Author POV

Selesai sarapan, Baekhyun mencoba ke kamar Kyungsoo. Rasa penasarannya terus saja menghantui pikiran namja mungil itu tentang sketsa wajah yang di buat oleh sepupunya.

Pintu kamar ini ia ketuk untuk beberapa kali namun tak ada respon apapun dari dalam.

"Kyungie kau di dalam?"

"..." Hening tak ada jawaban sedikit pun dari dalam sana.

Perlahan Baekhyun membuka pintu kamar ini lalu memasukan sebagian kepalanya untuk memastikan keadaan di dalam.

Kedua matanya terus mencari sosok sepupunya itu namun kamar ini kosong. Tak ada tanda tanda kehidupan di dalamnya.

Walau ragu untuk masuk, Baekhyun tetap memberanikan diri masuk ke dalam kamar milik sepupunya ini. Dari dulu Kyungsoo sangat sensitif jika Baekhyun masuk ke kamarnya.

"Kemana anak itu?" Baekhyun terus melangkah mendekati ranjang milik Kyungsoo.

Ia memperhatikan banyak kertas yang terlihat seperti sampah karena berserakan di lantai.

"Heol anak itu seperti sedang patah hati! Lihatlah kertas kertas ini.."

Beberapa kertas itu ia ambil dan di lihat banyak coretan gambar dan tulisan.

"Ku pikir pekerjaannya sangat santai. Sepertinya anak itu sangat stress dengan pekerjaanya."

Beberapa coretan dari tulisan ini ia baca.

'Di supermarket'

'Seperti sudah diatur oleh takdir, mereka selalu di pertemukan'

"Ige mwo-ya?" Baekhyun mengerutkan kedua alisnya saat membaca potongan dari tulisan ini.

"Entah kenapa anak itu tidak mencoba pekerjaan di luar sana dari pada harus berkutat dengan laptop dan kertas-kertas ini."

Dengan lancang, ia membuka laptop milik Kyungsoo. Kedua matanya fokus pada beberapa file yang berisi komik hasil dari sepupunya itu.

"Omo...sudah cukup banyak komik yang sudah dia terbitkan."

"Eoh? Bahkan tidak ada satu komik hasil karyanya yang ku baca."

"Apakah menjadi pembuat komik dapat menghasilkan uang banyak?"

Tak hanya berkas cerita-cerita komiknya, bahkan ia membuka file gambar komik yang Kyungsoo buat. Terkadang Baekhyun kagum dengan keahlian gambar sepupunya.

"Bagaimana bisa dia membuat gambar anime seperti ini? Woahh.."

"Sepertinya keluarga kami memang berbakat dalam hal menggambar."

Baekhyun terhenti saat melihat sebuah gambar anime pria tinggi yang Kyungsoo buat. Dengan jahil namja ini mengubah tampilan baju pada anime pria tinggi tersebut.

"Selera fashionnya terlalu kaku ckck!"

"Tenanglah Kyung, aku sebagai designer akan membuat tampilan anime ini sangat hidup untuk di lihat."

Jemarinya sibuk berkutat dengan keyboard laptop ini.

Beberapa menit sibuk mengubah tampilan baju anime ini, tak lama ia mendengar suara klakson mobil.

"Omo! Itu pasti Kyung! Aigoo...anak itu akan murka kalau aku menyentuh barang-barangnya."

Dengan segera Baekhyun menyelesaikan lalu kembali menutup laptop ini.

Sebelum Kyungsoo masuk ke kamar, ia harus keluar dari kamar ini.

Krek~

Tepat saat Baekhyun menutup pintu, suara panggilan Kyungsoo membuat pendengarannya terkesan horor.

"Baek?"

"Eoh? K-Kyung? Aku baru saja ingin masuk ke kamarmu. Ku pikir kau di dalam." Dengan cengiran kaku Baekhyun mencoba untuk tetap tenang walau dalam hatinya takut setengah mati.

"Benar kau belum masuk ke kamar?" Selidik Kyungsoo dengan tatapan tajamnya.

"Kau kemana? Bahkan pagi-pagi kau sudah pergi." Baekhyun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.

"Tinta printer habis. Jadi aku harus cepat-cepat membelinya karena pagi tidak begitu ramai."

"Ah...ok kalau begitu aku ingin mandi."

"Baek.."

Baru saja namja mungil ini ingin melangkah pergi dari Kyungsoo, namun langkahnya terhenti saat sepupunya itu mencoba menahannya.

"Hari ini apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kyungsoo.

"Kenapa kau menanyakannya?"

"Jika kau pergi keluar, pulanglah bawa makanan."

"Ckck...kenapa tidak pergi bersamaku saja? Kita sudah lama tidak jalan bersama bukan?"

"Mian Baekie~! Aku sangat sibuk. Terkadang eomma akan berteriak berusaha membuatku keluar dari kamar."

"Jika aku jadi dirimu, sepertinya aku akan membusuk di kamar."

"Oh ayolah Baek, tidak ada yang gratis di dunia ini! Kau menginap disini tanpa pungut biaya. Jadi sebagai imbalannya, kau harus membelikanku makanan."

"Arasseo..arraseo! Jika kau menginap di rumahku, kau harus bayar 2 kali lipat sebagai pembalasannya. Bye!"

Baekhyun kembali melangkah menuju kamar mandi. Ia berharap Kyungsoo tidak mengetahui kalau dirinya telah menyelusup ke dalam kamarnya.

Namja yang tak kalah mungil itu segera masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya berdiri di depan pintu saat melihat pemandangan kamarnya yang benar-benar seperti sampah.

"Aigooo...berapa lembar kertas yang ku campakan?"

Dengan malas ia segera merapihkan kamarnya. Dan setelah terlihat sudah rapih, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Eoh? Sepertinya ada yang berbeda dari gambar anime ini." Pikirnya saat memperhatikan gambar anime di laptopnya.

"Apakah aku membuat baju si C seperti ini sebelumnya?" Berulang kali anak ini terus berpikir.

"Ah sudahlah! Pikiranku sangat kacau dan berakhir dengan kepikunan."

Drrttt~

Saat Kyungsoo ingin mencetak gambar itu, ia menerima sebuah panggilan dari Kai.

"Nde?" Sapa Kyungsoo setelah menerima panggilan tersebut.

"Kau sudah menyelesaikan gambarannya?"

"Nde aku sudah menyelesikan gambarnya. Ini aku sedang mencetaknya."

"Jinjja?"

"Bahkan wajah anime ini lebih tampan dari wajahmu Kai!"

"Kau pasti terinspirasi dari wajah tampan rupawanku ini bukan?"Terdengar suara kekehan dari sebrang sana.

"Kau tidak ingin membuang waktuku bukan?"

"Aigooo...kau tidak merindukanku hemm?"

"Oh ayolah aku cukup stress dengan pekerjaan ini. Jadi aku ingin selesaikan secepatnya."

"Gurae, jangan lupa makan!"

"Arraseo~!"

Panggilan itu pun terputus dan dengan segera ia kembali melanjutkan pekerjaan mencetaknya.

Byun Baekhyun POV

Mempunyai sepupu seperti Kyungsoo sangatlah menyebalkan. Beruntung dia adalah sepupuku. Jika tidak, mungkin aku sudah membakarnya hidup-hidup.

Dia tidak menyadari kalau dirinya butuh refreshing. Berkutat dengan imajinasi sangat membutuhkan waktu di luar. Sementara dirinya seperti mumi yang terlalu nyaman di dalam kamar.

Ok sepertinya aku terlalu banyak menggerutu sepanjang jalan. Karena aku benar-benar sangat gemas dengan sepupuku yang satu itu.

Selesai memarkirkan skuter putih ini, aku segera masuk ke dalam supermarket.

Ketika aku membuka pintu kaca ini, aku merasa dunia berputar sangat cepat. Aku mematung dengan pemandangan di dalam supermarket ini. Semua orang berjalan dengan cepat dan ketika tak sengaja melihat jam tanganku, jarum jam pun ikut berputar dengan cepat.

"A-da apa ini?"

Tepat ketika jarum jam berhenti di angka 7 semua terlihat normal kembali.

Namun tunggu...

Aku merasa ada yang berubah.

"M-mwo? K-kenapa tiba-tiba malam?"

Seketika kepalaku terasa berdenyut dengan semua kejadian ini.

Jika saja seseorang tidak menahan tubuhku, mungkin aku akan terjatuh.

"Gwaechana?" Tanya seseorang dari balik punggungku.

Aku mencoba menoleh ke sumber suara.

Seorang namja bertubuh tinggi, bermata besar dan bertelinga lebar adalah orang yang menahan tubuhku.

'Eoh? Sepertinya aku tidak asing dengan ini.'

'Kenapa aku merasa tidak asing dengan ciri-ciri namja ini?'

'Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?'

Seketika bayangan gambar anime itu terlintas di benakku. Bahkan coretan dari tulisan itu pun terbayang di pikiranku.

"K-komik?" Kejutku langsung berdiri tegap dan membuat jarak diantara kami.

"Apa kau sakit? Ku lihat kau seperti ingin pingsan." Tanyanya.

"K-kau..." Aku menelusuri setiap lekukan wajah tegasnya yang...

Ok ku akui jika dia terlihat tampan.

"Wae?" Kedua mata besar itu menatapku bingung.

"Ah...ani! Aku hanya merasa tidak asing dengan wajahmu."

"Beberapa orang pun dapat mengenalku walau aku tidak tau mereka." Kekehnya.

"Ye?"

"Kau mungkin sempat melihatku di suatu acara musik."

"Acara musik?" Aku semakin dibuat bingung olehnya.

"Kau mengenalku karena aku seorang produser musik bukan?"

"Mwo? Produser musik?"

Namja tinggi ini mengerjapkan kedua matanya dan terlihat lugu.

Ok, jadi siapa sebenarnya yang bingung dengan keadaan ini?

"Kenapa kau terkejut? Bukankah kau sendiri yang sudah mengenaliku?" Tanyanya.

"A-ani! Aku tidak mengenalmu."

"Ahh...mungkin aku hanya tak sengaja melihat seseorang dengan wajah yang mirip sepertimu." Kekehku.

"Sepertinya sekarang kau terlihat sudah sehat."

"Ye?"

"Tadi kau hampir pingsan."

"Ahh...terima kasih sudah menahan tubuhku yang berat ini." Aku sedikit membungkukan badan sebagai rasa terima kasihku.

"Itu tidak masalah." Balasnya dengan senyuman yang mmm...ok cukup menawan.

"Sepertinya aku harus pulang! Sekali lagi terima kasih..."

Saat aku kembali melangkah untuk pergi, langkahku terhenti dan terdiam beberapa detik.

"Apakah namamu berinisial C?" Tanyaku kembali menoleh padanya yang masih berdiri di depan pintu.

"Park Chanyeol imnida!" Jawabnya sedikit membungkuk dan masih dengan senyumannya.

'Omo...b-benarkah C itu adalah nama untuk Chanyeol?'

TBC~