Sometimes I ignore you, so I feel in control
Cause really, I adore you and I can't leave you alone
。。。。。。
Sepasang mata itu mengerling heran ketika melihat banyak pesan yang masuk ke ponselnya. Dia tahu itu dari siapa sebab ada nama dari sang pengirim yang tertera di sana.
Sudah beberapa kali Yongguk mengirimkan pesan padanya. Sekedar pesan basa-basi yang menanyakan sedang apa Himchan sekarang atau apakah Himchan sudah makan siang hingga pesan ajakan makan malam dari Yongguk.
Berhari-hari sejak Himchan pertama kali mengiriminya pesan. Hanya sekali, setelah itu Yongguklah yang antusias mengirim.
Himchan sendiri ragu untuk menggerakkan jempolnya dan membalas pesan-pesan itu hingga kini pesan itu terlantar begitu saja setelah dibuka.
Himchan takut.
Takut akan jatuh lebih dalam pada perasaan yang belum pasti. Perasaan yang masih mengambang antara rasa cinta yang menyamankannya atau hanya sekedar nafsu semata.
Himchan dikenal sebagai pribadi yang teguh dan keras bahkan pada dirinya sendiri. Diperlakukan manis seperti ini membuatnya merasa seperti kehilangan pegangan. Takut jika dia terjatuh dan meretakkan seribu topengnya.
"Aku harus bagaimana..."
Permata hitamnya memperhatikan tulisan demi tulisan yang ditampilkan di layar ponselnya. Hanya kata-kata sederhana namun entah kenapa seperti ditabur gula-gula.
Manisnya luar biasa.
Lalu Himchan meyakinkan diri. Mencoba menggerakkan jemarinya untuk membalas pesan Yongguk.
Singkat, padat, jelas.
。。。。。。
Yongguk lagi-lagi menghela nafasnya. Menggalaukan pesan yang tidak mendapatkan balasan. Sejak seminggu lalu dia rajin mengirimi Himchan pesan. Bahkan frekuensinya lebih banyak dibanding mengirim pesan ke istrinya sendiri.
Jujur saja. Yongguk merindukan pemuda bermata kucing itu.
Sejak terakhir mereka bertemu di bar Jongup, nama Himchan terus berputar-putar di kepalanya. Dia ingin menyentuh tubuh Himchan. Lagi.
Tidak. Dia tidak hanya tertarik pada tubuh indah yang Himchan miliki. Tapi tatapan mata Himchan seakan menghisap dunianya. Mengalihkan pikiran dan membawanya menuju dimensi lain. Sebuah dimensi dimana hanya ada Himchan dan dia di sana.
Yongguk menggelengkan kepala, mencoba menghapus bayang-bayang Himchan di kepalanya. Dia harus fokus pada pekerjaannya sekarang. Masih banyak dokumen yang belum dia selesaikan.
Tring!
Tangannya berpindah dari keyboard menuju ponsel pintarnya dengan kecepatan kilat. Belum membaca isi pesan, tapi dia sudah terlihat bahagia begitu melihat nama Kim Himchan tertera di sana.
Kim Himchan
Hari ini aku kosong setelah pulang kerja jam 3.
Kau bisa menungguku. Tentukan tempatnya.
Yongguk hampir saja berteriak riang membacanya. Dia langsung menelpon restoran langganannya, mereservasi tempat untuk dua orang yang berada jauh di pojok ruangan agar bisa mengobrol dengan lebih leluasa.
Matanya melirik jam mahal yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Jam 2. Masih ada satu jam lagi, tapi Yongguk sudah tidak sabar untuk pergi ke sana.
Dia ingin bertemu lebih cepat dan menghabiskan waktu lebih lama dengan pujaan hati barunya itu.
Seperti kembali muda rasanya.
"Daehyun!"
Yongguk menyerukan nama sekertarisnya yang sedang sibuk dengan ponsel. Daehyun menaikkan alis, dia sedang berbicara dengan istrinya lewat telepon.
"Dokumen, aku serahkan padamu atau kau bisa serahkan ke yang lain. Aku ada janji jam 3. Bye!"
Daehyun termangap melihat sosok bosnya yang kini berlari keluar dengan semangat. Mengabaikan semua sapaan dari karyawan yang dia lewati.
"Dia kesurupan?"
。。。。。。
Jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu itu pelan. Matanya melirik ke arah pintu masuk kedai ramen tempat dia berada sekarang. Baru saja Yongguk sampai dan duduk di sana, tapi dia sangat tidak sabar.
Sepuluh menit berlalu dari jam tiga. Sosok Himchan yang masuk sambil merapikan rambut tertangkap di mata Yongguk. Sedikit terkejut melihat rambut halus itu sudah berubah lagi warnanya. Dari merah darah menjadi sehitam malam. Potongan rambutnya juga berubah menjadi lebih pendek.
Yongguk menyukai itu.
Gigi kelincinya terlihat ketika menyunggingkan senyum lebar pada Yongguk yang juga tidak bisa menahan senyuman. Mata Yongguk mengikuti setiap gerakan Himchan yang menghampiri dan duduk di hadapannya.
"Hai," sapa Yongguk. Agak canggung.
"Aku tak menyangka kau akan mengajakku makan ramen," ujar Himchan jujur.
"Kau kecewa aku tidak mengajakmu makan di tempat mewah?"
Mendengar pertanyaan itu membuat Himchan tertawa kencang. Padahal dia hanya benar-benar tidak menyangka seorang CEO perusahaan Furniture terkenal seperti Yongguk mau makan di tempat sederhana seperti ini.
"Aku malah sangat suka makan di tempat seperti ini. Tidak perlu mahal-mahal. Yang penting perut kenyang."
Senyuman lagi-lagi terkembag di wajah Yongguk. Himchan adalah sosok yang amat sangat berbeda jika dibandingkan dengan semua orang yang dulu mengejarnya hanya karena harta.
Himchan benar-benar... ah, Yongguk sendiri sudah tidak mampu lagi mendeskripsikannya.
Sore itu mereka menghabiskan waktu berdua. Di pojok kedai ramen yang sangat ramai dikunjungi orang-orang. Tak ada romantisme dalam kencan mereka, tapi ada rasa nyaman yang Yongguk dan Himchan bangun bersama.
Mereka jatuh semakin dalam.
。。。。。。
"Himchan-hyung, hati-hati."
Himchan melirik Jongup yang sibuk dengan shaker-nya. Bingung dengan apa yang dimaksud pria bermata sipit itu. Pada apa dan siapa dia harus berhati-hati?
"Kalau jatuhnya makin dalam, maka semakin sakit," ujar Jongup lagi.
Himchan mengernyit. Otaknya tidak bisa mencerna maksud Jongup dengan baik karena banyak hal lain yang sedang dia pikirkan. Himchan menenggak whisky-nya, matanya tak lepas dari sosok Jongup yang hanya tersenyum tipis padanya.
"Apa kau sedang membicarakan tentangku dan Yongguk?" tanya Himchan penasaran. Kepalanya disandarkan ke atas meja. Pusing.
Jongup hanya mengendikkan bahunya lalu membuka tutup shaker dan menuangkan cocktail berwarna biru di sebuah gelas kristal di atas meja. Kemudian menghiasnya lagi dengan potongan lemon dan daun mint diatasnya.
"Kau ini selalu membuatku gemas," geram Himchan.
"Hehe, aku tahu aku menggemaskan. Hyung sudah bilang padaku sebanyak 53457 kali selama kita berteman."
Setelah mengatakan itu Jongup kabur menjauh dari Himchan sambil membawakan minuman yang baru dia buat kepada pelanggan yang duduk di sudut bar.
Himchan menghela nafas geli. Berteman dengan Jongup memang sangat menyenangkan sekaligus melelahkan. Banyak jokes yang dikeluarkan oleh Jongup, tapi kebanyakn dari jokes itu tidak dia mengerti. Tapi Jongup selalu tertawa sendiri mendengar jokesnya.
Jongup memang aneh, tapi Himchan nyaman di dekatnya.
Rasa nyaman yang dia rasakan saat bersama Jongup berbeda dengan yang dia rasakan saat bersama Yongguk.
Bersama Yongguk membuatnya ingin terlihat...manja?
Oh, entalah. Himchan tidak mengerti. Dia sama sekali tidak mengerti tentang dirinya sendiri.
"Jalani saja dulu lah~" ujarnya dalam hati sambil meyakinkan diri.
Himchan tidak akan pernah jatuh cinta lebih dalam pada Yongguk yang sudah memiliki istri.
。。。。。。
Sejak pertemuan mereka di kedai ramen kemarin. Waktu bertemu Yongguk dan Himchan semakin lama semakin sering. Tak jarang juga mereka menghabiskan waktu bersama di apartemen Himchan. Sekedar untuk menonton film ataupun melakukan hal lain.
Kadang jika Yongguk tidak ingin pulang ke rumahnya sendiri, maka apartemen Himchanlah yang menjadi sasarannya. Seperti sudah menjadi tempat tinggalnya sendiri. Menginap di sana semalaman lalu kembali ke aktivitas sehari-hari.
Tak jarang juga dia mendapat telepon dari istrinya yang marah-marah karena tidak memberinya kabar saat pulang ke rumah.
Padahal istrinya sendiri suka pergi party tanpa sepengetahuan Yongguk.
Seperti saat ini. Yongguk sedang duduk di ruang tamu dan menunggu Himchan yang sedang memasak makan malam untuknya. Ponselnya berdering beberapa kali karena ada telepon masuk dari istrinya. Yongguk menjauh dari ruang tamu ke arah pintu keluar dan menerima telepon itu di sana.
"Halo—"
"Dimana kau?"
Belum sempat lagi Yongguk berbicara, suara wanita itu lebih dulu menyelanya. Nada tinggi menyambut sapaan Yongguk.
"Kau selalu saja begini! Sudahlah, aku tidak peduli. Jika orang tuamu menanyakanmu padaku, kujawab saja kau sudah mati!"
"Terserah kau saja, Sumin. Terserah." Lelah, Yongguk benar-benar lelah. "Katakan saja pada orang tuaku kalau aku sudah mati dan kau akan diusir keluar dari rumah itu."
"Heh? Tapi ini rumahku! Tempat tinggal ki—"
"Itu tempat tinggalku. Aku membeli rumah itu dengan namaku. Sekarang terserahmu. Mau keluar juga silahkan. Aku tidak peduli!"
"Bangsat!"
Istri Yongguk—Sumin namanya—memutuskan sambungan telepon itu secara sepihak setelah mengatai Yongguk.
Yongguk mengatur nafas. Mencoba menenangkan diri. Himchan yang mendengar Yongguk sedikit berteriak tadi datang menghampiri Yongguk yang wajahnya sudah merah padam.
"Aigoo, sini-sini."
Himchan mengulurkan tangan dan menarik Yongguk ke dalam pelukannya. Mengelus helaian hitam ikal itu dengan penuh kasih sayang untuk menenangkannya. Pelukan itu dibalas tak kalah erat hingga membuat Himchan susah bernafas. Tapi Himchan pasrah saja, selama itu membuat Yongguk tenang.
Inilah peran Himchan dalam kehidupan Yongguk. Sebagai 'obat penenang' yang menjadi candu bagi pria yang lebih tua darinya itu. Katakanlah Himchan adalah orang yang tak tahu diri. Yang merasa puas hanya dengan menjadi selingan dalam kehidupan Yongguk.
Karena dia tahu.
Dia tak akan pernah mendapatkan peran utama dalam kehidupan pria yang mulai dia cintai itu.
。。。。。。
To be continued
。。。。。。
[Dijadwalkan akan update seminggu sekali setiap hari Senin]
Thank you for reading this fiction. Maaf kalau ceritanya makin kesini makin membosankan. Konfliknya belum kerasa ya hehe.
Selalu diusahakan untuk update tepat waktu dan berharap kalian menikmati cerita ini.
Thanks buat Ty Kim dan E.J yang udh review di chapter sebelumnya xD
Jangan lupa buat review di chapter ini juga. Buat reader yang lain juga hehe.
Love you XOXO
