Disclaimer : I do not own Kuroshitsuji nor the characters, every series belong to Yana Toboso only

Warnings : AU, OOC, language—maybe? May contain Sho-ai in the next chapters, semi-drabbles


"Selamat datang!"

Rachel menyambut lima orang yang berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyum lebar. Keluarga Middleford—kecuali satu orang sebagai setengah bagian—sebagai tamu pertama mereka dengan khidmat menganggukkan kepala mereka. Yang paling depan—kepala keluarga Middleford, tentunya—adalah Alexis Leon Middleford, pria berwajah serius dengan seorang wanita cantik disampingnya dengan raut wajah yang tak kalah serius, Francis Middleford. Dibelakang mereka, Edward Middleford, sang putra pertama, terlihat sibuk dengan ponsel tab-nya. Diikuti dengan gadis berambut ikal dengan mata emerald yang berbinar dan anak laki-laki bermata light blue yang sebaya—sama-sama pirang—yang masing-masing mengangkut keranjang buah dan kotak besar berbungkus kertas kado. Elizabeth Middleford dan Alois Trancy.

"Halo, kakak ipar. Bagaimana kabarmu?" Alexis buka suara. "Lama tidak bertemu. Dan selamat atas kepindahannya."

"Baik, sangat baik, terima kasih banyak." balas wanita berambut smeary blonde itu. "Oh, aku sampai lupa untuk mempersilakan kalian masuk! Tidak sopan sekali! Silahkan masuk, semua!"

"Hal wajar, Rachel. Wajar sampai kau benar-benar tega membiarkan kami berdiri disini sampai acara selesai." Francis berkata datar, hampir menusuk.

"Oh, aku selalu suka selera humormu yang seperti itu, Mrs. Middleford." Rachel yang bebal hanya menanggapi sindiran itu dengan santai.

"...Bagus kalau begitu." alis Francis mulai berkedut tanda kesal, tapi ia menahannya. "Lagipula, kau cukup panggil aku Francis. Aku juga tidak perlu memanggilmu kakak."

Rachel tertawa pelan sambil bergeser sedikit dari depan pintu agar tamu-tamunya bisa masuk ke dalam rumah dengan mudah, yang setelah itu segera disambut ulang oleh Vincent yang sedari tadi menunggu di ruang tamu. Edward memberi salam sopan pada Rachel saat mereka berpapasan, lalu kembali menekuni gadget di tangannya. Terakhir adalah dua remaja pirang yang sedari tadi tersenyum lebar seperti anak TK yang menunggu antrian ice cream gratis.

"Selamat malam, Bibi Rachel!" keduanya memberi salam bersamaan. Tepat setelah itu, senyum mereka memudar. Keduanya berpaling melihat satu sama lain, lalu saling melempar tatapan tajam tanda tidak suka.

"Hei, centil, aku yang memberi salam duluan! Kenapa kau malah ikut-ikutan?"

"Huh? Kurasa aku mengucapkan kata 'selamat' satu detik lebih awal darimu, tengil!"

Rachel sweatdropped.

"Uh... selamat malam, anak-anak. Kalian tidak perlu bertengkar hanya karena siapa yang lebih dulu memberi salam..."

"Ck, tapi—"

"ELIZABETH! ALOIS!" raung Francis dari arah ruang tamu. Sepertinya pertengkaran kecil mereka sampai ke telinga tajam wanita galak itu.

Duo pirang itu langsung bungkam. Namun bukan berarti perang selesai begitu saja. Baik Elizabeth dan Alois masih saling memberi tatapan yang seolah berkata 'one more wrong move and I'll kill you'. Tapi hal ini sudah cukup membuat Rachel merasa lega.

"Oh iya, ini dari kami, untuk keluarga Bibi!" Elizabeth seketika kembali memasang senyum princess-nya sambil menyodorkan keranjang yang sedari tadi dibawanya pada Rachel.

"Oh, terima kasih banyak, Elizabeth" Rachel menerima keranjang tersebut. "Apa kotak yang kau bawa juga untuk kami, Alois?" candanya.

"Tentu saja, Bibi Rachel. Mana mungkin kubawa kemari kalau untuk diriku sendiri?" balas Alois, bermaksud menyerahkan kotak itu ke tangan Rachel. Namun wanita itu akan kepayahan bila membawa keranjang dan kotak besar sekaligus. Ia mengedarkan pandangan ke ruang tamu, memutar otak. "Boleh kutaruh kotak ini di meja yang disana, Bibi?"

"Eh, ya, tentu. Terima kasih, Alois."

Alois berjalan menjauhi Rachel dan Elizabeth menuju meja besar di ruang tamu. Elizabeth bergerak-gerak gelisah sambil mengalihkan pandangannya ke sekeliling, dan hal ini membuat Rachel sedikit heran.

"Ada apa, Elizabeth?"

Elizabeth terkesiap. "Eh? Yah—uum, Bibi, boleh aku tahu dimana letak kamar kecil? Tadi aku tidak sempat ke toilet gara-gara ibu sudah marah-marah karena takut kami akan terlambat tiba ke sini."

Rachel tertawa. "Oh, ya ampun! Kamar kecil untuk tamu ada di bawah tangga, Elizabeth. Sebelah kiri ruang keluarga."

"Oke, terima kasih, Bibi." ia berlalu, sedikit berlari kecil. "Dan Bibi cukup panggil aku Lizzy!"

Rachel hanya bisa geleng-geleng kepala. Tepat setelah Elizabeth hilang dari pandangan, Alois kembali dari ruang tamu.

"Bibi Rachel, dimana Ciel?" tanya Alois sambil membenarkan letak jam tangannya.

"Oh iya, aku sampai lupa. Tidak sabar bertemu sahabat kecil, eh, Alois?" Rachel mengacak-acak rambut keponakan angkatnya itu. "Datangi saja, dia masih di kamarnya, di lantai dua dekat tangga. Sepertinya dia agak grogi menyambut tamu-tamu baru."

Alois ingin bertanya lebih lanjut, tapi sepertinya konsentrasi Rachel sudah agak distract karena bunyi bel yang kembali bersahutan. Maka tanpa perlu diberi aba-aba lebih lanjut, remaja pirang itu langsung berlari ke dalam rumah untuk menemui sahabatnya.

000

Ciel menutup pintu kamarnya dengan hati-hati, berusaha untuk tidak membuat bunyi sedikit pun. Sampai detik ini, ia masih berusaha untuk tenang.

Suasana di lantai bawah semakin ramai. Lamat-lamat, ia bisa mendengar suara pamannya—Alexis—yang sedang terlibat pembicaraan dengan ayahnya dan komentar bibinya—Francis—tentang noda lengket berwarna kuning muda di dinding ruang keluarga (yang Ciel yakini adalah hasil uphead service ibunya tadi sore). Juga suara ibunya yang sedang bebicara dengan seseorang beraksen aneh—Chinesse, mungkin—dan suara wanita yang kedengarannya sedikit angkuh. Ada juga beberapa suara-suara lainnya yang saling melempar kata sapaan dan basa-basi.

Ciel semakin nervous. Dia merasa konyol bisa merasa segugup itu hanya karena akan bertemu dengan orang banyak.

Ia memutuskan untuk mengabaikan perasaan groginya itu. Pemilik orb sapphire itu pun berbalik badan menuju tangga. Karena terlalu fokus memerhatikan percakapan orang-orang di lantai bawah, Ciel tidak menyadari suara derap kaki yang terburu-buru menaiki tangga sampai...

"ASTAGA!"

Ciel membeku di tempat, persis sebelum ia menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Dua puluh senti dari wajahnya, Alois, si sepupu angkat, hampir saja menabraknya jika saja keduannya tidak berhenti di waktu yang tepat.

"Al—"

"CIEL!" sekonyong-konyong, si pirang pucat langsung menghambur ke arah Ciel dan memberinya pelukan erat sahabat. Pemuda biru-kelabu itu nyaris kehilangan keseimbangan sampai tangannya menemukan banister sebagai tempat bertumpu.

"A...Aloisss—hegh—lep..."

"Ciel! My best pal! Bagaimana kabarmu? Sudah tujuh tahun kita tidak bertemu secara langsung! Apa kau tidak kangen padaku selama di Manhattan? Aku kangen sekali!—" rongrong Alois yang akhirnya dihentikan oleh cubitan Ciel di sisi pinggannya. Refleks Alois melepas pelukannya.

"Aw, Ci-el! Kenapa kau mencubitku?" protesnya tidak terima.

"Tidak. Bisa. Napas." jawabnya putus-putus sambil memegangi dadanya. "Haaaah... jangan pernah lakukan percobaan pembunuhan itu lagi, Alois! Kabarku baik-baik saja."

"..."

"Kenapa diam?"

Alois menjitak kepala Ciel tanpa ampun.

"ADUH!"

"DASAR ANTI-SOSIAL!" Alois pura-pura membentak. "Dari dulu, selalu begitu! Apa salahnya sih, membalas basa-basi seseorang? Kau bisa balas bertanya dengan 'bagaimana denganmu?', 'kau sendiri, baik-baik saja?', atau apalah. Basa-basi itu penting, Ciel!"

Ciel yang tadinya sempat ingin protes, buru-buru kembali menutup mulutnya. Anti-sosial? Apa-apaan itu... anti-sosial?

Ciel tertegun. Ia memang tidak terbiasa dengan segala macam interaksi—bahkan untuk hal yang paling dasar—seperti ini. Sekedar menanyakan kabar, yang bahkan orang tuanya pun jarang menanyakan hal sesimpel itu saking sibuknya. Singkatnya, tidak pernah menyapa. Tidak pernah disapa. Kalaupun harus, siapa lawan yang harus ia ajak bicara? Tembok? Karpet? Microwave?

Alois yang melihat Ciel terdiam setelah diceramahi seperti itu, lama-lama jadi tidak enak. "Oi... Ciel. Aku tidak serius. Jangan langsung terpukul seperti itu, dong..."

Suara Alois membuatnya kembali ke dunia nyata. Melihat wajah sepupunya yang cemas seperti itu membuatnya ingin tertawa. Tiba-tiba saja Ciel membekap mulut sepupu angkatnya itu.

"Hmppph—! Hmmph mmmmmph!"

"Sebentar, Alois. Aku hanya ingin kau tidak berisik untuk sementara." Ciel memasang tampang serius. Alois heran, ingin sekali bertanya, tapi ia tetap menurut.

Ciel berdeham kecil, lalu membuka mulut. "Menurutmu... aku kelihatan seperti orang yang anti-sosial?"

Kerutan terlihat semakin jelas di dahi Alois.

"...Kau bisa menjawabnya dengan anggukan atau gelengan." putus Ciel.

Yang ditanyai akhirnya mengangguk kecil.

"Apa anti-sosial itu bukan hal yang baik?"

Satu anggukan lagi.

"Bisa jelaskan kenapa?"

"Mfffhm mmmmhm hhhffm!"

"Maaf?"

Tidak tahan lagi, Alois melepas tangan Ciel dari mulutnya dengan usahanya sendiri. "Kubilang, mana bisa aku jelaskan sementara kau menghalangiku untuk bicara, bodoh! Ya! Kau bersikap seperti anti-sosial! Tidak bisa melihat keadaan sekitar!"

Ciel berdecak. "Yeah, kuakui aku memang tidak bisa berbasa-basi..."

"Hm-mm! Kurasa ini karena kau terlalu lama terkurung di dalam istana di Manhattan itu! Kemampuan bersosialisasimu jadi sangat payah!"

"Aku memang tidak pernah berbicara dengan orang lain, apalagi dengan orang asing—"

"Whoa, tunggu... tunggu. Jangan bilang kau sedang merasa nervous?"

Ciel tampak ragu, lalu mengangguk pelan.

"Kau bingung bagaimana caranya menghadapi tamu-tamu yang datang?"

Ciel mengangguk sekali lagi.

"Tidak tahu apa yang harus kau ucapkan pada mereka?"

Satu anggukan lagi.

"BRAVO! Hahahaha!" Alois tertawa keras-keras. Ingin rasanya Ciel menonjok sepupunya itu sampai giginya copot semua. "Hahaha—eh, yah... aku mengerti, Ciel. Kalau aku jadi kau, aku juga akan melakukan hal yang sama. Tidak tahu bagaimana caranya menghadapi... orang banyak. Aku tahu kau butuh bantuan."

Ciel membuat ekspresi seolah-olah berat untuk mengatakan sesuatu.

Gotcha. Phantomhive muda ini terkenal sangat sulit untuk meminta pertolongan orang lain.

"Sudahlah, jujur saja..."

"Ya, eh —tidak, maksudku... AAAARGH! Baiklah! Aku butuh bantuanmu untuk menghadapi orang-orang itu, Trancy!"

Alois tersenyum lebar. "Nah, begitu lebih baik. Tapi—hei, perbaiki kosakatamu! Apa maksudmu dengan menyambut tetangga barumu dengan 'menghadapi orang-orang itu'? Kau pikir kau ini ninja yang sedang melaksanakan misi?"

"Oke, maaf. Langsung saja ke permasalahannya." kata Ciel tak sabar.

"Jadi, sebagai individu baru dalam sebuah kelompok yang kompleks, hal yang pertama kali harus kau lakukan adalah menciptakan kesan baik." Alois menjelaskan dengan sabar. Ciel mengangguk-angguk sok paham, padahal kata-kata Alois terdengar seperti nyanyian musisi jalanan di telinganya. "Biasanya, mereka menanyakan kabar kita untuk memulai pembicaraan atau sekadar basa-basi. Hal itu wajar, karena kelompok itu secara tidak langsung memberi petunjuk pada si individu baru bagaimana cara beradaptasi yang sesuai dengan lingkungan agar ia bisa diterima dengan baik oleh mereka."

"Teorimu berlebihan." potong Ciel. "Aku berani taruhan, sebelum kemari kau sempat menghapalkan beberapa bab makalah sosiologi milik Edward."

"...Mau kubantu atau tidak?"

"Iya, iya. Lanjutkan."

"Ah, percuma. Aku tahu kau tidak memerhatikan ucapanku barusan. Sepertinya hasilnya akan lebih bagus jika kita langsung terjun ke lapangan." Alois menyeret Ciel turun tangga seenaknya.

"Loh? Hei! Aku belum siap!" protes Ciel.

"Siap tidak siap, yang penting oke." bantah Alois ngaco. "Kalau bisa, sapa mereka sebelum mereka menyapamu. Kalau mereka yang menyapamu lebih dulu, tidak apa. Cukup dijawab dan jangan lupa membalas basa-basi mereka. Jangan pakai kata basa-basi yang sama, karena kau akan membuatnya lebih buruk. Improvisasi diperbolehkan. Komentar tentang kesan pertama, lebih baik lagi."

"La—"

Dari bawah tangga, gadis bermata hijau cerah menangkap pergerakan mereka dari sudut matanya. Seketika Lizzy, gadis yang dimaksud, menyadari siapa yang sedang ia lihat dan segera berlari menghampiri dua orang yang sedang menuruni tangga itu.

"Waaaai! Ciel!"

"Li-Lizzy!" yang disapa sedikit kaget. Ia segera melirik pemuda pirang di sampingnya. Tatapannya seolah berkata, 'kupraktekkan sekarang?'

Alois menjawab tatapan itu dengan raut wajah yang menyatakan, 'tentu saja, lamban.'

Ciel berdeham. "Ha-halo, Lizzy. Apa kabar?"

Alois mengacungkan jempolnya. Nice try!

Dan bahkan demi ini, Alois rela menyimpan 'rutukan'nya untuk si gadis pirang itu.

"Hm? Tidak seperti Ciel yang biasanya, menanyakan kabar." Lizzy heran, tapi matanya yang berbinar-binar itu sukses menutupinya. "Baik, tentu saja! Kau?"

"Yeah, aku baik." Ciel tersenyum. Tapi bukan senyum basa-basi. Senyum karena berhasil untuk berbasa-basi.

Ha, memang rasanya remeh sekali, bangga karena bisa melakukan hal seperti itu.

Tapi jika berhasil melakukan sesuatu dengan benar , sekalipun itu hal yang sepele, menimbulkan rasa bangga tersendiri, bukan?

"Ciel?" suasana cemerlang di pikiran remaja itu segera buyar saat mendengar suara wanita yang membuat pegulat pro sekalipun akan berlari mencari perlindungan di ketiak ibunya.

"Bi-Bibi Francis?" dengan—sangat—berat hati, Ciel berpaling ke sumber suara.

Di ruang keluarga, berdiri sang bibi dan paman dari keluarga Middleford, dengan ayahnya yang hanya bisa tersenyum geli di samping mereka.

"Salam macam apa itu? Apa penduduk New York biasa menyapa dengan suara gagap?" gerutunya.

"Uh—maafkan saya. Halo, Paman Alexis, Bibi Francis. Bagaimana kabar Anda berdua?"

"Lebih baik." Francis bergumam. "Kami baik-baik saja."

Ciel takut-takut melirik ke arah pamannya yang sedari tadi menatapnya skeptis. Yang membuatnya makin merinding, Alexis berjalan mendekatinya perlahan dengan sorot mata yang semakin tajam.

"Eh, Paman..."

Grep.

"...?"

"CIEL! Oh, ya ampun! Tujuh tahun yang lalu dengan sekarang, kau tetap saja menjadi keponakan LAKI-LAKIku yang IMUT!" tiba-tiba saja om-om itu melepas topeng galaknya dan berubah seperti anak gadis yang sedang jatuh cinta.

...Oke, sekarang Ciel tahu bahwa ini adalah panduan adaptasi pertamanya dalam sebuah kelompok yang kompleks di Monday Dew.

000

Saat Alexis sedang seru-serunya mencubiti pipinya dengan gemas, Ciel mendengar panggilan ibunya dari arah ruang tamu. Panggilan sederhana itu seolah seperti nyanyian dari surga yang dapat menariknya keluar dari penderitaan duniawi yang sedang ia alami.

"Baik, Mum! Tunggu sebentar!" dengan senang hati ia melepaskan diri dari 'cengkraman' pamannya dan segera berlari menuju ruang tamu. Tidak lupa ia menarik lengan Alois, memaksanya ikut serta sebagai 'tutor sementara' untuk praktek sosialisasinya.

Di ruang tamu, ada BANYAK wajah-wajah baru yang tidak ia kenali. Para tamu sedang asyik menikmati cake dan lemonade yang dihidangkan. Di sisi pintu, ibunya melambaikan tangan, mengisyaratkan untuk menghampirinya.

"Sini, dear." panggil Rachel "Beri salam pada para tetangga baru kita."

Melihat berpasang-pasang mata yang menatapinya tanpa henti, Ciel mulai berkeringat dingin. Tepat sebelum ia membuka mulutnya, Alois menarik lengan Ciel agar posisi telinga pemuda yang sedang grogi itu sejajar dengan bibirnya.

"Kalau menghadapi orang banyak, yang kau butuhkan adalah improvisasi." bisiknya mantap.

Ciel menelan ludah. Improvisasi? Hanya satu—yang paling sederhana—yang ia tahu.

"S-selamat malam, saya Ciel Phantomhive. Senang bisa bertemu anda semua."

Di sebelahnya, Alois mendengking pelan. Respon yang aneh, tapi Ciel tahu apa artinya: improvisasi berhasil.

"Wah, wah." seorang pria muda bermata super-sipit dengan wanita oriental yang cantik menggamit lengannya maju dari kerumunan dan menghampiri Ciel. "Jadi ini anak lelaki anda yang baru saja anda ceitakan, Mrs. Phantomhive? Kelihatan pemalu. Aku Lau, dan ini adikku, Ranmao. Senang bertemu denganmu. Oh—sebentar—Ranmao bilang, dia juga senang bertemu denganmu."

Ciel hanya menanggapinya dengan senyum simpul. Orang bernama Lau itu mengelus kepala wanita yang ia sebut adiknya itu pelan-pelan sementara sang adik—yang tidak berbicara sama sekali—semakin mengeratkan rangkulannya di tangan kiri pria itu. Kakak beradik? Tidak kelihatan seperti itu, pikirnya.

"Hm, rasanya tidak enak menginterupsi para tamu yang sedang menikmati hidangan." Rachel melambaikan tangannya. "Jadi, Ciel, biar kukenalkan mereka satu per satu."

"Oh?"

"Yang di pojok kanan sana, Mr. Soma, dan dan kakak sepupunya, Mr. Agni. Mereka tinggal di rumah nomor 1," dua orang pria tan yang Ciel sadari adalah orang yang ia lihat tadi pagi melambai ke arahnya, "Di sebelahnya, Mr. Ronald Knox, mahasiswa penghuni rumah nomor 7," sesosok pria dengan highlight rambut yang unik nyengir lebar, namun ditujukan ke arah wanita di sebelahnya yang diperkenalkan oleh ibunya segera setelahnya, "Lalu Ms. Hannah Annafeloz, dia tinggal di rumah nomor 10. Ngomong-ngomong, dia model, lho." tambah ibunya sambil menunjuk dengan sopan ke arah wanita berkulit agak gelap dan berambut violet pucat—yang Ciel sadari ia juga sudah melihat wanita itu tadi pagi—yang berwajah cantik namun memperlihatkan ekspresi annoyed dan tidak peduli. Ciel bisa menebak bahwa dialah pemilih suara angkuh yang ia dengar tadi. Rachel segera beralih ke sisi kiri ruang tamu.

"Di sebelah kiri ada Mr. William T. Spears yang tinggal di rumah nomor 12," laki-laki super rapi dengan wajah flat mengangguk sopan padanya, "Lalu, oh, disampingnya Mr. Grell Sutcliff, teman sharehouse Mr. Ronald," tunjuk Rachel beralih pada laki-laki—atau perempuan? Ciel tidak begitu yakin—yang menggumamkan protes tentang embel-embel 'Mr.' di balik senyumnya yang menyeramkan, "Dan ada Bard, Finny dan Mey-rin, para... karyawan di rumah nomor 3. Sayang sekali, si pemilik rumah berhalangan hadir," dua laki-laki—yang satu dengan puntung rokok di mulutnya dan yang lain dengan topi jerami dan lebih pendek— dan satu wanita berkacamata lensa tebal memberinya senyum ramah superlebar, Ciel balas tersenyum, "Setelah itu... lho? Mana Mr. dan Mrs. Landers?"

"Sepertinya ke toilet. Kebanyakan minum lemonade." seloroh Ronald. Pria tan tinggi di sampingnya, Agni, menyikutnya. Ronald ber-aw pelan.

"Uh—oke. Jadi, Ciel, jika kau melihat suami-istri yang, err... identik, itu adalah mereka." Rachel berusaha mengabaikan kerutan di kening anak laki-lakinya itu.

"Hm-mm. Sekali lagi, senang bertemu dengan anda semua." Ciel membungkuk sopan ke arah para tamu. Para tamu sedikit ribut, menggumamkan beberapa kata balasan.

"Ngomong-ngomong, Mum, Semua tamu sudah hadir?" tanya Ciel hati-hati. Rachel menggeleng.

"Sayangnya, belum. Beberapa memang berhalangan hadir, tapi ada yang sudah janji untuk hadir namun belum datang."

"Yah, begitulah." sambung Alois. "Salah satunya adalah orang—maksudku beberapa orang— yang sangat ingin kukenalkan padamu."

Sebelum Ciel sempat melayangkan pertanyaan, Vincent muncul dari ruang keluarga. "Rachel, sepertinya tidak baik juga kita menjamu tamu-tamu kita hanya dengan cake kecil dan lemonade. Bagaimana jika acara makan malamya kita mulai saja?"

Rachel menyadari sinyal mata Vincent yang sedikit mengerling ke arah jam dinding. Sudah hampir jam 7. Waktu yang normal untuk memulai makan malam.

"Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai acara puncak. Ladies and gentlemen, silakan menuju ruang makan untuk menikmati hidangan yang telah kami sediakan."

000

"So far so good, Ciel! Kau sukses menguasai teori yang pertama dan kedua!" Alois menepukkan tangan kanannya ke pundak kurus Ciel. Sekarang mereka berada di samping tangga, celah yang sempurna untuk bersembunyi untuk 'menyusun strategi' selagi para tamu masih menikmati hidangan, sementara mereka sengaja menyelesaikan bagian mereka lebih cepat.

"Yeah. begitulah. Aku berhasil, kan? Hore. Cool. Sepupuku yang hebat. Dan bla bla bla. Kuharap ini segera selesai." gumamnya tidak jelas.

"Hah? Apa, sih?"

"Lupakan." dengus Ciel. "Kenapa ada dua? Memang tadinya ada berapa?"

"Ada tiga." Alois berdecak. "Kau melupakan poin yang terakhir. Komentar tentang kesan pertama."

Ciel memutar matanya. "Oh? Itu masih perlu? Kelihatannya kita sudah kehabisan korban untuk kuberi salam."

Alois menggelengkan kepalanya dengan sok dramatis. "Belum, belum. Aku yakin belum."

"Kenapa tidak kucoba saja dengan tamu yang sudah ada?"

"Jangan! Nanti renca—oops!"

Alis Ciel sedikit naik. "Apa? Renca apa?"

Alois buru-buru menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Er... tidak! Uh, ngomong-ngomong, aku sudah bilang akan mengenalkan teman-temanku di Monday Dew, kan? Kau tahu Soma? Dia itu kakak kelasku, lho. Orang India—lalu Miss Hannah? Hannah... yeah, wajahnya itu benar-benar membuatmu ingin menonjoknya, kan? Hmm? Kalau, eh, siapa lagi ya? Oh iya—"

Alois meracau tanpa henti. Ini kelihatan seperti sepupunya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.

"—hahaha, begitu! Dan yang tadi juga Mr. Spears, dia..."

Tiba-tiba saja Alois menghentikan racauannya. Pandangannya tertuju ke arah ruang tamu, seolah kosong. Kelakuannya ini membuat Ciel bingung. Ia melambai-lambaikan tangannya persis di depan batang hidung si pirang pucat. Namun saat itu juga Ciel menyadari sesuatu. Pandangannya itu, bukan... bukan kosong.

He's stunning.

Ciel berbalik badan agar bisa melihat ke arah yang sama dengan Alois. Dari arah pintu masuk, laki-laki berumur akhir belasan—menurut sudut pandang Ciel—berambut shaddy black dengan potongan rambut yang aneh namun cool dengan kacamata thin frame yang menirai orb keemasan baru saja datang dan disambut oleh ayahnya, Vincent. Vincent segera mempersilahkan laki-laki itu masuk, tapi sepertinya ia mengucapkan sesuatu yang seperti penolakan. Vincent hanya mengangguk-angguk maklum.

Tunggu—kenapa Alois langsung terdiam dan terpana saat melihat orang itu datang?

Pemuda biru-kelabu itu beralih ke arah Alois—yang sekarang malah tersenyum sangat lebar.

"...Alois?"

"Hei, Claude!" Alois malah melambai ke arah laki-laki yang baru datang itu. Yang dipanggil menoleh, lalu tersenyum simpul. Alois (lagi-lagi) menarik Ciel untuk menghampiri tamu baru itu ke ruang tamu.

"Kenapa datang terlambat? Kau melewatkan banyak hal, tahu!" gerutu Alois sambil tertawa kecil. Ciel dengan susah payah mengabaikan wajah sepupunya yang berseri-seri itu.

"Hmph, kau berbicara seolah-olah kaulah si tuan rumah." laki-laki yang disinyalir Ciel bernama Claude itu mengacak-acak rambut pirang Alois. "Hari ini aku ada kelas tambahan. Baru saja selesai jam enam tadi."

"Oh, pantas saja pacarmu yang cantik itu datang sendirian..." Alois menekankan beberapa kata-kata tertentu di kalimatnya.

"Jangan bercanda."

"Mmkay. Forget it. Oh iya! Ini sepupuku yang aku ceritakan! Dia Ciel, anak paman Vincent, pemilik rumah yang asli." Alois mendorong punggung Ciel pelan.

Ciel tergagap. "Ha—eh, salam kenal. Aku Ciel Phantomhive."

"Hai, Ciel." Claude menjabat tangan Ciel yang tersodor canggung. "Aku Claude Faustus, tetangga barumu di Monday Dew, rumah nomor 6. Tepat di depan rumah ini. Panggil saja Claude. Senang berkenalan denganmu."

Alois menginjak kaki Ciel pelan, meminta perhatian. Ciel berbalik ke arah sepupunya itu dan menangkap isyarat bibir tanpa suara darinya.

'Compliment'!Ia mengingatkan.

Apa kesan pertama untuk orang ini? Tampan, mungkin? Batin Ciel. Hmm, tapi nanti jika kubilang tampan, nanti dia akan mengira kalau aku ini homo!

"Ah, senang berkenalan denganmu juga, Claude. Ngomong-ngomong, kau keren. Aku suka gayamu."

Alois mengacungkan jempol kanannya diam-diam.

"Wah, terima kasih. Ternyata kau pintar berbasa-basi." Claude tertawa pelan.

"Yeah, dia anak yang asyik, kan, Claude?" Alois meninju bahu Ciel pelan. "Oh! Aku sampai lupa! Dimana Michaelis?"

Claude menaikkan sebelah alisnya. "Sebastian? Tadi dia sedang memarkir mobil di rumah. Sebentar lagi juga datang—oh, panjang umur."

Ciel dan Alois segera menoleh ke arah yang sama dengan Claude hampir bersamaan.

Dari pintu masuk, sesosok laki-laki berpakaian serba hitam memasuki rumah dengan sedikit sungkan, membelakangi mereka bertiga. Alois yang berisik segera berteriak ke arah laki-laki itu.

"Sebastian! Di sini!"

Orang yang dipanggil Sebastian itu pun membalikan badannya. Ia menangkap suara Alois yang memanggilnya, mata red blood-nya mencari-cari si pemilik suara. Pemuda yang agaknya seumuran dengan Claude itu pun menghampiri remaja itu.

"Lama sekali parkir mobilnya." protes Claude. "Aku sampai menolak ajakan tuan rumah untuk menikmati hidangan lebih dulu karena kau, tahu! Aku yakin kau ingat terakhir kali kita makan, itu jam 1 siang."

"Sekarang baru jam setengah delapan, Claude. Hanya terlambat setengah jam." yang diprotes menjawab dengan suaranya yang deep and low.

"Geez. Makanannya masih banyak, serius." lerai Alois. "Setidaknya, perkenalkan dirimu dulu ke tuan rumah. Ini Ciel, sepupuku. Anak pemilik baru rumah ini. Ciel, kenalkan. Ini Sebastian."

Sebastian mengulurkan tangannya. "Halo, Ciel. Aku Sebastian. Sebastian Michaelis."

Diam.

Ciel hanya diam terpaku menatapi Sebastian seperti orang tolol.

"...Hei, Ciel?" Alois mengguncangkan bahu Ciel pelan, agak khawatir. Dari sinar matanya, Claude pun juga begitu. Sebastian sendiri menaikkan sebelah alisnya, heran.

"Ciel? Hei, kau baik-baik saja?"

Ia tetap tak menggubris, sibuk berbicara sendiri di dalam pikirannya.

Apa? Siapa dia? Oh Lord, apa-apaan ini? Kenapa aku bisa kehilangan kata-kata aku melihatnya? Tapi... rambut jet black-nya, rambutnya itu... model rambut macam apa itu? Belah tengah? Dia juga tinggi sekali, sial! Aku iri! Skinny jeans dan jacket hitam—seperti raven—apakah dia ini seorang musisi rock? Terlebih matanya itu... dia yang tadi kulihat tadi pagi? Lupa —uuugh, serius, matanya berwarna MERAH? God, God, yang benar saja! Kenapa aku terpana? Kenapa suaraku tidak bisa keluar? Memangnya aku suka dia?

...Hah? TIDAK! Tidak mungkin! Tidak mungkin aku suka padanya! Dia kan LAKI-LAKI!

Putus asa, Alois akhirnya memukul punggung Ciel keras-keras.

"Hhhgh—Aw!"

Akhirnya si biru-kelabu itu kembali ke dunia nyata.

"Well?" Sebastian masih menunggu Ciel menjabat tangannya. Ia tersenyum geli melihat reaksi Ciel yang dikagetkan oleh Alois.

Dan seketika bayangan tentang kesan pertama terlintas di benak Ciel saat melihat senyum si raven.

"Ah—ya. Aku Ciel Phantomhive. Salam kenal, orang mesum."


A/N : *Drum rolls* Newest chapter! Saya senang sekali bisa menyelesaikan chapter ini di tengah-tengah laknatnya mid-test dan try-out progress -_- *curcol*

Terima kasih banyak untuk semua yang sudah sempat untuk sekedar nge-view, silent readers dan terutama reviewers : Aoirhue Kazune, Kusa, Kujo Kazuza Phantomhive, Rose, killinheaven dan Keshahaha! Your simple words are so meaningful to me!

For anon reviewers:

Kusa : Terima kasih banyak, Kusa-san! Here's the update! Begini nih, si Sebastian muncul *tunjuk-tunjuk ke atas*

Rose : Terima kasih atas review-nya, Rose-san! Ciel dan Sebastian bertemu di chapter ini~ XD

Mohon maaf kalau ada typo dan kesalahan struktur kalimat, lagi-lagi ini nggak diedit...

Thank you for reading! Every comments, suggestions, critiques and flames are greatly appreciated :D