Naruto milik Masashi Kishimoto

AU

Untuk para manusia yang galau karena skripsi dan tunawisuda di luar sana

Enjoy!


SKRIPSWEET

Chapter 3: Crazy things i did, i do, and will do, for love...

Semuanya tidak datang secara tiba-tiba begitu saja. Perlahan-lahan cinta memainkan jaring-jaringnya yang tidak kasat mata dan mengikat Sasuke kuat-kuat di tengah pusaranya. Berawal dari secret glances, rasa tidak percaya ketika pertama kali melihat gadis dengan warna rambut yang sewarna dengan gulali, mata hijau emeraldnya yang terlihat berkilauan. Belum lagi saat itu si gadis musim semi mengenakan kemeja berwarna merah yang menyala dan rok yang berwarna hitam selutut. Rasa tidak percaya bagaimana bisa seorang gadis terlihat begitu penuh warna, tetapi tetap terlihat lembut disaat yang bersamaan.

Namun curi-curi pandang yang suka diam-diam dilakukan Sasuke malah menimbulkan rasa penasaran. Rasa penasaran apakah gadis ini benar-benar berwarna seperti penampilan fisiknya. Rasa penasaran itulah yang membuat matanya selalu mencari sosok itu di tengah keramaian sekalipun, seolah sosok itu adalah magnet yang menarik matanya untuk selalu menatap sosok tersebut. Semakin sering mata Sasuke memperhatikan sosok si gadis musim semi semakin besar pula kekaguman yang timbul.

Matanya yang semakin menyipit ketika tersenyum.

Tawa lepasnya that sounds like a chime.

Pipinya yang bersemu diiringi tawa kecil dengan tangan yang menutupi wajahnya ketika dia merasa malu.

Her heart

Bagaimana setiap hari dia akan menyapa, bukan saja teman-teman seangkatan, tapi juga dosen-dosen dan karyawan sekalipun, dengan semangat dan senyumannya.

Bagaimana dia akan mengambil jalan memutar ketika salah satu karyawan sedang membersihkan lantai yang akan dia lalui.

Bagaimana dia diam-diam keluar dari ruangan ketika kelasnya sedang belajar Skill Lab dengan menonton video Asuhan Persalinan Normal (video melahirkan yang dilakukan dengan prosedur pertolongan yang benar), dan menelpon ibunya di tempat yang agak tersembunyi yaitu dibawah tangga darurat. Sasuke yang memang suka menyendiri kebetulan sedang membaca buku di tangga darurat tersebut dan dapat mendengar Sakura yang berbicara "… Sakura sayang ibu," yang kemudian sambil tertawa Sakura kembali berbicara, "Engga bu, Sakura ga bikin ulah, beneran!"

Her mischief…

Pernah di suatu siang ketika Sasuke tidak ada jadwal mengajar dan dia memutuskan untuk menghabiskan waktu bebasnya di perpustakaan. Perpustakaan siang itu sepi, hanya ada si Librarian yang sibuk dengan pekerjaannya di mejanya. Namun ternyata dari salah satu rak buku sesosok berkepala merah muda muncul, dengan sebuah buku yang sangat tebal di tangannya, buku Bates: Guide to Physical Examination and History Taking. Buku tentang pemeriksaan fisik yang sangat tebal yang sudah dihafalkan Sasuke di semester ke-3 nya saat kuliah dulu. Buku yang sangat bagus sebenarnya, tapi kurang diminati mahasiswa karena belum ada versi terjemahannya, yang ada masih edisi asli berbahasa Inggris.

Sasuke yang duduk di meja tidak jauh dari meja si penjaga perpus itu dapat mendengar dengan jelas percakapan keduanya.

"Om…" panggil Sakura. Baru kali ini Sasuke mendengar bapak penjaga perpus ini dipanggil om oleh mahasiswa, kelihatannya Sakura memang cukup akrab dengan si penjaga perpus.

"Apalagi Sakura? Kalau kamu mau pinjem bawa pulang buku itu lagi, kamu udah tau kan jawabannya."

"Yaah om, kemaren boleh masa sekarang ga boleh sih?" Sakura mulai memasang tampang memelasnya. Si penjaga perpus pun hanya menghela nafasnya panjang dan memandangi kepala pink tersebut. "Justru itu, kamu keseringan pinjem. Buku itu cuma ada satu disini, makanya ga boleh di bawa pulang. Ini aja kalau ketauan saya suka ngizinin kamu bawa pulang saya bisa dimarahi."

"Tapi om, besok pagi-pagi banget aku balikin pasti! Tanpa ada lecet sedikitpun deh di bukunya. Yayayah? Nanti kalau aku udah skripsian nama om aku tulis di ucapan terimakasihnya deh, okee… okeee?" rayu Sakura. Bukan hanya dengan tampang memelas, sekarang Sakura mulai mengeluarkan jurus puppy eyes andalannya. Berharap si penjaga perpus dapat luruh.

Melihat si penjaga perpus hanya diam saja dan kembali sibuk dengan komputer di hadapannya, Sakura kembali mengeluarkan rayuannya, "Ayo dong om, masa ga boleh sih? Ini rahasia kita aja deh, engga aku kasih tau siapa-siapa kok."

"Rahasia apanya Sakura, itu Uchiha-sensei aja bisa dengerin dari tadi kamu minta bawa pulang buku itu." Jawab si penjaga perpus. Mendengar namanya disebut membuat Sasuke secara refleks melihat kearah keduanya, dan Sakura pun jadi ikutan memandangi senseinya tersebut. "Sensei ga denger apa-apa kan yaa sensei?" dengan senyum lebarnya Sakura berkata, bahkan diiringi dengan kedipan sebelah matanya.

Sasuke pun hanya mengangguk dan kembali pura-pura tenggelam membaca. Kata-kata yang tertera di buku yang dipegangnya tidak terbaca sama sekali karena Sasuke sibuk meredam detak jantungnya yang tiba-tiba saja meningkat tanpa alasan yang jelas.

"Tuh om, Uchiha-sensei ga denger apa-apa kok. Boleh yaa om yaa? Nanti kalau ketauan yaa om tinggal bilang aja kalau aku yang maksa minjem, gampang kan?" Akhirnya Sakura pun dibolehkan meminjam buku tersebut. Sambil bersenandung riang dan memeluk buku yang kelewat besar itu Sakura pun keluar dari perpustakaan.

Her passion

Hari ini hari pertama Sasuke akan mengajar skill lab (keterampilan klinis, seperti menyuntik, pasang kateter, pemeriksaan fisik dll). Setiap satu dokter akan bertanggung jawab terhadap satu kelompok untuk mengajarkan satu keterampilan. Keterampilan yang akan Sasuke ajarkan hari ini adalah punksi vena, yaitu pengambilan darah dari pembuluh darah vena dengan suntikan.

Begitu Sasuke memasuki ruang skill lab sesosok kepala pink langsung menyorot perhatiannya. Tanpa dapat dicegah, jantungnya berdetak makin cepat. Entah kenapa laju detak jantungnya makin tidak dapat dikontrol dengan makin seringnya mata Sasuke merekam sosok gadis itu. Sosok kepala pink yang duduk di pojok ruangan, yang tengah fokus menghafal buku panduan skill lab di tangannya. Sebelum memulai skill lab biasanya akan diadakan pretest, karena itulah mahasiswa biasanya akan menghafal mati-matian isi buku panduannya. Seperti yang dilakukan Sakura yang terlihat seperti komat-kamit padahal dia tengah menghafal indikasi dan kontraindikasi dari prosedur injeksi.

Saat mengawas pretest pun Sasuke tetap memperhatikan Sakura dari sudut matanya. Bagaimana dia serius menuliskan jawaban di kertas jawabannya, atau saat teman yang duduk di sebelahnya, si rambut coklat dengan tato segitiga di pipinya (seriously, itu tato atau tanda lahir atau cuma coret-coret iseng, only God knows. Dan only God knows, kenapa dia selalu lolos dari komisi disiplin) sibuk menyikut-nyikut Sakura tanda minta contekan dan Sakura langsung menggeser kertas jawabannya agar dapat diintip teman di sebelahnya. Sasuke yang biasanya galak dan tegas pun tidak sampai hati untuk menegur si kepala pink yang memberi contekan tersebut. Somehow, he can't get angry to that angelic face.

Bahkan ketika Sasuke mulai menjelaskan tentang prosedur injeksi dan punksi vena perhatiannya selalu tertuju ke sosok gadis musim semi tersebut. Bagaimana dia dengan seriusnya mendengarkan penjelasan sambil mencatat, bagaimana keningnya akan berkerut ketika ada penjelasan yang tidak dia mengerti, bagaimana dia menggigit bibir bagian bawahnya ketika dia berkonsentrasi menyuntik manekin (manekin yang dibuat menyerupai lengan manusia asli, dengan selang yang berisi cairan yang menyerupai pembuluh darah, jadi ketika dilakukan punksi vena akan keluar cairan yang menyerupai darah sungguhan) dan bagaimana dia langsung tersenyum lega ketika suntikannya berhasil mencapai pembuluh darah dan dapat melakukan punksi venanya dengan benar.

Semua hal-hal kecil yang tidak luput dari pengamatan Sasuke itulah yang membuat Sasuke semakin tidak dapat mengalihkan pandangannya. Every little thing that makes him falls deeper and harder.

Yang membuat Sasuke sadar akan perasaannya pada Sakura adalah ketika skill lab hari itu sudah selesai dan Sasuke kembali ke ruang skill lab karena buku absen dosennya tertinggal di sana dan disanalah dia melihat Sakura masih dengan tekunnya melatih punksi vena-nya. Padahal teman-temannya yang lain sudah lebih dari sejam yang lalu meninggalkan kampus karena memang sudah tidak ada jadwal kuliah lagi hari ini.

Sakura yang begitu serius dengan suntikan ditangannya pun tidak menyadari keberadaan Sasuke yang dari tadi memandanginya dari pintu. "Sakura? Kamu kok belum pulang?" panggil Sasuke akhirnya. "Sensei?! Sensei bikin aku kaget saja!" jawab Sakura sambil mengelus dadanya karena kaget tiba-tiba ada yang mengajaknya bicara di tengah keheningan ruang skill lab.

Setelah menetralkan debar jantungnya Sakura pun kembali melanjutkan punksi vena-nya sambil menjawab, "aku masih mau latihan sensei, abisnya aku ga selalu bisa dapat darahnya, sekarang bisa nanti kalau dicoba lagi eh malah ga bisa. Jadi aku mau lancarin sampai bener-bener bisa."

Dengan dahi berkerut Sakura kembali berkonsentrasi menusuk manekin di hadapannya. Sasuke yang berdiri di depan pintu pun tidak dihiraukannya sama sekali. Melihat sosoknya yang tengah bekerja keras seperti itu menimbulkan perasaan hangat yang berbeda di dada Sasuke. Captivating, mesmerizing, alluring. Tidak ada satu kata pun yang dapat mendeskripsikan sosok Sakura saat itu.

"Kenapa kamu berusaha sekeras ini Sakura? Kamu ga ngerasa capek? Kamu udah kuliah dari pagi kan? Selain itu begitu pulang masih ada tugas atau laporan yang harus kamu kerjakan." Tanpa sadar Sasuke mengeluarkan pertanyaan yang dari tadi berputar di kepalanya.

Sambil tetap serius dengan manekinnya, dengan tersenyum Sakura menjawab, "bohong kalau aku bilang engga capek, tapi ini cita-cita aku dari kecil sensei, mimpiku, aku ga akan ngebiarin rasa malas, capek ataupun bosen ngebuat aku benci mimpiku sendiri. Sekarang memang capek, nanti udah jadi dokter mungkin akan lebih capek lagi, tapi kalau aku mikir nanti suatu saat nanti akan ada pasien yang bisa senyum lagi karena aku, somehow itu ngebuat capeknya ilang dan aku bisa semangat lagi."

Aku jatuh cinta pada gadis ini. Kalimat itu tiba-tiba terngiang di kepalanya. Entah siapa yang mengucapkannya, tetapi kalimat itu terus menerus berputar di kepalanya dan diiyakan hatinya. Tanpa sadar Sasuke beranjak dari depan pintu dan berjalan menghampiri Sakura. Setelah menyingsingkan lengan kemejanya diulurkannya lengannya ke hadapan Sakura. "Belajar dari manekin sama dari lengan asli hasilnya akan berbeda."

"Maksud sensei apa?" Tanya Sakura bingung sambil dipandanginya senseinya yang masih menjulurkan lengannya.

"Kamu bakal lebih cepet bisa kalau punksi venanya beneran ke manusia."

"Hah? Jadi aku punksi vena langsung ke sensei nih?" dengan membelalakan mata tidak percaya Sakura kembali bertanya. Dan Sasuke pun menanggapinya hanya dengan sebuah anggukan. Sakura mengerjapkan matanya tidak percaya. Apa senseinya ini benar-benar serius memperbolehkan punksi vena langsung ke lengannya, ini kan merupakan tindakan invasif dan menimbulkan rasa sakit.

"Tapi sensei, masa aku bener-bener ngambil darah sensei sih?" Sakura masih ragu dengan permintaan, atau malah bisa disebut perintah, senseinya yang satu ini. "Kamu ga usah beneran ngambil darahnya, kalau udah ada darah yang masuk ke suntikannya tandanya kamu udah bener nusuk ke pembuluh darah, ga usah diambil sampai suntikan penuh".

"Tapi sensei…"

"Kamu ga percaya sama diri kamu sendiri?"

"… bukan begitu sensei".

"Yaa kalau begitu lakukanlah."

Sakura hanya diam saja memandangi senseinya yang masih setia mengulurkan lengannya. Keraguan dan rasa cemas terpeta jelas di wajah Sakura. Melihat wajah manis dihadapannya menjadi pucat membuat Sasuke menghela nafas, lalu diusapnya lembut kepala pink Sakura.

"Seorang dokter ga boleh menunjukkan rasa takut dan keraguannya di depan pasien." Sambil dipandanginya kedua emerald Sakura, Sasuke kembali mencoba meyakinkan Sakura. "Kalau dokter menunjukkan rasa takut dan ragu, pasiennya akan semakin cemas. Ga ada yang perlu kamu khawatirin Sakura."

Perlahan-lahan emerald Sakura menunjukkan keyakinannya yang semakin tumbuh. Gemetar di tangannya pun berhenti. Sambil tersenyum Sakura pun mulai menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk punksi vena. Entah kenapa Sakura merasa asalkan ada Sasuke-sensei di sisinya semuanya akan baik-baik saja.

Sakura yang sedang menyiapkan peralatan mencoba meredam debar jantungnya yang menggila. Debar jantungnya yang bukan hanya karena dia akan menyuntik senseinya dengan jarum yang tajam tetapi juga debaran lain yang Sakura sendiri juga tidak mengerti. Debaran yang juga menggelitik hatinya, dan kupu-kupu yang menari di perutnya. Tetapi Sakura tidak ingin memikirkannya lebih jauh. Karena ada tugas penting yang akan dilakukannya dan itu butuh konsentrasi, karena itu dihiraukannya rasa hangat di hatinya.

.

.

.

Saat itu yang dipikirkan Sasuke hanyalah Sakura dan mimpinya. Saat ini memang Sasuke tidak memiliki tempat di dalam mimpi Sakura, tapi setidaknya Sasuke ingin menjadi seseorang yang membantu Sakura mewujudkan mimpi tersebut. Hari-hari, bulan-bulan bahkan tahun berikutnya dilalui Sasuke sambil memperhatikan dari jauh sosok Sakura yang bekerja keras demi mimpinya.

Perasaan yang menakutkan ini, yang membuat Sasuke melakukan hal-hal yang tidak pernah dilakukannya, membuatnya terobsesi pada sosok gadis mungil dengan segala keunikannya. Dan hal-hal gila lainnya yang dilakukan Sasuke karena gadis tersebut.

Seperti diam-diam mengambil foto candid gadis itu dan dijadikannya wallpaper di handphonenya. Yang tanpa sengaja dilihat oleh anikinya saat makan malam keluarga, dan jadilah malam itu dihabiskan oleh ibu dan kakaknya itu menginterogasi Sasuke siapa gadis itu dan kapan Sasuke akan membawa pulang "calon mantu kaasan" (istilah dari ibunya). Semenjak hari itu keluarga Sasuke (minus Fugaku tentu saja, si kepala keluarga hanya diam dan tersenyum maklum saja melihat tingkah istri dan anak-anaknya) selalu menanyakan Sakura, si gadis wallpaper.

Atau diam-diam meminta Anko-sensei, yang bertugas sebagai ketua tim skripsi, agar namanya dimasukkan ke dalam daftar pembimbing skripsi. Bahkan secara khusus meminta secara langsung agar dapat menjadi pembimbing skripsi Sakura. Yang tentu saja tidak diiyakan begitu saja oleh Anko. Berminggu-minggu Sasuke harus menjadi supir bagi Anko, siap mengantar jemput kemana saja. Setiap hari harus menyiapkan dango favorit Anko dan tepat jam 12 siang sudah harus ada di mejanya tidak peduli Sasuke sedang banyak kerjaan atau Sasuke sedang dimana. Bahkan menggantikan Anko mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk pun Sasuke lakukan.

And who's to blame? Sakura and her dangerous charms, of course! Sasuke sendiri tidak mengerti kenapa dia melakukan hal-hal bodoh seperti ini. And the dumbest of all, he can't stop. Walaupun Sasuke menyadari betapa bodohnya perilakunya belakangan ini, tetapi dia tidak dapat menghentikannya. Baik perasaannya yang mengerikan ini ataupun adiksinya pada gadis musim semi tersebut.

Tidak ada yang menyadari perubahan Sasuke ini, selain Anko dan keluarganya tentu saja. Tetapi lama kelamaan, seiring berjalannya skripsi yang dikerjakan Sakura, satu orang lagi menyadari keanehan sikap Sasuke. Satu orang lagi yang berinteraksi dengan keduanya, yang melihat kejanggalan Sasuke ketika berada di dekat Sakura.

"Sasuke, sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Tanya orang tersebut tiba-tiba saat Sakura baru saja keluar dari ruangannya setelah bimbingan. Sasuke yang juga seruangan dengannya tetapi sedang sibuk memeriksa laporan praktikum mahasiswa di mejanya.

"Rencana apa?" tanyanya balik sambil tetap berkutat dengan kumpulan laporan di depannya.

"Rencanamu untuk Sakura, jangan pikir aku tidak menyadarinya Sasuke. Kenapa kau selalu mengulur-ulur waktu seminar Sakura? Kalau ingin dia selalu disisimu, memintanya secara langsung akan lebih baik kan?"

Tanpa dapat dicegah semburat kemerahan menghiasi pipi Sasuke, sambil memalingkan wajahnya Sasuke berseru, "Bicara apa kau Kakashi! Kebanyakan baca Icha-Icha Paradise membuat banyak ide-ide aneh timbul di kepalamu!"

Kakashi hanya dapat tertawa melihat reaksi Sasuke. Menyenangkan sekali menggodai mantan muridnya yang satu ini. Tetapi walaupun sudah diberondong berbagai pertanyaan Sasuke tetap diam saja dan pura-pura berkonsentrasi memeriksa laporan. Ketika akhirnya Kakashi menghentikan pertanyaan serta berbagai godaaannya dan mulai membuka kembali buku favoritnya Sasuke tiba-tiba berkata, "aku hanya ingin Sakura menunggu sebentar lagi…"

So forever can begin…

To be continued...


Author's note

For the late update, hontou ni gomennasai! Maaf banget yaa update nya lama... Well, life's crazy and there's so many things running around in my head lately...

Untuk apresiasi di chapter sebelumnya makasiiiiii bangeet! Kalian the best deh :* :*

Untuk chapter ini, aku gatau mau ngomong apa, aku juga bingung... hehehe... Tapi moga pada suka yaa :)

Buat yang lagi skripsian, udah atau akan UN, atau yang lagi jalanin ujian-ujian lainnya dalam hidup ini, good luck yaa! Ganbatte kudasai!

The last but not the least

Thank you for reading, and review please...

With so much love,

Blyskue