O2. Atensi
Entah sejak kapan dimana saja matamu melihat, atensimu akan tertuju padanya.
.
.
.
"Jadi, waktu itu aku akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaanku padanya tepat setelah rapat komite beberapa minggu lalu dan apa yang aku dapat?"
Jaehwan memberikan jeda pada perkataannya, matanya membulat serius seakan dia tengah mempersiapkan diri untuk memberikan berita paling menakjubkan sepanjang masa.
Seongwoo mengunyah tteokbokki-nya.
"Dapat piring cantik?" Celetuknya asal ketika kunyahan tteokbokki sudah meluncur bebas ke dalam kerongkongan.
"...aku benci padamu, hyung."
Seongwoo dan Jaehwan tengah terlibat dalam sesi diskusi dari hati ke hati pertama pada hari itu pada saat jam makan siang. Di tengah kantin yang sudah dipenuhi mahasiswa kelaparan, mereka masih sempat mendapatkan tempat duduk dengan begitu ajaibnya. Seongwoo sudah duduk dengan tenang dan menikmati makan siangnya sedangkan Jaehwan hanya memesan ice lemonade.
"Ya, lalu, apa yang kau dapat? Bukan jawaban?" Seongwoo mengambil satu gigitan lagi sembari menatap temannya yang satu itu, menunjukkan bahwa dia tengah memerhatikannya. Jaehwan menghela nafas dalam dan mengaduk-aduk larutan minuman sari lemon di hadapannya dengan sedotan.
"Masih lebih baik kalau dia memberikan jawaban," jawabnya, terdengar nada sedih pada intonasi pembendaharaan kata darinya,"tapi, bukanlah jawaban yang aku dapat. Dia malah menyuruhku untuk menunggunya memberikan jawaban. Sudah 3 minggu aku menunggunya, jawaban itu tidak datang juga."
Seongwoo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan kembali mengalihkan fokusnya pada makanan lezat di hadapannya itu. Jaehwan yang melihat kurangnya reaksi dari si senior mulai merasa sedikit kesal.
"Yah, hibur aku sedikit, dong, hyung! Adik kelasmu sedang sedih begini kau malah sibuk dengan tteokbokki!" Sahutnya sensitif. Yang ditegur hanya tertawa tak bersalah.
"Ya, ya, semangat buatmu, ya! Semoga kau segera dapat kepastian—JAEHWAN, BERDIRI!"
Seruan lantang dari yang lebih tua mengagetkan Jaehwan dan menariknya paksa dari selimut kesedihan. Lantas, dia segera berdiri dari tempat duduknya dan Seongwoo dengan cepat mulai mengatur posisi dengan meringkuk dan membuat dirinya sekecil mungkin di belakang tubuh Jaehwan.
"Ada apa sebenarnya, hy—Hah, bukankah itu Daniel? " Jaehwan memicingkan matanya, berusaha untuk mempertajam penglihatannya. Tampak di kejauhan benar saja ada sesosok tubuh bongsor dengan pundak bidang dan memiliki rambut yang kali ini sudah berwarna coklat madu—astaga sudah berapa kali pemuda itu berganti warna rambut?—tengah berjalan memasukki kantin. Dia terlihat tengah menoleh ke kanan dan ke kiri dengan paras bingung, seperti sedang mencari sesuatu.
Atau seseorang.
"...Seongwoo hyung, kau pasti sedang menghindari Kang Daniel," Jaehwan rupanya cepat tanggap dengan situasi tersebut dan hanya dapat berkata datar.
Di belakangnya, Seongwoo meringis.
Ada apa dengan pasangan Kang Daniel dan Ong Seongwoo sehingga salah satu dari mereka bersembunyi dan yang lainnya mencari-cari?
Dan Jaehwan mau-maunya saja dijadikan pilar penghalang.
Sebenarnya, hal ini terjadi saat Seongwoo menyadari sebuah kejanggalan.
Terdapat beberapa kejadian yang sudah terlewati selama minggu-minggu terakhir ini yang membuat Seongwoo sedikit khawatir. Entah itu perasaaannya saja atau bagaimana tapi entah mengapa—
—akhir-akhir ini Daniel tidak pernah menghilang dari ruang pandangnya.
.
.
.
Kejanggalan #1
Saat Seongwoo disadari oleh Jonghyun.
Seongwoo tengah berkutat dengan code program di hadapannya. Peluh sudah membasahi pelipis dan netra telah memasuki fase 'terlalu lelah untuk melihat layar monitor'. Alhasil, dirinya saat ini berusaha menyelesaikan pseudocode dengan pandangan kabur.
Melihat kondisi teman sekelompoknya yang terlihat memprihatinkan, Jonghyun menepuk pundak Seongwoo dan menariknya pelan dari hadapan laptop yang layarnya masih terang benderang dan bisa saja merusak mata,"hei, istirahatlah. Kau sudah berusaha mengerjakan ini dari empat hari yang lalu tanpa tidur. Aku tidak mau kau malah jatuh sakit saat presentasi."
Pemuda yang sudah memiliki kantung mata tebal itu akhirnya dapat berkedip juga. Di saat kelopak mata mulai menutup, Seongwoo tidak dapat menahan diri untuk menguap.
"Iya, sebaiknya aku istirahat...Bisakah kau lanjutkan programnya, Jonghyun?" Tanyanya sembari berganti posisi dengan sang rekan. Kali ini, dia sudah duduk dengan nyaman di atas kursi depan jendela, kepala disenderkan pada tangan yang sudah terlipat di atas meja.
"Ya, ya, tenang saja," balas Jonghyun disertai senyuman. Tidak memakan waktu lama baginya untuk menyesuaikan diri dengan program pengerjaan Seongwoo. Jemarinya sudah mulai bergerak lincah menuliskan perintah dan menerapkan Teori Algoritma Genetika. Beruntung Seongwoo satu kelompok dengan salah satu jenius yang berada di kelasnya—dan mau bekerja sama—sehingga dia tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri seperti pada semester lalu.
Sudah sedikit ditenangkan dengan baiknya kinerja Jonghyun, Seongwoo akhirnya membalikkan badan dengan kepala yang sudah menengok keluar jendela walaupun masih berada di atas lipatan tangannya. Maniknya yang lelah menatap kosong pemandangan di hadapannya. Kantuk sudah mulai menyanyikan lagu tidur dalam benak, membuainya untuk masuk ke dalam alam mimpi jauh di atas awang-awang.
Tapi, buaian itu terhenti pada refrain saat netra coklat kehitaman menangkap figur familiar pada batas jarak pandang.
"...Hah, apakah Daniel mengganti warna rambutnya lagi?"
Pertanyaan Seongwoo yang entah datang darimana membuat Jonghyun menoleh dari pekerjaannya. Diangkatnya salah satu dari alis miliknya saat temannya itu masih menatap keluar jendela. Karena penasaran, akhirnya Jonghyun sedikit berdiri dari tempat duduk dan menengadahkan kepala.
Di luar sana terlihat sekelompok mahasiswa sedang bermain basket. Dilihatnya salah satu pemuda jangkung dengan aura mencolok yang memang mampu menarik perhatian semua orang. Kang Daniel, itulah namanya. Dia mengenalnya dari Seongwoo yang waktu itu pernah dijemput oleh yang lebih muda langsung di depan kelasnya.
Dia masih mengingat betapa iconic reaksi Seongwoo saat menemukan Daniel sudah berdiri dengan setia di depan pintu kelas.
"Kau ini- Sedang apa kau berdiri di depan pintu selama 1 jam tanpa bergerak sedikitpun? Kau menakuti dosen, Daniel!"
"Eeeh? Benarkah? Tapi...aku hanya ingin menunggumu, hyung!"
"Ya, kau bisa menunggu di ruang kumpul mahasiswa, bukan bertengger di depan pintu seperti tentara siap siaga!"
Jonghyun tertawa kecil saat kenangan akan Seongwoo yang panik menenangkan dosennya yang paranoid dan berseru lantang pada Daniel yang sibuk membungkukkan badannya berkali-kali di depan pintu terbesit kembali dalam pikiran.
"Oh, ya? Dia mengganti warna rambutnya, ya? Memangnya sudah berapa kali dia mengganti warna rambut?" Tanya Jonghyun pada akhirnya. Seongwoo mengeluarkan suara yang terdengar seperti 'hmm' sebelum menjawab.
"Sudah 5 kali sepertinya. Tahun lalu, Daniel mengganti warna rambut 2 kali. Beberapa bulan yang lalu dia mengganti rambut menjadi dirty blonde sebelum akhirnya berubah coklat 2 minggu yang lalu. Sekarang warna coklat itu lebih terlihat seperti coklat madu. Berbeda 2 tingkat palette dari sebelumnya," jelasnya panjang lebar. Mendengar jawaban ini, Jonghyun tidak dapat menahan tawanya lagi.
"Tidak kusangka kau sangat memperhatikan Daniel sehingga tahu perbedaan tingkatan palette warna rambutnya sedetil itu, Seongwoo."
Seongwoo terdiam.
.
.
.
Benarkah?
.
.
.
Kejanggalan #2
Saat Seongwoo disadari oleh Minki
"Jadi, menurut penelitian para ahli, orang sabar bokongnya lebar."
Seongwoo menjadi korban pemukulan pada dahi dengan penghapus.
"Lalu semakin lebar bokongnya, maka intensitas kesabaran seseorang pun ikut meningkat."
Seongwoo beralih dari korban pemukulan penghapus menjadi korban penyikutan gagang sepatu.
"Berhenti membicarakan bokong, bodoh!" Sahut oknum pemukulan yang tak lain adalah rekan bersih-bersih ruangan sekretariat anggota himpunan Fakultas Teknik Informatika.
Pada hari itu, Seongwoo tidak memiliki jadwal apapun sehingga diberi giliran untuk membersihkan ruangan bersama dengan teman satu divisi yang entah mengapa menganggap dia sangat tidak beruntung pada jadwal pembersihan kali ini. Apakah karena dia harus bekerja dengan seorang Ong yang tak lain adalah Seongwoo?
"Kau ini senang sekali memukulku, Minki. Kalau nanti ada bekas lebam keunguan bagaimana? Kau mau tanggung jawab?" Tanya Seongwoo dengan bibir mengerucut. Minki hanya memutar bola matanya, tanda dia sama sekali tidak termakan aksi imut pemuda bermarga Ong tersebut.
"Siapa yang tidak risih kalau sedari tadi kau membicarakan bokong? Bokongku jadi gatal sendiri mendengarnya," Minki kembali menyapu lantai, tidak mengindahkan Seongwoo yang sudah tertawa lepas.
"Astaga, bokongmu gatal? Mau ku—hm? Apa yang dia lakukan?"
Pandangan Seongwoo terarah pada pintu ruangan yang terbuka. Sedikit tertarik dengan apa yang dilihat oleh teman satu divisinya akhirnya Minki ikut mendongakkan kepalanya. Di seberang ruangan terdapat sekumpulan mahasiswa yang jelas berbeda jurusan dan fakultas dilihat dari jaket himpunan tengah berkerumun mengelilingi majalah dinding kampus.
"...Ah, aku kira apa. Ternyata dia hanya menempel poster lomba," ucapan Seongwoo membuyarkan fokus Minki yang sedari tadi mencoba mencari sosok kenalannya tapi nihil.
"Dia? Dia siapa?"
"Daniel."
Minki mengernyitkan dahi sebelum kembali menengok ke arah kerumunan tersebut. Dahinya semakin mengkerut saat dia masih tidak bisa menemukan sesosok 'Daniel' disana.
"Dimana? Aku tidak melihatnya."
Seongwoo masih curi-curi pandang dengan kerumunan itu, tangannya yang mengelap meja akhirnya terhenti gerakkannya,"itu. Dia sedang berjongkok."
Dalam hati, Minki bertanya-tanya mengapa Seongwoo menyadari keberadaan Daniel yang sedang berjongkok di tengah kerumunan itu melihat betapa tebalnya dinding manifestasi punggung dan kaki para mahasiswa yang sebagian besar jangkung itu.
"Astaga, kalau kekasih sendiri mau bagaimanapun tertutup keberadaannya, atensimu tetap tertarik padanya, ya," ujar Minki pada akhirnya sebelum kembali menyapu.
Perkataan Minki membuat Seongwoo kembali terdiam.
.
.
.
Bukankah sosoknya itu mudah dilihat? Atau matanya saja yang dapat menangkap bayangannya di balik kerumunan itu?
.
.
.
Kejanggalan #3
Saat Seongwoo disadari oleh Minhyun.
Perpustakaan kali ini penuh sesak dengan mahasiswa yang sedang berusaha untuk mengejar tenggat waktu pengumpulan tugas besar. Tidak terkecuali Seongwoo yang sudah mempersiapkan banyak buku referensi dengan ketebalan bermacam. Mencari-cari sumber terpercaya untuk menambahkan fakta pendukung paragraf argumentatif dalam essai yang tengah ia susun.
"Menurutmu mana yang lebih baik? User Centered Design atau Task Centered Design?" Tanya pemuda yang duduk di sampingnya. Kedua jari lentik bermain di atas keyboard, merangkai kata yang memungkinkan dapat membuat dosen takjub,"lalu apa korelasinya dengan masalah yang ditemukan pada aplikasi tersebut? Astaga, tugas ini bisa membuatku gila."
Seongwoo menutup salah satu buku yang sudah ia baca dengan hentakan yang cukup dilebih-lebihkan. Kedua mata merahnya yang tak sarat akan kejenuhan mengerjap cepat, berkali-kali mencoba untuk memfokuskan pandangan pada rangkaian kata yang ada cukup membuatnya sedikit muak akan pembacaan teori karya Layton Lewis di atas tangan.
"Perbedaannya, yang satu awalannya adalah User. Dan yang lainnya berawal dari Task," jawab Seongwoo dengan nada tidak peduli yang dibalas dengan delikan tajam dari pemuda yang masih sibuk mengetik. Yang menjawab hanya menyunggingkan seringai jenaka.
"Serius, Seongwoo! 2 hari lagi kita harus mengumpulkan essai ini! Tidak kusangka di saat genting begini Jonghyun malah harus pergi mengantarkan Ibu-nya," sang adam mengacakkan rambut frustasi. Seongwoo hanya membalas seadanya dengan gumaman.
"Ya, ya. Coba kau jabarkan apa yang sudah kau tulis, Minhyun-ah,"
Minhyun menghela nafas walau akhirnya kembali membuka mulutnya,"ada beberapa hal yang membuat Task Centered Design dipandang sebagai metode yang lebih baik dari User Centered Design. Dalam pengertian umum, User Centered Design tidak terfokus hanya pada kebutuhan user melainkan pada keinginan, lingkungan, kesukaan, dan cita rasa user. Task Centered Design memikirkan task yang akan dilakukan user dimana cara kerja fisik dan pikiran yang akan diterapkan oleh user pada penggunaan desain menjadi prioritas, serta menghindari adanya pemberlakuan task yang tidak berguna untuk memberikan user experience yang cenderung mudah dan positif. Task Centered Design merupakan metode dengan tingkat ketegasan yang lebih tinggi dari User Centered Design—HEI, SEONGWOO. DENGARKAN AKU!"
Pemuda yang sudah berbusa menggerakkan tulang rahang dan melanturkan teori dengan mulutnya tidak bisa menahan rasa sesal di dalam hati. Tentu saja, bagaimana tidak? Alih-alih mendengarkan penjelasan panjang lebarnya, perhatian rekan kerjanya itu entah melayang kemana saat sepasang manik melihat ke arah lain dan punggung membelakangi.
Minhyun ingin mencekik Seongwoo.
Seongwoo yang sekarang menjadi target amarah sang emperor bahkan tidak menyadari bisikan kasar yang ditujukan padanya tadi. Fokusnya teralih sempurna pada salah seorang mahasiswa yang sedang berada di depan meja pengurus perpustakaan, sepertinya dia sedang berdiskusi untuk meminjam buku dengan pengurus tersebut. Pemuda yang dipandangi akhirnya menyadari keberadaannya saat dia menolehkan kepala.
Daniel tersenyum menunjukkan gigi kelinci lucunya. Satu tangannya dilambaikan ke arah Seongwoo.
Seongwoo yang melihatnya ikut tersenyum manis dan membalas lambaian tangan tersebut.
Minhyun yang masih—perlu ditegaskan kembali, 'MASIH'—dipunggungi sepertinya sudah dianggap layaknya hantu tak kasat mata yang terkira sebagai angin lalu.
"Astaga, fokus pada percakapan kita dan berhenti memerhatikan Daniel!"
.
.
.
Sejak kapan sosok Daniel terus muncul di hadapannya dan mencuri fokusnya dengan sedemikian rupa?
.
.
.
Kejanggalan #4
Saat Seongwoo disadari Dongho.
Pada malam hari dimana sesi latihan Klub Taekwondo terbuka kembali diadakan, Seongwoo ikut dalam keramaian. Dia memposisikan tempat duduknya tepat di tengah dan berada di barisan paling depan. Tentu saja untuk mendapatkan pemandangan close up dan high definition dari sosok kekasih yang tengah mengajar para anak ayam amatir.
Tapi, sialnya, Daniel berada di ujung ruangan yang jauh dari tempat duduknya dan dia tidak bisa berpindah karena sisi tersebut sudah dipenuhi oleh para penggemar wanita yang sama terbuainya saat melihat Daniel beraksi. Mau tidak mau, Seongwoo tetap duduk di tengah. Bibirnya terlihat maju mengerucut dan kepalanya tertunduk seperti anak kecil yang tidak bisa melihat idolanya.
"Seongwoo, bisa kau pegang ini sebentar? Aku ingin merekam gerakanku,"
Lelaki yang duduk di tengah itu akhirnya disadari dari lamunannya saat seseorang menyodorkan handy-cam kepadanya. Diterimanya handy-cam tersebut sebelum mengangguk pelan.
"Apa yang akan kau lakukan, Dongho?" Tanya Seongwoo berbasa-basi sambil mempersiapkan handy-cam tersebut di tangannya. Fokus pada layar ditujukan pada Dongho. Pengaturan kamera dan penyesuaian ISO dilakukan dengan mudah. Pada layar kamera, Dongho mengukir senyum ramah lalu membungkukkan badannya tanda hormat.
"Aku akan menunjukkan beberapa gerakkan Taekwondo dan direkam agar nanti murid-muridku juga bisa mengikutinya. Tolong perhatikan baik-baik, ya!" Ucap Dongho setelahnya sebelum bersiap memasang kuda-kuda. Seongwoo dengan cekatan memulai sesi rekaman.
Dongho melayangkan berbagai variasi serangan. Dimulai dari berbagai tangkisan dengan gaya yang berbeda. Dilanjutkan dengan sabetan yang datang dari berbagai arah berbeda. Tendangan depan dan tendangan serong juga diperlihatkan. Setiap gerakkan terlihat tepat dan tangkas. Gesit dan berbahaya. Siapapun yang melihat tentu akan terintimidasi oleh keberadaan Dongho bersamaan dengan kuda-kudanya.
Selesai menunjukkan semua gerakkan yang ia ketahui, Dongho menyeka keringatnya. Ditolehnya kepala ke arah si perekam, senyuman penuh harap akan suatu pujian terpampang pada parasnya.
"Hei, Seongwoo! Bagaimana dengan rekamanku ta...di...?"
Apa kau kira Seongwoo akan melihat semua gerakkan tepat tangkas yang dipersembahkan Dongho sepenuh hati di depan layar kamera?
Lihatlah mata itu. Lihatlah tengokan kepalanya. Sudah jelas bukan dimanakah perhatian Seongwoo berada?
Tentu saja pada sosok Kang Daniel yang sedang berduel dengan salah satu muridnya. Yang tengah melakukan tangkisan lincah dan melayangkan pukulan telak. Yang menarik teriakan riuh rendah dari mulut para penggemarnya. Tepukan tangan dan riuh rendah keramaian menggema.
Seongwoo memandang dari kejauhan dengan tatapan penuh dengan kekaguman. Paras tampan dihiasi ukiran senyum tipis menyimpan banyak arti. Walau lensa kamera terarah tepat pada sosok pemuda yang sedari tadi berusaha untuk sekedar memperagakan gerakkan untuk murid-muridnya tentu saja lensa mata milik si perekam terfokus pada sosok lain.
Apa daya Dongho hanya dapat sekedar melihat dan tertawa miris.
"Atensimu mudah teralih bila dia berada di sekitarmu, ya."
.
.
.
Saat itu dia hanya melihat Daniel di sudut ruangan, seakan tidak ada bentuk eksistensi lain di dalam ruangan penuh sesak itu.
.
.
.
Lalu setelah itu Seongwoo akan terus menyadari eksistensi Daniel dimana saja dan kapan saja seakan kedua netranya sudah memiliki tingkah habitual tersendiri untuk mendeteksi keberadaan sang kekasih dengan cepat dan mudahnya.
Hal tersebut sedikit menakuti Seongwoo.
Ong Seongwoo tidak pernah menyimpan ketertarikan istimewa pada seseorang sebelumnya.
Selama 20 tahun masa hidupnya, Seongwoo tidak pernah memerhatikan seseorang sebegitu seringnya sehingga dimana saja dan kapan saja dia akan menangkap sosok orang tersebut dalam penglihatan. Pemuda itu telah lama terbuai dengan ambisi, hidup dalam dunianya sendiri. Berbagi perhatian dalam sosialisasi, meninggalkan jejak dengan caranya sendiri. Tidak pernah dirinya begitu menyadari eksistensi seseorang sehingga kedua manik mata terobsesi melirik untuk sekedar tahu bahwa dia ada disana.
Semenjak rasa ingin tahu itu tumbuh dalam pikir, benih tersebut meninggalkan akar yang cukup dalam pada benak. Secara sadar tidak sadar, dia akan memperhatikan Daniel dalam diam. Menatap dari jauh, meneliti dari dekat. Melakukan observasi. Menarik kesimpulan. Mencari tahu apa saja yang mendefinisikan seorang Kang Daniel.
Namun, dia mulai menyadari. Betapa rasa ingin tahu-nya kerap mengubah pandangan. Sosok Daniel terlihat dimana saja. Dia menoleh ke kanan, pundak bidang itu tertangkap oleh netra. Dia menoleh ke kiri, surai coklat mandu terpantul di atas lensa. Dimana-mana, atensinya akan teralih padanya. Seperti oasis di pandang gurun. Figur Kang Daniel merupakan hal pertama yang ia saksikan saat perputaran adegan terjadi guna melanjutkan alur cerita.
Seongwoo panik.
Sudah berjalan dua minggu, dia mencoba untuk tidak menangkap bayang Daniel dengan matanya.
Pagi hari, biasanya Seongwoo akan menemui Daniel di depan gerbang utama. Namun, dia berusaha menghindar dengan menggunakan gerbang belakang dan bahkan tidak memberitahu Daniel lebih dulu.
Saat pulang kuliah, Seongwoo segera pulang ke asrama dengan alasan lelah tanpa menunggu Daniel menyelesaikan kegiatan klub dan komunitasnya. Seongwoo juga melarang Daniel untuk menjemputnya setelah pertemuan mingguan himpunan mahasiswa yang diadakan 2 kali seminggu disertai dengan berbagai alasan yang bervariasi.
Saat mereka berpapasan di koridor, Seongwoo dengan cepat berbalik arah dan bahkan mau-maunya bersembunyi di dalam loker.
Mereka masih berhubungan melalui media sosial dan aplikasi chatting walau Seongwoo kerap kali meminimalisir jumlah kata pada balasannya.
Tak jarang Seongwoo berpikir bahwa reaksinya ini sangatlah berlebihan dan tidak adil bagi Daniel. Daniel hanya ada disana, tengah melakukan aktivitasnya dan Seongwoo tak dapat menahan diri untuk memerhatikannya. Tapi, semua perhatian yang teralih, tatapan yang tercuri, lirikan tersembunyi, semua itu benar-benar baru bagi Seongwoo.
Katakanlah dirinya pengecut linglung. Faktanya hal ini memang menimbulkan banyaknya pertanyaan tanpa jawaban.
Dan Seongwoo memilih bersembunyi daripada mencari jawaban itu.
Dia tidak tahu bahwa Daniel juga bertanya-tanya akan kelakuan kekasihnya. Memikirkan apa salahnya saat pria yang ia sayangi mulai menghindarinya.
Pada hari ini, Seongwoo kembali menghindari Daniel. Di balik punggung Jaehwan, dia menutup matanya yang gatal untuk melihat ke arah datangnya si surai coklat madu. Sudah cukup perhatiannya tercuri dengan sedemikian rupa oleh Kang Daniel. Biarlah dia beristirahat terlebih dahulu.
Tapi, bukankah dia yang pertama kali menyadari sosok Daniel dari kejauhan dan bereaksi segera?
Bukankah dahulu juga dia selalu menemukan Daniel di sekitarnya? Sebelum dirinya menghilang satu tahun lalu?
Entah mengapa kali ini semuanya berbeda.
"Hyung, dia berjalan kesini,"
Ya, ampun. Mengapa perisitiwa ini SANGAT familiar?!
Pemberitahuan Jaehwan cukup meningkatkan kekhawatirannya beberapa level di atas ambang batas normal. Dengan gesit, Seongwoo segera turun dari kursi dan merangkak ke bawah meja. Melihat aksi aneh seniornya, lelaki yang sedari tadi dijadikan pilar penghalang membelalakkan matanya dan refleks berbalik, meninggalkan posisi sebelumnya.
"Ya- Seongwoo hyung, apa yang kau lakukan?!" Jaehwan lantas mengubah posisinya saat melihat kelakuan aneh yang lebih tua. Dia berbalik dan ikut membungkuk. membuat Seongwoo yang melihatnya membelalakkan mata dan membuka mulut,"hei—siapa yang menyuruhmu bergerak, bodoh!"
"Tapi, kau bertingkah aneh!" Jaehwan tidak mau kalah.
"Tidak! Aku hanya- penghapusku jatuh ke bawah jadi aku harus mengambilnya!"
"Kau bahkan tidak membawa tempat pensil dan peralatan tulis apapun selain pena ke kampus!"
"Kalau begitu berarti penanya yang jatuh!"
"Astaga- kau pikir aku bodoh?!"
"...Err, kalian sedang apa?"
Jaehwan dan Seongwoo melompat terkejut saat suara Daniel terdengar tepat dari samping kiri. Posisi Seongwoo di bawah meja akhirnya malah menyakitinya karena saat dia melompat otomatis kepalanya membentur atap meja. Beruntung bagi Jaehwan yang masih berdiri dengan normal sehingga kakinya tidak ikut membentur meja. Keduanya saling berganti tatap—sang senior dengan tatapan paniknya dan sang junior dengan tatapan bingungnya.
"H-hyung! Apa kau tidak apa-apa?!" Daniel yang belum mengerti apa yang terjadi segera bertindak saat dia melihat Seongwoo yang tengah mengelus kepalanya dan mengaduh nyeri. Pemuda yang ditolong itu hanya menganggukkan kepala lemah, sembari membiarkan Daniel menariknya keluar perlahan dari bawah meja dan membantunya berdiri.
"Apakah ada lebam? Apa kau masih bisa melihat dengan jelas? Benturannya keras, ya? Mau ke UKS?" Rentetan pertanyaan Daniel segera datang membanjiri indra pendengaran Seongwoo. Dalam hati dia merasa tersentuh karena kepedulian sang kekasih tapi dari luar dia terlihat malu karena Daniel tengah mengusap kepalanya lembut sembari merengkuh tubuhnya. Pasalnya Jaehwan ada di depan mereka dan dia bahkan bisa melihat mulutnya yang terbuka lebar dan mata membelalak bulat.
Tidak hanya Jaehwan, seisi pendatang kantin tersebut tengah mengarahkan pandangan tepat pada keduanya. Ada yang iri dan ada yang mengadili. Sebenarnya Seongwoo tidak begitu peduli hanya saja sekarang dia tengah menghadapi suatu dilema dan keberadaan Daniel sama sekali tidak membantunya.
"Ya...aku tidak apa-apa, Daniel," ujar lelaki itu pada akhirnya, kedua tangan mendorong tubuh Daniel menjauh,"hanya terbentur ringan. Santai saja!"
Bohong, benturan tadi itu sangatlah keras dan dia bahkan sudah bisa merasakan suatu benjolan mulai muncul ke permukaan kepala.
Dan sialnya, Daniel menyadari kebohongannya.
Matanya menyipit tidak setuju dengan pendapat yang lebih tua. Satu tangan terulur untuk mengenggam pergelangan tangan Seongwoo sebelum dirinya menggelengkan kepala,"jangan menyembunyikannya dariku, hyung. Ayo, kita ke UKS."
Sebelum Seongwoo sempat protes, Daniel menoleh ke arah Jaehwan yang masih berdiri kaku. Dengan senyum ramah dia berucap padanya,"aku pinjam dulu Seongwoo hyung, ya."
Jaehwan hanya dapat mengangguk ragu sembari melihat keduanya berlalu dari tempat itu—Daniel menarik Seongwoo dengan keras kepala, dan Seongwoo yang tidak mau kalah dengan berkata 'astaga, aku tidak apa-apa, Daniel!' berkali-kali. Begitu mereka menghilang di balik tembok, sang bendahara komite paduan suara itu tidak dapat menahan helaan nafasnya.
"Sungwoon hyung, kapan kau akan memberikan jawaban..."
.
.
.
Aku takut akan atensi yang selalu tertuju padamu.
.
.
.
"Hanya memar ringan. Tidak ada gejala gegar otak, tumor, bisul, amnesia, dan apapun itu yang kau sebutkan,"
Ucapan datar tanpa nada entah mengapa terdengar melegakan di telinga Daniel, tapi tidak untung Seongwoo. Dia benar-benar bisa mendengarkan sarkasme dari pemuda yang tadi meneliti kondisi kepalanya.
"Taewoong hyung, sejak kapan kau jadi staff UKS disini?" Tanya Seongwoo tidak kalah datarnya. Yang ditanya hanya memberikan lirikan sekilas sebelum mengeluarkan handuk kecil dan mangkuk aluminium dari nakas.
"Semenjak Jisung hyung memaksaku untuk melanjutkan S2 disini," jelasnya kemudian,"dan kebetulan staff UKS untuk jadwal hari ini sakit. Aku ditunjuk olehnya sebagai pengganti sementara. Ah, Daniel, bisa kau isi mangkok ini dengan air dan es? Es-nya bisa kau ambil di kulkas."
Daniel mengangguk cepat dan segera melakukan apa yang dikatakan oleh Taewoong. Kekasihnya kembali menyandarkan punggung di atas matras UKS yang kalah empuk dengan matras asrama. Seongwoo mengangkat satu tangannya dan mengusap memar di atas kepala. Helaan nafas yang entah sudah berapa kali terdengar kembali memecah keheningan.
"Sudah kubilang benturannya tidak terlalu keras kau malah tidak percaya," ujar Seongwoo sembari memijat memar diikuti dengan aduhan ngilu setelahnya. Daniel yang baru saja selesai mengisi mangkuk menggelengkan kepalanya,"tapi kalau dibiarkan nanti pasti akan membengkak, hyung! Memangnya kau mau punya kepala besar sebelah?"
"Ya, mau bagaimanapun bentuk kepalaku, paras rupawan ini tidak akan berubah~" Seongwoo dengan tidak tahu malunya memuji dirinya sendiri, telapak tangan bergerak mengayun di bawah dagu seakan ingin berkata 'Ta-da~ Aku tampan, bukan?'
Daniel menjawab dengan menjatuhkan handuk kecil yang sudah direndam air es tepat di atas muka yang lebih tua.
"AAAH- Dingin, Daniel!" Seongwoo refleks membangkitkan tubuhnya dan menarik handuk itu dari wajah. Dilemparnya benda basah itu ke arah oknum yang bersalah, tapi Daniel dengan tangkas dapat menangkapnya menggunakan satu tangan. Matanya menyipit membentuk bulan sebit dan tawanya lepas terdengar. Senyum khasnya terlihat jelas, menunjukkan sepasang gigi kelinci menggemaskan.
Daniel menarik kursi lalu duduk tepat di hadapan Seongwoo. Diperasnya kembali handuk yang terendam di dalam mangkuk alumunium pemberian Taewoong sebelum dia meletakkannya di atas kepala Seongwoo dimana memar itu berada. Kali ini pergerakkannya lembut dan hati-hati berbeda dengan aksi jenakanya beberapa menit yang lalu.
Seongwoo tidak bisa melihat Daniel tepat pada maniknya.
Taewoong yang melihat adegan tersebut hanya tersenyum kecil.
"Apa kau bisa merawatnya sendiri, Daniel?" Tanya staff UKS tersebut sembari menutup laci nakas dan mencuci tangan. Tanpa melihat ke arahnya, Daniel membalas dengan anggukkan.
"Baiklah. Kalau begitu aku titip ruangannya dulu, ya," Taewoong berpamitan sebelum belajar keluar dari ruang UKS, meninggalkan dua sejoli itu disana.
Seongwoo sedikit kecewa saat Taewoong meninggalkan mereka. Bukan, bukan karena Seongwoo lebih menginginkan keberadaan Taewoong di sisinya. Dia hanya tidak tahu harus apa di depan sosok Kang Daniel saat ini.
Sosok yang tengah memperhatikan raut paras dan memar di kepalanya dengan tatapan yang seakan menelanjangi.
"Mengapa dua minggu ini kau menghindariku, hyung?"
Pertanyaan Daniel yang tiba-tiba itu sontak mengangkat kepala Seongwoo. Tapi sepasang pupil yang membulat tidak bertemu dengan manik yang tengah melihat ke atas, pandangannya lurus seakan melewati kepalanya. Namun, bukanlah itu yang mengganggu Seongwoo.
Raut wajah Daniel yang menyimpan tanya dan kesedihan benar-benar menggoreskan luka kasat mata dalam dada.
"Apakah aku berbuat salah? Apakah aku terlalu memaksakan diri? Apa aku membuatmu tidak nyaman?" Tekanan lembut pada memar di kepalanya lambat laun menghilang saat yang lebih muda menurunkan tangannya. Handuk basah dicengkeram tanpa tenaga. Bila Seongwoo tidak cepat menarik benda itu dari tangan, sudah pasti handuk tersebut akan jatuh ke lantai.
Seongwoo menggigit bibir bawahnya. Dalam benak, dia bertanya-tanya. Apa yang akan Daniel katakan apabila dia tahu Seongwoo menghindarinya karena terlalu memerhatikannya? Sungguh alasan yang konyol untuk didramatisir.
"Kau tidak bisa membohongiku, Seongwoo hyung."
Daniel akhirnya mengangkat kepala dan berbalas tatap dengan sang adam di hadapannya. Terdapat kilat familiar yang pernah Seongwoo lihat sebelumnya. Tawa dan senyum yang tadi ia lihat seakan hanya mimpi di siang hari.
Seongwoo-lah yang pertama kali menarik pandangannya.
"Kata siapa aku berbohong?" Tanya Seongwoo lirih walau ekspresi teratur netral. Kemampuan akting yang sudah ia latih sejak dulu ia implementasi sedemikian rupa. Dia tidak mau Daniel membaca dirinya layaknya buku yang terbuka.
"Kau bisa berakting seperti apapun tapi kebingungan pada matamu tak akan luput dariku."
Pernyataan Daniel yang terang-terangan lagi-lagi menimbulkan getaran aneh dan tak dikenal jauh di dalam hatinya. Perlahan, Seongwoo mengangkat kepalanya. Iris coklat kehitaman menyimpan bingung bertemu dengan iris berwarna sama namun menyimpan suatu kelembutan yang berbeda dari pandangannya beberapa saat yang lalu.
"Jangan sok tahu. Memangnya kau pikir kau pakar psikologis yang dapat membaca arti pandangan pada mata?" Pertanyaan Seongwoo terjabar sarkastis walau ekspresi dan nada yang ia pakai sungguh merupakan kontras dari kalimat tanya tersebut. Senyum itu terukir kecil, ditemani dengan lensa yang membulat lunglai.
Daniel menggeleng kepalanya dan menjawab mudah disertai kekehan ringan,"bukan. Bila Jisung hyung mendengar perkataanmu dia akan melakukan protes keras. Aku bukan pakar psikologis juga bukan pembaca arti mata. Tapi—"
Pemuda yang duduk di hadapannya menunjuk kedua mata miliknya. Seongwoo mengernyitkan dahi menunggu lanjutan.
" —fakta bahwa mata tidak pernah berbohong memang benar adanya. Walau sebenarnya kau sangatlah terampil dalam mengatur kilat emosi pada lensa milikmu, tapi ada satu hal yang dapat membedakan apa yang terlihat diluar dan apa yang terpendam tersembunyi."
"Dan hal itu adalah...cintaku padamu."
Seongwoo mengerang menutup wajahnya. Telinganya memerah. Tidak disangka Daniel akan mengatakan hal yang begitu...roman picisan?
Daniel menatapnya dengan tatapan geli. Seringaian jenaka kembali menghiasi paras.
"Begitu ironis, bukan? Cinta dapat membutakan dan pada waktu yang sama bisa dijadikan sebagai indra keenam."
"Astaga, Daniel—hentikan!" Seongwoo akhirnya mengangkat wajah dari kedua telapak tangan yang tadi menyembunyikan semburat merah pada pipi. Dia tertawa lebar, mengikuti Daniel yang melakukan hal yang sama.
Untuk beberapa saat, Seongwoo lupa akan kebingungannya. Mereka melanjutkan percakapan dengan berbagi tawa dan canda seperti kebiasaan mereka seharusnya sebelum Seongwoo mulai menghindari Daniel.
Tapi, tentu saja, jeda itu hanya sementara. Seongwoo yang sudah berlari-lari dan bersembunyi tanpa berusaha mendapatkan jawaban akhirnya menerima letihnya. Sesaat setelah tawa dari kedua pemuda menemukan perhentian, Seongwoo menundukkan kepala. Menggigit bibir bawahnya sebelum berucap.
"Daniel, apakah kau pernah begitu dalamnya memerhatikan seseorang sehingga setiap hari dan setiap saat atensimu akan terarah padanya bahkan secara sadar dan tidak sadar?" Tanya Seongwoo pada akhirnya dengan nada tercekat, seakan ada sesuatu yang menahan suaranya keluar di tengah rengkung. Gugup dan bingung itu kembali menghantam dengan tekanan besar. Membuatnya ingin menenggelamkan diri pada matras di belakangnya.
Pemuda yang ditanya tidak menjawab segera. Hal itu sama sekali tidak membantu menenangkan Seongwoo. Apakah Daniel tidak pernah mengalaminya? Apakah hanya dia yang aneh disini? Memerhatikan seperti terobsesi? Astaga, apakah dia sudah berubah menjadi pemuda yang menyeramkan?
"Ya. Dari dulu sampai sekarang. Sudah 6 tahun."
Lagi-lagi Daniel mampu mengatakan hal yang tak terduga secara blak-blakan.
Seongwoo tidak tahu apakah dia akan siap menemukan satu lagi keajaiban dunia terlontar dari mulut Daniel.
"6...6 tahun?! Lama sekali..." Seongwoo terbata. Pasalnya dia baru beberapa minggu ini menaruh perhatian lebih pada seseorang—yang tak lain adalah Daniel—dan dia sudah merasa tercekik akan kenyataan itu.
Bagaimana dengan Daniel yang sudah 6 tahun melakukan itu?!
Daniel tertawa kecil melihat ekspresi lucu Seongwoo dimana mulutnya terbuka membentuk 'O' bulat sempurna dengan mata yang membelalak seakan pernyataan Daniel merupakan sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya selama 20 tahun masa hidup.
"Iya, 6 tahun. Awalnya, aku juga takut akan kebiasaan ini. Memperhatikan seseorang dan menyadari eksistensinya seperti tingkah habitual yang sudah terbawa sejak lahir. Aku takut aku terobsesi. Tapi, setelah berpikir matang. Bukan itu, penyebabnya," jelas pemuda surai coklat madu tersebut dengan mudahnya. Si surai kelam mengernyitkan dahi kembali tanda tak mengerti.
"Kalau begitu, apa penyebabnya?"
Daniel menyeringai jahil,"karena cinta."
Yeeeh- Cinta lagi, cinta lagi...
"Jawab yang serius, beruang!" Seongwoo memiting leher Daniel dan mengacak-acak rambutnya gemas. Yang dipiting kembali tertawa-tawa, menepuk-nepuk tangan yang mencengkeram lehernya walau tidak begitu kuat.
"Yah...Itu tidak sepenuhnya bercanda, hyung."
Perkataan Daniel selanjutnya melonggarkan cengkeraman Seongwoo pada leher putih itu. Perlahan dia menarik tangannya, namun tangan kanannya digenggam oleh telapak lain yang sedikit lebih besar dan lebih kuat dari miliknya. Seongwoo kembali membulatkan pupil, terkejut akan pemandangannya di hadapan ini apalagi saat ibu jari Daniel mulai mengusap punggung tangannya.
"Sudah 6 tahun aku memperhatikan seseorang. Awalnya kukira ini hanyalah atraksi mata saja. Orang itu...bagaimana, ya, cara mendeskripsikannya—" Daniel menggigit bibir bawahnya,"—pokoknya dia itu adalah salah satu bentuk estetika karya Tuhan. Indah dan berpijar. Semua orang pasti akan menyadarinya. Tertarik pada pandangan pertama. Termasuk aku."
Seongwoo mengangguk pelan dan menatap Daniel analitis, menunjukkan fokus penuhnya pada setiap kata yang terucap. Tanpa ia sadari, tangannya membalas genggaman pemuda tersebut dengan remasan lembut.
"Dimana saja dan kapan saja, bila dia berada di sekitarku, instingku akan segera meneriakkan namanya dalam benak dan aku akan refleks menengok, mencari-cari bayangnya—," yang lebih muda terkekeh sendiri mendengarkan dirinya berbicara dengan begitu mengilik-ngilik. Seongwoo mengangkat satu alisnya,"—sampai akhirnya aku bertanya-tanya. Apakah ini adalah obsesi? Apakah hal ini cenderung wajar bagi seseorang untuk melakukannya? Berganti atensi dengan mudahnya saat orang itu muncul dalam ruang pandang, bukankah itu menakutkan?"
Seongwoo mengangguk. Pergerakkan itu tak luput dari manik Daniel yang diam-diam cukup teliti dalam observasi. Daniel tersenyum.
"Tapi, nyatanya itu bukanlah obsesi. Benih cinta tumbuh saat seseorang menaruh perhatian lebih pada yang lain. Yah...Begitulah yang kukutip dari Jisung hyung. Merasakan kebahagiaan tersendiri saat aku melihatnya senang. Ikut larut dalam sedih saat aku melihatnya terpuruk. Sosok itu menarik atensimu dengan sedemikian rupa, tentu karena dialah orang yang kau pilih untuk kau perhatikan. Lalu...Aku sudah menentukan pilihanku dari 6 tahun yang lalu."
Seongwoo menelan ludahnya.
"...Siapa yang kau pilih?"
Daniel tersenyum penuh arti.
"Tak kusangka kau akan selamban ini menyadarinya, Ong Seongwoo."
Diangkatnya kedua tangan yang saling menggenggam oleh si surai coklat madu. Ditautkannya kelima jari itu dengan milik sang kekasih sebelum diikuti dengan remasan seakan meyakinkan pemuda di hadapannya.
Seongwoo hanya dapat menatap.
"Aku sudah memilihmu sejak 6 tahun yang lalu."
Daniel berada dimana-mana.
Nyatanya, bukanlah matanya saja yang dapat melihat. Pikiran pun ikut melakukan observasi. Hati ikut menaruh afeksi. Bukanlah obsesi dan anomali yang mengantarnya pada titik ini. Awal mula yang didasari oleh rasa ingin tahu berlanjut pada atensi yang tertarik pasti pada sosok Kang Daniel. Mungkin, ini bukan cinta seperti yang ia sebutkan. Mungkin, ini memang atraksi mata. Tapi dia tidak dapat memungkiri satu fakta yang bertambah dalam daftar kejanggalan.
Semua diawali mutlak dikarenakan oleh niatannya sendiri.
Seongwoo menundukkan kepalanya. Senyum tak terbaca terlihat tak kasat mata. Dia merutuki kebodohannya yang tak perlu, dan bersiap untuk menggapai jawaban yang ditunggu.
"Daniel, apakah tidak terlambat bagiku untuk memilihmu?"
.
.
.
Faktanya dia sendiri yang memilih untuk memerhatikan Daniel semenjak rasa ingin tahu itu muncul.
.
.
.
"Tidak ada kata terlambat, hyung."
.
.
.
"Seongwoo oppa, kau sedang melihat apa?"
Seongwoo menoleh ke arah sumber suara. Didapatkannya salah satu junior yang meminta bantuannya untuk melakukan mentoring pada hari itu tengah menatapnya penasaran. Satu buku tebal berjudul 'Kalkulus II' dipeluknya erat. Dalam hati, dia sudah meringis ngeri membayangkan rumus matematis yang bahkan lebih rumit dari mecoba menselaraskan pikiran William Shakespeare dan Albert Einstein.
Ya, Seongwoo pernah mencoba menuliskan essai tentang itu. So what?
Seongwoo mengendikkan bahunya dan kembali menyandarkan punggungnya pada kursi santai yang didudukinya. Matanya lurus menatap lapangan yang tengah ramai digunakan mahasiswa fakultas lain untuk bermain basket. Merasa keingintahuannya tidak diindahkan, mahasiswi di sampingnya akhirnya mengambil tempat duduk di sebelahnya dan mencoba menelisik arah pandangan Seongwoo dan mengikutinya.
"Wah...Siapa pemuda tampan itu? Dia dari fakultas lain, ya? Aku tidak pernah melihatnya di Gedung Fakultas Informatika!"
Seongwoo melirik ke arahnya sekilas sebelum menyunggingkan seringai khasnya.
"Dia Kang Daniel. Dari Fakultas Teknik Elektro. Lagi-lagi dia mengubah warna rambutnya satu palette lebih gelap dari coklat madu."
. . .
...to be continued.
