"Kau sudah bangun? Tidurmu lelap sekali, phigonhae?"

"YEOGI MWOHAE?"

.

.

.

OPPOSITE

©Cheesecake Vega

EXO (ChanBaek as main cast) and SM Family

.

.

.

"Kau tidak lihat aku sedang mengeringkan rambut?" tanyanya santai.

"Kenapa kau bisa ada di kamarku?" tanyaku sengit sambil meremas selimut yang membalut tubuh indahku. Jangan tertawa, menurutku tubuhku memang indah.

"Mwoya? Ini kamarku," sambil berjalan mendekat padaku, seketika peganganku pada selimut semakin mengerat.

Kualihkan pandanganku pada keadaan sekitar, ini memang benar bukan kamarku. Kamarku penuh dengan pernak-pernik strawberry, dan lebih berantakan dari kamar ini.

"Kenapa aku ada di sini? Apa yang sudah kau lakukan padaku?" tanyaku kemudian, dan bayangan-bayangan mengerikan tiba-tiba melintas di pikiranku,kugelengkan kepala untuk menghapus pikiran-pikiran tersebut.

"Kau tak ingat apa yang terjadi semalam? Wah sayang sekali," seringaian menyeramkan tiba-tiba terpampang jelas di wajah menyebalkannya.

"Ya Park Chanyeol, jangnan anya!" benar, makhluk menyebalkan di depanku adalah si tiang hidup, Park Chanyeol.

"Haruskah kuceritakan secara detail? Kau terus menggeliat dan terlihat sangat menikmatinya," seringainya makin melebar.

Pikiranku langsung blank dan tak bisa berpikir apapun, benarkan semalam aku seperti itu? Tapi apa yang telah kami lakukan? Kenapa aku tak bisa mengingat apapun? Dan kenapa aku bisa ada ditempatnya? Kalau memang benar aku melakukan sesuatu dengannya, rasanya aku akan menangis saat ini juga.

Tiba-tiba terdengar suara tawa menggelegar dari Yoda kelebihan kalsium ini, kenapa dia sangat menikmati wajah tersiksaku? Dasar monster.

"Kau harus melihat wajahmu sekarang, Byun," masih dengan tawanya, "Kau pikir aku serius? Mana mau aku denganmu, maaf saja seleraku cukup tinggi. Semalam kau memang menggeliat, siapa yang tak menggeliat ketika dipindahkan dari kursi mobil yang sempit ke kasur yang luas? Dan tentu saja kau sangat menikmatinya, kalau tidak, mana mungkin kau sepulas itu tidur di kasurku?"

Tuhan, sebenarnya makhuk ini jenis apa? Kenapa dia bisa sangat menyebalkan? Kenapa makhluk ini bisa eksis di bumi? Apakah dia sejenis makhluk gagal? Tapi aku tahu Tuhan, kau tak mungkin gagal karena aku adalah kesempurnaan. Lantas dia apa? Tolong jawab aku Tuhan.

Kucoba menenangkan diri, meledak di pagi hari tidak baik untuk kecantikanku. Bagaimana kalau hari ini aku ditakdirkan bertemu dengan Kris Wu dan tiba-tiba saja muncul kerutan di wajahku? Itu tidak boleh terjadi.

"Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah kau ingin mengantarku ke rumah?"tanyaku setelah mulai tenang.

"Kau pikir aku sasaeng? Mana aku tahu alamat rumahmu, dan asal tahu saja kau tidur sudah seperti orang mati,"

"Kenapa tidak menghubungi Luhan atau Sehun untuk bertanya?"

"Sudah kulakukan tapi ponsel keduanya tidak bisa dihubungi, entah apa yang sedang mereka lakukan malam-malam sampai harus mematikan ponsel," jawabnya setengah menggerutu.

Kulihat jam waker yang ada di samping tempat tidur Chanyeol, waktu menunjukan pukul setengah tujuh, tak akan sempat kalau aku kembali ke apartemen untuk mengganti baju dan sebagainya. Kuputuskan untuk menghubungi Luhan, siapa tahu ponselnya sudah bisa dihubungi, aku akan ikut mandi dan meminjam pakaiannya.

"Yeobeoseyo," jawab Luhan di seberang sana,jangan bernyanyi lagu Adele.

"Lu, apa kau ada di apartemenmu?"

"Tentu saja, museum iriya?"

"Aku ke situ sebentar lagi, aku ikut mandi dan pinjam bajumu, ok,"

Tanpa memberi waktu Luhan untuk menjawab, langsung kuputus sambungan telpon tersebut. Aku malas kalau harus diberondong banyak pertanyaan di telpon. Dan yang pasti, ketika sampai di apartemen Luhan pertanyaan itu akan semakin beranak bercucu jadi memutusnya adalah pilihan paling bijak. Apabila kalian punya teman yang cukup kepo, pakailah trik tersebut, jangan lupa cantumkan credit bahwa tips itu berasal dariku. Tapi itu hanya berlaku bagi teman terdekat, jangan sekali-sekali kau pakai kepada atasan di tempatmu bekerja, atau surat pemberhentian secara paksa sudah tergeletak indah di mejamu.

"Eodi ga?"

"Luhan jip," jawabku, entah mulai kapan aku mulai terbiasa memakai banmal padanya. Mungkin karena aku kekasihnya, apa? Apa yang barusan aku pikirkan? Sampai kapanpun aku tak akan mau mengakui dia kekasihku,sepertinya tidur di tempatnya berpengaruh buruk pada kesehatan otakku.

Sesampainya di depan apartemen Luhan, langsung kutekan bel. Aku tak terkejut ketika yang membukakan pintu adalah Sehun, apartemen Luhan sudah menjadi rumah utama baginya, dia bahkan jarang pulang ke rumahnya sendiri.

"Luhan eodi?" tanyaku pada Sehun.

"Bangeseo, sedang mencarikan baju untukmu,"

Tumben sekali Luhan mencarikan bajunya untukku, biasanya dia akan asal tarik baju karena ukuran tubuh kami memang tidak terlalu jauh, bedanya aku lebih sexy darinya. Hey, jangan protes!

"Baiklah, aku akan menyusulnya,"

"Noona andwae, andwaeyo!" Larangnya ketika aku akan memasuki kamar Luhan, "Biar Luhan saja yang mencari, Noona lebih baik mandi nanti Luhan akan langsung memberi bajunya untukmu,"

"Wae? Wae andwae? Kalian menyembunyikan sesuatu?" tanyaku curiga.

"Aniyo, eobseoyo, jinjja eobseoyo. Noona mandi saja, gaja kita mandi, Noona harus mandi," jawabnya sambil menyeretku ke kamar mandi, makin mencurigakan.

.

Duapuluh menit berlalu dari aku mulai memasuki kamar mandi dan bersiap, saat ini kami (aku, Luhan dan Sehun) sedang sarapan, masih dengan toast dan selai strawberry. Aku terus memicingkan mata pada sepasang manusia di depanku. Aku masih penasaran dengan apa yang sedang mereka sembunyikan, asal kalian tahu saja mereka sedang merancang bom nuklirpun bukan hal yang mustahil apabila yang mendalanginya mereka berdua. Tak salah banyak yang menobatkan mereka sebagai pasangan paling kompak di kantor, karena tidak dalam hal pekerjaan saja, hal paling gilapun mereka pasti sangat kompak, temasuk menjodohkanku dengan Chanyeol.

"Bisakah berhenti melihat kami seperti itu? Neomu museoweo," perkataan Luhan memecah keheningan mencengkam di dapur apartemen Luhan.

"Kalian sedang menyembunyikan apa dariku?" masih memicingkan mata, mencoba mengintimidasi mereka dengan tatapanku, walau aku tahu itu gagal karena keminimalisan mataku.

"Eobseoyo," tanggap Sehun.

"Kau pikir aku percaya? Haruskah kuingatkan bahwa kalian pasangan teraneh yang pernah kutemui?"

"Benar tak ada yang sedang kami sembunyikan," jawab Luhan, "Harusnya aku yang bertanya, kau dari mana? Kenapa datang sangat pagi?"

"Geugeo," kujeda beberapa saat perkataanku, haruskah kujawab jujur? "Ya! Kenapa jadi membalikan pertanyaanku?"

"Kau yakin ingin mengetahui apa yang sedang kusembunyikan?" tantang Luhan, "Geurae, aku akan bercerita tapi kau juga harus bercerita," lanjutnya.

"khol, karena aku yang pertama bertanya, jadi kalian harus menjawab pertanyaanku lebih dulu," balasku, tiba-tiba kulihat seringaian Sehun dan juga Luhan merekah.

"Luhan tadi sedang membereskan 'jejak' kami tadi malam," jawab Sehun enteng tak lupa jari-jarinya membentuk tanda petik pada kata jejak.

Seketika aku malu sendiri pada jawaban Sehun, kenapa mereka seringan itu menceritakan hal pribadi? Pantas saja Chanyeol tidak bisa menghubungi mereka, ternyata memang tak mungkin diganggu. Rasanya pipiku memerah, dan seringaian mereka berdua semakin jelas.

"Kenapa menceritakan hal pribadi seperti itu padaku?"

"Bukankah kau yang bertanya?" jawab Luhan, "Sekarang giliranmu untuk menjawab pertanyaanku tadi,"

"Semalam aku menginap di apartemen Chanyeol," jawabku lirih.

"MWO?" Tanya keduanya kompak.

"Aku tahu kalian mendengarnya, jangan membuat aku mengulanginya, itu sangat menyebalkan menyebut namanya secara berulang,"

"Daebak, baru kemarin aku menyatakan kalian sebagai kekasih dan semalam kalian telah bersama? Chanyeol-Hyung jinjja daebak, aku saja berani mengajak Luhan tidur setelah kami berpacaran selama dua minggu,"

"Ya Byeontae! Bersihkan isi kepalamu Oh Sehun, aku belum selesai bercerita jadi jangan menyimpulkan seenaknya," jawabku sambil melempar potongan roti pada Sehun.

"Jadi apa yang kalian semalam lakukan? Cepat ceritakan padaku, aku penasaran dengan detailnya," selain gila, aku baru tahu ternyata mereka byeontae couple.

"Ini gara-gara kalian juga, seandainya kalian tidak mematikan handphone, aku tak mungkin berakhir di tempatnya,"

Dan seterusnya mengalirlah cerita kejadian semalam hingga tadi pagi. Beberapa jam yang menurutku bisa menjadi proses transfer virus berbahaya. Tentu saja berbahaya kalau kau terlalu lama diam di sarang virus itu sendiri.

"Kau yakin kalian tak melakukan sesuatu? Coba kau cek ulang, siapa tahu Chanyeol meninggalkan sebuah jejak," Tanya Luhan ketika aku selesai bercerita.

"Thanks to God, I was safe,"

"Sebagai namja berpengalaman, aku menyangsikan itu. Kalau kalian tidur satu ranjang tak mungkin Chanyeol-Hyung tak melakukan apapun, kecuali dia 'melenceng'. Tapi aku bersumpah pernah melihatnya membuka majalah penuh dengan wanita berbikini, jadi dia pasti normal,"

"Kalian tidur di ranjang yang sama atau terpisah?" Tanya Luhan Kemudian.

Aku diam tak menjawab karena akupun tak tahu, tadi pagi aku terbangun ketika Chanyeol selesai mandi jadi aku tak tahu dia tidur di mana dan bodohnya aku tak menanyakan itu.

"Molla, aku langsung pergi ke sini tanpa sempat bertanya,"

"Kau memang harus menanyakannya, aku yakin Chanyeol-Hyung bukan namja yang bisa bersabar apalagi ada perempuan di dekatnya,"

"Tapi dia berkata kalau aku bukan tipenya, dan dia juga bilang kami tak melakukan apapun," bantahku pada kalimat provokasi Sehun.

"Itu tak menjamin apapun, Baek. Apakah kau pikir namja membayar yeoja karena yeoja itu tipenya? Tentu saja tidak, karena yeoja itu bersedia menemaninya. Kalau tipenya, sudah pasti tidak ada orang jomblo di dunia ini, karena setiap bertemu tipenya akan langsung dibayar dan menjadi kekasihnya," ini analisis ngaco dari Luhan.

"Kalian hanya membuatku makin pusing, sudahlah ayo kita berangkat,"

.

Sesampainya di kantor, aku teringat bahwa hari ini kami mempunyai meeting untuk membahas tema majalah edisi depan. Bukan hanya aku, tapi aku rasa semua orang membenci meeting di kantorku ini. Bukan karena meeting membosankan, tapi kami semua tahu hasilnya akan deadlock apabila meeting tersebut didatangi olehku dan Chanyeol.

Aku tak tahu bagaimana tapi tiba-tiba saja Hoijangnim menyuruhku dan Chanyeol datang bersama, karena setiap bulan biasanya kami akan datang secara bergantian. Itu adalah salah satu alasan kenapankami disebut sebagai Orion dan Scorpius, karena Zeusnya adalah Hoijangnim, dialah yang membuat keputusan untuk memisahkan kami.

Kumasuki ruangan tempat perancangan masa depan kantorku ini, di dalam sudah ada beberapa orang yang menyiapkan materi untuk dipresentasikan dan ternyata Chanyeol juga sudah ada. Dia sedang entah membicarakan apa dengan Minho karena mereka terkikik-kikik tak jelas di meja paling ujung. Kupilih kursi yang paling dekat dengan hoijangnim, setidaknya ini bisa meminimalisir kejahilan Chanyeol padaku.

Orang-orang mulai berdatangan termasuk hoijangnim, walaupun dia satu-satunya yang berkepala empat, tapi semangatnya tak kalah dengan kami yang jauh lebih muda darinya. Selain itu, dia orang yang hangat dan tak pernah menyepelekan hasil kerja keras orang yang berkerja untuknya, itu salah satu alasan aku betah bekerja di EXO Magz.

"Apakah semuanya telah datang?" tanyanya pada kami semua, menandakan pertemuan ini akan segera dimulai.

"Ne Hoijangnim," jawab kami serempak.

"Joha," tanggapnya sambil menelisik sekali lagi pada hadirin yang ada, senyuman tak pernah luntur dari bibirnya, "Ada pemandangan baru mulai sekarang, kalian tak akan menemukan Orion dan Scorpius berjauhan lagi karena aku berencana membuat mereka berkerja sama, bukankan sudah terlalu lama mereka bersi tegang? Mereka memiliki ide-ide cemerlang untuk kemajuan majalah kita, dan akan semakin cemerlang apabila disatukan,"

Ada apa dengan orang-orang di sekitarku? Kenapa semuanya sangat ingin melihatku dan Chanyeol berbaikan? Tidakkah itu terlihat mustahil? Seolah semuanya sedang bersekongkol, tidak hanya Sehun dan Luhan, tapi juga Hoijangnim. Dan bagai pikiranku itu nyata, Sehun dan Luhan terkikik pelan di kursinya masing-masing.

"Baekhyun-ah, bagaimana tanggapamu pada rencanaku?" Tanya Hoijangnim padaku.

"Aku rasa itu sebuah rencana yang mustahil, aku tak pernah berpikir bisa sejalan dengan Chanyeol," jawabku ragu, tentu saja aku ragu karena mereka tak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Permusuhan abadiku dengan Chanyeol hanya kami berdua yang bisa memahaminya.

"Chanyeol-ah, eotteyo?" tanyanya kamudian pada Chanyeol.

"Johseumnida, sepertinya akan menyenangkan bisa bekerja sama dengan kekasihku sendiri," jawabnya enteng tanpa melihat reaksi sekitar.

Reaksi semua orang di ruangan ini hamper sama –kecuali Sehun dan Luhan, bahkan aku sendiri ikut terkejut dengan pernyataannya. Bagaimana mungkin dia mengatakan aku kekasihnya di semua orang? Ini bahkan lebih buruk dari memasang berita di majalah, terlebih ada Hoijangnim yang ikut mendengar pengumuman tak langsung darinya.

Ingin rasanya aku menenggelamkan diri pada pasir hisap ketika semua orang mengalihkan pandangan dari Chanyeol padaku, mata mereka seolah menunjukan pertanyaan yang sama 'Bagaimana kau bisa berpacaran dengan Chanyeol?'

.

.

.

_TBC_

.

Yey Vega balik lagi, gak apa-apa kok kalo gak adayang ngeharepin balik juga hahaha. Makasih buat yang udah baca, Follow atau favoritein fic ini, walau reviewnya dikit tapi aku seneng masih ada yang ngehargain karya aku, sekali lagi makasih banget.

Btw ada yang pake akun naver? Ada yang punya pengalaman emailnya kena suspend? Kebetulan email akun ini aku simpen di naver tapi akun naver-nya kena suspend jadi email utama Vega dikorbanin buat back up email dari FFN T.T

Kalo ada yang punya pengalaman email navernya kena suspend dan bisa dibalikin please banget hubungin aku, Vega udah nanya-nanya ke temen Vega yang orang korea tapi dia juga gak ngerti. Udah keriting banget tiap hari liat hangul buat ngutak-ngatik email itu.

Oke itu curhatan aja, tapi beneran minta tolong kalau ada yang bisa bantuin. Dan tetep akhir kata buat minta read sama reviewnya ^^