Somewhen, Somewhere, Some Dreamers...
Rating: T, hampir M
Pairing: Levi x Hanji, Eren x Mikasa
Disclaimer: not owned
Note: akan ada Lime di beberapa chapter tapi tidak vulgar.
.
Chapter 3: Dream Chaser
Berita tentang pertunangan Hanji dan Levi tersebar sama cepatnya dengan jamur yang tumbuh di musim hujan. Para prajurit baru yang berada di bawah komando keduanya tidak bisa berhenti membicarakan berita yang mengejutkan ini. Mereka akan berkumpul di ruang makan saat makan malam dan membicarakan berbagai macam kemungkinan tentang berita tersebut. Ada begitu banyak spekulasi yang beredar di antara mereka.
Rumor tentang hubungan Levi dan Petra telah lebih dulu tersebar dan kini tersebar kabar bahwa hubungan Levi dan Hanji hanyalah upaya Levi untuk melupakan kematian Petra. Ada berbagai macam tanggapan tentang teori ini tentu saja.
"Aku tidak merasa Kopral Levi seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan ia memiliki perasaan sentimentil seperti itu terhadap Petra." Mikasa berkata tanpa ekspresi, tangannya menyobek roti di tangannya sebelum menyuapkannya ke mulutnya sendiri.
Eren yang duduk di sebelahnya menganggukan kepalanya. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Prajurit muda itu merupakan salah satu dari sedikit yang tidak percaya tentang rumor kedekatan Levi dengan Petra, atau dengan siapa pun. "Menurutku dia terlalu dingin untuk menjalin hubungan dengan siapa pun." Dahi pemuda berambut coklat gelap itu berkerut, "lagi pula siapa yang cukup bodoh untuk menjalin hubungan seperti itu di tengah peperangan seperti saat ini?"
Jean ingin meninju Eren yang tampak tidak menyadari tatapan Mikasa yang tertuju ke arahnya. "Levi juga manusia biasa. Pria normal." Jean menekankan pada kata normal sambil menatap tajam ke arah Eren yang menyantap supnya dengan tenang, tidak menyadari tatapan kesal Jean ke arahnya, "justru ini adalah saat yang paling tepat untuk menjalin hubungan seperti itu." Kali ini ia melirik ke arah Mikasa, "kita tidak tahu kapan keadaan akan menjadi gawat. Kita perlu menikmati hidup selagi bisa. Mungkin Kopral menyadarinya, bahwa dibanding hidup mengenang seseorang yang tidak akan kembali, lebih baik bersama dengan seseorang yang membalas perasaannya..."
Bila Mikasa mengerti maksud yang tersirat dalam kata-kata pemuda yang duduk di hadapannya itu, ia tidak menunjukannya sama sekali dan Jean merasa sedikit kecewa melihat ekspresi tenang di wajah Mikasa.
"Menurutku, sejak awal mereka berdua cukup serasi," Armin yang masih memandangi supnya mengutarakan pendapatnya. Semua orang di meja itu, kecuali mungkin Eren, menyadari bahwa Armin memiliki perasaan yang menyerupai ketertarikan terhadap lawan jenis pada Hanji Zoe, namun mereka tidak mengatakan apa-apa saat prajurit bertubuh mungil itu melanjutkan kata-katanya, "cara mereka berkomunikasi itu berbeda dari kita semua. Lagi pula mereka telah lama bersama. Seandainya pun gosip mengenai Kopral dan Petra benar, aku yakin, Petra lah yang menjadi orang ketiga di antara mereka."
"Aku tetap tidak bisa membayangkan Petra sebagai orang ketiga," kata Mikasa tenang, malam ini sepertinya ia lebih banyak bicara dari biasanya, "tidak ada cinta segitiga di antara mereka."
Armin tersenyum kepada teman masa kecilnya itu, "kau terdengar yakin, Mikasa."
Gadis berwajah oriental itu hanya mengangkat kedua bahunya.
"Aku rasa Levi dan Hanji sangat serasi," Sascha yang baru saja menghabiskan ubi rebus yang dicurinya dari dapur ikut bicara, "Levi akan menjadi pengantin wanita yang sangat imut..."
Tawa meledak di meja itu, bahkan Mikasa tersenyum sekilas membayangkan sosok Levi dalam balutan baju pengantin dan Hanji dengan jas berekor. Dengan perbedaan tinggi badan sebanyak sepuluh senti lebih, Levi akan terlihat semakin kecil saat berdiri di sebelah Hanji yang bertubuh jangkung.
"Oh aku bisa membayangkannya," Connie terkekeh membayangkan sang Kopral membersihkan seisi rumah sementara Hanji sibuk dengan kertas-kertas laporan penelitiannya seputar titan. Anehnya, membayangkan Levi mengenakan celemek tidaklah sulit mengingat prajurit terbaik itu sangat gila kebersihan.
.
Sebagai seorang prajurit terlatih yang sudah membunuh begitu banyak titan baik seorang diri maupun dalam tim, ada banyak hal yang Levi bisa banggakan dari dirinya sendiri, termasuk pendengarannya yang lebih tajam dari orang kebanyakan. Kupingnya berkedut setiap kali ia mendengar namanya disebut dalam percakapan di antara para prajurit muda yang tengah menyantap makan malam mereka itu. Ia duduk beberapa meja dari orang-orang itu namun ia dapat mendengar dengan jelas semua yang mereka katakan. Levi bersumpah bahwa saat latihan fisik besok pagi, mereka semua akan menyesal telah membicarakan kehidupan pribadinya dan menjadikannya sebagai bahan lelucon malam ini. Levi mungkin terlihat tenang namun sebenarnya ia adalah tipe yang mudah menyimpan dendam.
Sayangnya, Levi bukanlah satu-satunya prajurit dengan telinga terlatih di ruangan itu. Erwin Smith, prajurit yang membunuh titan hampir sama banyak dengan Levi, juga dapat mendengar dengan jelas semua pembicaraan yang berlangsung di meja tempat Eren Yeager. Kalau saja pria berambut hitam itu tidak mengenal Erwin dengan baik, ia akan menyangka bahwa kedutan kecil di sudut bibir Erwin adalah pertanda bahwa pria bertubuh tinggi itu berusaha menahan senyum. Untungnya, Levi tahu bahwa Erwin. Terlalu serius untuk menanggapi lelucon konyol yang dilontarkan para prajurit muda itu.
Namun sayangnya Erwin ternyata menganggap bahwa topik pembicaraan itu cukup menarik atau penting untuk dibicarakan.
"Jadi," suara berat Erwin membuat Levi mengerutkan dahi, "mereka masih belum tahu tentang rencana pernikahan kalian."
Levi menghela napas, piring di hadapannya masih setengah penuh namun ia telah kehilangan napsu makannya. Sayangnya, sebagai seorang prajurit yang hidup di masa perang seperti saat ini, ia dididik untuk tidak menyia-nyiakan makanan.
"Itu bukan berita penting. Kalau sudah waktunya mereka akan tahu sendiri," Levi menusuk potongan wortelnya dan memandangnya dengan tatapan jijik sebelum memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya.
"Mereka akan terkejut mendengarnya."
Levi mengangkat bahunya seolah itu bukanlah topik yang menarik, "mereka akan terbiasa."
"Tentu saja," Erwin mengangguk, wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun meskipun fakta bahwa ia meneruskan pembicaraan ini adalah bukti bahwa ia cukup tertarik dengan masalah ini, "bahkan para petinggi pun terkejut mengetahui kabar ini. Beruntung bahwa baik kau atau Hanji Zoe adalah prajurit yang sangat berharga untuk umat manusia saat ini sehingga kalian berdua bisa lolos dari hukuman dengan mudah."
Levi paham apa yang Erwin maksud. Meskipun menjalin hubungan, atau bahkan menikah, dengan sesama prajurit tidaklah dilarang namun apa yang telah Levi dan Hanji lakukan telah melanggar disiplin yang diterapkan. Kehamilan Hanji tentu saja akan menghalangi Hanji untuk bekerja secara optimal dalam misi-misi mereka dan ini bisa dibilang sebagai suatu kehilangan yang cukup besar bagi mereka. Namun demikian, seperti yang telah Erwin katakan, baik Levi maupun Hanji adalah dua prajurit yang sangat berharga sehingga mereka bisa lolos dengan mudah, meski pun sebagai gantinya mereka harus tetap merahasiakan kehamilan Hanji Zoe sampai pernikahan mereka untuk menghindari skandal yang bisa membuat posisi militer menjadi lebih buruk lagi mengingat bagaimana pihak pemuka agama telah terus berusaha menjatuhkan mereka terutama sejak kasus Eren Yeager.
Levi menggigit potongan terakhir kentang rebusnya tanpa berkata apa-apa lagi. Ia masih mendengar Jean berceloteh tentang bagaimana hubungan sang kopral dan sang ilmuwan menurut analisisnya. Dahi Levi berkerut dalam saat seseorang menepuk punggungnya.
"Whoa, kalian sudah selesai?" Hanji Zoe duduk di sebelah Levi dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Wanita berambut coklat itu meletakan piring berisi makan malam di atas meja.
Erwin mengangguk sopan kepada Hanji sambil beranjak berdiri, "aku sudah selesai. Sebaiknya aku meninggalkan kalian berdua, siapa tahu ada yang ingin kalian bicarakan."
"Eh, kenapa?" Petra menatap Erwin yang berjalan meninggalkan meja itu dengan bingung, lalu ia menoleh ke arah Levi yang duduk di sebelahnya dan menyeringai, "Erwin memang aneh, ya."
Levi memutar bola matanya, "kau tidak berhak berkata seperti itu tentang orang lain."
Pendengaran Levi yang tajam menangkap bisik-bisik dari beberapa meja yang tidak jauh darinya. Anak-anak itu harus belajar untuk tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Levi mencoba untuk tidak mengacuhkan segala macam bisik-bisik yang didengarnya. Ia menatap Hanji yang menusuk-nusuk wortelnya sebelum akhirnya memakannya. Tidak biasanya ia melihat seorang Hanji Zoe bermain-main dengan makanannya.
"Kau terlambat untuk makan malam, apa yang kau lakukan?" Hanya dengan melihatnya sekilas Levi dapat menyadari bahwa wanita berkacamata itu sedang tidak lapar. Hanji biasanya selalu lahap memakan makan malamnya.
"Aku membaca buku dan menulis laporan," gumam Hanji sambil lagi-lagi menusuk-nusuk makanannya tanpa minat, "aku keasyikan dan tanpa sadar sudah jam makan malam."
"Jangan bilang kau juga tidak makan siang."
Hanji menoleh ke arah Levi dan menyipitkan matanya dengan curiga, "bagaimana kau bisa tahu?"
Levi memijit pangkal hidungnya, "apa kau sadar dengan kondisimu saat ini?"
Hanji mengerjapkan matanya, "tentu saja."
"Bagus, jadi sekarang habiskan makanan di piringmu itu." Gumam Levi kesal, tadinya ia berniat untuk pergi meninggalkan ruangan itu tapi ia tahu bahwa kalau ia tidak tinggal untuk mengawasinya, wanita eksentrik itu tidak akan menghabiskan makanannya.
"Tapi aku tidak lapar!" Protes Hanji sambil mengigit potongan kentangnya, "dan aku mengantuk."
Levi menghela napas panjang. Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan bisik-bisik di sekelilingnya. Ia menyambar piring Hanji dengan sebelah tangan dan sebelah tangannya lagi menyambar pergelangan tangan wanita itu dan menariknya untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Ia bisa mendengar kehebohan yang terjadi.
.
Tadinya Hanji mengira bahwa Levi akan membawanya ke kamarnya yang terletak di ujung koridor, di luar dugaan, Levi membawanya ke kamar pria itu di lantai dua. Hanji duduk di tepi tempat tidur sambil mengawasi Levi menutup pintu kamarnya dengan sebelah tangan sebelum berjalan ke arah Hanji dan meletakan piring berisi makan malamnya ke meja di sebelah tempat tidurnya.
"Makan."
Satu kata yang terdengar jelas seperti sebuah perintah itu membuat Hanji mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak suka diperintah, terutama tidak saat mereka berada di kamar tidur.
"Lupakan soal makan," Hanji menyeringai, "bagaimana kalau kita melakukan hal lain?"
Hanji tidak sempat melakukan apa-apa saat Levi menggunakan sebelah tangan dan membuka paksa mulut wanita berkacamata itu dan memasukan sepotong besar kentang ke dalam mulut hanji yang sedikit tersedak namun akhirnya mengunyahnya saat Levi menarik tangannya. Levi mengawasi Hanji, yang matanya sedikit berair, menelan kentang yang dikunyahnya.
"Kita tidak akan melakukan apa-apa sampai kau menghabiskan makan malammu." Levi menusuk potongan sayur di piring. Hanji mengerutkan dahi. Tadi itu berbahaya sekali, bisa saja Levi tidak sengaja melukainya dengan garpu itu.
"Aku tidak lapar."
"Aku tidak peduli padamu," kata Levi dingin, "aku hanya peduli pada bayiku. Sekarang buka mulutmu dan makan."
Tentu saja itu bukan kata-kata yang Hanji pikir akan didengarnya dari Levi. Tapi rupanya, Levi sendiri tidak menyadari makna tersembunyi dari kata-katanya itu dan Hanji tidak berniat untuk membuat Levi menyadarinya sebab kalau mengingat sifat Levi selama ini, hampir bisa dipastikan bahwa pria itu akan langsung menyangkal semua yang baru saja ia katakan.
Hanji pun menurut dan membuka mulutnya lebar-lebar dan membiarkan Levi, yang masih tampak kesal seperti biasanya, menyuapinya makan malamnya. Hanji mengunyah makan malamnya sambil menahan senyum mengingat mungkin ia adalah satu-satunya orang yang pernah diperlakukan Levi seperti ini dan ia pun merasa istimewa. Mungkin Levi tidak menyadari tindakannya sendiri namun Hanji tidak keberatan. Ia menikmati sikap Levi saat ini meskipun mungkin ia tidak bermaksud seperti itu.
Hanji tidak berbohong saat berkata bahwa ia tidak lapar malam itu namun ia tidak merasa keberatan untuk membuka mulutnya dan makan saat Levi menyuapinya. Dalam hati ia berharap agar Levi tidak berhenti menyuapinya sampai makanan di piringnya habis. Bahkan Hanji sengaja mengunyah lama-lama untuk memperpanjang kebersamaan mereka sambil berharap agar Levi tidak menyadarinya.
"Kau makan cukup banyak untuk orang yang tidak lapar," cemooh Levi sambil melihat piring kosong di tangannya.
Sebenarnya Hanji ingin berkata bahwa itu karena Levi menyuapinya namun ia tahu Levi tidak akan suka mendengarnya, jadi alih-alih mengatakannya, Hanji hanya menyeringai.
Mungkin Levi tidak menyadarinya namun Hanji perlahan-lahan telah berhasil menembus dinding yang melindungi hatinya.
Atau paling tidak Hanji harap seperti itu.
.
Author's Note:
Update cepat, karena aku jatuh cinta pada pairing ini. Yey. Aku sedang menyelesaikan kostum Leviku dan berencana untuk melakukan photoshoot Levi x Hanji untuk cover fic ini tapi partnerku sedang sibuk. :(
Dan ah, karena aku cuma online lewat hape belakangan ini (termasuk menulis fic ini), review tidak terbalas... :(
Untuk ngobrol, boleh mampir ke fb saya a.n Reshika Takegami atau twitter saya dgn ID (a)Renxx15
