Gomawo, Saranghae!
.
.
.
03
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Hari ini adalah tepat satu bulan usia pernikahan pasangan Chanyeol dan Baekhyun.
Dan malam ini, Chanyeol berinisiatif mengajak sang istri berbelanja. Untuk kebutuhan mereka selama satu bulan ke depan
Chanyeol tengah mendorong trolly belanjaannya, mengikuti Baekhyun yang melangkah di depannya dan memasukkan apa saja yang sekiranya di perlukan ke dalam trolly itu. Dan terakhir, istrinya itu memasukkan sebuah bungkusan bergambar perempuan dan...
"Ehm... Baekkie! I-ini?" Chanyeol menunjuk bungkusan itu.
Baekhyun menatap Chanyeol polos, kemudian menatap bungkusan yang ditunjuk Chanyeol dan detik itu juga, dia mengambil cepat bungkusan itu.
"Pabbo... Pabbo... Pabbo." Rutuk Baekhyun sambil berjalan cepat meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol tersenyum memperhatikan Baekhyun. Langkah kaki kecil Baekhyun di hentak-hentakkan hingga rambutnya yang di kuncir kuda terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri. Begitu menggemaskan.
Chanyeol baru beranjak dari tempatnya saat Baekhyun sudah berdiri di meja kasir. Dia menyusul istrinya itu di depan petugas dengan name tag Kim Taeyeon itu.
Mereka menyelesaikan acara belanja bersama sekitar beberapa menit kemudian.
"Kau mau es krim?" tawar Chanyeol sambil memasukkan barang belanjaan mereka ke dalam bagasi mobilnya.
Baekhyun tak langsung menjawab, dia masih cukup malu dengan inseden beberapa menit yang lalu di supermarket.
Kebiasaan yang selalu dilakukannya bila dia berbelanja, bedanya, kalau biasanya dia berbelanja dengan sang ibu, yang pasti mengerti kebutuhan bulanan untuk seorang wanita. Sedangkan sekarang dia berbelanja dengan sang suami, yang jelas saja hal itu mengundang pertanyaan.
Sebenarnya dia tak perlu merasa malu, suaminya itu pastilah sangat mengerti akan tamu bulanan seorang perempuan. Namun, ekspresi dari Chanyeol ternyata tak cukup membuatnya nyaman. Hingga dia merasa cukup malu akan kejadian tersebut.
Chanyeol menatap istrinya, yang masih menekuk wajahnya dan memainkan kaki kanannya. Chanyeol tak melepaskan pandangannya dari hal itu.
Satu bulan tinggal seatap dengan Baekhyun, banyak hal yang mulai di tunjukkan istri cantiknya itu. Jujur saja, Chanyeol sempat berpikir akan sangat sulit baginya nanti menghadapi Baekhyun yang sedang patah hati, namun ternyata, sepanjang satu bulan ini, Baekhyun sangat jarang menunjukkan sisi rapuhnya itu padanya. Kalau pun ada, perempuan itu bisa tiba-tiba diam tanpa alasan yang jelas padanya. Ketika di tanya, istrinya akan menjawab dengan sebuah gelengan kecil. Dan Chanyeol tahu, pada saat itu, Baekhyun mungkin sedang tak ingin di ganggunya.
"Hei!" panggil Chanyeol lagi sambil menjentikkan jarinya. Yang pada akhirnya, hal itu mampu membuat Baekhyun mendongak, memandangnya.
"Kau mau es krim?" ulang Chanyeol, Baekhyun tak langsung menjawab.
Jujur saja hal itu cukup membuat Chanyeol stress. Hal terberat bagi seorang laki-laki adalah bukan pada saat dia di tinggalkan wanita yang di cintainya. Hal terberat bagi seorang laki-laki adalah ketika seorang wanita yang berstatus sebagai istri, mendiamkannya.
Kalau Yeri yang berdiri di hadapannya saat ini, sedang dalam posisi merajuk seperti ini, mungkin akan sangat mudah bagi Chanyeol menghadapinya. Adiknya yang sedikit mata duitan itu akan kembali tertawa begitu dia mengeluarkan lembaran won dari sakunya. Tapi ini Baekhyun, istrinya, yang sebenarnya dia masih meraba-raba bagaimana sebenarnya kepribadian perempuan itu. Hhhhh...
"Mian kalau pertanyaanku tadi membuatmu malu. Ehm... Ini pertama kali aku belanja dengan perempuan. Ehm...aku tahu benda itu dan fungsinya, hanya saja tetap saja aku belum terbiasa dengan benda itu, jadi..." Chanyeol mengeluarkan cengirannya dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal sama sekali.
"Dimana penjual es krimnya?" tanya Baekhyun cepat. Dia tak mau semakin terlihat seperti kepiting rebus karena Chanyeol kembali membahas hal itu.
Chanyeol menunjuk ke satu arah, yang langsung diikuti Baekhyun dengan matanya.
"Mau?" tanya Chanyeol dan diangguki Baekhyun.
"Kalau begitu, sebelum kesana, boleh 'kan kalau aku melihat senyummu?" pinta Chanyeol dengan puppy eyesnya.
Baekhyun cukup terkejut dengan cara suaminya itu memohon padanya. Pun demikian, dia tetap menuruti permintaan mudah suaminya tersebut. Perlahan bibirnya tertarik ke samping, mengembangkan senyumnya yang tipis.
"Gomawo. Senyummu, lebih berarti dari apapun bagiku, Baekhyunie. Kajja!" ajak Chanyeol. Pria itu meraih tangan Baekhyun, dan menggenggamnya sangat erat.
Yang bisa Baekhyun lakukan hanya menurut, mengikuti Chanyeol sambil memandang jari-jarinya yang tenggelam dalam telapak tangan besar milik suaminya.
Satu bulan menjadi istri dari seorang Park Chanyeol, rasanya masih saja seperti mimpi bagi Baekhyun. Pria itu begitu baik padanya, selalu berusaha mengerti dia dengan segala yang dialami dan dirasakannya. Pria itu juga tak pernah memprotes sikapnya yang masih sering berubah-ubah.
Benar kata orang, dia beruntung mendapatkan pria itu untuk menggantikan pria yang sudah meninggalkannya.
Tidak mudah bagi Baekhyun, membuang perasaan untuk seseorang yang sudah dua tahun lebih mengisi hatinya, menemani hari-harinya dan bahkan pernah menjanjikan kebahagiaan untuknya.
Sampai dengan saat ini, jika ada yang bertanya, masihkah dia mencintai laki-laki itu, jawabannya tentu saja masih. Tapi jika ada yang bertanya, apakah dia akan kembali pada laki-laki itu bila ternyata laki-laki itu kembali membawa satu alasan? Baekhyun akan menjawab dengan tegas, tidak.
Satu bulan hidup satu rumah dengan Chanyeol, beraktifitas dengan pria itu di sekitarnya, rasanya cukup membuatnya nyaman. Dan baru beberapa malam yang lalu, dia memutuskan, bahwa sampai maut memisahkan, suaminya hanya laki-laki yang saat ini berdiri di depannya itu.
Dia akan berusaha, belajar mencintai pria itu.
"Kau mau rasa apa?" tanya Chanyeol begitu mereka sampai di depan meja kasir.
"Vanilla strawberry."
"Vanilla strawberry satu, yang banana floatnya satu. Lalu... Ehm... Croissantnya satu, lalu... Kau mau pesan yang lain?"
Baekhyun menggeleng.
Chanyeol kembali menatap kasir.
"Sudah itu saja!"
"Baik saya ulangi, vanilla strawberry satu, banana float satu dan croissant satu."
Chanyeol mengangguk, kasir itu menyebut jumlah yang harus dibayarkan, lalu Chanyeol mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.
"Kami akan mengantarnya ke meja anda. Silahkan duduk dulu, ini nomor untuk meja anda."
Chanyeol mengangguk, kemudian kembali menggandeng tangan Baekhyun.
"Kau mau duduk dimana, di luar, di atas atau..."
"Di atas."
Mereka menaiki tangga, kemudian memilih tempat duduk yang letaknya di sisi pagar pembatas. Dari tempat itu, mereka bisa menikmati pemandangan malam kota Seoul.
"Kau sering kesini?" tanya Baekhyun sambil duduk di kursi.
"Tidak pernah, baru sekali ini." Sahut Chanyeol.
Baekhyun cukup heran dengan jawaban Chanyeol.
"Waeyo?"
Baekhyun menggeleng.
"Biasanya, kalau seseorang mengajak orang lain ke suatu tempat, orang tersebut pernah datang ke tempat itu."
"Aku sering belanja di supermarket tadi, sering melihat tempat ini, tapi tidak pernah mampir kesini. Tadi, sewaktu menawarimu membeli es krim ke tempat ini, muncul begitu saja idenya. Karena biasanya, perempuan menyukai makanan manis seperti es krim. Benar tidak?"
Baekhyun mengalihkan tatapannya dari Chanyeol, sambil mengangguk kecil.
"Waeyo? Kau kecewa dengan jawabanku?"
"Ani."
Chanyeol tersenyum kecil, melihat ketidakpuasan di mata sang istri. Mungkin bukan jawaban seperti tadi yang diharapkan Baekhyun.
"Yeri sangat menyukai es krim, eomma juga. Jadi aku berpikir, setiap perempuan pasti menyukai es krim."
Baekhyun hanya melirik Chanyeol.
Iya! Memang hampir sebagian perempuan menyukai es krim. Apalagi bila mereka sedang dalam kondisi stress. Tapi tak bisakah Chanyeol menjawab lebih...
Hah!
Sudahlah!
Chanyeol bukan tipe pembual yang pandai berkata manis, pandai membuat wanita melambung lalu juga sangat pandai membuat wanita jatuh tersungkur tak berdaya. Chanyeol bisa dikatakan tipe pria realistis dan to the point.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang mengantar pesanan mereka.
"Selamat menikmati!"
Chanyeol mengangguk sopan.
Chanyeol menikmati banana floatnya, tanpa banyak berkomentar. Berbeda dengan Baekhyun yang masih terlihat menikmati pemandangan malam kota Seoul.
"Baekhyunie! Buka mulutmu!"
Reflek Baekhyun menoleh dan membuka mulutnya, pada saat yang bersamaan, Chanyeol yang sudah berdiri dari duduknya, menyuapkan satu sendok kecil es krim ke dalam mulut istrinya.
Baekhyun menatap polos suaminya, yang setelah menyuapkan es krim ke mulutnya, langsung mengusap pelan kepalanya.
"Aku mengajakmu kesini untuk menikmati es krim, bukan untuk melamun. Ayo habiskan!" perintah lembut Chanyeol.
Baekhyun merasakan sesuatu yang lain menyusup ke dalam dadanya, sesuatu itu bisa dikatakan sebuah debaran samar.
Apa yang terjadi?
Kenapa dadanya berdesir menyenangkan saat suaminya itu membelai kepalanya?
.
.
.
Mereka sampai di apartemen, sekitar pukul sepuluh malam.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Baekhyun memilih duduk di atas karpet ruang tengah sambil mengerjakan pekerjaannya yang sengaja di bawa pulang dan menumpuk.
Dia sibuk membaca dan mencoret beberapa kata di atas kertas tersebut.
Baekhyun bekerja di sebuah perusahaan penerbit, dia adalah copy editor yang bertugas memeriksa karya dari seorang penulis, membenarkan ejaannya dan memeriksa ada atau tidak kata yang salah.
Cukup melelahkan, namun Baekhyun menikmatinya.
Dia tampak serius dengan pekerjaannya ketika Chanyeol ikut bergabung disana, merebahkan tubuh besarnya di atas sofa, di belakangnya.
Kebiasaan yang dilakukannya setelah mereka pindah ke tempat ini. Chanyeol akan selalu menemani Baekhyun mengerjakan pekerjaannya, bahkan meski sampai dini hari. Terkadang dia juga akan membawa pekerjaannya ke tempat ini, dan malam ini dia hanya akan menemani Baekhyun.
Chanyeol memperhatikan dengan seksama cara Baekhyun melakukan pekerjaannya. Jari-jari lentik itu begitu cepat bergerak di atas naskah yang sedang di periksanya. Chanyeol sangat menyukai pemandangan ini.
"Kau tak ingin jadi penulis Baekhyunnie?" tanya Chanyeol tiba-tiba, yang hal itu berhasil membuat Baekhyun menghentikan gerakan tangannya dan kemudian menoleh pada suaminya itu.
"Aku tak bisa." Sahutnya singkat.
"Sudah pernah mencobanya?" Chanyeol menatap Baekhyun dengan mimiringkan badannya. Dan menyangga kepalanya dengan tangan kanannya.
Baekhyun menggeleng pelan.
"Kau belum pernah mencobanya tapi sudah menjawab tidak bisa. Kau sudah cukup memiliki bekal untuk menjadi seorang penulis, tinggal mengasahnya saja."
"Menulis itu tidak sesederhana pemikiranmu Tuan Park, sebagai seorang penulis banyak hal yang harus kita pikirkan. Misalnya, mau membuat cerita yang seperti apa? Lalu, apakah nanti akan ada yang membaca tulisan kita? Tujuan kita menulis ini untuk apa? Dampak yang ditimbulkan dari tulisan kita nanti bagaimana? Belum lagi, kita harus mengumpulkan banyak bahan, agar materi tulisan kita berbobot. Kalau hanya sekedar menulis, anak TK juga bisa melakukannya."
Chanyeol tersenyum mendengar jawaban Baekhyun. Reflek, dia kembali mengusap lembut kepala istrinya itu.
Yang tak Chanyeol tahu, tindakan kecilnya itu, ternyata mampu membuat Baekhyun membeku di tempatnya.
"Makanya itu, kenapa tidak di coba? Siapa tahu respon dari pembaca Bagus."
"Tak punya ide." Sahut Baekhyun, dia mulai bisa menguasai dirinya. Wanita itu kembali menekuri pekerjaannya.
"Tidak ada keinginan membukukan kisah kita?" tanya Chanyeol lagi, berusaha menarik perhatian istrinya.
Baekhyun menoleh seketika, menatap Chanyeol sambil mengerutkan dahinya.
"Jadikan kisah kita sebagai inspirasi. Mau berakhir seperti apa tulisanmu, itu tergantung bagaimana imajinasimu. Bukankah setiap penulis begitu? Menjadikan kisah seseorang sebagai inspirasi, lalu mengembangkannya menjadi sebuah cerita. Kau pernah bertemu dengan penulis yang naskahnya kau edit?"
Baekhyun mengangguk.
"Pernah tanya ke mereka, ide awal semua cerita yang mereka tulis darimana?"
Baekhyun menggeleng pelan.
"Lalu apa yang kalian bicarakan?"
"Ya seputar cerita yang mereka tulis, lalu beberapa hal yang memang penting untuk dibahas demi peluncuran buku itu."
Chanyeol mengangguk-angguk.
"Kau berpikir bahwa pertanyaan tentang dari mana ide awal cerita itu tidak begitu penting? Padahal kalau saja kau tahu, seorang penulis tak akan bisa menulis kalau dia tak menemukan ide awalnya."
Baekhyun memperhatikan Chanyeol dengan seksama. Suaminya seorang arsitek namun wawasannya tak hanya di bidang yang digelutinya saat ini.
Baekhyun saja tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Baginya, dia menyelesaikan tugasnya tepat waktu, itu sudah sangat baik. Namun ternyata, ada begitu banyak hal yang tak diketahuinya dari seorang penulis.
"Aku punya teman, dia seorang penulis. Bukunya selalu best seller negaranya. Ketika aku tanya kenapa dia suka menulis? Dia menjawab, ada banyak hal yang tak bisa dia katakan dengan mulutnya tapi bisa dia gambarkan dengan tulisannya. Dan ketika aku bertanya, darimana idenya datang? Dia menjawab, dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Satu hal kecil yang dia temukan di sekitarnya, bisa menjadi satu buah buku ketika dia mengembangkannya dalam bentuk tulisan. Dan menulis itu tak selalu tentang bakat, menulis adalah tentang kedisplinan diri untuk menghasilkan sebuah karya. Kalau kau sudah memutuskan untuk menulis sebuah cerita, yang harus kau lakukan selanjutnya adalah menyelesaikan cerita tersebut."
Baekhyun dibuat kagum akan apa yang disampaikan Chanyeol padanya.
Menjadi penulis?
Apa dia bisa?
"Aku hanya menyampaikan pemikiranku. Sayang saja, kau adalah seorang editor. Kau tahu mana tulisan yang layak terbit, mana yang tidak. Seharusnya, berbekal kemampuan itu, kau bisa menjadi penulis yang baik. Coba saja."
"Apa aku bisa?"
"Kenapa tidak? Asal ada kemauan di dalam dirimu, kau pasti bisa. Dan aku akan mendukungmu."
Chanyeol bangun dari rebahannya, kemudian mengambil tempat duduk di depan Baekhyun.
"Berikan padaku, aku akan membantumu."
Baekhyun mengerutkan keningnya sambil mendekap naskah-naskahnya. Menatap Chanyeol curiga.
"Bukankah kau memiliki pekerjaan sendiri? Kenapa tida melanjutkan pekerjaanmu sendiri?"
"Aku hanya ingin membantu. Lihat! Daripada pekerjaanku, pekerjaanmu lebih banyak. Sini! Biarkan aku membantumu."
Baekhyun menggeleng.
"Sedikit banyak aku tahu cara mengedit Baekhyunie. Dulu waktu kuliah, aku sempat mengelola tabloid kampus. Sudah sini!"
Baekhyun memicingkan matanya, masih belum bisa mempercayai Chanyeol.
"Kau tak percaya padaku?"
Baekhyun menarik nafasnya, lalu mengambil naskah yang paling tipis dan di serahkan pada suaminya.
"Ini saja!" Baekhyun berujar dengan nada kesal.
Chanyeol menerima dengan senyum lebar.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah larut dalam naskah masing-masing. Tak ada pembicaraan lagi, hanya suara kertas yang tercoret yang terdengar.
Hingga satu jam kemudian, Chanyeol masih sibuk dengan naskahnya, sedangkan Baekhyun, dia tak sanggup menahan kantuknya, hingga kini kepalanya terkulai diatas naskah yang sedang di editnya
Chanyeol tersenyum mendapati Baekhyun tertidur pulas disana.
Perlahan, dia mengulurkan tangannya, membelai lembut kepala istrinya.
"Kau pasti sangat lelah, sayang."
Chanyeol beranjak dari duduknya, kemudian mengambil bantal sofa. Lalu meletakkan bantal itu di bawah kepala Baekhyun, menggantikan naskah yang dijadikan penyangga oleh istrinya itu.
Dia kemudian kembali ke tempat dia duduk sebelumnya, kemudian merebahkan kepalanya, menghadap Baekhyun.
Chanyeol tersenyum kecil menatap istrinya yang sedang tertidur pulas itu.
"Kau sangat cantik sayang." Lirih Chanyeol sambil merapikan poni Baekhyun. Dari tatapan matanya, sangat terlihat jelas bahwa dia begitu menganggumi wanita itu.
"Kau masih sama seperti dulu, saat pertama kali aku melihatmu."
.
.
.
Suasana restoran itu begitu riuh, beberapa pria muda tengah berkumpul disana, merayakan kemenangan mereka hari ini. Tak terkecuali Chanyeol.
Sesekali terdengar denting gelas karena beradu, disertai gelak tawa dan canda yang sepertinya tak ada putusnya.
Ya! Seperti inilah cara mereka merayakan kemenangan atas tim baseball mereka, minum-minum sampai puas.
"Mana Daehyun?" tanya salah satu pria berambut cepak pada Chanyeol yang duduk tak jauh darinya.
"Molla. Dia tak mengatakan apapun sebelum pergi, hanya akan menyusul nanti." Sahut Chanyeol sambil memakan daging panggangnya.
"Awas saja kalau dia tidak kembali, akan ku hajar dia!" ancam pria cepak itu sambil menenggak sojunya.
Chanyeol tersenyum kecil, lalu kembali memilih makan dan sesekali meneggak sojunya. Suara teman-temannya yang lain, hanya ditanggapi Chanyeol dengan senyum kecil.
Dengan teman-temannya disini, dia tak begitu akrab. Hanya kenal dan kebetulan bermain di klub baseball yang sama dan kebetulan menjadi satu tim. Untuk selebihnya tidak, kecuali Daehyun.
Dengan Daehyun, Chanyeol cukup bisa dikatakan dekat. Mereka pernah menimba ilmu di tempat yang sama, meski berbeda jurusan kemudian.
"Maaf aku terlambat."
Chanyeol menatap orang yang menepuk pundaknya, kemudian tersenyum kecil saat tahu siapa pelakunya.
"Aku pikir kau tak akan datang?" komentar si rambut cepak.
Daehyun duduk di dekat Chanyeol. Pada saat itulah, Chanyeol menyadari Daehyun datang tidak seorang diri.
"Mian. Aku sudah berjanji akan mengajaknya makan malam kalau tim kita menang, jadi... Daripada makan di tempat yang berbeda, aku memilih mengajaknya kesini."
Terdengar koor dengan huruf vokal "O", tak lupa senyum menggoda dari beberapa orang yang berada di tim itu.
"Dia kekasihku. Byun Baekhyun. Oh ya! Ini Park Chanyeol, dia sahabatku sayang."
Gadis yang di sebut Byun Baekhyun oleh Daehyun tadi, tersenyum manis dan membungkuk singkat pada Chanyeol. Yang dibalas hal yang sama oleh pria tinggi berambut ikal itu.
Daehyun kemudian mengenalkan Baekhyun pada teman-temannya yang lain.
Selanjutnya, berbagai macam pertanyaan muncul untuk pasangan yang baru terbongkar hubungan dekatnya itu. Mulai dari pekerjaan Baekhyun sampai rencana pernikahan keduanya nantinya.
Namun, ada satu orang yang sejak tadi diam tak terusik oleh keriuhan yang ada.
Chanyeol, pria itu memilih menjadi pendengar dan sesekali tersenyum kecil menanggapi beberapa pertanyaan temannya.
Pria itu, merasakan hatinya yang sudah lama seperti mati rasa, tiba-tiba menghangat ketika melihat senyum Baekhyun terkembang.
Gadis yang duduk di samping Daehyun itu, tak hanya terlihat cantik, namun juga terlihat manis saat sedang tersenyum.
Dan dadanya berdetak cepat ketika melihat senyum itu.
Ini salah! Dia tahu dan dia sedang berusaha mengusir perasaan itu, tapi takberhasil. Perasaan itu ingin tetap tinggal disana dan dia tak tahu sampai kapan.
.
.
.
Chanyeol sudah duduk di ruang makan, dengan pakaian rapi. Di depannya tersaji tiga potong pancake dengan saus madu dan segelas lemon tea hangat.
Tak jauh beda, Baekhyun juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Istrinya, pagi ini memilih sarapan salad buah dan meminum segelas susu rendah lemak.
"Gomawo sudah memindahkanku ke kamar semalam." Ujar Baekhyun memulai pembicaraannya setelah beberapa saat mereka saling diam menikmati sarapan masing-masing.
"Itu bukan masalah besar Baekhyunie. Tak perlu berterimakasih."
"Tapi tentu hal itu sangat merepotkanmu bukan?"
"Ani. Tak ada hal merepotkan bagi seorang suami jika itu untuk istrinya."
Baekhyun merasakan pipinya memanas mendengar ucapan Chanyeol.
Pria dihadapannya ini, begitu baik memperlakukan dia sebagai istrinya. Sedangkan dia, kadang masih setengah hari melayani Chanyeol.
"Oh ya! Malam ini, tak apa-apa 'kan kalau kau pulang sendiri? Aku ke Busan siang nanti, belum tahu pulang jam berapa. Jadi kau pulang naik taksi saja ya."
Baekhyun menatap suaminya. Dan aneh sekali rasanya, kenapa dia merasa tak rela ketika Chanyeol memintanya naik taksi?
Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, pergi dan pulang kerja dia antar Chanyeol di satu bulan terakhir ini, jadi rasanya sedikit aneh saat tiba-tiba Chanyeol tak bisa melakukan kewajibannya itu.
Seharusnya, Baekhyun tak perlu merasa seperti itu. Karena dulu, sebelum menikah dengan Chanyeol, dia biasa pergi kemana-mana menggunakan angkutan umum. Hanya saja sekarang...
Hhhhh...
Meski dengan berat hati, pada akhirnya dia tetap menganggukkan kepalanya, mengiyakan perintah suaminya.
"Atau kau ingin di jemput Sehun? Aku bis..."
"ANI!" jawab tegas Baekhyun.
"Waeyo? Sehun orang baik, Baekkie."
"Baik apanya? Dia kasar!"
Chanyeol mengerutkan keningnya. Kasar? Darimana Baekhyun tahu kalau Sehun orang yang kasar? Ok! Sehun mungkin terkesan pendiam, namun sebenarnya dia memiliki sisi urakan yang tidak pada setiap orang dia menunjukkannya. Aneh saja Baekhyun berkata seperti itu, sedangkan berinteraksi dengan Sehun saja, Baekhyun nyaris tak pernah melakukannya.
"Sehun bukan orang seperti itu kalau kau sudah benar-benar mengenalnya Baekhyunie."
"Aku tak ingin mengenalnya." Sahut Baekhyun sedikit culas.
"Waeyo? Dia sahabatku sayang, paling tidak kau harus mengenalnya karena bisa jadi kau akan membutuhkan bantuannya saat aku tak berada di sisimu nanti."
Baekhyun menghentikan suapannya, tanpa dia sadari, mendengar Chanyeol mengatakan hal itu, hatinya mencelos. Perlukah di garis bawahi kalimat Chanyeol yang membuat hatinya mencelos, saat aku tak berada disisimu nanti.
Apakah Chanyeol akan meninggalkannya juga, seperti Daehyun yang tega meninggalkannya begitu saja?
Chanyeol menangkap perubahan drastis pada wajah istrinya itu. Tersinggungkah Baekhyun ketika dia memanggilnya 'sayang'?
Chanyeol memejam 'kan matanya sejenak, sebelum kemudian membuang nafas pelan.
"Mian kalau aku salah bicara Baekhyunie."
"Apakah kau berniat meninggalkanku?"
Pertanyaan Baekhyun membuat Chanyeol sukses membulatkan matanya. Jangankan berniat, berpikir meninggalkan gadis itu saja Chanyeol tak pernah. Hhhh...
"Kau mengatakan kalau kau tak berada di sisiku nanti. Apa maksudnya? Kau akan meninggalkanku? Sama seperti yang di lakukan orang itu padaku?"
Sumpah! Bukan hal ini yang ingin di lihat Chanyeol di wajah Baekhyun di pagi hari. Tatapan sedih dengan mata di penuhi airmata. Park Chanyeol... tak tahukah kau bahwa istrimu ini, sangat sensitif dengan kalimat perpisahan?
Chanyeol mengulurkan tangannya, menggenggam jemari lentik itu sangat erat.
"Jangankan berniat, berpikir untuk meninggalkanmu saja aku tak pernah, Baekkie. Yang aku maksud tadi, seandainya aku pergi ke luar kota dan kau tak mendapatkan kabar dariku, kau bisa menghubungi Kai atau Sehun untuk bertanya. Dan kalau persepsimu tentang Sehun seperti itu, bukankah tak baik? Aku dapat memastikan dia tak seperti yang kau pikirkan."
Baekhyun menatap Chanyeol, kemudian berujar lirih.
"Waktu itu, aku bertemu Luhan. Dan... Ehm... Di lehernya ada... Aish! Sudah tak perlu di ceritakan."
Wajah Baekhyun bersemu merah saat mengingat apa yang terjadi pada Luhan sehari setelah sahabatnya itu memutuskan untuk bermalam dengan Sehun.
Chanyeol mengerutkan keningnya, sebelum kemudian tergelak karena tahu kemana arah pembicaraan istrinya tersebut.
"Kalau timbal balik dari kata 'kasar' yang kau sebutkan tadi adalah kenikmatan, itu tidak bisa dikatakan kasar Baekhyunie. Mereka menikmatinya dan Luhan tak memprotes tindakan Sehun bukan?"
"Tapi tetap saja hal itu terlihat menyakitkan. Awas saja nanti kalau kau berani melakukannya!" ancam Baekhyun dengan mata menatap Chanyeol tajam.
"Kau berpikir melakukannya denganku?" tatap Chanyeol menggoda.
"Ya!" pekik Baekhyun kesal, dia menghempaskan genggaman tangan Chanyeol padanya lalu memilih turun dari kursinya dan meringkas mangkuk makannya untuk di bawa ke tempat cuci piring.
Chanyeol semakin tergelak di tempatnya. Sisi Baekhyun yang seperti itu, akrab dilihatnya satu bulan terakhir ini. Tak hanya pandai memprotesnya, Baekhyun juga selalu menunjukkan dirinya yang manja pada Chanyeol.
Mungkin karena terlahir sebagai anak bungsu, Baekhyun terbiasa dengan sikap manjanya. Sedangkan dia yang terlahir sebagai anak sulung, cenderung lebih dewasa dan bisa mengayomi Baekhyun.
Baekhyun terlihat nyaman berada di sisinya.
Chanyeol turun dari duduknya, kemudian menghampiri istrinya dan berbisik dari arah belakang.
"Kau mau mencobanya?"
Baekhyun di buat merinding karena ulah Chanyeol. Perempuan berusia dua puluh enam tahun itu langsung menyumpat telinganya dengan kedua tangannya.
"Ya!" pekiknya marah. Tawa Chanyeol semakin berderai keras. Dia tak tahu, di tempat cuci piring, wajah Baekhyun terlihat semakin memerah karena malu.
.
.
.
"Marahnya bisa di tunda tidak, Baekkie? Masa suami mau kerja jauh harus diantar dengan kemarahan?"
Chanyeol masih berusaha membujuk istrinya, pasca insiden di dapur, Baekhyun mendiamkannya bahkan sampai di depan pelataran perusahaannya.
Sebenarnya daripada marah, Baekhyun lebih merasa malu atas kejadian itu. Bagaimana bisa mulutnya begitu lemas mengucapkan hal itu? Tapi... biasanya yang keluar dari mulut itu, yang diharapkan hati dan yang terpikir pertama kali, jadi... aish jinja!
"Kau menyebalkan!" sembur Baekhyun masih dengan tatapan tajamnya dan wajah di tekuk dalam.
"Kan bicara jujur Baekhyunie."
"Sekali lagi bicara seperti itu, jangan bicara lagi padaku."
"Memangnya salah kalau bicara masalah itu. Kita sama-sama dewasa, terlebih kita suami istri. Salahnya dimana?"
"Hhhh... Molla. Hati-hati berangkat ke Busan-nya, jangan lupa makan."
Baekhyun hendak keluar dari mobil Chanyeol ketika suaminya itu tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.
"Senyumnya buat aku mana?"
Baekhyun hanya diam menatap suaminya.
"Maaf kalau kau tak berkenan mendengarkan kata-kata itu. Sekarang bisa 'kan suaminya ini diberi sedikit senyuman?"
Baekhyun berbenahi duduknya, kemudian menatap Chanyeol.
Pria itu begitu banyak mengalah padanya, pria itu banyak berkorban untuknya. Pria itu, begitu baik padanya. Bahkan satu bulan ini, dia diperlakukan layaknya Ratu oleh sang suami.
Dan entah mendapatkan keberanian serta dorongan dari mana, Baekhyun tiba-tiba mencondongkan tubuhnya pada Chanyeol, menarik pelan dasi suaminya itu hingga tubuh Chanyeol sedikit maju dan berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya. Lalu kemudian...
Chup
"Hati-hati."
Chanyeol membeku di tempatnya. Apa yang baru saja terjadi? Apakah tadi, Baekhyun mengecup bibirnya?
Sepersekian detik, saat Chanyeol mendapatkan kembali kesadarannya, dia sudah tak mendapati Baekhyun di sampingnya. Saat dia membalik tubuhnya dan melihat pada pelataran gedung , matanya menangkap sosok istrinya yang melangkah cepat sambil sekali memukul kepalanya.
Segaris senyum tercetak jelas di bibir Chanyeol. Mungkin terlalu cepat dia menyimpulkan hal ini, namun dia yakin, Baekhyun sudah jatuh padanya. Hanya tinggal menunggu waktu, usahanya akan membuahkan hasil.
"Aku mencintaimu, sayang." Lirih Chanyeol, sebelum kembali menekan pedal gasnya dan kembali membelah jalanan kota Seoul menuju ke tempat kerjanya.
Sementara itu...
Baekhyun langsung melangkah cepat ke meja kerjanya begitu pintu lift terbuka.
Yang dilakukannya selanjutnya adalah duduk dan merebahkan kepalanya ke meja. Mulutnya tak berhenti merapalkan kata 'pabbo'.
Hal itu tentu saja menghadirkan kerutan jelas di kening Joy yang juga baru duduk di kursinya. Dia hanya memperhatikan Baekhyun meski sedikit penasaran dengan tingkah sahabatnya itu.
"Dia kenapa?" tanya Seohyun yang baru sampai.
"Molla. Sejak aku datang dia sudah seperti itu." Sahut Joy yang masih memperhatikan tingkah Baekhyun.
Seohyun tak tinggal diam, dia mendekati Baekhyun dan menepuk pelan punggung sempit wanita itu.
Baekhyun pada akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Joy dan Seohyun bergantian lalu kembali merebahkan kepalanya di atas meja.
"Kau kenapa? Pagi-pagi tingkahmu sudah mirip orang stress. Pekerjaanmu tak selesai?" tanya Seohyun sambil menyandarkan bahunya pada kubikel yang memisahkan meja satu dengan yang lainnya.
Baekhyun kembali mengangkat kepalanya, lalu menggeleng pelan. Di hendak kembali merebahkan kepalanya ketika tangan Seohyun menahan kepalanya tersebut.
"Jelaskah ada apa? Jangan seperti orang gila." Tegas Seohyun yang membuat Baekhyun akhirnya menegakkan duduknya.
Dia tampak berpikir, menimbang perlu tidaknya hal yang baru saja terjadi padanya itu di ceritakan pada dua orang terdekatnya itu.
Tak jauh beda, baik Joy maupun Seohyun hanya diam, menunggu jawaban Baekhyun yang sepertinya tak akan mudah keluar itu.
Baekhyun terlihat menggigiti kukunya, dia masih berpikir keras.
"Hhhh... kau membuatku semakin stress dengan tingkahmu itu Baekhyun-ssi." Ujar Seohyun yang sudah mulai bosan menunggu.
"Aku menciumnya."
Jawaban singkat Baekhyun membuat kedua wanita yang menunggunya mengerutkan alisnya, lalu saling menatap dan mengendikkan bahu masing-masing kemudian.
"Nugu? Siapa yang kau cium?"
Baekhyun menatap Joy memelas. Haruskah dia mengatakan siapa yang di ciumnya? Bukankah seharusnya pernyataannya mudah di tebak?
"Chanyeol-ssi? Kau mencium Chanyeol-ssi, Baek-ah?" tebak Seohyun.
Melihat bagaimana reaksi Baekhyun, tampaknya tebakannya tak salah. Baekhyun, benarkah?
Seohyun menutup mulutnya tak percaya. Tak jauh beda dengan Joy.
Sedangkan Baekhyun, wanita itu semakin menyembunyikan wajahnya di atas meja.
Seohyun menarik nafas pelan, lalu mengambil kursi kosong dan duduk di sisi Baekhyun.
"Kenapa kau malu? Bukankah hal yang sangat wajar kalau seorang istri mencium suaminya, Baekhyunie?"
Baekhyun menatap Seohyun, lalu beralih pada Joy yang hanya mengangguk-angguk kecil di tempatnya.
"Tapi tidakkah ini terlalu cepat, eonni?"
"Sebuah ciuman tak menunggu cepat atau lambat, Baek-ah." Komentar Joy. "Bahkan orang baru pertama kali bertemu dan merasakan jatuh hati pada saat itu, bisa langsung berciuman. Kalau menurutku, hal yang kau lakukan masih wajar." Lanjutnya.
"Kau tak tahu, betapa malunya aku setelah melakukan hal itu, Joy-ah." Sahut Baekhyun.
"Apa yang terjadi, sampai kau memutuskan untuk menciumnya?" tanya Seohyun.
"Ada insiden kecil yang terjadi, yang membuatku cukup kesal pagi ini padanya. Lalu, dia minta aku tersenyum sebelum aku keluar dari mobilnya. Alasan lain, karena dia ada pekerjaan di Busan dan dia tak ingin pergi tanpa melihat senyumku terlebih dahulu. Dan... yah... begitu saja terjadi. Bukannya memberi senyuman, aku justru menciumnya."
"Dari hati ya kelihatannya eonni." Seohyun mengangguk mengiyakan pendapat Joy.
Baekhyun menatap dua rekan kerjanya frustasi. Salah rasanya dia bercerita pada dua makhluk penuh imajinasi itu.
"Yang kau lakukan itu tak salah, Baekhyunie. Kalau aku yang menciumnya, itu baru salah."
"Tapi aku malu, eonni. Apa? Apa yang harus aku lakukan kalau dia pulang? Kalau dia membahas ciuman itu lagi, bagaimana?" Baekhyun mengacak kasar rambutnya, kakinya di hentak-hentakkan tidak jelas. Dia mulai merasa stress karena perbuatannya dan juga karena pikirannya.
"Hhhh..." Seohyun dan Joy mendesah perlahan. Sebenarnya hal ini wajar dan bukan masalah besar, Baekhyun saja yang terlalu berlebihan.
.
.
.
TBC
.
.
.
NOTE : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini. terima kasih juga untuk yang sudah meninggalkan jejaknya di cerita ini.
Big love for you guys
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
