mundur selangkah dan akibatnya aku kembali kehilangan keseimbangan dan Ya.. aku hampir jatuh, tapi tidak jadi karena orang itu telah menopang tubuh belakangku dengan sebelah tangannya. Hm.. kalau di TV ini pasti saat yang romantis tapi untukku ini adalah saat yang memalukan! Karena detik berikutnya dia sudah menjatuhkanku lagi dengan sangat lebih tidak elit saat aku menyuruhnya melepaskan tangannya dari tubuhku.

"AWW!" Jeritku. "Apa yang kau lakukan bodoh! Kalau kau ingin membunuhku pakai pedang aja sekalian jangan begini caranya". Gerutu ku sambil berteriak marah padanya. Siapapun akan merasakan yang sama sepertiku bukan jika diperlakukan seperti ini, tak terkecuali dengan orang yang kau sukai. Saat ini aku tidak perduli dia akan menilaiku seperti apa, yang jelas dia sudah membuatku kesal hari ini!

"maav rukia, maav, aku benar-benar minta maav". Ucapnya sambil membereskan buku-buku yang berjatuhan itu lagi, sambil membantuku berdiri kali ini dan, merapihkan rambutku yang.. err memang sangat berantakan, ku akui –akibat ritual frustasiku dan terlempar dua kali.

"sudah sudah, aku bisa sendiri". Ucapku sambil merapihkan sendiri rambutku dan letak rokku yang bergeser. "mana?" ucapku sambil mengambil semua buku dari tangannya, lalu berjalan untuk menjauhinya. – kesal

"Hey, tunggu.. aku kan sudah minta maav, kamu tidak apa-apakan? Ada yang sakit tidak? Apa mau aku periksa?" ucapnya sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.

Dan aku langsung terhenti seketika. Orang ini bodoh atau apa sih? Sudah tau aku terjatuh dan yang terluka pasti bokongku, karena bagian itu yang jatuh pertama kali dan dua kali pula! Apa dia tidak tahu aku masih menahan ngilunya? Dan ingin memeriksaku? Jangan harap aku akan mengizinkan? Dengan kesal yang semakin membara kutatap wajahnya sambil tersenyum manis – palsu. Dan berkata "aku tidak apa-apa dokter, sungguh. Dan tidak usah dipikirkan santai aja. Sekarang bisa aku pergi karena masih banyak pekerjaan yang sedang menunggu kehadiranku". Ucapku sambil kembali mengacuhkannya.

Dia masih tetap mengejarku, lalu berkata "apa termasuk tugasmu untuk menemaniku? Kau tau kan, hanya kau yang kukenal baik disini, jadi? Apa aku boleh mengganggu waktumu sebentar, rukia?" tatapannya berkata penuh harap.

Oh, Great baru aku memikirkan cara untuk menjauhinya sekarang dia malah memintaku untuk menemaninya. Aku hanya diam mendengarkan penuturannya. Dan dengan alasan tugas maka dengan sangat berat hati kukatakan "Baiklah, apa yang bisa kubantu ichigo?"

"Bagaimana jika sambil makan siang, ayo?" ucapnya sambil menarikku entah kemana, dan aku hanya bisa diam sambil menikmati sentuhan tangannya ini. kali ini kubiarkan dia menggenggam tanganku karena sedari tadi aku mencoba melepas hasilnya tanganku terasa perih.

Now, kami berada disalah satu restoran dekat kampusku, lumayan. Sejujurnya aku baru pertama kali datang kesini, maklum restoran ini baru dibuka dan aku paling malas untuk makan siang di luar, satu alasan –panas. Ya, kalian sendiri tau kan suasana saat jarum jam menunjukkan pukul 12 tepat so, aku tidak perlu menjelaskan lebih rinci bukan hehehe…

AC, oke. Rasa, oke. Orang yang menemaniku makan, tentu saja Oke. Kami makan dengan terdiam, karena aku melarangnya untuk berbicara saat sedang makan, padahal itu hanya alasan. Sejujurnya aku tidak bisa mengendalikan perasaanku saat itu, senang tentu saja, kesal sudah agak berkurang, bingung tentu saja. Kejadian seperti ini hanya ada dalam khayalanku saja sebelumnya, tapi sekarang semua itu tampak nyata. Lalu apa yang harus kupercayai sekarang? Ada apa sebenarnya? Seorang partner kerja mengajak makan siang sepertinya itu hal yang biasa, tapi bagiku tentu saja luar biasa karena yang ada dihadapanku adalah seorang Ichigo Kurosaki, pria yang diam-diam kucintai sejak dahulu kala.

"Oke, jadi apa yang bisa kubantu sekarang?" tanyaku sesaat setelah ritual makanku selesai, aku duduk menyamankan diri pada tembok sebelahku.

"kemarin kau kemana?" bukannya menjawab pertanyaanku malah balik bertanya, kukerutkan keningku tanda aku bingung dengan pertanyaannya.

"bukan urusanmu kan". Jawabku sambil memainkan sedotan minumanku. "lagipula, kenapa kau ada disini, bukannya jadwalmu baru minggu depan dan lagi kau bilang akan berada di Hospital kalau tidak ada jadwal mengajar".

"itu benar, tapi tugasku di Rumah Sakit juga baru dimulai minggu depan, jadi yah karena tidak ada yang dikerjakan kuputuskan untuk merapihkan ruangan ". ucapnya sambil menopang dagu dengan wajahnya sambil menatapku.

"jadi, kau ingin aku membantumu merapihkan ruangan?" benarkan kesimpulanku? Dia menganggukan kepala.

"tapi kau tidak ada kemarin, aku mencarimu tapi aku tidak tahu kau ada dimana, aku Tanya ruang dosen, tempat penerimaan mahasiswa baru hasilnya mereka hanya menggelengkan kepala dan, ah.. oh ya berapa mu? Aku seperti orang bodoh seharian mencarimu, dan yang paling bodoh aku tidak tahu mu padahal kita akan sering bekerjasama, ya kan?" jelasnya panjang lebar sambil mengeluarkan ponselnya sendiri dari saku celananya. Dan dia menatapku lama dengan tatapan kesal, "berapa?" tanyanya kesal. Hahaha aku ingin sekali tertawa mengingat tampangnya saat itu

"Apa?" pura-pura bodoh

"Nomormu, rukia?"

"oh" jawabku, dan dia semakin kesal tapi aku mengacuhkannya seolah tidak terjadi apa-apa "0809896x(kali)". Dia terlihat bersemangat sekali untuk menyimpan nomorku, dan aku hanya tersenyum simpul sampai dia menekan call sepertinya agar tersambung dengan ponselku, dia tersenyum tapi sedetik kemudian dia marah luar biasa.

"KAU? Ini nomor –"

"Hahahahahahha" aku tertawa sepuasnya karena berhasil mengerjainya, jelas saja dia marah karena aku memberikannya nomor call centre sebuah iklan yang dulu pernah beredar, kalian masih ingat kan iklan itu?

"Hahahha" aku tidak henti-hentinya tertawa apalagi saat melihat wajahnya yang sedang menahan kesal karena ulahku, dia hanya membuang muka sambil terdiam –ngambek.

"ck, udah gede pake ngambek, baru segitu aja marahnya sampe membakar warna rambutmu, lihat sudah berubah jadi merah tuh". Aku malah meledeknya habis-habisan, dan dia masih tidak bergeming.

"ehm, oke sorry, sini". Aku langsung menyambar ponselnya dan menyimpan nomorku diponselnya setelah itu menyimpan nomornya juga di ponselku.

"sudah, segitu aja ngambek", masih diam. "hey, yang seharusnya marah kan aku, kau tidak tau bokongku masih terasa sakit tau". Ucapku santai aslinya mah malu pisan. -Mencoba membuatnya merasa bersalah padaku

Berhasil, dia menatapku lalu menggaruk bagian belakang kepalanya, aku tahu dia sedang gugup itu kebiasaanya sedari dulu. "maav, aku benar-benar tidak lihat saat itu, salah sendiri kau pendek aku kan jadi tidak bisa lihat jalan". Tadinya aku ingin tersenyum begitu dia mengatakan maav, tapi saat dia mengatakan kalimat selanjutnya tahukan apa yang ku perbuat, tapi kali ini tidak ada teriakan karena dia sudah bisa membaca gerakanku sepertinya.

Dia tahu aku mau menjambak rambutnya,dan tanganku dia tahan dengan genggamannya, membuatku terdiam karena ucapan selanjutnya, "dan maav telah melepaskanmu tadi, aku terkejut, tapi lain kali ah tidak mulai sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi". Ucapnya masih menggenggam tangan sambil menatapku dengan senyuman manisnya.

Ah, tidak! Sungguh aku tak kuasa jika dia sedang tersenyum seperti itu, tapi aku segera kembali ke realita, mengatur detak jantung dan mimik wajahku agar tidak terbaca jika aku sedang menahan pesonanya saat ini. Dan reaksiku, memandangnya dengan tatapan bingung seolah aku tidak mengerti dengan ucapannya, dan memang aku tidak mengerti maksudnya. Kukerutkan lagi keningku sambil menarik tanganku yang tadi sempat tertahan, lalu meminum minumanku sebagai pengalih perhatian.

"lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?". Kembali ke topik awal, menganggap pembicaraan lima menit terakhir tidak pernah ada. Dia hanya mengangkat bahu sambil memainkan minumannya.

"kau sendiri?" tanyanya padaku

Kutunjuk tumpukan buku yang sedari tadi kubawa dan berkata "mengajar". Jawabku sambil tersenyum

"boleh aku ikut?" tanyanya sambil menjauhkan wajahnya dari hadapanku, -Shock, karena aku telah menyemburnya dengan minuman yang sedari tadi kumainkan dalam mulutku - kumur-kumur

"Whatz? Apa? Tidak! Tidak boleh! No!" ucapku histeris sambil melap mulutku yang juga belepotan air, lalu mengelap wajahnya sekenanya, setelah aku rasa dia sudah bisa menguasai diri, aku ambil tumpukan buku itu lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Aku tahu dia berteriak memanggilku saat aku mencapai gagang pintu, tapi ku acuhkan saja. –Masa bodoh

Yang penting saat ini, aku harus pergi jauh-jauh sebelum mendengar permintaannya lagi. Ingin masuk ke kelasku, dan melihatku mengajar? Dia ingin membunuhku? Bisa kacau image ku karena dia, karena sudah bisa dipastikan aku tidak akan bisa konsentrasi mengajar jika dia ada disana. Aku terus merutuki diriku sendiri karena aku baru sadar, aku belum membayar pesanan makananku tadi. Apa dia berteriak untuk menyuruhku membayar ya? Mungkin juga, ah ngutang dulu sebentar gak masalah kan, nanti bisa aku bayar dipertemuan berikutnya. Lagian seorang dokter pasti punya duit banyak kan, masa nalangin makan siang aja ga bisa. Tapi bukan itu masalahnya, aku meninggalkannya tanpa pamit terlebih dahulu, tidak sopan sekali aku ini! Bodoh, bodoh, bodoh.. Argghh! Masa bodoh! Aku tidak peduli, aku terus saja meracau dengan pikiranku, sampai suara lembut itu membuyarkan kinerja otakku.

"Kuchiki – san, kamu baik-baik saja kan?" sapanya dengan tatapan cemas

"Ah, Inoe, aku baik-baik saja". Ucapku sambil tersenyum agar dia tidak khawatir melihat keadaanku.

"tapi sepertinya ada yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya masih dengan suara lembutnya. – Orihime Inoe teman sekelasku di bangku Magister bersama Ran, boleh dikatakan karena Aku dan Ran maka Inoe bisa ada ditempat ini, tapi aku tidak mau membahas masalah itu. Temanku yang satu ini sangat lembut, penuh dengan aura kewanitaan.

"habis ini aku harus mengajar sampai sore Inoe", jawabku mencari alasan

"oh ya, habis ini jadwal kuchiki mengajar ya, semangat ya kuchiki-san". Ucapnya ramah, dan aku hanya mengangguk sebagai jawaban

"mba, kemarin ada yang nyariin tuh". Ucap chizuru salah satu partner kerja inoe di ruangan ini,

"siapa?" Tanya Inoe pada chizuru

"entahlah, orangnya ganteng deyh mba rambutnya warna orange gitu". Aku telan cairan ludahku dalam-dalam. "cari siapa?" tanyaku untuk meyakinkan asumsi-asumsi yang sudah bermunculan.

"ya mba rukia lah, siapa mba orang itu? Pacar mba ya?" aku menggeleng-gelengkan kepalaku, dan terdiam dengan asumsi pikiranku.

"mahasiswa baru, atau mahasiswamu mungkin kuchiki-san?" ucap inoe mencoba membantuku, mungkin karena dia lihat raut mukaku yang sedang mencoba berpikir keras. Dan aku hanya mengangkat bahuku untuk menjawabnya.

"oh ya, apa kalian sudah dengar kalau kampus kita akan membuka fakultas kedokteran?" kali ini Abarai Renji ikut berbicara, dia teman seangkatanku, senior Inoe coz Inoe masuk setahun setelah aku, Renji, dan Senna.

Aku kembali menelan ludahku, kabar ini sudah sampai terdengar oleh Renji berarti tinggal menunggu waktu pengukuhan gossip ini menjadi fakta. Padahal pak tua menyuruhku untuk tutup mulut. Jangan heran karena channel Renji di kampus ini sangatlah luas, dia bisa mengetahui apapun keadaan di kampus ini dengan mudahnya.

Mereka semua menggeleng sebagai jawaban, kecuali aku yang tetap terdiam seolah tidak peduli pada apapun yang akan dibicarakannya. "iya, aku dengar kampus kita akan membuka fakultas kedokteran, bahkan tenaga pengajarnya di datangkan langsung dari SS University". Lanjut Renji

"aku ke kelas dulu". Ucapku sambil berlalu meninggalkan mereka semua. Aku tidak ingin mendengarkan keterangan renji lebih lanjut. Aku bingung, sungguh bingung. Bagaimana harus menjelaskan keadaan seperti ini. Oh ya, tadi setelah berhasil kabur dari Ichigo aku mampir sebentar ke ruangan penerimaan mahasiswa baru, karena dari semua tempat yang ada dikampus ini, ruangan ini yang ku anggap paling aman untukku bersembunyi dari semua atasan-atasanku, percayalah.

Kalian tahu, rasanya lelah sekali hari ini. Kepalaku sampai sakit mengingat perjalanan panjangku hari itu, karena keterkejutanku bertambah berkali lipat saat aku masuk ke kelas selanjutnya. – sesi siang setelah makan siang jadwalku mengajar tingkat 4 dengan mata kuliah Riset Operasional, sedangkan dikelas terakhir aku harus mengajar Kewirausahaan untuk tingkat 2. Tapi bukan itu masalahnya. Masalahku ada di rambut Orange itu, DIA BERHASIL MASUK KELASKU dan IKUT PELAJARANKU dalam waktu 2 jam itu, kelas Riset Operasional.

Kau tau apa ekspresiku saat itu, SHOCK tentu saja, tapi segera ku ambil alih keadaan. Berpura-pura kalau di bangku paling belakang tidak ada mahasiswaku yang berambut orange, karena memang seharusnya tidak ada. Aku mengajar seperti biasa, untungnya kebanyakan mahasiswaku adalah orang-orang yang sebelumnya ku ajarkan pada tahun lalu. Aku senang karena mereka menyukai pelajaran yang kuberikan karena itu aku tidak terlalu memperdulikan si rambut orange. Walau sering kali aku lihat dia sedang melihat ke arahku sambil tersenyum penuh arti, tapi aku menggapnya sebagai orang – gila.

Seusai pelajaran, setelah 'mahasiswa asli'ku keluar. Barulah ku keluarkan semua aura membunuhku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kulakukan saat itu, rasa kesal, marah, malu, senang jadi satu, dan jadilah seperti ini.

"KAU! Berani-beraninya kau mengikutiku sampai kesini!" dia hanya nyengir cengengesan menanggapi kemarahanku, hey harusnya itu adalah kebiasaanku – nyengir cengengesan

"sudah jodoh sepertinya". Ucapnya santai sambil berjalan kearahku.

Ugh, apanya yang jodoh! "Diam ditempat, jangan dekati aku". Teriakku frustasi sambil berjalan mundur menjauhinya.

"hey, hati-hati nanti kamu terjatuh lagi?" ucapnya cemas, aku tahu dari raut wajahnya.

"Stop! Oke! Kita bicarakan ini baik-baik, kalau kau ingin aku membayar hutangmu yang tadi, oke fine aku bayar, tapi tasku ada diruangan tapi setelah itu berjanjilah untuk menjauh dariku, oke?" ucapku pada akhirnya.

"hutang apa?" tanyanya kebingungan

"hutang, hutang makan siang yang tadi". Ucapku gugup

"Ah, astaga! Hahaha dasar wanita aneh, Hey aku yang mengajakmu makan siang di luar jadi wajar kan aku yang membayar, lagi pula aku ini seorang pria sejati, aku tak akan membiarkan wanitaku menanggung beban hidup". Lagi-lagi aku dibuat bingung, kali ini kumiringkan sedikit kepalaku mencari kebenaran dari raut wajahnya.

"Ayo". Ucapnya ketika sudah berhasil mengambil semua buku yang ada ditanganku. Aku hanya bisa diam dan mengikutinya berjalan dari belakang. Memandangnya dengan sejuta pertanyaan dibenakku sampai akhirnya dia berhenti melangkah dan membuatku tertubruk dengan punggungnya.

"Hey!" teriakku, "ah, maav rukia. Aku melukaimu lagi ya? Apa yang sakit?" ucapnya sambil mengusap keningku yang sebelumnya aku pegang saat dia kutabrak tadi. Melihat perlakuannya yang begitu lembut padaku membuatku bergidik ngeri, kumundurkan lagi langkahku untuk menghindarinya. Dia tertegun melihat sikapku, lalu lagi-lagi dia tersenyum.

Argh.. keadaan ini benar-benar membuatku frustasi.

"sebenarnya apa yang telah terjadi?" kuputuskan untuk bertanya tentang asumsi yang telah kubuat sedari tadi kepadanya

"apa? Tidak ada". Jawabnya sambil melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda.

"jangan berbohong kepadaku ichigo, aku tahu pasti ada sesuatu yang terjadi sehingga membuatmu berkeliaran sepanjang hari dikampus ini, kau bilang kau sudah punya ruangan. Jika tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan biasanya kau akan memilih untuk membaca di ruanganmu yang nyaman itu, benar kan? Lalu ada apa sebenarnya?" dia terdiam sesaat sambil memandangi wajahku, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. "jangan memandangku seperti itu jeruk". Dia tersenyum menanggapi ucapanku yang terakhir.

"kau sudah lihat kondisi ruanganku belum? Saat aku datang ruangan itu sudah penuh dengan bunga, hadiah dan makanan. Dan ketika aku memilih untuk membaca mereka berlalu lalang di depan ruanganku, jika seperti itu menurutmu apa yang harus kulakukan, rukia?"

"kau, sudah memiliki penggemar? Tunggu di mana letak Ruanganmu?"

"satu gedung dengan Prof. Yamamoto tapi tempatku berada dilantai 3". Aku menepuk dahiku sebagai jawaban. Jelas saja orang bisa berlalu lalang disana, itu kan tempat broadcast sekatnya memang dibuat bening. Tapi siapa orang yang menaruhnya di ruangan itu? Benar-benar keterlaluan Kampusku ini, jelas-jelas dia tamu istimewa, kenapa di beri ruangan yang seperti itu.

"Apakah meminta bentuk khusus seperti ruangan kaca seperti itu?" dia menggaruk bagian kepalanya lagi, bingung menjelaskan sepertinya. Kutarik saja lengannya agar dia mengikutiku sekarang.

Dan disinilah kami berada, tempat teramanku.

"Hay, semuanya perkenalkan temanku, Do-" dia meremas genggaman tanganku memberi isyarat. "Kurosaki Ichigo". Lanjutku

"Ichigo, perkenalkan ini semua teman sekerjaku, Abarai Renji, Orihime Inoe, Chizuru, Miharu". Mereka semua tersenyum sambil mengangguk tanda perkenalan.

"duduklah ichi". Ucapku sambil menyuruhnya duduk dibangku tamu yang tersedia disitu

"Renji, Inoe aku titip Ichigo sebentar ya, Oh ya. Ichigo dosen baru disini, ruangannya masih belum siap, Ichi, kalau kau mau kau bisa bersembunyi disini, ini tempat rahasiaku, dijamin tidak ada yang akan mencarimu jika kau sudah masuk ruangan ini". Dia mengangguk tanda mengerti

"aku mau lanjut mengajar dulu, kembalilah keruanganmu setelah jam 3 aku jamin keadaan sudah aman, setelah itu pulanglah, kita bertemu lain waktu, okeh". Ucapku bergegas bersiap kembali untuk pertempuran terakhir. Tapi sebelumnya dia kembali membuatku bingung, dia kembali menggenggam tanganku sambil menunjukkan wajah seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal oleh ibunya.

"apa?" tanyaku

Dia ragu sesaat sebelum berkata "boleh kutelpon nanti malam?". Ku berikan senyuman terbaikku padanya sebelum aku benar-benar pergi saat itu.

Tapi ada yang aneh saat itu, biasanya inoe selalu menanggapi setiap perkataanku, tappi kenapa kali ini dia diam saja, dan sepertinya aku salah lihat karena sebelum keluar ruangan aku sempat melihat inoe sebentar, dan mukanya memerah saat itu, dan itu kebiasaannya saat sedang dalam keaadaan malu. Tapi aku segera berlalu, tidak begitu terlalu memikirkannya karena dia memang seperti itu jika berkenalan dengan orang baru.

Seperti itulah keadaanku pada hari ketiga ichigo datang di KK University. Dan oh ya, tadi kuceritakan kalau ichigo akan menelponku malamnya, tapi pada kenyataannya kejadian itu tidak terjadi. Aku menunggu telponnya dengan berdebar-debar meyakinkan diriku sendiri jika yang kulalui hari itu benar adanya, dan satu yang membuatku meyakinkan diri agar tidak terjebak oleh pesonanya lagi – Ichigo seorang pembohong.

Karena dia tidak jadi menelpon membuatku berkesimpulan seperti itu. Dan bodohnya aku bisa mempercayai kata-katanya! Kutekankan pada diriku sekali lagi bahwa Ichigo tidak mungkin menyukaiku, perlakuannya sepanjang hari ini tidak lebih hanya karena dia tidak memiliki teman selain aku. Dan janjinya untuk menelponku kuanggap sebagai basa-basi semata.

Kecewa, tentu saja. Karena bagaimanapun hatiku sempat berbunga ketika menerima perlakuannya dan kata-katanya hari ini. Tapi malamnya aku disadarkan kembali oleh kenyataan. Dan seperti itulah gambaran hatiku akhir-akhir ini. Pria itu begitu mudahnya menjeratku dalam pesonanya dan aku begitu bodohnya terhanyut dalam dekapannya, dan sesaat kemudian dia akan menghempaskanku terjatuh membuatku terbangun dari angan-angan buaian mimpi seorang putri tidur. Jangan salahkan dia, aku lah yang terlalu bodoh karena tidak bisa membedakan yang mana perhatian, kasih sayang dan cinta.

Berkali-kali aku katakan aku tidak menyukainya tapi pada kenyataannya aku sangat menyukainya. Berkali-kali kuyakinkan untuk tidak jatuh kedalam pesonanya tapi yang terjadi aku semakin tidak bisa lepas darinya. Dan berkali-kali aku berusaha untuk menjauhinya tapi pada kenyataannya aku tidak rela jika dia berada jauh dariku. Dan kali ini kuyakinkan kan pada diriku, jika cinta itu adalah sebuah – kebohongan. Dan kau adalah seorang pembohong… Ichigo.

Pojok Review…

Thanx to Rukianonymous :

makasih ya bwt dukungannya.. jadi semangat nih ngelanjutinnya.. ^^,

tp bwt enable'nya gmn caranya ^^a maklum amatiran hehehe..

jangan bosen-bosen ngeripiu ya.. di tunggu lho.. ^^

And bwt semua yang membaca story ini, mohon review ya..