Disclaimer: Naruto bukan punyaku.
Warning: percakapan rate m? lol. DarkNaruko, OC, OOC
Enjoy!
Chapter 3
.
.
.
.
.
19:00 PM
2nd day
Empat kakinya melangkah cepat, ekornya bergerak setiap kali dia melangkah. Mata hitamnya melirik, menatap pintu di depannya. Sasuke memejamkan mata dan di detik berikutnya, empat kakinya sudah berubah menjadi sepasang kaki dan tangan manusia. Lelaki itu beranjak, menyabet jubah hitam yang tergantung di dekat pintu. Dia mendorong, masuk ke dalam ruangan. "Dia berbeda dengan yang lain."
Itachi membuka matanya, menatap Sasuke dari balik bukunya. "Begitu?" Itachi dengan santai membuka halaman berikutnya. "Jadi? Kau yakin kalau kau bisa membuatnya mencintaimu?"
Sasuke tidak menjawab. Dia menatap Itachi yang duduk santai, mengenakan pakaian lengkap, kemeja putih dan celana. Lelaki itu mengerutkan kening sesaat. Padahal matahari baru saja terbenam, dan Itachi seharusnya baru saja berubah menjadi manusia, tapi lelaki itu bisa berpakaian dengan secepat kilat. Sasuke mendengus, duduk si sofa, berhadapan dengan kakaknya. "Bukan itu maksudku. Dia berbeda."
"Dia cerdas, sesuai dengan laporan," Fugaku Uchiha menghampiri dua putranya, duduk di depan mereka. Sasuke melirik, menatap ayahnya yang mengenahkan kimono hitam. "Korban kali ini mungkin bisa berhasil..."
"Pertanyaannya bukan apakah Sasuke bisa membuatnya jatuh cinta," Mikoto Uchiha mengerutkan kening, berjalan mendekati mereka, hanya mengenakan jubah mandi. Mata hitamnya yang tajam itu menyipit, menatap Itachi dan Fugaku dengan tatapan tidak setuju. "Pertanyaannya adalah, apakah Sasuke mencintainya?"
"Pertanyaan bagus, mengingat fakta bahwa adik tersayang ini sama sekali belum pernah jatuh cinta," Itachi tersenyum mengejek, membuat Sasuke mendelik. "Para wanita Uchiha dari keluarga sebelah tidak pernah menarik hatimu, little brother?"
"Mereka bahkan belum bisa mengontrol wujud mereka," Sasuke menggeram.
"Apa yang ingin kau ucapkan tadi, Sasuke?" tatapan Mikoto melembut. "Kenapa Naruko bisa berbeda?"
"Dia tidak normal," Sasuke menjawab singkat. "Dia tidak takut padaku."
"Bukankah itu bagus, sayang?" Mikoto mulai terlihat senang. "Kalian berdua bisa jadi akan saling mencin…"
"Dia tidak takut mati," Sasuke memotong ucapan ibunya. "Seakan-akan… dia tidak keberatan kalau dia mati di detik itu juga."
Suasana langsung hening.
"Ah," Itachi menghela napas. "Sudah kuduga, cewek itu monster. Kau mendapat pengantin yang sangat berbeda dengan yang lain. Selamat."
"Itachi, jangan ganggu adikmu," Mikoto mendelik sesaat. Wanita itu beranjak, menarik kursi terdekat dan duduk di depan Sasuke sambil tersenyum. "Kenapa kau bisa bilang begitu, Sasuke?"
Sasuke menatap ibunya. "Kalian akan mengerti begitu kalian bertemu dengannya."
"Kalau begitu bawa dia ke sini, Sasuke," Mikoto tersenyum lebar. "Ibu ingin bertemu dengannya."
"Dia sedang makan malam," Sasuke menjawab singkat.
"Cepat atau lambat, dia akan diperkenalkan secara formal pada keluarga inti. Dia harus tahu sejarah keluarga Uchiha," Fugaku berujar dengan dingin. "Sasuke. Tugasmu adalah menyiapkan dia dengan semua itu."
"Dia bisa direbut, little brother," Itachi menatap Sasuke. "Jangan sampai dia diambil oleh cabang sebelah."
Mikoto tidak berkata apa-apa, menatap putranya dengan tatapan pedih. Melihat itu, Sasuke mengusap bahu ibunya sesaat. "Aku akan membuatnya mencintaiku sebelum dia diperkenalkan pada para tetua."
"Tapi bagaimana denganmu, Sasuke?" Mikoto meremas tangan Sasuke. "Kau sendiri harus mencintainya."
Sasuke hanya bisa terdiam. Perlahan-lahan, dia membuka mulutnya. "Itu… urusan nanti," lelaki itu memutar tubuh, keluar dari ruang tamu. Keluarganya cemas. Dia tahu itu. Karena sebelumnya, Obito, Uchiha dari keluarga cabang sebelah diharuskan untuk menjadi pasangan dari si tumbal. Mereka tidak bisa saling mencintai dan akhirnya…
Sasuke mengepalkan tangan, berjalan cepat ke arah kamar Naruko. Dia masih bisa ingat jelas, 20 tahun yang lalu, ketika keluarganya yang dipilih untuk menjadi parner dari tumbal berikutnya. Menurut hukum, anak laki-laki pertamalah yang harus menjadi partner tumbal. Dan itu berarti Itachi. Ibunya menahan tangis. Ayahnya mematung. Itachi terlihat tenang, namun Sasuke tahu bahwa kakaknya itu siap untuk menawarkan diri. Namun Sasuke tidak akan membiarkan kakaknya menjadi partner tumbal begitu saja. Karena itu, sebelum Itachi sempat menyatakan bahwa dia bersedia, Sasuke maju ke depan, berseru pada semua para tetua kalau dialah yang akan mewakili keluarganya.
Dia masih ingat jelas akan sentakan kaget Mikoto, Fugaku yang terpaku dan Itachi yang mendelik.
Apa pun itu, dia tidak akan membiarkan Itachi tewas begitu saja. Itachi yang paling kuat di keluarganya. Jika terjadi pemberontakan antar cabang Uchiha, hanya dia yang bisa melindungi keluarga ini.
Apa pun yang terjadi, dia harus membuat Naruko mencintainya.
"Sasuke," suara lembut Mikoto membuat Sasuke terpaku. Dia menoleh, menatap Mikoto yang sudah berada di belakangnya. Sasuke terpaku. Dia tidak tahu sejak kapan ibunya ada berada di sisinya. Mikoto Uchiha tersenyum lembut, menyentuh pipi Sasuke. "Kau tahu bukan, kalau kami semua akan selalu membantumu?"
Sasuke mengangguk pelan, menyentuh tangan ibunya.
"Ibu tidak sabar untuk bertemu dengan Naruko," Mikoto tertawa pelan. "Kami semua tidak sabar untuk bertemu dengannya. Tapi tidak perlu tergesa-gesa, Sasuke."
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan," Sasuke berbisik pelan. Hanya di depan ibunya dia bisa mencurahkan perasaannya. "Aku…"
"Kau lelaki yang baik, Sasuke," Mikoto menenangkan Sasuke. "Tidak ada wanita yang tidak bisa mencintaimu."
"Ibu belum bertemu dengan Naruko," Sasuke mendengus, membuat Mikoto cekikikan.
"Kita sudah menunggunya selama dua puluh tahun. Ibu yakin kau akan berhasil," Mikoto memeluk Sasuke sesaat. Mata hitamnya menatap Sasuke dengan hangat. "Setiap wanita menyukai perhatian dari lelaki, apalagi yang setampan Uchiha," Mikoto cekikikan, mencubit pipi Sasuke, membuat lelaki itu mengerutkan kening, menjauh dari ibunya. "Pehatikan dia. Dengarkan apa yang ingin dia katakan. Ibu yakin dia akan langsung menyukaimu."
Sasuke hanya bisa terdiam, mengangguk. Dia tidak pernah harus berusaha untuk mendapatkan hati wanita. Dia benci dengan wanita-wanita Uchiha dari cabang sebelah karena sikap mereka yang mau menang sendiri dan tidak tahu aturan.
Naruko berbeda.
Sasuke mengepalkan tangannya. Dia harus berhasil. Demi keluarganya.
xxx
20:05 PM
2nd day
Naruko membuka matanya, langsung bertemu dengan sepasang mata hitam kelam. Wanita itu menguap, mengerjapkan matanya. Dia sudah terbiasa menatap Sasuke yang memperhatikannya seakan-akan dia ini barang antik yang tidak ada duanya.
"Makan," Sasuke menyodorkan pisang.
Naruko berkedip, menatap pisang itu. Dia menengadah, menatap ekspresi serius Sasuke. "Aku kenyang."
"Makan," Sasuke berujar lagi.
Naruko tidak tahu mau berterima kasih atau menampar cowok pemaksa ini dengan pisang itu. Akhirnya, dia meraih pisang itu dan menyelipkan pisang itu di balik kasurnya, membuat Sasuke menaikkan sebelah alis. "Aku masih kenyang," Naruko mendelik. "Kau baru menyuapiku dengan steak tiga jam lalu, ingat? Ada masalah di otakmu, Uchiha?" wanita itu tersenyum sinis, membuat Sasuke langsung balas mendelik. Sasuke terdiam sesaat, kembali memasang wajah patungnya. Sesaat, dia teringat akan saran Mikoto.
Perhatikan dia.
"Kau kurus," Sasuke menatap wajah Naruko yang mencekung.
"Observasi yang hebat sekali," Naruko berseru sarkastik.
Sasuke langsung menggeram, membuat senyuman Naruko kembali muncul. Sesaat, lelaki itu tidak berkata apa-apa, hanya mengamati Naruko. Melihat mata hitam myang kembali tertuju padanya, Naruko menyender di dinding dengan santai. Mata birunya balas mengamati Sasuke. "Apa yang selama ini mereka beri padamu," Sasuke menyipitkan matanya. "Kau terlalu kurus untuk wanita seusiamu," Sasuke teringat ketika dia memberi Naruko steak tadi. Tanpa membuang waktu, Naruko langsung melahap makanannya tanpa tata krama. Setelah kenyang makan, Naruko langsung terlelap, mengabaikannya.
"Aku diberi makan sehari sekali," Naruko menjawab. "Sebulan sebelum aku dilempar ke jurang, aku diberi makan sehari dua kali."
Sasuke tidak bereaksi. Dia tidak ingat kalau dia pernah meminta wanita dengan kriteria 'sekurus-tengkorak'. Dia hanya meminta wanita dengan kriteria 'jenius', tidak peduli akan penampilan. "Kau juga tidak keluar dari kamar," Sasuke berujar lagi.
"Kau ingin aku keluar?"
"Tidak," Sasuke menyipitkan matanya. Dia tidak bisa membiarkan Naruko keluar seenaknya. Cabang lain belum tahu kalau Naruko ada di sini.
"Kalau begitu aku tidak akan keluar."
Sasuke berkedip. Alasan macam apa itu. Dia benar-benar tidak tahu apakah Naruko masuk di kriteria jenius atau di kriteria idiot. Naruko tersenyum, seakan-akan tahu apa yang dipikirkan Sasuke.
"Stockholm syndrome. Pernah dengar, Sasuke?"
Sasuke menyipitkan matanya, membuat Naruko cekikikan.
"Tentu saja kau tahu. Bicara apa aku," mata biru itu menatap Sasuke lekat-lekat. "Itu sindrom di mana si tahanan merasa aman di dekat sang penculik."
"Kau merasa aman di dekatku?" mata Sasuke semakin menyipit.
Sudah dia duga.
Naruko Uchiha ini orang gila.
"Entahlah?" Naruko tersenyum misterius. "Kenapa? Aku tidak boleh merasa nyaman di dekatmu?"
"Kalau kau tidak bisa mengandung anakku, kau akan mati," Sasuke mendesis. Wanita tidak waras ini harus tahu akan kenyataan. "Dalam waktu setahun lagi. Atau dalam waktu yang lebih cepat jika aku kehilangan kendali dan mencabikmu."
"Setidaknya kalau aku mati, kau akan mati bersamaku kan?" Naruko kembali menyeringai, membuat Sasuke kehilangan kata-kata. "Ngomong-ngomong," Naruko meraih pisang di balik kasurnya, melahap pisang itu tanpa melepaskan matanya dari mata Sasuke. "Kapan kita seks?"
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sasuke hanya bisa terpaku mematung. "Percuma kita bersetubuh kalau kita belum ada perasaan akan satu sama lain," Sasuke akhirnya menemukan suaranya juga.
"Begitu?" Naruko masih menatap Sasuke. "Kau tidak bergairah menatap tubuhku yang kurus ini, Uchiha? Kau sudah seks dengan siapa saja?"
Sasuke kembali terbungkam. Dia bersumpah kalau saja Itachi ada di sampingnya, Itachi akan tertawa terbahak-bahak pada saat ini.
"Kau tahu Uchiha, aku tidak ingin mati," Naruko mengayunkan pisangnya di depan hidung Sasuke. "Ada teori kalau perasaan cinta akan muncul dengan seks."
"Obito dan tumbalnya seks sehari dua kali," Sasuke menggeram. "Mereka tidak bisa saling mencintai."
Naruko berkedip. "Begitu?"
"Aku akan membuatmu mencintaiku dengan caraku sendiri," Sasuke mendelik.
"Oh, kau gentleman juga. Kukira kau akan memperkosaku di hari pertama."
Sasuke menahan diri untuk tidak melempar wanita di depannya. "Ibuku," Sasuke mendesis. "Selalu mengajarkan kami untuk menghargai wanita."
"Ah, mommy boy."
Sasuke langsung beranjak, berjalan mengelilingi kamar Naruko sambil membekap wajahnya, mengabaikan tatapan takjub wanita itu.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia tidak bisa berkutik di depan seseorang.
xxx
20:10 PM
2nd day (first negotiation – favorite stuff)
"Kita harus bernegosiasi," Sasuke akhirnya berujar, duduk di depan Naruko. Dia melepaskan kancing di jubahnya. Sungguh, di depan wanita ini dia serasa sesak napas. "Sebutkan hal-hal yang harus kulakukan supaya kau bisa mencintaiku."
Naruko tidak menjawab, menatap Sasuke dengan tatapan kosong.
"Apa yang kau suka?" Sasuke mulai mendesak. "Selain pisang?"
"Aku tidak suka pisang," Naruko menyipitkan matanya. "Aku tidak mengerti kenapa kau mengira aku suka pisang."
"Kau makan pisang ketika aku menemuimu pagi ini," Sasuke menarik napas dalam-dalam, mulai menghitung dari satu sampai seratus untuk menenangkan amarahnya.
"Itu karena Konohamaru memberiku pisang," mata biru itu menatapnya dengan tajam.
"Dan kenapa dia memberimu pisang? Karena kau suka dengan pisang," Sasuke menggeram.
"Dia memberiku pisang karena dia monyet," Naruko mendesis. "Alasan yang sama ketika kau memberiku steak. Kenapa kau memberiku steak? Karena kau panther."
"Jadi apakah kau suka pisang?" Sasuke benar-benar nyaris mengamuk. Tidak. Tidak. Kata Ibu, di depan cewek tidak boleh…
"Tidak!" Naruko menjerit. "Ada apa denganmu dan pisang hah, Sasuke?!"
"Karena aku sudah memesan ratusan pisang untukmu!" Sasuke langsung meraung, melupakan segala tata krama yang diajari oleh Mikoto.
"Kau kira aku monyet?!" Naruko menjerit marah.
Dan dengan begitu, negosiasi pertama gagal total.
xxx
20:30 PM
2nd day (second negotiation – sex)
"Oke, daripada memikirkan apa yang aku sukai," Naruko dengan geram menunjuk ke arah Sasuke. "Apa yang harus kulakukan supaya kau mencintaiku?"
Sasuke langsung terdiam, menatap Naruko dengan tatapan kosong.
Naruko menghela napas. "Jadi kau juga tidak tahu hah?" Dia terdiam sesaat, tiba-tiba menyentuh tubuhnya sendiri, membuat Sasuke mematung. "Apa aku harus menjadi lebih 'berisi' lagi di bagian ini, Uchiha?" jari-jari Naruko menggenggam belahan dadanya.
Sungguh, Sasuke tidak tahu harus menjawab apa.
"Hei, jangan diam saja, aku harus bagaimana? Kau tinggal jujur saja. Beritahu apa yang kau inginkan dari tubuh wanita," mata biru tersebut menatap Sasuke dengan tajam.
"Aku tidak pernah tertarik dengan tubuh wanita," Sasuke berujar dengan nada datar.
Naruko melongo. "Astaga. Jangan bilang kalau kau ini homo?"
Di detik itu, Sasuke ingin sekali lari dari kamar ini dan minta tolong ke ibunya.
Dan lagi-lagi, negosiasi mereka gagal.
xxx
20:50 PM
2nd day (third negotiation – spending time together)
"Kau tidak mau seks?" Naruko bertanya untuk kesekian kalinya.
"Tidak sekarang," Sasuke menjawab untuk kesekian kalinya juga.
"Tapi batas waktu kita satu tahun? Dalam waktu satu tahun itu aku sudah harus punya anak?"
"Sudah harus punya hasil," Sasuke membenarkan. "Selama kau berhasil hamil, kutukan ini akan lenyap."
"Dan untuk bisa hamil…" Naruko bergumam. "Kita harus bisa saling mencintai? Kalau tidak sperma milikmu itu tidak ada gunanya?"
Sasuke mengangguk, entah kenapa dia tidak merasa tersinggung. Sepertinya dia mulai terbiasa dengan mulut pedas Naruko. Selama ini para tetua itu salah mengajarinya. Mereka bilang kalau semua wanita itu sopan dan tahu tata krama. Tapi Naruko membuktikan kalau mereka salah. Wanita di depannya ini benar-benar beda dari yang lain.
"Kalau begitu…" Naruko bergumam, menyilangkan kakinya. "Kita… harus mencoba untuk setidaknya menyukai satu sama lain dulu…"
Sasuke mengangguk lagi. Akhirnya Naruko mulai waras.
"Jadi… mungkin kita… menghabiskan waktu bersama-sama? Melakukan sesuatu bersama? Supaya bisa terbiasa…"
Sasuke tidak menjawab, memperhatikan Naruko. Wanita itu terlihat kikuk, seakan-akan tidak menyukai ide yang dia ucapkan sendiri. "Apa yang sedang kau pikirkan?" Sasuke bertanya.
"Tidak… hanya saja aku…" Naruko terdiam. "Aku tidak pernah menghabiskan waktu bersama orang lain… selama ini selalu dikurung di kamar… belajar…" Tanpa sadar Naruko menoleh kesana-kemari. "Ah, benar juga. Pantas sejak kemarin aku merasa ada yang kurang. Ternyata tidak ada buku di sini," Naruko tertawa lemah.
Sasuke tetap terdiam, memperhatikan Naruko yang kembali memasang ekspresi biasa-biasa saja. Sasuke tidak pernah mau peduli dengan orang lain selain keluarganya sendiri. Tapi dia tahu kalau ada orang yang sering menyembunyikan perasaan aslinya dengan cara berbuat sesuatu yang lain, seperti Itachi. Dari luar, Itachi terlihat tidak peduli dengan keluarganya. Itachi juga terlihat seperti teroris. Tapi Sasuke tahu Itachi akan melakukan apa pun untuk melindungi keluarganya.
Naruko mirip dengan Itachi.
Entah kenapa, Sasuke yakin kalau semua ucapan sarkastik dan ketus itu hanyalah samaran supaya tidak ada yang tahu apa perasaan Naruko yang sebenarnya. Selain itu… Sasuke menyipitkan mata, menatap poker face Naruko.
Sungguh. Sasuke bersumpah kalau Naruko sengaja memasang wajah tenang itu untuk menipu orang-orang. Dia yakin kalau di dalam otak Naruko tersembunyi siasat-siasat licik.
"Kau merindukan rumahmu yang dulu?" Sasuke menyipitkan matanya. Jujur, dia membenci keluarga Uchiha palsu itu.
"Menurutmu?" Naruko tersenyum, membuat Sasuke mengerutkan kening.
Dia benci dengan senyuman itu.
"Aku benci dipaksa belajar," Naruko berujar secara tiba-tiba. "Aku benci dengan semua buku-buku itu. Aku benci dengan semua guru-guruku. Dan aku benci dengan kehidupan di sana, di mana aku selalu ditahan di kamar."
Sasuke berkedip sesaat, tertegun mendengar ucapan Naruko. Wanita itu tidak menatap ke arah Sasuke, hanya menatap cahaya lilin yang remang-remang.
"Sekarang kau sudah tahu satu hal tentangku, bukankah begitu Uchiha?" Naruko tiba-tiba tersenyum dengan ceria. "Sebutkan satu hal tentangmu."
Sasuke memperhatikan senyuman itu. Matanya menyipit. "Tidak ada yang harus kukatakan pada pembohong sepertimu."
Naruko masih memasang senyumannya meski pun dia mendengar nada dingin itu. "Begitu?" wanita itu tertawa. "Hebat. Kau sudah tahu kalau aku suka berbohong. Kau hebat juga, Uchiha."
Sasuke tidak berkata apa-apa, mulai merasa mual dengan semua senyuman palsu itu. Dia beranjak, meninggalkan kamar Naruko. "Kau tidak boleh keluar dari kamar ini, mengerti?" mata hitamnya perlahan-lahan menjadi merah darah. "Mengerti?"
Naruko terpaku. Dia mengangguk perlahan.
Sasuke mendengus, memutar tubuhnya dan perjalan pergi. Dia sama sekali tidak sadar kalau kakinya sudah berjalan dengan kecepatan kilat. Menghabikan waktu bersama? Hah. Jangan harap.
Dia membenci wanita itu.
Semua ucapan yang keluar dari mulut Naruko membuatnya mual. Semuanya hanya tipuan. Dia tidak tahu kapan Naruko berkata jujur. Dia tidak bisa mencintai wanita yang seperti ini. Sasuke mengepalkan tangannya, menggeram. Kepalanya berputar cepat, memutar kembali semua percakapannya dengan Naruko.
Naruko mau seks dengannya.
Malah, Naruko sendiri yang terus menawarkan dirinya.
Ini membuktikan kalau Naruko tidak ingin mati. Naruko tidak ingin terkena kutukan. Jadi dia salah? Sasuke mengerutkan keningnya. Dia sangat yakin kalau Naruko tidak sayang nyawa. Dia yakin kalau Naruko tidak keberatan kalau dia tewas. Tapi ternyata Naruko peduli dengan nyawanya sendiri.
Kau tahu Uchiha, aku tidak ingin mati.
Sasuke teringat akan ucapan Naruko. Dia mendengus. Ternyata Naruko memang tidak ingin tewas. Ternyata dia masih normal. Tapi mau seperti apa pun, Sasuke tidak menyukai Naruko. Dia pembohong. Dia juga memanggilnya dengan 'Uchiha', membuatnya kesal. Nada Naruko ketika dia menyebut 'Uchiha' sangat sarkastik dan dingin. Padahal kemarin Naruko memanggilnya dengan 'Sasuke', kenapa sekarang…
Tunggu.
Sasuke mengerutkan keningnya.
Naruko memanggilnya dengan 'Uchiha' dan 'Sasuke'.
Kenapa? Kenapa berbeda? Kapan saja dia memanggilnya 'Uchiha' dan 'Sasuke'? Sasuke berhenti berjalan, memutar semua percakapannya dengan Naruko.
Ada masalah di otakmu, Uchiha?
Kau tahu Uchiha, aku tidak ingin mati.
Kau tidak bergairah menatap tubuhku yang kurus ini, Uchiha?
Sekarang kau sudah tahu satu hal tentangku, bukankah begitu Uchiha?
Kau sudah tahu kalau aku suka berbohong. Kau hebat juga, Uchiha.
Sasuke menggeleng kepalanya. Tidak. Ada satu kali di mana Naruko memanggilnya 'Sasuke'.
Ada apa denganmu dan pisang hah, Sasuke?!
Sasuke terpaku, teringat ketika dia memberi Naruko pisang. Naruko mengamuk, kesal. Itulah pertama kalinya dia melihat di mana Naruko benar-benar berekspresi. Di detik itu, Sasuke sadar akan sesuatu. Naruko hanya memanggilnya 'Uchiha' ketika dia berbohong atau ketika dia merasa kesal.
Naruko tidak ingin seks dengannya.
Naruko tidak suka berbohong.
Dan Naruko… tidak keberatan tewas. Dia tidak peduli dengan nyawanya sendiri.
Stockholm syndrome. Pernah dengar, Sasuke? Itu sindrom di mana si tahanan merasa aman di dekat sang penculik.
Naruko merasa aman bersamanya. Itu tidak bohong. Pantas saja Naruko dengan santai tidur memeluknya meski pun pada saat itu dia sedang berwujud panther. Naruko tidak peduli akan nyawanya sendiri, makanya dia merasa nyaman berada di dekatnya.
Sasuke menggertakkan gigi, mengepalkan tangannya. Dia tidak tahu apa dosanya terhadap para leluhur sehingga dia mendapatkan tumbal yang sangat rumit seperti ini. Sasuke menoleh, tidak sadar kalau dia sudah berada di depan perpustakaan. Dia menggeram, masuk ke dalam, menyabet semua buku dan peralatan alat tulis yang ada di depannya. Dia kembali memutar tubuh, melesat, berjalan menuju kamar Naruko. Ketika dia kembali, dia melihat Naruko yang berbaring, memilin rambutnya.
Mata biru Naruko menoleh, menatapnya, sama sekali tidak kaget melihatnya yang bergerak dengan kecepatan kilat itu.
"Sudah kembali, Uchiha?" Naruko menyeringai, membuat Sasuke menggeram. "Aku tidak tahu kalau kau merindukanku secepat itu."
Sasuke tidak berkata apa-apa, meletakkan semua buku itu di sisi kasur Naruko, membuat Naruko terpaku. "Untukmu," Sasuke mendengus. "Terserah mau kau apakan."
Naruko berkedip, menatap semua buku itu. Dia menoleh, menatap peralatan alat tulis yang dibawa Sasuke. "Pena bulu?" Naruko terpaku, menyentuh pena tersebut. "Aku tidak pernah melihat ini secara langsung. Hanya lewat buku."
Sasuke tidak menjawab, memperhatikan Naruko yang meneliti semua buku di depannya.
"Ini…" mata biru itu terbelalak. "Buku asli dari Shakespeare?" Naruko melongo. "Edisi pertama…"
Kerutan kening Sasuke menghilang ketika dia melihat ekspresi Naruko.
"Kalian benar-benar berasal dari jaman dulu ya… awalnya aku tidak percaya kalian sudah terjebak di tempat ini sampai 100 tahun… Dan kalian berhasil mendapatkan edisi pertama dari shakespeare… kalian benar-benar kaya…"
Sasuke mendengus. Dia menatap Naruko yang mengambil posisi duduk, mulai membaca puisi-puisi dari Shakespeare. "Kukira kau benci buku?"
"Kapan aku pernah bilang begitu?" Naruko meringis. "Aku bilang kalau aku benci dengan semua buku-buku itu. Buku-buku yang diberikan pada guru-guruku. Aku benci dengan itu semua," mata biru Naruko kembali fokus pada buku di tangannya. "Jadi apakah aku benci buku? Tidak, Sasuke."
Sasuke.
Sasuke tidak bisa menahan senyuman kemenangannya, membuat Naruko menaikkan sebelah alis. "Kenapa kau tersenyum begitu?"
Sasuke tidak menjawab, hanya meraih satu buku dan duduk di depan Naruko, membaca buku bersamanya. Naruko menaikkan sebelah alis, namun tidak peduli, kembali membaca bukunya.
Ternyata membaca Naruko tidak sesulit yang diduganya.
Negoasi ketiga… sukses?
xxx
21:35 PM
2nd day
"Hei."
Suara pelan Naruko membuat Sasuke menengadah, meletakkan bukunya. Dia menatap Naruko yang masih membaca bukunya tanpa menatap Sasuke.
"Aku mau tanya… kenapa kau mengurungku?"
Sasuke mengerutkan kening. "Kau tumbal. Sudah sepantasnya kau…"
"Tidak," Naruko menatap Sasuke, mata birunya terlihat bersinar karena cahaya remang-remang lilin. "Aku cukup yakin keluargamu tahu bahwa aku ada di sini. Untuk apa mengurungku?"
Sasuke menutup bukunya. Mata hitamnya perlahan-lahan memerah, mendelik ke arah Naruko. "Kau tidak perlu tahu."
"Begitu?" Naruko dengan santai membaca bukunya lagi. "Kukira kita harus saling tahu akan satu sama lain. Ya sudah."
"Kau memang harus tahu," Sasuke masih menatap Naruko. "Tapi tidak sekarang."
"Kenapa?"
"Karena belum waktunya."
Naruko tersenyum, menatap Sasuke dengan tatapan sarkastik. "Kau tahu bukan, cepat atau lambat aku pasti akan tahu. Tidak peduli meski aku harus melakukan cara lain untuk mengetahui semua rahasia kalian."
Sasuke mendengus. "Aku tahu. Tapi tetap saja. Aku tidak bisa memberi tahumu sekarang. Kalau kau tidak mau mati tentunya."
"Kenapa? Apakah aku akan tewas kalau aku tahu dengan rahasia gelap kalian? Jadi kau takut kau akan tewas juga?"
"Tidak. Kalau kau tewas sekarang, aku tidak akan tewas bersamamu."
Naruko langsung meletakkan bukunya, mengerutkan kening. "Tunggu. Bukankah nasib kita berdua sudah sama?"
"Tidak. Kita belum melakukan upacara."
Naruko kembali terpaku. "Ada upacara?"
Sasuke menganggukkan kepala. "Ada dua alasan kenapa aku tidak mau seks denganmu," mata merahnya mendelik sesaat. "Pertama, karena kita tidak ada perasaan antara satu sama lain. Kedua, kita belum resmi terkait. Jadi tidak ada gunanya kalau kita seks."
"Wow," Naruko bersiul. "Belum resmi? Jadi kalau aku kabur sekarang… aku bisa keluar?"
Sasuke menyipitkan matanya. "Begitulah," dia menjawab dengan tenang. "Tentu saja kau bisa keluar. Kau bisa kabur dari tempat ini."
Naruko balas menyipitkan matanya. "Tentu saja… kalian tidak akan membiarkanku keluar."
"Pernahkah kau mencoba untuk keluar dari pintu itu?" Sasuke menunjuk ke arah celah pintu yang sedikit terbuka.
Naruko langsung beranjak, menyelidiki pintu itu. Tidak ada perubahan dari pintu tersebut. Tidak ada kenop, dan pintu ini tidak tertutup sepenuhnya. Dia memang bisa keluar dengan mudah, tapi dia tidak pernah mencoba untuk mendorong pintu ini dan keluar. "Apa yang terjadi kalau aku keluar dari sini?" Naruko menyentuh pintu itu sesaat dan di detik itu juga, dia merasakan sengatan tajam di jarinya. Naruko menjerit tertahan, melompat mundur dan mendelik ke arah Sasuke.
"Kau hanya menyentuh pintu itu," Sasuke berujar santai. "Kalau kau mendorong pintu itu… tanganmu akan hangus."
"Dan kau akan membiarkan tangan pengantinmu hangus?" Naruko mendesis. "Bagaimana kalau aku mencoba untuk kabur semalam?"
"Oh, aku tahu kau tidak sebodoh itu, mencoba untuk berkeliaran di tempat yang penuh akan kegelapan," Sasuke tersenyum mengejek. "Selain itu, tanganmu saja yang akan hangus. No big deal."
Naruko tidak tahu mau tertawa atau menghantam Sasuke. "Aku berharga sekali ya? Sampai kau tidak mau menunjukkan aku pada keluargamu."
"Mereka tahu," Sasuke kembali membaca bukunya. "Dan kau sudah bertemu dengan Itachi."
"Itachi menyeramkan."
Sasuke menengadah, menatap Naruko.
"Instingku kuat," Naruko mendengus, duduk di kasurnya. "Dan dari sekali lihat aku bisa tahu kalau dia lebih menakutkan darimu."
Sasuke tidak bicara apa-apa, hanya menatap Naruko dengan takjub. "Itachi yang akan meneruskan keluargaku," dia berujar tanpa dia sadari. "Dia yang paling kuat di rumah ini."
"Kau tidak terdengar iri," Naruko tersenyum.
"Tidak ada yang harus diirikan."
"Hei, jadi kapan upacara yang kau sebutkan ini dilaksanakan?"
"Secepatnya," Sasuke menjawab pelan. "Sebelum upacara ini terjadi, cabang lain tidak boleh tahu akan keberadaanmu."
"Cabang lain?" Naruko terpaku. "Uchiha dari cabang lain? Sepupu jauhmu?"
Sasuke menganggukkan kepala.
"Kenapa mereka tidak boleh tahu?" Mata biru Naruko menyipit. "Memangnya kenapa kalau mereka tahu?"
"Mereka akan menginginkanmu."
Naruko terpaku. "Aku tidak tahu kalau aku populer sampai seperti itu. Memangnya kenapa mereka menginginkanku?"
Sasuke tidak menjawab, tahu bahwa Naruko sengaja memancingnya.
"Ini kutukan bukan? Kalau pun sepupumu merebutku… dia akan tetap tewas kalau aku tidak mencintainya. Kami berdua akan tewas dan kutukannya tidak akan hilang. Selain itu… kalau pun kami saling mencintai dan berhasil menarik kutukannya…" Naruko terdiam. "Ah, iya juga. Apa yang terjadi kalau kutukannya lepas, Sasuke?"
Tubuh Sasuke menegang. Mata merahnya mendelik tajam. "Kau tidak perlu tahu."
"Kalian kembali menjadi manusia? Kalian bisa keluar lagi di dunia sana?" Naruko mengabaikan Sasuke. "Tidak. Terlalu kecil. Ada sesuatu yang lain. Kalau kutukan ini berhasil hilang… sang 'pemenang' akan mendapatkan sesuatu. Karena itu bahaya jika ada yang merebutku, bukankah begitu, Sasuke?"
Sasuke menggeram, Naruko tersenyum mengejek.
"Apa? Apa yang akan kalian dapatkan kalau kalian menang? Apa yang akan keluargamu dapat kalau kita berdua berhasil membuahkan anak?"
Sasuke tidak mau menjawab, membuat Naruko kehilangan kesabaran.
"Cepat atau lambat aku harus tahu. Lebih baik aku tahu sekarang sebelum aku direbut bukan?"
"Aku tidak ingin kau tahu karena aku tidak ingin kau ketakutan. Obito memberitahu tumbalnya semuanya pada hari pertama, membuat tumbalnya jadi takut dan tidak bisa mencintainya."
Naruko mendengus. "Kau kira aku akan takut?"
Sasuke terdiam sesaat, tersenyum mengejek. Naruko balas tersenyum. Dia menyodorkan tubuhnya, membuat jarak wajahnya dan Sasuke menjadi dekat.
"Hanya satu hal yang membuatku takut," Naruko berbisik. "Dan itu bukan kau."
"Apa yang membuatmu takut?" Sasuke balas berbisik. Mata biru Naruko yang tajam membuatnya terpaku.
"Aku tidak akan memberitahumu kelemahanku begitu saja, Sasuke," Naruko tersenyum. "Give and take. Ceritakan padaku semua rahasia kalian dan aku akan memberitahumu rahasiaku."
Sasuke mendengus, mempertimbangkan ucapan Naruko. Dia mengangguk sesaat. "Uchiha terbagi menjadi beberapa cabang dan semuanya bersaing untuk menjadi cabang pertama, cabang yang bisa menguasai seluruh Uchiha."
"Oke, lalu?"
"Dulu. 100 tahun yang lalu. Madara Uchiha, pamanku dari cabang lain menginginkan kekuatan. Kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Dia melakukan semua ritual yang aneh. Ritual yang… tidak pernah dilihat sebelumnya."
Naruko mengangguk, mendengarkan dengan seksama.
"Dia berhasil memanggil… siluman," Sasuke terdiam sesaat. "Namun dia tidak tahu bahwa siluman itu akan mengambil wujud sebagai nenek tua."
"Ah, aku tahu," Naruko berujar. "Konohamaru cerita. Nenek itu menghampiri kalian, minta menginap. Dan kalian mengusirnya sehingga kalian semua dikutuk, termasuk para pelayan."
Sasuke tersenyum mengejek. "Itu hanya cerita dongeng. Cerita yang kami suapkan pada para pelayan sehingga mereka tidak tahu akan kebenarannya."
Naruko terdiam. "Apa… kebenarannya?"
"Apa yang terjadi pada kami bukan kutukan," Sasuke memilin buku di depannya. "Tapi ujian."
"Ujian?" Naruko mengerutkan kening.
"Tujuan pertama Madara adalah mendapatkan kekuatan yang melebihi manusia," mata merah Sasuke berkilat dari balik kegelapan. "Dan siluman itu memberikan kekuatan itu, kepada semua penghuni 'istana' ini. Kami bisa berubah wujud, namun hanya di pagi hari. Kami bisa bergerak lebih cepat, lima insting kami melampaui manusia biasa. Namun, kekuatan ini tidak berguna karena kami terkurung di bawah tanah."
"Jadi…" Naruko berbisik. "Nenek itu memberi kalian ujian…"
"Bagi siapa yang bisa membuat si 'tumbal' mencintainya dalam waktu tertentu akan lulus ujian. Hadiah dari kelulusan itu tentu saja, 'kutukan' ini lepas, semuanya bisa menjadi normal lagi dan kami bisa keluar dari tempat ini."
"Jadi kalau semua orang disini bisa menjadi normal?"
Sasuke mengangguk. "Tapi khusus pada pemenang dan keluarganya, mereka akan mendapatkan kekuatan itu. Mereka tetap bisa berubah wujud dan mempunyai kekuatan yang melebihi dari semuanya ini."
Naruko ternganga. "Jadi… anggap saja kalau kita berhasil… kalian semua akan menjadi manusia lagi, bisa keluar dari tempat ini… Tapi khusus untuk kita berdua dan Itachi dan keluargamu… kalian masih bisa berubah wujud?"
"Sesuka kami, tidak harus di pagi hari," Sasuke tersenyum mengejek. "Jadi apa yang terjadi dalam waktu 100 tahun ini adalah kompetisi antara cabang keluarga. Ada tiga cabang di tempat ini dan kau adalah tumbal ketiga."
"Tapi kalau kita gagal mencintai…"
"Kita berdua akan tewas dan mereka harus mencari tumbal baru."
Naruko terdiam, menyerap semua ucapan Sasuke. Jadi di 'istana' ini bukan hanya keluarga Sasuke yang ada disini. Ada dua cabang lagi. Keluarga mendiang Obito… dan satu lagi, kalau tidak salah namanya Shusei.
"Kau adalah tumbal di keluargaku. Jadi yang boleh memilikimu adalah Itachi atau aku," Sasuke kembali menjelaskan. "Dua puluh tahun yang lalu, aku mendaftarkan diri. Tapi upacara resminya belum dilaksanakan. Siapa saja bisa merebutmu. Tumbal pertama tewas karena dia diperebutkan dua cabang sebelah."
Naruko mengernyitkan dahi, membayangkan wanita berambut pirang bermata biru yang dicabik-cabik oleh makhluk buas. "Tapi kalau kita berhasil… yang bisa simpan kekuatan ini hanya kita saja? Hanya keluargamu? Cabang-cabang sebelah akan menjadi manusia biasa bukan?"
Sasuke mengangguk.
"Kenapa kau mendaftarkan diri Sasuke? Kenapa tidak Itachi?"
"Seperti yang kubilang, dia yang paling kuat," Sasuke menjawab dengan nada tenang. "Dia tidak boleh tewas akan hal konyol seperti saling mencintai ini. Kalau terjadi pertempuran antar cabang, hanya dia yang bisa melindungi Ayah dan Ibu."
Naruko tidak menjawab. Jadi Sasuke mengorbankan dirinya? Demi keluarganya? "Kau sangat mencintai keluargamu…" Naruko berbisik.
Sasuke tidak menjawab. "Itulah alasan kenapa kau tidak bisa keluar dari tempat ini. Ini masih wilayah kami, dua cabang sebelah tidak akan mengganggu tempat kami. Tapi kalau Madara sampai tahu akan keberadaanmu…" Sasuke mengerutkan kening.
"Siapa Madara sebenarnya?"
"Ayah Obito," Sasuke mendengus. "Dia pernah mencoba untuk merebut tumbal pertama dari Shusei setelah upacara. Akhirnya tumbal itu tewas, membuat Shusei tewas juga."
Naruko mengangguk mengerti. "Tapi semua orang akan tahu akan keberadaanku pada upacara itu bukan?"
Sasuke mengangguk. "Aku akan memperkenalkanmu pada Ayah dan Ibuku sebelum upacara itu. Besok kau akan bertemu dengan mereka."
Naruko mengangguk lagi. "Oke."
"Giliranmu."
"Hah?" Naruko menelengkan kepalanya. "Apa?"
"Apa rahasiamu?" Sasuke menyipitkan matanya. "Apa kelemahanmu?"
Naruko berkedip, tersenyum sesaat. "Kurasa kau sudah tahu apa."
"Apa?"
"Tidak pernah mencintai orang lain," mata biru itu menatap Sasuke. "Maaf Sasuke. Semoga kelemahan ini tidak membunuh kita berdua."
Sasuke terdiam, memperhatikan Naruko yang berbaring, menyelimuti dirinya. Naruko meniup lilin di sebelahnya, membuat tempat ini menjadi gelap gulita.
"Kau mencintai keluargamu. Sangat mencintai mereka," bisikkan Naruko membuat Sasuke terpaku. "Bisakah kau mencintaiku begitu juga, Sasuke?"
"Tidak," Sasuke berujar langsung. "Tidak pada saat ini."
Naruko cekikikan, menyibakkan selimutnya. "Ayo tidur di sini, kita harus saling mencintai kan?"
Sasuke mendengus, dengan ragu berbaring di sisi Naruko.
"Aku suka padamu, Sasuke. Kau teman pertamaku."
Lelaki berambut raven itu terdiam, mengamati Naruko yang perlahan-lahan tertidur.
xxx
07:15 AM
3rd day
Mata Sasuke terbuka, menatap tajam. Dia menggeram pelan ketika dia sadar bahwa penglihatannya menjadi dua kali lipat lebih tajam.
Dia sudah berada di sosok panthernya.
Dia tertidur di kamar ini, menemani Naruko sampai wanita itu tertidur. Sasuke bangkit dari posisi tidurnya, melompat dari kasur Naruko. Dia berputar di kamar beberapa kali, ekornya bergerak cepat. Kuku-kukunya yang tajam bergesek di lantai, membuat Naruko mengerang. Sasuke terpaku, menoleh, menatap wanita berambut pirang yang perlahan-lahan duduk itu.
"Sasuke?"
Sasuke menggeram pelan sebagai jawaban.
"Jam berapa sekarang? Kenapa kau sudah bangun?" Naruko mengeluh. Mata birunya seakan-akan bersinar di balik kegelapan, dengan mudah wanita itu menatap jam antik di ujung kamar. "Hei, baru jam tujuh…"
Sasuke tidak menjawab. Naruko sudah dua hari terbekam di ruangan yang tidak dilapisi dengan cahaya lampu atau cahaya matahari. Di kamar ini hanya ada lilin-lilin remang. Dua tumbal yang sebelumnya akan menangis, minta keluar dari kamar, menginginkan cahaya yang terang.
Tapi Naruko terlihat sangat nyaman di berada di balik kegelapan.
Tumbal kali ini memang aneh.
"Apakah Konohamaru akan datang membawa makan pagi?" Naruko beranjak sesaat, meraih air minum di teko. "Dia tidak akan membawa pisang lagi kan?" Naruko meringis, menoleh ke arahnya sambil tersenyum jahil. Sasuke mendengus sebagai jawaban, memutar ekornya. Dia berbaring di lantai, memejamkan matanya. Naruko bersiul pelan, menyalakan beberapa lilin
Perlahan-lahan Sasuke beranjak, berjalan dengan perlahan ke arah Naruko. Wanita berambut pirang itu terpaku, menatap panther yang setinggi dadanya. Dia tidak mundur, mata birunya masih menatap mata Sasuke dengan lekat. Sasuke menggeram, membuat Naruko tersentak. Mata birunya terpaku pada taring Sasuke. "Ada apa?" Naruko berbisik. Suaranya pelan, namun tidak ada ketakutan di suaranya. "Sasuke? Ada apa? Kau tidak telepati lagi padaku? Mana suaramu?"
Sasuke tidak menjawab, membuat Naruko mulai cemas. Perlahan-lahan, dia mengulurkan tangannya, menyentuh ujung hidung Sasuke. Panther di depannya mendengus, membuat Naruko tersentak ketika merasakan napas tajam Sasuke di tangannya. Naruko terdiam sesaat, tersenyum. Dia mengusap kepala sang panther, mengabaikan taring yang mencuat karena tindakannya.
"Aku tidak tahu kenapa kau tidak mau bicara padaku, tapi aku tahu kau tidak kehilangan kesadaranmu. Bukankah begitu, Sasuke? Apa kau takut kalau cabang sebelah bisa mendengarmu?"
Sasuke mendengus lagi, membuat Naruko tertawa geli, menurunkan tangannya. Mata biru itu bersinar-sinar, menatap Sasuke dengan girang.
"Aku punya perliharaan sekarang."
Sasuke langsung melangkah selangkah ke belakang, menatap Naruko dengan rahang yang terbuka. Naruko cekikikan, duduk di kasurnya lagi, mengabaikan Sasuke yang mematung. Dia mengulurkan tangannya. Sasuke menatap jari-jari yang terulur itu. Perlahan-lahan dia berjalan, menempelkan ujung hidungnya di tangan Naruko.
Naruko… wanita yang aneh.
Licik, tenang, tidak takut pada apa pun. Tapi…
Naruko tidak pernah mencintai orang lain.
Apa yang membuatnya sampai dia bisa menjadi seperti… monster?
TBC
AN: chapter kali ini sampai 5000an. Hadiah buat para reader karena aku hiatus dulu #plak
tahun ini tahun senior di kuliah, jadi pesta projek sama ujian. aku cuma bisa free lagi nanti maret. Entah bisa nulis gak nanti bulan depan... zzz
apa pun itu, hope u all enjoy this chapter! sampai jumpa di chapter berikutnya!
